Senin, 31 Oktober 2016

Reset

“Gue mau ngulang semuanya dari awal lagi.”
“Gue mau pergi ke tempat dimana nggak ada seorang pun yang kenal gue, dan mulai hidup dari awal lagi.”
“Hidup gue terlalu kacau sekarang. Gue mau mulai semuanya dari awal lagi.”

Kalimat-kalimat tersebut beberapa kali pernah terucap oleh saya. Dan beberapa kali saya pun mendengar orang lain mengucapkan kalimat-kalimat yang kurang lebih seperti itu.
Biasanya kalimat-kalimat tersebut terucap ketika kita sedang merasa hidup kita benar-benar berantakan dan tidak ada harapan untuk memperbaikinya, sehingga kita merasa lebih baik kalau semuanya bisa diulang atau dimulai dari awal. Akan lebih baik kalau semuanya bisa di-reset.
Sepanjang hidup saya (yang sebenarnya belum panjang-panjang amat), saya mengalami proses reset tiga kali. Proses reset ini saya artikan sebagai kondisi dimana saya harus memulai segala sesuatunya dari awal, termasuk hal dasar seperti berteman dengan orang lain. Karena tidak ada seorang pun yang saya kenal di lingkungan itu.

Pertama adalah ketika saya masuk pondok. Proses reset pertama ini terjadi atas kehendak orang tua yang ingin memasukkan saya ke pondok, dan saya yang tidak keberatan dengan ide itu. Pada saat itu, saya benar-benar merasa asing, bingung, dan tidak kenal siapa-siapa. Tidak punya siapa-siapa.
Namun orang-orang di sekeliling saya pun berada di posisi yang sama, sehingga kami saling berusaha untuk membiasakan diri dan berusaha untuk menjalani semuanya dengan baik. Mungkin karena saat itu juga saya masih tergolong anak kecil, jadi tidak banyak pertanyaan dan filosofi-filosofi hidup yang muncul di kepala saya dan membuat pusing (hahaha).

Kedua adalah ketika saya memulai kuliah di Bakrie. Proses reset ini terjadi murni atas kehendak saya, karena saya memang sangat ingin kuliah komunikasi. Namun di lingkungan itu, saya benar-benar mengalami culture shock karena menghadapi hal-hal yang jauh berbeda dari sebelumnya. Mungkin karena sebelumnya saya berada di zona nyaman dengan teman-teman sama selama kurang lebih 6 tahun, lalu tiba-tiba memasuki dunia yang tidak ada satupun yang saya kenal. Level keasingan pun meningkat.
Bagaimana saya bisa melewatinya? 
Saya juga tidak begitu tahu bagaimana saya bisa melewatinya. Mungkin karena bagaimanapun kuliah komunikasi adalah hal yang saya inginkan. Mungkin juga karena sama seperti di pondok, orang-orang sekeliling saya juga berada di posisi yang sama dengan saya. Dan kami sama-sama berusaha beradaptasi satu sama lain.

Ketiga adalah ketika saya nekat kerja di Bandung. Saya katakan nekat karena memang saya nekat mengambil keputusan seperti itu, dan murni keputusan saya. Meski memang saya ingin kerja di Bandung, tapi keputusan yang saya ambil termasuk impulsif; jika melihat dari kondisi yang saya pilih. Berbeda dengan proses-proses sebelumnya, proses reset ini saya lakukan berdasarkan alasan-alasan yang saya tulis di awal. Yang intinya ingin memulai hidup dari awal.
Di Bandung tempat saya bekerja, saya benar-benar memulai semuanya dari nol. Tidak ada yang saya kenal. Tidak ada saudara, tidak ada teman. Teman-teman saya rata-rata sudah hijrah dari Bandung, karena mereka telah selesai kuliah dan bekerja di tempat lain. Berbeda ketika kuliah dulu dimana saya masih pulang ke rumah dan bertemu keluarga setiap hari, kini saya benar-benar sendiri. Di tempat yang tidak familiar, bersama orang-orang yang tidak familiar, dan tak jarang mendengar bahasa yang tidak familiar.
Level keasingan pun meningkat.

Dari ketiga pengalaman reset saya tersebut (terutama pengalaman yang ketiga), saya berniat untuk tidak melakukan reset lagi ke depannya. Karena semua proses reset itu melelahkan.
Karena reset benar-benar memulai semuanya dari awal, dari nol. Karena memulai semuanya dari nol tidak selalu berarti bagus. Karena memulai semuanya dari nol berarti kita benar-benar harus melakukan semuanya dari awal, semua yang sudah kita miliki dan kita bangun. Dalam hal ini, yang paling ter-relate oleh saya adalah hubungan dengan orang lain.
Dan juga, berada dalam tingkat keterasingan tinggi benar-benar bukan hal yang baik. Yang tentunya berbanding lurus dengan tingkat kesepian. 
Tadinya saya pikir, memulai dan mengulang semuanya dari awal adalah jalan keluar supaya hidup saya menjadi lebih benar. Supaya hidup saya tidak lagi berantakan. Namun mungkin sebenarnya semua itu hanya alasan, untuk menutupi kenyataan bahwa saya melarikan diri dari hidup saya yang sebenarnya. Hidup sebelum melakukan proses reset ini.

Saya tidak mengatakan kalau proses reset akan berefek sama seperti yang saya alami. Semuanya kembali lagi ke diri masing-masing, dan niat utama mengapa melakukan proses reset itu. Karena berdasarkan pengalaman reset pertama dan kedua saya, proses reset dapat terlewati dengan baik karena saya memang memiliki niat yang kuat (dan benar) mengapa melakukannya. 
Namun jika ingin melakukan reset karena alasan-alasan yang saya tulis paling atas, mungkin ada baiknya dipikirkan lagi. Benarkah hal itu yang benar-benar kita inginkan. atau sebenarnya kita sedang mencari celah supaya tidak harus menghadapi hidup kita saat ini?

And above everything, saya tetap bersyukur mendapatkan pengalaman seperti ini. Karena kalau tidak mengalami langsung, saya tidak akan mengerti dan tidak mau mengerti. Karena saya cukup bebal, keras kepala, dan impulsif (hahaha). Dengan pengalaman ini, saya jadi lebih banyak menyadari hal-hal yang luput dari pandangan saya. Saya juga jadi lebih banyak belajar mengenai berbagai hal, terutama mengenai bagaimana menjadi orang dewasa.
Also as they said; when you look back on your life, you'll regret the things you didn't do more than the ones you did :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar