Selasa, 22 Desember 2015

UFO Man part 1

anyeong readers, muncul dengan FF baru nih :)
agak lama prosesnya buat FF baru hehe, dan makasih banget buat readers yang nunggu FF baru (kalo ada :D) plus bacain FF aku sebelum-sebelumnya :)

selamat membaca dan jangan lupa kasih komentar yaaa :D
_________________________________________________________

main cast : Park Bom & Choi Seunghyun
other       : find it by yourself :) tokoh mungkin akan bertambah tiap part nya

cerita ini hanya fiktif belaka dengan tokohnya saya pinjem artis-artis korea. kalau ada kesamaan nama, alur, lokasi; cuma kebetulan yang tidak disengaja :D



"Kau pernah melihat UFO?"

Bom mengerutkan kening. Ia lalu menoleh pada pria di sebelahnya.

"Maaf?" tanya Bom, memastikan apakah pria ini benar-benar bicara padanya.

"Apakah kau pernah melihat UFO?"

Kerutan kening Bom semakin dalam. Ia menatap pria di hadapannya lekat. Pria ini sangat menarik dari segi fisik. Tubuhnya tinggi, hidungnya mancung, dan berwajah tampan. Tapi mengapa kata-kata pertama yang dikeluarkannya seperti itu?

"Aku juga sebenarnya belum pernah melihatnya," ujar pria itu melihat Bom diam saja, menatapnya bingung. "Tapi aku tahu mereka ada. Para alien itu."

Salah satunya kau! teriak Bom dalam hati.

"Kita hidup seolah hanya kita yang ada di dunia ini. Lalu bertindak semau kita, menghabiskan yang ada di alam semesta tanpa memikirkan yang lain."

Bom terdiam. Ia sedang menerka-nerka, apakah sebenarnya ia pernah mengenal pria ini sebelumnya? Dimana? Pria ini bicara tenang panjang lebar seolah-olah mereka sudah saling mengenal.

Tidak. Bom yakin mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.

"Aku selalu memikirkan bagaimana bentuk mereka yang menaiki UFO itu, dan merasa agak takut membayangkan bertemu mereka. Menurutmu, apakah aku akan mendapat keberanian ketika melihat mereka?" tanya pria itu pada Bom.

Bom mengangkat alisnya. Menimbang apakah ia akan menjawab pertanyaan pria itu atau tidak.

"Mungkin," ujar Bom pelan akhirnya. Ia agak tidak tega juga kalau ada orang yang bertanya tapi ia tidak menjawab. Sekalipun orang tersebut tidak waras, ujar Bom dalam hati.

Pria itu mengangguk-angguk. "Benar, mungkin saja. Mungkin nanti keberanianku akan benar-benar terkumpul."

Bom hanya diam. Apa yang terjadi sampai aku harus mengalami hari seperti ini? Tanyanya dalam hati. Tubuhnya terasa remuk setelah bekerja seharian di kantornya yang hampir bangkrut itu, lalu bis yang ditunggunya tak kunjung datang, dan sekarang bertemu dengan orang super aneh ini.

Pria itu tiba-tiba mendongakkan kepala, melihat bis yang baru datang. "Oh, bisku datang."

Bom masih terdiam, melihat pria itu mengangguk sedikit padanya sambil berdiri. "Terima kasih, percakapan kali ini sungguh menyenangkan. Sampai bertemu lagi."

Bom tercengang mendengarnya. Percakapan? Bukankah dari tadi ia bicara sendiri?!

Dan bertemu lagi? Dalam mimpi pun ia tidak berencana melakukan hal itu!
***

Bom menghempaskan tubuhnya di sofa begitu ia memasuki rumahnya. Matanya terpejam, siap memasuki alam mimpi sampai ibunya memukul kakinya pelan.

"Ya! Mandi dan makan sana! Anak gadis macam apa yang tidur dengan pakaian lengkap dan wajah kotor seperti ini?!"

"Eommaaa... Biarkan aku kali ini saja, aku benar-benar menjalani hari yang melelahkan," rengek Bom.

Ibu Bom malah menarik tangan anaknya untuk membangunkannya paksa. "Selalu itu yang kau katakan. Kali ini, kali ini. Tidak akan pernah ada kali ini! Cepat mandi sekarang!"

"Eommaa... Aku benar-benar lelah," keluh Bom. Ia mempertahankan posisinya di sofa sementara ibunya terus menarik-narik tangannya.

"Makanya, apa yang kubilang padamu? Segera cari kerja di tempat lain dan berhenti dari tempat kerjamu itu! Kantor yang mau bangkrut itu apalagi yang bisa diharapkan?" cerocos Ibu Bom panjang lebar.

"Aku punya pekerjaan lain kok," sanggah Bom.

"Mengajar menyanyi anak-anak? Itu sambilan saja kan, kau dapat berapa dari situ? Kau seharusnya mengajar di tempat yang lebih besar dan fokus disana!"

Bom memang mengajar menyanyi anak-anak di sebuah tempat kursus menyanyi tiap sabtu. Dan memang hasilnya tidak seberapa, ibunya selalu mempermasalahkan hal itu.

“Eomma, apa aku ke Jinan saja?” tanya Bom, menyebutkan kampung halaman ibunya. Ibu Bom mengerutkan kening. “Apa yang akan kau lakukan disana?”

“Entahlah, tapi kupikir akan lebih baik disana. Eomma, bagaimana kalau kita pindah ke Jinan saja? Ada rumah nenek kan disana? Kita bisa bekerja di kebun nenek. Menghirup udara di sana juga sangat baik. Hidup kita juga akan tenang disana,” ujar Bom panjang lebar.

Ibu Bom memukul kepala anaknya pelan. “Aigoo! Anak ini! Ayahmu sudah susah payah pindah ke Seoul dan mendapat pekerjaan bagus disini, sekarang kau bilang mau pindah ke Jinan lagi? Aigoo anak ini, benar-benar!”

Bom akhirnya bergerak dari sofa, malas mendengarkan omelan ibunya lagi.

"Nah, apa susahnya sih bangun dan mandi saja?" ujar Ibu Bom. Ia beranjak menuju dapur. “Cepat sana mandi! Aku akan memanaskan sup jagung kesukaanmu.”

Mata Bom terbelalak mendengarnya. “Eomma! Kenapa tidak bilang dari tadi kalau masak sup jagung? Tahu begitu aku tidak perlu mendengar omelanmu dan langsung mandi!”

“YA! Anak nakal ini! Kau lebih memilih sup jagung daripada ucapan ibumu ini!” seru Ibu Bom dengan mata melotot.

Bom segera memasuki kamar mandi, sebelum ibunya mengomel panjang lebar lagi.
***

“Bommie-aaah, anyeong!” seru Dara, teman sekantor Bom, riang. Bom yang baru memasuki ruangan kerjanya tersenyum membalas sapaan Dara. “Anyeong, Dara-ya. Kau tetap ceria seperti biasa, ya.”

Dara mengangkat bahu. “Tentu saja! Memangnya apa yang harus dipikirkan sehingga keceriaanku berkurang?”

Bom geleng-geleng kepala mendengarnya. Teman satu tim sekaligus teman dekatnya di kantor itu, memang satu-satunya orang yang tidak terpengaruh dengan keadaan kantor mereka yang hampir bangkrut itu. Dara memang bekerja disitu bukan karena ingin bekerja, tapi untuk mencari kegiatan saja. Katanya daripada bosan di rumah, lebih baik bekerja saja. Ditambah lagi kepribadiannya yang easy going, Dara tidak begitu peduli dengan keadaan kantornya sekarang.

“Ya ya, kau memang beruntung,” ujar Bom. Ia lalu duduk di kursinya dan meletakkan tasnya di atas meja.

Dara bangkit dan menghampiri Bom. “Bommie-aaah, ada apa denganmu? Apa ibumu mengomel lagi?”

Bom mengangguk pendek. Ia lalu menatap Dara. “Dara-ya, apa aku ke Jinan saja? Kurasa hidupku akan tenang kalau disana.”

“Andwaeee!” Dara merenggut. “Kalau kau kesana, lalu aku berteman dengan siapa? Kau tahu aku hanya punya teman satu. Park Bom yang cantik ini!”

“Yya, kau selalu mengatakan hal itu kalau aku bilang mau ke Jinan,” ujar Bom, menanggapi ucapan Dara yang menurutnya tidak masuk akal itu. Bagaimana mungkin seorang Dara yang riang itu hanya punya satu teman?

“Kau juga selalu mengatakan akan ke Jinan kalau sudah stres dengan kehidupanmu,” balas Dara, menjulurkan lidahnya pada Bom.

Bom menghela nafas. “Semua orang stres di situasi seperti ini, Dara-ya. Hanya kau yang tidak. Jadi yang tidak normal itu kau, bukan aku.”

Dara terkekeh mendengarnya. Ia menepuk-nepuk bahu temannya itu. “Tenang saja, Bommie-ah. Kudengar hari ini ada orang baru yang akan datang ke kantor kita ini.”

Bom mengerutkan kening. “Ada orang yang datang? Di saat kantor seperti ini?”

Dara mengangguk.

“Apa dia gila? Aku saja berpikir keras bagaimana untuk segera keluar dari kantor ini dan mendapat pekerjaan baru,” ucap Bom tak habis pikir.

“Justru karena itu, Bommie-ah!” ujar Dara. “Kudengar, orang ini sangat hebat. Ia jenius! Katanya, ia lah yang akan menyelamatkan kantor kita dari kebangkrutan ini.”

“Mwo?” sahut Bom heran. “Ya, kantor kita ini sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Dan sekarang ada orang yang mau datang dan menyelamatkan kantor ini?”

Dara mengangguk semangat. “Benar! Bukankah itu keren? Aah, aku jadi tidak sabar ingin melihat orang itu. Dia pasti keren!”

Bom mengangkat bahu. “Aku tidak yakin. Coba saja kita lihat nanti.”
***

“Mungkin kalian sudah dengar sebelumnya, akan ada pegawai baru yang bergabung dengan unit kita,” ujar Manajer Kang, pimpinan divisi ini. Bom dan Dara, serta beberapa pegawai lain dari divisi tersebut mendengarkan ucapan manajer mereka dengan seksama. Sama-sama penasaran dengan orang baru itu.

Tak lama kemudian, sesosok pria memasuki ruangan tersebut. Ia tersenyum dan membungkukkan sedikit kepalanya, menyapa semua orang di ruangan itu.

"Woah, dia tampan!" pekik Dara pelan melihat orang itu.

Bom mengerutkan keningnya. Mengerjapkan matanya, memastikan kalau ia tidak salah lihat. Itu… si pria UFO?

“Anyeong haseyo, Choi Seung Hyun imnida. Mohon bantuannya,” pria itu membungkukkan tubuhnya sedikit.


Bom masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mengapa pria UFO itu disini? Apa dia benar-benar gila sampai mau masuk di perusahaan yang hampir bangkrut seperti ini?

"Mulai sekarang, Choi Seung Hyun akan bekerja di unit ini bersama kita," ujar Manajer Kang, menepuk bahu Seunghyun pelan.

Seunghyun menatap rekan satu unitnya satu persatu, lalu terhenti ketika melihat Bom. “Oh, kau bekerja disini?” ujarnya menunjuk Bom.

Kini semua mata tertuju pada Bom, terutama Dara. Bom mendesis dalam hati. Kenapa orang itu mengingatku?

Mau tidak mau, Bom mengangguk. Dan tersenyum canggung.

“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Manajer Kang.

“Tidak.”

“Iya.”

Bom dan Seunghyun mengucapkan kedua kata itu bersamaan. Bom melotot memandangi Seunghyun. Ia  sangat yakin tidak mengenal pria ini, tapi mengapa pria ini mengatakan kalau mereka saling mengenal?

Semua orang di ruangan itu memandangi mereka bergantian. Manajer Kang lalu berdehem. “Kurasa kalian sudah saling mengenal, meski aku tidak tahu kenapa kalian punya jawaban yang berbeda untuk itu.”

“Tapi kami memang—“

“Park Bom bertanggung jawab untuk membantu  Choi Seunghyun,” Manajer Kang memotong ucapan Bom, memandang Bom tegas. “Karena aku yakin kalian sudah saling mengenal, tentu akan lebih mudah bagi kalian berkomunikasi satu sama lain.”

Bom terpana mendengar ucapan manajernya. “Tapi aku—“

“Tenang saja, tugasmu tidak akan berat. Kau hanya perlu memberikan data-data mengenai perusahaan kita sekarang dan menjelaskan keadaannya. Selebihnya, Choi Seunghyun tahu apa yang akan ia lakukan.”


Seunghyun berjalan menghampiri Bom, mengulurkan tangannya. “Mari bekerjasama, Park Bom.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar