Selasa, 22 Desember 2015

UFO Man part 5

sorry sorry sorry for really late post TT_TT
and thank you sooooooooooooo much for readers yang masih setia nunggu FF apalah  tau ini :D

happy reading~
______________________________

main cast: Park Bom & Choi Seunghyun
other      : find it by yourself :) tokoh mungkin bertambah tiap partnya

cerita ini muri fiktif belaka dengan tokohnya saya pinjem para idol~ kalau ada kesamaan nama, alur, dan lokasi; cuma kebetulan yang tidak disengaja :D

and don't do plagiarize. mari hargai karya orang lain :)



“Ah, ini hari keempat. Berarti tinggal besok,” ujar Yoona sambil memakai krim wajahnya. Mereka, para gadis, sedang bersiap-siap bekerja.

Bom mengerutkan kening mendengarnya. “Besok? Bukankah seminggu?”

“Seminggu untuk perkantoran, memangnya sampai hari apa? Kita bekerja sampai hari jumat,” kata Yoona.

“Tapi bisa saja jadi genap seminggu, karena keadaan mendesak seperti ini,” timpal Yuri.

“Memang bisa begitu, tapi siapa yang bekerja di akhir pekan? Apa ada yang bisa kita lakukan ketika semua orang sedang berlibur?” ujar Yoona lagi. “Ah, aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pekan depan.”

Wajah Bom menegang mendengarnya. Mengapa ia tidak memikirkan hal ini sebelumnya? Kalau tinggal besok, apa yang harus ia lakukan? Perjanjian dengan ayahnya terlintas.

“Sudahlah, yang terpenting sekarang kita harus melakukan sebaik mungkin apa yang kita bisa!” ujar Dara, mencoba menenangkan. Yuri dan Yoona mengangguk-angguk.

Sementara Bom masih termangu. Di kepalanya berkecamuk banyak hal, terutama mengenai apa yang harus ia lakukan. Bom memainkan jarinya, pertanda kalau ia mulai gelisah.

“Bommie-ah, wae?” tanya Dara heran melihat wajah Bom yang pucat.

“Apa, kita akan berhasil?” tanya Bom, nada suaranya agak panik.

Dara mengerutkan kening mendengar pertanyaan Bom. Setahunya Bom tidak terlalu peduli dengan usaha menyelamatkan perusahaan ini, meski ketika hari senin kemarin ia melihat Bom serius dengan pekerjaannya. Tapi Dara pikir itu karena tanggung jawab yang diberikan oleh Manajer Kang, tidak sampai seserius ini.

Dara tidak bertanya apa-apa. Ia tersenyum lebar, dan meletakkan kedua tangannya di bahu Bom. “Tenanglah. Semua pasti berjalan dengan baik,” ujarnya riang. Dara lalu mengedipkan sebelah matanya. “Semalam, Kepala Tim melakukan ini, kan?”

“Apa?” tanya Bom heran, mencoba menerka apa yang diucapkan Dara. “Ah, ani…,” Bom segera menurunkan kedua tangan Dara dari bahunya begitu menyadari apa yang diucapkan temannya itu. Wajah Bom agak memerah.

“Ohoo~ jadi benar Kepala Tim mengatakan hal itu? Dengan pose seperti tadi?” kini Yuri ikut menggoda Bom. Ia pun meletakkan kedua tangannya di bahu Bom.

“Ani, itu—yya, kalian semua melihatnya?” tanya Bom kaget.

Mereka bertiga mengangguk.

“Bom-ah, apa ada sesuatu antara kau dengan Kepala Tim? Kau dari awal sering bertengkar dengannya, apakah sekarang muncul benih-benih cinta diantara kalian?” goda Yoona.

“Yya!” Bom melepaskan tangan Yuri dari bahunya. “Apa yang kalian bicarakan? Kami hanya kebetulan belum tidur dan mengobrol sebentar. Mengapa dibesar-besarkan?”

“Tapi itu tidak seperti mengobrol sebentar,” Dara masih semangat menggoda Bom.

“Dara-ya—“

Pintu ruangan mereka diketuk. Terdengar suara Soo Hyun dari luar. “Para gadis, kalian sudah belum dandannya? Kepala Tim menyuruh bergegas!”

“Oho~ Kepala Tim~” Yuri, Yoona, dan Dara tersenyum penuh arti pada Bom. Bom berteriak kesal. “Aniya! Tidak terjadi hal-hal seperti itu!”

“Cogiyo, ada apa?!” Soo Hyun ikut berteriak, panik mendengar teriakan Bom.

Mereka bertiga terkekeh, sementara Bom mendengus kesal.

“Tidak apa-apa, kami akan segera keluar, Soo Hyun-ssi,” ujar Yuri. Mereka lalu bangkit dan keluar ruangan. Bom berjalan paling belakang, dan tiba-tiba teringat sesuatu. Ia harus segera mengontak temannya yang di DaeHan Company.

Bom menekan ponselnya lincah, menghubungi seseorang. Bom meletakkan ponselnya di telinga, menunggu beberapa saat. Tak lama kemudian, ia mendengar suara seseorang di seberang.

“Oppa!”
***

“Mereka membutuhkan data remaja, terutama para siswa yang duduk di bangku SMP dan SMA. Lebih detil lagi, mereka ingin membuat produk untuk remaja wanita di kota besar tapi juga tidak menutup kemungkinan kalau bisa untuk remaja pria. Tapi DaeHan belum memiliki riset mengenai remaja, dan apa yang benar-benar mereka inginkan,” ujar Bom panjang lebar begitu menerima informasi dari temannya.

Seunghyun mengangguk-angguk. “Data yang kita miliki sudah lebih dari cukup. Sangat lengkap dan akurat. Kita bisa menawarkan kerjasama dengan mereka.”

“Apa perusahaan kita akan merger?” tanya Bom.

“Tidak juga. Soal merger atau tidak itu dibicarakan nanti, tapi kurasa untuk sekarang belum perlu. Memangnya kenapa?”

“Temanku menanyakan hal itu,” ujar Bom. “Lalu, sekarang apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan menghubungi pihak DaeHan. Aku mengenal petinggi DaeHan, tapi hubungan kami tidak begitu baik,” Seunghyun mengotak-atik ponselnya. “Kurasa aku harus menghubunginya, mau tidak mau.”

Bom menggigit bibir bawahnya. Khawatir muncul lagi.

“Wae? Kau tampak tidak baik hari ini,” tanya Seunghyun. Ia meraba kening Bom. “Apa kau tidak enak badan? Tapi suhu tubuhmu normal.”

Bom memundurkan tubuhnya. Ia melihat dari ujung matanya Yuri, Yoona, dan Dara sedang memperhatikan ia dan Seunghyun. Ketiga gadis itu pasti akan bergosip lagi.

“Aniya. Aku baik-baik saja. Kurasa aku hanya sedikit tegang, waktu kita tidak banyak,” ujar Bom.

Seunghyun tersenyum. “Tenang saja. Kita sudah mendapatkan jalan keluarnya, tinggal mencari cara bagaimana menuju jalan keluar itu.”

Bom mengangguk-angguk. “Apa ada hal lain yang bisa kulakukan? Mungkin, aku bisa membantu memonitor saham? Atau, mencari koneksi dari DaeHan lagi? Atau—“ ucapan Bom terhenti begitu Seunghyun menggenggam tangannya.

Bom terdiam beberapa saat, memandang Seunghyun yang kini menatap lekat padanya. Untuk sesaat, Bom lupa kalau mereka sedang berada di ruangan kantor dan tiga temannya itu pasti sedang memperhatikan mereka berdua.

“Kau gemetaran,” ujar Seunghyun kemudian. Sorot matanya tampak cemas. “Apa kau benar baik-baik saja? Apa ada hal yang begitu kau cemaskan?”

Bom menggeleng pelan. “Aku… aku tidak apa-apa,” ujar Bom sambil menundukkan kepala. “Aku hanya… panik, kurasa,” tambah Bom, tidak yakin. Karena rasanya tidak mungkin membicarakan soal perjanjian dengan ayahnya. Itu terlalu pribadi dan nampaknya akan terlihat sangat egois kalau membicarakan soal itu disaat genting seperti ini.

“Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja,” ujar Seunghyun. “Kita pasti berhasil. Aku janji.”

Bom mengangkat kepalanya. Menatap Seunghyun yang mengangguk yakin padanya. Saat itu, entah kenapa Bom merasa kalau ia bisa percaya pada ucapan pria ini.

Bom lalu tersadar kalau tangannya masih digenggam Seunghyun. Ia segera menarik tangannya pelan, lalu berdehem.

“Kurasa sekarang giliranku memesan makan siang.”
***

“Kau janjian dengan petinggi DaeHan itu dimana?” tanya Bom begitu ia dan Seunghyun berada di dalam lift DaeHan Company.

“Kami tidak janjian. Aku yang akan menemuinya di ruangannya,” sahut Seunghyun enteng.

Alis Bom terangkat. “Maksudnya?”

“Sudah kubilang kan, kalau hubunganku dengannya tidak begitu baik? Ia tidak mengangkat teleponku atau membalas smsku, jadi kuputuskan untuk datang langsung. Tapi aku sudah bilang padanya lewat sms kalau aku akan datang, jadi seharusnya ia tidak terlalu kaget.”

Bom menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya. “Kurasa orang itu membencimu.”

Seunghyun mengangguk. “Kurasa juga begitu.”

“Mwo?” kening Bom berkerut. “Lalu mengapa kau masih ingin menemuinya—ah, aniya. Kurasa aku mulai terbiasa melihatmu bertindak aneh dan tidak seperti orang kebanyakan.”

Seunghyun tersenyum dan mengacak rambut Bom pelan. “Gadis pintar, kau cepat memahamiku rupanya.”

Bom menjauhkan tangan Seunghyun darinya. “Jangan suka menyimpulkan sesuatu seenaknya!” gerutunya kesal. “Bukan itu maksudku. Hanya saja—“

Lift terbuka. Di depan lift kini ada seorang wanita cantik yang memandang mereka kaget. Atau tepatnya memandang Seunghyun.

“Lama tidak bertemu, Jessica,” sapa Seunghyun. Ia berjalan keluar lift, diikuti Bom. Bom mengamati petinggi DaeHan yang ternyata masih muda dan cantik itu.

Jessica tersenyum sinis. “Kau benar-benar datang rupanya. Choi Seunghyun belum berubah.”

Seunghyun mengangkat bahu. “Aku orang yang melakukan apa yang kukatakan. Kau pasti sangat tahu hal itu.”

Bom memandangi Seunghyun dan Jessica bergantian. Seunghyun, seperti biasa, bersikap tenang. Sedangkan Jessica tampak menahan kesal. Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka? Pikir Bom dalam hati.

“Jadi, dimana kita akan berbincang lebih jauh mengenai bisnis ini? Tidak nyaman sekali bicara di depan lift seperti ini,” tanya Seunghyun.

Jessica tertawa sinis. “Menurutmu, akan ada perbincangan? Jangan harap, Choi Seunghyun. Kini semua hal tidak dapat berjalan sesuai dengan keinginanmu.”

Seunghyun mengangkat alisnya. “Benarkah? Kurasa kau harus dapat membedakan masalah pribadi dengan bisnis, Jessica.”

“Ah, begitu? Kurasa kau yang harus mulai belajar kalau di dunia ini tidak ada hal yang murni. Masalah pribadi bisa mempengaruhi bisnis, kau tidak tahu?” balas Jessica. Ia melipat kedua tangannya.

“Bahkan jika penawaran yang kuajukan dapat semakin mendongkrak karirmu?”

“Berada di posisi sekarang yang membuatku bisa memutuskan untuk tidak bekerjasama denganmu dan tentunya itu akan menyulitkanmu, sudah cukup menyenangkan bagiku,” sahut Jessica sambil tersenyum sinis, menekan nada suaranya pada kalimat terakhir. “Kesempatan karir bisa datang lain kali, tapi kesempatan ini akan sangat langka.”

“Jessica Jung yang kuingat adalah wanita pintar yang professional dalam bisnis. Apakah aku salah ingat?” Seunghyun tersenyum tipis.

“Semua orang bisa berubah, dan semua orang bisa menyebabkan orang berubah. Seharusnya kau tahu benar itu, Choi Seunghyun,” Jessica melirik Bom yang berdiri di samping Seunghyun dan tidak berkata apa-apa sejak tadi. “Siapa dia? Pacarmu?”

Bom tersentak kaget, namun segera memberi hormat. “Animnida. Aku rekan kerja Seunghyun-ssi, Park Bom,” Bom mengulurkan tangannya.

Namun Jessica tidak menyambut uluran tangan itu. Ia justru berkata dingin pada Bom. “Aku tidak tahu apa yang membuatmu bisa terjebak bekerja dengan orang seperti ini, tapi kurasa kau harus membujuknya untuk menyerah. Aku tidak akan pernah mau bekerjasama dengan pria ini.”

Bom tercengang mendengarnya. Jessica langsung membalikkan badan dan masuk ke dalam lift.

Seunghyun menurunkan tangan Bom yang masih menggantung di udara. “Jangan masukkan ke dalam hati apa yang dilakukannya. Ia bermasalah denganku, bukan denganmu.”

Bom tersenyum hambar. “Yya, kurasa dia sangat membencimu.”

Seunghyun mengangguk. “Memang. Sudahlah, ayo kembali ke perusahaan. Ini sudah mulai malam, kurasa jalanan akan macet.”

“Tinggal satu hari lagi,” Bom menghela nafas.
***

“Kepala Tim, pihak TaeSung sudah mulai meminta kita menjual kembali saham pada mereka,” ujar Chansung begitu Seunghyun dan Bom memasuki ruangan kerja mereka.

“Dimana letak saham sekarang?” tanya Seunghyun. Yuri yang sedang berada di depan komputer dengan sigap menunjukkan letak saham yang sudah cukup tinggi.

Seunghyun mengangguk-angguk. “Tunggu sampai besok siang. Kalau saham naik sampai titik ini, setujui penjualan,” Seunghyun menunjuk bagian atas grafik. Yuri dan Chansung mengangguk-angguk.

“Kurasa TaeSung Company akan terus membujuk kita untuk menjual saham mereka kembali. Direksi sedang kewalahan karena para pemegang saham terus protes karena banyak saham yang dimiliki pihak luar TaeSung,” timpal Soo Hyun.

“Baguslah. Kalau begitu kita akan dapat menjual kembali saham dengan harga tinggi,” Seunghyun lalu menoleh pada Taecyon dan Yoona. “Dengan dana dari penjualan saham kembali, apa memungkinkan kita untuk melakukan produksi?”

Yoona mengangguk. “Produksi akan memungkinkan, setidaknya bahan baku bisa tertutupi.”

Seunghyun mengangguk-angguk lagi. “Kalau begitu, tinggal melobi pihak DaeHan untuk bekerjasama dengan kita. Kalau penjualan saham lancar, penawaran yang kita berikan bisa semakin tinggi.”

“Bukankah tadi kalian habis melobi pihak DaeHan? Apa tidak berhasil?” tanya Dara menatap Seunghyun dan Bom.

Seunghyun dan Bom saling berpandangan.

Seunghyun lalu menatap anggota timnya dan tersenyum. “Sedang dalam proses, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua pasti berjalan lancar.”

Bom hanya tersenyum hambar mendengarnya.
***

“Yya, bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu di depan anggota tim lain? Jessica-ssi bukan orang yang mudah ditangani, kurasa. Dia benar-benar membencimu!” ujar Bom ketika ia dan Seunghyun tinggal berdua di ruangan. Anggota lain kini sedang membersihkan diri dan siap-siap beristirahat.

“Aku tahu dia memang membenciku. Tapi memang hal ini tidak terlalu perlu dikhawatirkan,” ujar Seunghyun.

“Lalu, apa kau sudah memikirkan apa yang akan kau lakukan? Bagaimana caramu meyakinkan Jessica-ssi untuk bekerjasama dengan kita?”

“Menemuinya. Dan mengajaknya bicara lagi.”

“Yya, cari cara lain. Cara lain!” seru Bom kesal. “Dan, sebenarnya apa yang telah kau lakukan padanya? Jessica-ssi pasti punya alasan bagus mengapa ia sangat membencimu.”

Seunghyun terdiam. Ia menerawang.

“Ah, apa aku menanyakan hal pribadi? Maaf, maaf,” ujar Bom, merasa tidak enak melihat reaksi Seunghyun.

Seunghyun menggeleng. “Ani. Itu bukan hal yang pribadi. Aku hanya merasa itu bukan kesalahan, tapi pada kenyataannya ia membenciku.”

Bom mengangkat alisnya. Tidak mengerti.

“Kami berteman ketika di Amerika. Kami satu kelas dan sering mengerjakan tugas bersama, kami dekat karena hanya kami berdua orang Korea di kelas,” Seunghyun mulai bercerita. “Jessica menyukaiku. Ia begitu sering menunjukkan perasaannya bahkan mengutarakannya padaku, dan aku bilang kalau aku tidak menyukainya juga. Jessica bersikeras kalau ia bisa membuatku menyukainya, tapi aku yakin kalau itu tidak akan merubah apapun. Jadi kubilang padanya tidak usah melakukan hal yang sia-sia.”

Bom terdiam beberapa saat begitu Seunghyun mengakhiri kalimatnya. Ia memandang Seunghyun, menggelengkan kepalanya. “Kau cukup kejam.”

“Yya, mengapa kau bilang begitu juga?” protes Seunghyun. “Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Aku yang paling tahu perasaanku sendiri. Bukankah justru kejam kalau aku bilang ‘baiklah, silahkan coba lakukan sesuatu’ sedangkan aku tahu bagaimana hasilnya?”

“Kau mengatakan hal yang sama pada Jessica-ssi?”

Seunghyun mengangguk.

“Lalu?”

“Dia marah. Dia bilang dia benci padaku. Lalu dia pergi dan kami tidak pernah bertemu lagi,” ujar Seunghyun.

“Kau tidak berusaha menemuinya?”

“Dia selalu menghindar. Aku sudah berusaha mencarinya tapi ia tetap menghindar. Aku memang tidak bisa menyukainya sebagai wanita, tapi aku senang berteman dengannya.”

“Kau tidak meminta maaf?”

Seunghyun mengerutkan kening. “Minta maaf? Mengapa?”

Bom mengangkat alis. “Mengapa? Kau bertanya mengapa?”

“Iya, memangnya mengapa? Aku sudah bilang, aku tidak melakukan kesalahan. Apakah tidak menyukai seseorang dan tidak bisa menerima perasaannya adalah sebuah kesalahan sehingga aku harus minta maaf? Untuk apa aku minta maaf untuk kesalahan yang tidak ada?”

“Yya!” Bom memukul kepala Seunghyun dengan tumpukan berkas yang dipegangnya. “Kau memang pantas dibenci! Kalau aku jadi Jessica-ssi, aku juga akan membencimu setengah mati! Mwo?! Kau tidak merasa harus minta maaf karena itu bukan kesalahan? Kau memang pantas dibenci, pantas dibenci!” Bom lalu memukuli tubuh Seunghyun.

“Yya, yya, hentikan!” Seunghyun mengaduh kesakitan. “Mengapa kau juga jadi seperti ini? Jadi kau juga seperti Jessica, merasa kalau aku salah? Kalau memang hal wajar membenciku sampai seperti itu?”

Bom menghentikan pukulannya. Ia menatap Seunghyun kesal. “Lalu kau merasa kau sama sekali tidak salah?”

“Sudah kubilang kan, memangnya salah kalau kau tidak bisa membalas perasaan orang lain? Perasaan bukan sesuatu yang bisa dikendalikan sesuka hati. Lalu apa aku salah kalau tidak bisa menyukai Jessica?”

Bom menghela nafas kesal. “Yya, ini masalahmu! Memang kau pikir masalahnya hanya sesederhana itu? Hanya soal kau tidak bisa membalas perasaannya? Lalu kau pernah tidak memikirkan dari sisi Jessica-ssi? Hatinya pasti merasa sakit, dan meskipun sedikit, kau turut andil dalam menyakiti hatinya. Tidak bisakah kau minta maaf atas hati Jessica-ssi yang sakit itu?”

Seunghyun mengusap kepalanya yang tidak gatal. “Yya, sudah kubilang berkali-kali, apa tidak bisa membalas perasaannya itu kesalahan? Lalu membuat hatinya sakit karena perasaan yang tidak terbalaskan itu kesalahanku?”

“Ah, benar-benar! Kau benar-benar pria UFO! Coba berpikir dari sudut pandang manusia! Yya, apa kau minta maaf harus karena melakukan kesalahan? Apa kau tidak bisa minta maaf karena merasa tidak enak? Karena simpati? Kau tidak bisa minta maaf karena alasan-alasan tersebut?”

Seunghyun terdiam.

“Coba kau pikirkan. Kau menolaknya, lalu meminta lagi padanya untuk bertemu sebagai teman seperti dulu. Apa menurutmu segala sesuatu bisa seperti dulu lagi, ketika belum ada pengakuan? Kalian tidak pernah bertemu lagi, lalu tiba-tiba kau datang meminta bekerjasama bisnis seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Kau harusnya bersyukur ia tidak menamparmu!”

Bom lalu menghela nafas begitu menyelesaikan ucapan panjang lebarnya. Ia lalu menatap Seunghyun yang masih terdiam. “Aku tidak tahu apakah kau orang yang amat menjunjung tinggi harga diri atau terlalu logis sehingga melakukan apapun harus ada alasannya. Tapi terkadang kita melakukan berbagai hal tanpa alasan yang benar-benar jelas. Begitu juga dengan permintaan maaf.”
***

“Ini hari terakhir kan, Bom-ah?”

Bom menghela nafas mendengar suara ibunya di seberang telepon. “Eomma, ini masih pagi dan itu kalimat pertama yang eomma katakana?”

“Wae? Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Atau kalian akan tetap bekerja di akhir pekan?”

“Eomma!” seru Bom kesal.

“Ah, baiklah. Bagaimana perkembangan perusahaanmu?” tanya Ibu Bom kemudian.

“Kami sedang menunggu beberapa hasil akhir hari ini, Eomma. Eomma, doakan supaya kami berhasil! Aku benar-benar gugup hari ini.”

“Geurom. Aku yakin anakku pasti melakukan yang terbaik,” ujar Ibu Bom. “Tapi, Bom-ah, kau jangan terlalu khawatir dan memaksakan diri. Pilihan ayahmu… tidak terlalu buruk.”

“Mwo?!”

“Yya, anak ini! Kau langsung menaikkan suaramu begitu aku membicarakan hal ini. Dengar dulu apa yang aku bicarakan,” sergah Ibu Bom. Bom berdecak kesal. “Mengapa Eomma jadi ikut-ikutan ingin menjodohkanku? Eomma, apa kau tega kalau aku menikah dengan orang yang tidak aku kenal?”

“Ani, bukan begitu! Kemarin aku sudah bertemu dengan orang itu. Sepertinya ia orang yang baik dan bertanggungjawab. Ia bahkan tampan dan sudah mapan. Tidak ada salahnya kalau—“

“Aahh Eomma, hentikan! Aku tidak mau dengar lagi!” Bom memotong ucapan ibunya.

“Araso, araso. Aku hanya tidak ingin kau terlalu memaksakan diri, Bom-ah,” ujar Ibu Bom.

“Tenang saja, Eomma. Aku menjaga diriku dengan baik. Aku juga tidak akan jatuh sakit,” sahut Bom. Ia lalu terdiam mendengarkan pesan ibunya soal makan dengan baik. “Araso, aku tutup teleponnya sekarang.”

“Bommie-ah, siapa yang akan menikah?”

Bom terlonjak kaget mendengar suara di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati Dara sedang berdiri di belakangnya. “Kukira kau sudah ke ruangan kerja, Dara-ya.”

Dara mengangguk. “Ponselku tertinggal, jadi aku kembali ke kamar ini. Tapi, siapa yang akan menikah?”

Bom menghela nafas. Ia lalu menceritakan secara singkat soal perjanjiannya dengan ayahnya. Mata Dara membesar begitu mendengar cerita Bom.

“Jinjja?! Lalu bagaimana kalau penyelamatan ini—ani, kau benar-benar akan dijodohkan?” pekik Dara kaget.

“Kalau kita benar-benar gagal, itulah yang akan terjadi,” ujar Bom.

Dara menggenggam tangan Bom erat. “Pantas akhir-akhir ini kau semakin panik. Kau pasti sangat khawatir, Bommie-ah. Apa tidak ada hal lain yang bisa dilakukan? Seperti melakukan negosiasi lagi dengan ayahmu?”

“Appa adalah orang yang melakukan apa yang ia katakan. Bahkan tanpa perlu persetujuan dari orang yang bersangkutan,” sahut Bom lesu.

Dara berdecak. “Benar-benar banyak jenis ayah di dunia ini, ya.”

Bom tersenyum mendengarnya. “Kau benar.”

Mereka lalu sama-sama terdiam.

“Dara-ya, kadang aku sangat ingin pergi ke pedesaan atau ke luar negeri supaya jauh dari ayahku,” Bom kemudian memecah keheningan. “Tapi aku tidak pernah benar-benar bisa melakukannya. Ini agak aneh, tapi aku merasa tidak tega meninggalkan ayah dan ibuku di Seoul yang besar ini. Aku anak satu-satunya mereka. Ini tidak berarti aku menyukai ayahku, tapi… ah entahlah.”

“Karena kita tidak bisa memilih siapa orangtua kita, nenekku selalu mengatakan itu. Ayah tetaplah seorang ayah, dan kita hanya punya satu ayah di dunia ini,” sahut Dara.

Bom tersenyum. “Kau benar lagi.”
***

“Apa sudah ada kabar dari kantor?” tanya Bom pada Seunghyun. Kini mereka sedang berada di kafetaria DaeHan Company sambil menunggu kesempatan bertemu dengan Jessica lagi.

Bertepatan dengan itu, ponsel Seunghyun berbunyi. Sebuah pesan masuk.

Kepala Tim, kita berhasil! TaeSung mau membeli saham di titik yang direncanakan oleh kita kemarin. Sekarang tinggal menunggu persetujuan kerjasama dengan DaeHan.

Seunghyun tersenyum lebar membacanya, lalu menunjukkan pesan itu pada Bom. Mata Bom berbinar membacanya. “Ah, leganya! Syukurlah perkara saham itu berjalan lancar!”

Seunghyun mengangguk. “Sekarang tinggal satu langkah lagi.”

Bom mengangguk. Ia lalu teringat sesuatu. “Ah, soal yang aku katakan kemarin. Kurasa aku terlalu kasar bicara padamu. Padahal itu adalah persoalan pribadimu dan aku terus bicara seenaknya. Maafkan aku, Seunghyun-ssi.”

Seunghyun mengerutkan kening. “Mengapa kau meminta maaf? Menurutku kau tidak salah.”

Bom menghela nafas. “Apakah kita harus membahas ini lagi? Bahkan setelah aku minta maaf?”

Seunghyun terdiam.

Bom lalu berdehem. “Bagaimana kalau kita mencari petinggi DaeHan lain? Kurasa aku bisa meminta bantuan pada temanku lagi. Siapa tahu dia bisa memberikan jalan,” ujar Bom, mengalihkan pembicaraan.

Seunghyun tidak langsung merespon. Menyadari Bom berusaha mengusir suasana tidak enak, ia mengangguk-angguk. “Aku juga berpikiran hal seperti itu. Kurasa ada beberapa nama petinggi DaeHan yang kutahu, dan kita harus berusaha keras meyakinkan mereka. Apalagi sekarang kita bisa melakukan produksi walau sebatas bahan baku.”

“Kalau begitu, aku akan menghubungi temanku sekarang. Mungkin saja ia sedang tidak sibuk sekarang,” Bom segera meraih ponselnya.

“Baiklah, kurasa aku juga harus bergerak sekarang,” Seunghyun merapikan berkas-berkas diatas meja dan memasukkannya ke dalam tas.

“Oh benar. Ayo begerak sekarang,” Bom ikut bersiap.

Tapi tangan Seunghyun menahannya. “Hanya aku yang pergi kali ini.”

“Wae?” tanya Bom heran.

“Karena sebelum persoalan bisnis, ada persoalan pribadi yang harus kuselesaikan.”

Bom tersenyum mendengarnya. “Kau pasti bisa melakukannya dengan baik.”
***

Jessica menghentikan langkahnya begitu melihat sosok Seunghyun berdiri di depan ruangan kerjanya. Gadis itu tersenyum sinis. “Sekarang, kau bahkan mau menahanku untuk makan siang?”

“Kalau memang itu diperlukan,” sahut Seunghyun. “Aku sudah berulang kali minta sekretarismu bilang kalau aku ingin bertemu denganmu.”

“Aku tahu. Tapi aku juga sudah berulang kali bilang kalau aku tidak mau bertemu denganmu,” sahut Jessica ketus.

“Baguslah. Berarti kehadiranku termasuk sudah ada pemberitahuan sebelumnya. Jadi kita bisa melanjutkan perbincangan ini di tempat yang lebih nyaman.”

“Tidak ada perbincangan. Kau juga harusnya segera sadar itu,” ujar Jessica.

Seunghyun menghela nafas. “Kau tahu mengapa aku bersikeras ingin bekerjasama dengan DaeHan melaluimu?”

“Karena kau frustasi. Kau tidak bisa melakukan apa-apa lagi kecuali meminta bekerjasama dengan DaeHan dan kebetulan aku bekerja disini.”

Seunghyun menggeleng. “Aku mengenal beberapa orang DaeHan lain selain kau. Tapi aku tetap bersikeras menemuimu.”

Jessica terdiam.

“Seperti yang pernah kukatakan, penawaran yang akan kuajukan ini akan sangat menguntungkan baik bagi pihakku atau DaeHan. Dan dengan melakukan kerjasama melaluimu, namamu akan semakin terangkat dan karirmu akan semakin menanjak di DaeHan. Sebagai petinggi termuda, bukankah itu hal yang menggiurkan?”

Jessica masih terdiam.

“Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Kau teman yang sangat menyenangkan, dan aku tidak mau kehilangan teman seperti itu. Karena itu aku bersikeras menemuimu,” ujar Seunghyun.

 “Setelah semua yang terjadi? Kau bahkan berkata kalau itu bukan kesalahanmu.”

Seunghyun mengangguk. “Itu memang bukan kesalahanku. Perasaan seseorang bukan sesuatu yang bisa diatur sesuka hati.”


“Kau memang tidak berubah, Choi Seunghyun. Ucapanmu bahkan masih persis sama,” Jessica tersenyum sinis. “Kalau begitu, sikapku pun masih sama. Lupakan soal kerjasama ini. Kenaikan karir atau apapun, aku tidak peduli. Silakan cari orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar