Selasa, 22 Desember 2015

Irreplaceable You part 2



Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan saranya :)
_______________________________________________________________


Tablo mengacungkan dua ibu jarinya. “Sangat bagus, Bom-ah. Istirahat dulu, nanti lanjutkan bagian selanjutnya.”

Bom menyelesaikan rekaman bagian pertamanya setelah satu jam. Ia keluar dari ruang rekaman sambil mengikat rambut panjangnya.

Bom duduk di samping Hye Jung lagi dan menerima air mineral yang diberikan Hye Jung padanya. “Terima kasih, Unnie.”

“Bom-ah, apa kau ada urusan lagi hari ini?” tanya Tablo.

Bom melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya. “Kurasa dua jam lagi aku harus kembali ke asrama, Sunbae. Kami akan membuat pesta kejutan untuk ulang tahun Dara.”

Tablo mengangguk-angguk. “Kalau begitu, bagianmu dapat diselesaikan hari ini. Tapi tak usah memaksakan diri. Lagipula bagian selanjutnya cukup tinggi. Kalau belum selesai kita bisa menyelesaikannya besok.”

Bom mengangguk.

“Aigoo-ya! Park Bom, kau menghabiskan malammu bersama dengan member lain tiap malam?” tanya Hye Jung dengan wajah tak percaya.

Bom menggeleng cepat. “Kami tidak pesta setiap malam, Unnie.” Bom mengira Hye Jung menganggap mereka melakukan pesta setiap malam. “Akan ada beberapa konser dalam waktu dekat ini, jadi kami sering belatih sampai tengah malam.”

Hye Jung berdecak prihatin. “Tetap saja, kau selalu menghabiskan waktu bersama mereka. YA, Bom-ah, kau tidak pernah keluar? Kau sudah tidak dilarang kencan oleh Presiden, kan?”

“Mm… beberapa bulan lagi berakhir, Unnie.” 

“Ah, lagipula tampaknya larangan itu hanya untuk di depan publik saja, benarkan? Kurasa Dara juga sudah punya pacar, benarkan? Jiyongie, Dara berkencan dengannya, kan?”

Bom hanya tertawa.

Hye Jung menjentikkan jarinya. “AH, kurasa aku benar! Lalu, Bom-ah, apa kau juga sudah punya pacar?”

Bom terdiam beberapa saat. Pacar? Aku juga tidak tahu, Unnie.

“Belum, Unnie,” jawab Bom akhirnya.

TOP yang mendengarnya hanya terdiam. Pikirannya berkecamuk.

“Belum?” Hye Jung melirik TOP sekilas. “AH, tentu saja! Kau dongsaeng-ku, awas saja kalau tidak memberitahuku apapun. Lalu, apa ada yang kau suka? Seperti apa tipemu? Beritahu aku, Unnie-mu ini akan membantumu mencari pria yang baik!”

Bom tertawa geli. “Mwoya, Unnie?”

“YA, Hye Jung-ah! Hentikan sudah,” Tablo menyela pembicaraan mereka. “Hye Jungie memang selalu bersemangat, Bom-ah. YA, Hye Jung-ah!”

Hye Jung mendelik. “Kenapa? Sebagai Unnie yang baik, aku hanya ingin membantu dongsaengku. Anak muda seharusnya menikmati masa muda mereka yang indah sebelum akhirnya menikah.”

Kini Tablo yang mendelik. “Mwo[1]? Kau mau bilang sekarang kalau kau menyesal menikah muda?”

Mereka tertawa melihat ekspresi Tablo. Hye Jung menggeleng cepat, masih tertawa. “Bukan begitu, Yaboo[2]. Aku hanya merasa sayang sekali masa muda Bom sia-sia tidak punya pacar.”

“Aku tidak semuda itu, Unnie. Dulu ketika aku lebih muda, aku pernah punya pacar,” sahut Bom geli melihat Unnie-nya yang bersikeras “membantu”-nya.

“Aigoo-ya, Bom-ah! Kau juga belum tua. Setidaknya ada hal yang harus kau nikmati ketika muda,” Hye Jung berpaling ke arah suaminya. “Seon Woong-ah, apa kau kenal seseorang yang cocok dengan dongsaeng-ku ini?”

Tablo menggerutu. “Tadi ketika kau salah bicara, kau memanggilku Yaboo. Sekarang kau memanggilku Seon Woong lagi.”

Mereka tertawa lagi. Hye Jung mendecak. “YA, Haru Appa[3]! Hanya tubuhmu saja yang bertambah tua, kelakuanmu masih saja sama.”

“Tua?” Tablo melotot. Ia memang masih sangat muda untuk dibilang tua, usianya 31 tahun.

Hye Jung tidak mempedulikannya. Ia beralih pada TOP yang tersenyum geli melihat pasangan itu. “Ah, Seung Hyung-ah! Kalian kan sering bersama sebagai idol, jadi kau pasti tahu bagaimana tipe pria yang disukai Bom!”

Bom yang masih tertawa melihat ekspresi Tablo langsung berhenti tertawa. Raut wajah TOP juga langsung berubah. Tapi kemudian pria itu berdehem dan tersenyum kecil. “Ya, Noona. Aku tahu.”

Hye Jung menjentikkan jarinya. “Nah, apa kubilang! Bagaimana? Bagaimana?” tanya Hye Jung antusias.

TOP menatap Bom sebentar, yang balik menatapnya dengan pandangan yang sukar dijelaskan. TOP lalu beralih pada Hye Jung. “Bommie suka pada pria yang lebih tua. Ia tak suka mereka yang lebih muda darinya.”

“Begitu?” Hye Jung mengerutkan keningnya. “Sepertinya dulu Bom tidak pernah menyebutkan hal itu. Apa seleranya berubah?”

“Kapan aku bilang seperti itu?” sergah Bom pada TOP.

“Kau mengatakannya dengan jelas,” sahut TOP.

“Aku bilang ‘dewasa dan tidak kekanakan’. Aku tidak pernah menyebut lebih tua atau lebih muda. Kau seharusnya ingat itu!” seru Bom kesal.

Tablo dan Hye Jung berpandangan, menyadari ada situasi yang tidak enak muncul.

“Itu hanya bahasa lainnya. Artinya sama saja,” ujar TOP dingin.

Bom terdiam. Perasaannya campur aduk, dan ia berusaha kerasa menekannya.

Tablo memelototi Hye Jung, karena istrinya itu yang memulai topik ini dan bertanya pada TOP. Padahal dari awal sudah terlihat sikap keduanya tidak biasa satu sama lain.

“Caramu menafsirkan sesuatu begitu buruk,” ucap Bom akhirnya. TOP hanya menatapnya, diam.

Bom lalu berkata pada Tablo. “Sunbae, ayo lanjutkan bagian berikutnya.”

“Ya, baiklah!” Tablo mengangguk cepat. Ia lalu menghembuskan nafas lega karena keluar dari suasana yang tidak enak itu. TOP masih terdiam sambil terus menatap Bom sampai gadis itu masuk ke ruang rekaman.

“Seung Hyun-ah, sejak kapan kau tidak memanggil Bom dengan sebutan Noona?” tanya Hye Jung ketika Bom sudah mengenakan headphone-nya dan musik mulai mengalun. Tablo langsung melotot pada istrinya itu. Benar-benar!

TOP menerawang. “Kapan, ya? Aku juga tidak ingat pastinya, Noona. Itu sudah cukup lama.”

Hye Jung mengangguk-angguk. “Berarti aku memang sudah lama sekali tidak mengobrol bersama kalian, ya.”

TOP hanya terdiam. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Hye Jung menyadari situasinya tidak enak. Ia lalu berdehem. “Kurasa, aku harus menelpon Haru. Sekarang waktunya ia minum susu,” Hye Jung bangkit dari tempat duduknya. Tablo menatapnya, melarang istrinya itu pergi. Tapi Hye Jung berlagak tidak melihatnya. “Akan kubawakan minuman nanti!”

Tablo menepuk keningnya. Sekarang setelah melakukan kesalahan, ia  itu pergi dan meninggalkanku dalam situasi tidak enak ini! Awas kau nanti, Hye Jung-ah!

Sementara TOP masih sibuk dengan pikirannya. Ia ingat ketika malam itu ia berkata pada Bom, yang memang sudah cukup lama.

“Aku tidak mau menjadi dongsaeng-mu dan kau menjadi Noona-ku, karena hubungan kita memang bukan adik kakak dan aku tidak mau mempunyai hubungan adik-kakak denganmu. Jadi sekarang aku hanya Choi Seung Hyun dan kau hanya Park Bom. Dengan begini, aku bisa menyukaimu, kan?”

-TBC-


[1] Apa
[2] Sayang
[3] Ayah Haru. Haru nama anak mereka.

____________________________________________________________

silakan dikomen yaa chingu hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari chingu-deul :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar