Selasa, 22 Desember 2015

UFO Man part 3

seneng deh banyak yang baca FF ini :D semoga readers tetep betah bacain FF ini yaa hehe

selamat membaca dan jangan lupa kasih komentar yaa :)
_________________________________________________________________________

main cast : Park Bom & Choi Seunghyun
other       : find it by yourself :) tokoh mungkin akan bertambah tiap part nya

cerita ini murni fiktif belaka dengan tokohnya saya pinjem hehe. kalau ada kesamaan nama, alur, dan lokasi; cuma kebetulan yang tidak disengaja :D


Jiyong, Taeyang, Minji, dan Chaerin menatap Bom dan Seunghyun bergantian.

Bom menghela nafas. "Ya, kami rekan sekantor."

“Teman sekantor?” Jiyong mengerutkan kening. “Kalian baru kenal di kantor?”

Bom mengangguk, sedangkan Seunghyun menggeleng.

“Mwoya? Unnie, mengapa kau membuat kami bingung?” protes Minji melihat dua jawaban yang tidak kompak itu.

“Kami memang kenal di kantor. Aku juga tidak mengerti mengapa ia menganggap bukan begitu,” sahut Bom, menatap Seunghyun kesal. Persoalan mengenai kenal-tidak ini selalu jadi hal yang menyebalkan, gerutu Bom dalam hati.

“Kalian tampak lebih dekat dari sekedar kenal di kantor,” ujar Chaerin.

"Lebih dekat apanya?" tanya Bom setengah kesal. Mengapa semua orang menganggap ia dan pria UFO itu berteman dekat?

“Seunghyun baru pindah ke kantornya beberapa hari, tapi cara Seunghyun menyapamu seperti teman yang sudah lama kenal,” Jiyong menjelaskan. “Ia bahkan menggunakan banmal. Seperti padaku dan Taeyang.”

"Kami memang sudah kenal sebelum bertemu di kantor," ujar Seunghyun. Bom melotot mendengarnya. Pria UFO ini bicara sesuka hati lagi!

"Aniya, kami baru kenal di kantor," sergah Bom cepat. "Dan jangan bahas ini lagi! Ahh, pembicaraan mengenai hal ini selalu mengesalkan!” gerutu Bom kesal. Ia lalu bangkit dari duduknya.

“Apa kalian tidak lapar? Ayo cepat siapkan makan!” Bom membalikkan tubuhnya dan melangkah ke belakang.

Chaerin menatap Seunghyun sekilas, bingung. Tapi kemudian tetap mengikuti langkah Bom. Minji mengekor mereka berdua.

Jiyong menyenggol Seunghyun. "Ya, kau punya pandangan yang bagus! Kau baru sampai di Korea dan bergerak sungguh cepat,” goda Jiyong. Seunghyun tersenyum kecil, dan memandangi Bom yang semakin lama tampak semakin mengecil.

"Jadi, sebenarnya kau sudah lama mengenal Bom atau bagaimana?" tanya Taeyang penasaran.

"Kami memang belum berteman dekat, tapi sudah kenal sebelum bertemu di kantor," jawab Seunghyun. Taeyang melongo, tidak mengerti maksud Seunghyun. Ia lalu memandang Jiyong, meminta penjelasan.

Jiyong mengangkat bahu. "Kau tahu kan dia memang begitu."
***

Bom merenggangkan tubuhnya perlahan. Ia habis mengikuti kelas menari Chaerin dan Minji. Dua gadis itu memang yang bertanggung jawab dalam mengajar menari, dan Bom sesekali ikut menari bersama anak-anak kecil itu. Bom memang bersuara indah dan jago main gitar, tapi sama sekali tidak bisa menari. Di sanggar mereka, tidak ada kebakuan seseorang hanya mengajar satu hal dan para pengajar boleh belajar hal-hal yang ada disitu.

Bom melangkah ke halaman belakang sanggar, ketika dilihatnya banyak anak-anak bergerombol disitu. Ia mengerutkan kening melihat ternyata anak-anak itu sedang menatap kagum pada Seunghyun. Kini Seunghyun dan Jiyong sedang duet rap sambil sesekali Seunghyun menyelipkan beatbox. Mata Bom membesar melihatnya.

Pria UFO itu, bisa melakukan hal keren seperti ini? Gumamnya dalam hati, tanpa sadar.

Pertunjukan berakhir. Anak-anak yang menonton langsung bertepuk tangan, bahkan ada yang bersorak-sorai girang. Bom tersenyum kecil melihatnya. Pertunjukan tadi memang keren. Bom bertepuk tangan kecil, lalu berlalu dari tempat itu.

Bom berjalan ke bagian halaman yang agak sepi, lalu duduk di sebuah bangku yang ada di sana. Menyandarkan tulang punggungnya yang masih terasa pegal sehabis menari tadi. Bom mendongakkan kepalanya, menatap langit yang sedang cerah.

“Ahh, nyamannya!” ujar Bom sambil tersenyum.

“Memang nyaman disini.”

Bom terlonjak kaget mendengar suara berat di sampingnya. Ia menoleh cepat, dan mendapati Seunghyun sudah duduk di sampingnya.

“Yak! Mengapa kau ada disini juga?!” seru Bom kaget.

Seunghyun menunjuk tempat ia tadi melakukan pertunjukan kecil bersama Jiyong. “Ini dekat dengan tempatku tadi. Tempat kau menontonku.”

Mata Bom membesar. “Kau melihatku?”

Seunghyun mengangguk. “Tentu saja. Kau tersenyum,” Seunghyun tersenyum saat mengucapkannya.

“Itu bukan hal yang langka, kurasa,” ujar Bom heran. Bom memang bukan tipe orang yang pelit senyum atau bermuka masam, jadi menurutnya tersenyum bukan hal yang aneh.

Seunghyun menggeleng. “Itu pertama kalinya kau tersenyum melihatku.”

Bom mengerutkan kening. Seunghyun menunjuk kerutan kening Bom dengan jari telunjuknya. “Biasanya kau selalu berkerut seperti ini kalau melihatku. Atau menggerutu.”

Bom terdiam beberapa saat ketika jari telunjuk Seunghyun berada di keningnya. Ketika tersadar, ia langsung mundur dan berdecak kesal. “Itu karena kau selalu melakukan hal-hal aneh. Seperti yang barusan kau lakukan!”

“Kurasa aku harus melakukan pertunjukan seperti tadi lagi,” ujar Seunghyun, menatap Bom. “Supaya kau tersenyum lagi.”

Bom mengibaskan tangannya. “Tidak perlu! Kau tidak sadar bagaimana anehnya orang rap di depan satu orang saja? Apalagi beatbox juga,” Bom lalu menggerutu pelan. “Sudah menggunakan banmal, menunjuk keningku, dan sekarang mau rap di tempat sepi ini?”

“Kau juga sekarang menggunakan banmal,” ujar Seunghyun yang ternyata mendengar gerutuan Bom. Bom mendelik. “Bagaimana mungkin aku terus menggunakan bahasa formal sedangkan kau terus-terusan menggunakan banmal padaku?”

Seunghyun mengangguk-angguk. “Benar juga. Lagipula, seperti ini lebih nyaman.”

“Nyaman apanya? Aku tidak pernah merasa nyaman,” Bom menggerutu lagi.

Seunghyun menyandarkan tubuhnya ke bangku. Menatap langit. “Kau sudah lama disini?”

“Lumayan, sudah sekitar dua tahun,” sahut Bom pendek. Ia sedang mencari-cari waktu dan kalimat yang tepat untuk segera pergi dari tempat ini.

“Ini memang tempat yang sangat menyenangkan dan menenangkan. Menikmati weekend disini sebelum bekerja keras seminggu kedepan memang pilihan yang bagus,” ujar Seunghyun.

Pilihan yang bagus, sebelum kau datang dan menghancurkannya! Seru Bom dalam hati.

“Dulu sebelum ke Amerika, aku sering kesini. Baru ada Jiyong dan Taeyang disini, kami bertiga teman dekat dari SMA. Sekarang sudah sangat ramai, pengajarnya pun bertambah,” Seunghyun berkata panjang lebar. Masih menatap langit. Ia lalu menoleh pada Bom. “Dan ternyata bertemu kau juga disini. Sungguh kejutan yang menyenangkan.”

Bom hanya terdiam. Dan tentu saja tidak mengiyakan ucapan Seunghyun. Ia balik menatap Seunghyun. “Kau, berkata apa yang ingin kau katakan, ya.”

“Mwo?” Seunghyun mengerutkan kening. Kerutan pertama ketika bicara dengan Bom, karena biasanya Bom yang mengerutkan keningnya.

“Kau bicara sesukamu, berkata apa yang memang ingin kau katakan,” ujar Bom. Ia lalu bangkit dari duduknya. “Sampai bertemu hari senin, Kepala Tim.”
***

Bom menghela nafas memandang kantor di hadapannya. “Waktu benar-benar berjalan begitu cepat,” gumamnya. Sekarang hari senin, dan ia membawa koper besar untuk keperluannya selama seminggu disini. Semalam, ia benar-benar ‘berperang’ dengan ayahnya.

“Untuk apa kau sampai menginap di kantormu? Apa dengan itu kantor yang bangkrut itu akan selamat hanya dengan menginap disana seminggu?” ujar ayahnya enteng. Bom hanya terdiam. Tangannya sudah gemetar menahan marah, mendengar ayahnya bicara hal serupa sejak sejam yang lalu.

“Bahkan mau menginap setahun pun kantor itu tetap akan bangkrut. Percuma saja,” lanjut Ayah Bom sambil membalik halaman koran.

“Bagaimana kalau berhasil?” ujar Bom, akhirnya. Ibu Bom mendongak kaget, buru-buru mengisyaratkan anaknya itu untuk diam.

Gerakan tangan Ayah Bom terhenti. “Mwo?”

“Bagaimana kalau ternyata berhasil? Appa akan melakukan apa?” Bom melanjutkan ucapannya. Sudah kepalang.

Ayah Bom menatap anaknya, lalu mengangguk-angguk. “Kalau berhasil ya,” Ayah Bom mengusap dagunya pelan. “Kalau berhasil, kau lakukan apa yang ingin kau lakukan. Kalau berhasil,” ujar Ayah Bom penuh penekanan pada kalimat ‘kalau berhasil’.

Bom terdiam. Suasana saat ini di ruang tamunya cukup mencekam. Ibunya juga tidak berani berkata apa-apa.

“Tapi karena kesepakatan ini sudah dibuat, tidak adil kalau tidak ada persyaratan dariku juga,” ucap Ayah Bom. Bom mendongak kaget.

“Kalau dalam seminggu ternyata yang dilakukan kantormu itu sia-sia, dan tetap saja bangkrut, maka kau lakukan apa yang kuinginkan,” lanjut Ayah Bom.

Bom langsung merinding mendengarnya. Apapun itu, pasti bukan hal baik.

Ayah Bom menghela nafas. “Kau, menikahlah! Aku pusing melihatmu tidak jelas dengan kantormu yang tidak jelas atau dengan musik yang tidak jelas itu.  Kalau tidak berhasil, kau menikah dengan orang yang kupilihkan! Dengan begitu, kurasa aku akan lebih tenang.”

Bom menghela nafas lagi mengingat ‘kesepakatan’-nya dengan ayahnya semalam. Ia belum punya hal yang benar-benar ingin ia lakukan sekarang, tapi ia juga tidak ingin menuruti perintah ayahnya itu. Ia menatap kantornya sekali lagi.

“Kau sudah datang?”

Bom menoleh. Dilihatnya Seunghyun sudah berdiri di sampingnya.

“Soal yang kemarin itu, soal berkata apa yang ingin kukatakan…,” Seunghyun mengusap kepalanya. “Aku tidak tahu harus bagaimana. Apa aku harus minta maaf? Tapi kurasa itu bukan hal yang harus dimintai maaf. Apa kau bisa mengatakan padaku aku harus bagaimana?”

Bom mengerjapkan matanya. Kaget dengan ucapan Seunghyun pagi-pagi begini.

“Tapi kalau ternyata hal itu menyakitimu, aku akan minta maaf. Sungguh! Kau hanya perlu bilang aku harus bagaimana,” lanjut Seunghyun.

“Hmph,” Bom hendak tertawa, tapi kemudian menahan tawanya melihat raut wajah Seunghyun yang cukup serius. “Kenapa harus minta maaf? Aku tidak bilang itu hal yang buruk.”

Seunghyun menghela nafas lega. “Benarkah? Ah, aku sungguh lega. Aku tidak bisa tidur semalam karena memikirkan hal ini.”

Bom geleng-geleng kepala. “Hal seperti itu kau pikirkan? Seharusnya kau memikirkan bagaimana nasib perusahaan kita!” Bom menatap Seunghyun. “Apa kau yakin kita akan berhasil?”

Seunghyun mengangguk cepat. “Tentu saja! Sudah kubilang pasti ada jalan keluar.”

Bom mengangguk-angguk. “Kalau begitu, ayo lakukan dengan benar.”

Seunghyun menatap Bom, kaget. “Kau sekarang percaya padaku?”

Bom menggeleng. “Bukan percaya padamu, tapi aku sekarang tidak punya pilihan lain selain melakukan hal ini. Jadi kau harus berhasil.”

“Kita akan berhasil. Kita akan melakukannya bersama,” ujar Seunghyun, tersenyum manis.

Mwo? Apa yang kupikirkan? Manis?!

“Anyeooooooooong! Kalian juga sudah datang!” seru Dara yang berlarian kecil dengan koper besar di tangannya.

“Ya, Dara-ssi! Apa kau akan berlibur ke Hawaii?” tanya Chansung, yang ternyata sudah berada di dekat mereka.

“Memangnya apa yang salah? Ini kan persiapan untuk seminggu,” Dara membela diri. Tak lama, Yuri dan Yoona datang dengan ukuran koper yang sama besarnya dengan Dara dan Bom.

“Aigoo… para wanita ini mengira akan liburan ya,” Kim Soo Hyun geleng-geleng kepala melihat koper para wanita yang memang besar-besar. Ia datang bersama Taecyon.

“Benar, padahal kita akan berpusing ria disini,” tambah Taecyon.

Seunghyun tersenyum melihat tim nya sudah berkumpul. “Unit Penyelamatan sudah berkumpul semua? Baguslah!”

“Ah, aku masih merasa nama itu terdengar aneh,” Yuri mengusap kepalanya pelan. Bom langsung mengiyakan. Begitu juga yang lain.

Tapi Seunghyun tampak tidak peduli. “Karena kita semua sudah berkumpul disini, bagaimana kalau melakukan fighting bersama?” Seunghyun meletakkan tangannya di tengah.

“Mwo? Di depan kantor seperti ini?” pekik Bom.

“Ah, itu memalukan,” Yoona menutup wajahnya.

“Benar, kurasa lebih baik kita segera masuk,” ujar Kim Soo Hyun.

“Aigoo… banyak orang yang melihat kita,” Dara melihat sekeliling. Yuri mengiyakan. “Kita pasti sudah terlihat aneh dengan membawa koper besar seperti ini.”

Satu demi satu, mereka berjalan menuju pintu masuk perusahaan. Meninggalkan Seunghyun sendirian.

Chansung menepuk bahu Seunghyun pelan. “Sebaiknya kita segera bekerja, Kepala Tim. Waktu kita tidak banyak, kan?”
***

“Yang akan kita lakukan bukan hal baru sebenarnya. Kita akan membeli sesuai dengan kemampuan kita dan menjual sesuai dengan kemampuan kita,” Seunghyun menggores spidol di atas papan tulis. Ia lalu menatap anggota timnya. “Dan pada saat yang tepat.”

“Tapi, apakah kita masih bisa membeli sesuatu? Keuangan kita sudah benar-benar menipis,” ujar Soo Hyun.

“Perusahaan ini punya dana cadangan, kan? Yuri-ssi, bisa kau berikan laporan dana itu padaku setelah ini?” tanya Seunghyun. Yuri mengangguk, lalu cepat menulis di agendanya.

“Yang lain, lakukan tugas masing-masing seperti yang sudah kubilang kemarin. Kalian masih ingat bagian masing-masing, kan?” Seunghyun menatap anggota timnya satu persatu. Mereka mengangguk.

“Dan tambahan. Setiap bagian harus mengawasi pergerakan perusahan besar seperti DaeHan Company dan TaeSung Company. Awasi baik-baik saham, produksi, dan event yang mereka lakukan baru-baru ini. Jika ada hal signifikan, seperti saham mereka jatuh atau produksi melemah, segera kabarkan aku,” tambah Seunghyun.

“Apa kita akan bekerja sama dengan mereka?” tanya Yoona.

“Hal itu bisa saja terjadi, tergantung bagaimana keadaan nanti dan apa yang kita miliki untuk bekerja sama dengan mereka. Untuk sekarang, lakukan bagian masing-masing dengan teliti. Jangan sampai ada detil yang terlewat. Tugas yang kita lakukan bisa berubah sewaktu-waktu, sesuai dengan keadaan. Aku harap kita semua siap menghadapi perubahan-perubahan mendadak,” ujar Seunghyun. “Dan kuharap kalian bisa segera beradaptasi dengan partner masing-masing. Aku membuat partner itu sudah melihat kapasitas masing-masing, jadi akan memudahkan satu sama lain. Waktu kita sangat singkat, jadi kuharap tidak ada konflik internal. Jika merasa kurang nyaman dengan partnernya, terima dan jalani saja.”

“Kurasa yang harus segera beradaptasi adalah Kepala Tim kita dengan nona cantik yang satu ini,” ujar Chansung pelan sambil menyenggol Bom yang ada di sebelahnya. Yang lain tertawa pelan. Memang benar, yang paling dikhawatirkan sebenarnya Bom dan Seunghyun yang sering ‘berkonflik’ dari awal.

Bom menghela nafas. “Aku akan melakukannya dengan baik, tenang saja.”

Seunghyun yang berada di depan papan tulis dan agak jauh dari mereka tidak mendengar hal itu. Ia kembali melanjutkan ucapannya. “Karena waktu terbatas, kita harus benar-benar memaksimalkan apa yang kita bisa. Untuk makan, kita akan selalu delivery. Tidak ada yang keluar kantor kecuali keperluan Unit Penyelamatan ini. Waktu bekerja dari pukul 07.00 pagi sampai 01.30 pagi. Kita akan tidur selama 5 jam sehari dan waktu tidur itu harus benar-benar dimaksimalkan supaya pekerjaan optimal.”

Anggota timnya saling pandang. Taecyon menghela nafas. “Aku merasa sedang berada di kamp militer.”

 “Sekarang, mari kita mulai bekerja. Ingat, waktu kita terbatas! Aku tutup pertemuan kita kali ini,” ujar Seunghyun. Anggota tim bubar, segera berada di posisi masing-masing dan melakukan apa yang dikerjakan Seunghyun.

Bom berjalan menghampiri Seunghyun. “Apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Bawa semua dokumen riset yang pernah dilakukan perusahaan ini, yang waktu itu pernah kau berikan padaku. Kumpulkan semuanya di mejaku,” ujar Seunghyun. “Kita akan memilah mana yang bisa digunakan dan mana yang tidak.”

“Kita akan menggunakannya untuk produksi?” tanya Bom. “Kurasa produksi sulit dilakukan sekarang.”

“Tidak. Kita akan menjualnya.”
***

“Bom-ah, kau sudah makan?” tanya Ibu Bom di seberang telepon. Bom mengangguk. “Sudah, Eomma. Aku makan tiga kali sehari dengan gizi lengkap, tenang saja,” ujarnya sambil tertawa kecil. Berusaha tidak membuat ibunya khawatir.

“Baguslah. Ingat, makan adalah yang terpenting. Kalau kau tak makan—“

“…otakmu tak bisa berjalan. Aku tahu, Eomma,” potong Bom. “Eomma belum tidur? Ini kan sudah sangat larut,” tanya Bom sambil melirik jam tangannya. Pukul 01.40 dini hari.

“Bagaimana aku bisa tidur memikirkan anakku yang nakal ini?” gerutu ibunya. Bom tertawa kecil mendengarnya.

“Aigoo… kau bahkan masih bisa tertawa di saat seperti ini? Mengapa juga kau harus mencari mati dengan membuat kesepakatan dengan ayahmu itu?” ujar Ibu Bom kesal.

“Gwenchana, Eomma,” sahut Bom. Ia memainkan pulpen diatas meja kerjanya. “Semua ini akan teratasi dengan baik. Eomma tidak usah khawatir.”

“Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Setelah yang kau lakukan itu, aigoo!” ujar Ibu Bom. “Lagipula apa yang ada di pikiranmu sampai kau berani melawan ayahmu?” lanjut Ibu Bom, kini dengan suara yang mengecil.

Bom tertawa kecil lagi. “Entahlah, Eomma. Kurasa aku sangat marah kemarin. Tapi, bukankah aku sangat keren saat itu?” Bom mengernyit mendengar ibunya mengomel di seberang sana. “Araso, araso. Aku akan melakukan dengan baik, jangan khawatir. Sekarang tidurlah, ini sudah sangat larut, Eomma.”

Bom mengangguk-angguk mendengar ibunya kembali menasehati soal makan. “Jalja, Eomma!” ujarnya kemudian sambil menutup telepon. Bom memandangi ponselnya, dan tanpa sadar menghela nafas. Ia juga sebenarnya sangat khawatir mengenai kesepakatan dengan ayahnya itu, tapi berusaha untuk tampak tenang di hadapan ibunya.

Bom menoleh ke sekeliling ruangan kantornya. Kini semua orang sudah pergi, kecuali Seunghyun yang masih berkutat di meja kerjanya.

“Kau tidak istirahat, Kepala Tim?” tanya Bom. Seunghyun mengangkat kepalanya. “Kau duluan saja. Masih ada beberapa hal yang harus kukerjakan,” ujarnya lalu kembali menekuri tumpukan dokumen laporan kerja anggota timnya hari ini.

Bom menatap Seunghyun lekat. Seharian ini, tim mereka bekerja dengan hectic. Benar-benar dikejar waktu. Seunghyun sebagai kepala tim pasti merasa bertanggung jawab lebih besar, Bom melihat seharian ini begitu banyak yang dilakukannya sampai pria itu bahkan tidak makan malam.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya Bom lagi.

Seunghyun mengangkat kepalanya lagi. Menggeleng tegas. “Kau tidurlah sekarang. Besok banyak yang harus kita kerjakan.”

Bom mengangguk. Sadar kalau kepala timnya itu sudah tidak bisa dibantah lagi. Gadis itu lalu mengambil sekotak susu yang dibawanya dari rumah. Ibunya membawakan persediaan susu satu dus untuk satu minggu.

Bom lalu bangkit dan menghampiri meja Seunghyun. Ia meletakkan susu itu di atas meja Seunghyun. Seunghyun mengangkat kepalanya, kaget.

“Aku tidak tahu apa kau suka susu atau tidak, tapi itu bagus untuk stamina. Apalagi kau tidak makan malam tadi. Kita kan tetap butuh energi untuk mengerjakan pekerjaan berat ini,” ujar Bom. “Kuharap kau ingat ucapanmu sendiri soal pentingnya istirahat. Aku duluan, Seunghyun-ssi.”

Bom membalikkan tubuhnya menuju pintu keluar. Baru beberapa langkah, ia mendengar Seunghyun memanggilnya. Bom menoleh lagi.

“Bom-ssi,” pria itu mengangkat kotak susu yang diberikan Bom. “Terima kasih untuk ini. Dan ini pertama kalinya kau menyebut namaku. Aku sangat senang,” ujar Seunghyun sambil tersenyum lebar.

Bom mengangkat bahunya, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Ia tersenyum.

“Pria itu benar-benar mengatakan apa yang ingin ia katakan.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar