Sabtu, 23 Desember 2017

Hujan di Luar Jendela

Rio berlari di sepanjang koridor sambil sesekali menoleh ke belakang. Terdengar suara Pak Brata yang berteriak-teriak penuh kemarahan, saingan dengan suara hujan yang mulai turun di luar. Rio mengedarkan pandangan, mencari tempat untuk bersembunyi.
“Rio, jangan lari lagi kamu! Hukuman kamu akan Bapak tambah!” suara Pak Brata terdengar semakin mendekat. Nafas Rio menderu panik, tak ada waktu lagi untuk berpikir. Ia lalu memasuki kelas terdekat dan langsung bersembunyi di balik lemari yang ada di sudut ruangan kelas.
“Kemana itu anak larinya?!”
Terdengar seruan marah Pak Brata lagi, yang sepertinya sudah berada di koridor. Rio menundukkan kepalanya sambil terus memepetkan tubuhnya antara tembok dan lemari supaya tidak terlihat. Tapi begitu ia mengangkat kepalanya sedikit, didapati seorang murid perempuan yang sedang berdiri di pinggir jendela yang satu garis lurus dengan tempatnya bersembunyi sekarang. Dan menatap Rio lurus-lurus.
“Sst!” Rio meletakkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar gadis itu diam. Bersamaan dengan itu, terdengar suara langkah cepat yang kemudian berhenti di depan kelas.
“Dilla! Kamu lihat anak laki-laki lari ke arah sini, nggak? Si Rio!” Pak Brata, sang pemilik langkah cepat tersebut, menanyai murid perempuan yang masih tidak bergeming dari tempatnya itu.
Dilla, murid perempuan itu, terdiam sejenak. Rio menatapnnya was-was dari balik lemari, khawatir gadis itu akan mengadukannya pada Pak Brata. Tapi Dilla tidak berkata apa-apa, hanya mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah yang berlawanan dengan arah datang Pak Brata tadi.
“Dia lari kesana?” tanya Pak Brata memastikan.
Dilla mengangguk pendek.
Pak Brata pun beranjak dari depan pintu kelas. Rio yang mengintip dari balik lemari, menghela nafas lega melihatnya. Ia pun bergerak perlahan hendak keluar dari persembunyiannya. Tapi Pak Brata tiba-tiba berhenti lagi, dan menoleh ke dalam kelas. Rio langsung menghentikan gerakannya dengan wajah pucat.
“Kamu juga jangan lama-lama pulangnya, Dilla. Nanti dicariin orangtua kamu,” ucap Pak Brata.
Dilla tidak menyahut. Pak Brata geleng-geleng kepala melihatnya, lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti tadi. Rio yang mendengar suara langkah Pak Brata semakin menjauh, perlahan mengintip lagi dari balik lemari. Memastikan kalau Pak Brata sudah benar-benar pergi dari situ.
Setelah yakin Pak Brata tidak kembali lagi, Rio pun menghela nafas lega sambil perlahan keluar dari balik lemari. Cowok itu langsung menggelesor di lantai dengan nafas terengah-engah, lelah karena berlari tadi sekaligus takut ketahuan dari persembunyiannya. Matanya berputar mengelilingi keadaan sekitarnya, lalu terhenti pada Dilla yang sudah kembali menatap ke luar jendela.
Thanks, ya!” ujar Rio tanpa bangkit dari posisinya. Dilla menoleh, lalu mengangguk pendek. Gadis itu pun kembali memalingkan pandangannya ke luar jendela. Hujan masih turun dengan deras di luar sana.
“Lo nggak nanya kenapa gue lari dan dikejar Bruntus?” tanya Rio heran. Bruntus adalah julukan yang diberikan oleh para murid kepada Pak Brata, guru BK sekolah mereka.
“Apa gue harus nanya?” tanya Dilla tanpa mengalihkan pandangannya.
“Yaa, enggak juga,” Rio mengusap kepalanya yang tidak gatal. “Cuma biasanya orang penasaran.”
Dilla tidak menyahut. Ia tetap saja asyik memandangi ke luar jendela dengan kedua tangan menopang dagunya.
“Lo lagi lihat apa, sih?” tanya Rio. Akhirnya dia yang penasaran dengan apa yang sedari tadi dilihat oleh gadis itu. Rio pun bangkit mendekati Dilla dan berdiri di sampingnya. Matanya menyapu ke lapangan yang terlihat dari jendela tempat mereka berdiri. “Nggak ada apa-apa.”
“Hujan,” ujar Dilla.
“Hujan?” Rio mengerutkan keningnya.
Dilla mengangguk.
“Kenapa lo ngelihatin hujan?” tanya Rio, masih tak mengerti dengan apa yang dilakukan gadis itu.
“Menyenangkan,” jawab Dilla, dengan segaris senyum samar muncul di bibirnya. “Dan menenangkan.”
“Hujan?” Rio mengulangi lagi pertanyaannya tadi.
Dilla mengangguk lagi. Rio mengusap-usap kepalanya heran. “Apa menyenangkan dan menenangkannya dari hujan?”
“Titik-titik air yang banyak jatuh dari langit, terus jatuh di atas daun. Di atas tanah,” Dilla tersenyum saat mengatakannya. Ia lalu menunjuk ke ujung atap sekolah mereka. “Lo lihat ujung atap itu? Bukannya hujan yang turun deras dari situ kelihatan indah?”
Rio mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Dilla. Ia baru mau protes dengan apa yang diucapkan oleh gadis itu, tapi kemudian terdiam melihatnya. Tetes-tetes air hujan turun deras, dan seperti kata Dilla, dengan jumlah yang banyak di atap sekolah mereka. Tetes air yang banyak mengalir dari ujung atap itu memang terlihat indah, seperti simfoni yang jatuh beriringan dengan teratur. Satu kesatuan yang indah dipandang mata.
“Suaranya juga menenangkan. Suara air hujan yang jatuh di lapangan, di atap, di sela-sela daun,” ujar Dilla lagi. Kali ini ia memejamkan matanya.
Rio mengikuti apa yang dilakukan gadis itu. Suara tetes-tetes air hujan terdengar sangat jelas di telinga Rio. Seperti sebuah nyanyian merdu yang tak dapat dihasilkan oleh alat musik apapun. Ini tentu saja bukan pertama kali Rio melihat dan mendengar hujan, tapi baru sekarang ia menyadari hal-hal ini.
“Gue rasa hujan adalah hadiah dari Tuhan. Buat tempat istirahat hati yang lelah, penghibur hati yang sedih,” Dilla melanjutkan ucapannya. “Nggak akan ada yang bisa bikin hujan kayak gini. Dengan suasana kayak gini. Dengan suhu kayak gini. Dengan keindahan kayak gini.”
Rio mengangguk-angguk membenarkan. Entah karena ucapan gadis itu atau memang benar adanya, saat ini Rio merasa hujan sedang menghiburnya. Menenangkan dirinya dan memberi kesempatan untuknya agar beristirahat sejenak dari semua hal. Ia pun terlarut memandangi hujan di luar jendela, tanpa ada yang berbicara di antara mereka selama beberapa saat.
“Emang nggak apa-apa kalau lo lari dari Pak Brata?” suara Dilla tiba-tiba memecah keheningan.
“Hah?” Rio menoleh heran.
“Bukannya lo bakal dapat masalah yang lebih besar kalau lari begitu?” tanya Dilla lagi, ikut menoleh dan menatap Rio.
Rio terdiam sejenak, menyadari kebenaran ucapan gadis itu. Tapi ia langsung menyanggahnya. “Hari ini gue udah banyak dihukum guru, Bruntus lagi nambah-nambahin. Nggak ngasih keringanan banget.”
Dilla tak menyahut. Ia kembali memandang ke luar jendela.
“Tapi nanti juga gue bakal selesaikan hukumannya, kok! Cuma bukan hari ini aja,” ujar Rio lagi. Entah kenapa ia merasa harus membela diri, tidak mau dipandang sebagai orang yang melakukan kesalahan.
“Itu hal yang harus lo lakuin cepat atau lambat, kan?” Dilla menoleh lagi pada Rio. “Terus kenapa lo malah nyusahin diri dengan menunda hal yang nggak enak lebih lama? Lebih cepat dilakukan kan lebih cepat selesai urusannya.”
Rio terdiam. Ia sangat ingin membalas perkataan gadis itu, tapi mulutnya tidak bisa berkata-kata. Apa yang dikatakan Dilla memang masuk akal. Memang masuk akal, tapi...
“Kalau gitu kenapa tadi lo nggak kasih tahu Bruntus aja kalau gue ngumpet disitu!” Rio akhirnya mendengus kesal, menunjuk ke lemari tempatnya bersembunyi tadi.
Dilla mengangkat bahu. “Buat apa? Melancarkan tugas guru BK nggak ada untungnya buat gue.”
“Lo nggak suka Bruntus juga?” tanya Rio heran. Dilla bukan seperti murid yang sering bermasalah dengan BK. Seperti dirinya.
“Emang ada murid yang suka sama guru BK? Semua murid pasti pernah dihukum sama dia,” jawab Dilla.
“Terus kenapa lo belain dia?” seru Rio tak habis pikir.
“Gue nggak belain dia. Gue cuma bilang hal yang sebenarnya,” sahut Dilla. “Dan kalaupun ada orang yang udah gue bela, bukannya orang itu elo? Gue bikin lo nggak ketangkap Pak Brata, kan?”
Rio tercengang mendengarnya, tak bisa berkata-kata lagi.
Sementara itu, Dilla merasakan ponselnya bergetar. Ia pun mengambil ponsel dan menatap layarnya, melihat ada panggilan masuk. Dari ayahnya.
“Halo,” ujar Dilla setelah mengangkat telepon itu. Dilla pun mendengarkan ucapan panjang lebar dari ayahnya itu, sambil melirik pada Rio yang sudah menatap ke luar jendela lagi.
“Iya, ini udah mau berangkat,” ucap Dilla. Setelah mendengarkan lagi beberapa kalimat dari ayahnya, Dilla pun menutup telepon itu. Ia lalu berjalan menuju bangkunya dan membereskan barang-barangnya ke dalam tas.
Rio yang melihat semua itu mengerutkan kening. “Lo mau pulang?”
Dilla tak menyahut. Tangannya masih bergerak menutup resleting tas.
“Nggak lihat hujan lagi?” tanya Rio, menunjuk ke luar jendela. Hujan masih turun dengan deras.
“Besok lagi,” Dilla mengeluarkan jas hujan dan payung dari laci mejanya. “Kalau dia datang lagi.”
Rio tak menyahut, hanya memandangi Dilla yang sedang memakai jas hujannya. Gadis itu lalu bertanya padanya. “Lo bawa payung?”
Rio menggeleng.
Dilla mengulurkan payungnya pada Rio. “Besok balikin.”
“Kok lo bawa jas hujan juga, payung juga?” tanya Rio heran.
“Gue nggak suka basah,” jawab Dilla sambil mengancing jas hujannya. “Manusia emang egois. Gue suka lihat hujan, tapi nggak suka basah kena air hujan.”
Lagi-lagi Rio tak menyahut. Rasanya ucapan-ucapan gadis ini banyak yang membuatnya tercengang, dan anehnya banyak ucapannya yang benar.
“Gue duluan, ya.”
***
“Hai, Langganan BK Tobat!”
Rio merasakan pundaknya ditepuk pelan. Begitu menoleh, didapatinya Doni sudah berjalan di sampingnya dengan wajah menggoda.
“Katanya lo kemarin abis kabur dari Bruntus terus menyerahkan diri dengan suka rela? Bruntus bangga banget sama lo tuh kayaknya. Dari pagi udah ngoceh: Coba tiru Rio, dia bertanggungjawab sama perbuatannya,” Doni menirukan ucapan Pak Brata yang didengarnya tadi. Ia merangkul pundak Rio. “Jadi benar, lo udah tobat?”
“Tobat apaan? Emang selama ini gue ngapain?” Rio melepaskan rangkulan Doni padanya dengan wajah kesal. “Gue baik-baik aja juga.”
Doni langsung tertawa mendengar hal itu. “Lo nggak melupakan fakta kalau lo adalah murid yang paling sering bolak-balik BK di angkatan kita, kan?”
“Itu karena gue sial aja, ketahuan terus,” Rio mendengus. “Banyak yang lebih parah dari gue, cuma mereka nggak ketahuan aja.”
Doni mengangguk-angguk. “Makanya, sebagai murid sial karena selalu kepergok Bruntus tiba-tiba menyerahkan diri dengan suka rela; gimana nggak dibilang tobat? Hukuman lo jadi ditambah bersih-bersih dua minggu, kan?”
“Yaa, itu kan hal yang harus gue lakuin cepat atau lambat,” Rio mengutip kalimat yang diucapkan Dilla padanya kemarin.
“Hah?” Doni melongo mendengarnya.
“Kalaupun kemarin gue bisa kabur, tetap aja hari ini Bruntus bakal bisa nangkap gue. Tetap aja gue harus dihukum,” jelas Rio. “Terus kenapa gue panjang-panjangin prosesnya? Malas gue berurusan sama Bruntus lama-lama!”
“Ooh,” Doni mengangguk-angguk. Ia lalu memandang temannya itu takjub. “Hampir dua tahun langganan BK dan kejar-kejaran sama Bruntus, lo baru mikir begini sekarang? Habis kesambet apa lo?”
“Pawang hujan,” sahut Rio asal.
“Hah?” Doni melongo mendengarnya, tapi Rio tidak berkata apa-apa lagi. Mereka pun terus berjalan hingga berada di depan kelas XI IPS 2 yang tampak lengang. Kelas yang kemarin dimasuki Rio.
Rio memperlambat langkahnya, dengan mata yang menyapu seisi kelas. Terlihat Dilla sedang duduk di bangkunya dengan headset terpasang di telinganya. Gadis itu tampak sedang termangu memandang ke luar jendela, dengan kedua tangan menyangga dagunya. Seperti kemarin di pinggir jendela.
“Istirahat kok di kelas aja,” gumam Rio.
“Apa?” tanya Doni yang tak mendengar jelas ucapan Rio barusan. Rio hanya menggeleng dan berjalan cepat melewati kelas itu. Setelah agak jauh dari situ, Rio menoleh pada Doni dan bertanya. “Lo tahu Dilla?”
“Dilla mana?” Doni balik bertanya.
“Dilla yang dulu sekelas sama kita pas kelas sepuluh,” ujar Rio.
“Dilla, Dilla,” Doni tampak mengingat-ingat. “Oh, Dilla? Yang anak IPS 2?” Doni menunjuk ke arah kelas yang sudah mereka lewati tadi.
Rio mengangguk. “Lo kenal sama dia?”
“Kenal langsung sih enggak, cuma pernah dengar-dengar aja. Kan kata lo juga kita pernah sekelas sama dia,” jawab Doni.
“Tapi kan kita nggak pernah ngomong sama dia,” sahut Rio. “Lo dengar apa tentang dia?”
“Mmm,” Doni tampak mengingat-ingat lagi. “Katanya anaknya aneh gitu kalau diajak ngomong. Makanya pada malas ngobrol sama dia. Terus dia jadi kemana-mana sendiri.”
Rio terdiam mendengarnya, teringat pembicaraan dengan Dilla kemarin. Memang bukan pembicaraan yang biasa seperti yang dilakukannya dengan teman-teman lain. Tapi kalau sampai nggak ada yang ngajak ngobrol, bukannya itu agak kelewatan?
“Padahal yang dia omongin benar,” tanpa sadar Rio mengucapkan apa yang dipikirkannya.
“Apaan?” tanya Doni heran.
Rio buru-buru berkata lagi, tak menggubris pertanyaan Doni barusan. “Terus, lo dengar apa lagi?”
“Mm, apa ya?” Doni berpikir lagi. Ia lalu menjentikkan jarinya, teringat sesuatu. “Ah! Katanya dia anak gangster!”
“Hah?!” seru Rio kaget. Langkahnya otomatis terhenti.
“Iya, makanya dia sering pindah sekolah. Karena sering dikejar-kejar sama sesama gangster dan polisi!” Doni melanjutkan ucapannya.
“Kata siapa? Dia disini kan dari kelas sepuluh, bukan pindahan!” seru Rio, tak percaya sama sekali dengan ucapan temannya itu.
“Lho, lo nggak tahu? Dia kan baru masuk semester dua,” sahut Doni. “Waktu SMP aja dia pindah sekolah sampai empat kali.”
“Terus kalau sering pindah berarti anak gangster?” seru Rio lagi, tak habis pikir. Ia merasa semua itu sangat tak masuk akal.
“Ada yang pernah lihat bokapnya dikejar-kejar gangster!” Doni tak mau kalah, mengeluarkan apa yang pernah didengarnya.
“Siapa yang lihat? Kapan? Emang mereka tahu bokapnya Dilla? Pernah lihat?” berondong Rio. Cowok itu lalu melanjutkan dengan nada kesal. “Lagian emang ini Eropa? Amerika? Segala ada gangster. Ini Indonesia!”
Doni melongo mendengar rentetan ucapan Rio itu. “Kan gue cuma bilang apa yang pernah gue dengar,” ucapnya kemudian membela diri.
Rio mendengus kesal, lalu beranjak dari situ. Tapi baru tiga langkah, ia berhenti dan berbalik menghampiri Doni lagi.
“Lo dengar dari siapa?” tanya Rio. Doni membuka mulutnya hendak menjawab, tapi Rio sudah berbicara lagi. “Lo keseringan main sama anak cewek, sih! Lo pasti dengar itu dari mereka, kan? Cewek kan sumber dari segala gosip ngawur!”
Begitu mengucapkan kalimat itu, Rio langsung berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Doni sendiri. Doni yang kesal mendengar ucapan Rio itu, langsung berseru. “Kok lo jadi marah sama gue, sih? Kan gue cuma jawab apa yang lo tanya!” teriak Doni kesal. “Lagian lo duluan yang ngomongin soal cewek!”
***
Tetes hujan yang mulanya hanya rintik-rintik, semakin lama semakin deras. Dilla memejamkan mata, mendengarkan suara hujan yang jatuh. Ke tanah, ke lapangan, ke atap sekolah, dan ke ujung kusen jendela. Kedua tangannya memangku dagunya, seperti biasa.
“Hari ini hujan lagi.”
Sebuah suara yang terdengar dari belakang membuat Dilla membuka matanya dan menoleh. Dilihatnya Rio berjalan ke arahnya dengan membawa sebuah payung. Payung Dilla yang kemarin dipinjamkan padanya.
Begitu berdiri di sebelah Dilla, Rio mengulurkan payung itu. “Thanks.
Dilla pun menerima payung itu sambil mengangguk. Lalu gadis itu kembali membalikkan badan dan menatap ke luar jendela. Rio pun mengikuti apa yang dilakukannya. Mereka berdua berdiri bersebelahan dan menatap ke luar jendela, melihat hujan yang turun.
“Gue kira lo udah pulang, tadinya payung lo mau gue balikin besok,” Rio membuka suara lagi. “Eh, tahu-tahu hujan. Jadi gue pikir lo masih disini, dan ternyata benar.”
“Tadi udah mendung banget, gue tungguin sampai hujan turun,” sahut Dilla tanpa mengalihkan pandangannya.
“Kenapa nggak pulang dan lihat di rumah aja? Lo ngak serem hujan-hujan di kelas sendiri begini? Udah nggak banyak orang di sekolah jam segini,” Rio melontarkan keheranannya. Bel pulang sudah berbunyi sekitar satu jam yang lalu, dan tidak banyak murid yang ingin lama-lama di sekolah. Rio sendiri harus lebih lama di sekolah karena sedang menjalani hukuman bersih-bersih dari Pak Brata.
Dilla terdiam sejenak. Ia menghirup nafas dalam-dalam, merasakan udara segar yang khas datang saat hujan. “Di rumah, gue nggak akan bisa lihat hujan.”
“Kenapa?” tanya Rio.
“Nggak dibolehin,” jawab Dilla. “Nggak ada jendela juga.”
Rio terdiam mendengarnya. Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara diantara mereka berdua. Dilla sudah kembali asyik menatap rintik-rintik hujan, yang diikuti juga oleh Rio. Hanya keheningan yang diisi oleh suara hujan yang mulai deras.
“Kenapa kita diciptakan jadi manusia?” suara Dilla memecah keheningan tersebut.
“Hah?” tanya Rio heran, memastikan ia tak salah dengar.
“Kenapa kita dijadikan sebagai manusia?” Dilla bertanya lagi. “Kenapa nggak jadi hujan, angin, atau pohon?”
“Lo mau jadi hujan, angin...,” Rio mengusap-usap kepalanya yang tidak gatal. “Atau pohon?”
“Mungkin?” sahut Dilla, mengangkat bahu. “Kalau kita diciptakan jadi pohon, mungkin segala sesuatunya lebih mudah? Pohon kan tumbuh sendiri-sendiri, nggak saling menyakiti dan disakiti.”
Rio terdiam, menoleh pada Dilla. Ditatapnya gadis itu dengan berbagai pertanyaan dan pemikiran berseliweran di kepalanya. Tapi kemudian Rio menyahuti ucapan Dilla. “Tapi pohon bisa ditebang dan mati.”
“Manusia juga mati. Tapi pohon nggak punya perasaan, jadi nggak akan ngerasa sedih atau sakit,” ucap Dilla.
“Kalau ternyata mereka ngerasa?”
Dilla menoleh, mengerutkan kening mendengar ucapan Rio. Rio pun melanjutkan ucapannya. “Gimana kalau ternyata mereka bisa ngerasa sedih atau sakit? Kita kan nggak tahu, karena kita bukan mereka.”
“Wah,” perlahan bibir Dilla merekah senyum. “Kenapa selama ini gue nggak kepikiran hal itu?”
Rio ikut tersenyum. Entah mengapa ia merasa ucapan Dilla barusan adalah pujian baginya.
“Ngomong-ngomong,” ujar Dilla kemudian, menatap Rio. “Lo nggak ngerasa aneh, ngomong ama gue?”
“Hm?” Rio balik menatap Dilla heran.
“Bukannya omongan gue aneh? Makanya orang-orang menghindari gue,” ucap Dilla lagi.
Rio terdiam sejenak, hanya menatap Dilla lurus-lurus. Ia kemudian menyahuti ucapan gadis itu. “Aneh,” ujar Rio jujur. “Tapi omongan lo banyak benarnya.”
Dilla mengangguk-angguk mendengarnya.
“Lo sendiri, ngerasa itu aneh?” Rio balik bertanya.
“Mungkin?” sahut Dilla, mengangkat bahu lagi. “Gue agak lebih sensitif dan peka dibanding kebanyakan orang. Makanya hal yang manis lebih terasa manisnya, yang pahit lebih terasa pahitnya,” Dilla menghentikan ucapannya sejenak, lalu berkata lagi. “Makanya terasa berat dan sulit.”
Rio memperhatikan raut wajah Dilla yang tampak menerawang saat mengucapkan kalimat terakhir. Rio pun menghela nafas. “Lo bisa aja nggak menunjukkan itu ke orang lain. Jadi nggak akan dipandang aneh.”
Dilla tersenyum kecil mendengarnya. “Lalu diri gue akan sangat kasihan,” sahut Dilla. “Menutupi dan menahan apa yang sebenarnya jadi diri gue, agar bisa diterima orang lain. Itu berarti bahkan gue pun nggak bisa nerima diri gue sendiri. Bukankah kalau begitu, diri gue akan sangat kasihan?”
Rio tertegun mendengarnya. Kalimat-kalimat getir yang diucapkan gadis ini, terdengar aneh sekaligus dapat diterima oleh logikanya. Rio menatap gadis di sampingnya itu lamat-lamat. Apa yang sebenarnya udah dia lalui?
Dilla menoleh, mendapati Rio yang masih diam saja. Dilla lalu menyodorkan payung yang sedari tadi masih ia pegang. “Ini buat lo aja. Hadiah kenang-kenangan dari gue.”
Rio menerimanya dengan kening berkerut. “Kenang-kenangan?”
“Besok hari terakhir gue disini,” Dilla mengalihkan pandangan matanya ke luar jendela lagi. Memandangi hujan yang masih turun dengan deras. “Gue pindah sekolah.”
“Besok?” tanya Rio, seperti tidak percaya dengan apa yang diucapkan gadis itu. Terlebih lagi Dilla mengucapkannya dengan sangat biasa, seperti itu bukan hal yang besar baginya. Jadi benar dia sering pindah-pindah sekolah? Batin Rio.
Dilla tidak menyahut. Matanya masih asyik memperhatikan titik-titik air hujan yang turun di luar sana. Tak bisa menahan keingintahuannya, Rio pun bertanya lagi. “Kenapa?”
“Baru kali ini ada yang nanya kenapa,” ucap Dilla, tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. “Bokap gue harus selalu pindah sesuai dengan tugas dinas yang dikasih. Gue nggak punya keluarga lagi selain bokap, jadi harus terus ikut dia. Seenggaknya sampai lulus SMA.”
Rio mengangguk-angguk. Ternyata begitu. Kok gosipnya bisa sampai aneh-aneh. Dasar...
“Beda ya, sama gosip yang lo dengar?” ucapan Dilla memecah pikiran Rio. Rio menoleh kaget. “Lo tahu?”
“Sedikit,” sahut Dilla. “Hal yang buruk akan lebih baik kalau cuma sedikit yang kita tahu. Kalau kita nggak tahu, kita nggak akan sakit hati.”
Rio tertegun sejenak, tapi kemudian mengangguk-angguk membenarkan. Nampaknya ia sudah mulai terbiasa dengan ucapan-ucapan gadis ini.
“Tapi bukannya enak pindah ke tempat baru? Lo bisa selalu memulai semuanya dari awal, dari nol,” ujar Rio. “Dengan begitu, hidup yang berantakan bisa diperbaiki.”
Dilla menoleh pada Rio. “Lo mau mulai hidup lo dari nol?”
“Mungkin?” sahut Rio sambil mengangkat bahu, mengikuti apa yang dilakukan Dilla.
Dilla hanya mengangguk-angguk melihatnya. “Ternyata emang apa yang terlihat belum tentu yang sebenarnya, ya. Gue pikir lo menikmati hidup lo, melakukan apa yang lo mau.”
“Karena gue sering keluar masuk BK?” tanya Rio dengan wajah serius.
“Bukan,” Dilla tersenyum kecil. “Dari cara lo ngajak orang ngomong, lo easy going dan bisa nerima perbedaan orang lain. Dengan pemikiran terbuka begitu, gue pikir lo bisa melakukan apa yang lo mau,” ujar Dilla panjang lebar, lalu menambahkan dengan suara geli. “Lagian mana gue tahu lo sering keluar masuk BK?”
“Ooh,” Rio mengangguk-angguk. Cowok itu kemudian menghela nafas. “Lo benar. Gue bisa nerima perbedaan orang lain, atau setidaknya berusaha untuk itu. Dan gue pikir orang lain juga akan melakukan hal yang sama ke gue. Tapi ternyata nggak berarti karena kita melakukan itu, orang juga akan melakukan hal yang sama.”
Kini Dilla yang tertegun, memandangi Rio lamat-lamat. Tapi tak lama kemudian, gadis itu ikut menghela nafas. “Dunia emang selalu nggak adil, kan?”
Rio mengangguk membenarkan. “Tapi gue masih nggak habis pikir sama orang yang nggak mau nerima perbedaan orang lain. Di dunia ini ada berapa juta, atau malah milyar orang, coba? Gimana bisa orang sebanyak itu sama semua tanpa punya perbedaan?” ujar Rio dengan nada kesal.
Dilla tersenyum mendengarnya. “Coba setengah aja dari orang di dunia ini mikirnya kayak lo. Pasti dunia akan jauh lebih baik.”
Rio ikut tersenyum, mengusap-usap dagunya. “Gimana kalau kita keliling dunia buat menyebarkan pemikiran itu?” seloroh Rio.
Dilla tertawa kecil, mengacungkan ibu jarinya. Bersamaan dengan itu, ponsel Dilla bergetar dari saku roknya. Dilla mengambil ponselnya masih dengan sisa-sisa tawanya, namun tawa itu memudar begitu melihat layar ponsel. Ayahnya menelpon. Dilla pun mematikan ponsel itu.
“Kok nggak diangkat?” tanya Rio heran.
“Biarin aja. Hari ini kan hari terakhir gue lihat hujan dari sini,” sahut Dilla. Ia memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku, lalu memangku dagunya dengan kedua tangan. Tersenyum menatap tetes-tetes hujan yang tak kunjung reda.
Rio pun tidak berkata apa-apa lagi. Mengikuti arah pandangan Dilla, pada hujan di luar jendela.
***
Dilla menarik-narik ujung tali ranselnya, memandangi hujan yang mulai turun perlahan di halaman sekolah. Ia kini sedang berdiri di depan kelas paling pinggir dekat gerbang sekolah. Karena ini hari terakhirnya di sekolah, ayahnya berjanji akan menjemput. Tapi tadi ayahnya menelpon dan menyuruhnya pulang sendiri, karena ada hal tak terduga yang harus diurusnya. Seperti biasa, batin Dilla. Dilla pun diwanti-wanti langsung pulang untuk mengepak barang-barang yang belum dikemasi.
Dilla memandangi langit yang semakin gelap, menurunkan hujan dengan derasnya. Dilla menghela nafas, lalu perlahan tangannya bergerak mengambil jas hujan dari tasnya. Sebenarnya Dilla masih ingin berlama-lama disini sambil memandangi hujan, tapi ayahnya berulang kali mengingatkan kalau mereka harus pergi malam ini. Dengan ogah-ogahan, akhirnya Dilla pun memakai jas hujannya.
“Wah, ternyata lo benar-benar akan pergi tanpa pamit.”
Sebuah suara yang mulai familiar di telinga Dilla, menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengancing jas hujan. Dilla pun menoleh, melihat Rio sedang berjalan ke arahnya. Cowok itu sudah memakai jas hujan, dengan memegang payung yang diberikan Dilla kemarin.
Dilla tersenyum kecil, lalu mengulurkan tangannya. “Selamat tinggal, Rio.”
Rio menyambut uluran tangan Dilla itu, ikut tersenyum. “Sampai jumpa lagi, Dilla. Baik-baik disana.”
Dilla mengangguk seraya melepaskan jabatan tangannya. Ia pun memakai kupluk jas hujannya, lalu mengikat talinya kuat-kuat. Melihat hal itu, Rio langsung membuka payungnya.
“Lo naik bus? Gue antar sampai halte,” ujar Rio. Melihat Dilla yang menatapnya heran, Rio buru-buru menambahkan ucapannya. “Gue juga mau naik bus.”
Dilla pun mengangguk tanpa suara. Rio lalu bergerak mendekat ke sebelah Dilla, berdiri dengan memegangi payung untuk mereka berdua. Dilla mendongak, melihat payung itu dengan pandangan geli.
“Bukannya payung ini terlalu kecil buat dua orang?”
“Nggak apa-apa, kita kan pakai jas hujan,” sahut Rio enteng. “Ah, jangan kira gue ngikutin lo. Bukan cuma lo yang suka lihat hujan tapi nggak suka basah kena air hujan.”
Dilla mengangguk geli. Mereka pun melangkah menuju gerbang sekolah, di tengah hujan yang turun semakin deras.
“Ngomong-ngomong, lo pindah kemana?”
“Gue lupa nama daerahnya, tapi yang jelas itu masuk Maluku.”
Id medsos lo apa? Biar bisa chatting nanti. Atau email?”
“Gue nggak tahu disana ada sinyal internet atau enggak. Dulu gue pernah tinggal di daerah begitu, yang ada cuma listrik. Itu juga dijadwal cuma dapat malam.”
“Kalau telepon, bisa? Ada sinyal operator, kan?”
“Mungkin?”
“Atau surat? Kalau pos bisa sampai ke seluruh Indonesia, kan?”
“Gue nggak hafal alamatnya. Nama daerahnya aja lupa.”
“Tanya bokap lo, dong.”
Hujan masih deras mengguyur bumi, dan titik airnya jatuh pada dedaunan. Pada ranting pohon. Pada tanah. Tak menunjukkan tanda-tanda akan segera reda. Dua orang itu masih bercengkrama, membicarakan hujan. Membicarakan payung. Membicarakan semuanya.

Bekasi, 23 Desember 2017
01:19 am

Tidak ada komentar:

Posting Komentar