Selasa, 22 Desember 2015

Irreplaceable You part 5 (End)



Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan saranya :)
_______________________________________________________________


TOP membuka matanya, melihat Bom berlari ke arahnya. TOP baru hendak membuka mulutnya mengucapkan kalimat maaf yang disusunnya sejak tadi, ketika gadis di hadapannya memberondongnya dengan serentetan kalimat.

“Seung Hyun-ah! Apa yang kau lakukan? Omo, tanganmu dingin sekali! Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja?!”

TOP termangu. Wajah Bom tampak sangat khawatir, dan memeriksa kedua tangannya yang memang sangat dingin.

“YA, Choi Seung Hyun, apa yang kau lakukan disini dengan cuaca sedingin ini? Apa kau bodoh?” cecar Bom, masih dengan wajah khawatirnya. “Sesange[1], tubuhmu dingin sekali!”

TOP masih terdiam melihat Bom, semakin merasa bersalah.

Bom menatapnya, dengan pandangan amat khawatir. “Jangan-jangan, kau menungguku, ya? Kau menungguku tapi aku tidak mendengar kau mengetuk pintu mobilku karena musik yang kunyalakan terlalu keras? Iya begitu?” Bom menepuk keningnya sendiri. “Bodohnya aku! Seung Hyun-ah, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau—“

TOP langsung memeluk Bom erat. Sekarang gadis itu justru minta maaf padanya, padahal jelas-jelas ia yang bersalah padanya.

Bom menggosokkan tangannya ke punggung TOP. “Kau pasti sangat kedinginan, kan? Maafkan aku, Seung Hyun-ah.”

“Jangan bilang maaf lagi. Aku yang salah, Bom-ah,” TOP makin mempererat pelukannya.

“Tidak, aku yang—“

“Kubilang jangan bilang maaf lagi,” potongnya. Bom terdiam. Ia lalu menggosokkan lagi tangannya ke punggung TOP. “Kau sangat kedinginan, kan? Ayo masuk mobil, supaya kau tidak membeku disini.”

TOP tidak bergerak. Ia tetap memeluk Bom.

Bom menghela nafas. “YA, Choi Seung Hyun! Apa kau ingin kita mati kedinginan disini?” seru Bom akhirnya. Ia tahu ia harus mengucapkan kita karena itu juga melibatkan dirinya. Bila hanya menyebut TOP, pria itu tidak akan peduli apapun.

TOP mengendurkan pelukannya. “Ayo masuk mobil.”

TOP kemudian menarik tangannya dan masuk ke mobil. Bom segera menyalakan penghangat dan menutup pintu mobilnya.

Bom mengambil tas dan mengaduk-aduk isinya.

“Apa yang kau cari?” tanya TOP. Ia mendekatkan kedua tangannya ke penghangat mobil.

Bom kemudian mengeluarkan syal hangat dari tasnya. Ia melingkarkan syal itu ke leher TOP. TOP hanya terdiam melihat gadis di hadapannya melakukan hal itu dengan wajah khawatir.

“Aaah jinjja[2]! Berapa lama kau berdiri disana? Kau sudah beku sekarang, pasti sangat lama. Kau hanya tinggal mengetuk pintu mobilku dan kau tidak akan membeku seperti sekarang!” Bom mencercau sambil menggosok-gosokkan tangannya pada tangan TOP.

“Aku tidak apa-apa, Bom-ah,” lirih TOP. Ia makin merasa bersalah melihat Bom seperti ini. Akan lebih baik kalau ia mendapat sebuah tamparan, bukan perhatian seperti ini.

“Tidak apa-apa bagaimana? Kau seperti mayat hidup dengan beku seperti ini!” seru Bom kesal. TOP menghentikan gerakan tangan Bom, lalu menggenggam tangan gadis itu. “Mianhe[3], Bom-ah. Jeongmal mianhe[4].”

“Tentu saja! Kau harus minta maaf atas kebodohanmu menunggu lama di luar mobilku dan menjadi beku seperti sekarang!”

TOP menggelengkan kepala. “Bukan itu. Aku pantas mendapatkannya, aku bahkan pantas mendapatkan yang lebih dari itu.”

Bom mengerutkan kening.

“Maafkan aku karena telah menyakitimu dengan perkataanku, aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Benar katamu, aku tidak mengerti. Aku memang tidak mengerti tapi langsung menyimpulkan kalau kau mau diajak berkencan oleh Kim Ki Joon. Aku memang tidak mengerti, memang bodoh, memang—“

Ucapan TOP berhenti karena Bom kini memeluknya erat. “Gwenchana[5], Seung Hyun-ah. Gwenchana.”

“Tapi aku… aku…,” TOP jadi kehabisan kata-kata. Menghadapi Bom yang seperti ini membuatnya tidak tahu harus apa.

“Sudah kubilang, tidak apa-apa,” Bom melepaskan pelukannya, lalu tersenyum lebar padanya. “Semuanya sudah berlalu, dan kau sudah disini, di sampingku. Lalu apa masalahnya sekarang?”

TOP tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Gadis ini, dengan mudahnya memaafkannya?

“Kau, tidak marah padaku?” tanya TOP.

“Tentu saja aku marah! Aku marah dengan apa yang kau lakukan dan kesalahpahaman di antara kita! Tapi itu semua sudah berlalu, kan? Kau juga sudah tahu kalau kau salah paham, lalu untuk apa aku masih marah padamu?”

Kini mata TOP berkaca-kaca. Betapa bodohnya ia, gadis sebaik ini malah ia sakiti.

Bom mengusap pipi TOP pelan. “Jangan menangis. Kau sangat tidak keren kalau menangis, tahu? Aku bisa tidak menyukaimu lagi nanti,” ujarnya sambil tertawa kecil. TOP mengacak rambut Bom pelan.

“Bom-ah, bagaimana kalau kita berkencan di depan publik?” tanya TOP.

“Di depan publik? Seperti In Na Unnie dengan Ji Hyun Woo Oppa?”

TOP mengangguk.

“Dan kau lupa hal-hal sulit yang harus mereka hadapi? Itu tidak akan mudah, Seung Hyun-ah,” ujar Bom.

TOP menghela nafas. “Tapi dengan begitu, tidak ada yang akan berani mendekatimu lagi, Bom-ah.”

Bom tersenyum. “Memangnya kenapa kalau ada yang mendekatiku? Toh aku tidak akan meninggalkanmu, kan? Kau sudah percaya padaku, kan?”

TOP menggenggam tangan Bom erat. “Aku percaya. Tapi tetap saja sepertinya lebih baik kalau kita tidak berkencan sembunyi-sembunyi, Bom-ah. Tidak akan ada lagi yang meragukan kalau kau punya pacar, seperti Kim Ki Joon itu.”

Bom mengangguk. “Aku juga sering iri sih dengan In Na Unnie yang bisa dengan bebas pergi dengan Hyun Woo Oppa di depan umum, tanpa takut ketahuan siapapun. Tapi kita kan bertanggung jawab juga dengan grup kita, Seung Hyun-ah. Bagaimana dengan member yang lain?”

“Benar juga. Mereka akan kesulitan juga karena kita,” sahut TOP.

Bom mengangguk. "Kita harus tahan berkencan sembunyi-sembunyi, seperti Jiyong dan Dara. Aku yakin setelah kencan bertahun-tahun mereka juga ingin kencan depan publik, tapi mereka tetap berusaha merahasiakannya, kan?"

TOP mengangguk, dan tersenyum hangat.

Bom lalu menepuk dahinya, teringat sesuatu. “Ya ampun! Ulang tahun Dara!”

TOP melirik arloji di pergelangan tangannya. “Nampaknya mereka akan segera memulai pestanya, Bom-ah.”

Bom segera menyalakan mobilnya dengan panik. “Chaerin akan memanggangku hidup-hidup kalau terlambat malam ini!” Ia pun mulai menjalankan mobilnya keluar tempat parkir.

“Tapi dari tadi ponselmu tidak berisik. Mungkin mereka tidak akan marah, Bom-ah,” TOP mencoba menenangkan Bom yang mulai menaikkan laju kecepatan mobilnya.

“Ponselku mati karena baterainya habis. Aaahh ini bahkan lebih buruk, mereka pasti sedang marah-marah karena aku juga tidak bisa dihubungi!” Bom semakin panik dan makin mempercepat laju mobilnya.

“YA, Bom-ah, pelankan lagi mobilnya,” TOP mulai berpegangan ke pegangan samping atas mobil. Bom tidak menggubrisnya. Ia tetap konsentrasi pada jalanan di depannya dengan memacu mobilnya cepat.

“Bom-ah, kurasa lebih baik aku yang menyetir, ya?” bujuk TOP. Bom menggeleng cepat. “Tidak ada waktu, Seung Hyun-ah.”

TOP menghela nafas sambil memperkuat pegangannya. Ia lalu melihat ke depan dan …

“Awas, Bom-ah!!”

Mobil sedikit berdecit. Bom langsung membanting stir ke kiri. Telat sedetik saja, mereka akan bertabrakan dengan sebuah taksi. TOP melotot kepada gadis di sampingnya itu.

“Park Bom!! Hentikan mobilnya sekarang!!”



[1] Ya Tuhan
[2] Benar-benar
[3] Maafkan aku
[4] Aku benar-benar minta maaf
[5] Tidak apa-apa

____________________________________________________________

silakan dikomen yaa chingu hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari chingu-deul :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar