Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 9



Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan sarannya yaa :)
_______________________________________________________________


Seoul, dua hari kemudian.

Pluk.

Seunghyun melemparkan sesuatu pada Bom yang baru turun tangga. Bom mendongak. “Apa ini?”

Seunghyun berjalan ke meja makan dan membuat roti dengan selai cokelat dan mesis cokelat kesukaannya. Bom melihat barang yang dilemparkan Seunghyun padanya. Sebuah gantungan pagoda unik khas Thailand.

“Waah, yepudda[1]! Kau memberikan ini untukku?”

Seunghyun yang sudah ada di dekatnya mengangkat bahunya kemudian minum. Bom tersenyum lebar. Ia mengangkat-angkat gantungan itu, kemudian didekatkannya lagi.

“Yepudda...” Bom tampak sangat senang. Seunghyun tersenyum kecil melihatnya. “YA, apa kau belum pernah ke Thailand?”

Bom menggeleng. “Kami baru akan konser disana tahun depan.” Ia lalu menatap Seunghyun. “Kukira kau tidak akan sempat membeli hal-hal seperti ini disana.”

“Ada waktu untuk jalan-jalan sebentar, karena Jiyong memaksa Manajer Park untuk jalan-jalan.” Seunghyun menatap Bom. “Bagaimana keadaan nenekku?”

“Sudah membaik. Sakitnya langsung sembuh begitu melihatku,” Bom tersenyum lebar. “Nenek bilang, ia kualat karena terakhir kali ia bohong padaku kalau sakit. Ia bilang, orang tua memang sering sakit, seharusnya ia berhati-hati. AAhh, kuharap Nenek tidak sakit lagi. Aku tidak suka mendengar dia berkata kalau dia tua, meski memang begitu.”

Seunghyun menepuk bahu Bom. “Tenang saja, nenekmu tidak akan kenapa-napa. Kurasa nenekmu salah satu nenek keren di dunia ini.”

Bom menepuk dadanya bangga. “Tentu saja! Kau lihat sendiri, cucunya seperti apa!”

Seunghyun tertawa kecil. “AAhh, benar-benar! Siapa yang dipuji, siapa yang bangga.”

Bom nyengir. “Kau harus bertemu langsung dengan nenekku suatu hari nanti, Seunghyun.”

Seunghyun mengangguk-angguk. “Kau mengatakan hal itu berulang kali.”

Bom memandangi lagi gantungan di tangannya. “Kukira juga kau tidak akan membelikan sesuatu untukku.”

Seunghyun tersenyum kecil. “Anggap saja ini sebagai bayaran aku tinggal disini.”

“YA, mana bisa begitu? Kau tetap harus membayar uang keperluan rumah ini!” seru Bom. Seunghyun tertawa dan mengacak rambut Bom. “Baik, baik. Kau perhitungan sekali.”

Bom segera merapikan rambutnya. “Kau ini, selalu mengacak rambutku. Padahal aku sudah berdandan cantik.” Ia melihat ponselnya sebentar. “AAhh, hampir terlambat! Aku pergi ke studio dulu. Oh iya, aku ada jumpa fans di Busan selama dua hari. Jaga rumah dan Bibi Taeri denga baik, ya!”

Seunghyun mengangguk. “Hati-hati, Bom-ah”

Bom menghampiri Bibi Taeri yang sedang menata makanan di meja makan. “Bibi, aku pergi dulu, ya. Aku pergi ke Busan selama dua hari, nanti akan kubawakan oleh-oleh untuk Bibi.”

“Untukku juga!” seru Seunghyun. Bom mengacungkan ibu jarinya.

“Bom, makan dulu sebentar,” tahan Bibi Taeri.

“Aku sudah terlambat, Bibi. Suruh Seunghyun saja yang makan, dia baru datang dari Thailand semalam, pasti kelaparan,” ucap Bom kemudian melesat keluar.

Bibi Taeri menghampiri Seunghyun yang berbaring di sofa. Kemudian berujar pelan.

“Aigoo, dia sudah tertidur. Pasti ia sangat kelelahan.”
*********

“Waah, cantiknya!” seru Dara seraya memegang gantungan ponsel milik Bom. Mereka baru saja tiba di Busan dan sedang berada di ruang ganti.

Bom yang sedang mengetik pesan menoleh kaget. “Oh Tuhan! Kau mengagetkanku!”

Dara tersenyum lebar. “Bom-ah, aku baru melihat gantungan ini. Dimana kau membelinya?”

Bom memegang gantungan pagoda yang terpasang di ponselnya. “Ini dibeli di Thailand. Seunghyun memberikannya padaku.”

Dara terkejut. “Benarkah? Seunghyun yang memberikan ini padamu?”

Bom mengangguk. “Memang kenapa? Mengapa kau tampak kaget begitu?”

“Manisnyaaa!” seru Dara memegang kedua pipinya. “Bom-ah, jujur padaku! Apa hubungan kalian sudah berkembang menjadi pasangan kekasih?”

Bom tercengang sebentar, lalu tertawa keras. “YA, mana mungkin begitu? Masih sama saja seperti sebelumnya, kami hanya teman! Mengapa kau bisa mengartikannya begitu, Dara-ya?”

Dara menatapnya penuh selidik. “Benarkah itu? Apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami?”

“YA, untuk apa aku menyembunyikan sesuatu dari kalian? Memang tidak ada apa-apa!” sahut Bom tidak terima dengan ucapan Dara.

“Karena memang tidak seperti teman, Bom-ah!” Dara bersikeras. Ia lalu melihat ke arah Chaerin dan Minji yang sedang latihan rap sedikit. Mereka memang akan membawakan beberapa lagu di acara jumpa fans ini. “Apa aku tanyakan saja pada mereka berdua? Pasti mereka berpendapat sama sepertiku.”

“Jangan, jangan,” tahan Bom. “Kau ini, untuk apa sampai menanyakan pada mereka hal kecil begini saja? Seunghyun hanya memberikan barang ini padaku, memangnya ada sesuatu yang aneh? Memangnya aneh kalau seorang teman memberikan hadiah? Aku juga suka membelikan hadiah untuk kalian, kan?”

“Tetap saja aneh kalau Seunghyun yang memberikannya, Bom-ah. Aku tak tahu mengapa, tapi tetap aneh,” ujar Dara.  “Apa Seunghyun bilang mengapa ia memberikan ini padamu?” tanya Dara kemudian.

“Dia bilang, ini sebagai bayaran dia tinggal di rumahku. Dasar si bodoh itu, ia kira ia bisa membayar biaya tinggal di rumahku dengan gantungan ini?” jawab Bom, dengan senyum kecil.

Dara memandangi Bom, dan senyumnya barusan. “YA, Park Bom. Kurasa di antara kalian memang ada apa-apa.”

“YA! Mengapa kau masih membicarakan hal itu? Dia hanya bercanda mengatakan ingin bayar biaya di rumahku dengan barang ini!” seru Bom seraya mengacungkan gantungan pagodanya.

“Unnie, kau membeli ini dimana? Bagus sekali!” ujar Minji yang tiba-tiba sudah di dekat mereka.

“Seunghyun yang memberikannya, Minji-ah!” sahut Dara semangat.

“Benarkah??” tanya Minji. Chaerin yang sedang mengotak-atik ponselnya juga menoleh.

“YA, apa kalian harus se-terkejut itu?” Bom mengangkat alisnya. “Ini hanya sebuah gantungan kecil, mengapa jadi seperti hal yang besar?”

“Seunghyun Oppa membelinya ketika konser di Thailand, Unnie?” Minji malah balik bertanya, tidak mempedulikan perkataan Bom. “Wah, ini sungguh menakjubkan!”

“Apa Oppa bilang mengapa dia memberikannya padamu, Unnie?” Chaerin menghampiri mereka.

Bom mengerutkan keningnya. “Ada apa dengan kalian?”

Tapi mereka bertiga masih menatapnya, minta jawaban. Bom mengangguk-angguk. “Baik, baik. Pertama, iya. Ia membelinya ketika konser kemarin di Thailand. Kedua, ia bilang ini untuk membayar biaya tinggal di rumahku, tapi ia hanya bercanda. Begitu.”

Chaerin mengusap dagunya. “Kurasa Seunghyun Oppa itu, bukan tipe orang yang suka memberikan oleh-oleh pada orang lain, meski itu pada gadis yang dikencaninya.”

Dara menjentikkan tangannya. “Itu dia! Itu dia yang kumaksud tadi, Chaerin-ah! Aneh kalau ia memberikan sesuatu padamu, Bom-ah.”

Minji mengangguk-angguk. “Benar, benar! Chaerin Unnie memang ahli membaca orang lain.”

“Lalu apa hubungannya dengan hal ini?” Bom mempertanyakan soal pernyataan Chaerin tadi. Chaerin menatap Bom. “Agak tidak biasa seorang Choi Seunghyun melakukan hal seperti ini. Unnie, apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami? Sebenarnya apa hubunganmu dengan pria itu?”

Bom menghela nafas. Lalu menatap teman-temannya, agak frustasi. “Aku tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dari kalian. Karena memang tidak ada apa-apa antara aku dan Seunghyun.”

Chaerin, Minji, dan Dara masih menatapnya penuh selidik, tak percaya.
***********

                Dua hari setelahnya.

“Oh, kau sudah pulang?” ujar Seunghyun melihat Bom yang memasuki rumah dan menuruni tangga ke ruang televisi dengan lemas. Seunghyun melambaikan tangannya. “Sini, cepat makan! Bibi Taeri memasak banyak hari ini!”

 “Aigoo, Bom kami sudah pulang?” Bibi Taeri muncul dari dapur. Ia membawa mangkuk berisi makanan dan menaruhnya di meja depan televisi. “Cepat makan! Aku baru saja menghangatkannya.”

Bom segera duduk di sofa dan mengambil mangkuk makanan. Bom tersenyum lebar pada Bibi Taeri lalu menghirup aroma makanan dari mangkuk itu. “Hmmm… pasti enak!”

Seunghyun mengerutkan kening. Lagi-lagi perubahan mood yang cepat. Gadis ini memang sangat cocok jadi artis.

Bibi Taeri tersenyum. “Makanlah yang banyak, Bom. Kau pasti lapar. Aku mau tidur dulu, banyak sekali yang kukerjakan hari ini.”

Bom mengangguk. “Terima kasih, Bibi. Tidur yang nyenyak, kau harus banyak istirahat!”

Bom pun mulai menyendokkan makanan dan menyalakan televisi sementara Bibi Taeri menaiki tangga menuju kamarnya.

“Jangan menonton gossip,” ujar Seunghyun.

Bom mencibir. “Baik, baik.” Ia pun mengganti-ganti channel televisi. “Wah, ini drama baru Lee Dong Wok!”

Seunghyun geleng-geleng kepala melihatnya. “Kau benar-benar mengidolakannya.”

“Memangnya kau kira aku tidak benar-benar mengidolakannya?”

Ponsel Bom berbunyi. Bom segera mengambil ponselnya dari tas. Sebuah pesan masuk dari Manajer Kang, manajer 2NE1 (mian ini ngasal hehehe).

“AAhh, benar-benar pria separuh baya ini! Bahkan aku belum duduk lima menit di rumahku, ia sudah bilang besok pagi latihan lagi!” gerutu Bom.

Seunghyun tersenyum kecil dan menoleh ke arahnya. “Itu bukan hal yang baru untuk orang seperti kita, kan?”

Bom mengangguk-angguk. “Memang, memang. Tapi sekarang ini aku benar-benar ingin beristirahat. Aku benar-benar lelah hari ini.”

“YA, kau memasangnya di ponselmu?” Seunghyun memegang gantungan ponsel Bom.

“Iya, tampak cantik di ponselku,” jawab Bom. “Waktu di Busan, Chaerin Unnie, Minji, dan Dara membicarakan hal ini.”

“Membicarakan bagaimana?”

“Kata mereka, agak aneh kau memberikan sesuatu padaku.”

“Memang kenapa?” tanya Seunghyun heran.

Bom mengangkat bahunya. Ia menaruh mangkuk di atas meja, lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Matanya dipejamkan. “Entahlah, aku juga tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. AAhh, hari ini melelahkan sekali.”

Seunghyun memandangi Bom. “Habiskan makananmu. Kalau lelah, kau harus makan untuk menambah energi. Aku tahu rasanya lelah sehabis jumpa fans di luar kota.”

Bom tersenyum kecil. Matanya masih terpejam. “Memang lelah, tapi sangat menyenangkan. Melihat begitu banyak orang yang menyukai lagu kita, bukankah itu sangat luar biasa?”

Seunghyun ikut tersenyum. Ia mengambil remote dari tangan Bom. “Memang luar biasa. Segala yang dilakukan sampai ke titik ini sangat berat, namun luar biasa.”

“Penuh perjuangan yang amat keras,” sahut Bom. “Kalau sudah begini, aku akan melantur.”

Seunghyun menatap Bom, tidak mengerti dengan ucapannya. Wajah gadis itu memang terlihat sangat lelah. “YA, jangan tidur disini. Tubuhmu akan pegal-pegal nanti.”

“Tidak, aku tidak akan tidur disini,” ucap Bom. “Lagipula aku belum membersihkan make up-ku, jadi aku tidak mungkin bisa tidur.”

Seunghyun tertawa. “Benar-benar...”

“Oh iya, teman-temanmu, tidak kesini?” Seunghyun mengganti channel TV.

“YA, mengapa kau menggantinya?” protes Bom.

“Kau kan tidak menonton!”

“Tapi kan aku mendengar suaranya!”

Seunghyun geleng-geleng kepala. Ia mengganti lagi channelnya ke drama Lee Dong Wok tadi.

Bom tertawa kecil. “Terima kasih. Suara drama itu sedikit menghiburku.”

Seunghyun mengangkat alis. “Sebenarnya kau ini kenapa? Kau terlihat berbeda untuk orang yang lelah.”

“Tadi aku melihat Minji bertemu dengan orangtuanya di kantor. Ia terlihat sangat bahagia,” Bom mengulas senyum tipis.

Seunghyun memandanginya lekat. “Kau, merindukan orangtuamu?”

Bom lalu bangkit duduk. Ia mengambil pembersih wajah dari tasnya dan membersihkan wajahnya. Bom lalu berkata pada Seunghyun, dengan suaranya yang tidak lemas lagi. “YA, Choi Seunghyun! Kau sudah membersihkan wajahmu? AAhh kau ini, selebriti macam apa yang lupa membersihkan wajahnya sendiri?”

Seunghyun hanya terdiam. Bom sengaja mengalihkan pembicaraan. Seunghyun tersenyum simpul, memahami perasaan Bom. Ia lalu menyahut. “YA, siapa yang lupa? Hari itu aku hanya sangat lelah!”

Bom mencibir. Ia kemudian melanjutkan membersihkan wajahnya. Tiga menit kemudian, ia berbaring lagi di sofa. “AAhh, segarnya!” serunya sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.

“YA, jangan bilang kau mau tidur disini,” ujar Seunghyun begitu melihat Bom berbaring lagi. Bom mengacungkan ibu jarinya. Seunghyun kemudian mengotak-atik ponselnya.

Sepuluh menit kemudian, suasana hening. Tidak ada suara.

“Park Bom! Sudah kubilang nanti tubuhmu sakit tidur di sofa!”

Tidak ada jawaban. Seunghyun bangkit dan menghampiri Bom. “AAhh, benar-benar! Mengapa ia cepat sekali tidurnya?”

Ia lalu mengangkat dan memindahkan Bom ke kamar.
**********

“YA, mengapa kau tidak membangungkanku tadi?” seru Bom begitu memasuki studio dan segera menghampiri Seunghyun duduk di dekat piano.

“Siapa bilang tidak membangunkanmu? Aku sudah membangunkanmu berkali-kali! Bahkan Bibi Taeri juga ikut membangunkanmu, tapi kau tidak bangun-bangun!” sergah Seunghyun tidak terima.

“Tidak mungkin,” gumam Bom.

“Apanya yang tidak mungkin? Kau tidur seperti orang pingsan!”

Bom duduk di sebelah Seunghyun. “Apa semalam kau memindahkanku ke kamar?”

“Memangnya kau pikir siapa? Kan sudah kubilang, jangan tidur di sofa!” sahut Seunghyun. “Dan juga, kau berat sekali! Dietlah sana!”

Bom melotot. “YA, siapa yang kau bilang gemuk? Aku ini proporsional, tahu!”

Bom kemudian sadar kalau di studio 2NE1 ini ada para personel Big Bang. Ia menyenggol Seunghyun. “YA, mengapa kalian semua ada disini?”

Seunghyun mengangkat bahu. “Manajer Park menyuruh kami berkumpul disini.”

Pintu studio terbuka. Manajer Kang dan Manajer Park masuk.

“Mana Minji?” tanya Manajer Kang. Minji yang sedang melakukan pemanasan bersama Dara menoleh. “Aku disini, Ajussi!”

Manajer Kang mengangguk-angguk. “Bagus, bagus. Kalau Minji sudah datang, berarti yang lain sudah lengkap juga.”

“Ajussi! Mengapa kau menjadikanku ukuran kedatangan?”

“Karena kau sering terlambat, Minji-ah,” sahut Dara sambil tertawa kecil. Minji memang sering telat karena keasyikan main game atau ketiduran.

“Unnie!” Minji merajuk.

“Baik, baik. Semuanya kumpul disini! Aku dan Manajer Park akan membacakan jadwal kalian masing-masing.”

“Masing-masing? Kukira kita akan mengadakan konser bersama,” tanya Dae Jun heran. Mereka kemudian duduk di lantai tengah studio.

“Iya. Kau kan sudah mulai shooting untuk drama perdanamu itu, Daesung-ah. Anggota yang lain juga punya agenda masing-masing. Dan ada juga agenda bersama antara member 2NE1 dan Big Bang, tapi tidak semua anggota,” urai Manajer Park. “Pertama, Daesung, kau mulai shooting minggu depan. Lalu Yongbae, kau ada pemotretan di Pulau Jeju untuk iklan. Seungri, kau mulai rekaman single barumu minggu depan juga. AAhh, sibuknyaa!”

Mereka tersenyum melihat Manajer Park mengotak-atik tabletnya, pusing. Minji berbisik pada Dara. “Unnie, kadang aku tidak mengerti, mengapa manajer kita seorang pria dan manajer Big Bang seorang wanita. Apa mereka memang dipasangkan?”

“YA, apa yang kau bicarakan?” seru Manajer Kang yang duduk di samping Dara. Dara dan Minji tertawa. “Atau memang pasangan?” sahut Minji usil.

“YA!” Manajer Kang berseru keras. “Aigoo… seharusnya kalian mempunyai manajer masing-masing satu, supaya aku tidak pusing begini!”

“Mengapa? Begini sudah bagus kurasa,” sahut Bom. Manajer Kang berdecak. “Kau tidak tahu bagaimana pusingnya manajer itu!”

“Ajussi, kau belum selesai membacakan agenda kami,” Chaerin memotong perdebatan itu.

“Manajer, agendaku belum kau beritahu,” ujar Seunghyun. Jiyong mengangguk-angguk. “Aku juga belum.”

Manajer Park menepuk keningnya. “AAhh, aku hampir lupa! Seunghyun shooting video clip dengan Bom, berangkat empat hari lagi.” Manajer Park menatap Seunghyun. “Dan jangan lupa, mulai biasakan panggil aku Noona.”

Mereka semua tertawa. Manajer Park akhir-akhir ini memang ingin dipanggil Noona. Katanya panggilan Manajer membuatnya semakin stress berhubung ia belum juga menikah sampai sekarang.

Bom mengerutkan keningnya. “Bukankah lagu yang baru ini bertiga dengan Chaerin? Mengapa hanya kami berdua?”

“Nah, itu dia masalahnya,” ujar Manajer Kang. “Tiba-tiba ada permintaan dari kementrian budaya dan pariwisata untuk menggunakan Chaerin sebagai duta pariwisata Korea di China. Jadi untuk sementara, video clip yang dibuat adalah lagu duet kalian berdua. Untuk lagu baru yang dengan Chaerin nanti dibuat video clipnya setelah Chaerin kembali dari China.”

Seunghyun, Bom, dan Chaerin mengangguk-angguk.

“Unnie, aku iri padamu. Aku ingin ke China juga, sudah lama aku tidak kesana lagi,” ujar Minji pada Chaerin. Chaerin tersenyum kecil. “Nanti akan kubawakan oleh-oleh sebanyak yang kau mau.”

“Untukku juga, untukku juga, Chaerin-ah!” seru Dara. Ia dan Minji kemudian membicarakan barang apa saja yang mereka inginkan, bahkan menuliskannya di ponsel Chaerin. Supaya Chaerin ingat.

“Lalu, dimana lokasi shootingnya, Ajussi?” tanya Bom.

Manajer Kang memeriksa tabletnya. “Di Jinan.”

Mata Bom langsung berbinar. “Jinan? Benarkah? Benarkah itu??”

“Aku ikut, Unnie!” sahut Minji begitu mendengar kata Jinan.

“Tidak,  tidak, Minji-ah. Kau, Dara dan Jiyong ada rekaman untuk iklan minuman ringan,” potong Manajer Kang.

“Yaah. Aku ingin bertemu nenekmu, Unnie,” Minji cemberut. Bom menghiburnya. “Tenang saja. Akan kubawakan lagi masakan nenek yang banyak.”

“Kurasa kita memang harus mengagendakan ke Jinan khusus untuk mengunjungi nenekmu, Bom Unnie,” ucap Chaerin. Lalu menoleh pada Manajer Kang. “Dan bukan dalam rangka pekerjaan.”

“Baik, baik. Kalian bisa melakukan hal itu kalau kalian mau. Aku akan mencari waktu kosong untuk kalian,” Manajer Kang mengotak-atik tabletnya.

“Oh, kalian semua sedang berkumpul?”

Pintu terbuka. Tampak Direktur Lee memasuki ruangan. Mereka semua bangun.

Direktur Lee tertawa. “Benar-benar... Apa yang kalian lakukan? Duduklah lagi, aku hanya ingin melihat kalian.” Direktur Lee kemudian duduk di antara Manajer Kang dan Manajer Park. Ia menepuk pundak keduanya. “Kalian melakukan dengan baik. Apa agenda mereka dalam waktu dekat ini?”

“Pertama, Bom dan Seunghyun shooting video clip duet mereka. Lokasinya di Jinan,” ujar Manajer Kang.

“Jinan?” gumam Direktur Lee. Bom langsung menoleh. “Kau tahu tempat itu, Direktur?”

Direktur Lee tertawa. “Tentu saja aku tahu! Tempat itu sangat indah dan segar udaranya.”

Bom tersenyum lebar. “Tuh kan, Ajussi! Direktur saja tahu tempat itu, kau malah belum pernah kesana. Suatu saat nanti, kau harus melihat Jinan dengan mata kepalamu sendiri!”

Manajer Kang geleng-geleng kepala. “Aigoo, anak nakal ini! Baik, baik. Nanti aku akan menyaksikan keindahan Jinan secara langsung. Supaya kau tidak bawel lagi promosikan tempat itu padaku.”

Bom tertawa. Sementara Direktur Lee hanya tersenyum, pikirannya masih terpaku pada kata Jinan.

Dan Manajer Kang terus membacakan agenda mereka masing-masing.
***********

Jinan.

“Neneeek!”

Seorang wanita tua yang sedang duduk di beranda rumahnya menoleh. Ia mengerutkan keningnya. “Bom-ah?”

Bom berlari dan memeluk neneknya. “Neneek… aku sangat merindukanmu!”

Nenek Bom tersenyum lebar. Ia menepuk-nepuk bahu Bom. “Aigoo… Bom kami akhirnya datang lagi ke Jinan. Kau tidak sedang sibuk?” Nenek Bom melihat Seunghyun yang berdiri di belakang Bom. “Kau bersama siapa?”

Bom melepas pelukannya. “Ini Seunghyun, Nek. Seunghyun-ah, ini nenekku. Kami sedang ada pekerjaan di Jinan, tapi sudah selesai. Makanya aku mengajaknya menemui nenek.”

Seunghyun tersenyum seraya membungkukkan badannya. “Apa kabar, Nenek? Aku Choi Seunghyun. Bom sering bercerita tentang Nenek.”

Nenek Bom mengelus kepala Bom. “Ternyata Bom kami sudah besar. Akhirnya kau datang padaku dengan pacarmu.”

Bom dan Seunghyun buru-buru menggeleng. “Tidak, Nek. Ia bukan pacarku!”

Nenek Bom tampak kecewa. “Benarkah? Padahal aku sangat berharap Bom punya pacar. Harus ada seseorang yang menjaga Bom kami.”

Seunghyun dan Bom saling pandang. Bom kemudian tersenyum pada neneknya. “Tenang saja, Nek. Banyak yang menjagaku disana. Ada Chaerin Unnie, Minji, Dara, juga Seunghyun. Mereka semua sangat baik padaku.”

Nenek mengangguk-angguk.

Bom mengangguk. “AAhh, aku lapar sekali. Nenek, apa kau memasak sesuatu yang enak?” tanya Bom.

“Aigoo, tentu saja! Ayo cepat kalian berdua masuk!” seru Nenek seraya membuka pintu rumahnya. “Tapi ingat, Bom. Kau sudah dewasa, kau tetap harus segera mencari pasangan. Di usiamu sekarang, aku sudah mempunyai anak umur lima tahun,” lanjut Nenek.

Bom memeluk tangan neneknya. “Neneeek, aku ini masih muda! Menikah masih sangat jauh dari bayanganku sekarang. Mau jadi apa nanti keluargaku?”

Nenek Bom menepuk bahu Seunghyun. “Makanya, ada pria tampan dan gagah seperti ini, kau bukannya bergerak cepat! Nanti keburu diambil orang lain!”

“Nenek! Aku kan wanita, masa mengejar pria?” protes Bom. Bom kemudian memandangi Seunghyun. “Lagipula ia bukan pria yang pantas dikejar.” Seunghyun mendelik mendengarnya.

“Lho, mengapa? Bukankah sekarang di televisi juga banyak wanita yang mengejar pria? Tidak apa-apa, kalau prianya tampan seperti Seunghyun ini. Aku mendukungmu, Bom!” Nenek Bom kemudian menepuk bahu Seunghyun. “Seunghyun, cucuku ini cantik, kan?”

Seunghyun tertawa.
***********

“Bagaimana, kau tidak menyesal kan, kuajak mampir kesini?” Bom duduk di sebelah Seunghyun dan meletakkan piring berisi penganan kecil di atas meja. Pria yang sedang menikmati udara segar di belakang rumah Nenek Bom itu mengangguk.

 “Tidak sia-sia kau melobi manajer kita untuk dibolehkan pulang belakangan,” ujar Seunghyun. “Segar sekali udara di sini. Pantas nenekmu lebih memilih tinggal di Jinan daripada di Seoul,” lanjutnya.

“Mian, Seunghyun-ah. Nenekku memang suka bercanda, jangan pikirkan kata-katanya,” kata Bom, teringat percakapan mereka dengan Nenek tadi.

Seunghyun tertawa. “Untuk apa minta maaf? Aku justru senang melihat nenekmu. Pantas teman-temanmu menyukainya.” Ia lalu menatap Bom. “Kurasa aku tahu darimana rasa percaya dirimu itu diturunkan.”

Bom tersenyum. “Nenekku memang yang terbaik.”

Seunghyun mengambil penganan yang dibawa Bom. “Mempunyai tempat yang dituju untuk pulang memang selalu menjadi hal yang terbaik.”

Bom terdiam. Ia memang pernah mendengar kalau Seunghyun tidak punya orang tua, sama sepertinya.

“YA, kau kan sekarang punya tempat pulang! Rumahku itu, kau kan seenaknya datang kesana,” ujar Bom segera, mengalihkan suasana yang sempat muram.

Seunghyun tersenyum kecil. “YA, karena itu kau harus membebaskanku datang ke rumahmu kapanpun! Apa itu, kau bahkan menetapkan jam malam untuk datang ke rumahmu!”

Bom ikut tersenyum, melihat Seunghyun sudah tersenyum lagi. “Kau berkata seperti anak tak berdosa. YA, sudah berapa kali kau melanggar jam malam itu?”

“Itu karena aku kelelahan, kelelahan! Kau harusnya mengerti itu, Park Bom,” Seunghyun belagak mengeluh.

Dari dalam rumah, Nenek Bom melihat kedua orang yang tengah berdebat seru itu. Ia tersenyum lebar.




[1] Cantiknya 

____________________________________________________________

silakan dikomen yaa readers hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari readers :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar