Selasa, 22 Desember 2015

UFO Man part 2

aneh kah FF ini? hehe. semoga readers tetep betah bacanya dan bisa menghibur yaa :)

selamat membaca :D
___________________________________________________________________

main cast : Park Bom & Choi Seunghyun
other       : find it by yourself :) tokoh mungkin akan bertambah tiap part nya

cerita ini hanya fiktif belaka dengan tokohnya saya pinjem artis-artis korea. kalau ada kesamaan nama, alur, lokasi; cuma kebetulan yang tidak disengaja :D


Dara menatap Bom dan Seunghyun bergantian. Karena mereka ada di divisi yang sama, Dara pun ikut bersama Bom memberi tahu mengenai keadaan perusahaan mereka. Lebih tepatnya, Dara hanya ingin ikut mengobrol dengan mereka. Daripada tidak ada kerjaan.

“Jadi, kalian kenal dimana?” tanya Dara.

Bom mengangkat wajahnya dari tumpukan berkas yang ada di hadapannya, dengan wajah lelah. “Sudah kubilang kami tidak saling mengenal, Dara-ya.”

Dara mengerutkan kening. “Tapi tadi Seunghyun-ssi bilang kalau kalian saling mengenal,” ujar Dara, melirik Seunghyun yang duduk di sebelah Bom dan sedang fokus dengan dokumen-dokumen di hadapannya.

Seunghyun mengangkat wajahnya. Ia mengangguk. “Kami bertemu di halte bus.”

“Dan mana bisa itu disebut saling mengenal?” sambung Bom segera. Seunghyun menatapnya, hendak bicara lagi ketika Bom segera mengangkat tanganya kesal.

“Sudah, sudah! Daripada membahas omong kosong ini, lebih baik kau beritahu pada kami apa rencanamu dengan kantor yang mau bangkrut ini? Apa memang ada harapan?”

Seunghyun mengalihkan pandangannya ke tumpukan berkas di hadapannya. Seperti berpikir keras.

Bom menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sudah kuduga. Keadaannya terlalu sulit.”

“Keaadan sulit bukan berarti tidak ada jalan keluar,” sergah Seunghyun, menatap Bom lagi.

“Lalu apa jalan keluarnya?” tantang Bom.

Dahi Seunghyun berkerut. “Aku juga belum menemukannya, tapi kurasa akan muncul sebentar lagi.”

Bom kemudian menatap Dara dengan tatapan pesimis. “Kurasa kita memang harus segera mencari pekerjaan baru.”

“Andwae!” sergah Seunghyun cepat. Ia bahkan sampai berdiri dari kursinya. Bom dan Dara kaget melihat reaksi Seunghyun.

“Sudah kubilang pasti ada jalan keluar!” lanjut Seunghyun lagi, masih berdiri. Bom dan Dara saling bertatapan. Pegawai lain yang berada di ruangan itu pun menghentikan kegiatan dan menatap Seunghyun. Dalam diam.

Ruangan hening beberapa saat.

“Dimana kamar mandi?” tanya Seunghyun, memecah keheningan.

“Ne?”

“Dimana kamar mandi?” ulang Seunghyun.

“Dari pintu itu, kau belok kanan,” jawab Dara cepat. Seunghyun mengangguk dan berjalan keluar.

“Mwoya?” pekik Im Yoona. Terpana dengan apa yang dilihatnya barusan.

“Apa yang dia lakukan?” tanya Kim Soo Hyun.

“Ada apa dengan orang itu? Kurasa orang itu lumayan aneh,” Hwang Chansung mengerutkan kening menatap kepergian Seunghyun.

Ruangan gaduh sesaat. Para pegawai membahas apa yang dilakukan Seunghyun barusan.

Bom mendengus kesal. “Dia menggunakan banmal[1] padaku! Bagaimana bisa orang asing bicara banmal seperti itu?”

“Bommie-ah, sampai kapan kau mau menutupi hubunganmu dengan Seunghyun-ssi?” tanya Dara, masih penasaran. “Jadi, dimana kalian bertemu pertama kali?”

Bom mengacak rambutnya yang tidak gatal. “Sudah kubilang kami tidak saling kenal, Dara-ya!”

“Tapi, Seunghyun-ssi bilang—“

“Kami memang bertemu di halte bus, pertama dan terakhir kalinya! Dan itu baru saja kemarin. Kami bahkan tidak bertukar nama, apa itu yang disebut saling kenal?!” seru Bom kesal.

“Omo! Benarkah?” pekik Dara kaget. “Lalu kenapa dia bilang kalian saling kenal?”

Bom mengangkat bahu. “Dia itu orang aneh, percaya padaku, Dara-ya! Kau lihat sendiri kan, apa yang dilakukannya tadi?”

Bukannya setuju, Dara malah menangkupkan kedua tangan pada wajahnya. “Menurutku, yang dia itu keren!”

“Mwo?!” Bom melotot.

“Dan bukankah ia sangat tampan, Bommie-ah? Aah, kurasa kantor kita akan menjadi sangat menyenangkan!”
***

“Aku pulang,” ujar Bom gontai begitu memasuki rumahnya.

“Oh, kau sudah pulang, Bom-ah? Cepat ganti ganti baju dan mandi,” sahut Ibu Bom dengan suara lembut. Bom mengerutkan kening. Tumben Ibu bicara lembut begitu.

Bom lalu menoleh ke ruang keluarga. Ia lalu menghela nafas. Ada ayahnya disana, pantas saja ibunya berkata lembut. Itu seperti kode ‘cepat masuk kamarmu dan jangan cari perkara dengan ayahmu’.

“Kau baru pulang jam segini?” tegur Ayah Bom dari balik koran yang dibacanya. Bom menghentikan langkahnya, lalu mengangguk sopan pada ayahnya. “Ne.”

Ayahnya berdecak. “Apa yang bisa kau lakukan saat ini memang? Dari awal aku yakin ada yang tidak beres dengan kantor itu. Kantor yang sudah mau bangkrut itu, apalagi yang bisa diharapkan?”

Bom terkesiap mendengarnya. Ini bukan pertama kali ayahnya bicara dengan nada sinis seperti itu, tapi entah mengapa kali ini terdengar cukup menyakitkan. Apa karena fisik Bom juga yang sedang lelah, jadi ia sensitif mendengarnya?

Ibu Bom berdiri di seberang Bom, mengisyaratkan pada anaknya untuk tidak berkata apapun lagi.

“Ada,” sahut Bom. Ibu Bom melotot, memperingatkan anaknya sekali lagi untuk tidak membantah ayahnya. Ayah Bom mengangkat wajahnya dari koran yang ia baca.

“Ada harapan, Appa,” Bom melanjutkan ucapannya, terlanjur. Ibu Bom menghela nafas melihatnya.

“Ada orang hebat datang ke perusahaan kami hari ini. Ia lulusan Amerika, dan sudah banyak menangani kasus disana,” sahut Bom. Sebenarnya ia sekarang kesal pada dirinya sendiri yang secara tidak langsung membanggakan Seunghyun yang seharian ini membuatnya kesal. Ia bahkan lancar menjelaskan siapa itu Seunghyun yang ia lihat sekilas dari biodatanya tadi. Bom juga bukannya percaya dengan perkataan Seunghyun soal harapan itu, tapi ia tidak mau diam saja akan perkataan ayahnya itu.

“Geureu?” Ayah Bom mengangkat alisnya. “Baiklah. Mari kita lihat nanti.”

“Bommie-ah, aku sudah menyiapkan air panas untukmu. Cepatlah mandi sebelum airnya jadi dingin,” ucap Ibu Bom segera, memotong pembicaraan melihat Bom yang hendak berkata lagi.

Bom terdiam. Seperti baru tersadar kalau seharusnya ia tidak menyahuti perkataan ayahnya. “Ne, Eomma,” ucap Bom akhirnya dan melangkah menuju kamarnya.

Di kamarnya, Bom langsung membanting dirinya ke atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar, lalu menghela nafas. Teringat kembali perkataan ayahnya. Sebenarnya ia juga membenarkan perkataan ayahnya, tapi entah kenapa mendengar kata-kata seperti itu dari mulut ayahnya terasa menyakitkan. Seolah menegaskan bahwa pilihannya bekerja di kantor itu memang salah sedari awal.

Bom menatap gitar yang berada di pinggir tempat tidurnya. Menghela nafas lagi.

“Mungkin memang segala yang aku pilih dan lakukan selalu salah.”
***

“Bommie-aaaaaaah!” sapa Dara riang, seperti biasa. Bom yang baru memasuki ruangan kerjanya, tersenyum menanggapinya. “Kurasa meskipun ada gempa, hal itu tidak akan berpengaruh padamu, Dara-ya.”

Dara tersenyum lebar dan menghampiri Bom. Ia menyerahkan segelas teh pada Bom. “Ini! Aku baru mendapat kiriman teh terbaru dari Jepang. Rasanya unik, cobalah!”

Bom menerima gelas teh itu dan meminumnya perlahan. Dara memang senang minum teh dan mencoba berbagai macam teh. Bom adalah orang pertama yang pasti ia berikan teh terbaru yang ia miliki. Setelah itu semua rekan di divisi ini akan ‘dipaksa’ Dara mencicipi teh tersebut.

“Manis dan segar,” ucap Bom. Dara mengangguk senang. “Kau juga berpikir begitu? Kurasa ini teh yang sangat cocok untuk memulai hari, membuat kita jadi bersemangat!”

Bom mengangguk-angguk. Ujung matanya lalu melihat Seunghyun yang sudah duduk di meja kerjanya. Rajin juga dia, batin Bom. Ia lalu teringat apa yang diucapkannya pada ayahnya semalam, dan malu sendiri. Ah, kurasa aku sudah gila. Bahkan aku membanggakan orang aneh itu di depan ayah.

“Oh?” Dara menunjuk mata Bom, yang kini berkantung hitam. “Kau tidak tidur semalam, Bommie-ah?”

“Hah?” Bom terkesiap, lalu menyentuh ujung matanya. “O-oh, begitulah.”

“Wae? Kau membuat lagu lagi semalaman?” tanya Dara. Seunghyun yang juga mendengar hal itu, menoleh.

Bom tertawa kecil “Aniya, aku hanya tidak bisa tidur,” elak Bom. Ia lalu meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja.

Dara menarik-narik tangan Bom. “Kau pasti buat lagu, kan? Ayo tunjukkan padaku, aku mau lihat, Bommie-ah,” rengek Dara.

“Tidak ada lagu, Dara-ya,” ujar Bom sambil menyalakan komputernya. Dara melipat kedua tangannya, berlagak kesal. “Kau selalu bilang seperti itu, Bommie-ah. Awas saja kalau kutemukan.”

“Ah, file yang kuminta dari humas kemarin sudah ada, Dara-ya?” tanya Bom, mengalihkan pembicaraan.

Dara kemudian mengangguk, menyadari kalau Bom memang tidak mau membahas hal itu. Dara sebelumnya tahu kalau Bom menulis lagu ketika ia sedang iseng-iseng membuka ponsel Bom dan ada rekaman suaranya disana. Bom memang tak pernah bilang pada siapapun kalau ia buat lagu. Entah apa alasannya.

“Kurasa aku meninggalkannya di meja Manajer Kang kemarin. Aku ambil dulu, ya!” ujar Dara sambil melangkah keluar.

Bom melihat tumpukan berkas diatas mejanya sebentar, lalu beralih memandang Seunghyun, yang ternyata sedang memandangnya juga. Pria itu sudah melihatnya sejak ia dan Dara membahas soal lagu.

“File yang kau minta sudah lengkap semua, kan? Atau kau masih butuh file dari bagian produksi?” tanya Bom, tidak terlalu memperhatikan tatapan Seunghyun yang sudah lama itu.

“Kau membuat lagu?” tanya Seunghyun.

Bom mengerutkan kening. Pria ini mendengar percakapanku dengan Dara tadi? Sejak kapan? Dan mengapa ia bertanya?

Bom lalu memutuskan untuk mengalau pikiran-pikiran mengenai pria aneh itu, dan menggeleng. “Tidak.”
***

“Semua data yang kau butuhkan sudah ada, Seunghyun-ssi?” tanya Manajer Kang. Seunghyun mengangguk.

“Lalu, apa yang kau rencanakan?” tanya Manajer Kang lagi. Kini, semua orang yang ada di ruangan itu menatap Seunghyun. Sama-sama penasaran atas apa yang akan diucapkan pria itu.

“Kurasa, kita perlu membentuk Unit Penyelamatan,” jawab Seunghyun.

Semua orang tercengang mendengarnya. Unit Penyelamatan? Bom mengerutkan kening mendengar nama yang seperti ada di film-film pahlawan super.

Manajer Kang pun nampak kaget, namun ia tidak berkata apapun. Nampaknya perusahaan ini sudah sangat putus asa sehingga percaya apa saja kata Seunghyun ini.

“Baiklah, unit apa itu?” tanya Manajer Kang.

“Unit itu berisi semua orang yang ada di divisi ini,” Seunghyun menatap lima orang pegawai yang ada di divisi itu, termasuk Bom dan Dara. “Lalu aku membutuhkan satu orang dari bagian keuangan dan produksi.”

Seunghyun lalu berjalan menuju papan tulis kecil yang memang ada di ruangan tersebut. “Unit ini akan bekerja penuh selama seminggu kedepan. Masing-masing akan kubagi tugas dan harap konsentrasi dengan tugas yang diberikan.”

Pada saat itu masuklah dua orang ke ruangan itu, membungkukkan tubuhnya sedikit.

“Oh, ini dari bagian keuangan dan produksi. Silakan kenalkan diri kalian dulu, Seunghyun-ssi mungkin belum mengenal kalian,” ujar Manajer Kang.

“Anyeong haseyo, Kwon Yuri imnida. Aku dari bagian keuangan, mohon bantuannya,” ujar gadis manis itu. Di sebelahnya pria berbadan tegap membungkukkan tubuhnya. “Ok Taecyon imnida. Aku dari bagian produksi, mohon bantuannya.”

Seunghyun mengangguk-angguk. “Berarti sekarang semuanya sudah lengkap. Chansung-ssi dan Yuri-ssi bertugas mengawasi keadaan pasar modal setiap saat dan mencocokkan dengan kondisi keuangan kita. Taecyon-ssi dan Yoona-ssi mengawasi bagaimana pergerakan kompetitor utama kita dan kumpulkan sisa-sisa produksi yang masih ada. Soo Hyun-ssi dan Dara-ssi mengawasi apa yang terjadi di publik dan mencari celah bagaimana perusahaan kita dapat masuk dan melakukan sesuatu. Dan Bom-ssi, kau menjadi asistenku.”

Seunghyun selesai menggambar bagan di papan tulis, lalu menatap rekannya satu persatu. Bom melongo mendengarnya. “Asisten?”

“Aku baru disini dan kau sudah cukup lama berada di bidang ini, kurasa banyak orang yang kau kenal karena kita akan bertemu banyak orang. Tugasmu adalah membantuku, mungkin lebih banyak daripada yang lain karena mereka sudah punya tugas masing-masing,” ujar Seunghyun.

“Mengapa aku?” tanya Bom, setengah berteriak kesal. Menyadari semua mata memandang padanya, ia berdehem. “Maksudku, bukan hanya aku yang sudah lama disini. Kurasa Chansung-ssi sudah lebih lama disini daripada aku,” ujar Bom melirik Chansung, yang langsung membentuk tanda silang dengan kedua tangannya. Tidak, tidak aku, Bom-ssi. Tidak dengan orang aneh itu.

“Karena aku sudah mengenalmu lebih lama daripada mengenal yang lain. Jadi kurasa akan lebih nyaman begitu,” sahut Seunghyun enteng.

Bom melotot. Hanya lebih lama satu hari! Dan itu pun tidak resmi mengenal!

Namun Bom tidak sempat mengucapkan apa-apa lagi karena Seunghyun sudah melanjutkan perkataannya. “Aku sudah mengatakan tadi di awal kalau kita akan bekerja seminggu, kan? Ketika kubilang seminggu, berarti seminggu penuh. Persiapkan semua kebutuhan kalian untuk seminggu karena kita tidak akan berhenti mengerjakan proyek ini.”

“Ne?” semua mata menatap Seunghyun, bingung.

“Singkatnya, kita akan tinggal di kantor ini selama seminggu. Tidak ada yang meninggalkan kantor kecuali untuk kepentingan pengerjaan unit penyelamatan ini,” tambah Seunghyun.

Mereka saling berpandangan. Bom langsung terbayang wajah ayahnya, dan mulai berpikir harus bilang apa pada ayahnya.

“Keadaan kita sudah sangat mendesak. Jika kita mengulurnya sehari saja lagi, maka perusahaan ini tidak akan benar-benar tertolong. Jika ada yang mengalami kesulitan untuk menginap di kantor selama seminggu ini, segera bilang padaku. Aku akan segera mengatasinya, dengan bantuan Manajer Kang juga,” ujar Seunghyun, menoleh pada Manajer Kang.

Manajer Kang tergagap. “O-oh, tentu. Tentu saja.”

“Jadi, nikmati weekend kalian kali ini. Minggu depan, kita akan benar-benar bekerja keras melakukan penyelamatan besar!”
***

Today, it’s okay, shout out louder yeah – good things will happen
It’s alright for tonight since it’s so beautiful so cry louder yeah
I will hug you, at this moment just fly high and jump
I will become a sad protagonist in this world
And I will hurt in place of you, I’ll become your wings
I believe you, I believe you
Believe in me, believe in me
Because everything will pass

Bom menghentikan petikan gitarnya. Anak-anak di hadapannya pun tersenyum lebar begitu mereka selesai menyanyikan lagu Wings itu.

“Woah, kalian benar-benar berkembang pesat!” seru Daesung, yang muncul dari belakang Bom dengan bertepuk tangan keras.

“Tentu saja, Hyung! Bom Noona mengajarkan kami pelan-pelan, tidak seperti Seungri Hyung yang sudah tidak sabar mengajari kami,” ujar Junsu, anak yang duduk paling depan.

“Mwo? Kau bilang apa tadi?” seru Seungri, yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka. Junsu berteriak kaget dan berdiri, menghindari Seungri yang siap mengejarnya. Anak-anak lain ikut berlarian, ada yang membantu Seungri mengejar Junsu dan ada yang menghalanginya supaya Junsu bisa terus lari.

Bom tertawa melihatnya, begitu juga Daesung.

“AAhh, betapa menyenangkannya melihat mereka!” seru Bom senang. Daesung menoleh. “Waeyo, Noona? Kau sedang ada masalah?”

Bom mengangkat bahunya. “Mana yang lain?”

“Chaerin dan Minji sedang memasak untuk makan siang kita. Jiyong Hyung dan Taeyang Hyung sedang menjemput temannya,” ujar Daesung. Bom mengangguk-angguk.

“Hyung… hyung! Tolong aku!” Junsu berteriak-teriak pada Daesung, ia terkepung Seungri dan ‘anak buah’-nya. Daesung segera bangkit dan berlari ke arah Junsu. “Tunggu, aku akan segera menyelamatkanmu!”

Bom tertawa melihat adegan itu. Dilihatnya kemudian Daesung dan Seungri ‘perang-perangan’ dengan anak buah masing-masing, penuh gelak tawa.

Bom memang selalu meluangkan waktunya tiap weekend untuk datang kesini. Dua tahun yang lalu, Bom bertemu dengan Chaerin dan Minji di sebuah toko musik karena berebut sebuah kaset lama. Hubungan mereka jadi semakin dekat dan Bom pun diajak untuk ikut mengajar di sanggar seni ini. Disini, mereka mengajar anak-anak apapun yang mereka bisa. Ada yang mengajar menyanyi, bermain musik, menari, bahkan berakting.

Dan, sanggar seni ini tidak dipungut biaya. Mereka pun mengajar dengan suka rela. Bom berbohong pada ibunya ketika mengatakan ia kerja sambilan disini. Ibunya akan langsung marah-marah tahu ia masih bisa melakukan hal seperti ini sementara kantor tempatnya bekerja tidak memberikan janji masa depan.

“Unnie!” teriak Minji, mengagetkan Bom yang masih asyik menatap anak-anak kecil itu. Bom terlonjak kaget. “Minji-ah! Sudah kubilang berkali-kali jangan suka mengagetkanku!”

Minji tertawa-tawa melihat Bom mengomel, sementara Chaerin datang dengan membawa sepiring makanan yang baru matang. “Bom-ah, kau mau mencoba?”

Bom mengambil sedikit dan memakannya. Matanya membesar. “Chaerin-ah, kau jjang! Masakanmu sungguh enak!”

“Unniee… aku juga ikut memasak,” rengek Minji. Bom menjulurkan lidahnya. “Aku tahu kau pasti hanya membantu memotong sayurnya saja, karena potongan sayurnya besar-besar.”

“Unnieee!”

Chaerin tertawa melihat mereka berdua. Bom memang sering menggoda Minji, dan Minji juga sering iseng pada Bom. Mereka sudah seperti kakak-beradik sungguhan.

“Chaerin-ah, kau memasak banyak kan? Kita kedatangan tamu dari jauh!” ujar Jiyong yang baru masuk.

Chaerin mengangguk. “Memangnya kau mengajak berapa orang, Jiyong-ah?”

“Hanya satu, tapi porsi makannya seperti sepuluh orang!” seru Jiyong, yang langsung dipukul pelan oleh orang di belakangnya. “Ya! Tidak sampai porsi sepuluh orang!”

Bom mengerutkan kening, merasa familiar dengan suara berat itu. Ia lalu melongokkan kepalanya melihat siapa yang datang.

“Semuanya, perkenalkan. Ini temanku, ia lama tinggal di Amerika dan datang ke Korea baru-baru ini,” Jiyong menepuk bahu temannya itu. “Perkenalkan dirimu.”

“Anyeong haseyo, Choi Seunghyun imnida.”

Mata Bom terbelalak. Bagaimana bisa pria itu ada disini?

“Ya, Choi Seunghyun! Mengapa bawaanmu berat sekali?” keluh Taeyang, yang baru masuk dengan membawa tas besar. Seunghyun tertawa, menepuk-nepuk bahunya.

Taeyang lalu menatap ketiga gadis di hadapannya. Chaerin sedang membawa piring, sedangkan Minji berdiri di sampingnya. Dan Bom duduk agak terhalang oleh Chaerin.

“Minji-ah, Bom-ah, bantu aku!” ujar Taeyang cepat.

“Mwo? Kenapa aku?” Minji segera protes. “Tuh, Seungri dan Daesung dari tadi hanya bermain! Minta bantuan mereka saja!” Minji menunjuk Seungri dan Daesung yang masih asyik bermain perang-perangan bersama anak-anak.

Chaerin refleks menggeser tubuhnya, menyadari kalau Bom terhalang olehnya. Sementara Bom menepuk keningnya pelan. Ah, kenapa harus orang itu yang datang.

 “Oh?” Seunghyun menunjuk Bom. “Kau ada disini?”

Jiyong, Taeyang, Chaerin, dan Minji menatap mereka berdua bergantian.

“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Jiyong.

Seunghyun mengangguk cepat. “Iya.”

Bom mendesis. Tidak. Tidak pria UFO ini lagi.



[1] Bahasa informal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar