Selasa, 22 Desember 2015

UFO Man Part 8

main cast: Park Bom & Choi Seunghyun
other      : find it by yourself :) tokoh mungkin bertambah tiap partnya

cerita ini muri fiktif belaka dengan tokohnya saya pinjem para idol~ kalau ada kesamaan nama, alur, dan lokasi; cuma kebetulan yang tidak disengaja :D

and don't do plagiarize. mari hargai karya orang lain :)
_______________________________________________________


Bom menghela nafas.

Beberapa saat kemudian, Seunghyun menutup teleponnya. Ia lalu menoleh pada Bom. “Jessica mengingatkan untuk pertemuan besok di Daehan. Jangan lupa siapkan semua materi presentasi kita.”

“Kau bahkan membicarakan pekerjaan di hari libur,” Bom berlagak mengeluh. “Seharusnya aku tidak datang kesini kalau tahu akan bertemu denganmu dan membicarakan pekerjaan.”

Seunghyun tertawa kecil. “Meskipun kau tidak datang, aku akan tetap memberitahu hal itu. Entah itu menelpon, atau datang langsung ke rumahmu.”

“Yya! Ke rumahku? Apa kau tidak berlebihan?”

“Memangnya kenapa? Ibumu menyuruhku untuk sering-sering datang, dan kau bilang ayahmu pun tampaknya menyukaiku. Lalu apa masalahnya?”

“Ckck, kau mendengarkan ucapan orangtua dengan baik. Kalau ibuku menyuruhmu untuk terjun ke jurang, kurasa kau juga akan melakukannya,” sindir Bom.

“Tidak akan. Karena aku tahu ibumu tidak akan menyuruhku melakukan hal itu,” sahut Seunghyun enteng.

“Mwoya? Mengapa ibuku mudah jadi favorit anak orang lain?” gerutu Bom.

“Wae? Memangnya ada orang lain juga?”

“Hyun Woo Oppa. Ia berlagak seperti anak ibuku, dan sangat menyukainya. Sepertimu,” ujar Bom.

Seunghyun terdiam. Keningnya berkerut.

“Yya, kenapa malah diam?” Bom menyenggolnya.

“Kau,” ucapan Seunghyun terhenti sejenak. Seperti menimbang akan bertanya atau tidak. “Kau, sangat dekat dengan Hyun Woo-ssi?”

Bom mengangguk cepat. “Sudah kubilang, ia teman pertamaku di Seoul. Kau tahu, ia bahkan sering sarapan di rumah kami. Seperti anak ibu sungguhan saja.”

“Kalau begitu, aku akan berkunjung ke rumahmu hari ini!” seru Senghyun cepat.

“Wae?” tanya Bom heran.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin makan malam di rumahmu, apa tidak boleh?”

“Yya! Apa kau tidak punya uang untuk makan? Gajimu lebih besar dari gajiku!” sahut Bom kesal.

“Memangnya kenapa? Hyun Woo-ssi saja sarapan di rumahmu tidak apa-apa.”

Bom menepuk keningnya. “Kurasa rumahku akan jadi tempat penampungan orang lapar. Dara juga mau ke rumahku malam ini.”

“Dara juga?” tanya Seunghyun, agak kecewa.

Bom mengangguk. “Dara cukup sering ke rumahku. Kurasa selama ini hanya Dara temanku yang pernah berkunjung ke rumah, selain kau baru-baru ini.”

“Hyun Woo-ssi?”

“Yya, dia tidak masuk hitungan berkunjung! Kurasa ia bahkan sudah menganggap rumahku itu sebagai rumah sendiri.”

Seunghyun terdiam lagi.

Ponsel Bom berbunyi. Bom melihat layarnya sekilas, lalu mengangkat teleponnya. “Wae?”

“Bom-ah, kurasa aku tidak dapat ke rumahmu hari ini,” suara Dara dari seberang sana.

“Oh, apa terjadi sesuatu, Dara-ya?” tanya Bom khawatir.

Terdengar Dara tertawa kecil. “Ayahku. Kau tahu, kan?”

“Wae? Biasanya tidak masalah kalau ke rumahku,” sahut Bom.

“Aku juga tidak tahu. Tapi daripada ia mengirimkan anak buahnya menyusul ke rumahmu, lebih baik aku pulang sekarang,” ujar Dara.

Bom tersenyum. “Arraso. Lain kali aku akan meminta Eomma memasak kepiting kesukaanmu untuk mengganti kali ini.”

“Dara?” tanya Seunghyun ketika Bom menutup teleponnya.

Bom mengangguk. “Ia tidak bisa ikut ke rumahku hari ini.”

“Benarkah? Sayang sekali,” ujar Seunghyun, namun menahan senyumnya. “Kalau begitu, ayo pergi sekarang!” Seunghyun bangkit dari duduknya.

“Wae? Ini masih sore,” ujar Bom heran.

“Jalan akan macet. Ayo cepat bangun!” Seunghyun menarik tangan Bom.

“Ini hari minggu. Tidak akan macet!”
***

Ucapan Bom meleset. Ternyata hari itu sangat macet dan mereka baru sampai rumah Bom malam hari. Tepat disaat Ibu Bom sedang menyiapkan makanan untuk makan malam.

“Tidak ada yang bisa kau lihat di kamarku,” ujar Bom sambil membuka pintu kamarnya.

“Tidak mungkin tidak ada. Lagipula ibumu yang menyuruhku,” sahut Seunghyun enteng. Tadi Ibu Bom memang menyuruhnya duduk atau melihat-lihat dulu, dan kamar Bom termasuk dibolehkan untuk dilihat-lihat.

Seunghyun mengedarkan pandangan pada kamar Bom. Tidak terlalu besar, tapi rapi. Juga seperti kamar wanita pada umumnya, dengan ada meja rias di samping tempat tidur. Seunghyun melihat-lihat foto yang terpajang di dinding kamar Bom.

“Ini kau kecil?” Seunghyun menunjuk sebuah foto.

Bom mengangguk. “Aku sangat gemuk waktu kecil, kan?”

Seunghyun tersenyum. “Kyeopta. Kurasa aku akan mencubit pipimu kalau bertemu ketika kau kecil.”

“Jangan lakukan. Sudah banyak orang yang melakukannya, dan itu sakit,” gerutu Bom.

Seunghyun lalu melihat tumpukan buku-buku di meja belajar Bom. Seperti buku musik. Seunghyun membukanya perlahan.

“Yya, jangan sentuh itu!” Bom segera merebut buku-buku itu.

“Itu, lagu-lagumu yang dibicarakan oleh Dara waktu itu?” tanya Seunghyun.

“Kurasa masakan Eomma sudah matang. Ayo kita makan,” Bom mengalihkan pembicaraan.

“Kau juga punya gitar, tapi kenapa ditaruh di sudut ruangan? Aku bahkan hampir tidak melihatnya,” ujar Seunghyun seolah tidak mempedulikan ucapan Bom, menunjuk ke arah gitar yang memang berada di sudut ruangan dekat lemari pakaian.

Bom menghela nafas. “Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?”

“Kau mempunyai bakat yang begitu besar, tapi mengapa kau seolah menyembunyikannya? Tidak mau orang tahu lagu buatanmu, mengajar di sanggar kecil. Kurasa kau bisa mencapai yang lebih besar dari itu,” ujar Seunghyun.

“Lalu?”

“Lalu mengapa kau menghabiskan waktumu bekerja di kantor? Aku tidak bilang kau tidak melakukan pekerjaanmu dengan baik. Kau bekeja dengan sangat baik. Tapi bukankah akan lebih menyenangkan jika melakukan hal yang disukai?”

“Tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan yang kau inginkan,” sahut Bom pendek.

Seunghyun mengerutkan kening.

“Mungkin bagimu ini terdengar seperti alasan,” Bom menghela nafas. “Mungkin juga tidak masuk di akal seorang yang selalu dapat meraih tujuannya sepertimu.”

Bom menatap Seunghyun. Ia lalu tersenyum tipis. “Aku tidak ingin membicarakannya lagi. Sekarang, bagaimana kalau kita makan saja?” ujar Bom sambil beranjak keluar kamarnya.

Seunghyun terdiam. Mengikuti langkah Bom ke meja makan.

“Aigoo… kau pasti menunggu lama. Maaf aku tadi pergi ke rumah kakakku sebentar, jadi agak kemalaman masaknya,” ujar Ibu Bom.

Seunghyun tersenyum sopan. “Tidak apa-apa, Bibi. Kurasa aku yang merepotkan menumpang makan disini terus.”

“Merepotkan apanya? Aku justru sangat senang kalau bisa melihatmu sering-sering kesini,” sahut Ibu Bom. Ia lalu menyendokkan nasi ke mangkuk dan diberikan pada Seunghyu. “Ini, makanlah yang banyak.”

“Terima kasih, Bibi,” sahut Seunghyun. Ia melirik sedikit pada Bom yang sedari tadi diam saja.

“Kalian bekerja di akhir pekan juga?” tanya Ayah Bom.

“Aniyo, kami bertemu di sanggar tadi,” sahut Seunghyun.

“Sanggar tempat Bom mengajar sambilan itu?” kini Ibu Bom yang bertanya. “Kau juga mengajar disana?”

Seunghyun menggeleng. “Teman-temanku pengajar disana, jadi aku sering diajak kesana.”

“Kupikir kau sudah tidak mengajar sambilan lagi,” ujar Ayah Bom, menatap lurus pada putrinya.

Bom mengangkat kepalanya. “Aku tidak bilang akan berhenti.”

“Untuk apa buang-buang waktu melakukan hal seperti itu?” seru Ayah Bom. “Bahkan jika perusahaanmu jadi bangkrut pun, mengajar disana tidak akan menghasilkan uang. Jadi mengapa ketika sekarang perusahaanmu sudah stabil dan kau bisa mendapat uang dengan baik, masih mengajar disana? Buang-buang waktu saja.”

Bom terdiam.

“Sudah kubilang dari dulu, musik tidak akan menghasilkan uang. Apa kau ingin seperti para selebriti itu? Kejayaan mereka hanya ketika mereka masih memiliki wajah dan kulit bagus, setelah itu terganti oleh yang lain. Kalau kau bekerja, kau bisa menabung lebih banyak.”

Bom masih terdiam. Ia lalu mengambil gelas di hadapannya, dan meneguk isinya. Sementara Seunghyun terpengarah mendengar ucapan Ayah Bom.

“Aigoo… mengapa membahas hal seperti ini di meja makan?” Ibu Bom kemudian berbicara. “Makanan akan segera dingin. Sudah ayo cepat kita makan saja.”
***

“Maafkan aku,” ujar Seunghyun ketika Bom mengantarnya ke depan rumah. “Aku tidak tahu kalau akan begini.”

Bom tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Aku hanya agak malu tadi karena kau harus mendengar semuanya.”

“Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal,” ujar Seunghyun dengan wajah penuh penyesalan. “Aku bahkan berkata seolah-olah tahu banyak hal.”

“Justru kurasa, kau terlalu tahu banyak hal,” ucap Bom pelan.

“Hah?”

Bom memandang Seunghyun. “Kurasa, kau dan aku terlalu tahu banyak hal. Kita baru kenal dua minggu, tapi aku sudah mengetahui hubungan masa lalumu dengan Jessica-ssi dan kau sudah mengetahui soal ayahku yang seperti itu. Kita terlalu tahu banyak hal.”

“Apa itu… hal yang buruk?” tanya Seunghyun hati-hati.

“Aku juga tidak tahu. Tapi aku agak khawatir. Kita baru saling kenal tapi sudah tahu banyak. Aku tidak biasa berbagi kehidupanku pada orang lain, terlebih lagi baru kenal beberapa minggu,” ujar Bom. “Kurasa kebanyakan orang juga seperti itu,” tambahnya.

Seunghyun tidak dapat berkata apa-apa. Sekarang di kepalanya banyak yang ingin dikatakan, tapi tidak ada yang terlontar. Tidak seperti biasanya.

“Kalau begitu, pulanglah. Hati-hati menyetir, ini sudah malam,” ujar Bom sambil tersenyum.
***

“Berkas-berkas sudah kau bawa semua?” tanya Seunghyun. Kini sudah senin, dan mereka sudah berada di DaeHan Company. Bukan hanya Seunghyun dan Bom, tapi juga semua anggota tim.

Bom mengangguk. “Sudah lengkap di presentasimu.”

Seunghyun mengangguk.

“Kepala Tim, kau harus membuat mereka terkagum-kagum dan langsung menyetujui kerja sama ini!” seru Chansung yang langsung merangkul Seunghyun.

Seunghyun tersenyum. “Kalian juga harus membantuku, kalau-kalau ada hal yang tidak bisa kujawab.”

“Siap, bos!” ujar mereka serempak.

“Kau mau mengajak kerja sama atau mau merobohkan kantor ini? Suara rekan kantormu lantang sekali.”

Mereka semua menoleh. Tampak Jessica berjalan ke arah mereka.

“Kami mengajak kerja sama dengan penuh percaya diri,” sahut Seunghyun.

Jessica tersenyum. “Memang gaya Choi Seunghyun. Kalau begitu, berjuanglah. Meski sudah mendapat persetujuanku, kalian tetap harus meyakinkan anggota direksi yang lain.”

“Tenang saja. Kalau kau sudah setuju, anggota lain akan lebih mudah percaya,” ujar Seunghyun.

Jessica mengangkat bahu. “Kita lihat saja nanti. Sampai bertemu di ruang rapat,” ujarnya sambil berlalu.

“Wah, jadi dia orang DaeHan yang kau kenal, Kepala Tim? Dia sangat cantik!” ujar Taecyon.

“Benar, dia sangat cantik! Bagaimana bisa kau mengenalnya, Kepala Tim?” tanya Soo Hyun.

“Dia temanku,” ujar Seunghyun pendek.

“Woah, kau sangat beruntung!” seru Taecyon, Chansung, dan Soo Hyun berbarengan. Sementara itu Yoona dan Yuri menggeleng-gelengkan kepala. “Dasar pria.”

“Apa…,” Seunghyun menoleh, ingin bicara pada Bom. Ternyata Bom berjalan di belakang bersama Dara.

Seunghyun menghela nafas.
***

“Yuri-ah, kenapa kau memilih lagu seperti ini di malam yang menyenangkan ini?” protes Yoona. Yuri yang memilih lagu balad milik K.Will itu mengangkat bahu, acuh.

“Aahh, seharusnya kau memilih lagu yang ceria!” seru Chansung. Mereka kini sedang berada di karaoke, merayakan seminggu kerja keras mereka dan penawaran kerja sama yang diterima oleh pihak DaeHan.

“Shireo! Aku suka lagu ini,” ujar Yuri.

“Oh, lagu ini? Aku juga suka!” seru Dara dan langsung mengambil mic di samping Yuri. Yang lain menggeleng-gelengkan kepala melihat mereka berdua.

“Irojima jebal ttonajima jebal, dorawa… dorawa…,” Yuri dan Dara bernyanyi dengan sepenuh hati, mengikuti lirik lagunya.

“Aku merasa sedang menghibur teman yang putus cinta,” ujar Bom. Yoona mengangguk setuju. Ia lalu menoleh pada Seunghyun yang sedari tadi diam saja. “Kepala Tim, pilihlah lagu yang ceria!”

Seunghyun, yang ternyata sedari tadi menatap Bom, tergagap. Kaget. “Kau saja yang pilih. Aku tidak terlalu tahu lagu-lagu sekarang.”

“Eiyyyy, jangan begitu! Ayo, pilih lagu berikutnya,” Chansung menyodorkan remote pada Seunghyun.

“Yya, apa kalian ingin aku menyanyikan lagu seperti ini?” Seunghyun menunjuk Yuri dan Dara yang masih khusuk bernyanyi.

“Aniyo, aniyo!” Taecyon dan Soo Hyun langsung merebut remote itu, lalu mulai mencari-cari lagu yang cocok.

Ponsel Bom berbunyi. Bom mengangkat teleponnya. “Oh, Hyun Woo Oppa.”

Seunghyun langsung menoleh mendengarnya.

“Aku? Apa? Ah, suaramu tidak jelas. Tunggu, tunggu, aku keluar sebentar,” ujar Bom lalu beranjak keluar ruangan karaoke.

“Kepala Tim! Sudah ganti lagu, ayo ikut menyanyi!” Taecyon menarik Seunghyun, yang masih menatap Bom.
***

“Bom-ssi.”

Bom menoleh. Tampak Seunghyun berjalan menghampirinya.

“Ini sudah malam. Aku akan mengantarmu pulang,” ujar Seunghyun.

“Kurasa lebih baik kau mengantar mereka,” tunjuk Bom pada Taecyon dan Chansung yang sudah mabuk berat. “Aku bisa naik taksi.”

“Mereka—“

“Benar juga, Kepala Tim. Bom-ssi, lebih baik kau membantuku mengantar Yoona dan Yuri. Tidak enak kalau aku mengantar wanita mabuk pulang selarut ini,” potong Soo Hyun yang tampak kewalahan memapah Yuri.

Seunghyun mengeluh dalam hati. Hal ini membuat Bom lebih mudah menghindarinya. Sementara itu Bom mengangguk, ia segera merangkul Yoona. Dara sudah pulang dari tadi.

“Baiklah kalau begitu. Kalian hati-hati,” ujar Seunghyun. “Soo Hyun-ssi, sebelum itu kau harus membantuku membawa dua pria besar ini ke mobilku.”
***

Dua hari kemudian.

“Kau tidur nyenyak semalam?”

Bom terlonjak kaget. Didapatinya Seunghyun sudah berdiri di sampingnya.

“Kau mengagetkanku!” seru Bom.

Seunghyun mengamati wajah Bom. “Matamu berkantung. Apa kau tidak langsung tidur semalam? Aku tidak memberimu tugas berat akhir-akhir ini. Tapi hal baiknya, aku senang mendengarmu mengomel seperti biasa,” ujar Seunghyun.

Bom memundurkan dirinya. Ia berdehem. “Aniyo. Kurasa aku hanya agak susah tidur akhir-akhir ini.”

“Kau bicara formal padaku,” ujar Seunghyun. Bom mendengarnya, tapi tidak menyahut apapun.

“Apa yang kau lakukan sampai kau tidak mengangkat teleponku, Choi Seunghyun?”

Seunghyun dan Bom menoleh. Tampak Jessica sedang berjalan ke arah mereka.

“Dan Bom-ssi, boleh kuminta nomormu? Sebagai jaga-jaga karena Kepala Tim mu ini sulit dihubungi,” ujar Jessica sambil mendelik pada Seunghyun.

“Ponselku jatuh kemarin, aku belum sempat menggantinya. Rencananya baru akan kuganti hari ini,” sahut Seunghyun. “Dan apa yang kau lakukan pagi-pagi di kantorku?”

Jessica menghela nafas kesal. “Menurutmu apa lagi? Mengajakmu sarapan?” ujarnya. “Kau lupa kalau perusahaan kita bekerja sama? Padahal waktu itu kau memohon seperti tidak ada jalan keluar lain.”

Seunghyun tertawa kecil. “Saat itu memang tidak ada jalan keluar lain. Kalau begitu, ayo ke ruanganku. Kau juga harus ikut tentunya,” ujar Seunghyun pada Bom.

“Arrasoyo. Ada berkas yang harus disiapkan?” tanya Bom.

“Berkas yang kemarin kau bawa ke DaeHan saja,” ujar Seunghyun. “Dan aku tidak terlalu suka mendengarmu berbicara formal.”

Jessica mendelik heran. “Wae? Bukankah wajar kalau di kantor menggunakan bahasa formal?”

Bom melirik mereka berdua bergantian. “Kalau begitu, aku ambil berkasnya dulu,” ujarnya sambil membalikkan badannya.

“Dia menghindar lagi,” gumam Seunghyun.

“Wae? Kalian bertengkar?” tanya Jessica penasaran.

Sementara itu, Bom yang sudah berbalik menghela nafas. Lagi-lagi ia merasakan perasaan tidak enak yang aneh.
***

“Jadi, mengapa kau menghindarinya?” tanya Dara. Ia sedang menginap di rumah Bom, setelah merengek-rengek pada ayahnya.

“Apa aku terlihat begitu?” Bom bertanya balik.

Dara menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. “Aku saja bisa melihat dengan jelas. Apa maksud pertanyaanmu itu Seunghyun akan jelas melihat kalau kau menghindarinya? Jawabannya tentu saja iya.”

“Aku tidak bermaksud Seunghyun melihatku atau tidak, aku hanya bertanya apa aku terlihat begitu,” protes Bom.

“Kau hanya tak mau mengakuinya, Bom-aaah~ “ ujar Dara enteng. “Karena percuma saja menutupi dariku, jadi sekarang ceritakan mengapa kau melakukannya.”

Bom terdiam sesaat. Ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Dara.

“Sebenarnya aku tidak bermaksud menghindarinya,” ujar Bom.

“Lalu?”

“Aku hanya merasa, kami terlalu banyak mengetahui satu sama lain,” sahut Bom.

“Apa itu masalah?”

Bom mengangkat bahu. “Aku juga tidak tahu. Aku hanya merasa, kami baru kenal dua minggu dan sudah terlalu banyak mengetahui berbagai hal yang cenderung pribadi.”

“Kau takut?”

Bom terdiam. “Sedikit. Semuanya terlalu tiba-tiba, kau mengerti? Aku sedikit takut ketika menyadari kami baru kenal dua minggu tapi aku merasa sudah mengenalnya lama. Aku juga sedikit takut ketika dalam waktu yang singkat itu kami sudah saling tahu banyak hal.”

“Aku makan malam dengan Jiyong kemarin,” ujar Dara, tiba-tiba.

“Mwo?!” Bom langsung bangun dan terduduk. “Kemarin? Jiyong?”

Dara mengangguk. “Ia mengajakku makan malam. Dan aku menerima ajakan itu.”

“Mwo?! Ani, aku tahu Jiyong memang bertingkah laku seperti playboy, tapi baru kali ini ia langsung mengajak makan malam gadis yang baru dikenalnya,” ujar Bom heran.

“Nah, itu point-nya,” sahut Dara. “Aku mengenal Jiyong baru akhir pekan kemarin, dan ia mengajakku makan malam kemarin. Semua terjadi begitu cepat, bukan? Bahkan jauh lebih cepat dibanding kau dan Seunghyun.”

Bom terdiam.

“Aku juga sempat bertanya-tanya, mengapa semuanya begitu cepat? Sama seperti yang kau rasakan. Aku juga takut akan banyak hal, seperti bagaimana reaksi Jiyong kalau tahu seperti apa ayahku. Aku berpikir akan kemungkinan Jiyong yang tak mau berteman lagi denganku. Tapi, aku tidak akan pernah tahu jawabannya kalau tidak menjalaninya, kan?” ujar Dara.

“Kau mungkin merasa mengenal Seunghyun lama karena kalian sering bersama seminggu ini, dan kalian merasa nyaman satu sama lain—bahkan meski kau mungkin tidak menyadarinya. Semua kemungkinan itu selalu ada, dan akan tetap jadi kemungkinan yang tidak ada jawabannya kalau kau bahkan tidak mau menjalaninya,” sambung Dara.

Bom masih terdiam.

“Aahh, aku terdengar seperti seorang nenek malam ini,” seru Dara kemudian, mengurangi keseriusan dalam perbincangan mereka.

Bom mengangguk. “Memang. Aku sempat berpikir apakah roh nenek buyutku sedang masuk ke tubuhmu.”

“Yya!”

Bom dan Dara tertawa.

“Ngomong-ngomong, apa saja yang kau lakukan ketika kencan dengan Jiyong?” tanya Bom, penasaran.

“Yya, itu bukan kencan! Sudah kubilang itu makan malam!” sanggah Dara.

“Sama saja! Jadi, apa yang kalian lakukan?”

Dara mengangkat bahu. “Memangnya apa? Hanya mengobrol kesana-kemari. Dia teman bicara yang menyenangkan.”

“Ohoooo~ Dara-ya, kau harus tetap hati-hati dengan Jiyong!” seru Bom.

“Apa pacarnya banyak?”

“Oooooh~ kau bahkan sekarang bertanya tentang pacarnya. Dara-ya, apa kau sudah benar-benar tertarik dengan Jiyong?” goda Bom.

“Bommie-aaah!”
***

“Bom-ssi,” Seunghyun menghampiri Bom yang sedang membereskan mejanya.

Bom menoleh.

“Boleh aku bicara sebentar?” tanya Seunghyun.

Dara, satu-satunya yang masih ada dalam ruangan dan melihat hal itu, langsung berseru pada Bom sebelum gadis itu memutuskan untuk menghindar lagi. “Bommie-ah, aku pulang sekarang! Kereta kudaku sudah datang!”

Bom menoleh pada Dara yang melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Bom tersenyum simpul, menyadari kalau temannya itu sengaja supaya ia tidak bisa pergi lagi. “Hati-hati, Dara-ya.”

“Arraso! Bye~”

Bom membalikkan tubuhnya dan menatap Seunghyun. “Ada apa?”

“Besok, apa kau akan ke sanggar?” tanya Seunghyun.

“Wae?” tanya Bom heran.

Seunghyun terdiam sejenak. “Besok, datanglah seperti biasa. Aku tidak akan datang kesana.”

“Eh?” kening Bom mengerut.

“Aku tahu kau menghindariku, Bom-ssi. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf soal itu. Jadi besok tetaplah datang ke sanggar. Aku tidak mau karena menghindariku kau jadi tidak bisa melakukan hal yang kau suka.”

Bom terpengarah. Terkejut dengan apa yang dikatakan Seunghyun. Sesaat lupa kalau pria ini selalu mengatakan apa yang ingin dikatakan.

“Ada banyak hal yang ingin kukatakan sejak malam itu dari rumahmu. Banyak hal juga yang ingin kutanyakan. Tapi yang paling besar adalah perasaan bersalahku. Aku tidak tahu kalau kau tidak nyaman dengan kenyataan kita sudah saling mengetahui banyak hal, tepatnya aku sudah mengetahui banyak hal tentangmu. Aku benar-benar minta maaf soal itu,” ujar Seunghyun.

Bom masih terdiam. Bingung harus berkata apa.

“Tapi sebenarnya, sebelum mendengar perkataanmu malam itu, aku merasa senang mengetahui banyak hal tentangmu. Aku senang mengenalmu lebih dekat, dan kita saling tahu banyak satu sama lain. Aku terlalu egois tidak menyadari kau tidak nyaman dengan hal itu. Maafkan aku.”

“Karena aku sudah tahu cukup banyak tentangmu—meski ternyata kau tidak nyaman dengan hal itu, aku tidak akan bertanya macam-macam lagi tentangmu. Aku juga tidak akan berkomentar atau berkata macam-macam lagi tentang dirimu atau pilihan hidupmu. Aku…,” ucapan Seunghyun terputus. Ia menatap Bom, yang masih diam, dengan lekat.


“Aku ingin kau tahu lebih banyak tentangku.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar