Senin, 31 Oktober 2016

What's Seen, What's Real

Tempo hari, saya bertukar kabar dengan seorang kawan. Dan seperti biasa, rutinitas bertukar kabar dilanjut dengan curcol mengenai masalah hidup saya saat ini.
Kawan saya heran mendengarnya, karena selama ini saya sepertinya baik-baik saja. Bahkan tampak lebih baik dari sebelumnya. Dari mana dia bisa menyimpulkan semua itu?
Media sosial.
Saat itu saya hanya tertawa getir dan menyahut: Baguslah, berarti orang ngeliat gue bahagia.
Seusai mengobrol, saya lantas mengecek medsos saya. Mengamati postingan-postingan saya bulan-bulan ini. Dan memang, kalau saya memposisikan diri sebagai orang lain mungkin akan berkomentar sama seperti kawan saya itu.

Dari situ saya sadar, kalau apa yang terlihat belum tentu yang sebenarnya.

Saya kerap merasa iri dengan orang lain karena merasa hidup mereka jauh lebih baik dari saya, tidak serumit hidup saya, tidak seberat hidup saya. Dari mana saya menyimpulkan hal itu?
Tentunya dari media sosial.
Menyadari bahwa orang lain juga tidak tahu bagaimana hidup saya yang sebenarnya dan hanya menyimpulkan dari media sosial (karena memang media itu yang terlihat untuk umum); saya berpikir kalau mungkin saya pun melakukan hal yang sama dalam melihat orang lain.
Kalau mungkin saja hidup mereka tidak semudah itu, tidak sebahagia itu. Kalau mungkin saja hidup mereka juga serumit hidup saya, atau mungkin lebih rumit. Kalau mungkin di luar sana ada juga yang iri dengan hidup saya, memandang hidup saya jauh lebih mudah dibanding miliknya.
Jadi memang, apa yang terlihat belum tentu yang sebenarnya.
Lalu mengapa orang memposting hal-hal yang membuat mereka tampak terlihat baik-baik saja dan bahagia?
Saya juga tidak tahu.
Tapi kalau saya sendiri, saya lebih senang jika orang menganggap kalau hidup saya baik-baik saja dan bahagia.


Dan toh, seperti yang saya ucapkan juga pada kawan saya, saya bukan lagi anak ABG yang kalau sedang ada masalah di-share ke berbagai media sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar