Selasa, 22 Desember 2015

UFO Man Part 9

mian baru diposting lagi. semoga masih betah bacain FF ini :D
dan kayaknya untuk part terakhir ada di part depan. gomawoyo dan happy reading~
____________________________________________________

main cast: Park Bom & Choi Seunghyun
other      : find it by yourself :) tokoh mungkin bertambah tiap partnya

cerita ini muri fiktif belaka dengan tokohnya saya pinjem para idol~ kalau ada kesamaan nama, alur, dan lokasi; cuma kebetulan yang tidak disengaja :D

and don't do plagiarize. mari hargai karya orang lain :)


“Aku ingin kau tahu lebih banyak tentangku.”

Bom terpengarah mendengar kalimat itu. Ia menatap Seunghyun, yang tampak serius.

Keadaan hening, tidak ada diantara mereka berdua yang bersuara. Seunghyun tampak menunggu tanggapan Bom, sedangkan Bom tidak tahu harus berkata apa. Bom akhirnya berdehem.

“Mmm, baiklah,” ucap Bom akhirnya. Ia lalu merasa bodoh, baiklah apa?

“Dan besok, tetaplah datang ke sanggar,” ujar Bom cepat, sebelum Seunghyun menyahuti ucapannya yang terasa aneh tadi. Dilihatnya Seunghyun tidak berkata apa-apa, tampak heran. “Aku tidak akan menghindarimu. Jadi tetaplah datang kesana kalau kau ingin,” sambung Bom, lalu terkejut dengan kata-katanya sendiri. Mengapa aku seperti meminta pria itu datang?

“Maksudku, aku bukan pemilik tunggal sanggar itu. Aku tidak bisa membuat orang tidak datang kesana,” Bom cepat-cepat menambahkan ucapannya lagi, begitu melihat Seunghyun hendak berkata.

Seunghyun mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar. “Aku akan datang besok.”

Bom tersenyum canggung, tidak tahu harus merespon bagaimana. “Kalau begitu, aku pulang dulu,” ujar Bom sambil membereskan mejanya.

“Bagaimana kalau makan malam bersama?” ujar Seunghyun, yang belum beranjak dari hadapan Bom.

“Hah?” Bom mengangkat kepalanya, terkejut.

“Perkenalan-lebih-dalam mengenai diriku bisa dimulai dari sekarang. Kau kan juga sudah menyetujuinya tadi,” ujar Seunghyun.

Bom mengerutkan kening mendengar istilah yang diucapkan Seunghyun. “Yya, apa kau tidak bisa tidak membuat istilah aneh? Setelah unit penyelamatan, lalu sekarang perkenalan-lebih-dalam?” gerutu Bom.

Seunghyun tersenyum lebar. “Kau bicara banmal dan menggerutu lagi. Kau sudah kembali menjadi Park Bom!”

“Kau bahkan senang akan hal-hal seperti itu? Dasar pria UFO!”
***

“Kau sering kesini?” Bom melihat sekelilingnya begitu ia duduk di salah satu bangku restoran ramen ini.

Seunghyun duduk di hadapannya. “Sering. Jiyong yang pertama kali mengajakku kesini. Katanya restoran ramen ini paling enak di Korea. Ia selalu mengajakku dan yang lain makan disini saking menyukai tempat ini.”

“Geureu? Aku sudah dua tahun mengenal Jiyong, tapi ia tidak pernah mengajakku kesini,” sahut Bom. Ia mengambil daftar menu.

“Baguslah kalau begitu. Aku lebih senang dengan kenyataan aku yang mengajakmu kesini, bukan Jiyong atau yang lain,” ujar Seunghyun sambil tersenyum lebar.

Bom mengangkat wajahnya dari daftar menu. “Mwoya? Kau senang dengan hal-hal aneh lagi,” Ia lalu menyodorkan daftar menu itu ke Seunghyun. “Menu mana yang paling enak?”

“Aku paling sering makan nomor 3,” Seunghyun menunjuk gambar menu nomor 3. “Tapi selama ini aku penasaran dengan menu nomor 2. Sepertinya rasanya enak, kau lihat kan dari gambarnya? Bagaimana kalau kita memesan ini saja?”

“Andwae, aku pesan nomor 3 saja,” ujar Bom. “Yya, gambar menu memang selalu itu, selalu tampak enak. Namanya juga orang berjualan, itu kan strategi promosi mereka. Lagipula aku tidak pernah makan makanan yang bahkan teman yang mengajakku saja belum pernah memakannya. Aku tidak makan makanan asing,”

Seunghyun tidak bisa menahan senyumnya mendengar perkataan Bom. “Tapi semua makanan ini asing buatmu. Kau kan tidak pernah memakannya.”

“Tapi kan setidaknya kau sudah memakannya. Karena teman yang mengajakku sudah pernah memakannya, jadi ini tidak asing untukku,” sahut Bom. Namun ia melirik menu nomor 2 yang ditunjuk Seunghyun. “Kalau dipikir-pikir, nomor 2 sepertinya memang enak.”

“Bagaimana kalau begini, kau pesan nomor 3 dan aku pesan nomor 2. Kalau aku sudah pernah memakannya, itu tidak akan jadi makanan asing lagi kan untukmu?” ujar Seunghyun.

Bom mengangguk cepat. “Ide bagus! Chogiyo, Ajumma,” Bom memanggil pelayan dan memesan makanan mereka.

“Aku senang mendengar kau berbicara panjang lebar. Kau benar-benar telah kembali menjadi Park Bom,” ujar Seunghyun begitu ajumma pelayan itu pergi. Pria itu tersenyum lebar.

“Itu karena—“ Bom tidak jadi melanjutkan ucapannya. Ia hampir mengatakan “karena kau bilang ingin aku tahu lebih banyak tentangmu,” tanpa ia sadari. Bom mendesis dalam hati. Apa aku gila?

“Karena apa?” tanya Seunghyun menunggu kelanjutan ucapan Bom.

“Oh?” mata Bom berputar, bingung harus berkata apa.

Bersamaan dengan itu, pesanan mereka datang. “Ah, makanan kita sudah datang!” ujar Bom cepat, tidak mau membahas soal yang tadi. “Gamsa hamnida, Ajumma,” ucapnya pada ajumma yang mengantarkan makanannya, dan mencicipi ramen di depannya. “Wuah, ini enak!”

Seunghyun ikut mencicipi ramen miliknya. Ia mengangguk-angguk. “Kurasa nomor 2 ini memang enak.”

Bom mengangkat kepalanya. “Benarkah?”

Seunghyun mengangguk. “Kau mau coba?”Seunghyun mengambil piring kecil dan meletakkan beberapa sendok ramennya disitu. “Ini, cobalah.”

Bom mengambil piring itu dan memakannya. “Ini memang enak, tapi kurasa nomor 3 ini lebih enak,” ujarnya.

“Nomor 3 itu memang favorit disini,” ujar Seunghyun sambil meneruskan makannya.

“Ah benarkah? Pantas saja, memang sangat enak,” sahut Bom. “Kau sudah merasakan menu yang lain?”

“Hampir semuanya pernah. Wae?”

“Ani. Kalau begitu, makanan itu tidak asing lagi. Kurasa aku akan mencoba nomor 5 kalau datang lagi kesini, ini terlihat sangat enak. Kau sudah mencobanya kan?” tanya Bom sambil menunjuk daftar menu.

Seunghyun mengangguk.

Bom mengangguk-angguk sambil meneruskan makannya.

“Kau tidak bertanya enak atau tidak?” tanya Seunghyun. Bom mengangkat kepalanya. “Ah benar! Aku lupa. Jadi enak atau tidak?”

Seunghyun tertawa kecil. “Kau benar-benar tidak memakan makanan asing ya. Kau kan juga nanti akan memakannya, lalu mengapa bertanya sekarang?”

Bom mendengus kecil. “Kalau begitu mengapa kau juga mengingatkanku untuk bertanya tadi? Aku memang tidak suka makan makanan asing, tidak suka dengan hal-hal yang tidak familiar.”

“Wae? Berarti kau juga tidak suka dengan hal-hal baru?”

“Bisa dibilang begitu,” ujar Bom. Ia lalu seperti menyadari sesuatu. “Ani, mengapa kau jadi banyak bertanya? Bahkan hal kecil seperti itu saja kau tanyakan.”

Seunghyun tersenyum. “Itu menarik untukku, tidak seperti hal kecil,” ujarnya sambil kembali makan ramennya.

Bom mengambil gelas dan meminumnya. “Seunghyun-ssi, ada satu hal yang selalu membuatku heran. Kau tampak normal dari luar, sangat normal bahkan. Tapi mengapa ketika kau mulai bicara, kau membicarakan hal-hal aneh?”

Seunghyun menatap Bom, agak kaget. Bom mengusap-usap kepalanya yang tidak gatal. “Kurasa sekarang aku jadi tertular mengatakan apa yang aku pikirkan semauku.”

Seunghyun tersenyum kecil. “Karena hal seperti itu menular. Ketika kau sering bersama orang yang berkata terang-terangan sepertiku, kau akan tertular juga. Aku begini karena orangtuaku persis seperti ini.”

Bom terdiam. Menyimak ucapan Seunghyun.

“Sebenarnya, perbedaannya adalah orang sepertiku mengatakannya disaat orang-orang lain memilih untuk tidak mengatakannya. Hal-hal yang kukatakan sebenarnya terpikirkan juga di benak orang lain, tapi mereka memilih untuk tidak mengatakannya. Sedangkan aku memilih untuk mengatakannya, karena terbiasa begitu.”

Bom mengangguk-angguk. “Benar juga. Kau mengatakan hal-hal yang orang lain tahan sebatas di pikiran saja.”

“Aku sering mendapat masalah juga karena sifatku yang seperti ini. Apalagi ketika masih sekolah, teman-temanku menganggap aku orang yang sombong karena selalu berkata terus terang dan berpola pikir yang lurus, kurang fleksibel. Permasalahan dengan Jessica salah satunya,” sambung Seunghyun.

“Tapi kurasa hal itu tidak terlalu buruk juga. Aku terkadang ingin juga bisa berkata terus terang sepertimu,” sahut Bom. “Karena yang kau katakan memang benar, hanya perlu diatur kapan dikatakannya dan bagaimana mengatakannya.”

Seunghyun menatap Bom. “Itu yang aku pelajari darimu.”

“Mwo?” Bom kaget. “Aku? Wae?”

“Aku selama ini tidak terlalu menganggap kalau sifatku yang itu salah, meskipun sering membuatku mendapat masalah dengan orang-orang. Tapi ketika mendengar apa yang kau ucapkan ketika bermasalah dengan Jessica waktu itu, aku merasa kau benar. Memang harus ada yang dirubah dari diriku,” ujar Seunghyun. Ia masih menatap Bom lekat. “Kurasa, kau mengubahku menjadi lebih baik. Terima kasih, Bom-ah.”

Wajah Bom memerah mendengar ucapan Seunghyun, ditambah dengan tatapan lurus pria itu padanya. Ditambah lagi, ia memanggilku Bom-ah untuk yang pertama kalinya. Bom kaget sendiri dengan pikiran yang melintas di benaknya. Ah, kurasa aku sudah gila!

Bom berdehem. “Kau mengatakan hal yang kau mau lagi.”

Seunghyun tersenyum. “Kurasa kau sudah terbiasa dengan itu.”

“Terbiasa apanya,” gerutu Bom, mencoba mengalihkan perhatian Seunghyun supaya pria itu tidak menyadari wajahnya yang masih memerah. Bom meraih sendoknya. “Ah, kurasa ramen ini sudah keburu dingin.”
***

Bom melangkahkan kakinya memasuki apartemen Seunghyun, mengekor langkah Seunghyun yang sudah ada di depannya. Mulanya ia agak was-was juga memasuki apartemen seorang pria dewasa berdua saja. Tapi melihat raut wajah Seunghyun yang lurus-lurus saja, seperti biasa, perasaan was-was itu hilang. Lagipula untuk pria yang selalu mengatakan apa yang ada di pikirannya, Seunghyun bukan tipe yang akan melakukan macam-macam. Ia hanya akan melakukan apa yang sudah dia katakan sebelumnya.

“Aku ingin kau melihat tempat tinggalku. Seperti aku sudah melihat tempat tinggalmu. Aku sudah bilang ingin kau mengenalku lebih dalam, kan?”

Bom mendengus dalam hati mengingat ucapan Seunghyun tadi ketika di sanggar. Ani, mengapa pria itu harus terus-terusan berkata soal mengenal lebih dalam? Toh Bom juga sudah tahu. Justru mengatakannya lagi membuatnya wajahnya memerah lagi, tanpa sadar.

Omo, micheoseo, micheoseo! Sepertinya aku benar-benar sudah mulai gila! Rutuk Bom dalam hati.

“Wae?” tanya Seunghyun heran melihat Bom memukul kepalanya sendiri.

Bom menggeleng cepat dan tersenyum. “Ani,” ujarnya. Bom lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen Seunghyun. Tidak terlalu luas, tapi rapi dan nyaman. “Apartemenmu rapi. Kau suka bersih-bersih?”

“Aku hanya tidak terlalu suka menaruh segala sesuatunya sembarangan, jadi tidak banyak yang perlu dibereskan,” sahut Seunghyun. Bom mengangguk-angguk. “Benar juga.”

“Aku ambil minuman dulu. Kau jangan sungkan, anggap saja rumahmu sendiri,” Seunghyun melangkah ke dapur, sementara Bom mengangguk-angguk. Gadis itu sedang melihat-lihat foto yang dipajang di ruang tamu Seunghyun.

Bom tersenyum melihat foto Seunghyun kecil digendong ibu dan ayahnya. “Kyeopta,” ujarnya. Bom lalu melihat foto lain. Foto-foto ketika Seunghyun sekolah sampai sekarang.

“Apa yang kau lihat?” tanya Seunghyun, yang datang dengan nampan ditangannya. Ia meletakkan nampan itu diatas meja.

“Fotomu,” Bom menunjuk foto-foto yang dipajang di dinding. “Mengapa kau memajang semuanya disini? Biasanya orang menaruhnya di album.”

“Supaya rumahku tidak terlalu terasa sepi. Kalau melihat foto-foto itu, aku tidak merasa sendiri disini,” ujar Seunghyun.

Bom terdiam sesaat mendengar ucapan Seunghyun.

“Jangan berdiri saja disitu. Minumlah dulu,” ucap Seunghyun. Bom tersadar, lalu berjalan mendekati sofa dan duduk. Ia meraih gelas di meja dan meminum isinya. “Gomawo,” ujarnya.

“Kau tidak tinggal bersama orangtuamu? Kau bilang kau asli Seoul,” ujar Bom.

Seunghyun menggeleng. “Aku pindah ke apartemen ini supaya lebih dekat dengan kantor. Rumah orangtuaku berada di distrik yang lumayan jauh dari sini. Seminggu atau dua minggu sekali aku pulang kesana.”

Bom mengangguk-angguk.

“Ayahku memiliki bisnis yang dirintisnya sejak aku masih kecil, jadi ia juga enggan pindah dari rumah. Bersama ibuku, mereka masih tetap mengelola bisnis itu sampai sekarang. Padahal kurasa mereka sudah cukup tua untuk  berbisnis.”

“Mengapa kau tidak mengurusi bisnis ayahmu saja? Daripada susah-susah bekerja di perusahaan,” sahut Bom.

“Aku bosan dengan bisnis transportasi ayahku. Aku sudah mengenal hal itu dan masuk di dalamnya sejak kecil, karena itu aku ingin mencoba-coba hal yang baru,” ujar Seunghyun. “Lagipula masih ada adikku yang bisa mengurusinya. Sekarang saja adikku itu sudah mulai mengurusi hal-hal penting di bisnis ayah.”

Bom mengangguk-angguk. Tadi ia memang melihat foto Seunghyun sekeluarga, dengan adik laki-lakinya juga.

“Tapi setidaknya kau memiliki kemampuan bisnis yang bagus. Meskipun ada sesuatu dengan perusahaan, kau bisa tetap mengurusi bisnis ayahmu,” ujar Bom. “Aku tahu di luar sana ada orang-orang yang sangat suka berbisnis, tapi merasakan mengenal salah satu dari mereka mengejutkan juga. Kupikir orang-orang seperti itu sangat jauh dari kehidupanku.”

“Wae? Kau tidak suka bisnis?”

“Ani, bukan berarti aku tidak suka. Aku suka mendapatkan uang tapi aku tidak begitu paham soal seluk beluk bisnis. Kurasa aku memang tidak cocok berbisnis,” ujar Bom.

“Lalu, apa yang kau inginkan?”

“Tinggal di pedesaan yang tenang dan indah,” sahut Bom. “Terdengar konyol, ya?”

“Ani. Aku juga sering memikirkannya,” ucap Seunghyun. “Kurasa hal itu bagus dilakukan sesekali. Berlibur ke pedesaan.”

“Benarkan? Kau juga berpikir seperti itu, kan? Ah, aku benar-benar harus mengambil liburan beberapa hari,” sahut Bom. “Geundeu Seunghyun-ssi, kalau dipikir-pikir kehidupanmu seperti sangat sempurna. Apa kau tidak punya kekurangan?”

“Mwo? Apa terlihat begitu?” tanya Seunghyun heran.

Bom mengangguk. “Kau memiliki pekerjaan yang bagus. Kau memiliki keluarga yang baik. Kau memiliki pendirian yang kuat dan keterampilan bisnis yang bagus. Kau juga bahkan bisa melakukan hal yang kau sukai, seperti tetap berbisnis dan bermusik rap atau beatbox itu,” Bom menghitungnya dengan jari.

Seunghyun tersenyum menatap Bom. “Yya, kurasa kau mulai mengagumiku.”

“Mwo?! Ani, bukan itu!” sahut Bom cepat. Ia lalu seperti tersadar sesuatu. “Ani, memang tidak ada sesuatu yang sempurna. Kau selalu mengatakan apapun yang kau mau, itu masalahmu. Perbaiki hal itu!”

“Wae? Kau bilang kau juga sesekali ingin bisa sepertiku,” ujar Seunghyun, masih tersenyum.

“Yya, itu hanya sesekali! Tetap saja harus ada batasan apa yang bisa dikatakan dan tidak!” sahut Bom galak. “Tidak semua orang bisa menerima sifatmu yang seperti itu, tahu!”

Seunghyun tertawa. “Arra. Tapi setidaknya kau bisa menerimanya,” sahut Seunghyun.

“Apa aku—“ Bom tidak melanjutkan ucapannya. “Yya, aku hanya bisa menyesuaikan diri denganmu. Itu saja.”

“Itu sudah berarti baik untukku,” ucap Seunghyun. “Kau tahu, ketika aku bilang kalau sifatku ini menimbulkan masalah, itu benar-benar masalah. Sekarang mungkin aku sudah dewasa dan bisa menahan apa yang dilakukan orang lain, tapi ketika aku lebih muda dulu itu terasa sulit.”

Bom terdiam. Tidak menyangka seorang Seunghyun yang tampak tidak peduli dengan perkataan orang lain itu pernah merasakan hal seperti itu juga.

“Di satu sisi, aku merasa sulit menjalaninya karena orang-orang mencibir padaku dan tidak mau berteman denganku. Tapi di sisi lain, aku juga tidak bisa merubah sifatku yang kurasa tidak salah itu. Maksudku, setiap orang punya sifat masing-masing yang mungkin berbeda dari yang lain, kan? Kurasa aku hanya berbeda, namun orang-orang tidak dapat menerima perbedaan itu dan menganggapnya sebagai hal yang salah,” Seunghyun menghela nafas. “Mereka tidak menerimaku dan menganggapku bukan bagian dari kehidupan mereka.”

“Tetap saja, kau menjalani semuanya. Banyak orang yang mengalami hal berat sepertimu dan mereka menyerah. Kau tetap menjalaninya,” ucap Bom, tersenyum. “Kau bahkan sudah memiliki pendirian yang kuat sejak kecil. Itu tidak mudah, tahu.”

Seunghyun ikut tersenyum. “Aku harus banyak bersyukur karena memiliki keluarga yang terus mendukungku. Ah, dulu bisnis ayahku juga tidak lancar, jadi kami pernah memiliki kesulitan keuangan. Semakin sedikitlah orang yang mau bergaul denganku. Lalu, aku bertemu dengan Jiyong dan  Taeyang di SMA, merekalah teman-teman pertamaku.”

“Lagipula ketika aku semakin besar, aku sudah jauh lebih bisa mengatasi semua itu. Aku bertemu dengan orang-orang yang lebih baik di dunia yang luas ini, salah satunya dengan teman-teman di sanggar. Dan juga, bertemu denganmu. Aku sangat bersyukur untuk itu.”

“Wae?” tanya Bom heran.

“Aku juga tidak tahu mengapa tapi hanya saja aku merasa kalau kau orang baik, dari pertama kali melihatmu di halte bus itu,” ujar Seunghyun. “Dan termasuk orang yang dapat menerima sifatku ini.”

Bom terdiam. Sesange, mengapa ia mengatakan hal-hal seperti itu lagi? Bom merasa pipinya mulai panas. Pasti pipinya sudah memerah sekarang.

“Tentu saja aku orang yang baik, kau memang mempunyai penglihatan yang bagus!” sahut Bom cepat, berusaha menutupi salah tingkah dan pipi merahnya itu. “Dan sebenarnya, aku masih suka heran dengan sifatmu yang aneh itu. Kurasa kau memang benar-benar pria UFO!”

Seunghyun tersenyum. “Tetap saja, kau sudah terbiasa dengan itu. Dan kau tidak memperlakukanku dengan buruk seperti orang-orang itu dulu.”

“Yya, untuk apa diingat orang-orang seperti itu? Kalau mereka tahu kau baru saja menyelamatkan sebuah perusahaan yang hampir bangkrut, mereka akan mengantri untuk memintamu ke perusahaan mereka!” ujar Bom.

Seunghyun tertawa kecil mendengarnya.

Tiba-tiba, ponsel Bom berbunyi. Bom melihat layarnya sekilas lalu mengangkatnya. “Oh, Hyun Woo Oppa.”

Seunghyun terdiam mendengar Bom berbicara di teleponnya. Ji Hyun Woo?

“Aku sedang di rumah teman. Ani, bukan Dara. Ani,” Bom menggerutu mendengar ucapan Hyun Woo di seberang sana. “Oppa, dengarkan aku dulu.”

Bom lalu melirik Seunghyun, memberikan isyarat kalau ia akan menerima telepon sebentar. Bom lalu bangkit dari tempat duduk dan menjauh.

Seunghyun memandangi Bom lekat. Ia lalu menghela nafas.
***

“Jadi, kau menghabiskan malam minggu yang romantis kemarin dengan Kepala Tim? Apa saja yang kalian lakukan? Candle-light dinner?” berondong Dara begitu Bom duduk di kursinya.

“Yya, Park Sandara. Aku bahkan belum lima menit sampai di kantor dan kau sudah berkata hal-hal aneh pagi-pagi begini?” sahut Bom. Ia meletakkan tasnya di atas meja.

“Habis kau tidak membalas chatku dengan benar sejak kemarin-kemarin. Aku kan sudah bertanya sejak sepulang dari sanggar,” ujar Dara.

“Memangnya aku harus jawab apa? Memang tidak ada hal-hal yang seperti kau tanyakan itu. Tidak ada hal romantis, atau candle-light dinner.”

“Lalu apa namanya kalau seorang pria mengajak wanita ke tempat tinggalnya? Solma, kalian…,” Dara menatap Bom penuh selidik.

“Yya, jangan berpikir yang tidak-tidak! Tidak terjadi apapun seperti yang di pikiranmu!” sahut Bom galak.

“Mwoya? Memangnya kau tahu apa yang di pikiranku?”

“Apapun itu, pokoknya aku tahu pasti tidak ada yang sesuai dengan yang terjadi!”

Dara cemberut. “Lalu yang kemarin itu apa yang kalian lakukan?”

Bom terdiam sejenak. Berpikir. “Mmm… perkenalan.”

“Mwo?” mata Dara membesar.

“Perkenalan-lebih-dalam,” sahut Bom, meniru istilah Seunghyun.

“Mwoya? Kau pikir kita anak sekolah? Perkenalan?! Memangnya kalian anak baru atau apa?!” seru Dara panjang lebar. “Yya, berapa umurmu? Kenapa tidak bilang saja kalau kalian berkencan?!”

“Yya, pelankan suaramu! Kita di kantor!” Bom melotot. Untungnya yang lain belum datang. “Lagipula apa setiap pria dan wanita pergi bersama itu kencan? Kau saja makan malam dengan Jiyong tidak mau disebut kencan!” gerutu Bom.

“Ani, kalau itu…,” Dara jadi kehabisan kata-kata.

Tiba-tiba Bom melihat brosur restoran ramen yang didatanginya dengan Seunghyun beberapa hari yang lalu di meja Dara. “Kau juga pernah kesitu?” Bom menunjuk brosur itu.

“Apa?” Dara mengikuti arah telunjuk Bom. “Ooh, itu. Yang aku bilang makan malam dengan Jiyong, itu ke tempat ini,” Dara memberikan brosur itu pada Bom.

Bom mengamatinya. Memang benar restoran yang waktu itu. “Jiyong mengajakmu kesini? Mwoya, dia bahkan tidak pernah mengajakku yang sudah berteman dua tahun dengannya, tapi mengajakmu?”

“Mwo? Apa maksudnya?” tanya Dara tidak mengerti.

Bom menatap Dara penuh selidik. “Park Sandara, sekarang kau yang harus menjawabku dengan jujur. Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Jiyong? Seunghyun bilang Jiyong pasti mengajak orang-orang untuk ke restoran itu karena sangat menyukainya. Tapi kenyataan bahwa ia tidak pernah mengajakku dan yang lain ke tempat itu, dan telah mengajakmu kesana; pasti ada sesuatu yang khusus. Apa itu?”

“Mwo? Memang hanya aku?” tanya Dara, agak terbata.

Bom mengangguk. “Kemarin di sanggar aku bertanya pada Chaerin dan Minji apakah pernah ke tempat ini, dan mereka bilang belum pernah. Hanya Seungri, Daesung, Taeyang, dan Seunghyun yang pernah diajak kesana. Apakah itu berarti kau termasuk istimewa?”

“Geureu?” Dara memaksakan senyuman. “Tapi, bagaimana kau bisa tahu restoran ini?” tanya Dara heran.

“Yya, jangan mengalihkan pembicaraan! Nanti aku beritahu, sekarang kau harus menceritakan bagaimana hubungan kau dengan Jiyong dulu.”

“Baiklah,” Dara menghela nafas. “Bommie-ah, kurasa aku menyukainya.”

“MWO?! Apa kau bilang?!” pekik Bom kaget. Soo Hyun dan Chansung yang baru memasuki kantor ikut kaget mendengar pekikan Bom. “Apa, ada apa?!”

Dara segera menggeleng. “Aniyo. Tidak ada apa-apa. Sungguh,” Dara lalu melotot pada Bom. “Yya, jangan keras-keras!”

“Ani, aku hanya—apa tadi kau bilang?” Bom masih tidak percaya.

“Yya, aku juga tidak percaya sebenarnya. Tapi semuanya terjadi begitu saja,” ujar Dara malu-malu. Bom melongo melihatnya, baru pertama kali melihat temannya seperti ini.

“Lalu? Kalian sudah resmi pacaran?”

“Ani. Kami masih berteman. Kemarin, Jiyong bertemu dengan Appa.”

“MW—“ Dara langsung menutup mulut Bom yang akan berteriak lagi. “Yya, sudah kubilang jangan keras-keras!”

Mata Bom membesar. “Benarkah? Kwon Jiyong? Bagaimana bisa? Apa yang ia katakan pada ayahmu?”

“Jiyong bertemu beberapa bodyguard suruhan Appa. Kau ingat ketika aku membatalkan makan malam di rumahmu? Ternyata Appa melihatku bersama Jiyong. Appa kan orangnya cepat curiga, jadi aku sempat dilarang kemana-mana, termasuk ke rumahmu. Lalu beberapa hari yang lalu, Jiyong bertemu dengan suruhan Appa itu ketika sedang bersamaku. Ia kaget melihat mereka,” ujar Dara. “Tapi ketika aku menceritakan siapa diriku, ia malah tidak kaget. Ia lalu meminta bertemu dengan Appa. Katanya, ia harus berbicara dengan sopan dengan Appa untuk dapat terus berteman denganku.”

“Lalu? Apa yang ia katakan di depan ayahmu?” tanya Bom, tidak sabar.

“Aku meminta izin untuk mengenal putrimu lebih dekat, Ajussi. Meski aku tidak tahu bagaimana nantinya hubungan kami, tapi aku senang berteman dengannya sejak awal. Kuharap kau bisa memberi izinmu, Ajussi.”

“Mwo? Dia bilang begitu?” mata Bom membesar. Ia lalu menepuk-nepuk bahu Dara. “Ia menyukaimu, Dara-ya. Aku yakin itu. Dan kuakui, Jiyong sangat keren!”

“Yya, mengapa kau menyimpulkan seperti itu? Kami belum sampai tahap seperti itu, ia bahkan masih bilang berteman,” sanggah Dara, tapi dengan wajah tersipu.

“Ani, aku yakin sekali Jiyong menyukaimu. Yya, meski aku tahu ia suka bertingkah seperti playboy, sebenarnya ia pria yang baik. Seperti yang dikatakannya, ia memang hanya punya banyak teman, termasuk teman wanita. Tapi baru kali ini aku melihatnya begini, ia tampak serius,” ujar Bom. “Yya, kau harus banyak berterima kasih padaku! Secara tidak langsung, aku yang membuat kalian berdua kenal.”

Dara tersenyum lebar. “Arraso! Jeongmal gomawo, teman terbaikku!” Dara memeluk Bom erat. Bom tertawa kecil, sambil menepuk-nepuk bahu Dara.

“Mwoya, apa yang kalian lakukan? Apa ada perayaan?” tanya Yoona yang sudah ada di samping meja mereka. Dara dan Bom cengengesan.

“Yya, apa ada berita bahagia? Kalian harusnya membaginya pada kami,” sahut Yuri, yang juga sudah datang. Ternyata pegawai yang lain sudah datang juga.

“Bom-ssi?”

Bom menoleh. Dilihatnya Seunghyun memanggilnya dari mejanya. “Ne?”

“Bisa kau berikan padaku berkas-berkas mengenai kerjasama dengan Yang Myeong?” ucap Seunghyun.

Bom mengangguk, lalu mencari berkas itu di mejanya. Sementara itu Dara, Yuri, dan Yoona berpandangan penuh arti. Bom menyadari itu.

“Yya, jangan memikirkan yang aneh-aneh!” serunya pelan pada mereka bertiga, lalu bangkit dan berjalan menuju meja Seunghyun.

“Apa ini sudah lengkap? Kurasa aku bisa mencarinya lagi di tempat Manajer Kang,” ujar Bom pada Seunghyun. Seunghyun menerima berkas itu dan melihatnya.

“Kalau masih ada, bawa saja kesini. Lebih banyak data lebih bagus,” ujar Seunghyun.

Bom mengangguk. Dan ponselnya berbunyi. Bom mengambil ponsel dari sakunya, dan melihat layarnya sekilas.

“Kalau begitu aku akan mengambilnya sekarang,” ucapnya pada Seunghyun. Bom lalu berbalik badan dan mengangkat teleponnya. “Oh, Oppa.”

Seunghyun mengerutkan kening. Ji Hyun Woo? Lagi?
***

Bom memainkan ponselnya. Ia kini sedang berada di kafetaria kantor, bersama Seunghyun. Mereka berdua memang habis mengurus berkas-berkas kerjasama dengan Yang Myeong, dan baru makan siang sekarang sementara rekan yang lain sudah dari tadi.

“Bommie-ah, kudengar Kepala Tim akan dipindahkan ke bagian lain. Kau sudah dengar?” tanya Yuri ketika mereka berada di kamar mandi.

Bom mengerutkan kening. Ia menggeleng.

“Benarkah? Padahal kukira ia memberitahumu. Bukankah kalian semakin dekat akhir-akhir ini?” tanya Yuri heran.

“Aniya, tidak seperti itu,” sahut Bom cepat.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Yoona, yang baru keluar dari toilet.

“Mwo?”

“Yya, jangan bilang kau tidak akan melakukan apapun?” seru Yoona.

“Memangnya aku harus apa? Kurasa dengan kemampuannya yang seperti itu, wajar saja kalau ia dipindahkan ke posisi yang lebih tinggi,” sahut Bom.

“Aigoo, gadis ini sungguh tidak peka. Yya, kau tahu Kepala Tim akan dipindahkan kemana? Ke Direksi! Bukankah itu hal yang sangat hebat?” ujar Yuri.

Mata Bom membesar. “Benarkah?”

“Daebak! Apa itu benar?” Dara yang baru keluar dari toilet, ikut nimbrung.

Yuri dan Yoona mengangguk. “Kami mendapatkan info ini dari sumber terpercaya. Untuk orang yang baru masuk ke perusahaan ini sekitar dua bulan, bukankah ini sangat hebat? Lalu kau bilang tidak akan melakukan apa-apa?” Yoona geleng-geleng kepala.

“Yya, lalu aku harus apa?”

“Bommie-aaah, setidaknya kau harus mengucapkan selamat padanya! Ia telah melakukan hal yang hebat, masa kau diam saja?” kini giliran Dara yang bicara.

“Ada apa?” tanya Seunghyun. Ia habis menerima telepon dari pihak Yang Myeong tadi.

Bom menggeleng cepat. “Ani. Kau sudah memesan?”

“Belum. Kau mau makan apa?” tanya Seunghyun.

“Apa saja. Aku tidak begitu ingin memakan sesuatu yang khusus kali ini,” ujar Bom.

Seunghyun membuka-buka buku menu. “Tidak ada makanan asing di tempat ini, kan? Jadi aku bisa memesankan apa saja untukmu.”

Bom tertawa kecil. “Pesankan saja yang sama denganmu.”

Seunghyun memanggil pelayan, lalu memesan dua sup iga pada pelayan.

“Chogi,” Bom dan Seunghyun mengucapkan kata yang sama berbarengan. Mereka lalu tertawa kecil.

“Kau saja duluan,” ujar Seunghyun.

Bom tersenyum. Ia mengulurkan tangannya. “Chukkae! Kudengar kau dipindahkan ke Direksi.”

Seunghyun menyambut uluran tangan Bom. Dia ikut tersenyum. “Bagaimana kau tahu?”

“Yang lain memberitahukannya padaku. Yya, Choi Seunghyun! Kau benar-benar melakukan hal yang hebat! Kurasa sebentar lagi akan banyak orang yang akan memohon padamu untuk pindah ke perusahaan mereka.”

“Yya, jangan berlebihan,” sahut Seunghyun. Bom tersenyum lebar. Ia lalu seperti teringat sesuatu. “Ah ya! Awas saja kalau nanti kau sudah di Direksi dan sombong padaku, kau akan merasakan akibatnya!”

Seunghyun tertawa kecil. “Aniya. Aku tidak mungkin begitu.”

Bom mengangkat bahu. “Siapa tahu saja. Ah, apa yang ingin kau katakan tadi?”

“Aku sebenarnya ingin bertanya sesuatu,” ujar Seunghyun. Tawanya terhenti.

“Wae? Apa ada masalah?” tanya Bom, agak khawatir melihat wajah serius Seunghyun.


“Kalau saja,” Seunghyun menghentikan ucapannya sejenak. “Kalau saja kau bertemu lebih dulu denganku dari pada dengan Hyun Woo-ssi, apa kau akan melihatku?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar