Selasa, 22 Desember 2015

UFO Man Part 7

mian main readers kayaknya dari part kemaren2 dan seterusnya akan lama buat update. jeongmal gamsaeyo buat yang masih bacain FF ini :D

happy reading dan selamat tahun baru yaaa semuanya *ngucapin duluan* ~
____________________________________________________________

main cast: Park Bom & Choi Seunghyun
other      : find it by yourself :) tokoh mungkin bertambah tiap partnya

cerita ini muri fiktif belaka dengan tokohnya saya pinjem para idol~ kalau ada kesamaan nama, alur, dan lokasi; cuma kebetulan yang tidak disengaja :D

and don't do plagiarize. mari hargai karya orang lain :)



“Jadi, kalian rekan kerja?” Tanya Ayah Bom, masih memperhatikan Seunghyun dengan seksama.

“Dia kepala timku, Apa. Kami baru bekerja bersama seminggu ini,” sahut Bom cepat.

“Oh, tim darurat yang dibentuk kantormu itu?” alis Ayah Bom terangkat. “Jadi ini orang yang lulusan Amerika itu? Lalu, apakah kalian berhasil?”

Bom menelan ludah mendengar pertanyaan ayahnya yang to the point itu. Ia melirik Seunghyun yang tampak tenang dan tidak merasa terintimidasi dengan pertanyaan dan tatapan menyelidik ayahnya itu.

“Bisa dibilang seperti itu, Paman. Saham perusahaan kami mulai meningkat sejak kemarin, dan kami berhasil menjalin kerjasama dengan DaeHan Company,” ujar Seunghyun tenang.

“Benarkah? Apa yang kau lakukan sampai bisa mencapai hasil seperti itu?” Ayah Bom bertanya lagi.

“Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya memiliki tim yang hebat,” jawab Seunghyun. “Kami bekerja dengan sangat keras seminggu ini, dengan mencari segala jalan yang bisa dilalui. Karena tim yang pantang menyerah, kami bisa mencapai hasil seperti itu, Paman.”

Ayah Bom terdiam mendengarkan ucapan Seunghyun. Bom menatap ayahnya takut-takut, khawatir beliau akan meledak atau melakukan hal lain. Tapi Ayah Bom diam saja.

Ibu Bom datang membawa minuman. “Aigoo… mengapa serius sekali malam-malam begini? Yeobo, Seunghyun dan Bom pasti lelah seminggu lembur di kantor. Jangan ditanya macam-macam dulu,” Ibu Bom duduk di sebelah Ayah Bom dan tersenyum ramah pada Seunghyun. “Seunghyun-ah, ini aku buatkan teh madu asli Jepang. Adikku yang membawakannya kemarin, cobalah.”

Seunghyun tersenyum sopan. “Terima kasih, Bibi,” ujarnya sambil mengambil cangkir teh.

Ayah Bom berdecak melihatnya. “Kau berkelakuan seperti sudah mengenalnya lama. Lagipula apa dia tamu istimewa, sampai diberi teh madu segala?” gerutu Ayah Bom pada Ibu Bom. Ibu Bom segera menyenggol suaminya itu. Ayah Bom tidak peduli, dan berdiri. Ia berdehem.

“Makan malamlah disini. Tidak akan ada toko makanan yang buka selarut ini,” ujar Ayah Bom lalu pergi meninggalkan ruang tamu.

Seunghyun melongo mendengarnya, namun kemudian mengangguk. Mungkin ia kaget mendengar Ayah Bom menyuruhnya makan sedangkan tadi seolah tidak ramah.

Ibu Bom langsung tersenyum pada Seunghyun. “Jangan diambil hati perkataan Ayah Bom. Ia memang tampak keras, tapi  sebenarnya hatinya lembut,” Ibu Bom lalu menatap Seunghyun dan Bom bergantian. “Apakah kalian teman dekat? Baru kali ini Bom membawa teman pria ke rumah.”

“Kami rekan kantor, Eomma. Aku sudah bilang kan kalau Seunghyun ini kepala tim kami,” sergah Bom cepat.

“Iya, aku tahu. Tapi apa—“

“Eomma, bukankah kita harus menyiapkan makanan?” Bom memotong ucapan ibunya. Ia sudah tahu kalau ibunya akan bertanya macam-macam. Dari pertama melihat Seunghyun, terlihat ibunya sudah senang pada pria ini.

Ibu Bom berdecak kesal. “Arasso, arasso! Sudah, kau temani Seunghyun saja. Dia itu kan tamu,” Ibu Bom bangkit.

“Aniyo, Bibi. Aku tidak apa-apa,” ujar Seunghyun.

“Ck, kau juga jangan membantahku! Aku tidak mau kalau nanti orang menganggap keluarga kami tidak menghormati tamu. Jadi tunggulah makan malam sambil mengobrol,” sahut Ibu Bom dan melangkah ke arah dapur.

Seunghyun menoleh pada Bom. Bom mengangkat bahunya. “Dengarkan saja kata ibuku. Ia jauh lebih bawel dari kelihatannya.”

Seunghyun mengangguk-angguk. Ia menyesap tehnya lagi.

“Ngomong-ngomong, aku agak kaget melihatmu sangat sopan,” ujar Bom.

Seunghyun tersedak. “Ya! Jadi menurutmu aku tidak sopan?!”

Bom tertawa kecil. Ia mengusap-usap punggung Seunghyun, membantu mengurangi tersedaknya. “Ani, kau kan bertindak sesuka hatimu. Melakukan apa yang ingin kau lakukan dan mengatakan apa yang ingin kau katakan. Jadi agak aneh melihatmu sopan pada orangtuaku tadi.”

Seunghyun memukul kepala Bom pelan. “Ya! Aku juga masih tahu sopan santun.”

“Ya! Appo!” gerutu Bom sambil mengusap-usap kepalanya.
***

“Terima kasih atas makan malamnya, Paman dan Bibi. Aku sangat menikmatinya,” Seunghyun membungkukkan tubuhnya sedikit.

Ibu Bom tersenyum lebar. “Aigoo… aku senang sekali kalau kau menyukainya. Lagipula kami yang harusnya berterimakasih karena telah mengantar Bom. Sering-seringlah main kesini, aku akan memasak yang banyak untukmu.”

Bom mengerutkan kening mendengar ucapan ibunya. “Eomma!”

“Wae? Apa hanya kau yang boleh mengundang temanmu?” sergah Ibu Bom.

Seunghyun tertawa kecil melihatnya.

Ayah Bom berdehem. “Cepatlah pulang. Malam akan semakin gelap dan menyetir akan berbahaya.”

“Benar, Seunghyun-ah. Kau juga harus segera istirahat. Kau pasti lelah sudah lembur seminggu di kantor,” sahut Ibu Bom.

Seunghyun tersenyum. “Kalau begitu, aku pamit. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya.”

Seunghyun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.

“Bom-ah, antar Seunghyun sana. Dia kan tamumu,” ujar Ibu Bom. Bom menoleh pada ayahnya, meminta persetujuan. Ayah Bom hanya diam saja, berarti tidak melarang.

Bom ikut bangkit dan menyusul Seunghyun.

Seunghyun menoleh kaget menyadari Bom berjalan di belakangnya. “Ya, kau tidak perlu mengantar keluar,” ujarnya.

“Tidak apa-apa. Kau bahkan mengantarku ke rumah, aku hanya mengantarmu sampai depan,” sahut Bom sambil tersenyum. Seunghyun ikut tersenyum melihatnya.

“Bom-ah,” ujar Seunghyun ketika mereka sudah di samping mobil Seunghyun. “Apa Ayahmu tidak menyukaiku?”

“Wae? Mengapa kau bertanya seperti itu?” tanya Bom heran.

“Ani, aku hanya merasa khawatir kalau ayahmu tidak menyukaiku,” Seunghyun mengusap kepalanya yang tidak gatal.

Bom tertawa kecil. “Yya, memangnya kau pacarku atau apa? Sampai khawatir hal seperti itu. Jangan khawatir, Appa memang seperti itu. Malah kurasa kau bicara dengan baik, sehingga Appa tidak mengomel padamu. Mungkin, Appa menyukaimu.”

“Benarkah?” mata Seunghyun membesar. “Ah, leganya.”

Bom menggeleng-gelengkan kepalanya. “Yya, kau memang aneh. Kau mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti ini tapi sama sekali tidak khawatir ketika perusahaan diambang bangkrut kemarin.”

Seunghyun tersenyum. “Karena hal ini jauh lebih sulit dikendalikan.”

“Mwo? Maksudnya?”

Seunghyun mengacak kepala Bom pelan. “Masuk dan istirahatlah. Kau pasti sangat lelah,” ujar Seunghyun lembut.

Pipi Bom tiba-tiba memerah. Ia berdehem, dan menjauhkan tangan Seunghyun dari kepalanya. “K-Kau juga. Cepat pulang dan tidurlah.”

Seunghyun mengangguk. Ia mengacak kepala Bom lagi, dan memasuki mobilnya. Bom bersungut-sungut. “Yya, jangan mengacak rambutku!”

Seunghyun tersenyum melihatnya. Ia menyalakan mobilnya. “Aku pulang sekarang.”

Bom mengangguk. “Terima kasih sudah mengantarku. Hati-hati di jalan, dan jangan ngebut!”
***

“Jadi, sebenarnya siapa Seunghyun itu?” tanya Ibu Bom penuh selidik, mengekor langkah Bom yang memasuki kamarnya.

“Eomma… sudah kubilang berapa kali kalau ia itu kepala timku? Ia atasanku, Eomma. Ia yang mengarahkan kami dalam—“

“Ya ya ya, kau pikir aku ini tidak mendengar hal itu? Kau sudah mengatakan hal itu, Bom-ah. Jadi katakan hal yang lain,” Ibu Bom memotong ucapan Bom.

Bom bersungut-sungut mendengarnya. “Eomma! Memangnya apa yang ingin Eomma dengar? Tidak ada hal lain, itu saja!”

Ibu Bom melipat kedua tanganya, menatap putri semata wayangnya yang sudah merebahkan diri di kasur itu penuh selidik. “Ya, aku yakin ada hal lain. Kapan pertama kali kau bertemu dengannya?”

“Eomma… apakah itu penting?” Bom memutar matanya. Ia tiba-tiba teringat sesuatu. “Eomma, siapa orang yang akan dijodohkan oleh Appa? Eomma bilang sudah melihatnya!”

Ibu Bom mengangkat bahu. “Tidak ada hal yang gratis di dunia ini. Ceritakan dulu soal Seunghyun.”

“Eomma, apa kau benar-benar ibuku?!” pekik Bom frustasi melihat ibunya seperti itu.

“Kau harus belajar banyak mengenai dunia ini, Bom-ah,” Ibu Bom terkekeh. “Jadi, kapan kau pertama kali bertemu Seunghyun?”

“Di kantor,” sahut Bom akhirnya, malas-malasan.

“Pertama kali?” tanya ibunya lagi.

“Eomma, apa kau pernah terpikir untuk jadi polisi detektif saja? Keahlianmu ini terbuang percuma kalau kau hanya memasak di rumah!” seru Bom kesal.

“Dimana pertama kali?” tanya Ibu Bom tak mau kalah, tak menghiraukan ucapan Bom.

Bom menghela nafas. “Eomma benar-benar. Di halte bus.”

“Wah, kau bahkan masih mengingatnya! Berarti Seunghyun meninggalkan kesan dalam dirimu,” seru Ibu Bom senang.

“Eomma, kalau kau juga di posisiku, kau tidak pernah lupa. Hanya dia satu-satunya orang yang melontarkan hal aneh pada orang yang tak dikenalnya,” sahut Bom.

“Apa yang dikatakannya?” tanya Ibu Bom penuh semangat.

“Apa kau pernah melihat UFO?”

“Hah?”

“Itu yang dikatakannya pertama kali, Eomma. Percaya atau tidak, terserahmu,” ujar Bom enteng. “Sekarang, kau juga merasa ia orang yang aneh kan, Eomma?”

“Ani, Bom-ah, ani,” Ibu Bom menggelengkan kepalanya. “Bagaimanapun juga, Seunghyun sangat keren.”

“Eomma!” seru Bom kesal. “Sudah kubilang dia itu aneh!”

“Ya, apa menurutmu ia adalah seorang alien? Seperti yang di drama baru itu, alien yang hidup 400 tahun lalu bertemu cintanya. Ah, tapi kau bukan artis,” Ibu Bom bergumam sendiri. “Tapi anakku secantik artis, jadi sangat cocok!”

“Eomma, kau terlalu banyak menonton drama,” Bom menggeleng-gelengkan kepalanya. “Cerita drama itu hanya fiktif, Eomma, tidak nyata. Mengapa kau percaya hal seperti itu?”

“Ani, tapi banyak hal di drama yang sesuai dengan kenyataan. Jadi bisa saja Seunghyun itu memang—“

“Sudahlah Eomma, pokoknya tidak ada alien. Memang Seunghyun saja yang aneh. Lagipula bagaimana mungkin kau percaya dengan cerita drama, Eomma? Sekarang, cepat jawab pertanyanku tadi!”

“Tunggu-tunggu, satu pertanyaan lagi. Kalian sudah mengenal sejak kapan?”

Bom mengerutkan kening. “Dia baru masuk ke tim kami dua minggu yang lalu, jadi sekitar itulah…,” ucapan Bom menggantung. Jadi, selama ini baru dua minggu? Tapi mengapa Bom merasa sudah mengenal Seunghyun lama?

“Ah, pasti itu karena sering bertemu seminggu ini. Pasti karena itu,” ujar Bom pada dirinya sendiri. Ibunya menatapnya heran. “Ya, kau bilang apa?”

“Ani,” Bom menggeleng cepat, baru tersadar kalau ia bicara sendiri. “Pertanyaanmu sudah kujawab. Sekarang jawab pertanyaanku, Eomma. Siapa yang dijodohkan Appa?”

“Sebenarnya, belum resmi membicarakan perjodohan. Appa dan Eomma hanya bertemu dengan keluarganya dan berbincang-bincang, lalu—“

“Jadi siapa orangnya?” potong Bom, tidak sabar.

“Aigoo… anak ini benar-benar tidak sabaran! Hyun Woo, Hyun Woo Oppa-mu itu orangnya!”

“Mwo?!” mata Bom membesar. “Eomma, bagaimana bisa—ani, mengapa kau dan Appa, mengapa Hyun Woo Oppa?”

“Sudah kubilang kami hanya berbincang, tidak membicarakan soal perjodohan. Aku juga tidak tahu kalau orang itu Hyun Woo, Appamu yang merencanakannya.”

“Eomma! Hyun Woo Oppa itu kakakku, bagaimana mungkin aku menikah dengan kakakku sendiri?! Dan kenapa Eomma bilang berbincang dengan tetangga yang seperti keluarga itu seolah berbincang dengan serius?! Kenap—“

Ibu Bom langsung menutup mulut Bom. “Ya! Kau mau berteriak-teriak sampai kapan? Kau mau Appamu mendengar semuanya?”

Bom melepaskan tangan ibunya kesal. “Lagipula Eomma, bagaimana bisa—“

“Iya, iya. Kami tidak akan melakukannya. Lagipula kau sudah berhasil dengan tim darurat kantormu itu, Appamu pasti menepati ucapannya. Terlebih lagi sekarang ada Seunghyun,” ujar Ibu Bom sambil tersenyum-senyum.

“Mengapa Seunghyun jadi dibawa-bawa?” Bom bersungut-sungut. “Hal yang jauh lebih penting adalah, Hyun Woo Oppa itu pacaran dengan In Na Unnie!”

“Mwo?!” Ibu Bom melotot. “In Na siapa? Yoo In Na?!”

“Tentu saja, In Na siapa lagi selain keponakan kesayangan Eomma itu,” ujar Bom kesal. “Aku yang mengenalkan mereka, dan tampaknya mereka serius. Kurasa Paman dan Bibi juga sudah tahu. Apa yang akan Eomma katakan pada Bibi?”

“Yya! Mengapa kau baru memberitahuku?!” Ibu Bom memukul Bom pelan. “Apa yang akan kukatakan pada kakakku kalau benar-benar menjodohkanmu dengan Hyun Woo? Aigoo… harusnya kau mengatakan padaku sejak awal!”

“Appo!”
***

“Jadi ini, sanggar seni yang kau bicarakan?” ujar Dara, menatap bangunan tradisional yang ada di hadapannya.

Bom mengangguk. “Kau pasti suka!”

Dara ikut mengangguk senang. “Kurasa di dalam pasti sejuk. Dari luar saja sudah terlihat bagus dan nyaman!”

“Oh, Bom-ah?”

Bom dan Dara menoleh. Tampak Jiyong yang baru turun dari mobilnya dan membawa banyak tas di tangannya.

“Anyeong, Jiyong-ah. Apa yang kau bawa?” Bom berjalan menghampiri Jiyong.

“Barang-barang keperluan sanggar. Ada beberapa yang harus diganti, jadi aku membelinya,” ujar Jiyong. Bom mengambil beberapa dari tangan Jiyong. “Oh, kau bersama teman?” Jiyong menyadari keberadaan Dara.

“Ah ya, ini sahabatku Dara. Dara, ini temanku di sanggar, Jiyong,” Bom memperkenalkan mereka berdua.

“Park Sandara imnida,” Dara mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah.

“Kwon Jiyong imnida. Kau memiliki senyum yang manis,” Jiyong menyambut uluran tangan Dara. Wajah Dara agak memerah mendengarnya.

“Hati-hati dengannya, Dara-ya. Dia playboy,” ujar Bom ketika melewati mereka berdua dan berjalan menuju pintu masuk.

“Yya! Mengapa kau mengatakan hal itu pada orang yang baru saja mengenalku? Kau merusak image-ku!” protes Jiyong.

Bom mengangkat bahu. “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”

“Aniyo, jangan percaya ucapannya, Sandara-ssi. Aku hanya memiliki banyak teman, itu saja,” ujar Jiyong cepat pada Dara.

Dara tertawa kecil. “Aku suka berteman dengan orang yang banyak teman, jadi temanku juga bisa banyak. Oh iya, panggil saja Dara.”

“Ah, Dara. Nama yang indah,” ujar Jiyong.

Dara tertawa lagi. “Kau mengatakan hal-hal seperti itu pada orang yang baru kau kenal, pantas saja Bom mengatakan hal seperti itu.”

“Jadi sekarang kau percaya dengan ucapan Bom?” seru Jiyong kaget. “Sudah kubilang jangan percaya ucapannya! Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya, kau harus percaya itu.”

“Baiklah, baiklah,” Dara mengangguk-angguk. Lalu keningnya berkerut. “Seunghyun-ssi juga pengajar sanggar ini?” tanyanya heran melihat Seunghyun sudah berjalan di samping Bom dan membawakan barang bawaannya.

Jiyong melihat ke arah yang dilihat Dara. “Ooh, tidak. Seunghyun itu teman dekatku, dia baru ke sanggar ini minggu kemarin. Dan ternyata dia dan Bom saling mengenal. Dunia yang sempit, bukan?”

Dara tersenyum lebar. “Iya. Dunia yang sempit. Kurasa mereka berjodoh.”

“Apa? Kita berjodoh?” ujar Jiyong dengan wajah jenaka, berlagak salah dengar.

“Yya!” Dara tertawa. “Kurasa kau benar-benar playboy.”

“Aniyo! Sudah kukatakan aku tidak begitu!”

Seunghyun menoleh mendengar suara-suara berisik di belakangnya. “Oh, Dara-ssi juga disini?”

Dara tersenyum. “Anyeong haseyo, Kepala Tim,” ujarnya sambil menundukkan kepalanya sedikit.

“Jangan memanggilku begitu, kita kan tidak di kantor. Panggil saja Seunghyun,” ujar Seunghyun. Ia lalu meletakkan barang-barang di lantai. “Jiyong-ah, barang-barang ini dikemanakan lagi?”

“Ohoo Kepala Tim, bantu aku memasukkannya,” goda Jiyong.

“Yya!” seru Seunghyun sambil memukul pelan kepala Jiyong.

Jiyong terkekeh. “Kau terdengar sangat keren dengan panggilan Kepala Tim. Seunghyun-ah, boleh tidak aku masuk timmu?”

“Mwo? Untuk apa?”

“Supaya bisa memanggilmu Kepala Tim,” Jiyong tertawa. “Dan bisa sering bertemu Nona Sandara,” sambungnya sambil mengerlingkan matanya pada Dara dengan jenaka. Dara ikut tertawa.

Seunghyun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dara-ssi, sebaiknya kau berhati-hati dengan orang ini. Dia playboy.”

“Benar, Dara-ya. Dan dia sangat ahli, asal kau tahu,” timpal Bom setuju.

“Yya!! Apa kalian temanku? Mengapa terus menjelek-jelekkanku, di depan Nona Sandara lagi!” seru Jiyong kesal. “Dara-ssi, jangan percaya—“

“Aku baru pertama kali melihat kalian berdua kompak,” potong Dara, menatap Bom dan Seunghyun bergantian, sambil tersenyum lebar. Jiyong ikut mengamati mereka berdua, dan lupa dengan kekesalannya.

“Benar juga. Aku juga baru menyadarinya. Dara-ssi, apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?”

Bom berdehem. “Yya, hentikan omong kosong itu! Ayo cepat bawa masuk barang-barang ini!” ujar Bom, lalu mengambil barang-barang yang diletakkan oleh Seunghyun.

“Biar aku saja,” Seunghyun segera mengambil barang-barang dari tangan Bom dan memasuki ruangan sanggar tari.

“Yya, bawaanku masih banyak, kau tidak membantuku?!” seru Jiyong. Seunghyun terus berjalan, berlagak tidak mendengar. Bom berjalan di belakangnya.

Jiyong menggeleng-gelengkan kepalannya. “Seunghyun memang pekerja keras. Dia selalu berusaha keras untuk apa yang diinginkannya.”

“Kurasa juga begitu,” sahut Dara. “Sini, biar kubantu membawa beberapa,” Dara hendak meraih barang-barang yang dibawa Jiyong, dan Jiyong langsung menghindar.

“Tidak usah, Dara-ssi. Aku tadi hanya iseng menggodanya, untuk membalas karena sudah menjelek-jelekkanku di depanmu,” ujar Jiyong sambil tersenyum lebar.

Dara tertawa kecil. “Aku percaya padamu, tenang saja.”

“Benarkah? Terima kasih banyak, Dara-ssi!” Jiyong segera menyalami tangan Dara senang.
***

“Kau tidak mengajar lagi?”

Bom yang sedang memetik senar gitar pelan-pelan, menoleh. Melihat Seunghyun berjalan ke arahnya. Bom baru menyadari kalau ruangan yang tadi dipakai untuk latihan vokal kini sudah sepi, hanya mereka berdua.

“Sudah selesai. Sekarang sepertinya mereka sedang mengikuti latihan tari bersama Chaerin, Taeyang, dan Minji,” ujar Bom sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok.

Seunghyun duduk di sebelahnya. “Kau tidak ikut latihan tari?”

“Biasanya aku ikut, hitung-hitung olahraga. Tapi seminggu ini kan tenagaku sudah terkuras, jadi kurasa aku tidak ikut dulu,” sahut Bom sambil melirik Seunghyun.

Seunghyun tertawa kecil mendengarnya. “Siapa suruh datang kesini? Aku sudah menyuruhmu untuk istirahat.”

“Arra. Aku hanya bosan di rumah, kurasa lebih baik kesini. Lagipula Dara juga penasaran bagaimana sanggar seni ini, jadi kuajak juga. Kau sendiri, mengapa datang kesini? Padahal kurasa kau yang paling butuh istirahat diantara kita semua.”

“Karena aku ingin melihatmu,” ujar Seunghyun, enteng.

“Mwoya?” seru Bom. Lalu bergumam sendiri, merasakan debar jantungnya yang lebih cepat. “Mengapa dia selalu berkata seenaknya?”

“Mwo?” tanya Seunghyun, tidak mendengar apa yang dikatakan Bom.

“Ani,” Bom mengalihkan pandangannya. Ia memetik senar gitarnya perlahan.

“Nyanyikan lagu untukku,” ujar Seunghyun kemudian.

“Shireo,” sahut Bom, sambil terus memetik senar gitarnya.

“Wae?”

“Kan sudah kubilang, menyanyikan untuk pria itu—“

“—hanya untuk pacar? Yya, kau mau membodohiku sampai kapan? Kau bernyanyi dengan murid-muridmu, ada murid pria. Kau juga bernyanyi dengan Taeyang dan Daesung minggu lalu. Beri alasan lain,” potong Seunghyun.

“Kalau begitu, beri alasan kenapa kau ingin mendengarku menyanyi.”

“Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin mendengarmu bernyanyi saja.”

“Aku juga tidak ada alasan khusus, hanya sedang tidak ingin bernyanyi saja,” sahut Bom.

“Yya!” seru Seunghyun kesal.

Bom tertawa melihatnya.

“Kurasa aku harus—“ ucapan Seunghyun terpotong karena ponselnya berbunyi. Seunghyun segera mengambil ponsel dari sakunya, dan melihat layar sekilas.

“Oh, Sica-ya.”

Tawa Bom terhenti.

Seunghyun menoleh pada Bom, memberi isyarat kalau ia akan menerima telepon dulu. Bom hanya diam, tidak mengangguk ataupun menggeleng. Bom lalu mengalihkan pandangannya, dan menatap lurus ke tembok di depannya. Entah kenapa, ia merasa tidak enak.

Bom menghela nafas. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar