Jumat, 07 Oktober 2016

Almost

“Dian, itu barang-barang di atas lemari kamu beresin!”
Dian yang baru saja merebahkan tubuhnya di sofa, terlonjak kaget mendengar teriakan ibunya itu. Sambil ngedumel dalam hati mengenai betapa ibunya tidak bisa membiarkan dirinya beristirahat barang sebentar, Dian melangkah menuju kamarnya.
“Itu kamu naruh apa aja sih di atas lemari? Kan Ibu udah bilang jangan suka numpuk barang, kalo nggak kepakai ya buang. Itu kayaknya udah lama banget ada disitu,” cerocos Ibu panjang lebar begitu Dian sudah muncul di ambang pintu.
“Lupa, Bu,” sahut Dian seraya menarik kursi dari depan meja rias. Diiringi dengan suara omelan Ibu mengenai keteledoran dan kemalasan dirinya yang susah hilang, Dian menaiki kursi dan mengambil kardus yang cukup besar dari atas lemari.
Bruk.
Beberapa benda terjatuh. Dian menoleh ke bawah, melihat Ibu memungut benda-benda itu. Ibu lalu mengulurkannya pada Dian. “Ini bekas kamu OSPEK, bukan?”
Dian termangu. Dilihatnya notes kecil, name tag, pita, dan tas karung yang menjadi atribut khas OSPEK dengan pandangan nanar. Ia lalu berucap pelan. “Oh, ini masih ada?”
“Ya masih ada lah, kan kamu nggak pernah beresin!” seru Ibu seraya menyerahkan benda-benda itu ke tangan Dian. Masih terus bicara, Ibu beranjak keluar kamar Dian. “Udah kamu beresin cepet, Ibu mau masak dulu.”
Sementara Dian masih termangu, menatap benda-benda di tangannya. Pikirannya langsung melayang ke masa lalu.
***
September, 2009.
Dian memainkan name tag sebesar layang-layang yang dipakainya dengan wajah memberenggut. Dian sudah ada di posisi seperti itu sejak setengah jam yang lalu, ketika diputuskan kalau ia menjadi wakil ketua dari kelompok Mangga ini. Ah, Dian juga masih sangat memiliki protes mengenai nama kelompok yang diberikan oleh panitia itu. Ini sudah tahun berapa, mengapa masih saja nama kelompok OSPEK perguruan tinggi menggunakan nama buah?
Oke, lupakan sejenak soal nama kelompok. Karena meskipun nama itu kekanakan dan agak memalukan, Dian masih bisa bercanda dengan teman-teman barunya sebelum setengah jam yang lalu. Tapi tidak setelah…
“Udah dong, Di. Cemberut lo kelamaan tuh,” senggol Ambar, yang sudah mengenal Dian sejak SMA. Ambar sudah paham betul bagaimana watak temannya ini kalau sudah bad mood.
“Ya abis gimana gue nggak bete coba, Mbar? Lo lihat sendiri tadi tuh anak gimana kelakuannya! Masa mau nambah lagi pake tali rafia buat dandanan kita, nggak lihat segini juga udah kayak orang gila?!” seru Dian berapi-api.
Ambar menepuk-nepuk bahu Dian, berusaha menenangkan temannya itu. Namun Ambar sendiri menahan tawa teringat kejadian tadi. Dian dan Bima, ketua kelompok mereka, berdebat panjang soal penambahan atribut khusus untuk kelompok mereka saja. Bima bersikukuh kalau itu akan jadi ciri khas kelompok, sedangkan Dian menentang mati-matian karena itu terlalu memalukan. Pertengkaran itu mungkin mengesalkan bagi Dian, tapi jadi hiburan tersendiri bagi anggota kelompok lain yang asyik menonton mereka.
“Ya namanya juga anak Seni, Di. Wajar lah kalo pikirannya agak-agak…,” Ambar memikirkan kata yang tepat. “…unik.”
“Nyeleneh!” sergah Dian cepat. Lalu mengeluhkan hal yang sudah ia ucapkan setengah jam terakhir. “Lagian kenapa sih OSPEK-nya digabung satu kampus? Kenapa nggak satu jurusan aja?”
“Itu sih kebijakan kampus yang udah nggak bisa lo protes, Di,” sahut Ambar. Dalam setiap kelompok OSPEK memang terdiri dari mahasiswa berbagai jurusan. Dian dan Ambar sendiri dari jurusan Manajemen.
“Oke, oke,” Dian mengangguk-angguk, tapi kemudian mengeluarkan hal lain yang ia keluhkan juga setengah jam ini. “Tapi kenapa harus milih ketua yang kayak gitu, sih? Kan banyak anak yang lain!”
“Ngomongin gue, ya?”
Dian dan Ambar menoleh, mendapati Bima sudah ada di belakang mereka sambil cengengesan. Dian semakin kesal melihatnya. “Iya!”
Bima berlagak kaget. “Wah, apa lo nggak terlalu jujur? Bener kata orang, jujur itu menyakitkan.”
Ambar menahan tawa mendengarnya, sementara Dian sudah melotot garang. Bima tertawa-tawa kecil seraya mengangkat kedua tangannya. “Oke, oke. Gencatan senjata, dong! Gue udah bilang ke anak-anak nggak usah pakai atribut tambahan.”
Mata Dian memendar, menjadi lebih rileks. Bibirnya juga tidak mengerucut lagi. “Beneran?”
“Bener, dong! Bohong kan dosa,” seloroh Bima enteng. Ia lalu menepuk-nepuk bahu Dian. “Nah, gini dong. Jangan marah-marah aja. Masa cewek cemberut terus?”
Dian langsung menepis tangan Bima, memelototi cowok itu lagi. “Jangan pegang-pegang! Apaan sih lo?” seru Dian galak.
Bima melongo, sementara Ambar sudah terbahak-bahak menyaksikan kedua orang itu sedari tadi. Dian sendiri masih mengomel panjang-pendek. Bima lalu mengangkat kedua tangannya lagi.
“Oke, oke. Gila, galak banget sih lo,” ujar Bima, tapi bibirnya mengulas senyum kecil. “Sepuluh menit lagi kumpul, ya. Jangan lama-lama marahnya!” seru cowok itu seraya beranjak pergi.
“Di, Di,” Ambar geleng-geleng kepala, di sisa-sisa tawanya. “Lo berdua lucu banget, sih. Bisa-bisa lo cinlok sama si Bima nanti.”
Dian melotot untuk yang ketiga kalinya. “Gila lo, sembarangan aja kalo ngomong! Ya nggak bakal, lah!”
***
Tapi ucapan Ambar benar. Setelah hampir dua minggu berdebat mengenai berbagai hal, karena Bima yang suka melontarkan ide-ide aneh dan Dian yang paling tidak terima dengan semua ide itu, OSPEK pun selesai. Dan Dian mulai menyadari kalau ada berbeda dengan hatinya.
Perbedaan itu mulai dirasakan Dian ketika matanya selalu mencari-cari sosok yang biasa dilihatnya dua minggu belakangan, sosok yang sebelumnya sangat mengesalkan bagi Dian. Namun karena tidak satu jurusan, Dian tidak kunjung melihat Bima. Tak kehabisan akal, Dian kerap mengajak Ambar ke perpustakaan yang berdekatan dengan gedung Seni. Siapa tahu berpapasan dengan Bima.
Hingga Ambar merasa kalau aneh seorang Dian Nurmala yang dikenalnya baru belajar sehari sebelum ujian itu selalu mengajaknya ke perpustakaan. Tidak mungkin temannya itu berubah dalam satu malam menjadi rajin. Setelah diinterogasi Ambar sepanjang makan siang, Dian pun menceritakan yang sebenarnya.
“Lo sih Mbar, pake ngomong yang enggak-enggak. Kejadian beneran, kan?” gerutu Dian, setelah mengakhiri pengakuannya.
“Kok gue disalahin? Yang punya hati kan elo,” sahut Ambar seraya terkekeh. Dian hanya manyun mendengarnya. Ambar pun berkata lagi. “Jadi gimana? Mau gue bantuin? Gue kan ada kenalan tuh anak Seni, nanti bisa minta tolong dia juga buat comblangin.”
Dian langsung menggeleng cepat.
“Jangan lah! Urusan gue kok se-RT yang turun tangan,” ucap Dian. “Lagian tengsin gue, selama ini kan gue berantem mulu sama tuh anak kerjaannya.”
“Benci jadi cinta dong,” Ambar bersiul, tapi langsung berhenti begitu dipelototi Dian. Ambar lalu berlagak serius, mencoba menganalisis keadaan. “Kalo gue lihat sih, kalian tuh sebenernya udah deket. Ya meskipun berantem mulu, tapi karena itu kan lo jadi deket sama dia.”
“Terus, terus?” tanya Dian, tertarik dengan analisa Ambar.
“Yaa terus, lebih gampang buat membuat skenario pertemuan kalian terjadi. Kita bilang aja reuni Mangga kek, atau apa kek. Gampang lah,” sahut Ambar.
“Skenario? Emang ini film?” Dian meringis. “Gue nggak mau ah, yang terlalu direncanakan gitu. Lagian reuni kelompok OSPEK tuh maksa banget nggak, sih?”
“Yee, mau ketemu Bima, nggak?” todong Ambar. Dian mengusap-usap kepalanya yang tidak gatal, lalu mengangguk malu-malu. Ambar menjentikkan jarinya, mulai menyusun berbagai skenario di kepalanya.
“Eh tapi, dibikin lebih natural ya, Mbar? Jangan keliatan direncanain banget gitu, nanti ketahuan dong. Pokonya kayak biasa aja, jangan heboh gitu. Terus—”
“Iya, iya. Lo jangan bawel dong, gue lagi mikir nih. Udah lo percaya aja sama mak comblang handal ini,” ujar Ambar, memotong rentetan penuh kekhawatiran dari Dian.
Dian mencibir. “Handal apaan? Jomblo dari lahir juga lo.”
“Siapa yang jomblo dari lahir?”
Dian dan Ambar terlonjak kaget mendengar ada yang tiba-tiba menyahuti pembicaraan mereka. Ketika menoleh, mereka melihat Bima yang cengengesan di belakang mereka. Lalu dengan santainya cowok itu menarik bangku plastik dari kolong meja. Duduk berseberangan dengan Dian dan Ambar.
“Lo dari kapan disitu? Lo nggak nguping, kan?” tanya Dian cepat, setengah panik. Kalau Bima mendengar semua percakapan mereka, mau taruh dimana mukanya?
Bima terkekeh mendengarnya.
“Masih galak aja lo. Padahal gue kira dua minggu nggak ketemu bakal lebih jinak,” ujar Bima. “Tenang aja, gue bukan tukang nguping, kok. Kebetulan tadi gue ngelihat kalian dari jauh, terus gue kesini aja.”
“Kok lo bisa ada di kantin sini?” tanya Dian lagi.
Bima mengangkat bahu.
“Yaa, lagi main aja. Emang nggak boleh, anak jurusan lain makan di kantin Manajemen?” seloroh Bima santai. Ia lalu memandangi Dian dan Ambar bergantian. “Jadi, siapa yang jomblo dari lahir?”
Dian baru mau menyahut lagi ketika Ambar segera berucap. “Gue,” ujar Ambar, nyengir. Ia lalu melirik Dian, memberi isyarat untuk tidak meledak-ledak lagi. Bisa kacau misi percomblangannya kalau orang yang mau dicomblangkan malah marah-marah terus pada target.
“Cuma elo?” tanya Bima.
Dian dan Ambar berpandangan bingung. Tapi kemudian Ambar menyadari sesuatu, dan tersenyum. Ia langsung menggeleng cepat. “Dian juga, kok.”
Bima tersenyum. “Bagus.”
Dian terpengarah mendengarnya. Di kepalanya langsung berkecamuk berbagai pertanyaan. Gue nggak salah denger, kan? Itu apa maksudnya? Apa maksudnya?
“Oh iya Bim, weekend ini lo ada acara, nggak?” tanya Ambar, memecah keheningan yang sejenak muncul di antara mereka. “Gue sama Dian tadi lagi ngomongin, seru kali ya kalo kelompok kita kumpul-kumpul gitu.”
Dian meringis kecil, tidak menyangka Ambar benar-benar menjalankan ide itu.
“Yakin lo berdua ngomongin itu? Kok muka temen lo ini nggak enak abis lo bilang gitu?” tanya Bima, sambil menunjuk wajah Dian. Dian langsung menghalau jari telunjuk Bima yang ada di depan hidungnya. “Apaan sih lo, tunjuk-tunjuk muka orang!”
“Ya abis kalo megang kan nggak boleh,” sahut Bima enteng. “Apa sekarang udah boleh?”
Dian melotot. “Ya enggak, lah!”
“Terus kalo nggak boleh orang pegang elo, kenapa lo boleh pegang orang?” tanya Bima, melirik jari telunjuknya yang masih dipegang Dian. Dian yang baru menyadari hal itu segera melepaskan tangannya dari jari Bima. Dian lalu berdehem, jadi salah tingkah sendiri.
Bima menahan senyum melihatnya, namun segera memasang wajah galak yang dibuat-buat.
“Nah, curang kan lo? Gue nggak boleh megang, tapi lo megang. Sini gantian tangan lo gue pegang!” seru Bima seraya mengulurkan tangan hendak menyentuh tangan Dian. Dian segera menyembunyikan tangannnya di balik punggung. “Ih apaan sih lo, kan gue nggak sengaja!”
“Nggak mau tahu, pegang ya tetep aja pegang. Nyawa dibalas nyawa, pegang dibalas pegang!” ujar Bima sambil bangkit dari tempat duduknya menghampiri Dian. Dian menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ikut bangkit dan  berlindung dibalik Ambar.
Ambar hanya tertawa-tawa melihat kelakuan mereka berdua. Membayangkan rencana percomblangan yang sudah tersusun manis di kepalanya akan berjalan lancar.
***
Reuni kelompok yang digagas Ambar itu baru terjadi dua bulan kemudian, karena sulitnya mencari waktu yang tepat untuk semua anggota. Sebenarnya Dian pernah bilang pada Ambar kalau tidak apa-apa reuni itu tidak jadi, karena toh selama ini ia sudah sering bertemu dengan Bima. Bima entah mengapa hobi makan di kantin Manajemen, sehingga hampir tiga hari sekali mereka bertemu. Dan setiap bertemu mereka selalu bertengkar kecil, soal apapun. Ambar sampai heran sendiri, Dian benar-benar suka Bima atau tidak, sih?
“Beneran lah, Mbar. Tapi ya nggak tahu kenapa kalo deket dia, gue refleks aja bawaannya marah-marah terus. Padahal gue juga sebenernya pengen bisa bermanis-manis depan dia,” ujar Dian waktu itu.
Jadi ketika akhirnya reuni kelompok ini terjadi, Ambar terus mewanti-wanti Dian supaya tidak bertengkar dengan Bima. Kalau memang belum bisa berkata manis, setidaknya menahan diri untuk tidak adu mulut. Dian pun menurut dan bertekad akan membuat acara ini berjalan lancar tanpa huru-hara.
“Mana nih si Bos, kok belum keliatan juga?” tanya Haikal, anggota kelompok Mangga dari jurusan Teknik. Mereka memang sudah berkumpul dari satu jam yang lalu, tapi Bima belum juga kelihatan.
“Lagi di jalan katanya, tadi barusan gue telpon,” sahut Ambar. Ia lalu melirik Dian yang tampak lesu. Ambar tahu kalau temannya itu pasti jadi tidak bersemangat karena orang yang ditunggu tak kunjung datang. Dian bahkan rela bolos les bahasa Prancis-nya demi acara ini, padahal Ambar tahu benar kalau Dian paling anti bolos les yang satu itu. Sayang sudah bayar mahal-mahal, begitu kata Dian.
Sorry, sorry,” terdengar sebuah suara tak jauh dari meja mereka. Mereka pun menoleh dan melihat Bima yang baru datang sambil terkekeh-kekeh. Senyum Dian perlahan merekah, lupa dengan segala kekesalannya tadi. Gadis itu pun mengambil minuman yang tidak disentuhnya sedari tadi.
“Dateng juga, Bos. Kirain bakal dateng besok!” seloroh Clara, anggota kelompok yang paling senang berdandan ala selebriti.
“Dari mana aja lo? Nganter cewek lo, ya?” tanya Guntur yang satu jurusan dengan Bima.
Dian tersedak mendengarnya. Ia langsung menoleh pada Ambar, yang sama kagetnya. Ambar lalu berbisik pada Dian. “Bercandaan doang kali.”
Dian tidak menyahut, hanya terdiam menyimak obrolan teman-temannya.
“Cewek? Emang cowok begini punya cewek?” Haikal sangsi. Diikuti tawa anggota yang lain.
“Lho, iya kan, Bos? Gue denger lo lagi deket sama si Bella, anak Sastra,” Guntur bersikeras. Odi menjentikkan jarinya. “Oh iya, gue juga pernah denger! Gila, kok bisa si Bella mau sama lo, Bos? Lo pakai pelet, ya?”
Dian dan Ambar terpengarah. Dian lalu berbisik pada Ambar. “Kayaknya bukan becandaan, Mbar.”
“Jadi gimana nih, Bos? Konfrensi pers dong, jangan ketawa-tawa aja!” ujar Clara. Sedari tadi Bima memang tidak menyahut apa-apa, hanya tertawa mendengar pembicaraan teman-temannya. Bima mengangkat bahu. “Gue harus ngomong apa?”
“Ya klarifikasi berita yang beredar, dong! Jadi bener, lo lagi deket sama Bella?” tanya Haikal. Semua mata memandang Bima, kecuali Dian yang hanya memandangi gelas di tangannya. Rasanya ia tidak sanggup harus mendengar langsung dari Bima, tapi ia juga penasaran akan kebenaran berita itu.
“Yaaa,” Bima sengaja menggantungkan suaranya, melirik sedikit pada Dian. “Deket itu kategorinya gimana? Kalo sekedar makan sama pulang bareng masuk kategori, mungkin iya.”
“Ciyeeeee!” sontak para anggota kelompok Mangga itu menyoraki Bima beramai-ramai. Lalu bergantian mereka menanyakan berbagai hal yang membuat Bima kewalahan sendiri. Di tengah semua itu, Bima berkali-kali melirik ke arah Dian untuk melihat bagaimana reaksi gadis itu, namun selalu terhalang oleh teman-temannya yang lain.
Sementara itu, Dian tidak banyak bicara. Ia hanya melahap berbagai makanan yang mereka pesan, tidak menggubris keributan yang ada di sekitarnya. Ambar yang melihatnya hanya meringis.
“Di, makannya pelan-pelan. Nanti lo keselek,” ujar Ambar. Tepat setelah Ambar menyelesaikan ucapannya, Dian tersedak. Ambar segera memberikan segelas air putih pada Dian. Dian langsung menghabiskan seisi gelas itu.
“Di…,” ucap Ambar lirih, prihatin melihat temannya itu.
“Jangan ngomong sama gue sekarang. Gue lagi pengen makan banyak,” potong Dian, sambil meraih puding apel yang terletak di meja.
***
Sejak kejadian itu, Dian memutuskan untuk mengakhiri usahanya mendekati Bima. Juga memberhentikan Ambar secara hormat dari posisinya sebagai mak comblang. Ambar sontak saja protes, menuding kalau Dian terlalu cepat menyerah.
“Iya, emang gue nyerah. Ngapain gue bela-belain ngejar orang yang udah punya orang lain? Kayak di dunia ini nggak ada cowok lain aja,” sahut Dian enteng.
“Iya emang banyak cowok lain, tapi lo kan sukanya sama dia!” ujar Ambar gemas.
“Ya emang kalo gue suka sama dia, gue nggak bisa suka sama orang lain lagi? Gue mau udahan aja suka sama dianya,” sahut Dian lagi. Ambar melongo mendengarnya. “Emang bisa suka asal diudahin gitu aja?”
Dian mengangkat bahu. “Tapi seenggaknya, gue nggak mau kisah cinta pertama gue berakhir sedih. Daripada gue sedih, mending gue segera keluar dari kisah itu, kan?”
“Ih, tapi kan belum tentu si Bella itu ceweknya. Kali baru deket aja,” ujar Ambar lagi, masih berusaha membujuk Dian. Dian menggeleng cepat. “Itu deket yang mengarah ke jadian, Mbar. Kalo deket temen biasa, ya aturan dia bilang dong. Tapi kan dia nggak bilang apa-apa lagi.”
Ambar tidak menyahut lagi, hanya geleng-geleng kepala melihat temannya. Dian kalau sudah bertekad terhadap sesuatu sulit berubah pikiran. Apalagi mendengarkan ucapan orang lain.
Dan setelahnya, Dian benar-benar seperti melupakan fakta bahwa ia menyukai Bima. Dian tidak lagi mencari-cari kesempatan untuk bertemu cowok itu. Tidak lagi sengaja sering-sering nongkrong di kantin, tempat ia selalu bertemu Bima. Tidak lagi sengaja ke perpustakaan karena berdekatan dengan gedung Seni. Dian juga mengeluarkan berbagai alasan untuk tidak ikut ketika kelompok OSPEK-nya mengajak kumpul-kumpul lagi. Pokoknya sebisa mungkin Dian menghindari tempat dan hal yang membuat dia berada satu ruangan dengan Bima.
Lama-kelamaan, Bima pun menyadari kalau Dian menghindarinya. Ketika Dian sudah tidak punya pilihan lagi selain ke kantin atau mati kelaparan, mereka berdua bertemu. Dan Bima yang langsung mencecarnya.
“Lo ngehindarin gue, ya?”
Dian mengerutkan kening, bingung sekaligus kaget mendengar pertanyaan Bima itu. Bingung karena Bima tanpa ba-bi-bu langsung bertanya seperti itu. Dan kaget karena meskipun tahu Bima selalu to the point, Dian tak menyangka cowok itu akan menanyakan hal ini.
Dian pun berdehem.
“Ngehindarin apa? Biasa aja, kok,” sahut Dian, berusaha menjaga suaranya agar terdengar normal. Dian lalu kembali melahap baksonya, ingin cepat-cepat menghabiskan makan siangnya ini. Kali ini Dian makan sendiri karena ia harus menyelesaikan tugas yang lupa dikerjakannya tadi. Tidak ada orang yang bisa menjadi bahan pengalihannya sekarang.
Bima menarik kursi dan duduk di hadapan Dian yang tidak mengalihkan pandangannya dari mangkuk bakso. Menatap Dian lurus-lurus. “Biasa apanya? Gue akhir-akhir ini jarang banget ngelihat lo, padahal sebelumnya kan sering.”
“Ya wajar lah jarang ngelihat gue, kita kan se-jurusan juga enggak. Kecuali kalo lo sama gue sekelas dan nggak pernah lihat gue, baru aneh,” ujar Dian.
­­­­Bima masih tidak bisa menerima argumen itu. “Enggak, lo emang nggak kayak biasanya. Biasanya juga gue sering ketemu lo di kantin sini, tapi lo udah lama banget nggak ke kantin. Baru hari ini kan lo kesini lagi? Gue sering bolak-balik kesini nyariin lo tapi nggak pernah ketemu.”
Gerakan tangan Dian terhenti. Kepalanya terangkat dan menatap Bima. Mencoba mencerna apa yang barusan dikatakan cowok itu dari garis wajahnya. Dia nyariin gue? Ini apa lagi?
Tapi kemudian Dian memalingkan wajah, kembali menyendok baksonya. “Ya lo kalo nyari gue di kelas, lah. Emang gue tukang jualan disini, nyarinya ke kantin aja?” seloroh Dian, berusaha terdengar santai.
“Lo pikir gedung Manajemen cuma satu? Kelas anak Manajemen cuma sepuluh, yang bisa gue datengin satu-satu? Ya cuma kantin tempat umum dimana gue bisa nyari lo,” Bima tampak geregetan. “Di, ini gue nanya serius. Lo ngehindarin gue?”
Dian mengangkat bahu. “Ngapain juga ngehindarin lo?”
“Karena lo marah soal yang waktu itu,” ujar Bima lugas. “Yang pas kita kumpul-kumpul sama anak-anak Mangga.”
Dian terpengarah, kaget berat mendengar ucapan Bima. Ia ingin segera menyahuti ucapan Bima, tapi lidahnya terasa kelu. Ia terdiam beberapa detik sebelum berdehem.
“Waktu itu yang mana? Bagian mana yang bikin lo menyimpulkan gue marah?” tanya Dian. “Lagian lo tahu sendiri, gue emang suka marah-marah aja bawaannya kalo sama lo kan.”
Bima menggeleng. “Nggak, lo marah beneran. Bukan cuma ngomel-ngomel kayak biasa. Dan gue kayaknya tahu kenapa lo marah.”
Mata Dian memicing. “Tahu dari mana lo? Kok lo sotoy sih, asal nyimpulin aja sesuka hati lo!”
Bima menghela nafas. “Oke. Kalo lo nggak mau bahas, nggak apa-apa.”
“Siapa yang nggak mau bahas? Kan tadi gue udah bilang—”
“Tapi jangan ngehindarin gue lagi,” Bima memotong ucapan Dian. “Apapun penyebab lo marah sama gue, apapun yang lo denger dari orang-orang; itu semua nggak bener. Gue cuma lagi iseng pengen bercanda aja waktu itu.”
Dian tertegun. Ini cowok… ini cowok… maunya apa?
“Dian!”
Sebuah suara membuyarkan keheningan diantara Dian dan Bima. Dian menoleh dan melihat Emma, teman satu jurusannya, berjalan cepat ke arahnya. Begitu sampai di hadapan Dian, Emma berkacak pinggang.
“Dian Nurmala, lo punya hape berfungsi nggak, sih? Gue udah nelponin lo berkali-kali, kenapa nggak diangkat? Gue muter-muter kampus nyariin lo, tahu!”
Dian memaksakan senyum, masih tersisa kekagetan dari ucapan Bima tadi. “Sorry, hape gue di-silent,” ujarnya seraya merogoh ponsel dari dalam tasnya. Dilihat sudah banyak missed calls dari Emma. Dan dari Danu.
Dian mengerutkan kening.
“Nah, lihat sendiri kan? Si Danu udah kayak orang kebakaran tahu nyariin lo kesana-kemari, minta tolong semua orang buat nyari lo juga. Lo malah asyik-asyik ngebakso disini!” seru Emma.
Bima ikut mengerutan kening mendengar hal itu, menatap Emma dan Dian bergantian.
“Emang dia ngapain nyari gue? Nanti juga sore ada kelas bareng,” ujar Dian heran. Merasa tidak ada urusan penting dengan seniornya yang satu itu.
“Dia sih bilangnya mau ngebahas tugas kelompok sama elo. Tapi ya seperti yang kita semua tahu, itu pasti cuma alasan aja. Siapa yang mau ngebahas tugas yang baru bakal dikumpulin dua minggu lagi?” Emma tersenyum penuh arti. “Lagian lo berdua akrab gitu kan. Apalagi pas di kelas—”
“Oke, gue bakal hubungin dia nanti,” potong Dian, sebelum temannya itu bicara lebih banyak lagi. Dian melirik pada Bima sedikit, merutuk dalam hati mengapa Emma harus datang di saat seperti ini dan mengatakan semua itu. Dian lalu memaksakan segaris senyum lagi pada Emma. “Lo duluan aja, nanti gue nyusul. Tanggung nih bakso gue belum habis.”
“Tapi jangan lama-lama, ya! Nanti si Danu ribetnya ke gue lagi, belum—”
“Iya, iya. Udah sana duluan aja,” Dian segera memotong ucapan Emma lagi. Emma pun menurut dan beranjak dari tempat itu.
Bima berdehem. Dian menoleh ke arah cowok itu, bingung harus berkata apa. Timing yang sungguh tidak tepat.
“Kayaknya lo sibuk, nih. Mungkin lo bener, gue terlalu sotoy nyimpulin kalo lo marah dan ngehindarin gue. Padahal bisa jadi lo emang terlalu sibuk dengan urusan-urusan lo, kan?” ujar Bima dengan nada sinis.
Dian menatap Bima kesal. “Dan sekarang pun lo masih sotoy dan nyimpulin segala sesuatu sesuka lo.”
“Nggak. Karena sekarang gue lihat dan denger sendiri.”
“Lo denger dari gue? Lo lihat dari gue?”
“Kalo gue nunggu denger dan lihat dari lo, mungkin bakal nunggu bertahun-tahun dulu.”
“Terus lo percaya aja apa yang didenger dan lihat dari orang lain? Tanpa kroscek sama gue yang ada disini?”
“Emang lo mau jawab?”
“Emang lo mau tanya apa?”
Bima terdiam, lalu bangkit dari kursinya. “Udah lah, nggak usah dibahas lagi. Mending lo cepetan temuin orang yang udah kebakaran jenggot nyari lo itu.”
Dian melihat kepergian Bima dengan perasaan kesal yang menumpuk di dada. Ia membanting sendok yang dipegangnya ke atas meja. Kenapa begini? Kenapa jadi begini?!
***
Seminggu kemudian, Ambar datang dengan tergopoh-gopoh membawa berita kalau Bima sudah jadian dengan Bella. Dian hanya mengangguk acuh tak acuh, tidak kaget dengan berita itu. Tidak setelah pertengkaran mereka di kantin tempo hari.
“Kok lo santai gitu sih, Di? Lo beneran udah nggak suka lagi sama dia?” tanya Ambar gemas.
“Apa ada hubungannya gue masih suka atau enggak dengan dia udah punya cewek? Gue kan bukan ceweknya, nggak punya hak juga buat ngelarang. Dia juga udah gede, berhak milih mau jadian sama siapa,” sahut Dian enteng.
Ambar memicingkan mata, merasa ada yang aneh. “Ini ada hubungannya sama terakhir lo ketemu dia, kan? Lo ngomong apa aja sih sama dia?”
Dian waktu itu memang langsung ngomel-ngomel menumpahkan kekesalannya pada Ambar, tapi tidak menceritakan semua detailnya. Dian mendengus, merasa kesal lagi setiap mengingat kejadian itu. “Ya begitu deh, pokoknya ngeselin. Males gue ceritainnya juga.”
“Ih, lo cerita dong! Kali aja ada clue yang menunjukkan kenapa si Bima tahu-tahu begitu, tahu-tahu aja jadian sama Bella. Padahal gue yakin banget dia juga suka sama lo!” seru Ambar berapi-api. Bersikeras mengorek keterangan dari Dian.
Tapi Dian hanya menggeleng. “Udah lah, nggak penting itu. Kayaknya jauh lebih penting kalo lo bantuin gue cari pacar. Lo masih mau kan, kalo gue angkat lagi jadi mak comblang?”
Ambar menatap Dian lurus-lurus. “Di…”
“Apa gue jadian sama Danu aja, ya? Dia udah ada tanda-tanda bakal nembak gue, sih,” sahut Dian, seolah tak mendengar ucapan Ambar.
Ambar menghela nafas.
***
Sebulan kemudian, Dian bertemu lagi dengan Bima di acara angkatan mereka. Dian menuruti ucapan Bima untuk tidak menghindarinya. Meski sebenarnya alasan terbesar Dian tidak menghindari Bima adalah karena Dian berprinsip, entah prinsip dari mana, kalau ia menghindar berarti kalah. Kalau ia menghindar berarti membiarkan Bima berpikir kalau ia marah, dan merasa terganggu dengan kenyataan bahwa Bima pacaran dengan Bella.
Dan juga, toh sekarang Dian sudah punya pacar. Dua minggu lalu ia baru jadian dengan Danu. Jadi Bima tidak akan berkata macam-macam lagi, pikir Dian. Dan sepertinya pemikiran itu ada benarnya, karena sedari tadi mereka bertemu pandang pun hanya saling mengangguk dan tersenyum tipis. Tanpa berkata apa-apa.
“Di, lo balik bareng gue?” tanya Ambar, membuyarkan lamunan Dian. Dian mengangguk. “Nebeng, ya? Danu lagi disuruh jemput saudaranya dari bandara.”
Ambar berdecak. “Udah punya cowok tapi masih aja gue ditebengin. Gue juga harus cari cowok nih, biar nggak bareng lo terus. Bosen!”
Dian tertawa kecil mendengarnya. “Sama temennya si Danu mau? Si Farrel lumayan tuh.”
Ambar langsung menggeleng “Sama aja, itu mainnya nanti sama lo lagi, sama Danu lagi. Tolong keluarkan gue dari lingkaran setan ini!”
Dian tertawa lagi. Ia baru mau akan menyahuti ucapan Ambar ketika seseorang memanggil Ambar, menanyakan bagaimana kelanjutan acara ini. Ambar memang divisi acara yang sedari tadi sibuk woro-wiri. Ambar pun beranjak pergi setelah mewanti-wanti Dian untuk menghubunginya nanti.
Setelah kepergian Ambar, Dian berjalan mendekati meja untuk mengambil minum. Namun tangannya yang terulur untuk meraih gelas bertabrakan dengan tangan lain. Dian refleks menarik tangannya dan meminta maaf.
Sorry,” ujar Dian seraya mengangkat kepalanya, melihat siapa pemilik tangan itu. Ternyata Bima, yang sama kagetnya dengan Dian. Cowok itu juga sudah menarik tangannya, mengusap-usap kepalanya yang tidak gatal. “Gue juga sorry. Silakan lo duluan.”
Dian tersenyum kikuk, lalu mengambil segelas air dari atas meja. Bima kemudian mengambil segelas juga, lalu berbicara tanpa menatap Dian. “Katanya lo udah punya cowok?”
“Iya,” sahut Dian pendek, sudah memperkirakan kalau Bima akan menanyakan hal ini. Keduanya lalu terdiam, tidak ada yang berbicara. Dian sudah berpikir akan pergi dari situ ketika Bima berbicara lagi.
“Selamat. Semoga langgeng.”
Dian terpengarah. Memastikan kalau ia tidak salah dengar atau berhalusinasi. Tidak, bukan ini yang ia harapkan keluar dari mulut Bima. Tapi Bima tidak mengatakan apa-apa lagi, beranjak pergi meninggalkan Dian yang masih menatapnya tak percaya.
Namun baru beberapa langkah, Bima berbalik. Berjalan menghampiri Dian lagi dan berhenti tepat di hadapannya. Lalu berkata lugas pada gadis itu. “Sorry. Gue tarik omongan gue tadi.”
Dian tertegun. Cowok ini… cowok ini kenapa selalu…
“Gue tarik omongan gue tadi,” ulang Bima. Cowok itu lalu melanjutkan dengan nada getir. “Karena bohong itu dosa, kan?”
…bikin gue bertanya-tanya…
“Gue emang nggak pernah ngedoain yang buruk-buruk buat lo,” Bima menjeda ucapannya. Menatap Dian lamat-lamat.
...bikin gue berharap…
Bima menghela nafas sebelum melanjutkan lagi. “Tapi saat ini gue juga nggak bisa dengan tulus berdoa supaya lo bahagia sama cowok lo.”
...bikin gue seneng tapi sedih sekaligus…
Tangan Bima terangkat, menepuk bahu Dian pelan. “Hati-hati nanti pulangnya. Jangan terlalu malem. Nggak baik cewek pulang malem-malem,” ucap Bima, mengulas senyum tipis.
Dian tidak menyahut, hanya meremas gelas di genggamannya erat-erat. Bima tersenyum sekali lagi sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan Dian. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Bima tidak kembali lagi.
Dan Dian masih tidak berkata apa-apa. Hanya terdiam sambil terus menatap punggung Bima yang semakin mengecil.
***
September, 2016.
Dian membolak-balikkan isi notes kecil di tangannya. Kebanyakan catatan yang ia tulis ketika OSPEK. Materi dari pembicara, tugas kelompok, yel-yel kelompok, corat-coret ketika mengantuk, barang-barang yang harus disiapkan selama OSPEK. Dan sebuah foto.
Dalam foto itu, tampak fotonya bersama semua anggota kelompok OSPEK-nya. Dian berdiri di sebelah Bima, keduanya tersenyum lebar. Anggota kelompok yang lain juga tersenyum lebar, melupakan fakta bahwa mereka sedang memakai berbagai atribut yang memalukan.
Dian tersenyum. Tangannya meraba foto itu perlahan.
Tiga bulan setelah acara angkatan itu, Dian putus dari Danu. Dian mengeluarkan berbagai alasan seperti mereka berdua tidak cocok, ia sudah mulai sibuk dengan pelajaran kuliah dan organisasi, Danu juga semakin sibuk dengan kegiatannya, dan lain sebagainya. Tapi alasan sebenarnya adalah, Dian memang tidak pernah menyukai Danu.
Ambar benar. Cowok memang banyak, tapi hati selalu tahu kemana ia berlabuh.
Dan soal Bima, Dian tidak banyak mendengar kabar tentangnya lagi. Dian pernah mendengar selentingan berita bahwa Bima sudah putus dari Bella, tidak lama setelah acara angkatan itu. Namun entah benar atau tidak, Dian sendiri tidak pernah melakukan kroscek terhadap berita itu. Dian hampir tidak pernah bertemu Bima lagi, karena cowok itu tidak muncul di kantin Manajemen seperti biasanya. Dan Dian juga memang tidak lagi sengaja mencari-cari cara supaya bertemu dengannya.
Terakhir mereka bertemu adalah ketika wisuda, dan mereka hanya berbicara untuk saling memberi selamat. Tidak ada pembicaraan lain lagi. Tidak ada pertemuan lagi.
Tapi sosok Bima masih terekam jelas dalam benak Dian.
Tentu saja. Bima adalah bagian dari rangkaian kisah hidupnya. Yang memang tidak harus ada di sisinya, tapi tetap tersimpan rapi dalam kenangan.
“Dian, tadi orang salon telepon. Katanya kapan mau fitting kebayanya? Bareng sama fitting jas Raka sekalian!” seru Ibu yang sudah ada di ambang pintu. “Ya ampun, kenapa malah bengong bukannya beres-beres? Duh Dian, Ibu takut Raka nggak keurus nanti sama kamu!”
Dian tersenyum mendengar ucapan ibunya. Ia meletakkan lagi foto itu diantara lembaran kertas notes, lalu menaruh notes itu di dalam kardus. Sambil bangkit dan mengangkat kardus itu, Dian menyahuti ucapan ibunya. “Ya enggak lah, Bu. Kalo udah nikah masa aku masih begini?”
Ibu terus menyerocos mengenai sifat-sifat buruk Dian lainnya, takut masih terbawa sampai punya anak. Dian hanya mengangguk-angguk, berjalan ke arah gudang untuk meletakkan kardus. Menuruti perintah ibunya untuk membuang barang yang sudah tidak terpakai.

We were never madly in love with each other.
I never understood you, and you never understood me.
We always missed each other’s cue.
-No Eul, Uncontrollably Fond-


-End-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar