Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 8



Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan sarannya yaa :)
_______________________________________________________________


Seunghyun mengangguk-angguk. Ia mengaca pada kaca dalam mobil. “Nah, begini baru benar.”

Bom membuka pintu mobil dan turun. Ia habis merias Seunghyun dan dirinya sendiri. Seperti waktu itu, namun sekarang bedanya mereka berdua tampak sebagai sepasang kekasih, gaya mahasiswa, yang sedang berkencan.

“Kau benar Choi Seunghyun, aku memang dapat membuat orang tampan menjadi itik buruk rupa dan katak menjadi pangeran,” ujar Bom.

“YA! Apa maksudmu?” tanya Seunghyun berang. Ia juga sudah keluar dari mobil.

Bom berdecak menatap pria itu. “Kau tampak sepuluh kali lipat lebih tampan, Seunghyun-ah.”

“Apa kau bilang? Aku sudah tampan dari lahir!” seru Seunghyun. Ia lalu memandang ke sekeliling. “AAhh, banyak orang disini!”

“Kurasa yang ingin kau katakan adalah, banyak wanita cantik disini,” sahut Bom.

Seunghyun tertawa. Ia merangkul Bom. “Tenang saja, Bom-ah. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Setidaknya, malam ini kau berperan sebagai pacarku. Ayo kita beli tiket!”

Bom melepaskan tangan Seunghyun yang melingkar pada bahunya. “Lupakan saja! Siapa yang mau jadi pacarmu!” serunya sambil berjalan masuk ke dalam bioskop.

Seunghyun menggelengkan kepalanya. “Ah, galak sekali. YA, banyak yang ingin jadi pacarku, tahu!”

***************
Bom dan Seunghyun duduk di dekat pintu masuk bioskop. Film yang ingin mereka tonton masih dua puluh menit lagi, dan mereka malas pergi ke tempat lain. Bom menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil memakan popcorn di tangannya.

“Bahkan belum menonton saja popcorn-mu sudah mau habis,” komentar Seunghyun. Bom terus memakan popcorn-nya tanpa mempedulikan ucapan Seunghyun. Ia tahu pria itu akan meledeknya.

“Apa kau tidak diet? Kau makan banyak sekali,” Seunghyun berkata lagi. “Kau ini gemuk, tahu.” Kalau bawa-bawa kata gemuk, gadis ini pasti menyahut.

“YA! Siapa yang kau bilang gemuk?!”

Seunghyun tertawa. Perkiraannya benar.

“Park Bom?”

Bom dan Seunghyun berpandangan kaget. Siapa yang mengenalinya di tempat seperti ini?

Mereka berdua lalu menoleh ke suara yang memanggil Bom itu.

“Direktur?”

Direktur Lee, yang malam itu tampak sangat kasual seperti biasa, tersenyum lebar dan menghampiri mereka berdua. “Kau Park Bom, kan?”

Bom mengangguk. “Direktur, bagaimana bisa—?”

Direktur Lee mengangkat bahunya. “Aku hanya yakin kalau itu kau, Bom. Tapi, kau sangat berbeda,” Direktur Lee melirik Seunghyun. “Dan kau bersama… pacarmu?”

Bom dan Seunghyun berpandangan lagi.

“Direktur, kau tidak mengenalinya?” tanya Bom menunjuk Seunghyun. Direktur Lee menggeleng. “Dia teman SMA-mu?”

“Aku Choi Seunghyun, Direktur. Kau tidak mengenaliku?” tanya Seunghyun heran. Direktur Lee tampak sangat kaget. “Choi Seunghyun? Seunghyun, artisku?”

Bom dan Seunghyun mengangguk cepat.

“Seunghyun, T.O.P? Big Bang?” Direktur Lee masih tidak percaya. Seunghyun tertawa. “Tentu saja, Direktur! Memang siapa lagi?”

Direktur Lee mengusap kepalanya. “Melihat tawamu, memang mirip dengan Seunghyun. Tapi, AAhh, kau berbeda sekali!”

“Direktur, ada apa denganmu? Kau dengan mudah mengenaliku, tapi tidak mengenali Seunghyun?” tanya Bom heran. “Apa riasanku kurang bagus, ya? Kurasa aku cukup tidak dikenali dengan riasan begini.” Bom mengambil cermin dari tasnya dan memperhatikan wajahnya.

Direktur Lee tertawa. “Entahlah, aku juga tidak mengerti. Kalian berdua, sangat berbeda. Memang tidak akan dikenali orang. Tapi tadi ketika melihat Bom dari belakang, aku sudah tahu kalau itu Bom. Aku juga tidak tahu mengapa. Namun aku tidak dapat mengenali Seunghyun sama sekali.”

“Direktur, kau pilih kasih,” gerutu Seunghyun. Direktur Lee tertawa lagi.

Bom menggeser duduknya. “Direktur, duduk sini bersama kami. Kau sedang menunggu film mulai juga?”

Direktur Lee mengangguk. Ia kemudian duduk di antara Bom dan Seunghyun. “Tadi aku sedang berjalan-jalan di sekitar sini. Lalu tiba-tiba ingin menonton film.”

Seunghyun menyenggol Direktur Lee. “Ooooh Direktur, kau sedang berkencan sekarang? Dengan siapa?” godanya. Direktur Lee memukul kepala Seunghyun. “Aku sudah tua, mau kencan dengan siapa?”

Tidak banyak yang mereka ketahui tentang Direktur Lee karena memang Direktur tidak sering menceritakan kehidupan pribadinya. Namun yang pasti, Direktur Lee single sekarang.

“Memangnya kenapa, Direktur? Kau masih terlihat keren. Kurasa, masih banyak wanita yang tertarik denganmu,” sahut Bom. Seunghyun mengangguk sambil mengusap-usap kepalanya.

“Benarkah?”

Bom mengangguk. “Tentu saja! Wanita… yang seusiamu juga tentunya.”

“Aigoo… anak ini!”

Mereka tertawa.

“Tapi Direktur, masih banyak wanita seusiamu yang menarik. Wanita jaman sekarang makin pandai berdandan,” ujar Seunghyun.

“Pakar wanita bicara,” sahut Bom.

“YA!”

“Lalu kalian, apa yang kalian lakukan disini? Dengan dandanan seperti ini?” tanya Direktur Lee kemudian.

“Kami ingin menonton film juga, Direktur. Tapi kau tahu sendiri, tempat seperti ini akan sangat menarik perhatian kalau kami pergi begitu saja. Makanya dirias seperti ini,” jawab Bom. Ia memakan popcorn-nya lagi.

Seunghyun memukul tangan Bom. “Berhenti makan! Nanti kau tidak punya makanan lagi ketika nonton!”

“Kan masih ada punyamu,” sahut Bom enteng. Seunghyun mendengus.

Direktur Lee tersenyum melihat mereka berdua. “Jadi kalian menyamar?”

Seunghyun mengangguk, tapi Bom menggeleng keras. “Bukan menyamar, Direktur! Buktinya, kami tidak mengaku sebagai orang lain kan ketika bertemu denganmu? Ini hanya dirias menjadi berbeda, supaya orang-orang tidak mengenali kami, dan kami bisa leluasa jalan-jalan.”

“Ia selalu mengatakan hal seperti itu, tapi kurasa ini memang menyamar, Direktur,” ujar Seunghyun.

“YA! Kalau kau bilang seperti itu lagi, aku tidak mau meriasmu lagi!” seru Bom. Seunghyun mengangkat tangan. “Baik, baiklah.”

Direktur Lee tertawa. “Tapi benar juga kata Bom. Bagus, bagus. Kau pandai, Bom-ah. Kalau begini, tidak akan ada kehebohan atau skandal.”

“Kau dengar itu, Seunghyun-ah? Sudah kubilang aku memang pandai,” ujar Bom senang. “Terima kasih, Direktur.”

“Direktur, seharusnya kau jangan memujinya begitu. Sekarang ia besar kepala,” keluh Seunghyun.

Bom tertawa, begitu juga Direktur Lee.

“Berarti, gosip itu benar, ya?” tanya Direktur Lee.

“Gosip? Gosip apa?” tanya Bom.

“Gosip tentang kalian berdua. Kukira hanya gossip, tapi setelah melihat kalian berdua seperti ini, tunggu,“ Direktur Lee tampak menyadari sesuatu. “Apa kalian jadi semakin dekat karena skandal foto itu? Kalian benar-benar berkencan sekarang?”

“Tidak, tidak benar!” seru Bom dan Seunghyun berbarengan. Direktur Lee menatap mereka berdua bergantian.

“Itu hanya gossip, Direktur. Kami hanya teman, seperti yang lainnya,” ucap Bom. Seunghyun mengangguk. “Bagaimana mungkin itu semua benar. Memang hanya gossip, Direktur.”

“Lalu, bagaimana bisa kalian berdua disini? Dan tidak mengajak personel yang lainnya?”

Bom dan Seunghyun berpandangan. Tidak mungkin mereka bilang kalau Seunghyun tadi sedang di rumah Bom dan mereka pergi bersama-sama dari rumah Bom.

“Hanya kebetulan saja, Direktur,” ucap Bom. Ia mengisyaratkan Seunghyun untuk mengeluarkan alasan juga.

“Teman-teman yang lain sedang malas keluar, jadi kami saja yang jalan-jalan. Biasanya kami bersama mereka,” ujar Seunghyun. Dan ia memang tidak berbohong. Tadi di rumah Bom ada Dara, Minji, dan Chaerin. Tapi mereka tidak mau pergi, ingin nonton film hantu saja di rumah. Sedangkan Bom tidak suka film hantu dan mengajak Seunghyun keluar bersamanya. Seunghyun yang ketinggalan teman-temannya yang pergi ke rumah Yongbae pun setuju.

“Direktur, nomor bangkumu berapa? Mungkin saja kursi kita berdekatan!” seru Bom mengalihkan pembicaraan. Direktur Lee mengeluarkan tiketnya.

“Wah, kebetulan sekali, Direktur! Tempat duduk kita bersebelahan!”

***************
“Tadaaa, inilah dia masakan nenekku! Sudah kubilang kan kalau nenek tak mungkin lupa membawakan makanan untuk kita?” Bom mengeluarkan bungkusan dari neneknya, lalu meletakkannya di meja makan. Kemarin Bibi Taeri memang habis pulang dari Jinan dan seperti biasa membawa titipan makanan dari nenek Bom. Chaerin, Dara, dan Minji segera membantunya mengeluarkan makanan-makanan itu dengan antusias.

“AAhh, rasanya aku sudah tidak sabar memakan masakan nenekmu, Unnie! Terakhir kali kita memakannya tiga bulan yang lalu, itu sudah lama sekali!” seru Minji. Mereka memang sering memakan masakan nenek Bom. Dan mereka menjadi ‘kecanduan’ makan masakan nenek Bom.

Dara mengangguk dengan semangat. “Aku juga, aku juga!”

“Oh, ramai sekali disini. Apa yang sedang kalian lakukan malam-malam begini?” Seunghyun menghampiri mereka. Ia baru saja pulang dari studio. “Bom-ah, rumput di halaman sudah mulai tinggi, apa tukang kebun tidak membersihkannya?”

Bom menepuk keningnya. “Aku lupa memberikan gajinya! Biasanya kutitipkan lewat Bibi Taeri. Mungkin ia kesal karena gajinya belum juga kubayar. Bagaimana ini? Kasihan sekali Ajussi kalau begini.”

Seunghyun menggelengkan kepalanya. “AAhh kau ini! Sudah nanti biar aku saja yang mengurus gajinya.” Bom mengangguk-angguk.

“Seperti pasangan suami istri,” gumam Minji. Chaerin yang mendengarnya tersenyum.

“Kau bilang apa?” tanya Bom dan Seunghyun bersamaan. Minji nyengir lebar.

Minji segera menarik tangan Seunghyun untuk mengalihkan perhatian dan menarik kursi di sebelahnya. “Oppa, mengapa membicarakan hal seperti itu sekarang? Cepat duduklah sini! Kami akan makan masakan neneknya Bom Unnie, masakannya enaaaak sekali. Kau harus mencobanya!”

 Seunghyun duduk tepat di sebelah kanan Bom dan sebelah kiri Minji. “YA, apa kalian tidak bisa melakukannya besok?”

“Kami sudah tidak sabar untuk memakannya, Oppa! Lagipula, besok pagi-pagi kami harus pergi ke studio untuk rekaman,” sahut Minji yang sudah mulai makan tanpa mengalihkan pandangannya dari makanannya.

Dara mengangguk-angguk, membetulkan ucapan Minji.

Chaerin mencicipi makanan yang ada di mangkuk Minji, yang duduk di sebelahnya. “Ini lebih enak dari yang terakhir kita makan. Unnie, sesekali tanyakanlah pada nenekmu, apa resepnya. Atau, sekalian minta kirimkan resepnya bersama dengan makanan ini.”

Bom mengangguk-angguk, mulutnya penuh dengan makanan. Chaerin, yang tampak cuek begitu, tapi ia jago masak.

“Betul, Unnie! Nanti kita masak disini resep nenekmu,” tambah Minji. Dara menggelengkan kepalanya. “Pasti nanti kau akan bereksperimen lagi, Minji-ah.”

Minji tertawa kecil. Ia memang senang bereksperimen dengan makanan. Namun, eksperimennya lebih banyak yang gagalnya daripada berhasil. Tapi tetap saja ia tidak menyerah, dan melakukan eksperimen-eksperimen lain.

“Dan kau akan menghancurkan dapurku lagi,” sahut Bom. Dara mengangguk-angguk setuju, sementara Minji hanya mengangkat bahu. Bom menoleh pada Seunghyun yang diam saja.

“YA, Choi Seunghyun. Mengapa malah diam saja? Ini, makanlah. Masakan nenekku ini masakan terenak di dunia!” seru Bom seraya menyodorkan mangkuk berisi makanan pada Seunghyun.

Seunghyun melihat isi mangkuk ini. “Apa nama makanan ini? Aku belum pernah melihatnya.”

“Nenekku itu, memang suka membuat resep sendiri. Ia senang mencoba-coba membuat makanan yang baru.”

“Sepertiku,” sahut Minji cepat.

“Tapi masakan nenek sangat enak, Minji-ah,” sanggah Chaerin.

”Unnie!”

“Cepat cobalah!” seru Bom. Seunghyun menurut. Ia memakan makanan yang ada di depannya. Bom dan yang lainnya menatap Seunghyun dengan seksama.

Seunghyun hampir tersedak menahan tawa. “YA, apa yang kalian lakukan? Mengapa melihatku seperti itu?”

Mereka saling berpandangan, lalu tertawa.

“Kami hanya ingin tahu bagaimana reaksimu,” ujar Bom. “Bagaimana? Enak, kan?”

Seunghyun mengangguk-angguk, mulutnya masih mengunyah. “Rasanya unik, dan enak di lidah.”

Bom tersenyum, lalu melanjutkan makannya.

“AAhh, gatal sekali!” seru Seunghyun tak lama kemudian. Bom langsung menoleh pada Seunghyun. Tampak tangannya merah-merah.

“YA, ada apa denganmu?” tanya Bom panik. Chaerin, Minji, dan Dara juga segera melihat Seunghyun.

“Seunghyun-ah, mengapa tangan dan wajahmu merah-merah?” pekik Dara kaget.

Bom menyentuh wajah Seunghyun. “Oh Tuhan, sekarang wajahmu juga! Sebenarnya kau kenapa?””

“Apa kau pernah mengalami yang seperti ini sebelumnya, Oppa?” tanya Chaerin.

Seunghyun mengangguk. Tangannya masih menggaruk wajahnya yang gatal, sementara Bom mengusap-usap tangannya. “Jangan digaruk, Seunghyun-ah. Nanti akan merusak kulitmu. Usap saja, sepertiku begini.”

“AAhh, ini gatal sekali!” Seunghyun menuruti ucapan Bom. Ia mengusap wajahnya. “Aku mengalami yang seperti ini kalau alergiku sedang kambuh.”

“Kau alergi? Alergi apa?” tanya Bom kaget. “Atau jangan-jangan, kau alergi makanan nenekku?”

Seunghyun mendorong kepala Bom. “Bodoh, mana ada alergi seperti itu? Aku ini alergi seafood! Di dalam masakan nenekmu, mungkin ada sedikit seafood.”

Bom melihat isi mangkuk. “Memangnya ada? Aku tidak merasakannya.”

“Nah itu dia yang membuatku bingung. Aku juga tidak merasakan ada seafood, tapi entah mengapa begini.”

Minji memeriksa isi mangkuk. Tak lama kemudian, ia menjepit sesuatu di sumpitnya. “Ini ada sedikit udang.”

Yang lain mengerutkan kening.

“Benarkah itu udang? Kukira daging,” Dara tak percaya. Chaerin segera memakannya, lalu mengangguk. “Memang ini udang. Tapi sangat sedikit di makanan ini, dan juga tidak terlalu terasa.”

Bom menggeleng-geleng tak percaya. “Kurasa alergimu akut, Seunghyun-ah. Udang sekecil itu saja sudah membuatmu alergi begini. Lalu bagaimana menyembuhkannya?”

“Biasanya ini akan hilang sendiri. Sekitar lima sampai enam jam.”

“Apa?!” seru yang lain kaget.

“Bukankah kalian akan mengadakan konser di Thailand? Lalu kau tidak bisa latihan kalau gatal-gatal begini, Seunghyun-ah?” tanya Dara.

Seunghyun tertawa kecil. “Tapi karena aku memakan hanya sedikit, ini mungkin hanya akan memakan waktu satu jam.” Lalu Seunghyun berkata pada Bom. “Jadi, Park Bom, kau harus mengusap tanganku selama satu jam.”

Bom meringis.  Ia lalu teringat sesuatu.

“YA, kau akan menginap lagi disini?!”

Seunghyun menatapnya kesal. “Apa itu hal penting sekarang? Aku sekarang seorang pasien, tahu!” Seunghyun menunjukkan tanganya yang alergi.

Bom mengusap-usap keningnya. “Ah ya. Maaf, maaf, Seunghyun-ah.”

“Kurasa tak apa-apa Oppa menginap disini. Toh memang ada kamar kosong juga,” ujar Minji sambil kembali meneruskan makannya. Dara mengiyakan.

Chaerin juga mengangguk. “Kurasa juga begitu.”

Seunghyun langsung membesarkan matanya melihat mereka memberikan persetujuan. “Nah, kau lihat itu kan, Bom-ah? Mereka bilang tidak apa-apa. Sekarang hal yang penting bukan itu!”

Bom mengangguk-angguk. Ia masih mengusap-usap tangan Seunghyun yang terkena alergi. “Iya, maafkan aku. Eh, tapi ini salahmu juga! Mengapa kau tidak bilang kalau kau alergi seafood?” Bom menggerutu kesal.

“YA, mana aku tahu kalau itu ternyata ada seafood-nya?” Seunghyun ikut menggerutu. “Sudah jangan banyak bicara. Tetap usap saja yang benar!”

Bom diam dan melanjukan kegiatannya. Lalu kemudian menghentakkan tangannya kesal. “YA, alergi macam apa ini?! Apa tidak ada obat yang bisa kau minum?”

“Terlalu sering minum obat itu tidak baik, tahu! Nanti tubuhmu akan kebal obat!”

Chaerin, Minji, dan Dara saling berpandangan memandang pertengkaran kecil mereka. Lalu sama-sama mengangkat bahu dan melanjutkan makan mereka.

***************
Esok sore nya.

Seunghyun celingukan begitu memasuki rumah. Dara melihanya heran. “Wae[1]? Apa yang sedang kau cari?”

“Kalian, hanya bertiga?” Seunghyun malah bertanya balik.

Dara makin heran. Minji dan Chaerin yang sedang menonton televisi juga ikut menatap pria itu heran.

“Iya. Memangnya mengapa, Oppa?” tanya Chaerin.

Seunghyun menggeleng. “Tidak apa-apa. Hanya saja biasanya kalian kan berempat.”

“Bom Unnie sedang latihan vokal di asrama. Pelatih Cha hanya bisa melatihnya malam ini, jadi Unnie akan semalaman latihan di asrama,” jelas Minji.

Seunghyun mengangguk-angguk.

“Latihan kalian sudah selesai hari ini, Seunghyun-ah?” tanya Dara.

Seunghyun mengangguk. “Iya, Noona. Tapi Jiyong masih di studio, katanya mau memperbaiki beberapa nada.”

“Begitu?”

Seunghyun lalu beranjak ke pintu luar.

“Kau mau pergi lagi, Oppa? Bibi Taeri masak banyak hari ini!” seru Minji

Seunghyun melambaikan tangannya tanpa menoleh. “Nikmati makan kalian!”

“Ia, pergi karena tidak ada Bom Unnie?” tanya Minji perlahan, tidak mengerti.

Chaerin menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Sepertinya mulai ada sesuatu.”

Dara menatap makanan di atas meja makan, yang begitu banyak. “Ahh, lalu bagaimana dengan makanan ini?” Ia lalu menjentikkan jarinya. “Kubawakan saja untuk Jiyong. Ia pasti belum makan!”

Chaerin dan Minji saling berpandangan. “Unnie, kurasa kita juga harus mencari pacar,” ujar Minji. Chaerin mengangguk setuju.

Dara tertawa melihat ekspresi mereka.

************
Rumah sakit Seoul—

Jang Bong Go menggelengkan kepalanya.

“Wanita itu terus berkata tentang anaknya yang di panti asuhan, tapi tidak bilang panti asuhan mana.”

“Tapi, itu panti asuhan di Seoul?” tanya Dokter Jung.

“Ia tidak bilang juga. Tapi bisa jadi begitu. Ia hanya mencercau ‘anakku… anakku kutinggalkan di panti asuhan…’ tanpa bilang kata-kata lain,” Jang Bong Go menatap Dokter Jung khawatir. “Dokter, apa mungkin wanita itu mengalami sesuatu di kepalanya? Mungkin terbentur atau…,” Jang Bong Go menyentuh kepalanya sendiri.

“Sejauh dari pemeriksaan medis, kami belum menemukan luka lain selain tusukan di perutnya itu. Tapi tidak menutup kemungkinan ada efek atau penyakit secara psikologis dari wanita itu. Kami akan mengamati perkembangannya lagi, Jang Bong Go-ssi.”

Jang Bong Go mengangguk-angguk.

“Oh iya, apa ia bilang siapa namanya?” tanya Dokter Jung.

“Yoon Min Ah.”

“Ooh, Yoon Min Ah. Nama yang bagus,” ucap Dokter Jung sambil menggangguk-angguk.

“Mmm… Dokter,” Jang Bong Go tampak ingin mengucapkan sesuatu.

“Ada apa, Bong Go-ssi? Katakan saja, mungkin aku dapat membantu,” ujar Dokter Jung.

“Sebenarnya, Yoon Min Ah-ssi mengucapkan nama sebuah panti asuhan. Apa memungkinkan untuk mencarinya?” tanya Jang Bong Go. “Dokter seorang yang berpendidikan, mungkin bisa mencari tahu lewat sesuatu. Yang diketahui oleh pria sepertiku hanya mengurus restoran saja.”

“Benarkah? Apa namanya?”

“Panti asuhan Cahaya Hati, Dokter. Mungkin kalau kita mencarinya, identitas Yoon Min Ah akan semakin kita ketahui,” ujar Jang Bong Go.

Dokter Jung mengangguk-angguk. “Benar juga, Bong Go-ssi. Aku juga tidak tega melihatnya seperti sangat tersiksa. Begini saja, aku akan mencoba mencari daftar panti asuhan dengan nama itu di Seoul, nanti akan kukabari lagi Bong Go-ssi kalau sudah dapat.”

Jang Bong Go tersenyum. “Terima kasih, Dokter.”

“Mari kita cari bersama, Bong Go-ssi,” Dokter Jung ikut tersenyum. “Oh iya, hari ini kau bisa kembali ke restoranmu. Ada banyak perawat yang menjaga Yoon Min Ah-ssi, kau tidak perlu khawatir.”

Jang Bong Go membungkukkan tubuhnya sedikit. “Ah ya, Dokter Jung. Sekali lagi terima kasih.”

**************
 “Apa… yang kalian lakukan disini?” Bom terpana melihat rumahnya sudah ramai oleh para ‘pengacau’.

“Oh, Bom Noona! Kau sudah datang!” seru Seungri dari taman kecil. Ia berlari menghampiri Bom. “Kami menunggumu dari tadi. Mana, katanya ada lampu yang harus dipasang? Biar aku yang memasangnya, Noona!”

Bom menatap Seunghyun, meminta penjelasan. Tadi ia dan Chaerin memang berbelanja sedikit sebelum datang ke rumah. Seunghyun mengangkat bahu. “Mereka memaksa ingin kesini. Aku tidak punya pilihan. Katanya mereka ingin main disini, refreshing sebelum konser di Thailand.”

“Apa hubunganyaaaa?” jerit Bom.

“Bommie-ah, cepat kesini! Bibi Taeri memasakkan spaghetti kesukaanmu!” seru Dara. Gadis itu langsung menarik tangan Bom dan Chaerin ke ruang televisi. Disitu sudah ada Jiyong dan Minji yang sedang main game. Sementara Yongbae sedang memainkan piano di dekat jendela.

“AAhh, aku kalah lagi dari si mata kucing ini!” gerutu Jiyong. Minji tertawa-tawa. Ia menengadahkan tangannya. “Mana PSP-mu, Oppa?”

Jiyong memberikan PSP-nya enggan. “Lima hari, ingat itu!”

“YA, Oppa! Perjanjian awalnya kan seminggu!” protes Minji. “Lagipula, Oppa, tidak bisakah kau berkelakuan baik pada dongsaengmu ini? Aku sudah berbaik hati memberikan Unnie-ku padamu, mengapa kau pelit sekali hanya dengan meminjamkan PSP?”

Jiyong menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sudah tidak bisa berkata apa-apa jika sudah membawa Dara ke dalam hal ini. “Baiklah, baiklah!”

Minji bersorak. Ia lalu teringat sesuatu. “Oppa! Kau kalah dua kali denganku! Berarti menjadi dua minggu!”

Jiyong melotot. “YA, kau!”

Dara pun duduk di sofa belakang mereka. “Berikan saja, Jiyong-ah. Dua minggu tak akan lama.”

Minji mengacungkan jempolnya. “Dara Unnie, jjang[2]!”

Jiyong menggaruk-garuk kepalanya lagi. Dara dan Minji tertawa melihatnya.

Bom menggeleng-gelengkan kepala melihat mereka. “Bahkan mereka membawa stick game dari asrama.”

Chaerin tertawa kecil. Ia kemudian duduk di sofa dan meminum cola. “Sudahlah, terima saja, Unnie. Rumah ini akan hancur dalam beberapa saat.”

Bom menghela nafas. Ia pun duduk, lemas. “Chaerin-ah…”

Seunghyun ikut duduk di sebelah Bom. Bom menoleh padanya. “YA, bukankah kau harus memasang lampu? Tadi perjanjiannya aku yang membeli lampu, kau yang memasang.”

Lampu kamar Bom memang mati. Tukang kebun yang biasa mengurusi hal-hal seperti itu akhirnya berhenti bekerja dan Bom belum sempat mencari penggantinya.

Seunghyun mengambil piring berisi spaghetti dari atas meja. “Seungri dan Daesung yang memasangnya. Siap-siap saja, mereka akan memohon padamu untuk dibolehkan menanam tanaman di taman itu. Mereka berdua kan suka bereksperimen dengan tanaman.”

Bom mengerutkan kening. “Benarkah?”

Seunghyun mengangguk, lalu menyendokkan spaghetti dan memberikannya pada Bom. “Ini, makanlah. Bibi Taeri bilang kau akan menyukainya.”

Bom memegang garpu yang ada di tangan Seunghyun dan memakan spaghetti itu. Ia tersenyum. “Enak sekali! Bibi Taeri pasti memasak resep dari nenekku.”

“Benarkah? Resep nenekmu?”

Bom mengangguk. Ia, masih memegang tangan Seunghyun, menyendokkan spaghetti dan menyuapkannya pada Seunghyun. Seunghyun mengangguk-angguk. “Memang enak.”

“Kan sudah kubilang apa, nenekku itu memang jago masak. Ia selalu membuat masakan baru dengan resepnya sendiri,” ujar Bom.

“Pasti nenekmu orang yang baik dan ramah. Tidak seperti seseorang,” gumam Seunghyun seraya melirik Bom.

“YA, apa maksudmu? Memangnya aku tidak baik dan tidak ramah?”

“Begitulah,” Seunghyun mengangkat bahunya.

“YA, kalau aku tidak baik, mana mungkin membolehkanmu disini?” Bom langsung ngomel panjang  pendek. Seunghyun tertawa. Chaerin tersenyum melihat mereka berdua berdebat.

Minji menyenggol Dara, yang juga mendengarkan perbincangan Bom dan Seunghyun.

“Unnie, apakah mereka tidak menyadari kalau kelakuan mereka itu seperti pasangan kekasih?” bisik Minji. Dara mengangguk. “Kurasa begitu. Padahal sudah terlihat jelas.”

“Betul, betul. Aku juga melihatnya dengan jelas,” Jiyong ikut berbisik.

Dara dan Minji menatapnya heran. “Oppa, kau suka bergosip juga?” tanya Minji polos.

Jiyong melotot dan berseru kesal. “YA!”

*******************
Bangkok, Thailand.

“Hyung, kau tidak ingin membeli sesuatu?” tanya Daesung pada Seunghyun yang hanya melihat-lihat. Sementara yang lain sudah asyik memilih-milih barang.

“AAhh, aku tidak tahu harus beli apa. Ini ketiga kalinya kita ke Thailand, memangnya kalian mau beli apa lagi?”

Jiyong merangkul Seunghyun. “Hyung, justru aku yang ingin bertanya. Ini sudah ketiga kalinya ke Thailand, tapi mengapa kau tidak pernah membeli sesuatu? Hitung-hitung kenang-kenangan.”

“Aku tidak tertarik untuk membeli hal-hal seperti itu.”

“Atau, untuk oleh-oleh,” sambung Yongbae. Ia sendiri sudah memegang banyak barang untuk dibeli. “Kau belilah beberapa untuk oleh-oleh, berikan saja pada siapa yang kau mau.”

Oleh-oleh? Dahi Seunghyun mengernyit.

Tiba-tiba ia teringat wajah Bom. Mereka sempat bertemu di studio sebelum Big Bang berangkat ke Thailand. Wajahnya agak sendu. “Nenekku sakit. Kali ini sakit sungguhan,” kata gadis itu. Bom memang cerita waktu terakhir kali ke Jinan itu neneknya berpura-pura sakit.




[1] Mengapa
[2] Yang terbaik

____________________________________________________________

silakan dikomen yaa readers hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari readers :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar