Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 6




Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan sarannya yaa :)
_______________________________________________________________


Rumah sakit Seoul.

“Dokter! Dokter!” seorang pria separuh baya tergopoh-gopoh memapah seorang wanita yang kurang lebih seusia dengannya. Wajahnya sangat pucat. Darah mengalir dari perutnya. Para perawat segera menghampiri mereka berdua dan membawa wanita itu ke ruang gawat darurat.
Pria itu mengikuti langkah mereka.

“Maaf Tuan, Anda tidak bisa ikut masuk ke dalam,” tahan seorang perawat. Pria itu mengangguk-angguk, wajahnya tampak panik.

“Silakan ikut saya mengurus proses administrasi,” ujar perawat itu kemudian. Pria itu mengikuti langkahnya sambil berulang kali menoleh ke ruang gawat darurat.

“Bagaimana bisa istri Anda terluka seperti itu, Tuan?” tanya perawat itu. Pria itu menggeleng cepat.

“Bukan, dia bukan istriku! Tadi aku bertemu dengannya tak jauh dari sini, jadi kubawa ke rumah sakit ini!”

Perawat itu mengerutkan keningnya. “Bukan istri Anda? Lalu, Anda bukan keluarganya juga?”

“Aigoo… sudah kubilang aku bertemu dengannya baru tadi. Aku sangat takut melihatnya berdarah seperti itu, dan tidak tega juga karena ia sendirian di tepi jalan sambil kesakitan. Aku bahkan tidak tahu namanya!” seru pria itu. Sepertinya efek panik tadi.

Perawat itu mengangguk-angguk. “Sepertinya akan sulit menemukan identitasnya. Tadi sepertinya wanita itu tidak membawa apapun, termasuk kartu identitas atau yang semacamnya. Bagaimana ini?”

Pria itu mengusap wajahnya. Ia tampak sudah lebih tenang. “Tadi ia sempat menyebut tentang anaknya. Ia bilang, anaknya ada di panti asuhan. Tapi ia tidak bilang panti asuhan mana.”

“Panti asuhan?” perawat itu mengerutkan keningnya lagi.

“Iya, panti asuhan! Aigoo… panti asuhan di Republik Korea ini kan banyak sekali!”

***

“AAhh, serius! Apa kita memang harus melakukani ini semua?!” Seunghyun misuh-misuh. Ia mendorong troli belanjaan dengan kesal.

Bom mengangkat bahu. “Apa boleh buat. Bibi Taeri sedang pulang ke kampung halamannya karena anaknya melahirkan, dan persediaan makanan habis. Memangnya kau pikir siapa lagi yang dapat membelinya kalau bukan kita?”

Seunghyun mendengus. “Kau kan bisa menyuruh orang untuk membeli semua ini, tidak harus beli sendiri! Bagaimana kalau orang-orang mengenali kita?!”

Bom mengamati kardus susu di hadapannya, lalu memilih sekotak susu favoritnya dan memasukkan ke troli. “YA Choi Seunghyun, untuk apa menyuruh orang membeli semua ini kalau kita juga bisa membelinya? Lagipula kau sedang tidak ada schedule, kan? Sekali-kali, kau harus pergi ke tempat seperti ini, ini menyenangkan, tahu!” Bom lalu memandang Seunghyun “Lagipula dengan penampilan seperti ini, tidak akan ada yang mengenali kita.”

“Memang, memang tidak akan dikenali! AAhh, pakaian apa ini?!” Seunghyun menggerutu sambil menarik-narik dasinya. Bom hanya tertawa dan melanjutkan memilih belanjaan.

Seunghyun masih menarik-narik dasinya yang terlalu ketat. Ia didandani Bom sebagai seorang pegawai kantoran yang kutu buku. Dan itu membuatnya tampak sepuluh tahun lebih tua dari usianya. Sedangkan Bom sendiri berdandan seperti mahasiswa dengan rambut dikepang dua.

BRUK.

Karena masih misuh-misuh, Seunghyun tidak memperhatikan sekitarnya. Ia tanpa sengaja menabrak seorang ibu-ibu yang sedang memilih sayuran. Seunghyun langsung membungkukkan badannya berkali-kali.

“Maaf, maafkan saya, Ajumma[1]. Saya tidak sengaja.”

Bom langsung menghampiri mereka. Ia juga kemudian membungkukkan badannya meminta maaf.

“Aigoo… tidak apa-apa! Hanya tertabrak sedikit,” ujar ibu-ibu itu sambil tersenyum.

“Benar tidak apa-apa, Ajumma?” tanya Seunghyun memastikan. “Benar tidak ada yang luka?”

“Tentu saja tidak apa-apa. Aigoo, tidak mungkin aku terluka karena tertabrak sedikit begitu. Aku juga tidak memperhatikan jalanku tadi,” sahut ibu itu lagi.

“Sekali lagi maaf, Ajumma,” ucap Bom. Ibu itu menepuk bahu Bom. “Iya, tidak apa-apa.” Lalu pandangannya beralih kepada Seunghyun. “Aku mengerti pasti kau sedang banyak pikiran. Sekarang ini hidup memang semakin susah. Pasti juga berat bagimu Ajussi, harus bekerja dan membesarkan anak di jaman sekarang. Ckckck, jaman sekarang memang semakin sulit.”

“Eh?” Seunghyun dan Bom berpandangan. Kemudian Seunghyun bergumam pada dirinya sendiri. “Ajussi?”

“Bagaimana sekolahmu? Kau sekolah dengan baik, kan?” ibu itu bertanya pada Bom, masih memegang bahunya.

“Oh… sekolah?” Bom memandang Seunghyun. “Ten—tentu saja, Ajumma. Aku sekolah dengan sangat baik.”

Ibu itu mengangguk-angguk. “Bagus kalau begitu. Belajarlah yang rajin, kau harus menghargai kerja keras ayahmu.”

“A—ayah?” gumam Seunghyun dan Bom bersamaan lalu berpandangan lagi. Tiba-tiba Bom sangat ingin tertawa. Ia membungkukkan badannya lagi untuk menyembunyikan tawanya.

“Tentu saja, Ajumma. Aku akan berusaha keras menjadi anak pintar.”

“Aigoo… sungguh anak yang baik,” ibu itu tersenyum lebar dan memandang Seunghyun. “Memang ini semua berat untukmu, Ajussi. Tapi setidaknya kau masih mempunyai anak yang baik. Aigoo, kau sungguh ayah yang baik, Ajussi.  Kau bekerja keras mencari uang dan membesarkan putrimu, ditambah lagi sekarang kau menemaninya belanja. Sungguh ayah yang baik.”

Bom tersenyum lebar dan menggandeng Seunghyun. “Tentu saja, Ajumma. Ayahku ini ayah paling hebat di dunia. Aku juga putrimu paling hebat kan, Appa[2]?”

Seunghyun menoleh kaget, dan langsung memelototi gadis itu.

“Iya kan, Appa?” Bom semakin senang menggoda Seunghyun. Seunghyun tampak sangat kesal, ia hanya menganggukkan kepala sedikit.

Bom menahan tawanya. Pria itu pasti akan mengamuk padanya nanti. Ia memberi salam pada ibu itu. “Kalau begitu kami pergi dulu, Ajumma. Selamat tinggal.”

Seunghyun juga memberi salam, tapi tidak berkata apa-apa.

“Hati-hati. Jaga ayahmu baik-baik, ya.”

“Tentu saja, Ajumma,” Bom menoleh pada Seunghyun. “Appa, ayo kita beli daging! Aku akan memasak daging panggang yang lezat untukmu!”


“Apa-apaan Ajumma tadi?! Apa dia tidak melihat aku begini tampan dan muda untuk seorang ayah?! Apa katanya tadi, Ayah?! AAhh, aku yakin tadi itu hanya alasannya supaya dapat mengobrol banyak denganku! Ya, ya! Pasti begitu, tidak mungkin tidak!” Seunghyun misuh-misuh sambil berulang kali memandangi cermin. “YA, Park Bom! Aku masih terlihat sangat muda, kan? Memang Ajumma tadi perlu memakai kacamata! Tidak, dia perlu operasi mata. Aku yakin ada yang salah dengan matanya! Apa katanya tadi?! Ajussi?!”

Bom tertawa-tawa. Sepanjang perjalanan dari supermarket ke rumah ia terus tertawa, sedangkan Seunghyun terus mengomel mengatakan hal yang sama seperti barusan. Bom mengusap airmatanya yang keluar saking banyaknya tertawa. “Setidaknya, Ajumma itu tidak mengenalimu sebagai T.O.P dari Big Bang, kan?”

“Kurasa Ajumma itu tidak punya televisi di rumahnya!” seru Seunghyun kesal. Bom masih tertawa.

“Jangan tertawa lagi! Cepat masakkan daging panggang yang kau janjikan!”

“Ne[3], Appa,” sahut Bom di sisa-sisa tawanya.

“AAhh, benar-benar!!” Yong Jae menghempaskan tubuhnya ke sofa.

Bom membuka belanjaan mereka dan mengambil daging yang hendak dipanggangnya. “Untung saja tadi kita sempat berfoto dulu. Ini akan menjadi pengalaman yang bagus kan, Seunghyun-ah?” Bom menutup mulutnya, berlagak salah bicara. “Oh maaf, maksudku Seunghyun-ssi.”

Seunghyun mendengus. “Pengalaman yang bagus?  Tentu saja! Besok kau akan langsung bercerita pada semua orang di perusahaan, kan?! Lalu selama sebulan kalian akan tertawa karena ini, terutama kau!”

“Sebenarnya aku sudah mengirimkan foto tadi pada mereka,” sahut Bom lalu terbahak-bahak.

“AAhh, aku tahu ini akan terjadi!” Seunghyun mengusap kepalanya kesal.

“Aku tidak menyangka aku begitu berbakat dalam merias. Seunghyun-ah, apa sebaiknya aku mengambil kursus merias, ya?” ujar Bom tanpa mempedulikan Seunghyun yang masih misuh-misuh.

“Tidak, tidak perlu! Kau sudah sangaaaaat baik dalam merias. Kau membuatku tampak sepuluh tahun lebih tua dan kau tampak sepuluh tahun lebih muda. Kau dapat membuat orang tampan menjadi itik buruk rupa dan katak menjadi pangeran, tahu?!” sahut Seunghyun masih kesal.

Bom tertawa lagi.

“Berhenti tertawa! Kau kira kau akan dapat cepat menyelesaikan masakanmu kalau terus tertawa?!”

Bom langsung menghentikan tawanya. Lalu membungkukkan badannya dengan sopan. “Ne, Appa.”

“YA!!”

***

“Wah, Appa kami sudah datang!” seru Seungri begitu Seunghyun memasuki studio. Seunghyun langsung memukul kepalanya. Bom yang sedang mengobrol dengan Daesung, Minji, dan Dara buru-buru menjauh dan mengambil posisi pemanasan.

“YA, Park Bom! Kau sudah bergosip apa saja sepagi ini?” Seunghyun memeloti Bom.

“Bergosip apa? Kau tidak lihat aku sedang pemanasan begini?” elak Bom.

“Noona sedang menceritakan kejadian kemarin itu, Hyung!” sahut Daesung. Bom langsung memelototinya. “YA! Kau penghianat, Kang Daesung!”

Daesung tertawa, matanya semakin menyipit kalau tertawa. Seunghyun melipat kedua tangannya.

“Sekalian saja kau posting tentang kemarin di website kita, Bom-ah.”

Mata Bom langsung berbinar. “Benarkah? Aku boleh melakukannya, Sunbae-nim[4]?” tanyanya dengan memasang senyum manis.

“YA!” Seunghyun mendelik kesal. Bom tertawa.

Ponsel Bom berbunyi. Masih dengan sisa-sisa tawanya, Bom mengangkat ponselnya.

“Yeoboseyo[5]? Ya ini dengan Park Bom. Ini dengan siapa?”

Seunghyun mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Mereka sedang berkumpul bersama dalam satu studio latihan karena akan ada konser YG Family. Masih ada beberapa orang lagi yang belum datang. Seunghyun memandang pada Bom lagi, dan wajah gadis itu sangat kontras dengan sebelumnya. Wajahnya pucat.

“Kau bilang siapa?” tanya Bom pelan. Setelah mendengar dengan jelas, gadis itu berjalan ke luar ruangan. Seunghyun mengerutkan kening.

“Oh, Ki Joon-ah. Apa kabar?” tanya Bom setelah suasana lebih sepi dibanding tadi di dalam studio.

“Baik. Kau bagaimana? Apa kau makan dengan baik?” Lee Ki Joon bertanya balik.

Bom mengangguk. Menyadari Lee Ki Joon tidak mungkin melihatnya mengangguk, Bom menyahut, “Aku baik.”

Bom lalu terdiam beberapa saat. “Ada apa?” tanyanya kemudian.

“Soal foto itu…,” suara Lee Ki Joon terdengar menggantung. Entah mengapa dada Bom terasa berdegup kencang.

“Itu… aku, kan?” Lee Ki Joong meneruskan bicaranya.

“Iya,” sahut Bom pelan. Lalu keduanya terdiam untuk beberapa saat.

“Tapi, sudah tidak ada masalah sekarang. Aku, eh bukan, kami sudah menyelesaikannya. Mmm mungkin bukan penyelesaian yang terbaik, tapi itu satu-satunya jalan. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku juga tidak tahu mengapa foto itu bisa ada di internet. Maafkan aku soal itu,” Bom kemudian berbicara panjang lebar untuk memecahkan keheningan di antara mereka.

Terdengar di seberang sana suara tawa kecil. “Kau masih cerewet, Bommie.”

Bom terdiam. Jangan tertawa seperti itu, aku jadi lemah lagi.

“Lagipula, ini bukan kesalahanmu jadi kau tidak perlu minta maaf. Sudah kukatakan berkali-kali jangan meminta maaf atas sesuatu yang bukan salahmu. Kau harus ingat itu baik-baik, Bommie,” ujar Lee Ki Joon lagi.

Bom tertawa kecil. “Iya, aku lupa.”

“Sebenarnya aku hanya ingin menanyakan bagaimana keadaanmu setelah insiden foto itu. Tapi kurasa kau melaluinya dengan baik,” ucap Lee Ki Joon. “Semoga kau selalu bahagia, Bom-ah.”

Bom terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Selalu itu yang diucapkan Lee Ki Joon setiap kali mereka berbicara, yang pembicaraan itu sangat jarang.

“Ya. Kau juga,” sahut Bom pendek. Lalu telepon ditutup.

“Bom-ah! Kau sudah selesai menelpon? Aku mencarimu kemana-mana” Dara menghampirinya.

“Omo, kau kenapa?” Dara kaget melihat Bom yang berkaca-kaca.

Bom hanya terdiam. Ia menatap ke atas, mencegah supaya airmatanya tidak tumpah.

Dara menatapnya dalam-dalam. “YA, jangan bilang kalau tadi orang itu?”

Bom masih diam. Kini ia menekan-nekan kelopak bawah matanya.

“Ah, memang benar dia,” Dara berdecak.

“Dia siapa? Orang yang di foto itu?” tiba-tiba Seunghyun ada di belakang mereka. Bom dan Dara
menoleh kaget. “Mwoya?!”

“Hyung, Noona! Apa yang kalian lakukan disitu? Kita akan segera memulai!” seru Daesung yang melongokkan kepalanya dari dalam studio.

-TBC-


[1] Bibi
[2] Ayah
[3] Baik
[4] Senior
[5] Halo

____________________________________________________________

silakan dikomen yaa chingu hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari chingu-deul :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar