Selasa, 22 Desember 2015

Some



“Bom-ah!”
Bom menoleh dengan susah payah karena terhalang tumpukan CD Rom yang hampir menutupi wajahnya. Dilihatnya Seunghyun sedang berlari kecil ke arahnya. Bom tersenyum. “Oh, Seunghyun-ah.”
“Kau mau kemana?” tanya Seunghyun begitu ia sudah berada di samping Bom. Bom menunjukkan setumpuk CD Rom di tangannya. “Tuan Besar Kwon memintaku memberikan semua materi yang berhubungan dengan berkaitan dengan konser WINNER.”
Seunghyun mengambil sebagian besar CD itu dari tangan Bom tanpa sempat Bom menahannya. Mata Bom membesar. “Banyak sekali yang kau ambil. Kita bisa membaginya separuh,” ujar Bom, hendak mengambil lagi sebagian CD itu dari tangan Seunghyun. Tapi Seunghyun segera berkelit dan berjalan.
“Tuan Besar pasti sedang kalang kabut sekarang. Baru kali ini kantor kita mendapat job konser idol terkenal,” ujar Seunghyun. “Semalam, dia meledak lagi! Untung saja kau sudah pulang, kalau tidak kau bisa terjebak disini semalaman seperti aku dan Daesung!”
“Mwo[1]?! Kalian menginap disini semalam?” pekik Bom kaget.
Seunghyun mengangguk lemas. “Kantor kita benar-benar on fire sekarang. Aku kira tadinya sebuah hal yang baik agensi WINNER mempercayakan konser perdana mereka pada EO yang belum pernah mengadakan konser idol sebelumnya, ternyata ini awal dari neraka!”
Bom mengangguk-angguk. EO mereka baru berjalan empat tahun dan sejauh ini selalu sukses menyelenggarakan acara dari klien berkat tangan dingin dan profesionalisme Kwon Jiyong, ketua mereka yang disebut-sebut Tuan Besar Kwon karena sifat disiplinnya itu. Baru kali ini EO mereka mengadakan konser idol, sehingga mereka bekerja keras membuat acara ini sukses.
Bom lalu menatap Seunghyun. “Apa semalam kau sempat tidur? Kau sudah sarapan?”
Seunghyun menggeleng lagi. “Aku mau pulang ke apartemenku sebentar untuk mandi dan ganti baju, setelah itu mungkin aku akan sarapan.”
Bom lalu menahan tangan Seunghyun, menghentikan langkahnya. “Tidak. Kau harus sarapan sekarang. Aku bawa makanan,” Bom lalu menarik Seunghyun ke bangku yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Seunghyun mengikutinya dengan wajah kebingungan. “Yya[2], kau bisa mendapat masalah dengan Tuan Besar nanti. Bukankah kau disuruh untuk memberikan semua ini padanya?”
Bom tidak menyahut. Ia meletakkan CD di bangku, juga mengambil CD yang ada di tangan Seunghyun dan diletakkan diatas tumpukan CD dari tangannya. Bom lalu mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak makan.
“Ini, makanlah. Aigoo[3], bagaimana bisa kau belum sarapan jam segini? Aku kira kau dari rumah tadi,” ujar Bom sambil menyodorkan kotak makannya. Seunghyun tidak mengambilnya. “Tapi Bom-ah, bukankah sebaiknya—“
Bom menarik tangan Seunghyun dan meletakkan kotak makan itu di tangannya. Bom juga membuka tutup kotak makannya dan memberikan sendok pada Seunghyun. Seunghyun terpana melihat gerakan cepat Bom, namun diam-diam tersenyum melihat perhatian dan kekhawatiran gadis itu.
“Yya, mau aku telat memberikan CD itu atau tidak, Tuan Besar Kwon tetap akan marah-marah. Jadi biar saja, cepat makan,” ujar Bom.
Seunghyun terkekeh mendengar ucapan Bom. Ia lalu mengangguk-angguk. “Benar juga katamu,” ujarnya sambil menyuap makanan. “Ah, rasanya aku sudah lama tidak bertemu makanan! Kau tahu, semalam kami hanya makan ramen dan minum kopi.”
“Benarkah? Mengapa kalian tidak memesan delivery makanan?”
Seunghyun seakan baru tersadar. “Oh iya! Benar juga, mengapa tidak terpikir itu semalam, ya?”
“Mwoya? Bukankah sudah kupasang nomor telepon delivery di papan pengumuman supaya kita tidak makan ramen lagi kalau lembur?”
Seunghyun menyengir. “Aku lupa,” Ia lalu mengalihkan perhatian Bom pada makanan yang sedang disantapnya supaya gadis itu tidak mengomelinya. “Aigoo, ini enak sekali! Apa kau bangun pagi-pagi untuk memasak, akhirnya?”
Bom tertawa kecil. “Apa maksudmu dengan akhirnya? Tentu saja ibuku yang memasak!”
Seunghyun meletakkan sendoknya, berlagak kecewa. “Mwoya? Jadi kapan aku bisa makan masakanmu?”
“Yya, kau mau keracunan? Kau akan menyesal telah mengatakan hal ini nanti,” sahut Bom enteng. Ia memang tidak pandai memasak dan tidak ada keinginan juga untuk belajar memasak.
“Hyung!”
Seunghyun dan Bom menoleh. Daesung berjalan ke arah mereka dengan langkah gontai dan pakaian berantakan. Bom menahan tawa melihatnya. “Yya, kau habis dirampok atau kenapa?”
Daesung duduk di sebelah Seunghyun, menghela nafas berat. “Aku lembur di kantor bersama dua pria lainnya. Tapi yang satu punya pacar sehingga ada yang mengurus pakaian ganti dan sarapannya, sedangkan yang satu lagi punya orang yang disukai yang membuatnya buru-buru merapikan penampilannya sebelum bertemu dengan orang itu. Sedangkan aku tidak dalam dua kondisi itu,” ujar Daesung sambil melirik Seunghyun. Seunghyun berdehem salah tingkah. Sementara Bom menatap Daesung dan Seunghyun bergantian, bertanya-tanya.
“Daesung-ah, kau mau pulang sekarang?” tanya Seunghyun cepat, mengalihkan pembicaraan.
“Tentu saja aku mau pulang dan mak—Hyung! Kau sudah makan?!” tanya Daesung histeris melihat Seunghyun memegang kotak makan yang sudah habis separuh. Matanya berbinar melihat makanan. “Hyung, aku juga mau!” seru Daesung sambil tangannya bergerak untuk mengambil kotak makan itu. 
Seunghyun segera mengangkat kotak makan itu tinggi-tinggi, menjauhkan dari Daesung. “Tidak boleh! Ini untukku!”
“Hyuuuung,” pinta Daesung memelas. Bom tertawa melihatnya, lalu menyenggol Seunghyun. “Seunghyun-ah, berikan padanya juga. Ia pasti sangat kelaparan.”
“Mwoya? Ini kan untukku!” sahut Seunghyun keras kepala. Bom memukul tangan Seunghyun pelan, lalu mengambil kotak makan itu dan diberikan pada Daesung. “Makanlah. Kalau tahu kalian belum makan, aku bawakan dua tadi.”
Seunghyun bersungut-sungut, sementara Daesung tersenyum girang. “Terima kasih, Noona! Kau memang yang terbaik!” serunya lalu segera menyendokkan makanan itu ke mulutnya. Ia memejamkan matanya, berlagak terharu. “Ahh, ini enak sekali! Noona, sebagai ucapan terima kasih, mau aku beri tahu sesuatu?”
Bom mengangguk cepat. “Apa?”
Seunghyun menatap Daesung curiga. Daesung tersenyum usil pada Seunghyun. Seunghyun melotot, memberi isyarat pada Daesung untuk tidak bicara.
“Sebenarnya, Seunghyun Hyung—“
Seunghyun segera berdiri, lalu menarik Bom untuk berdiri dari duduknya. “Bom-ah, bukankah kita harus memberikan CD itu pada Tuan Besar? Kurasa kita sudah menunda cukup lama,” ujarnya cepat sambil mengambil tumpukan CD dari bangku.
Bom terlihat kebingungan. “Tapi, aku mau dengar—“
“Kita harus cepat, Bom-ah!” Seunghyun meletakkan beberapa CD di tangan Bom, lalu membawa sisanya di tangan kanannya. Ia mendorong Bom dengan tangan kirinya untuk segera menjauh dari tempat itu. Ia lalu menoleh pada Daesung yang sedang tertawa-tawa penuh kemenangan.
“Jangan lupa mencuci kotak makan itu kalau kau sudah selesai, dongsaeng[4]-ku sayang!” seru Seunghyun, sambil memelototi Daesung. Ia mengomel-ngomel tanpa suara pada Daesung. Daesung hanya mengangkat bahunya, lalu melanjutkan makan.
“Ah, Hyung. Siapa suruh kau tidak juga mengungkapkan perasaanmu?” Daesung menggeleng-geleng tak habis pikir. Tapi ia baru tersadar sesuatu. “Tunggu. Kalau mereka juga pacaran, berarti aku harus menyaksikan kemesraan pasangan lain selain Tuan Besar Kwon dan Dara Noona? Dan bukannya masih ada pasangan baru bulan kemarin, Taeyang Hyung dan Chaerin? Ah, dunia ini tidak adil! Bagaimana denganku?!”
***

“Jadi, besok kau kesana lagi?”
Bom mengangguk. “Aku tidak tahu apa karena mereka ini idol, konser kali ini jauh lebih sulit dibanding yang pernah kita adakan untuk penyanyi lain. Ah, membayangkan harus bertemu lagi dengan presiden agensi itu, Presiden Yang, membuatku malas. Kau tahu, dia sungguh perfeksionis seperti Tuan Besar Kwon! Aku jadi curiga, jangan-jangan mereka ayah dan anak di kehidupan sebelumnya!” gerutu Bom.
Seunghyun menepuk-nepuk bahu Bom pelan. “Aku juga dengar hal yang sama dari Seungri. Sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengannya, aku jadi penasaran seperti apa orangnya.”
“Yya, kau harusnya bersyukur tidak pernah bertemu dengannya! Lagipula kenapa Tuan Besar Kwon itu selalu menyuruhku datang kesana? Yang lain bergantian, tapi aku selalu disuruh ikut kesana.”
“Itu karena kau yang paling sabar dan dapat berkomunikasi dengan baik dengan mereka, Bom-ah. Meskipun kau menggerutu begini, tapi tetap saja kan ketika berhadapan dengan mereka kau bisa berbicara dengan baik? Kau kan mudah dekat dengan orang,” ujar Seunghyun.
Bom memicingkan matanya, menatap Seunghyun curiga. “Choi Seunghyun, kau berkata seperti itu supaya menyenangkanku, kan? Supaya aku tidak protes lagi dan minta gantian kau yang kesana?”
Seunghyun berlagak terkejut. “Ya Tuhan, bagaimana kau bisa tahu itu?”
“Yya!” seru Bom seraya memukul Seunghyun pelan, lalu tertawa kecil. “Ngomong-ngomong, kau memang tidak ada kerjaan? Mengapa santai sekali mengobrol di mejaku begini? Kalau Tuan Besar melihat—“
“Benar, kalau Tuan Besar Kwon melihat bagaimana?” sambung Dara, yang sudah berdiri di dekat meja Bom. Bom dan Seunghyun langsung berpandangan, merasa tertangkap basah oleh kekasih Tuan Besar. Mereka berdua lalu memberikan senyum manis pada Dara.
“Ani[5], Dara-ya. Bukan begitu maksudku,” ujar Bom, masih tersenyum-senyum untuk meluluhkan hati Dara. Sebenarnya Dara bukan tipe pengadu, selama ini juga ia tahu bagaimana rekan kerjanya menjuluki kekasihnya itu Tuan Besar. Bahkan Jiyong juga tahu kalau mereka menjulukinya seperti itu, dan ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Tapi tetap saja membicarakan kekasih orang di hadapan orang itu tidak enak.
“Gwenchana[6]. Tuan Besar sedang tidur siang di ruangannya. Akhirnya dia tumbang juga,” Dara menggeleng-gelengkan kepala, tidak habis pikir juga dengan sifat workaholic kekasihnya itu. Dara lalu menarik kursi dan duduk dekat Bom dan Seunghyun. “Jadi, apa yang sedang kalian bicarakan? Tunggu, aku tidak mengganggu orang pacaran, kan?”
Mata Bom membesar mendengar ucapan Dara, sementara Seunghyun langsung terbatuk-batuk.
“Aniya~ kami tadi membicarakan soal presiden agensi WINNER,” sahut Bom cepat, sambil menyenggol Dara kesal. “Dara-ya, kau juga tahu sendiri kan bagaimana Presiden Yang itu? Kita kan pernah kesana bersama.”
Dara yang menangkap sinyal dari Bom untuk segera mengalihkan pembicaraan, mengangguk-angguk. “Ah, benar sekali. Seunghyun-ah, kau juga harus bertemu dengannya. Jiyong tidak ada apa-apanya dibanding Presiden Yang!”
“Tapi, kurasa mereka sama saja,” ujar Bom tidak setuju. Dara mendelik. “Yya! Jiyong-ku lebih baik darinya!”
“Tentu saja di matamu begitu, Dara-ya,” sahut Seunghyun.
Dara melipat kedua tangannya, berlagak ngambek. “Mwoya? Kau membela Bom? Jadi kalian menyerangku sekarang?”
Seunghyun dan Bom tertawa melihat Dara.
“Tentu saja aku harus membela Bom. Kau kan punya Jiyong disisimu, aku harus ada disisi Bom,” ujar Seunghyun, masih di sela-sela tawanya.
Bom terdiam mendengarnya, lalu melirik Seunghyun. Apa yang dia katakan tadi? Di sisiku? Apa dia sungguh-sungguh? Atau bercanda seperti biasa?
Dara yang melihat hal itu hanya tersenyum simpul. Lalu menggeleng-gelengkan kepala melihat kedua temannya itu.
“Bom-ah, kau mau kubelikan lagi roti yang minggu kemarin? Lusa aku akan kesana lagi,” ujar Seunghyun.
Bom yang masih terdiam karena hal tadi, sedikit tergagap. “Oh, benarkah? Kalau begitu, belikan aku yang rasa cokelat seperti minggu kemarin.”
“Seunghyun-ah, aku juga di hadapanmu, tapi aku tidak ditawari?” tanya Dara sambil menyipitkan mata. Seunghyun tertawa kecil. “Tentu saja kau juga kutawari. Jadi, kau mau roti cokelat juga, Dara-ya?”
Dara memalingkan wajahnya, berlagak ngambek lagi. “Lupakan saja!”
Bom tertawa kecil melihatnya. Ia menyenggol Seunghyun. “Yya, dia marah. Kau harus benar-benar membelikannya nanti.”
Seunghyun mengangguk-angguk.
“Ngomong-ngomong, kau memang mau apa ke toko itu lagi? Bukankah kau bilang toko itu cukup jauh dari kantor dan apartemenmu?” tanya Bom.
“Ada reuni dengan teman-teman kuliahku lusa nanti, kebetulan tempatnya tidak jauh dari toko roti itu. Jadi sekalian saja,” jawab Seunghyun. Bom mengangguk-angguk. Teman kuliah? Berarti ada…
Tiba-tiba, ponsel Seunghyun berbunyi. Seunghyun melihat layar ponselnya, ada telepon masuk. Ia lalu bangkit dari kursi dan menjauh sedikit, lalu mengangkat teleponnya. “Oh, Jin Yi-ya.”
Bom melirik sedikit mendengar nama itu. Itu pasti Kang Jin Yi, teman kuliah Seunghyun yang paling cantik di angkatannya. Bom pernah melihat fotonya di ponsel Seunghyun waktu pria itu menunjukkan foto-foto reuninya waktu itu. Dan sepertinya mereka berdua cukup dekat.
“Bom-ah, apa besok kau akan ke agensi itu lagi?” tanya Dara, membuyarkan perhatian Bom pada Seunghyun yang sedang bicara di telepon. Bom lalu mengangguk lemas. “Iya, Dara-ya. Bisakah kau minta pada Jiyong untuk menukarku dengan orang lain? Aku yang selalu disuruh datang kesana.”
Dara menggeleng tegas. “Ani, Bom-ah. Kami tidak mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Kau tahu aku tidak mungkin meminta itu padanya. Lagipula, kau kan yang paling ahli menghadapi klien.”
Bom berlagak mengeluh. “Mwoya? Kau terdengar seperti Kwon Jiyong sekarang.”
Dara tertawa mendengarnya. “Yya, mengapa kau bilang begitu? Begini saja, aku akan menemanimu besok, bagaimana?”
Bom mengangguk cepat. “Ide bagus!”
Seunghyun yang sudah selesai bicara di telepon, berjalan mendekat ke meja Bom. “Bom-ah, jadi berapa roti yang ingin kau makan? Kurasa aku harus memesannya dari sekarang, karena ternyata teman-temanku juga mengincar toko roti itu. Aigoo, bagaimana bisa mereka mengetahui toko roti enak itu?”
“Kurasa, aku tidak jadi memesan roti itu, Seunghyun-ah. Aku sedang tidak begitu ingin makan roti. Kau belikan saja untuk Dara dan yang lainnya,” sahut Bom cepat.
Seunghyun menatapnya heran. “Wae[7]? Kau kan sangat suka roti itu? Benar kau tidak mau?”
Bom mengangguk. “Benar. Tiba-tiba saja aku tidak berselera makan roti itu,” Bom lalu bangkit dari duduknya. “Ah, aku mau ke kamar mandi dulu. Dara-ya, apa kau juga mau ke kamar mandi?”
Seunghyun masih menatap Bom heran.
***

“Benar, kau sudah tidak marah lagi?” tanya Seunghyun.
Bom menghela nafas. “Yya, memangnya kapan aku marah? Dan kenapa aku marah? Aku tidak marah,” ujar Bom.
Seunghyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku juga tidak tahu, tapi kupikir kau marah tadi. Jadi kau tidak marah?” Seunghyun menoleh pada Bom.
“Yya, perhatikan jalan!” seru Bom cepat, membuat Seunghyun segera fokus mengemudi. “Aniya[8], aku tidak marah. Untuk apa juga aku marah,” sahut Bom kemudian, sambil melihat keluar jendela mobil. Benar, mengapa aku marah? Kami berdua kan hanya teman. Aku tak punya hak untuk marah karena hal itu.
“Syukurlah kalau begitu,” ujar Seunghyun. “Oh iya, kau besok jadi ke agensinya WINNER, kan?”
Bom mengangguk. “Tentu saja. Kau pikir Tuan Besar Kwon akan berbaik hati membolehkanku bertukar dengan yang lain?”
“Aku juga ikut, tenang saja. Aku akan menemanimu,” sahut Seunghyun.
“Benarkah? Memangnya kau tidak ada pekerjaan di kantor? Kan sudah ada Dara yang pergi bersamaku. Memang Tuan Besar rela kalau banyak anggotanya yang pergi?” tanya Bom heran.
“Sebagai event planner, tentu saja aku harus ikut juga. Aku juga kan harus tahu bagaimana keinginan mereka secara langsung, supaya memudahkan pekerjaan nanti. Jadi Tuan Besar menyuruhku pergi juga besok.”
Bom mengangguk-angguk. “Oh begitu. Ah Tuan Besar itu, mengapa baru sekarang melakukan ini? Seharusnya dari awal, supaya tidak menyulitkanku terus yang harus menjadi perantara.”
Seunghyun tersenyum mendengarnya. Sebenarnya ia tadi menyampaikan usulannya itu setengah membujuk Jiyong, meyakinkan kalau ia harus datang langsung ke agensi itu. Sebelumnya memang Bom, Minji dan Seungri sebagai humas yang biasa menjadi perantara antara EO mereka dan klien, namun kali ini nampaknya klien mereka memiliki permintaan yang lebih detil dan banyak. Seunghyun tidak tega juga melihat Bom yang paling sering bolak-balik, disuruh Jiyong, karena memang gadis itu yang paling pandai bicara dan sabar dalam menghadapi orang lain. Jiyong pun merasa itu hal yang bagus, demi kelancaran pekerjaan.
“Sudah sampai,” ujar Seunghyun begitu mereka memasuki daerah rumah Bom. Rumah Bom sudah terlihat.
“Mampirlah dulu. Eomma[9] pasti memasak, kau makan dulu,” ujar Bom.
Seunghyun menggeleng sambil tersenyum. “Sudah terlalu malam, aku langsung pulang saja. Besok kan kita banyak pekerjaan.”
Mobil Seunghyun berhenti di depan rumah Bom.
“Benar kau tidak mau turun dulu?” tanya Bom, memastikan.
“Tidak usah. Lain kali aku pasti mampir, kalau tidak semalam ini. Tidak baik bertamu malam-malam, tahu?” ujar Seunghyun, bercanda.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih sudah mengantarku, Seunghyun-ah. Sampai jumpa besok,” ujar Bom, melepaskan sabuk pengamannya.
Seunghyun mengangguk. “Salam untuk kedua orangtuamu.”
Bom mengacungkan ibu jarinya, lalu keluar dari mobil. Ia melambaikan tangan pada Seunghyun, yang memberinya isyarat untuk segera masuk ke rumah. Seunghyun biasanya tidak mau pergi sebelum melihat Bom masuk rumah. Bom pun mengangguk dan segera memasuki rumahnya. Seunghyun pun menjalankan mobilnya.
Bom memasuki rumahnya. “Aku sudah pulang,” ujarnya.
“Kapan kau pulang lebih cepat? Haruskah ayahmu ini yang menjemputmu supaya kau pulang tidak selarut ini?” ayah Bom langsung memborbardirnya dengan pertanyaan. Bom langsung merajuk melihatnya. “Appa[10], kau kan tahu putrimu ini bekerja sangat keras,” ujarnya sambil memeluk ayahnya.
Ayah Bom langsung melepas pelukan Bom. “Yya, mandi dulu sana! Seharian bekerja di luar langsung memeluk ayahmu yang bersih ini.”
Bom cemberut mendengarnya. “Mwoya? Appa, jangan berlagak sok bersih.”
“Yeobo[11], untuk apa juga menjemputnya? Sudah ada yang selalu mengantarnya pulang,” ibu Bom muncul dari dapur, membawakan teh hangat di tangannya. Bom segera bergerak mau mengambil teh itu dari tangan ibunya. “Yya, ini untuk ayahmu! Di dapur masih ada lagi, ambil sana.”
“Siapa yang mengantarmu?” tanya ayah Bom.
“Siapa lagi? Tentu saja Seunghyun. Yeobo, kau kan juga pernah bertemu dengannya beberapa kali. Aigoo, anak itu baik dan sopan, juga tampan! Dimana lagi aku mendapatkan calon menantu seperti itu?”
“Eomma, jangan berlebihan. Kami hanya berteman,” ujar Bom cepat.
“Mwoya? Bukankah dia pacarmu? Dia hampir setiap hari mengantarmu pulang, bahkan beberapa kali menjemputmu juga ke kantor. Masa yang seperti itu hanya berteman?” tanya ibu Bom heran.
“Benar, kami hanya berteman.”
Ayah Bom menatap putrinya penuh selidik. “Kau selalu diantar pulang, dijemput olehnya, tapi kalian tidak pacaran? Apa kau dipermainkan olehnya?”
Bom tertawa kecil mendengarnya. “Aniya! Mengapa appa bilang begitu? Seunghyun bukan orang yang seperti itu, appa kan sudah pernah bertemu dengannya. Lagipula, bukankah appa tidak suka kalau aku pacaran?”
“Yya, aku memang tidak suka kau pacaran, tapi aku lebih tidak suka kau dipermainkan! Jadi sekarang katakan dengan jujur padaku, kau dipermainkan oleh pria itu, kan?”
“Aniya, Appa. Kami berteman dengan sangat baik,” ujar Bom. “Ah, aku haus sekali. Eomma, dimana tehnya?” tanya Bom sambil berjalan ke dapur, menghindari introgasi orangtuanya.
Ayah dan ibu Bom saling berpandangan.
Sementara itu di dapur, ponsel Bom berbunyi. Ada sebuah chat masuk.
“Bom-ah, kau sudah di rumah, kan?”
Jari Bom dengan cepat membalasnya.
“Kau kan tadi melihat sendiri kalau aku masuk rumah T.T kau dimana? Sudah sampai apartemenmu?”
“Kekeke~ aku hanya memastikan. Aku baru sampai di apartemenku.”
“Istirahatlah~ Kau kan habis lembur kemarin. Oh iya, jangan lupa makan dulu ^^”
“Arasso. Aku sedang memasak ramen sekarang.”
“Yya, mengapa makan ramen?! Tahu begitu kau tadi seharusnya makan di rumahku saja >.< sudah kubilang ramen tidak sehat >.<”
“Mian, mian[12]. Ini yang terakhir, aku tidak akan makan ramen lagi ^^”
“Selalu itu yang kau bilang >.<”
“Aniya, sekarang sungguhan terakhir ^^”
“Molla[13] >.<”
“Aku sungguhan, Bom-ah~”

“Yang seperti ini bukan pacaran?”
“Omo!” Bom hampir melempar ponselnya, kaget begitu ibunya ada di belakangnya. “Eomma!”
Ibu Bom tertawa. “Yya, apa begini anak muda jaman sekarang berteman? Kalian seperti sepasang kekasih di mataku.”
“Eomma, mengapa membaca pesan orang lain? Pelanggaran privasi!”
***

“Bom-ah, kau selalu menghadapi orang itu? Aku salut padamu,” ujar Seunghyun lemas, sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. Ia, Bom dan Dara baru dari ruangan Presiden Yang, presiden agensi WINNER. Mereka sedang duduk di kafetaria agensi yang terkenal enak itu, sekalian makan siang.
Bom tertawa kecil melihat Seunghyun. Ia menepuk-nepuk bahu Seunghyun pelan. “Sudah kubilang kan, orangnya detil dan perfeksionis sekali.”
“Kau benar. Kurasa memang Presiden Yang dan Tuan Besar itu memang ayah dan anak di kehidupan sebelumnya,” sahut Seunghyun.
“Yya! Uri Jiyong jauh lebih baik dibandingkan orang itu! Jiyong benar-benar tidak ada apa-apanya kalau dibandingnya dia. Aigoo, ternyata ada juga orang seperti itu,” sergah Dara cepat, membela kekasihnya. Bom dan Seunghyun tertawa melihatnya.
“Noona!”
Bom, Dara, dan Seunghyun menoleh. Lima orang pemuda tampan berjalan ke arah mereka dengan wajah berseri-seri. Bom langsung melambaikan tangan pada mereka. “Anyeong! Kalian sedang istirahat?”
Mereka mengangguk. “Oh, ada Dara Noona juga?”
Dara mendelik, berlagak marah. “Mwoya? Kalian hanya melihat Bom, tapi tidak melihatku?”
Mereka tertawa.
“Aniyo. Dari arah kami datang yang terlihat hanya Bom Noona dan pria di sebelahnya. Oh, kami belum pernah bertemu. Anyeong haseyo, Kang Seungyoon imnida,” Seungyoon memperkenalkan diri.
“Aku Choi Seunghyun, event planner untuk konser kalian. Senang bertemu kalian,” Seunghyun berkenalan dengan mereka satu persatu.
“Noona, mengapa tidak bilang kalau hari ini datang? Kita kan bisa makan bersama,” ujar Taehyun, yang langsung duduk di sebelah kiri Bom.
Bom tersenyum. “Kami juga belum makan, Taehyun-ah. Kita makan bersama saja.”
Mereka pun segera mencari posisi duduk masing-masing.
“Hyung, mengapa mendorongku? Duduklah di sana,” Taehyun menggeser Jinwoo yang akan duduk di sebelahnya, dan menunjuk seberang mereka tempat Dara, Seungyoon, Seunghoon dan Mino duduk. Sedangkan Seunghyun duduk di sebelah kanan Bom.
“Yya, disana sudah penuh! Kau yang harusnya geser sedikit,” ujar Jinwoo.
“Aigoo, kalian seperti anak kecil saja. Jinwoo-ya, duduklah di sebelah Seunghyun. Masih ada tempat disitu,” ujar Dara sambil menunjuk sebelah Seunghyun yang masih kosong. Akhirnya Jinwoo pun menurut dan duduk di sebelah Seunghyun.
“Anak ini, selalu begini kalau bertemu dengan Bom Noona. Yya, memangnya Bom Noona milikmu?” seru Mino sambil geleng-geleng kepala. Seunghyun tercengang kaget mendengarnya.
Sementara itu Taehyun hanya tertawa-tawa mendengarnya.
“Aigoo, anak itu. Dia maknae dan aku hyung tertua, tapi kalau sudah berurusan dengan Bom Noona dia tidak pernah mau mengalah. Yya, aku melepaskanmu hanya untuk hal ini, Taehyun-ah!” seru Jinwoo.
“Gomawo, hyung!” sahut Taehyun senang. Member yang lain menggeleng-gelengkan kepala.
“Noona, kau jangan memberi harapan padanya. Nanti dia merasa besar kepala dan benar-benar merasa kau itu miliknya saja,” ucap Seungyoon pada Bom. Bom tersenyum mendengarnya. “Yya, apa yang kau bicarakan? Taehyun ini kan adikku, sama seperti kalian semua.”
“Mwoya? Mengapa aku disamakan dengan hyung-deul?” seru Taehyun tidak terima. “Noona, kau bilang kau tidak punya pacar. Berarti aku masih ada kesempatan kan, Noona?”
“Aigoo, lihatlah anak ini!” Seunghoon memukul kepala Taehyun dengan sendok. “Sudah, sudah. Nanti Bom Noona tidak mau lagi datang karena muak denganmu.”
“Wae? Apa salahnya mendekati wanita tipe idealku?” Taehyun meringis, mengusap-usap kepalanya. Sementara Bom dan Dara tertawa-tawa melihatnya.
Seunghyun hanya terdiam mendengar semua itu.
***

“Makanya, apa kubilang? Harusnya hyung menyatakan perasaan pada noona dari dulu!”
Seunghyun langsung menutup mulut Daesung dengan kedua tangannya. “Yya! Kau ingin semua orang mendengar? Mengapa tidak sekalian kau datangi Bom dan bilang semuanya?” seru Seunghyun kesal sambil melirik ke kanan dan kiri. Mereka sedang berada di foodcourt dekat kantor mereka.
Mata sipit Daesung membesar. Ia menurunkan telapak tangan Seunghyun dari mulutnya. “Benarkah? Aku boleh memberitahunya pada noona? Aku akan menelponnya sekarang!” sahut Daesung sambil meraih ponselnya yang ada di meja.
Seunghyun langsung memukul kepala Daesung. “Yya!” serunya sambil merebut ponsel dari tangan Daesung. “Apa kau gila? Masa dia tahu dari orang lain, bukan dariku?”
“Itu hyung tahu! Mengapa tidak melakukannya? Aigoo, kau membuatku frustasi!” seru Daesung kesal.
“Daesung-ah, aku bercerita padamu karena aku sangat kesal hari ini. Mengapa kau jadi marah-marah padaku?”
“Hyung, bagaimana aku tidak kesal? Sudah kubilang dari dulu, kau harus segera menyatakan perasaanmu pada Bom Noona. Hari seperti ini cepat atau lambat tentu saja akan datang. Wanita cantik dan baik seperti Bom Noona, apa menurutmu tidak ada yang menyukainya? Apa menurutmu hanya kau di dunia ini yang menyukainya? Kalau tidak ingat kau hyungku dan sangat menyukai noona, aku pasti sudah menyukai Bom Noona juga!”
Seunghyun melotot mendengarnya. “Yya! Kau?!”
Daesung langsung menggeleng cepat. “Tidak, tidak. Maksudku, itu hanya perumpamaan. Pasti ada orang lain yang menyukai Bom Noona juga. Kau harus bergerak cepat. Lagipula, semua orang sudah tahu kau menyukai Bom Noona.”
“Iya. Hanya dia yang tidak tahu,” Seunghyun menunduk lemas.
“Karena itu buat dia tahu!” seru Daesung gemas.
“Aku takut, Daesung-ah. Kami sangat dekat, bagaimana kalau dia tidak menyukaiku seperti aku meyukainya? Bagaimana kalau setelah aku menyatakan perasaanku, hubungan kami malah tidak seperti sekarang lagi? Kami tidak bisa dekat lagi seperti sekarang.”
Daesung menghela nafas. “Aigoo, selalu itu yang kau ucapkan. Hyung, orang bertubuh besar sepertimu sangat tidak keren selalu takut dengan hal itu. Lagipula, aku yakin Bom Noona menyukaimu juga. Ani, aku yakin semua orang merasa kalau Bom Noona menyukaimu juga. Kalian berdua itu sudah seperti orang pacaran, tahu? Aku kan sering mengatakan hal ini.”
“Kadang aku juga merasa begitu,” sahut Seunghyun. “Kadang aku merasa dia menyukaiku juga, merasa kalau dia mengetahui kalau aku menyukainya dan dia balas menyukaiku. Tapi kadang aku merasa dia tidak menyukaiku juga, kalau dia memperlakukan semua teman prianya seperti itu. Kau tahu kan, Bom itu mudah dekat dengan orang dan ramah? Jadi kadang aku merasa kalau dia milikku, tapi juga bukan milikku.”
Daesung menggeleng-gelengkan kepalanya melihat hyung-nya yang kebingungan begitu. “Kalau begitu, buat dia benar-benar menjadi milikmu! Hyung, kalau dipikir-pikir mau sampai kapan kalian seperti ini? Kalian sudah saling mengenal selama dua tahun, dan sangat dekat satu sama lain. Hyung bahkan sudah bertemu kedua orangtuanya, kan? Kau hanya perlu melakukan satu langkah lagi, dan dia benar-benar menjadi milikmu!”
“Tapi bagaimana kalau—“
“Hyung, beranilah! Kau mau begini terus? Kau mau menunggu sampai Bom Noona yang mengungkapkan perasaanmu padanya? Dia kan wanita, pasti berat kalau harus mengungkapkan perasaannya duluan. Hyung, kaulah yang harus bertindak. Wanita itu butuh kepastian. Lagipula, apa kau pikir dia akan bisa menunggumu lama? Bagaimana kalau ada orang lain yang bertindak lebih berani dan cepat mengambil hati Bom Noona? Apalagi kalau orang itu lebih muda darimu, lebih tampan darimu. Kau tahu kan, kalau sekarang sedang tren wanita mengencani pria yang lebih muda?”
Seunghyun memandangi Daesung, terdiam. Daesung tersenyum lebar melihatnya, matanya langsung menyipit. “Aku benar, kan? Aku keren, kan?”
PLETAK.
“Yya, ini sudah tahun ketigamu single, kan? Berani-beraninya menceramahiku seperti itu!” seru Seunghyun setelah memukul kepala Daesung dengan sendok.
Daesung meringis sambil mengusap-usap kepalanya. “Apa yang aku ucapkan benar. Jangan menyesal nanti karena tidak mendengarkanku!”
***

“Dara-ya, kau mau pulang sekarang? Aku ikut!” seru Bom begitu melihat Dara berjalan keluar ruangan. Bom segera mengambil tasnya dan berlari kecil menyusul Dara.
“Mwoya? Tumben kau pulang denganku,” ujar Dara heran begitu Bom sudah berjalan di sampingnya.
“Wae? Kau tidak ingin pulang denganku? Daripada pulang sendiri, kan lebih baik berdua,” ujar Bom seraya menggandeng tangan Dara. Ia tahu kalau Jiyong lembur lagi di kantor, jadi Dara tidak pulang bersama kekasihnya itu.
“Ani, kau kan selalu pulang dengan Seunghyun. Ngomong-ngomong, kemana dia? Aku tidak melihatnya sejak kita pulang dari agensi tadi.”
Bom mengangkat bahunya. “Aku juga tidak tahu. Lagipula, aku tidak selalu pulang dengan Seunghyun. Aku pernah juga pulang dengan Minji, Seungri, Chaerin, dan yang lainnya. Denganmu juga pernah kan.”
“Iya, tapi paling sering kan dengan Seunghyun. Yya, jujur padaku. Kalian berdua pacaran, kan?” tanya Dara. Mereka berdua sedang menunggu lift.
Bom menggeleng. “Ani. Aku dan Seunghyun hanya berteman.”
“Benarkah? Kalian seperti pasangan kekasih di mataku.”
“Ani, Dara-ya. Kan sudah pernah kubilang, aku memang menyukainya tapi dia mungkin tidak menyukaiku. Mungkin bahkan dia masih menyukai teman kuliahnya itu, Kang Jin Yi. Aigoo, dia sangat senang ketika Jin Yi itu menelponnya kemarin,” gerutu Bom.
“Jin Yi itu mantan pacarnya Seunghyun?”
“Aku tidak tahu. Mungkin?”
“Mwoya? Atau ia gadis yang pernah disukainya?”
Bom mengangkat bahu sambil menyengir. “Aku tidak tahu.”
“Yya, kalau begitu bagaimana bisa kau menyimpulkan kalau dia masih menyukai gadis itu? Kau bahkan tidak tahu Seunghyun pernah menyukainya atau tidak,” ujar Dara gemas.
“Habisnya Seunghyun terlihat sangat bahagia ketika menjawab telepon darinya. Apalagi di foto-foto ponselnya juga mereka terlihat sangat dekat,” ucap Bom lalu menunduk.
Dara menyenggol Bom. “Park Bom, kau cemburu?”
Bom mengangkat kepalanya kaget. “Yya, tentu saja tidak! Aku bahkan tidak punya hak untuk cemburu. Memangnya aku siapanya? Kami kan hanya berteman.”
“Aigoo, kau memang cemburu. Yya, cepat ungkapkan perasaanmu padanya! Kau mau kehilangan orang yang kau sukai?” tanya Dara.
“Bagaimana bisa aku kehilangan? Aku kehilangan kalau itu memang milikku, tapi dia kan bukan milikku,” kata Bom lemas.
“Kalau begitu buat dia jadi milikmu! Aigoo, lama-lama aku kesal dengan mu! Yya—“
Bersamaan dengan itu, lift terbuka. Bom segera menarik tangan Dara memasuki lift yang kosong itu. Memotong omelannya.
“Sudahlah, jangan bicarakan dia lagi. Aku agak kesal dengannya. Ada apa dengan pria itu? Ia bertingkah aneh sejak kita pulang dari agensi tadi. Kau lihat kan, di perjalanan dia diam saja? Setelah itu menghilang dari kantor. Aku chat dan sms tidak dibalas, aku telepon juga hanya dijawab sebentar. Dia bilang sedang ada urusan. Entah dimana pria itu!” seru Bom kesal.
“Aku juga melihat tingkahnya aneh tadi. Bom-ah, apa karena Taehyun?”
Bom mengerutkan kening. "Taehyun kenapa?”
“Yya, tingkah Taehyun itu kan jelas-jelas dia menyukaimu, mengidolakanmu atau apalah. Tadi kulihat Seunghyun diam saja sepanjang kita berbincang dengan WINNER. Mungkinkah karena ia tidak suka dengan Taehyun? Dia cemburu?”
Bom menyenggol Dara. “Yya, jangan membuatku berharap begitu. Mengapa Seunghyun cemburu? Memangnya dia menyukaiku?”
Pintu lift terbuka. Dara menarik Bom dan duduk di bangku yang ada dekat jendela.
“Yya, apa kau tidak pernah merasa kalau Seunghyun menyukaimu juga? Jujur padaku, Bom-ah,” ujar Dara begitu mereka berdua sudah duduk.
Bom terdiam sebentar. Lalu menatap Dara. “Tentu saja aku pernah merasa seperti itu. Ia sangat baik dan perhatian. Selalu membantuku. Tentu saja aku pernah merasa kalau dia menyukaiku juga. Tapi kadang aku juga merasa kalau dia tidak menyukaiku sebagai wanita, hanya sebagai teman saja. Aku jadi berpikir, kalau jangan-jangan aku merasa dia menyukaiku itu hanya bagian dari harapanku saja? Karena aku menyukainya, jadi aku berharap dia menyukaiku juga. Ah, entahlah.”
Dara menggeleng-gelengkan kepalanya. “Park Bom, semua orang sudah tahu kalau kalian saling menyukai. Kalian itu sudah seperti sepasang kekasih, tahu?”
Bom mendorong Dara pelan. “Yya, jangan berusaha menghiburku.”
“Terserahlah kalau tidak percaya,” Dara mengangkat bahunya. “Yya, bagaimana kau mengungkapkan perasaanmu padanya? Daripada dia keburu diambil orang lain! Apalagi pria seperti Seunghyun yang tampan, pintar, juga baik itu. Pasti banyak yang menyukainya. Karena itu kau harus bergerak cepat!”
“Yya, aku wanita! Masa aku harus mengungkapkan perasaan padanya?”
“Apa masalahnya? Bom-ah, ini 2015. Tidak ada salahnya kalau wanita yang mengungkapkan perasaannya duluan.”
Bom menggeleng. “Ani, selain itu, kami sangat dekat. Bagaimana kalau ternyata dia tidak menyukaiku sebagai wanita, dan pertemanan kami jadi rusak? Kalau sudah ada pernyataan perasaan, bukankah kau tidak bisa berteman seperti semula?”
“Aigoo, gadis ini! Percayalah padaku, dia pasti menyukaimu juga! Aku bisa melihat itu!” seru Dara kesal.
“Sudahlah, Dara-ya. Jangan ucapkan hal seperti itu lagi,” ujar Bom.
“Bom-ah.”
Bom dan Dara menoleh begitu ada yang memanggil Bom. Seunghyun sedang berjalan ke arah mereka.
“Yya, kau kemana saja? Mengapa hari ini kau aneh sekali?” tanya Bom kesal begitu melihat Seunghyun. Dara meliriknya, tersenyum kecil mendengarnya.
“Aku ingin bicara denganmu,” ujar Seunghyun, tak mempedulikan ucapan Bom.
“Sekarang?” tanya Bom. Seunghyun mengangguk.
“Yya, bagaimana kalau besok saja? Aku sudah berjanji pada Dara untuk pulang—“
“Ani, ani. Aku bisa pulang sendiri. Kalian berdua bicaralah,” potong Dara cepat.
“Tapi kan aku sudah berjanji tadi—“
“Aku yang akan mengantar Dara Noona, Noona,” potong Daesung yang tiba-tiba muncul. “Tuan Besar menelponku tadi untuk mengantar Dara Noona selamat sampai rumahnya,” Daesung mengacungkan ponselnya.
Dara langsung bangkit dari tempat duduknya. “Kau lihat kan, Bom? Daesung akan mengantarku, jadi kau jangan khawatir. Aku pulang dulu!” seru Dara sambil melambaikan tangannya. Dara memberi isyarat dengan gerakan bibirnya yang berbunyi jangan lupa apa kataku tadi, nyatakan perasaanmu!
Bom melotot melihatnya, namun juga memikirkan ucapan Dara. Apa aku sebaiknya mengikuti saran Dara, ya? Bagaimana kalau ucapannya benar?
Seunghyun lalu duduk di samping Bom begitu Dara dan Daesung sudah pergi. Bom menoleh padanya. “Seunghyun-ah, kau tidak apa-apa? Mengapa seharian ini kau menghilang? Kau baik-baik saja?”
Seunghyun tersenyum mendengarnya. “Aku tidak apa-apa, Bom-ah.”
“Benarkah? Lalu tadi kenapa kau menghilang?”
“Aku hanya kesal tadi.”
Bom mengerutkan kening. “Kesal kenapa? Apa kau begitu kesal sampai menghilang begitu? Kau tidak kena marah Tuan Besar?”
Seunghyun menatap Bom. “Tuan Besar biar besok aku hadapi. Sekarang, aku harus bicara denganmu.”
Bom terdiam mendengarnya. Tiba-tiba, ia teringat lagi ucapan Dara. Apa aku lakukan sekarang saja? Daripada nanti yang dikatakan Dara benar-benar jadi kenyataan, Seunghyun diambil orang lain. Tapi bagaimana…
“Bom-ah?”
“Oh?” Bom tersadar dari lamunannya. “Oh iya, baguslah. Aku juga ingin bicara sesuatu.”
Seunghyun mengerutkan kening. “Apa?”
“Kau saja dulu. Kau kan yang bilang duluan mau bicara,” ucap Bom.
“Ani, kau saja duluan. Apa yang ingin kau katakan? Aku akan mendengarkan duluan,” ujar Seunghyun.
Bom menggeleng. “Kau kan yang bilang duluan, tentu saja kau bilang duluan. Masa aku menyela kau?”
“Tidak, kau tidak menyela. Kau duluan saja.”
“Tidak, kau yang duluan.”
Mereka berdua terdiam, lalu tertawa geli.
“Yya, apa yang kita lakukan?” tanya Bom di sela tawanya. Seunghyun mengangkat bahunya. “Entahlah. Apa yang kita lakukan?”
Mereka berdua terdiam lagi beberapa saat.
Hening.
“Aku menyukaimu!”seru mereka bersamaan. Dan mereka sama-sama kaget dengan apa yang mereka dengar. Mereka saling berpandangan.
“Mwo? K-kau...,” Bom tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Ia masih kaget dengan apa yang ia dengar dari Seunghyun. Sementara Seunghyun mengangguk dan tersenyum, masih kaget, lega, sekaligus senang dengan apa yang terjadi barusan.
“Aku menyukaimu, Bom-ah. Saranghae,” ucapnya mantap. “Maaf baru mengatakannya sekarang. Aku bodoh, kan?”
Bom menggeleng cepat. Ia tersenyum lebar. “Ani, Seunghyun-ah. Aku yang bodoh. Tapi aku senang sekali sekarang.”
Seunghyun ikut tersenyum. “Aku juga. Kau tidak tahu betapa senangnya aku mendengarmu tadi. Rasanya apapun bisa kuhadapi setelah mendengarmu mengatakan menyukaiku tadi,” Seunghyun menggenggam tangan Bom. “Terima kasih, Bom-ah. Terima kasih.”
Mata Bom berkaca-kaca mendengarnya. Seunghyun mengelus pipi Bom. “Yya, jangan menangis. Apa kau mau menangis di saat bahagia seperti ini?”
Senyum Bom melebar. “Justru karena itu. Karena aku sangat bahagia sekarang sampai-sampai aku ingin menangis.”
***

Sementara tak jauh dari mereka, segerombol orang berdesakan mengintip dari balik tembok.
“Yya, jangan mendorongku terus! Ini klimaksnya, mereka akan berciuman sekarang!” seru Dara pelan, menahan beban dari orang-orang di belakangnya yang ikut mengintip kedua pasangan itu.
“Benarkah? Benarkah?” tanya Minji semangat. Ia berjinjit-jinjit supaya dapat melihat lebih dekat.
“Chaerin-ah, kau menghalangiku! Geser sedikit!” seru Seungri, menahan suaranya.
“Yya, jangan membentak Chaerin-ku!” sahut Taeyang cepat.
“Aigoo, kenapa kalian semua berisik sekali? Harusnya kalian tadi pulang saja, jangan mengikutiku dan Dara Noona disini,” keluh Daesung kesal.
“Yya, yya, mereka semakin dekat!”
“Omo, omo!”
“Ahh, kalian berat sekali! Mundur sedikit, aku akan jatuh!”
“Sedikit lagi, sedikit lagi!”
“Yya, pelankan suaramu! Mereka bisa dengar nanti.”
“Yya, kalian sungguh berat!”
“Omo, lihat itu! Semakin dekat!”
“Apa yang kalian lakukan?” sebuah suara berat mengagetkan mereka. Gerombolan orang itu langsung jatuh, diiringi teriakan-teriakan kesakitan karena saling tertindih satu sama lain.
Bom dan Seunghyun langsung menoleh kaget. Dilihatnya teman-temannya sudah jatuh tidak beraturan, masih berteriak kesakitan.
Dara berteriak paling kencang.
“Aigoo, aigoo! Punggungku, punggungku! Yya, aku paling bawah! Selamatkan aku, selamatkan aku!”
Jiyong, orang yang mengagetkan mereka, langsung panik mendengarnya. “Dara-ya! Dara-ya! Yya, kalian semua bangun sekarang!” Jiyong segera bergerak untuk menyingkirkan orang-orang yang menghalangi tubuh Dara. Tapi sulit karena posisi mereka sudah tidak beraturan dan saling terjepit satu sama lain.
Bom dan Seunghyun berlari kecil menghampiri mereka. Membantu mereka berdiri, namun mereka masih saling terlilit.
“Yya, mengapa bisa begini?” tanya Bom heran.
“Apa yang sebenarnya kalian lakukan?” Seunghyun tidak habis pikir. Mereka bertiga, dengan Jiyong, mengangkat orang-orang itu satu persatu. Namun malah semakin kacau karena mereka saling bertabrakan satu sama lain. Mereka jatuh lagi.
“Aaaah, aaaah!”
“Yya! Sakit sekali!”
“Aigoo, punggungku!”
“Aahh, sakit! Jangan menendangku! Jangan menendangku!” seru Dara.
“Yya, siapa yang menendang Dara? Cepat bangun sekarang!” teriak Jiyong marah. Tapi mereka semua masih susah bergerak, masih berteriak-teriak sakit.
“YYA, KALIAN SEMUA BANGUN SEKARANG! CEPAT BANGUN SEKARANG! KALAU TIDAK AKU PECAT KALIAN! JANGAN SAKITI DARA-KU!”

-END-

SOME
Soyou ft Jungigo

Sometimes, I get annoyed without even knowing
But my feelings for you haven’t changed
Maybe I’m the weird one, I thought
As I struggled by myself
While tossing and turning alone in an empty room
The TV plays reruns of yesterday’s drama
As I hold my phone that doesn’t ring until I sleep
These days, it feels like you’re mine, it seems like you’re mine but not
It feels like I’m yours, it seems like I’m yours but not
What are we? I’m confused, don’t be aloof
It feels like we’re lovers, it seems like we’re lovers but not
Whenever you see me, you act so vague to me
These days, I hate hearing that I’m just like a friend
I want to open my eyes to your text every morning
I want to fall asleep with your voice at the end of the day
On the weekends, I want to hug you in front of a lot of people as if I’m showing off
These days, it feels like you’re mine, it seems like you’re mine but not
It feels like I’m yours, it seems like I’m yours but not
These days, I hate hearing that I’m just like a friend
I don’t like you, don’t like you these days
But I only have you, I only have you
Clearly draw the line for me
Don’t pull out but confess your love to me
Pretending that we’re just friends, acting like we’re lovers, don’t do that
The more I think about it, I get more curious about your real feelings
Girl you’re so ambiguous, I can’t do anything or maybe I’m expecting a miracle, lotto
I want a clear sign but I forget all about it when I see your smile
These days, it feels like you’re mine, it seems like you’re mine but not
It feels like I’m yours, it seems like I’m yours but not
Don’t just laugh like you don’t know and stop this now, be real with me
Don’t put me in your heart and look elsewhere
Why don’t you stop acting like you don’t know when you do know?
Don’t give excuses that you’re tired but hurry and tell me, I love you

p.s: FF ini terinspirasi dari lagu Some-nya Soyou ft Jungigo. Seneng banget sama lagu ini, nggak bosen dengernya!





[1] Apa
[2] Hei
[3] Ya ampun
[4] Adik
[5] Tidak
[6] Tidak apa-apa
[7] Kenapa
[8] Tidak
[9] Ibu
[10] Ayah
[11] Sayang
[12] Maaf
[13] Tidak tahu, masa bodo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar