Selasa, 22 Desember 2015

UFO Man part 6

mianheyo hiatusnya kelamaan, kemaren-kemaren mentok -_-
dan makasih banyak buat yang masih nungguin dan bacain FF ini :)

happy reading ~
______________________________________

main cast: Park Bom & Choi Seunghyun
other      : find it by yourself :) tokoh mungkin bertambah tiap partnya

cerita ini muri fiktif belaka dengan tokohnya saya pinjem para idol~ kalau ada kesamaan nama, alur, dan lokasi; cuma kebetulan yang tidak disengaja :D

and don't do plagiarize. mari hargai karya orang lain :)


Seunghyun mengangguk. “Itu memang bukan kesalahanku. Perasaan seseorang bukan sesuatu yang bisa diatur sesuka hati.”

“Kau memang tidak berubah, Choi Seunghyun. Ucapanmu bahkan masih persis sama,” Jessica tersenyum sinis. “Kalau begitu, sikapku pun masih sama. Lupakan soal kerjasama ini. Kenaikan karir atau apapun, aku tidak peduli. Silakan cari orang lain.”

“Sekarang, bisakah kau minggir? Pekerjaanku masih banyak, jadi aku harus memanfaatkan waktu istirahat dengan baik,” ujar Jessica. Seunghyun hanya terdiam. Jessica akhirnya menggeser kakinya ke arah kanan dan melangkah.

“Maafkan aku,” ujar Seunghyun.

Langkah Jessica terhenti. Ia tercengang, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Jessica langsung membalikkan tubuhnya, menatap Seunghyun yang terlihat sungguh-sungguh.

“Soal perasaan, aku tidak pernah merasa bersalah. Tapi aku baru sadar kalau aku turut andil dalam membuatmu sakit hati,” Seunghyun menghentikan ucapannya sejenak. Tampak memikirkan sesuatu. “Aku baru sadar kalau aku bertindak sesuka hatiku tanpa memikirkan bagaimana posisimu. Untuk semua itu, aku sungguh-sungguh minta maaf.”

Jessica masih termangu. Masih kaget dengan apa yang dilihatnya saat ini.

“Aku tidak memintamu memaafkanku sekarang juga. Kurasa aku memang perlu dihukum karena perbuatanku ini,” Seunghyun tersenyum lebar. “Ini aneh, tapi rasanya lega sudah menyampaikannya padamu. Kalau begitu, nikmati makan siangmu.”
***

Seunghyun berjalan cepat menuju kafetaria DaeHan. Langkahnya terasa ringan. Dilihatnya sosok Bom masih duduk di bangku yang sama seperti sebelum ia menemui Jessica. Seunghyun semakin mempercepat langkahnya.

“Bom-ah, aku sudah melakukannya!” seru Seunghyun begitu ia berada di hadapan Bom.

Bom kaget sesaat, namun langsung tersenyum lebar. “Benarkah? Kau benar-benar sudah melakukannya?”

Seunghyun mengangguk cepat, ikut tersenyum. Bom menepuk-nepuk bahu Seunghyun pelan. “Kau melakukannya dengan baik, Choi Seunghyun.”

Senyum Seunghyun makin melebar. “Baiklah, sekarang waktunya kita makan! Kau ingin makan apa?” tanya Seunghyun. Ia lalu mengerutkan kening, baru tersadar kalau ada orang lain di meja mereka.

“Aku... ah ya, ini temanku,” Bom menunjuk pria yang duduk di sampingnya itu. “Temanku yang kuceritakan waktu itu, yang pegawai DaeHan.”

Pria itu tersenyum dan mengangguk sopan. “Ji Hyun Woo,” ia lalu mengulurkan tangan. Seunghyun menyambut uluran tangannya. “Choi Seunghyun.”

“Oppa, ini Kepala Timku. Tim yang aku ceritakan waktu itu,” ujar Bom pada Hyun Woo. Hyun Woo mengangguk-angguk. “Ooh, si pria UFO—“

Bom langsung melotot mendengarnya dan menginjak kaki Hyun Woo. Seunghyun melihat Bom dan Hyun Woo bergantian. “Apa? Apa yang diceritakan Bom mengenaiku?”

Hyun Woo hanya meringis, masih merasa sakit habis diinjak Bom. Bom langsung mengambil buku menu dan menyodorkannya pada Seunghyun. “Cepat pilihlah menunya. Kau bilang tadi mau makan.”

Seunghyun menerima buku menu itu dan mengangguk-angguk. “Hyun Woo-ssi, apa makanan yang enak disini?”

“Mmm… aku suka kimchi jigae-nya. Sangat segar,” ujar Hyun Woo.

“Tapi, apakah tidak apa-apa kita makan disini? Anggota tim lain makan dengan makanan pesan-antar di kantor,” potong Bom.

“Tenang saja, aku sudah bilang pada Taecyon tadi kalau mereka boleh makan di kafetaria siang ini. Pekerjaan kita juga tinggal sedikit lagi,” sahut Seunghyun. “Kalau begitu, aku pesan kimchi jigae. Kau pesan apa?”

“Aku jajangmyun saja. Asal kau tahu, buat Hyun Woo Oppa semua kimchi jigae itu enak,” Bom lalu menoleh pada Hyun Woo. “Ia selalu makan kimchi jigae setiap ada kesempatan. Aku bisa mati kebosanan kalau jadi dia.”

“Yya!” Hyun Woo memukul kepala Bom pelan. “Aku begini semenjak makan kimchi jigae buatan ibumu. Kalau mau salahkan ibumu sana!”

“Oooh? Aku akan bilang pada Eomma sekarang, biar Oppa tidak bisa makan kimchi jigae-nya Eomma lagi!” Bom langsung meraih ponselnya, yang langsung direbut oleh Hyun Woo. “Yya, aku bercanda, bercanda!”

Bom tertawa-tawa melihat Hyun Woo yang bersungut-sungut. Sementara Seunghyun menatap mereka berdua, diam.

“Ah, kurasa aku harus kembali ke kantor,” Hyun Woo melihat jam tangannya.

“Kau tidak makan dulu, Hyun Woo-ssi?” tanya Seunghyun.

Hyun Woo tersenyum. “Aku sudah makan tadi ketika kau pergi. Aku juga sudah mengajak Bommie makan, tapi ia bersikeras akan setia menunggu Kepala Tim-nya,” ujar Hyun Woo, sengaja menggoda Bom.

“Aku tidak pernah mengatakan kata setia!” seru Bom. “Aku hanya bilang akan menunggu, tidak lebih dari itu,” sambungnya.

Hyun Woo mengangkat bahu. Ia lalu tersenyum sopan pada Seunghyun. “Nikmati makan siang kalian, aku pergi dulu,” Hyun Woo mengacak rambut Bom pelan, yang diikuti gerutuan Bom. “Aku sudah merapikan rambutku!”

Seunghyun menatap mereka berdua bergantian.

“Kalian dekat?” tanya Seunghyun begitu Hyun Woo telah pergi.

Bom mengangguk sambil mengambil sumpit. “Ia tetanggaku, dan teman dekatku pertama di Seoul ini.”

“Kau bukan asli Seoul?”

“Aku tinggal di Jinan sampai SMP. Lalu Appa memutuskan untuk merantau ke Seoul dan kami menetap disini. Ah ya, kau sendiri asli Seoul?”

Seunghyun mengangguk. “Iya. Aku dari lahir sudah di Seoul. Hyun Woo-ssi, nampaknya orang yang sangat menyenangkan.”

“Ia memang menyenangkan, sekaligus sungguh menjengkelkan,” gerutu Bom. “Ia seperti kakak laki-laki sesungguhnya.”

Seunghyun tersenyum, entah kenapa ia merasa senang mendengarnya. “Benar, aku juga merasa kalian benar-benar seperti kakak beradik,” ujar Seunghyun sambil menyuap kimchi jigae-nya.

“Kalau aku tidak tahu bagaimana sifatnya yang sesungguhnya, aku akan menyukai Hyun Woo Oppa,” ujar Bom. “Ia seperti tipe idealku.”

Seunghyun tersedak. Bom buru-buru menyodorkan segelas air putih pada Seunghyun. “Kau tidak apa-apa?”

Seunghyun segera menerima gelas itu. Bom mengusap-usap punggung Seunghyun pelan. “Aigoo… seharusnya kau makan dengan hati-hati.”

Ponsel Seunghyun berbunyi. Seunghyun melihat layar ponselnya sekilas, terlihat nama Jessica.

“Yeoboseyo?”
***

Jessica meletakkan berkas-berkas yang dari tadi dibuka-bukanya di atas meja. “Aku sudah membaca semuanya. Kurasa bekerja sama dengan kalian bisa diperhitungkan.”

Bom melirik Seunghyun yang menatap lurus pada Jessica. Mereka berdua duduk di kursi depan meja Jessica.

“Tapi ada satu hal yang agak mengganjal. Image perusahaan kalian yang hampir bangkrut itu bisa menjadi keraguan di dewan direksi untuk bekerja sama. Apa kalian bisa meyakinkan mereka?” tanya Jessica.

Seunghyun mengangguk tegas. “Tentu saja. Kami akan mengerjakan proyek ini segera jika kerjasama sudah ditentukan.”

Jessica mengangguk-angguk. “Kalau begitu, tidak ada masalah. Aku menerima penawaran kalian. Hari senin datanglah ke rapat bersama dewan direksi yang lain.”

Seunghyun terdiam.

“Kenapa? Apa ada yang kurang?” tanya Jessica heran.

“Kau melakukan ini, apa hanya karena permintaan maafku? Atau, kau tidak membaca berkas-berkas itu?” tanya Seunghyun.

Jessica tertawa kecil. “Apa aku gila? Menyetujui kerjasama beresiko ini hanya karena permintaan maaf?” Jessica melipat kedua tangannya. “Seperti yang kau bilang, harusnya aku membedakan perkara pribadi dan bisnis. Tawaran kalian menjadi peluang untuk menjalankan proyek yang tertunda selama setahun. Atau, kalian berubah pikiran dan tidak menginginkannya?”

Bom tersentak, dan langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak, tentu saja tidak!” Bom lalu melotot pada Seunghyun. Mengapa pria UFO ini selalu mengatakan apa yang dipikirkannya, sih?

Jessica tersenyum. “Kalau begitu, sampai bertemu hari senin. Ingat, kalian harus benar-benar bisa meyakinkan dewan direksi lain.”

Bom tersenyum lebar. Soal itu, Seunghyun pasti akan mengatasinya. Seunghyun pun mengangguk-angguk. Ia mengulurkan tangan pada Jessica, yang disambut erat oleh Jessica. Jessica dan Bom juga bersalaman.

Bom menundukkan kepalanya sedikit, dan tersenyum. “Terima kasih, Jessica-ssi.”

Jessica mengangkat bahunya. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan.”

Bom melirik Seunghyun yang diam saja, lalu menyenggolnya pelan. Memberi isyarat untuk berterimakasih juga pada Jessica.

Seunghyun tersadar, langsung tersenyum. “Terima kasih, Jessica.”

Jessica yang daritadi memperhatikan Bom dan Seunghyun, tersenyum simpul. “Sekarang aku mengerti mengapa kau bisa berubah.”

“Ne?” tanya Bom dan Seunghyun bersamaan.

Jessica tertawa.
***

“Jadi, kita sudah berhasil?”

“Bisa dibilang, 90% berhasil. Soal bertemu dewan direksi DaeHan, itu lebih hanya untuk formalitas karena kita sudah mendapat persetujuan dari salah satu direksi,” ujar Seunghyun, menjawab pertanyaan Yoona.

Para anggota tim yang lain langsung bersorak-sorai. Dara bahkan langsung memeluk Bom, lalu mereka berpelukan dengan teman ‘sekamar’-nya yang lain, Yoona dan Yuri.

“Wah, kita benar-benar melakukannya dalam waktu seminggu!” ujar Taeyon tidak percaya.

“Padahal kupikir dalam seminggu aku akan membereskan barang-barang dari sini,” Soo Hyun berkaca-kaca, dan langsung dilempar kertas oleh Chansung. “YA! Kau berlebihan!”

Seunghyun tersenyum lebar melihat para anggota timnya. “Sekarang, semuanya pulang dan istirahat. Kalian pasti lelah seminggu menginap di kantor.”

“Yuhuu!! Besok tidur sepuasnya!” seru Chansung, yang langsung mengemasi barang-barangnya. Begitu pula yang lainnya.

“Bommie-ah, kau pulang dengan siapa? Apa ada yang menjemput?” tanya Dara sambil membereskan barang-barangnya. Yoona dan Yuri langsung berpandangan penuh arti.

Bom menggeleng. “Mungkin aku naik bis,” Bom lalu melirik jam tangannya. “Sudah malam. Kurasa aku akan naik taksi.”

“Bagaimana kalau pulang bersama kami? Taecyon-ssi bilang akan mengantar kami. Selama seminggu ini hanya Taecyon-ssi yang bawa mobil,” tawar Soo Hyun.

“Andwae!!” seru Yoona, Dara, dan Yuri berbarengan. Bom mengerutkan kening. “Wae?”

“Ani, mobil Taecyon-ssi sudah penuh oleh aku, Yuri, Soo Hyun, dan Chansung. Bukankah begitu?” seru Yoona cepat.

Taecyon mengusap kepalanya. “Iya, tapi kurasa—“

“Belum lagi barang-barangnya! Kau tahu kan, barang-barang kami begitu banyak,” Yuri memotong ucapan Taecyon.

“Kalau begitu, Bom pulang bersamaku saja,” ujar Seunghyun tiba-tiba.

“Nah!” Dara menjentikkan jarinya senang. Yoona dan Yuri pun tersenyum lebar. Bom menatap ketiga temannya itu, curiga.

“YA, kalian pasti—,” Bom tidak jadi menyelesaikan ucapannya. Akan aneh kalau ia mengucapkan mereka bertiga merencakannya di hadapan anggota tim yang lainnya.

“Mianhe, Bommie-ah. Aku ingin mengajakmu bersama, tapi kau tahu kan ayahku itu agak seram?” Dara mengedipkan sebelah matanya.

“YA—“

Dara segera menarik kopernya dan berlari ke luar. “Anyeong, Bommie-ah! Sampai jumpa senin!”

Yuri dan Yoona pun melambaikan tangan dan tersenyum penuh arti pada Bom. “Anyeong, Bom-ah!”. Bom hanya menggerutu kesal melihat mereka tertawa-tawa dan berjalan keluar ruangan.

“Wae? Kau tampak kesal,” ujar Seunghyun yang sudah berdiri di samping Bom. Kini tinggal mereka berdua di ruangan.

“Mereka merencanakan semuanya,” gerutu Bom.

“Merencanakan apa?”

Bom menoleh, dan menatap Seunghyun. “Lupakan. Ayo pulang,” ujar Bom lalu mengambil tas jinjing di atas meja dan menarik kopernya.

Seunghyun meraih koper Bom dan membawanya. “Mengapa bawaanmu banyak sekali?”

“Awalnya, aku hanya membawa satu koper,” Bom menunjuk kopernya yang dibawa oleh Seunghyun. “Lalu tinggal seminggu disini, entah mengapa barang-barangku jadi bertambah.”

“Mwoya? Bagaimana bisa?” tanya Seunghyun. Mereka sudah melangkah keluar dan memasuki lift.

“Entahlah. Kurasa wanita memang seperti itu. Kau lihat kan, bawaan Dara, Yuri, dan Yoona juga banyak?”

Seunghyun mengangguk-angguk. “Begitu rupanya. Lalu bagaimana bisa barang-barang kalian bertambah?”

“Sudah kubilang aku juga tidak tahu. Ketika sadar, tahu-tahu bawaanku sudah semakin banyak,” ujar Bom. “Oh iya, apa tidak apa-apa kau mengantarku dulu? Aku bisa naik taksi.”

“Tidak apa-apa. Aku tinggal sendiri, jadi tidak ada juga yang menungguku di rumah. Lagipula lebih aman bersama teman daripada naik taksi, kan? Apalagi bawaanmu banyak.”

Bom mengangguk-angguk.

“Ah ya, aku baru ingat sesuatu. Sebenarnya aku mau bilang ini dari awal, tapi selalu lupa,” ujar Bom kemudian.

“Apa?”

“Menurutku, nama ‘unitpenyelamatan’ itu aneh dan berlebihan.”

“Mwo? Apa anehnya?” tanya Seunghyun heran.

Bom berdecak. “Memang hanya orang aneh yang menganggap nama itu tidak aneh. Ya, apa kita ini power ranger? Tim SAR? Unit penyelamatan, nama apa itu?”

“Ya, tapi pada akhirnya kita kan berhasil, kan?”

“Iya, tapi tetap saja nama itu aneh. Ya, aku yakin di korea ini hanya tim kita yang memiliki nama seperti itu,” ucap Bom. Pintu lift terbuka. Mereka melangkah keluar menuju tempat parkir.

“Berarti kita unik, kan?” ujar Seunghyun.

Bom menghela nafas. “Ya ya, pikiranmu memang selalu unik. Dan aneh.”
***

“Ini rumahmu?” tanya Seunghyun dan pelan-pelan menghentikan mobilnya. Bom mengangguk-angguk.

“Dimana rumah Hyun Woo-ssi?” tanya Seunghyun lagi.

“Itu,” Bom menunjuk rumah sebelahnya.

“Rumah kalian sangat dekat,” gumam Seunghyun.

“Wae?” tanya Bom, tidak mendengar ucapan Seunghyun.

“Ani. Ayo turunkan barang-barangmu,” Seunghyun melepas seatbelt-nya dan membuka pintu mobil. Bom mengerutkan kening. “Apa aku harus menawarinya masuk ke rumah? Tapi bagaimana kalau ayah malah bertanya yang macam-macam?”

“Kau tidak turun?” teriak Seunghyun dari luar.

Bom buru-buru turun. “Ya! Mengapa kau teriak malam-malam begini?” serunya mendekati Seunghyun.

“Kalau tidak teriak, kau tidak akan mendengar,” sahut Seunghyun dan menurunkan koper serta tas jinjing Bom. Ia mengunci mobil lalu membawa kedua barang tersebut dan berjalan menuju pintu rumah Bom. Bom menepuk dahinya. Sekarang bagaimana? Apa aku harus mengajaknya masuk?

Bom segera mengikuti langkah Seunghyun.

Tiba-tiba, pintu rumah terbuka. Tampak Ibu Bom muncul dari balik pintu.

“Bom-ah, kau sudah pulang? Aku mendengar suara mobil—oh, kau bersama teman?” mata Ibu Bom membesar melihat Seunghyun.

“Ah, ini—“

“Kau sudah pulang?”

Terdengar suara berat Ayah Bom, yang ternyata ada di belakang Ibu Bom. Kini, Ayah Bom menatap Seunghyun dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Kau siapa?”

Bom menggigit bibirnya, lalu berdehem. “Appa, ini—“

“Anyeong haseyo. Choi Seunghyun imnida.”

Bom terdiam kaget begitu Seunghyun memotong ucapannya dan mengucapkan salam pada kedua orangtuanya. Ia melirik Seunghyun yang tersenyum sopan, lalu ibunya yang tersenyum senang. Dan ayahnya memasang wajah datar.


Ah, mengapa jadi begini?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar