Selasa, 22 Desember 2015

Irreplaceable You part 4



Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan saranya :)
_______________________________________________________________


TOP menggerakkan mouse di tangannya dengan gelisah. Ia berkali-kali melihat jam tangannya. Ia pun kemudian bangkit dari tempat duduknya.

“Hyungnim, Noona, kurasa aku lebih baik pulang. Sudah selesai kan, untuk hari ini?”

Tablo dan Hye Jung mengangguk kompak. “Terima kasih sudah datang hari ini, Seung Hyun-ah,” ucap Tablo.

TOP tersenyum dan mengangguk. Ia meraih mantelnya dan pamit pada pasangan suami istri itu.

Ketika TOP sudah pergi, Tablo langsung mendorong kepala istrinya pelan. “Aigoo, wanita ini! Lihat apa yang telah kau lakukan!”

Hye Jung meringis. “Aku tahu! Jangan memukulku begitu, aku sudah bukan pacarmu lagi!”

“Iya, tapi kau istriku! Kau seharusnya mendapatkan yang lebih dari itu! Aigoo, mulutmu itu berbahaya, sangat berbahaya!”

“YA, aku tidak sepenuhnya salah. Lihat saja, pasti hubungan mereka membaik setelah ini,” sahut Hye Jung.

Tablo geleng-geleng kepala melihatnya. “Sekarang kau begitu percaya diri? Kau bahkan membuat mereka berkata dingin satu sama lain di hadapan orang lain.”

“Kau tidak mengerti, Seon Woong-ah. Kau tahu mengapa TOP gelisah dan terburu-buru? Ia pasti ingin mengejar Bommie. Setelah itu, mereka akan menyelesaikan urusan mereka berdua.”

Tablo berdecak. “Kau sungguh-sungguh tahu, Hye Jung-ah.”

“Aku benar, Seon Woong-ah! Dulu kita juga begitu kalau bertengkar, kau ingat, kan? Pertengkaran besar kita terakhir kali sampai kemudian kita memutuskan untuk menikah?”

Tablo mengingat-ingat. “Ah ya! Memang iya juga ya.”

“Sekarang hanya tergantung pada mereka, apakah mereka ingin menyelesaikannya atau tidak.”
.
.
TOP mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat parkir. Nafasnya naik turun. Ia berlari dari studio ke parkiran ini.

“Kau bahkan mengikutiku ke tempat ini?”

TOP mendengar suara yang sangat ia kenal. Itu Bom. Ternyata tak jauh darinya, Bom sedang berbicara dengan seseorang. TOP berjalan mendekat.

Kim Ki Joon.

“Bagaimana latihanmu? Pasti sangat lelah. Ayo kita mencari makan dulu!” sahut Kim Ki Joon. Ia menarik tangan Bom.

Mata TOP terbelalak melihatnya. TOP berjalan cepat ke arah mereka, setengah berlari. Berani-beraninya pria itu!

“YA, Kim Ki Joon!” Bom berseru kencang. Ia menghentakkan tangannya, dan tangan Kim Ki Joon terlepas. TOP kaget melihatnya. Bom tampak sangat marah. TOP mundur dan melihat mereka dari balik tiang.

“Kau pikir siapa kau? Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak akan keluar denganmu dan tidak akan tertarik padamu! Apa kau punya telinga untuk mendengar itu?! Apa otakmu terlalu dangkal untuk mengerti semua itu?!”

TOP terpana mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar Bom berbicara begitu keras dan kasar pada orang lain.

Kim Ki Joon tersenyum. “Kau sudah mengucapkan kata-kata itu dari awal, Bom-ssi. Dan bukankah aku juga sudah bilang, hanya masalah waktu kau akan menyukaiku?”

Dari awal? TOP mengerutkan kening.

“Jadi tamparanku kemarin itu belum cukup, ya? Kim Ki Joon-ssi, apa kau tidak punya malu? Aku ini gadis yang sudah punya pacar. Kau tidak malu mengejar orang yang sudah menjadi milik orang lain? Kau tidak punya harga diri?”

“Ya, aku memang tidak punya malu. Bom-ssi, aku sudah bilang padamu. Kali ini aku serius, dan aku belum pernah merasa se-serius ini pada wanita sebelumnya. Kau harusnya tahu itu.”

“Tidak, aku tidak tahu. Yang aku tahu, seharusnya kau tidak mengganggu milik orang lain!”

Kim Ki Joon tersenyum lagi. “Bom-ssi, aku tahu kau belum menyukaiku. Tapi untuk berkata kau sudah punya pacar, bukankah kau sudah bertindak terlalu jauh? Kalau memang kau sudah punya pacar, mengapa pacarmu tidak pernah datang padaku? Biar kami menyelesaikan dengan jantan.”

TOP hendak langsung menghampiri pria itu dan meninjunya, ketika saat itu juga ia mendengar suara Bom. “Ia tidak sepertimu, Kim Ki Joon-ssi. Ia tidak picik sepertimu. Ia pria baik, kau harus tahu itu.”

TOP terpana. Bom… berkata seperti itu?

“Karena itu, karena itu, menjauhlah dariku sekarang. Kau tidak akan mampu menandinginya, sampai kapanpun.”

Kim Ki Joon terdiam beberapa saat, begitu juga TOP. Ia tidak menyangka Bom akan berkata seperti itu tentang dirinya.

Kemudian Kim Ki Joon menghela nafas. “Aku kecewa mendengarmu berkata seperti itu, Bom-ssi. Tapi kalau kau kira dengan begitu akan menghentikanku, kau salah. Aku tidak akan berhenti.”

“Aku tahu. Karena itu, aku membuat laporan pada polisi, mengenai penguntitan beberapa hari belakangan ini.”

Wajah Kim Ki Joon berubah. “Bom-ssi, apa kau benar-benar…”

“Ya, aku benar-benar melaporkanmu. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Kim Ki Joon-ssi. Dan aku juga punya bukti, jadi itu bukan laporan yang sia-sia.”

Ponsel Kim Ki Joon berbunyi. “Ya, Manajer Seo?” Kim Ki Joon mengangkat ponselnya. “Apa?!”

Bom tersenyum sinis. “Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, Kim Ki Joon. Aku pergi dulu.”

Kim Ki Joon kehabisan kata-kata. Bom berjalan menuju mobilnya.

TOP, yang masih berdiri di belakang tiang, menatap gadis itu tak percaya.
.
.
TOP langsung menghampiri mobil Bom begitu Kim Ki Joon pergi dengan terburu-buru setelah mengakhiri panggilan dari manajernya. Ia mengulurkan tangan hendak membuka pintu mobil Bom, namun terhenti melihat gadis itu sedang menangis.

TOP menarik tangannya lagi. Bom memutar musik sangat keras, jadi TOP yakin gadis itu menangis keras juga. Pria itu menghela nafas. Bodoh. Bodoh sekali Choi Seung Hyun. Aku sungguh membuatnya menderita. Bahkan aku tidak dapat menghentikan tangisnya sekarang.

TOP melangkah mundur, dan menyandar pada dinding yang sejajar dengan bagian belakang mobil Bom. Ia memejamkan mata.
.
.
Bom menyeka sisa-sisa air mata di pipinya. Ia menangis begitu keras dan lama kali ini. Bom menghela nafas, teringat lagi TOP yang acuh padanya karena salah paham. Bom melirik jam tangannya. Ternyata hampir setengah jam ia diam dalam mobil ini dan menangis. 

“Ah, ulang tahun Dara! Kurasa aku harus cepat pulang ke asrama!” serunya. Bom menyalakan mesin mobilnya dan melihat kaca spionnya. Keningnya berkerut.

“Seung Hyun?”

Dilihatnya TOP sedang bersandar di dinding yang sejajar dengan bagian belakang mobilnya. Kedua tangan TOP melipat di dada, dan matanya tertutup.

“Apa yang ia lakukan? Sejak kapan ia berdiri disitu?” Bom bertanya pada dirinya sendiri, kemudian ia terbelalak. “Jangan-jangan ia sudah berdiri disana sejak tadi?!”

Bom langsung mematikan mesin dan membuka pintu mobilnya. Gadis itu segera berlari ke arah TOP.

“Seung Hyun-ah! Apa yang kau lakukan? Omo[1], tanganmu dingin sekali! Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja?!”

-TBC-


[1] Ya ampun


____________________________________________________________

silakan dikomen yaa chingu hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari chingu-deul :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar