Selasa, 22 Desember 2015

UFO Man part 4

sebelumnya maaf ya kalo aku emang ga bisa post cepet atau sering-sering kayak author FF lain. dan ga bisa janjiin juga buat cepet posting juga. semoga readers mengerti dan makasih banyak banyak banyak buat yang masih nunggu plus setia baca FF apalah tau ini~

makasih banyak juga buat komentar-komentarnya, seneng deh bacanya dan ngerasa disemangatin hehehe :D

selamat membaca dan jangan lupa kasih komentar yaa :D
_____________________________________________

main cast : Park Bom & Choi Seunghyun
other       : find it by yourself :) tokoh mungkin bertambah tiap partnya

cerita ini murni fiktif belaka dengan tokohnya saya pinjem para idol~ kalau ada kesamaan nama, alur, dan lokasi; cuma kebetulan yang tidak disengaja :D

and don't do plagiarize. mari hargai karya orang lain :)


“Kepala Tim, saham TaeSung Company sedang berada di bawah,” lapor Yuri. Ia dan Chansung sedang berkutat di depan komputer, mengamati pasar saham.

“Seberapa bawah?” Seunghyun berjalan menghampiri mereka. Yuri menunjuk pada grafik yang ada di hadapannya. Seunghyun mengangguk-angguk.

“Terus awasi, dan laporkan setiap pergerakan saham mereka. Terutama kalau sudah berada di titik ini,” ujar Seunghyun sambil menunjuk bagian bawah grafik. Chansung memandangnya heran. “Kurasa mereka tidak akan sampai berada di titik itu.”

Seunghyun menepuk bahu Chansung pelan. “Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.”

Seunghyun lalu berjalan ke arah Yoona dan Taecyon yang sedang menyusun berkas-berkas produksi. “Apa ada sesuatu yang bisa kita lakukan di produksi?” tanya Seunghyun.

“Bisa, tapi tidak banyak. Kalau kita menggunakan semua aset simpanan dan bahkan menjual properti berharga pun, produksi tidak bisa terlalu maksimal,” Taecyon menjelaskan. Ia lalu melirik dokumen yang ada di tangannya sebentar. “Kecuali kalau kita bekerja sama atau meminta sponsor dari perusahaan lain.”

“Tapi di saat seperti ini perusahaan mana yang mau mensponsori kita?” tambah Yoona, lesu.

Seunghyun mengangguk-angguk, tersenyum. “Aku mengerti.”

Yoona dan Taecyon saling berpandangan, bingung. “Bahkan ia masih bisa tersenyum dengan keadaan seperti ini,” gumam Taecyon sambil geleng-geleng kepala.

Seunghyun tidak mendengar hal itu karena sudah beranjak menghampiri Soo Hyun. “Apa ada sesuatu besar yang terjadi?”

Soo Hyun menggeleng. “Tidak banyak, dan tidak begitu besar. DaeHan Company nampaknya akan merilis produk baru untuk kalangan remaja, tapi entah mengapa ada sesuatu yang membuat hal itu terhambat.”

“Cari tahu apa sesuatu itu,” ujar Seunghyun. Ia lalu merlirik kursi Dara yang kosong. “Dara-ssi kemana?”

“Ia tadi bilang ingin ke kamar kecil sebentar. Tapi, mengapa ia tidak juga kembali, ya?”
***

Bom memeriksa berkas yang ada di tangannya dan memastikan semuanya lengkap. Pagi ini memang gilirannya memesan makan untuk tim, namun berkas yang dibawanya tertinggal di cafeteria. Dan Seunghyun tanpa ampun menyuruhnya segera mengambilnya kembali.

“Kalau ia tidak menyuruhku mengambil berkas di ruangan Manajer Kang sekalian jalan ke cafeteria juga hal ini tidak akan terjadi,” gerutu Bom. “Ia memang kepala tim yang bertanggung jawab, sekaligus tetap menyebalkan.”

Bom segera melangkahkan kaki meninggalkan cafeteria. Sebenarnya sangat nyaman makan disini, karena memang terletak di samping kantor dengan ada taman kecil di dekatnya. Tapi Seunghyun berulang kali mengingatkan kalau waktu mereka sangat terbatas, bahkan untuk sekedar makan di cafeteria.

“Sudah kubilang, jangan pernah datang ke kantor!”

Bom menghentikan langkahnya mendengar suara yang ia kenal. Ia menoleh ke samping taman, dan ternyata ada Dara disitu. Bom mengerutkan kening melihat orang-orang berjas hitam yang ada di sekeliling Dara.

“Maaf, Nona, tapi ini perintah dari Tuan Besar.”

Langkah Bom yang hendak menghampiri Dara langsung terhenti. Nona? Tuan Besar?

Dilihatnya Dara menghela nafas. “Aku tahu, aku tahu! Aku sudah bilang ibu soal menginap seminggu di kantor. Apa itu belum cukup?”

“Bukan begitu, Nona, hanya saja—“

“Jadi kalian sekarang tidak menghormati ibuku? Berarti, kalian tidak menganggapku ada juga?” potong Dara sengit.

Bom yang masih berada di tempatnya berdiri kaget melihat Dara seperti itu. Baru pertama kali ia melihat Dara membentak orang lain.

Orang-orang berjas hitam itu tampak kebingungan dan kehabisan kata-kata. “Ma-maafkan kami, Nona.”

Dara mengibaskan tangannya. “Sudahlah. Kalian pergi saja. Kalian membuatku mengingat hal yang tidak ingin kuingat.”

Orang-orang berjas hitam itu segera menundukkan kepalanya memberi hormat, “Maafkan kami, Nona.” Mereka lalu beranjak pergi.

Dara menghela nafas, lalu membalikkan tubuhnya. Matanya membesar melihat Bom disana, yang masih terpana dengan apa yang terjadi.

Beberapa saat kemudian, Dara tersenyum. “Kau melihatnya?”
***

“Kau pasti kaget,” Dara berucap tenang, lalu meminum kopinya pelan. Kini mereka sudah ada di dalam kantor, duduk di dekat mesin kopi.

Bom mengangguk-angguk. Ia memainkan gelas kertas kopinya. “Sekarang sudah tidak terlalu kaget lagi.”

Dara menerawang. Memandangi langit-langit. “Ayahku pemilik kasino terbesar di Seoul. Ia menikah dengan ibuku yang memiliki tempat karoke. Pasangan yang serasi, bukan?” Dara tersenyum getir. “Dari kecil, aku selalu dijaga ketat oleh orang-orang itu. Karena banyak saingan bisnis Ayah yang tidak segan melakukan cara kotor, seperti menculikku. Dan hal itu memang pernah terjadi sekali, saat aku berusia sepuluh tahun.”

Bom terpana mendengarnya. Dilihatnya Dara yang tampak tenang, dan gadis itu kembali meminum kopinya.

“Aku sangat takut waktu itu, dan sejak saat itu orangtuaku semakin ketat menjagaku,” lanjut Dara. “Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Aku benar-benar sudah baik-baik saja, Bommie-ah. Orang bilang waktu adalah obat terbaik, dan itu memang benar. Sekarang yang lebih menggangguku adalah orang-orang berjas hitam itu yang membuat orang lain memandangku aneh. Tadi saja mereka datang karena ayahku menyuruh pulang dan tidak menginap di kantor lagi. Tiga hari di kantor saja sudah didatangi begitu.”

“Aku memaksa ayahku untuk tidak menempatkan orang-orang itu di dekatku ketika aku lulus SMA. Tapi nyatanya ayahku begitu susah dibujuk, dan baru mengabulkan permintaanku itu ketika aku lulus kuliah. Aku merencanakan semuanya dengan matang. Aku sengaja sekolah di Daegu bersama nenekku dan kuliah di Amerika. Supaya aku bisa memulai hidup baru di Seoul dengan tidak ada siapapun yang mengenalku.”

“Jadi, sekarang orangtuamu ada di Daegu?” tanya Bom.

Dara menggeleng. “Mereka di Seoul. Apakah aku ini aneh? Aku tidak suka mereka, tapi aku tidak bisa membenci mereka. Jadi aku merencanakan untuk hidup di Seoul, supaya bisa melihat mereka sampai seterusnya. Aku pasti sangat aneh.”

Bom menggeleng. “Tidak. Kau sangat keren, Dara-ya. Tidak banyak orang yang bisa sepertimu, kebanyakan akan pergi meninggalkan orangtuanya. Kau melakukannya dengan baik, Dara-ya.”

Dara tersenyum. “Terima kasih, Bommie-ah. Ketika aku bilang aku hanya punya kau sebagai temanku, itu memang kenyataannya.”

“Jadi, hanya aku yang tahu rahasia ini?” bisik Bom sambil mengedipkan sebelah matanya. Dara tertawa kecil dan mengangguk.

Bom mengangguk-angguk. “Oke! Aku akan menjaga rahasia ini dengan baik. Aku penjaga rahasia yang baik, kau harus tahu itu!”

Ponsel Bom berbunyi. Bom melihat nama “Pria UFO” tertera di layar ponselnya dan menatap Dara panik. “Dia pasti akan mengomel!”

“Yeobose—“

“Apa sekarang cafeteria pindah tempat, Bom-ssi?” terdengar suara berat Seunghyun di seberang sana.

“Mianhaeyo, Kepala Tim. Aku akan sampai segera!” Bom langsung menutup teleponnya. Dara memandangnya kaget. “Ya, mengapa langsung kau tutup? Apa dia tidak akan marah?”

Bom bangkit dan menarik tangan Dara. “Ia hanya akan mengomel sebentar, lalu menyuruh kita bekerja lagi.”
***

“Jadi kemana nona-nona ini pergi disaat rekan setim lain sedang sibuk berjuang di Unit Penyelamatan ini?” tanya Seunghyun menatap Bom dan Dara bergantian. Dara melirik Bom, merasa bersalah.

Bom menyerahkan berkas yang ada di tangannnya pada Seunghyun. “Aku tadi mengambil berkas-berkas ini dari cafeteria, lalu bertemu Dara dan ia menceritakan tentang apa yang terjadi dengan DaeHan Company.”

Seunghyun mengangguk-angguk. “Aku tahu itu. Mereka terhambat dalam produksi. Apa ada hal yang belum kuketahui lagi?”

Dara dan Bom bertatapan. Tadi selagi di jalan menuju ruangan ini, Bom memang bertanya pada Dara apa yang terjadi dan bisa menjadi informasi untuk Seunghyun. Untuk alasan, setidaknya. Mereka tidak mungkin menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi tadi.

Bom lalu memandang Seunghyun. “Tentu saja! Kau tidak mengetahui hal pentingnya, Kepala Tim. Mereka terhambat produksi karena data yang mereka miliki kurang. Mereka ingin membuat produk remaja karena remaja memang target yang cukup mudah ditembus, tapi kurang melakukan risetnya.”

Mata Seunghyun membesar. “Benarkah? Apa informasi tersebut valid?”

Bom mengangguk-angguk. “Dara yang memberitahukan padaku tadi. Iya kan, Dara-ya?”

Dara tergagap sesaat, tapi kemudian mengiyakan. “Ne.”

“Kau mendapat informasi seperti itu, Dara-ssi? Mengapa tidak memberitahuku?” tanya Soo Hyun dari mejanya.

Bom merangkul bahu Dara, berusaha menyembunyikan kesalahtingkahan Dara. “Dara baru saja mengetahuinya saat keluar tadi. Lalu ia bertemu denganku, jadi langsung memberitahuku.”

Mereka mengangguk-angguk.

“Kerja bagus, Dara-ssi,” ujar Seunghyun. Ia lalu menatap Bom. “Berkas-berkas ini tentang riset yang pernah dilakukan perusahaan kita, kan?”

Bom mengangguk. “Riset-riset itu cukup detil. Aku tidak mengerti mengapa kita tidak menggunakannya waktu itu.”

Seunghyun menjentikkan jarinya. “Baguslah. Bom-ssi, ayo kita olah lagi hasil riset-riset ini. Kurasa akan sangat berguna.”

“Benarkah? Untuk apa?” tanya Bom tidak mengerti.

Namun Seunghyun tidak menghiraukannya. Ia berkata pada anggota tim yang lain. “Semuanya tetap lakukan pekerjaan masing-masing dan laporkan padaku tiap ada sesuatu yang berarti.”

“Ne!” sahut yang lain kompak.
***

Seunghyun membolak-balikkan kertas yang ada di hadapannya berulang kali. “Aku sudah menemukan polanya, tapi bagaimana menghubungkannya?”

“Ne?” tanya Bom bingung.

Seunghyun menunjukkan kertas di hadapannya pada Bom. “Ini, olahan terakhir dari riset itu sudah ada. Dan ternyata kita punya data lengkap dari riset-riset dari seluruh kalangan, dari anak kecil sampai orang tua. Data mengenai remaja juga kita punya lengkap. Masalahnya, kita belum tahu apa yang benar-benar DaeHan butuhkan.”

“Mereka butuh data tentang remaja, dan kita punya,” sahut Bom. “Lalu?”

Seunghyun menggeleng. “Masih ada yang kurang. Informasi itu kurang spesifik. Soo Hyun-ssi bahkan sudah dapat menemukan hal yang sama dari internet. Kita butuh sesuatu yang lebih spesifik.”

“Caranya?”

“Seperti… bertanya pada orang dalam. Tapi itu membutuhkan waktu lebih.”

“Maksudmu, spionase? Mata-mata?” tanya Bom, kaget sendiri dengan apa yang dipikirkannya.

“Tidak sampai seperti itu, tapi mendekati. Kita harus mencari orang dalam yang bisa memberi informasi spesifik, tapi tentu saja itu butuh waktu,” ujar Seunghyun. “Ya, bukan spionase seperti yang ada di film-film! Memangnya kau kira ini film agen?” Seunghyun menyentil dahi Bom yang masih terpana pelan.

“Ish! Kau menggunakan bahasa formal hanya di depan anggota tim lain,” gerutu Bom sambil mengusap-usap dahinya.

Seunghyun tertawa kecil melihatnya.

“Kepala Tim, saham TaeSung sudah ada di titik yang kau tunjukkan tadi!” seru Chansung.

“Mwo?” Seunghyun langsung bangkit dan menghampiri Chansung. Ia lalu mengangguk-angguk. “Yuri-ssi, gunakan setengah dana simpanan perusahaan untuk membeli saham TaeSung.”

“Mwo?!” kini semua anggota tim berteriak. Kaget dengan keputusan Seunghyun.

“Seunghyun-ssi! Apa yang kau lakukan sekarang? Kita tidak punya cukup dana lagi sekarang!” seru Taecyon.

Soo Hyun mengusap-usap keningnya. “Bunuh diri. Kita bunuh diri.”

“Tidak, kita melakukan hal yang benar,” ujar Seunghyun mantap. “Yuri-ssi, lakukan segera.”

“Ne?” Yuri tampak bingung, tapi Seunghyun mengangguk. “Lakukan segera. Sekarang.”

Yuri masih bingung. Anggota tim lain hanya diam dan saling pandang satu sama lain.

“Sahamnya semakin menurun!” seru Chansung tiba-tiba. Seunghyun kembali memperhatikan grafik di monitor.

“Tunggu sampai lima menit. Jika tidak turun lagi, segera lakukan pembelian saham. Kurasa saham mereka tidak akan lebih rendah dari ini,” ujar Seunghyun pada Yuri.

Lima menit kemudian, Yuri melakukan apa yang diperintah Seunghyun. Anggota lain melihatnya tanpa bisa berkata apa-apa. Wajah mereka khawatir dan panik.

Bom lalu memutuskan untuk menghampiri Seunghyun dan bertanya. “Seunghyun-ssi, apa kau yakin dengan apa yang kaulakukan? Apa ini… tidak apa-apa?”

Seunghyun tersenyum. “Bukan hanya tidak apa-apa. Kita melakukan hal yang benar.”

Bom menatap Seunghyun, tidak yakin.

“Apa kau kira perusahaan besar seperti TaeSung akan lama berada di titik seperti itu? Mereka pasti sedang kalang-kabut bagaimana menaikkan kembali sahamnya. Jadi tenang saja, kita melakukan hal yang benar.”

Bom hanya diam, tidak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba kekhawatirannya meningkat. Dan bayangan ayahnya muncul.

Anggota lain pun masih diam. Masih terlalu shock dengan apa yang baru saja terjadi. Sekarang dana perusahaan mereka semakin menipis, lalu bagaimana?

“Kurasa aku harus mempersiapkan diri mendapat dana tunjangan yang kecil,” gumam Yoona, lalu kembali duduk dan berkutat dengan komputernya.

Taecyon mengangguk-angguk setuju. “Karena sudah terlanjur, mari kita lakukan dengan sekuat tenaga. Mungkin saja ucapan Kepala Tim itu benar. Kurasa bahkan kita sudah tidak punya pilihan kecuali mempercayainya.”

Anggota yang lain pun kembali melakukan pekerjaannya, dengan pikiran yang berkecamuk. Ruangan kembali hening, hanya terdengar suara tuts komputer. Bom juga sudah duduk di sebelah Seunghyun, kembali berkutat dengan berkas-berkas riset.

“Kepala Tim! Saham TaeSung mulai naik!” seru Chansung tiba-tiba.

Seunghyun tersenyum. “Mereka benar-benar kalang kabut rupanya.” Ia lalu berdiri dan mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, yang masih kaget dengan ucapan Chansung. “Jadi, sekarang siapa yang bertugas memesan makan malam?”

Anggota timnya tidak mendengar, karena mereka segera berkumpul di meja Chansung dan Yuri. Menatap grafik yang terus naik.
***

 “Bom-ah, nyanyikan lagu lagi,” ujar Yoona begitu mereka memasuki ruangan yang disulap menjadi kamar sementara. Di ruangan ini ada empat kasur lipat yang disejajarkan, dengan tumpukan koper di sudut ruangan. Ruangan sebelah juga menjadi kamar dadakan, untuk para pria.

“Mwo?” sahut Bom kaget. “Kau mendengarnya?”

Yoona mengangguk. “Sebenarnya semalam aku juga tidak bisa tidur. Jadi ketika mendengarkan nyanyianmu, hatiku terasa lebih tenang dan aku pun tertidur.”

“Aahh aku malu,” Bom menutup wajah dengan kedua tangannya. Kemarin malam Bom memang menyanyikan lagu untuk Dara, karena gadis itu bersikeras tidak bisa tidur dan minta dinyanyikan lagu.

“Ya, mengapa malu? Ia suka dengan nyanyianmu, Bommie-ah,” ujar Dara yang sudah duduk di kasurnya.

“Benar, aku juga menyukainya,” ujar Yuri yang sedang memakaikan krim ke wajahnya.

“Kau juga mendengarnya?” tanya Bom kaget.

Yuri mengangguk. “Semalam entah mengapa aku juga tidak bisa tidur. Hari pertama sangat melelahkan sehingga aku mudah tertidur. Tapi hari kedua entah mengapa aku mulai khawatir mengenai apa yang kita lakukan, apakah benar bisa berhasil atau tidak. Dan aku terus memikirkannya sepanjang malam.”

Yoona menjentikkan jarinya. “Benar! Aku juga merasa seperti itu. Kurasa yang kulakukan hanya itu-itu saja dan tidak ada hal berarti. Baru hari ini terlihat sedikit harapan, meski masih tampak membingungkan.”

“Ada harapan, namun semakin bertambah juga kecemasan apakah harapan tersebut bisa membantu atau tidak,” sahut Bom, lirih.

Yuri dan Yoona mengangguk lesu.

“Ah, suasana apa ini?” seru Dara memecah keheningan. “Lebih baik kita mendengar Bommie bernyanyi lagi. Bukankah itu ide bagus?”

“Benar, hatiku akan lebih tenang mendengarmu bernyanyi, Bom-ah,” ujar Yuri. Yoona mengiyakan.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita bernyanyi bersama? Kurasa itu akan lebih baik,” ujar Bom.

“Baiklah, tapi kau menyanyi awalnya. Nanti kami baru mengikuti,” kata Yoona. Ia lalu merebahkan tubuhnya di kasurnya.

“Hmmm baiklah. Lagu apa yang akan kita nyanyikan?”
***

Bom merapatkan jaketnya ketika dirasakan angin bersemilir dan menerpa wajahnya. Ia tadi sudah sangat mengantuk sampai kemudian ada pesan dari ayahnya.

Tiga hari sudah berlalu.

Hanya empat kata itu, tapi Bom langsung merasa tertekan seketika. Sampai detik ini, ia masih tidak tahu apakah benar-benar berhasil atau tidak. Bom menghela nafas.

“Ada apa dengan helaan nafas berat itu?”

Bom menoleh kaget. Dilihatnya Seunghyun berjalan kearahnya. Mereka sedang berada di pinggir jendela kantor yang terbuka.

“Kau belum tidur?” tanya Bom.

“Harusnya aku yang menanyakan hal itu padamu. Kau belum tidur? Padahal kudengar kalian bernyanyi untuk cepat tidur tadi.”

Wajah Bom memerah. “Kau mendengarnya?”

“Kebetulan aku berada di depan ruangan kalian tadi,” Seunghyun tersenyum. “Tidak buruk. Kalian tidak berniat membentuk girlgrup?”

Bom mengangguk-angguk. “Kurasa itu ide bagus. Mungkin kami akan benar-benar membentuknya ketika perusahaan ini tutup nanti.”

Seunghyun menatap Bom tajam.

“Araso, araso. Aku hanya bercanda,” ucap Bom melihat Seunghyun begitu. “Selalu ada jalan keluar, kan? Aku tahu. Lagipula memangnya girlgrup terbentuk dalam waktu sehari? Kalau iya, aku sudah menjadi bagian dari mereka sejak dulu.”

Seunghyun mengangkat alisnya. “Kau ingin jadi girlgrup?”

Bom tertawa kecil mendengarnya. “Ani. Kau menganggapnya serius? Tentu saja tidak.”

Seunghyun mengangguk-angguk. Ia lalu bertanya lagi. “Atau, kau ingin jadi penyanyi?”

Bom terdiam seketika. Wajahnya tampak berubah. “Ani.”

Seunghyun menyadari perubahan raut wajah Bom. “Kalau begitu, nyanyikan satu lagu untukku. Seperti yang kau lakukan untuk Dara,” ujar Seunghyun sambil tersenyum.

“Mwo? Kau mendengarnya juga?” tanya Bom kaget.

Seunghyun mengangkat bahu. “Terdengar begitu saja. Kemarin malam kebetulan aku juga tidak bisa tidur dan lewat depan ruangan kalian. Jadi sekarang nyanyikan satu lagu untukku.”

“Shireo!” tolak Bom. “Mengapa aku harus menyanyikan untukmu? Itu akan sangat aneh.”

“Wae? Kau menyanyikan untuk Dara.”

“Itu karena dia temanku. Dan dia wanita,” ucap Bom asal. Ia benar-benar tidak mau melakukan hal itu di depan Seunghyun saat ini.

“Memangnya kenapa kalau pria? Aku sering melihat wanita bernyanyi untuk pria juga,” bantah Seunghyun.

“Kau pasti tidak tahu karena terlalu lama berada di Amerika, mereka bernyanyi karena pria itu pacarnya. Apa kau pacarku?” sahut Bom.

“Ah, harus pacar?” Seunghyun tampak berpikir. Ia lalu menjentikkan jarinya “Kau bernyanyi di sanggar!”

“Ya, itu karena aku mengajar anak-anak. Mana ada orang yang mengajar bernyanyi tidak menyanyi?”

“Ah, begitu,” Seunghyun mengangguk-angguk. “Kalau begitu, aku akan belajar menyanyi darimu nanti di sanggar.”

“Ya! Jangan coba-coba—“ Bom lalu menghentikan ucapannya. Sadar kalau orang macam Seunghyun tidak akan mempan dilarang.

Bom lalu memandangi jalanan Seoul. “Apa ada hal lain yang bisa kita lakukan selain pembelian saham itu?” Bom tiba-tiba kembali teringat dengan isi pesan ayahnya.

“Ada. Yang kubilang tadi, bertanya pada orang dalam DaeHan. DaeHan sebenarnya bisa jadi peluang besar untuk kita.”

“Benarkah? Bagaimana?” Bom menoleh pada Seunghyun.

“Kalau kita tahu dan punya apa yang mereka butuhkan, kita bisa menawarkan kerjasama pada mereka. Bisa kerjasama dalam bentuk besar bahkan,” ujar Seunghyun. “Karena itu, orang dalam yang mengetahui spesifik keadaannya sangat kita butuhkan.”

Bom terdiam, tampak menimbang sesuatu.

“Ada apa? Kau memikirkan sesuatu?” tanya Seunghyun.

“Mmm… iya. Sebenarnya ada hal yang ingin kusampaikan padamu, tapi aku hanya akan menyampaikannya kalau kau janji tidak bertanya,” ucap Bom. Ia menunduk dan memillin-milin ujung jaketnya.

“Bertanya apa?”

“Bertanya mengapa aku melakukannya.”

Seunghyun terdiam. “Apakah ini hal penting?”

“Kurasa… iya.”

“Baiklah. Aku tidak akan bertanya.”

Bom mendongak, menatap Seunghyun. “Soal informasi mengenai DaeHan, yang mereka terhambat karena kurang memiliki data, kubilang aku mengetahuinya dari Dara. Sebenarnya, aku mengetahuinya dari temanku.”

Bom menunggu reaksi dari Seunghyun. Tapi pria itu masih diam, menunggu Bom menyelesaikan penjelasannya.

“Kemarin, temanku mengeluh soal pekerjaannya, dan kami memang cukup dekat. Ia lalu menceritakan soal yang terjadi di DaeHan. Aku tidak bertanya lebih jauh karena kupikir tidak ada hubungannya denganku. Lalu Dara cerita soal DaeHan yang terhambat itu, sama seperti yang disampaikan Soo Hyun-ssi. Informasi lain aku dapat dari temanku itu.”

Seunghyun mengangguk-angguk. “Kau pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu. Seperti yang kujanjikan, aku tidak akan bertanya.”

Bom tersenyum. “Terima kasih.”

“Jadi, kau dan orang DaeHan itu berteman dekat?”?

Bom mengangguk.

“Kita bisa bertanya melalui dia?”

Bom mengangguk. “Eh, tapi apakah itu akan buruk? Maksudku, bertanya pada temanku, apakah aku akan seperti mata-mata? Nanti kami…,” ucapan Bom menggantung.

“Tidak. Kurasa kau akan tetap dapat berteman baik dengannya. Kita bukan akan merebut perusahaannya, kan?”

Bom mengerutkan kening.

“Kita akan bekerja sama dengan mereka, yang berarti mereka juga diuntungkan. Tapi kenapa aku ingin bertanya dengan orang dalam? Karena mereka sekarang sedang sibuk kalau untuk kita tanyai dari awal, terlebih kondisi perusahaan kita membuat orang memandang rendah duluan. Jadi lebih baik tanya dulu bagaimana keadaannya, dan ketika sudah jelas baru kita mengajak mereka bekerjasama.”

“Oh begitu,” Bom mengangguk-angguk. “Berarti temanku juga akan tertolong dengan masalahnya, ya.”


Seunghyun mengangguk. “Kita akan sama-sama tertolong,” Seunghyun memegang kedua bahu Bom, dan tersenyum hangat. “Jadi tenang saja, perusahaan ini pasti akan tertolong. Kita pasti mendapat jalan keluar.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar