Selasa, 22 Desember 2015

UFO Man Part 10 - END

main cast: Park Bom & Choi Seunghyun
other      : find it by yourself :) tokoh mungkin bertambah tiap partnya

cerita ini muri fiktif belaka dengan tokohnya saya pinjem para idol~ kalau ada kesamaan nama, alur, dan lokasi; cuma kebetulan yang tidak disengaja :D

and don't do plagiarize. mari hargai karya orang lain :)
______________________________________________________


“Kalau saja,” Seunghyun menghentikan ucapannya sejenak. “Kalau saja kau bertemu lebih dulu denganku dari pada dengan Hyun Woo-ssi, apa kau akan melihatku?”

Mata Bom berkedip mendengar ucapan Seunghyun. Barusan, apa yang pria itu katakan?

“Aku menyukaimu, Bom-ah,” ujar Seunghyun, dengan tatapan lurus pada Bom.

Bom membeku di tempat. Jantungnya berdegup tiga kali lebih kencang. A-apa, apa dia bilang?

“Aku sangat menyukaimu. Karena itu aku senang mengetahui banyak hal tentangmu, aku senang kau mengetahui banyak hal tentangku. Kau tahu aku orang yang berusaha dengan keras, kan? Karena itu aku akan terus berusaha supaya kau bisa melihatku, bisa menyukaiku juga.”

“Aku tahu aku menjadi orang paling egois saat ini. Ketika kau bilang kita mengetahui hal-hal satu sama lain terlalu cepat, aku sadar seharusnya aku bisa lebih menahan diri. Karena itu aku berpikir untuk menggunakan waktu dengan baik dan hati-hati, agar tidak membuatmu merasa tidak nyaman lagi. Karena itu aku berencana untuk terus berteman denganmu dan terus melakukan perkenalan-lebih-dalam ini lagi. Harusnya aku tetap melakukan hal itu, sampai waktunya tepat nanti dan kau tidak akan merasa tidak nyaman lagi,” Seunghyun menghela nafas.

Sementara Bom merasa ia susah bernafas. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, atau bahkan apa yang harus ia pikirkan saat ini!

“Tapi kurasa aku tidak bisa melakukan itu dengan baik. Aku menjadi egois, memutuskan untuk mengatakan semuanya padamu sekarang. Sebenarnya aku tidak masalah kalau harus berusaha dalam waktu yang lama sekalipun. Tapi ketika melihatmu dengan Ji Hyun Woo-ssi, aku sungguh benci memikirkan dan mengatakan hal ini, aku mulai merasa usahaku mungkin akan gagal. Dan sungguh, aku sangat takut membayangkan hal itu,” Seunghyun masih menatap Bom lekat. “Tapi bisakah kau beri aku kesempatan untuk melanjutkan usahaku? Aku tidak bisa memutar waktu agar kau bertemu lebih dulu denganku, tapi bisakah kau membiarkanku berusaha? Ani, kalau waktu benar-benar bisa diputar dan kau bertemu lebih dulu denganku, apa kau akan melihatku?”

Bom benar-benar sudah membeku. Ia bahkan merasa berkedip pun sangat sulit saat ini. Seseorang, selamatkan aku! Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana!

Tiba-tiba, pelayan datang memberikan pesanan mereka. Memecah keheningan diantara mereka. “Silakan dinikmati,” ujarnya membungkukkan badan, lalu pergi.

Bom seperti tersadar. Ia menatap pria di hadapannya yang masih menatapnya lekat. Seperti menunggu gadis itu berbicara.

“Aku…,” Bom akhirnya mengeluarkan suara. Tapi kemudian ia diam lagi, bingung harus berkata apa. Namun melihat Seunghyun yang masih menatap lekat padanya, ia berusaha keras berpikir harus berkata apa.

Sesange, aku harus apa?

“Kurasa Oppa…, ani, maksudku waktu tidak berpengaruh dalam hal ini,” ucap Bom pelan. Otaknya masih berpikir. Apa aku mengatakannya dengan benar?

Seunghyun tampak kaget mendengarnya. Dan… kecewa.

“Begitu?” ujar Seunghyun, parau. “Seharusnya aku menyadarinya.”

Kini Bom mengerutkan kening. Tunggu, tunggu, apa ia salah bicara?

“Ani, maksudku—“

“Gwenchana. Seharusnya aku tidak mengatakan semuanya tadi,” Seunghyun memotong ucapan Bom, memaksakan segaris senyum. “Aku bahkan berani meminta kesempatan. Kuharap aku tidak mengganggu hubunganmu dengannya.”

Kerutan kening Bom semakin dalam. “Seunghyun-ssi, bukan itu maksud—“

“Ah, kita makan saja! Nanti supnya dingin,” potong Seunghyun lagi. Ia menunduk, menyendokkan supnya.

“Dengarkan aku dulu, Seunghyun-ssi. Ini tidak seperti—“

“Bom-ah,” Seunghyun mengangkat kepalanya. “Bisakah kita tidak membahas ini dulu? Meski kau akan menolakku, tapi kau juga harus melihat keadaanku yang masih terguncang ini. Kau tahu, aku juga bisa malu—“

“Yya, makanya dengarkan aku dulu!!” kini Bom yang memotong, galak. “Geurae, kau memang egois! Kau mengatakan semuanya lalu tidak mau mendengar apapun yang kukatakan bahkan menyimpulkan semaumu! Sekarang dengarkan aku dan jangan dipotong lagi, aku tidak mau mendengar alasanmu lagi!”

Seunghyun tercengang melihat Bom mengomel panjang. Bom tidak peduli, dan melanjutkan ucapannya.

“Aku tidak tahu apa aku tadi salah bicara atau apa, tapi waktu benar-benar tidak berpengaruh dalam hal ini. Juga Hyun Woo Oppa. Ani, aku bahkan tidak mengerti bagaimana kau bisa menyimpulkan aku dan Oppa dalam hubungan seperti itu. Aku pernah bilang kalau ia seperti kakakku sendiri, kan? Bagaimana mungkin aku menyukai kakakku sendiri? Bahkan ia sudah pacaran dengan kakak sepupu yang paling dekat denganku.”

Mata Seunghyun membesar mendengar ucapan Bom. “A-apa… yang kau bilang? Jadi kau dan Ji Hyun Woo-ssi tidak…”

“Makanya, seharusnya kau bertanya dengan jelas. Dan mendengarkan jawaban dengan jelas! Bagaimana bisa kau hanya bertanya tapi tidak mau mendengarkan jawabannya,” gerutu Bom. “Ahh, aku malah jadi marah-marah,” ujarnya sambil meraih gelas dan meminumnya.

Sementara itu Seunghyun tersenyum lebar. “Arraso. Lain kali aku akan mendengarkan dengan baik.”

Bom mengangguk-angguk. Ia lalu mengambil sendoknya. “Ah, kurasa supnya mulai dingin.”

“Kalau begitu, kau masih bisa memberiku kesempatan, kan?” ujar Seunghyun kemudian.

Bom hampir tersedak mendengarnya. Ia lupa kalau pembahasan ini belum selesai.

“Aku tidak akan meminta yang aneh-aneh. Cukup dengan terus seperti ini, dengan terus melakukan perkenalan-lebih-dalam ini. Sudah kubilang kalau aku sanggup berusaha dalam waktu lama, kan? Jadi yang perlu kau lakukan cuma memberi kesempatan itu dan—“

“Baiklah,” ujar Bom segera. Wajahnya pasti sudah memerah lagi sekarang, dan ia tidak sanggup mendengar kata-kata semacam itu lagi dari Seunghyun.

“Oh?” Seunghyun mengangkat alisnya. Lalu tersenyum lebar. “Benarkah? Kau akan memberiku kesempatan?”

Wajah Bom semakin memerah. “Iya, iya! Aku sudah mengatakannya tadi, mengapa bertanya terus? Cepat makan saja, supnya sudah benar-benar dingin sekarang.”

Senyum Seunghyun semakin lebar. “Gomawo, Bom-ah! Jeongmal gomawo!”
***

“Tidak terasa sudah akhir pekan lagi, ya,” ujar Chaerin, yang kemudian duduk di samping Bom. Bersama Dara dan Minji, mereka berempat sedang berada di bangku taman sanggar.

Bom mengangguk. “Benar. Bagaimana dengan pekerjaanmu di sekolah, Chaerin-ah?”

“Kemarin ada anak yang cidera ketika berlatih, jadi aku semalaman menungguinya di rumah sakit. Jadi sekarang aku merasa ngantuk,” ujar Chaerin. Selain mengajar di sanggar ini, Chaerin memang mengajar di sebuah sekolah seni yang cukup terkenal di Seoul.

“Ooh~ uri Chaerin memang guru yang baik!” sahut Dara sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. Minji juga melakukan hal yang sama. “Unnie jjang!”

Chaerin tersenyum. “Jangan berlebihan. Aku hanya melakukan tugasku.” Chaerin tiba-tiba menjentikkan jarinya. “Ah, kau berkencan dengan Jiyong, ya?” ujarnya pada Dara.

Wajah Dara langsung memerah, sementara Bom tertawa dan mengangguk-angguk. “Benar sekali. Kau memiliki penglihatan yang bagus, Chaerin-ah.”

“Yya, jangan bilang yang tidak-tidak. Kami belum sampai tahap itu,” ujar Dara segera.

“Geurae, tinggal menunggu waktu saja sampai kalian benar-benar sampai tahap itu,” sahut Bom.

“Bom Unnie, kau juga berkencan dengan Seunghyun Oppa, kan?” ujar Minji. Kini Dara yang menertawakan Bom. Bom berdehem, tampak salah tingkah.

“Kami hanya sedang dalam perkenalan,” ujar Bom.

“Perkenalan apanya? Memangnya kalian anak baru atau apa?” seru Chaerin heran. Dara mengangguk-angguk. “Aku juga mengatakan tepat seperti itu. Sudah jelas sekali kalau mereka ada apa-apa dari awal.”

“Dari awal apanya?” sergah Bom, tidak terima.

“Ngomong-ngomong, Seunghyun Oppa tidak datang hari ini?” tanya Minji, tidak mempedulikan perkataan Bom.

“Ia sedang banyak pekerjaan. Apalagi semenjak dipindahkan ke Direksi ia—“ ucapan Bom terputus melihat tiga temannya menatap penuh arti padanya.

“Geurae, orang yang sedang dalam perkenalan memang mengetahui banyak hal,” goda Chaerin.

“Yyaa, bukan begitu,” elak Bom.

“AAhh, aku juga ingin berkencan! Unniedeul, kenalkan aku pada seseorang!” ujar Minji. Bom memukul kepalanya pelan. “Yya! Selesaikan dulu kuliahmu!”

Minji merenggut. Diantara mereka memang Minji yang masih kuliah, dan ia sudah di tahun terakhir.

Ponsel Bom berbunyi. Bom meraihnya dan melihat layarnya.

“Pria UFO? Siapa, Unnie?” tanya Minji. Sementara Dara dan Chaerin senyum-senyum menggoda Bom.

Bom tidak menghiraukannya. Ia mengangkat teleponnya. “Yeoboseyo?”

“Kau masih di sanggar?” terdengar suara Seunghyun di seberang sana.

“Eoh. Ada apa?”

“Sudah selesai mengajar, kan? Keluarlah, aku ada di depan.”

“Wae? Kau tidak di kantor?” tanya Bom heran.

“Pekerjaanku sudah selesai. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”

“Kemana?”

“Rahasia. Cepatlah keluar, aku menunggumu,” ujar Seunghyun lalu menutup teleponnya.

“Mwoya?” gerutu Bom. Sementara itu tiga temannya tersenyum menggodanya. “Oooh~ jadi kalian mau kencan sekarang?”

“Romantis sekali!” seru Dara senang.

“Unnie, kau tidak mau mengenalkanku pada pria sementara kau bahagia berkencan?” protes Minji.

“Ani, aku tidak… ah, sudahlah!” ujar Bom kesal, lalu bangkit dari duduknya. Tidak mempedulikan ucapan teman-temannya yang asyik menggodanya itu.
***

Bom mengerutkan kening begitu keluar dari mobil Seunghyun. Kini mereka berdua sedang berada di depan bangunan yang tidak terlalu besar.

“Tempat apa ini?” tanya Bom, menoleh pada Seunghyun.

“Masuklah. Kau akan melihat di dalam nanti,” ujar Seunghyun sambil melangkah memasuki bangunan itu.

“Wae? Kau tidak bisa memberitahuku sekarang saja?” protes Bom, namun tetap mengekor langkah Seunghyun.

“Jadi sebenarnya apa—mwoya, apa ini?” seru Bom kaget begitu melihat isi bangunan itu. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. “Ini studio?”

Seunghyun mengangguk. “Studio mini, tepatnya.”

Bom berjalan mendekati alat-alat musik yang ada dalam studio itu. Ada piano, gitar, drum, dan lainnya. “Woah, ini keren! Bagaimana kau bisa mengetahui tempat seperti ini?”

Seunghyun mengusap kepalanya yang tidak gatal. “Ini milikku.”

Mata Bom membesar. Ia langsung berbalik dan menghadap Seunghyun. “Benarkah? Woah, daebak! Seunghyun-ssi, apa sebenarnya kau ini chaebol[1]?”

Seunghyun tertawa kecil mendengarnya. “Aniya! Aku mendapatkannya dari menabung.”

“Woah, itulah bedanya mereka yang pandai berbisnis. Kau bahkan bisa membeli tempat seperti ini dari menabung,” Bom berdecak kagum. “Bahkan alat-alat musik ini.”

“Yya, jangan berlebihan. Aku hanya ingin menyalurkan hobi bermusik disini. Jiyong dan yang lainnya juga sering kesini,” ujar Seunghyun. “Mulai sekarang, kau juga boleh sering datang kesini.”

 “Benarkah? Gomawo, Seunghyun-ssi!” Mata Bom berbinar. Lalu mengerjap heran. “Tapi, kenapa?”

“Aku, minta maaf,” ujar Seunghyun, berjalan mendekati Bom. “Soal yang aku tanyakan di rumahmu terakhir kali. Seharusnya aku tahu kau pasti punya alasan mengapa melakukan semua itu, dan tidak mendesakmu memberitahukan padaku. Kau bahkan jadi dimarahi ayahmu karena itu. Maafkan aku.”

Bom tersenyum. “Gwenchana, aku sudah melupakannya. Lagipula itu sudah berlalu.”

“Tetap saja, aku merasa bersalah,” sahut Seunghyun. “Karena itu, datanglah kesini kapanpun kau mau. Kau bebas bermain gitar, membuat lagu, atau melakukan hal lain yang kau suka disini.”

Senyum Bom semakin lebar. “Gomawo. Ini sangat keren, dan menyenangkan!” Bom lalu duduk di bangku piano. “Appa dari dulu tidak suka aku terlalu menekuni musik. Alasannya, seperti yang kau dengar waktu itu, musik tidak memberikan harapan hidup yang baik.”

Seunghyun ikut duduk di samping Bom. Menyimak apa yang dikatakan  gadis itu.

“Karena sering ditentang Appa, aku jadi semakin tidak percaya diri. Aku mengikuti kelas musik diam-diam, disamping kuliah manajemenku di universitas. Tapi setelah lulus, aku tidak pernah berani lebih dari mengajar di sanggar. Atau menulis lagu diam-diam. Hanya Dara yang penah mendengarnya, itu juga tidak sengaja,” Bom menghela nafas. “Rasa percaya diriku semakin terkikis. Aku jadi merasa apapun yang kulakukan salah, tidak ada yang benar terutama di mata Appa. Apapun yang kupilih pasti salah, seperti bekerja di kantor itu. Aku merasa sangat frustasi ketika kantor hampir bangkrut waktu itu. Karena itu juga aku tidak suka dengan hal baru, takut melakukan sesuatu yang salah lagi.”

Seunghyun menggenggam tangan Bom dengan tangan kirinya. “Kau menjalani hal yang berat. Kau pasti bisa melaluinya.”

Bom mengangkat wajahnya. Menatap Seunghyun. “Benarkah? Kau pikir aku bisa? Aku merasa rasa percaya diriku sulit tertolong.”

Seunghyun mengangguk mantap. “Tentu saja! Memangnya mengapa tidak? Park Bom yang kukenal sangat keren dan hebat!” Seunghyun mengusap kepala Bom pelan dengan tangan kanannya.

Bom merasakan wajahnya memanas. Sesange, wajahku pasti sudah merah sekarang!

“Dan gomawo, sudah mengatakannya padaku,” ujar Seunghyun. “Aku senang kau menceritakannya padaku. Mulai sekarang, lakukanlah apapun yang kau mau di hadapanku. Menulis lagu atau apapun, kau bisa melakukannya. Kalau masih belum bisa melakukannya di hadapan ayahmu dan orang lain, setidaknya lakukanlah dengan nyaman di hadapanku.”

“E-eoh,” mata Bom mengerjap, gugup. Ia lalu menunduk. Dan baru menyadari kalau tangannya masih digenggam Seunghyun. Ia menariknya perlahan, lalu menyentuh piano di depannya. “Kau bisa bermain piano?”

“Ani. Aku ingin mempelajarinya, tapi sampai sekarang belum bisa. Aku ingin mengambil kelas belajar tapi selalu tidak sempat,” ujar Seunghyun.

“Geurae? Kalau begitu, nanti aku akan mengajarimu. Aku juga belajar piano di kelas musik dulu,” sahut Bom sambil menekan tuts-tuts piano itu pelan.

“Benarkah? Wah, Park Bom! Kurasa kau jenius dalam musik!”

“Yya, jangan berlebihan. Kalau kau mengambil kelas sepertiku pasti bisa juga,” ujar Bom. “Memangnya kenapa kau ingin mempelajari piano?”

“Geunyang, ingin saja. Aku memiliki banyak keinginan, seperti ingin bisa bermain piano, drum, gitar. Baru minggu lalu aku mulai lancar bermain drum, Daesung yang selama ini mengajariku. Kadang aku juga ingin merasakan terbang ke ruang angkasa,” mata Seunghyun menerawang. “Atau melihat UFO.”

Bom menjentikkan jarinya. “Ah, karena itu kau membicarakan soal UFO ketika pertama kali kita bertemu?”

Seunghyun mengangguk. “Aku sedang banyak membaca soal UFO ketika itu, sejak hari-hari terakhir aku di Amerika. Jadi keinginan itu sedang kuat-kuatnya.”

“Yya, meskipun begitu, mengapa kau menanyakannya pada orang yang baru kau temui? Kita bahkan belum saling kenal saat itu,” gerutu Bom. Ia masih memainkan tuts-tuts pelan.

Seunghyun tersenyum. “Aku juga tidak tahu, hanya saja aku merasa kalau ‘ah, sepertinya orang ini orang yang baik dan dapat menerima apa yang aku katakan, juga membuatku nyaman’, begitu saja. Aku punya firasat baik tentangmu. Kurasa, aku sudah menyukaimu sejak saat itu.”

Tangan Bom terhenti. Ia menoleh pada Seunghyun, yang menatapnya lurus. Bom lagi-lagi merasa dirinya membeku di tempat.

“Ah, apa aku terlalu sering mengaku? Kau pasti jadi tidak nyaman. Maafkan aku,” ujar Seunghyun, tampak menyesal. “Sekarang aku benar-benar mengerti mengapa aku harus minta maaf pada Jessica waktu itu. Ia pasti mengeluarkan keberanian yang besar untuk berusaha, tapi aku malah begitu. Sekarang aku baru mengerti karena aku baru merasakan bagaimana berusaha keras untuk mendapatkan hati seseorang, bagaimana rasa khawatir yang datang dan takut gagal. Ini bahkan jauh lebih menegangkan dibanding pengalaman bisnis manapun.”

“Awalnya aku melakukan ini karena khawatir soal kau dengan Ji Hyun Woo-ssi, tapi kurasa itu jadi kebiasaan sekarang,” Seunghyun mengusap kepalanya yang tidak gatal. “Ah, tidak boleh begini terus. Bom-ah, aku benar-benar minta maaf. Nantinya aku akan berusaha lebih menahan diri supaya tidak—“

“Tidak apa-apa,” potong Bom cepat. Ia kaget sendiri dengan apa yang diucapkannya.

“Eoh?” Seunghyun menatap Bom heran.

“Ti-tidak apa-apa, Seunghyun-ssi. A-aku tidak keberatan,” ujar Bom, gugup. Ia lalu menatap Seunghyun yang masih menatap lurus padanya. “Aku… kurasa aku menyukaimu.”

Mata Seunghyun mengerjap tidak percaya. Benarkah? Apa ia tidak bermimpi sekarang? Seunghyun merasa jantungnya berdegup lebih kencang.

Bom jadi merasa salah tingkah melihat Seunghyun yang diam saja. “Ani, aku… aku juga sebenarnya tidak begitu mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku, tapi setelah banyak menghabiskan waktu denganmu, mengenalmu lebih dalam… ah, molla, molla!” Bom menutup wajahnya yang sudah sangat merah sekarang.

Merasa Seunghyun masih diam, Bom menurunkan kedua tangannya. Ternyata pria itu masih tidak bergerak.

“Yya, mengapa kau diam saja? Katakan sesuatu. Aahh, aku benar-benar malu!” seru Bom sambil menggoyangkan tangan Seunghyun.

Mata Seunghyun berkedip. Baru merasa tersadar kembali. Menatap Bom yang ada di hadapannya. Apa, ini sungguhan?

“Katakan lagi,” ujar Seunghyun.

“Apa?” Bom bertanya heran.

“Katakan lagi. Aku ingin mendengarnya lagi,” ujar Seunghyun lagi.

Melihat sorot mata Seunghyun yang begitu serius, Bom mengerti apa yang dimaksud. Gadis itu menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan. “Aku menyukaimu.”

Apa ini nyata? Gadis ini akhirnya menyukaiku? Gadis ini membalas perasaanku?

“Katakan lagi,” ujar Seunghyun. Masih tidak percaya.

“Aku menyukaimu, Choi Seunghyun.”

Jadi ini benar? Benarkah? “Katakan lagi.”

“Aku menyukaimu, menyukaimu! Memangnya aku harus mengatakannya berapa kali lagi agar kau—“

Ucapan Bom terhenti begitu dirasakannya Seunghyun sudah memeluk dirinya. Erat. Mata Bom mengerjap. Sekarang jantungnya berdetak sangat kencang.

“Gomawo, Bom-ah. Jeongmal gomawo. Jeongmal gomawo,” ucap Seunghyun berulang-ulang, sambil mengeratkan pelukannya.

Bom masih tidak bergerak. Sesange, apa ia mendengar detak jantungku ini?
***

Tiga hari kemudian.

Bom mengakhiri nyanyiannya dengan petikan terakhir gitarnya.

Seunghyun bertepuk tangan keras. "Park Bom, jjang! Kau harus bernyanyi lebih sering untukku."

Bom meletakkan gitar yang dibawa dari studio mini Seunghyun itu. Tadi gadis itu baru menyanyikan Haru-Haru. Waktu itu Bom beralasan kalau seorang wanita hanya bernyanyi di depan pacarnya, dan Seunghyun menagih hal itu. Dan kebetulan juga hari ini mereka pulang lebih cepat, karena perusahaan sedang mempersiapkan untuk acara ulang tahun perusahaan besok.

"Geurae, kau memang memiliki ingatan yang sangaaaat baik," sindir Bom. Seunghyun tertawa kecil. "Wae? Kau keberatan bernyanyi untuk pacarmu sendiri?"

Bom tersenyum. "Ani. Aku senang."

Ponsel Bom berbunyi. Sebuah pesan masuk, Bom membacanya. "Eomma menanyakan kapan kau ke rumah lagi? Ah, nampaknya Eomma lebih menyukaimu daripada aku."

Seunghyun tertawa kecil mendengarnya. "Kau sudah memberitahu ibumu soal kita?"

"Belum. Tapi ia pasti sudah membayangkan hal itu terjadi," Bom mengotak-atik ponselnya. "Seunghyun-ssi, apa aku perlu mengganti namamu di ponselku?"

"Jangan, aku suka dengan sebutan Pria UFO. Mengingatkan akan pertemuan pertama kita."

Bom mendongakkan kepala, menatap Seunghyun heran. Lalu menggelengkan kepalanya. "Aigoo, jalan pikiranmu itu benar-benar... memang kau Pria UFO."

Seunghyun tersenyum. "Kurasa aku harus memperkenalkan diri secara resmi pada orangtuamu."

"Yya, kau kan sudah mengenal mereka."

"Tetap saja, sekarang situasinya kan beda dengan waktu itu," ujar Seunghyun.

"Geurae, aku akan mengatur waktunya nanti," ucap Bom. "Apa kau punya sesuatu yang bisa dimasak? Eomma bilang akan makan malam di rumah Bibi malam ini, jadi tidak memasak malam ini."

Mata Seunghyun berbinar. "Kau akan memasak disini?"

Bom tersenyum dan bangkit dari duduknya. "Jangan terlalu kaget kalau makanannya sangat enak, ya?"

Seunghyun tersenyum lebar, mengekor langkah Bom ke dapur.

"Apa saja yang kau miliki disini?" Tanya Bom sambil melihat-lihat dapur Seunghyun.

"Ajumma tetangga sebelah kemarin memberikan beberapa bahan makanan dari kampung halamannya, tapi tidak ada yang kusentuh. Aku benar-benar tidak bisa memasak."

"Baiklah, aku akan mencoba membuat sesuatu. Kau tunggu saja disana," Bom menunjuk ruang televisi.

"Shireo[2]," sahut Seunghyun, asyik memperhatikan Bom yang mulai mengambil bahan-bahan.

Bom hanya geleng-geleng kepala.

“Ah ya, bagaimana di Direksi sejauh ini?” tanya Bom sambil mengocok telur.

“Ada yang menyukaiku, ada yang tidak menyukaiku. Seperti biasa,” ujar Seunghyun sambil mengangkat bahu.

Bom tersenyum padanya. “Aigoo… kau melakukannya dengan baik, Choi Seunghyun!”

“Tentu saja! Aku sudah banyak belajar sekarang, berkatmu,” ujar Seunghyun. “Geundae, Bom-ah, apa benar aku tidak bisa membantu sesuatu? Kalau kau menyuruhku melakukan sesuatu mungkin aku bisa mencoba.”

Bom menghentikan gerakan tangannya. Menatap Seunghyun. “Lalu kita akan makan malam besok? Lupakan. Aku sudah menyuruhmu duduk saja di depan tv, mengapa masih disini?”

“Aku ingin melihat pacarku memasak untukku pertama kalinya,” ucap Seunghyun sambil tersenyum. Ia lalu seperti teringat sesuatu. “Ah, aku harus menanyakan ini sekarang. Kalau tidak aku akan lupa lagi.”

“Apa?” tanya Bom, kembali mengocok telur.

“Aku sempat penasaran, apa yang kau bicarakan dengan Ji Hyun Woo-ssi? Kalian sering bertelpon waktu itu, jadi wajar saja kan kalau aku jadi berpikir macam-macam,” ujar Seunghyun, menatap Bom penasaran.

“Aah, itu? Kami membicarakan pernikahan,” sahut Bom, berlagak acuh.

“MWO?!” Seunghyun berteriak kaget, dan langsung berjalan mendekati Bom. “Pernikahan katamu?!”

Bom tertawa melihatnya. “Eoh. Pernikahan Oppa dengan In Na Unnie,” sahutnya sambil menjulurkan lidahnya.

“AAhh… syukurlah. Aku lega,” ujar Seunghyun sambil mengusap dadanya lega. Lalu mendelik pada Bom. “Yya, kau mengerjaiku?”

Bom mengangkat bahu. “Siapa suruh cepat cemburu.”

“Yya, aku hanya cemas, cemas! Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu?” seru Seunghyun kesal. “Bom-ah, jangan bercanda seperti itu lagi! Aku merasa hidupku diperpendek 10 tahun mendengarnya!”

Bom tertawa lagi. “Arraso, mian.”

“Mulai sekarang, kau harus mengatakan semuanya padaku. Jika kau senang, bilang senang. Jika kau sedih, bilang sedih. Jangan menutupi apapun dariku,” Seunghyun berjalan ke belakang Bom, lalu memeluk gadis itu dari belakang. “Arraso?”

Wajah Bom memerah. Ia lalu tersenyum. “Arraso, uri namchi[3].”

“Bagus, kau mendengarkan dengan baik,” ujar Seunghyun sambil mengusap kepala Bom pelan.

“Tapi, kau juga tidak mengatakan semuanya padaku,” Bom teringat sesuatu. Ia mendongak, menatap Seunghyun yang masih memeluknya.

“Apa?” tanya Seunghyun heran.

“Kau tidak pernah bilang langsung padaku soal pemindahan ke Direksi. Yya, sesungguhnya aku agak sedih saat itu. Bagaimana bisa kau tidak mengatakan apapun soal itu, dan aku mengetahuinya dari temanku?”

“Ah, soal itu,” Seunghyun mengangguk-angguk. “Sebenarnya, aku memang akan bilang padamu, tapi aku tidak suka membahasnya. Jadi aku menunda-nunda setiap ingin bilang.”

“Wae?”

“Karena aku akan jarang melihatmu. Padahal waktu itu aku sedang dalam tahap usaha merebut hatimu. Kalau kau jarang melihatku, bagaimana kalau kau malah menjauh? Pikiran seperti itu terus membayangiku, dan membuatku malas membahasnya.”

 “Mwoya? Karena itu? Aku baru sekali mendengar orang dipindahkan ke Direksi tapi tidak suka. Yya, apa sekarang kau sedang menyombong?” ujar Bom, tapi tidak dapat menahan senyumnya.

“Yya! Aku mengungkapkan perasaanku padamu! Apa kau tidak bisa merasakan kesungguhanku?” protes Seunghyun.

Bom tertawa kecil. “Orang macam apa yang terus mengungkapkan perasaan?”

“Orang sepertiku,” Seunghyun mengeratkan pelukannya. “Aku akan terus mengungkapkan apa yang aku rasa setiap saat, seperti biasa. Aku akan terus bilang kalau aku sangat menyukaimu. Kalau aku mencintaimu. Kalau aku sungguh bahagia memiliki kekasih yang baik dan cantik sepertimu,” ujar Seunghyun, lalu mengecup kepala Bom lembut.

Wajah Bom memerah lagi mendengarnya. “Yya, hentikan sekarang. Aku bahkan belum memasak apa-apa.”

“Mwoya? Kau lebih mementingkan masakan daripada aku? Apa aku tidak boleh memeluk pacarku sendiri?” protes Seunghyun.

“Aigoo… sekarang kau merajuk? Andwae, cepat lepaskan. Apa kau benar-benar mau kita makan besok?” ujar Bom, sambil mencoba melepaskan tangan Seunghyun yang melingkar di pinggangnya.

Tapi Seunghyun malah mempererat pelukannya. “Shireo! Aku mau memelukmu terus seperti ini! Tidak peduli kita makan besok atau—“

“Yya, Choi Seunghyun!”

-END-



[1] Keturunan ningrat / konglomerat
[2] Tidak mau
[3] Kependekan dari namja chingu; pacar


----------------------------------------------------------------------------

huaaaah finally selesai juga ini FF :D
jeongmal jeongmal jeongmal gomawoyo buat readers yang setia bacain FF ini dari awal sampe sekarang, terutama buat yang suka komen juga. makasih banyaaaaaak :D
semoga FF ini bisa menghibur readers dimanapun berada hehehehe.
dan selanjutnya mungkin aku belum akan nulis FF lagi hehe.
happy reading and let's be happy! :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar