Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 7



Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan sarannya yaa :)
_______________________________________________________________


Rumah Sakit Seoul

“Dokter! Pasien sadar!”

Pria separuh baya yang tertidur di lobi rumah sakit langsung terbangun begitu mendengar para perawat beserta dokter berjalan cepat menuju UGD. Ia bangkit dan mengikuti langkah mereka.

“Suster, wanita itu sudah sadar?” tanyanya pada salah satu perawat. Perawat itu mengangguk. “Setelah pemeriksaan sebentar, kau boleh melihatnya, Ajussi.”

Pria itu mengangguk-angguk sambil menghela nafas lega. Akhirnya setelah lebih dari dua minggu koma, wanita itu sadar juga. Ia teringat ketika dua minggu yang lalu menemukan wanita itu di pinggir jalan dengan luka seperti habis tertusuk di perutnya.

“Anda keluarga dari pasien ini?” tanya Dokter Jung begitu keluar dari UGD. Pria itu menggeleng. “Aku Jang Bong Go. Aku tidak mengenalnya, aku menolongnya waktu itu.”

“Ini pria yang waktu itu dibicarakan, Dokter,” ucap seorang perawat. Dokter Jung itu mengangguk-angguk. “Jadi tidak ada jalan lain selain menanyakan langsung padanya identitas dirinya. Karena ia tidak membawa apapun dengannya ketika terluka, termasuk kartu identitas apappun.”

“Apa, wanita itu baik-baik saja, Dokter?” tanya Jang Bong Go  khawatir.

Dokter Jung tersenyum. “Untuk sementara ini, ia baik-baik saja. Nanti akan kulihat lagi bagaimana perkembangannya. Tapi untuk luka di perutnya sudah membaik,” Dokter membenarkan letak kacamatanya. “Kau orang yang baik, Jang Bong Go-ssi. Kudengar kau hampir setiap hari datang kesini untuk melihat apakah wanita itu sudah sadar atau belum.”

Jang Bong Go tersenyum malu. “Aku hanya khawatir pada keadaannya, Dokter. Dan juga penasaran sebenarnya siapa dia.”

Dokter Jung mengangguk-angguk. “Aku juga penasaran siapa dia.”

******

                Rumah Bom

“Oh, Bibi! Akhirnya kau datang juga!” seru Bom melihat seorang wanita paruh baya membuka pintu rumahnya. Gadis itu sedang memakai jaket, hendak berangkat ke studio untuk latihan.

“Aigoo, Bom-ah, maaf aku terlalu lama di rumah anakku,” ujar Bibi Taeri, wanita itu. Bom tersenyum dan memeluknya. “Tidak apa-apa, Bibi. Aku senang kalau kau bisa bertemu dengan cucu barumu. Oh iya, sudah kau beri nama?”

Bibi Taeri mengangguk penuh semangat. “Tentu saja! Aku menamainya Yoon Bom, sama sepertimu. Aku ingin anak itu tumbuh menjadi anak yang baik dan cantik sepertimu!”

Bom tersenyum lebar. “Benarkah, Bibi? AAhh, aku jadi ingin melihat Bommie kecil. Bibi, apa kau membawa fotonya?”

“Ada, ada! Ini kubawa fotonya,” Bibi Taeri mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah foto. Bom menatap foto, senyumnya bertambah lebar.

“Kyeopta[1]…,” ujar Bom melihat foto bayi itu. Ia jadi teringat foto kecilnya. “Pokoknya, nanti aku harus melihat Bom kecil dengan mataku sendiri, Bibi!”


“Tentu, tentu saja, Bom! Aku senang sekali kalau kau mau melihat Bom kecil kami,” ujar Bibi Taeri sumringah. “Oh iya, Bom. Anakku bilang kalau namamu seperti nama artis terkenal, persis sekali. Aku bilang pada mereka kalau kau memang secantik artis, dan kau memang penyanyi. Tapi mereka tidak percaya aku bekerja pada penyanyi.”

Bom tertawa. “Bibi, kau kan bukan bekerja begitu. Kau menemaniku mengurus rumah ini, begitu kan kata Nenek juga? Oh iya, apa Nenek baik-baik saja?”

Bibi Taeri mengangguk. “Oh iya! Aku sampai lupa, nenekmu menitipkan sesuatu untukmu,” Bibi Taera memberikan bungkusan yang ditentengnya tadi.

Mata Bom berbinar. Pasti makanan dari resep baru. Nenek Bom memang senang mencoba-coba resep sendiri, dan hasilnya memang enak.

“Park Bom, kau melihat jaket merahku?” tanya Seunghyun yang sedang berjalan menuruni tangga.

“Oh, sedang ada tamu?” Bibi Taera melihat ke arah tangga. Bom menoleh.

“Oooh, itu temanku,” Bom menarik tangan Seunghyun. “Seunghyun-ah, ini Bibi Taera. Ia yang membantuku mengurus rumah ini. Bibi, Seunghyun ini akan sering main kesini seperti Chaerin, Dara, dan Minji.”

Seunghyun membungkukkan sedikit badannya memberi hormat. “Apa kabar? Aku Choi Seunghyun.”

“Aigoo, kau tampan sekali! Badanmu juga bagus,” Bibi Taeri tersenyum dan berkata pada Bom. “Bom-ah, mengapa kau baru membawa pacarmu ke rumah? Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini!”

Bom langsung menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. “Bukan, Bibi. Dia bukan pacarku, kami hanya teman.”

Seunghyun mengangguk, membenarkan perkataan Bom.

“Begitu?” Bibi Taera tampak kecewa. “Padahal kalian tampak cocok sekali.”

 “Ah iya Bibi, kau pasti lelah. Lebih baik kau beristirahat, kemarin aku sudah menyuruh orang membersihkan kamarmu,” ujar Bom mengalihkan pembicaraan. Kemudian ia sambil membantu membawa barang-barang Bibi Taeri. Seunghyun refleks ikut membantu.

Bibi Taeri mengelus-elus bahu Bom. “Aigoo, betapa Bom kami memang anak baik. Seunghyun-ah, kau tidak akan menyesal kalau berpacaran dengan Bom.”

Bom dan Seunghyun saling berpandangan, lalu tersenyum geli.

“YA, memangnya ia tidak menyadari kalau aku ini artis? Mengapa ia biasa saja melihatku di rumahmu?” tanya Seunghyun heran setelah mereka keluar dari kamar Bibi Taeri.

Bom tertawa kecil. “Jangankan kau. Ia saja tidak tahu kalau aku ini artis. Ia hanya tahu aku penyanyi dan mengakui kalau suaraku memang bagus, tapi dalam bayangannya hanya penyanyi tingkat lokal saja, bukan sampai tingkat selebriti dan terkenal.”

Seunghyun terpana mendengarnya. “Benarkah itu? Ada orang seperti itu?”

“Memang sulit dipercaya, tapi memang begitu adanya. Bibi Taeri juga tidak tahu kalau Chaerin, Minji, dan Dara itu artis. Ia tidak pernah menonton televisi atau apapun yang berhubungan dengan selebriti.”

“YA, kau dapatkan dari mana orang seperti itu? Sepertinya harus ada beberapa lagi orang seperti itu, agar aku agak tenang kalau berjalan di tengah keramaian.”

Bom tertawa.

Seunghyun berjalan ke meja makan. Ia lalu mengambil sepotong roti dan mengolesinya dengan selai coklat. Bom duduk di seberangnya. Gadis itu sedang minum susu hangat.

“Park Bom, berikan mesis di depanmu,” ujar Seunghyun. Bom menunjuk toples mesis cokelat yang tak jauh darinya. “Ini?”

“Memangnya kau kira itu apa? Tentu saja yang itu!”

Bom merenggut. “Kau tidak perlu membentakku!”

Seunghyun terkekeh seraya mengambil toples mesis dari tangan Bom, lalu menaburkan mesis di atas rotinya yang sudah diolesi selai cokelat. Bom mengerutkan kening melihatnya.

“YA, untuk apa kau taburi mesis lagi? Kau sudah menaruh selai cokelat di rotimu!” tanya Bom heran.

Seunghyun menggigit rotinya. “Akan lebih baik kalau rasanya semakin manis, tahu!”

Bom melongo. Tak habis pikir dengan selera pria di hadapannya itu.

“Oh iya, kau lihat jaket merahku?”

“Sepertinya aku lihat di sofa tadi. YA, kau tidur disini tadi malam?” Bom baru menyadari sesuatu.

Seunghyun segera bangkit dari kursi makan dengan membawa roti di tanganya. “Aku akan terlambat, Bom-ah. Aku pergi dulu!”

“YA! Sudah kubilang kau tidak boleh menginap disini!!”

Seunghyun hanya tersenyum lebar kemudian mengambil jaketnya cepat. “Aku pergi, Bom-ah!” serunya sambil melambaikan tangan.

***********

“Unnie, kau benar-benar berbakat dalam merias.”

“Chaerin-ah, kau sudah mengatakan itu sepanjang jalan di mobil,” sahut Bom. Mereka berdua memasuki club yang sering mereka datangi.

“Aku sungguh tidak percaya Unnie sepandai itu dalam merias. Kemarin ketika melihat foto Seunghyun Oppa yang dikira ayahmu itu, aku tidak begitu percaya. Kukira, kalian ke salon untuk merias diri menjadi seperti itu,” ujar Chaerin.

“YA, Chaerin-ah! Kau sungguh tidak percaya kalau aku pandai merias?” protes Bom. Chaerin memandangi Bom dari atas sampai bawah. “Tidak, sekarang aku percaya. Sangat percaya.”

Chaerin memang sangat terkejut ketika tadi ke rumah Bom didapatinya seorang gadis asing yang sedang menonton televisi. Awalnya ia mengira itu adalah salah satu teman Bom yang tidak ia kenal, padahal setahunya tidak ada teman Bom yang tidak ia kenal. Namun ternyata itu adalah Bom. Chaerin sampai butuh waktu setengah jam untuk membuat dirinya percaya kalau yang ada di hadapannya adalah Park Bom. Bagaimana tidak, gadis di hadapannya adalah gadis yang sangat glamour dengan seluruh barang bermerek di tubuhnya, sama sekali tidak seperti Bom. Meski memang mereka artis, tetapi mereka tidak berdandan seperti ratu pesta seperti itu. Dan juga, Bom mendandani wajahnya sedemikian rupa sehingga bentuk alis, mata, hidung, dan mulutnya berbeda dengan dirinya yang asli.

Tapi kemudian Chaerin bertanya lagi. “Unnie, apa kau operasi plastik dadakan?”

“YA! Kau sudah menanyakan hal seperti itu berulang kali! Tentu saja tidak, untuk apa aku operasi plastik hanya untuk datang ke tempat seperti ini?” Bom memberenggut. “AAhh Chaerin-ah, menyebalkan sekali. Tadi kau bilang kau percaya padaku, sekarang tidak?!”

Chaerin mengusap-usap bahu Bom. “Baik, baik. Aku percaya. Hanya saja aku masih terkejut.”

“Kau terkejut dari tadi, Chaerin-ah! Itu waktu yang sangat lama untuk terkejut!” Bom masih bersungut-sungut. Hingar bingar musik club membuatnya harus berteriak agar terdengar.

Chaerin tersenyum. “Sejak kapan Unnie bisa merias sampai seperti ini?”

“Sebenarnya sudah lama, Chaerin-ah. Aku sering bersama Dara bereksperimen seperti ini kalau kami ingin jalan-jalan ke tempat umum. Sangat menguntungkan, bukan?”

“Sudah lama? Mengapa aku tidak tahu?” tanya Chaerin heran. Mereka kemudian duduk di dekat bartender.

“Oh, Chaerin! Sudah lama tidak datang!” sapa Yoon, bartender yang sudah akrab dengan mereka. “Oh, kau membawa teman baru? Bom tidak ikut?”

Chaerin dan Bom berpandangan geli.

“Kalian mau minum apa? Chaerin, kau mau yang biasa?” tanya Yoon melihat kedua costumernya hanya berpandangan. Chaerin mengangguk.

“Aku juga yang biasa,” ujar Bom.

“Yang biasa?” Yoon mengerutkan kening. “Kau baru pertama datang, Agassi[2].”

“Berikan saja yang biasa dipesan Bom Unnie,” sahut Chaerin. Lalu ia memandang Bom. “Tadi kau bilang kau sudah lama seperti ini. Mengapa tidak berkata padaku?”

Bom menyengir. “Kami kira kau tidak akan suka hal-hal seperti ini. Jadi hanya kami saja yang suka bereksperimen seperti ini.”

“Kami? Minji juga?”

Bom mengangguk.

“AAhh, aku tidak percaya ini! Kalian semua melakukan hal seperti ini di belakangku, benar-benar mengesalkan!”

Bom tersenyum lebar. “Mian[3], Chaerin-ah. Kami kira kau tidak suka hal-hal seperti ini. Dara bahkan sudah membayangkan kau akan berkata kalau hal seperti ini membuang-buang waktu.”

“YA, apa aku se-menyeramkan itu? Aku juga ingin bebas pergi ke tempat umum tanpa dikenali orang-orang.”

“Nikmati malam kalian!” Yoon datang dan memberikan minuman pada mereka berdua. Chaerin segera meminumnya sampai habis dengan wajah kesal. Bom tersenyum lebar melihatnya. Pemandangan khas kalau Chaerin sedang mengambek.

“YA Chaerin-ah, kau mengambek tidak seperti wanita, tahu?”

Chaerin mendelik kesal. “Unnie! Kau sudah membuatku kesal, masih berani berkata seperti ini?!”

Bom mengusap-usap kepala Chaerin. “Bukan begitu, Chaerin! Aku kan ingin melihatmu merajuk.”

“Aku tidak sepertimu,” ujar Chaerin. Giliran Bom yang bersungut-sungut. “Memangnya aku seperti apa?”

“Oh iya Unnie, kemarin Seunghyun Oppa menginap di rumahmu?”tanya Chaerin. Bom mengangguk pendek.

“Aku juga baru menyadari itu paginya. Dia kan tahu password rumahku, jadi bisa kapan saja datang. Tidak, Chaerin-ah, dia tidur di kamar tamu, kami tidak melakukan apapun!” seru Bom cepat begitu melihat mata Chaerin yang menyelidik. “Aku bahkan tidak tahu kalau dia menginap.”

Chaerin mengangguk-angguk. “Oppa bilang kalau ia sedang ingin ke rumahmu dan ketiduran disana. Unnie, aku jadi penasaran sebenarnya mengapa Oppa benar-benar ingin tinggal disana.”

“Wah, kau sudah mengintrogasinya? Benar-benar hebat, Chaerin-ah!” Bom mengacungkan jempolnya. “Molla[4], kurasa orang iseng seperti itu memang senang melakukan hal yang aneh-aneh. Seperti tinggal di tempat orang lain.”

“Oh, kau disini, Chaerin-ah?”

Bom dan Chaerin menoleh. Panjang umur sekali, ternyata Seunghyun ada di dekat mereka.

Chaerin mengangguk pendek.

Seunghyun celingukan melihat sekelilingnya. “Mana si galak Park Bom? Dia tidak ikut bersamamu?”

“YA! Siapa yang kau panggil galak?!” seru Bom. “YA, kau sungguh playboy yang suka banyak wanita,” Bom berdecak.

Seunghyun menaikkan alis. “Kau bersama teman? Aku baru melihatnya.” Seunghyun duduk di samping Chaerin. “Kau tidak mengenalkan teman cantikmu padaku, Chaerin-ah? Kenalkan, aku Choi Seunghyun,” Seunghyun mengulurkan tangannya.

Bom langsung tertawa, begitu juga Chaerin. Seunghyun memandangi keduanya heran.

Bom berdehem. “Kau bilang aku cantik?”

Seunghyun tersenyum. “Tentu saja. Kau memang cantik, Agassi. Siapa namamu?”

Bom mengambil ponselnya dan segera mengotak-atiknya. “Cepat ulangi yang kau katakan tadi, aku harus merekamnya!”

Seunghyun tertawa. “Apa tidak ada yang bilang kau cantik sebelumnya? AAhh, kurasa orang-orang di sekitarmu buta. Kau memang cantik, sungguh cantik. Ngomong-ngomong, kau belum bilang siapa namamu.”

“Kata-katamu tadi sudah kusimpan!” Bom kemudian menjabat tangan Seunghyun. “Aku Park Bom. Kurasa kita sudah saling kenal.”

Seunghyun tertawa. “AAhh, kau pandai bercanda! Mana mungkin kau adalah Park Bom yang kukenal?”

“Kau masih suka roti dengan selai cokelat ditambah mesis cokelat, kan? Kau setengah mati ingin tinggal di rumahku meski hanya bertandang beberapa saat. Kau tidak suka belanja sendiri kebutuhanmu di supermarket.”

Seunghyun menatap Chaerin. “Apa Bom menceritakan semua itu padamu dan kau menceritakan lagi padanya?”

Chaerin tertawa geli. “Oppa, dia ini memang Bom Unnie. Aku juga perlu waktu lebih dari satu jam untuk mempercayainya. Sebenarnya sampai sekarang juga aku masih sulit percaya dengan yang kulihat.”

“YA!”

Kini Seunghyun menatap Bom. Teriakannya tadi sangat mirip dengan yang biasa Bom lakukan. “YA, kau benar-benar—“

Bom menghadap Seunghyun dan tersenyum manis. “Benar, Appa. Ini aku, anakmu yang manis, Park Bom.”

Seunghyun menepuk keningnya. “Kau melakukannya lagi.”

***************

“Jadi mengapa lagi-lagi kau menyamar seperti ini?” Seunghyun memandangi Bom tak habis pikir. Mereka sudah tiba di rumah Bom. Bom menghempaskan dirinya ke sofa, sedangkan Chaerin berjalan ke dapur mengambil air minum.

“Pertama, aku bukan menyamar, tapi merias diri. Aku selalu bilang kalau aku ini Park Bom, kan?”

Seunghyun mendengus. “Sama saja. Orang tidak ada yang mengenalimu.”

“Nah, itu yang kedua! Aku merias diri seperti ini supaya tidak ada yang mengenaliku. Jadi kalaupun ada yang mengambil fotoku, orang tidak ada yang percaya kalau aku adalah Park Bom. Ini disebut jaga-jaga, tahu? Siapa tahu kejadian foto itu akan terulang lagi.”

“YA, kau pergi dengan Chaerin, bukan bertemu mantanmu itu. Mengapa khawatir ketahuan orang? Seharusnya kau lebih khawatir kalau bertemu mantanmu itu!” sahut Seunghyun sekenanya.

Bom terdiam mendengar ucapan Seunghyun yang mengungkit Lee Ki Joon. Ia sama sekali tidak menyahut dan membuat suasana hening di antara mereka. Seunghyun yang menyadari kesalahannya jadi bingung harus berkata apa.

Untung saja, Chaerin melihat mereka dan segera menyelamatkan suasana. Ia menaruh minuman di atas meja dan menuangkan segelas air putih untuk Bom. “Unnie, minumlah ini. Kata ibuku, kau harus banyak minum air putih supaya dehidrasi seperti waktu itu.”

Bom tersenyum dan menerima gelas dari Chaerin. Seunghyun menghela nafas.

“Chaerin-ah, kapan ibumu kesini lagi? Kita sudah lama tidak memakai masker alam yang dibawa ibumu itu!” suara Bom tampak semangat lagi. Seperti biasa, ia mudah untuk merubah ekspresi wajah dan suasana hatinya.

“Entahlah, Unnie. Kurasa waktu-waktu ini tidak bisa, eomma sibuk dengan butik barunya sekarang.”

Bom menjentikkan jarinya. “Bagaimana kalau kita membuat salon, bekerja sama dengan butik ibumu? Pasti akan laku keras!”

“YA, kau ini sebenarnya artis atau pebisnis? Apa saja dijadikan uang, aku datang kesini saja harus membayar pengeluaran rumahmu!” Seunghyun yang dari tadi diam mulai menyahuti perkataan Bom.

“Memangnya kenapa kalau artis sekaligus pebisnis? Bukankah bagus kalau kita bisa mengumpulkan uang lebih banyak?” Bom menerawang. “Ah, aku jadi benar-benar memikirkannya. Mungkin nanti salon dan butik itu akan sukses, Chaerin-ah!”

Chaerin hanya tertawa kecil melihat Bom mulai berkhayal.

“Ya, ya. Kau memang mempunyai bakat yang sangat besaaaaaar dalam merias, Bom-ah,” sahut Seunghyun sambil meerentangkan tangannya ketika mengucapkan kata ‘besar’.

Bom hanya terkekeh. Seunghyun nampaknya masih keki dengan riasan ‘Appa’ waktu itu.

Seunghyun merebahkan tubuh di sofa sebelahnya. “Lain kali, kau harus meriasku sebagai anak muda yang tampan.”

“Jadi kau menyadari kalau sekarang kau tidak tampan, kan?” ujar Bom sambil mengambil peralatan make-up dari tasnya.

“YA! Bukan begitu maksudku!” seru Seunghyun. “Setidaknya, kau jangan meriasku sebagai bapak-bapak lagi.”

Bom mengambil pembersih wajah dan mulai membersihkan wajahnya. “Memangnya kenapa? Kurasa kau cocok dengan riasan seperti itu. YA, Choi Seunghyun. Kau tahu, kau kalau sedang bawel itu seperti orang tua. Lagipula, bagus kan dipanggil Appa,” Bom masih memandangi cermin sambil membersihkan wajahnya dan berbicara panjang lebar. “Kurasa aku juga senang memanggilmu Appa.  Appa, Appa,” Bom tertawa.

Tidak ada sahutan. Bom mengernyitkan kening. Tumben pria itu tidak marah-marah ia berkata panjang lebar seperti tadi. Bom menurunkan cerminnya.

“Benar-benar, bagaimana bisa ia tertidur di sofa seperti itu?” Bom menggeleng-gelengkan kepalanya. 

“Kurasa dia mengantuk mendengar ocehanmu, Unnie,” sahut Chaerin.

“YA!” seru Bom. Chaerin tersenyum tipis dan memandangnya sambil lalu.

Bom bangkit dan menghampiri Seunghyun. “Bahkan dia belum membersihkan wajahnya. AAhh, apa dia tidak tahu kalau tidak baik membiarkan tidur dengan wajah kotor seperti itu?” Bom mengambil pembersih wajahnya dan mulai membersihkan wajah Seunghyun. “Meskipun tetap di mobil, tapi tetap saja wajah terkena debu. Kau seharusnya tahu itu, Choi Seunghyun. Apa kau menyebut dirimu selebriti dengan kelakuan seperti ini?”

Chaerin tersenyum melihat Bom yang membersihkan wajah Seunghyun sambil terus mengomel panjang pendek.

“Selesai!” ujar Bom. Ia memandangi wajah Seunghyun yang tertidur pulas. Ia kemudian menepuk keningnya sendiri. “Kan Seunghyun tidak boleh tidur disini. Tapi ia kelihatan sangat pulas, bagaimana ini, Chaerin-ah?” Bom menoleh ke belakang.

Ternyata Chaerin juga sudah tertidur di sofa. “Oh, Chaerin juga tidur?” gumam Bom sambil menghampiri Chaerin. “Nampaknya mereka sangat lelah. Ya sudahlah, aku tidak mungkin juga membangunkannya dan mengusir malam-malam begini.”

Bom lalu mengambil selimut yang berada di tumpukan kasur lipat yang tak jauh di dekat situ. Ia dan teman-temannya memang suka tertidur di ruang televisi. Ia membawa dua selimut dan menyelimuti Seunghyun, kemudian beranjak pada Chaerin lalu menyelimuti gadis itu juga.

Bom mengambil pembersih wajahnya dan menghampiri Chaerin lagi. “Dan gadis ini tidur tanpa membersihkan wajah. Dasar.”

***************
Seunghyun menggeliat karena dirasakan ada cahaya matahari yang mengenai wajahnya. Ia melihat sekelilingnya. Chaerin masih tertidur di sofa, dan Bom tidur di kasur lipat yang ia gelar di lantai. Seunghyun mengusap-usap wajahnya.

“Kupikir mereka akan mengusirku karena tidur disini.”

Seunghyun lalu beranjak dari sofa dan mendekati Bom yang masih tertidur pulas. Ia membenarkan letak selimut Bom yang tergeser kesana-kemari. Seunghyun menyentuh wajah Bom untuk menghalau rambut yang ada di wajah Bom. Ia terkekeh pelan.

“Wajahnya sangat polos kalau tidur begini. Tidak ada yang menyangka kalau ia gadis galak yang sering mengusirku dari rumah ini.”

Seunghyun lalu berjalan ke dapur. Dilihatnya Bibi Taeri sedang menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.

“Bibi, kau ingin masak apa?”

Bibi Taeri menoleh dan kaget melihat Seunghyun. “Aigoo, kau sudah bangun, Seunghyun-ah? Para gadis itu malah belum bangun ckck,” Bibi Taeri berdecak.

Seunghyun tersenyum. “Bibi, bantu aku memasak sesuatu yang enak. Aku harus menutup mulut mereka supaya tidak mengomel pagi ini.”

******************
“Waaah, kau benar-benar memasak semua ini? Pagi-pagi begini?” Bom berdecak kagum melihat meja makannya terisi penuh dengan makanan-makanan enak.

Seunghyun tersenyum lebar. “Bibi Taeri membantuku tadi.”

Bibi Taeri meletakkan teko berisi air putih di meja. “Tidak, aku hanya membantu sedikit. Seunghyun-lah yang memasaknya.”

Bom mencicipi makanan di hadapannya. “Hmm, lumayan juga.”

Seunghyun mengacungkan jempolnya pada Bibi Taeri, dan menggerakkan mulutnya membentuk ‘terima kasih’.

“Unnie, kau memasak?” Chaerin yang sudah terbangun berjalan ke arah dapur. Dapur dengan ruang tengah tempat mereka tidur semalam memang tidak jauh, makanya Chaerin mencium makanan dari sana.

Bom menggeleng. Ia lalu menunjuk Seunghyun. “Dia yang memasaknya, Chaerin-ah.”

“Benarkah, Oppa?”

Seunghyun hanya tersenyum.

Bom lalu menyadari sesuatu. “YA, Choi Seunghyun! Kau sedang menyuap kami dengan makanan ini, ya?”

Seunghyun menepuk keningnya. “Ya ampun, gadis ini. YA, mengapa kau cepat sekali menyadarinya?!”




[1] Lucunya
[2] Nona
[3] Maaf
[4] Entahlah

____________________________________________________________

silakan dikomen yaa readers hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari readers :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar