Selasa, 22 Desember 2015

Irreplaceable You part 3



Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan saranya :)
_______________________________________________________________


Bom memejamkan matanya. Namun bayangan beberapa hari yang lalu semakin terlihat jelas.

“Seharusnya kau tidak menerima tawaran makan malam dengan Kim Ki Joon waktu itu, Bom-ah! Sekarang orang itu semakin menempel padamu!” seru TOP kesal. Bom baru saja keluar dari mobilnya dan mendapati TOP ada di basement apartemen asramanya.

“Bagaimana bisa aku tidak menerimanya? Aku sedang bekerja sama iklan dengannya, dan makan malam waktu itu bersama seluruh kru, bukan hanya kami berdua, Seung Hyun-ah,” Bom menatap TOP, mencoba mencari pengertiannya. Dan hari ini ia memang lelah sekali karena baru selesai latihan larut malam begini, jadi ia tidak ingin memperpanjang percakapan ini.

“Tapi bukan itu yang dipikirkannya! Semua orang juga tahu kalau aktor Kim Ki Joon itu playboy dan menyukai wanita cantik sepertimu! Mengapa kau menjadi satu-satunya yang berlagak tidak tahu hal itu?”

“Berlagak?” Bom memicingkan matanya. “Seung Hyun-ah. Kau sudah berlebihan. Aku tahu semua itu, dan aku juga tidak bilang kalau aku menyukai pria itu, kan? Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, kalau aku menyukai orang lain kau adalah orang pertama yang akan kuberi tahu!”

“Kalau begitu, mengapa kau tidak memberitahuku sekarang?! Aku sekarang ada di depanmu, cepat beritahu! Akan jauh lebih baik aku mengetahuinya sekarang daripada nanti tersebar di internet mengenai kau dan Kim Ki Joon!”

Bom menghela nafas. Ia memijat keningnya yang semakin terasa pening. Namun ia tahu kalau TOP sudah marah, emosinya sangat tidak terkendali. “Apa aku bilang seperti itu, Seung Hyun-ah? Aku tidak bilang aku suka padanya! Dan aku memang tidak suka padanya, apa yang harus kuberi tahu padamu?”

“Begitu? Kau tidak suka sedangkan sekarang hampir tiap hari Kim Ki Joon datang ke agensi dan mengajakmu makan! Itu yang kau bilang tidak suka?” seru TOP kesal.

“Dia yang mengajakku, bukan aku yang mengajaknya! Lagipula aku sering menolak ajakannya!” Bom ikut kesal. “Sudahlah, Seung Hyun-ah. Aku sangat lelah hari ini. Kita lanjutkan saja pembicaraan ini besok, ya? Kita dinginkan kepala dulu, ya?”

“Memang kau saja yang lelah? Aku juga lelah!” dengus TOP. “Kau menghindari pembicaraan ini supaya dapat mengumpulkan alasan yang lebih banyak, kan? Tidak perlu, Bom-ah! Cepat beritahu saja aku sekarang, kalau memang kau menyukainya!”

Bom menatap TOP tidak percaya. “Alasan? Beritahu sekarang?” gadis itu bedecak. “Kau sangat kekanakan, Seung Hyun-ah!”

TOP menaikkan alisnya. “Kekanakan?”

“Ya! Kau kekanakan dan tidak dewasa! Apa yang harus aku beritahu padamu? Tidak ada yang harus aku beritahu padamu, dan tidak perlu ada alasan untuk hal itu! Mengapa kau sangat kekanakan?” Bom benar-benar kesal sekarang.

TOP mengangguk. “Baik, aku memang kekanakan. Aku memang lebih muda dan kekanakan dibanding Kim Ki Joon. Kalau begitu, cepatlah datang padanya. Ia lebih tua darimu, kan? Kau pasti sangat menyukai orang seperti itu!”

“YA, Choi Seung Hyun! Kau benar-benar… sudah keterlaluan!” wajah Bom memerah. Tampak sekali ia sangat marah.

“Ah ya. Sekarang aku mengungkit nama Kim Ki Joon, kau sangat marah. Baik, aku mengerti. Aku mengerti, Park Bom. Aku memang kekanakan, dan tidak dewasa. Juga lebih muda dari Kim Ki Joon. Aku mengerti!” seru TOP. Ia lalu menatap Bom lekat. “Sekarang, kau dapat datang padanya dengan hati ringan. Tak usah terbebaniku, aku mengerti!”

Bom menatap TOP sambil menggelengkan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca. “Kau salah, Seung Hyun-ah. Kau salah.”

“Ya, aku memang salah. Aku memang bukan orang yang tepat bagimu, kan?” TOP membalikkan badannya dan berjalan menuju mobilnya.

Bom menatap TOP yang berjalan menjauh darinya. “Bukan itu, Seung Hyun-ah! Kau tidak mengerti!”

“Ya, aku memang tidak mengerti!” sahut TOP keras.

“Kau sungguh kekanakan, Choi Seung Hyun! Kau benar-benar kekanakan!!”

TOP menoleh. “Ya, aku memang kekanakan. Jadi pergilah pada pria yang lebih tua darimu, seperti yang kau suka!”

Bom menghentikan nyanyiannya. Sudah berkali-kali ia mengulang bagian yang sama, dan nadanya selalu tidak tepat. Gadis itu kemudian melepas headphone dan keluar dari ruang rekaman.

“Maaf, Sunbae. Kurasa aku tidak bisa melanjutkan rekaman hari ini. Benar-benar maaf,” Bom membungkukkan tubuhnya berkali-kali pada Tablo. Tablo segera bangkit dan mencegahnya membungkuk lagi.

“Apa yang kau katakan, Bom-ah? Kau tidak usah begini, tidak apa-apa. Lagipula memang bagian itu cukup sulit diselesaikan hari ini. Aku sudah bilang sebelumnya kan, kalau bagian ini memang sangat tinggi nadanya?”

Hye Jung ikut menghampiri Bom. Ia menepuk bahu Bom dan memberikan segelas minuman dingin padanya. “Minumlah ini, Bom-ah. Tenggorokanmu pasti sangat kering sekarang.”

Bom tersenyum kecil dan menerima minuman itu. “Terima kasih, Unnie.”

Sekilas Bom menatap TOP yang hanya diam menatapnya, kemudian melirik jam tangan di pergelangan tangannya. “Sepertinya aku harus pergi sekarang, Unnie. Aku harus mempersiapkan pesta ulang tahun Dara.”

Hye Jung mengangguk. “Begitu? Ahh, aku ingin sekali datang, tapi Haru akan rewel kalau tidur tanpaku.”

Bom tersenyum. “Tidak apa-apa, Unnie. Besok Dara akan mengadakan pesta untuk semua YG family di perusahaan, pastikan Unnie dan Sunbae datang,” Bom berjalan ke sofa untuk mengambil tasnya.

“Sunbae, aku pamit dulu. Sekali lagi maaf,” Bom membungkukkan tubuhnya lagi pada Tablo. “Aigoo, Bom-ah! Sudah kukatakan jangan begitu. Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” Tablo menepuk bahu Bom.

Bom lalu beralih pada Hye Jung. “Unnie, aku pergi dulu. Sampaikan salamku pada Haru, ya!”

Hye Jung tersenyum lebar. “Kapan kau main lagi? Haru selalu menanyakanmu, Bom-ah!”

Bom tesenyum. “Bilang padanya kalau aku sudah dipanggil Unnie, aku baru mau main lagi dengannya. Masa hanya Dara yang dipanggil Unnie?”

Hye Jung tertawa. Putrinya itu memang memanggil semua member 2NE1 bibi, hanya Dara yang dipanggil Unnie. Mungkin karena Dara memang sangat baby face.

Bom kini beralih pada TOP. “Seung Hyun-ah, aku pergi dulu,” ucapnya singkat.

TOP menoleh sekilas, kemudian sibuk dengan komputernya lagi. “Hati-hati.”

Tablo dan Hye Jung berpandangan. Tampaknya hubungan mereka berdua memang sedang tidak baik.

“Bom-ah, ayo aku antar sampai tempat parkir!” seru Tablo seraya mengambil mantelnya.

Bom buru-buru menggeleng. “Tidak perlu, Sunbae! Di luar sangat dingin, tidak perlu mengantarku. Lagipula tempat parkirnya dekat.”

“Tapi, Bom-ah—“ Hye Jung ikut bicara.

“Tidak apa-apa, Unnie. Aku akan semakin merasa bersalah pada Sunbae kalau mengantarku saat dingin seperti ini.”

Mereka berdua mengangguk. “Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan, Bom-ah. Jangan ngebut!” ujar Hye Jung.

“Ya, Unnie. Aku pergi dulu.”

-TBC-
____________________________________________________________

silakan dikomen yaa chingu hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari chingu-deul :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar