Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 5


Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan sarannya yaa :)
_______________________________________________________________


“Jadi, itu adalah Seunghyun? Dan kalian disana berlima?” tanya Direktur Lee sambil melipat kedua tangannya dan menyandar di kursi direktur kebesarannya.

“Ya, Presiden,” sahut Bom pendek. Gadis itu agak takut dengan posisi Direktur Lee seperti itu dan situasi yang dihadapinya sekarang.

Jika dalam keadaan normal, Direktur Lee merupakan orang yang benar-benar menyenangkan. Ia ramah dan enak diajak ngobrol. Namun sekarang Direktur Lee sedang marah dengan mereka karena kemarin sulit dihubungi pada saat ada skandal itu dan orang-orang kelabakan mencari mereka.

(ceritanya agak beda sama YG asli yaa. disini Direktur Lee bukan Presiden Yang Hyun Suk-nya YG hehehe)

Direktur Lee mengangguk-angguk. “Kapan kalian pergi bersama?”

“Sekitar enam bulan yang lalu, Direktur. 2NE1 sedang mengadakan pesta dan kebetulan aku berada di sekitar situ. Jadi Chaerin mengajakku bergabung dan kami berpesta bersama,” urai Seunghyun dengan lancar.

Bom meliriknya sedikit, lalu bergumam dalam hati. Pandai sekali ia dalam hal seperti ini! Tapi dengan melihat Seunghyun yang percaya diri begitu, ia merasa lebih tenang.

“Lalu bagaimana foto itu bisa tersebar ke pihak luar?” tanya Direktur Lee.

“Itu… terjadi begitu saja, Direktur. Aku juga tidak tahu mengapa foto itu bisa muncul di internet dan menjadi heboh. Maafkan aku, Direktur. Aku salah,” Bom menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Seunghyun ikut membungkukkan badannya. “Aku juga salah, Direktur. Maafkan aku.”

Direktur Lee mengangguk-angguk. “Baiklah. Aku maafkan kalian. Meskipun seharusnya kalian cepat mengabariku jika ada masalah. Oh ya, mengapa semalam aku tidak bisa menghubungi kalian?”

Bom dan Seunghyun saling berpandangan.

“Kami latihan sampai malam di rumahku, Direktur. Supaya lebih konsentrasi, Chaerin menyuruh kami mematikan ponsel. Akhir-akhir ini aku semakin sulit menghafal gerakan, jadi harus ekstra konsentrasi,” jawab Bom.

“Ponselku tertinggal di rumah kemarin, Direktur,” Seunghyun juga membuat alibi. Direktur Lee mengangguk-angguk lagi, percaya karena Seunghyun memang sering tidak membawa ponselnya.

“Apa kalian berdua berkencan?”

“Tidak! Tentu saja tidak, Direktur!” Bom langsung menggeleng keras, sementara Seunghyun tersenyum lebar. “Apa kami terlihat seperti itu, Direktur?”

Bom langsung mendelik. “YA!”

“Buatku tidak masalah kalau kalian berkencan. Hanya kalian harus ingat, Bom masih dalam masa larangan berkencan. Kalau mau berkencan, lakukan di belakangku dan jangan sampai aku menyadarinya,” sahut Direktur Lee enteng.

“Benarkah, Direktur? YA, Direktur sudah memberikan izinnya,” Seunghyun menyenggol Bom.

“Kalaupun aku harus berkencan diam-diam, orang itu tidak mungkin kau!” sahut Bom kesal. Lalu ia memandang Direktur Lee. “Tenang saja Direktur, aku tidak akan pernah mempunyai hubungan seperti itu dengan orang ini.”

Direktur Lee tersenyum simpul melihat kedua orang di depannya.

***

Bom meletakkan secarik kertas kosong dan pena di atas meja ruang televisi dengan ekspresi serius. Seunghyun mengerutkan kening melihatnya. “Kau ingin meminta tanda tanganku?”

“Mwoya?!”

Seunghyun terkekeh melihat mata Bom mendelik. “Lalu ada apa dengan ekspresi serius itu? Ekspresi itu seperti ekspresi fans-ku yang sangat ingin mendapatkan tanda tanganku,” ledek Seunghyun lagi.

“Kami memang membutuhkan tanda tanganmu, Oppa. Kita akan membuat surat perjanjian dan peraturan yang harus kau tepati di rumah ini,” sahut Chaerin yang berjalan dari dapur. Ia meletakkan tiga gelas jus jeruk di atas meja.

“Perjanjian? YA, aku telah membantu kalian. Bahkan Bom-ah, aku telah menyelamatkan hidupmu! Sekarang kau mengajukan syarat pada penyelamatmu ini?” tanya Seunghyun tak percaya.

“YA, kalau ada orang lain aku juga tidak ingin meminta bantuanmu!” sahut Bom galak.

Seunghyun mengambil ponselnya. “Baiklah. Kurasa ada beberapa hal yang harus kusampaikan pada Presiden Yang.”

“YA!” teriak Bom.

“Oppa!” Chaerin ikut berseru.

Seunghyun mengangkat kedua tangannya. “Baik, baik. YA, kalian tampak manis di layar kaca, namun sangat menyeramkan jika bertemu langsung.”

“Itu sama halnya denganmu, Seunghyun-ah,” sahut Bom acuh. Seunghyun langsung melotot, namun tidak dihiraukan oleh Bom. Ia mulai menulis surat perjanjian.

“Pertama, kau juga harus membayar pengeluaran rumah ini. Total pengeluaran akan kita bagi dua.”

“YA, apa kau ini benar-benar selebriti?! Uangmu kan banyak, mengapa masih memintaku ikut membayar?” protes Seunghyun.

“Seunghyun Sunbae-nim[1], uang Anda lebih banyak dari uang saya. Lalu mengapa harus keberatan?” sahut Bom enteng. Mata Seunghyun melebar, kesal.

“Lalu bagaimana dengan teman-temanmu? Yang tinggal disini kan bukan hanya kita berdua?!”

“Mereka kan kuterima dengan sukarela, berbeda denganmu yang kuterima terpaksa,” ujar Bom sambil tersenyum lebar.

Seunghyun geleng-geleng kepala. “YA, apakah kau selalu sejujur ini? Kau bahkan tak bisa mengucapkan kata-kata untuk menyenangkan hati orang lain.”

Bom mencibir. Ia menulis angka dua, lalu menoleh pada Chaerin. “Chaerin-ah, apa ada syarat yang kau inginkan?”

Chaerin tampak berpikir sejenak. “Mmm… kedua, Oppa hanya boleh datang kesini dari pagi sampai sore, paling lama malam. Oppa tidak boleh sekalipun menginap disini.”

Bom mengangguk cepat. “Benar sekali! Ah, mengapa tidak terpikirkan tadi, padahal ini kan yang paling penting. Chaerin-ya, bagaimana kalau kita tentukan jam malam-nya?”

Seunghyun menatap Bom dan Chaerin bergantian. “YAAA, kalian benar-benar hebat! Memangnya kau pikir aku akan melakukan hal yang tidak-tidak kalau menginap?!”

“Tentu saja kami berpikir begitu! Ini disebut berjaga-jaga, tahu!” sahut Bom. Ia lalu menuliskan jam malam-nya, jam sepuluh malam.

“YA!”

Bom mengacuhkan lagi teriakan Seunghyun. “Ketiga, kau dilarang memberitahukan password rumah ini pada siapapun. Dan jangan sampai orang diluar memberku, membermu, dan manajermu mengetahui soal kau tinggal disini.”

Seunghyun mendengus kesal. “Kau menyebut ini ‘tinggal’? Ini lebih tepat disebut berkunjung! Bahkan tidur disini pun aku tidak boleh.”

“Siapa yang bilang tidak boleh? Oppa bisa tidur disini kapanpun itu selama bukan malam,” sahut Chaerin.

“Lupakan! Lupakan!” seru Seunghyun kesal sambil mengibaskan tangan kanannya. Bom dan Chaerin tertawa melihatnya.

Bom lalu menyodorkan kertas dan pena pada Seunghyun. “Tanda tangan disini.”

“Mwoya?! Kalian benar-benar hanya menulis syarat dari kalian? Sama sekali tidak menanyakan dariku?” tanya Seunghyun tidak percaya.

Bom dan Chaerin mengangguk mantap. “Syaratmu adalah tinggal disini, dan ini adalah syarat dariku. Kita impas,” sahut Bom.

Seunghyun mendengus kesal lagi. Ia merebut pena dari tangan Bom dengan kasar dan cepat menandatanganinya.

Bom dan Chaerin tersenyum lebar.

***

Bom memijat-mijat tengkuknya. Badannya masih terasa pegal-pegal setelah konser dua hari yang lalu. Kemarin ia sudah tertidur lama di asrama, sekarang ia pulang sebentar untuk melihat keadaan rumah. Ia menaiki tangga perlahan, kamarnya tepat setelah tangga.

“YA!! Untuk apa kau masuk ke kamarku?!” seru Bom kaget melihat Seunghyun memasuki kamarnya.

“Mengapa? Aku kan sudah bayar keperluan rumah ini juga kemarin, berarti ini rumahku juga, kan?” sahut Seunghyun enteng. Ia menatap sekelilingnya.

Bom menatap pria itu tak percaya. “Mwoya?! Mengapa kau mengartikannya seperti itu? Kau membayar bukan berarti rumah ini juga milikmu!”

“AAhh, gadis ini! Aku ingin melihat isi kamarmu, bukanya mengambil barang milikmu,” Seunghyun mengamati foto-foto yang terpasang di dinding kamar Bom.

“Tetap saja setidaknya kau harus izin dulu kalau masuk kamar orang lain,” gerutu Bom.

“Baik, baik. Yang Mulia Park Bom, aku meminta izin untuk melihat kamarmu,” sahut Seunghyun, tanpa mengalihkan pandangannya dari foto-foto yang terpasang.

“Mwoya? Kau menyebut itu izin?”

Seunghyun tersenyum, tidak menanggapi lagi ucapan Bom. Pria itu menunjuk pada foto yang banyak dipajang di meja rias Bom. “Ini kau ketika kecil?” tanyanya.

Bom mengangguk. “Aku sudah cantik dari kecil, kan?” sahutnya sambil tersenyum lebar.

Seunghyun menunjuk dahi Bom dan mendorongnya sedikit. “Kau sudah sangat percaya diri sejak kecil, Park Bom.”

Bom mengusap dahinya. “YA! Aku ini lebih tua darimu, sopanlah sedikit!”

“Lalu, ini nenekmu?” Seunghyun tidak mempedulikan ucapan Bom, dan menunjuk seorang perempuan agak tua yang banyak berfoto dengan Bom kecil.

Bom mendekat. Ia mengangguk pelan. “Ya, itu nenekku. Ia masih cantik sampai sekarang.”

“Kau merindukannya,” gumam Seunghyun.

“Apa?” Bom tidak mendengar ucapan Seunghyun.

Seunghyun mengabaikannya lagi. Bom menggerutu melihatnya. “Kau selalu mengabaikan ucapanku.”

Seunghyun tersenyum geli mendengarnya. Ia mengalihkan pembicaraan. “Bom-ah, mengapa kau lebih banyak memajang foto kecilmu? Biasanya selebriti memajang foto setelah mereka debut.”

“Begitu, ya? Entahlah, aku hanya lebih senang melihat foto-foto kecilku. Karena masa lalu tidak dapat terulang kembali, yang dapat kulakukan hanya menyimpannya baik-baik dalam ingatanku. Aku terus melihat foto-foto ini supaya aku terus mengingatnya.”

Seunghyun mengangguk-angguk. Ia lalu melihat sekeliling kamar Bom. “Aku tidak melihat foto orangtuamu.”

Ekspresi Bom langsung berubah. “Aku tidak punya. Lupakan saja.”

Seunghyun terdiam melihatnya. Ia mengangguk-angguk, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dan menemukan ada sebuah poster selebriti Korea di situ.

“Mwoya?! Kau mengidolakan Lee Dong Wook?!” seru Seunghyun kaget.

“Mengapa? Kalau ada orang yang melihat ekspresimu, mereka akan mengira sungai Han meluap,” sahut Bom.

Seunghyun masih menatap poster Lee Dong Wook ukuran besar yang terpasang manis di kamar Bom. “Tidak, bukan itu. Hanya saja, kau benar-benar mengidolakannya sampai memasang posternya di kamarmu?”

Bom mengangguk cepat. “Iya, aku sangat mengidolakannya. Aku fans-nya nomer satu, kau tidak tahu? Lagipula memangnya tidak ada artis yang kau idolakan?”

“Bukan begitu. Meskipun ada, aku tidak sampai memasang poster mereka di kamarku. Kau benar-benar mengidolakannya?” tanya Seunghyun lagi, masih tidak percaya.

“Tentu saja! Dia aktor yang paling hebat menurutku! Aku selalu menonton film dan dramanya, bahkan variety show-nya juga!” sahut Bom dengan semangat.

Seunghyun geleng-geleng kepala, lalu terduduk di tempat tidur Bom. “Benar-benar, aku tidak habis pikir. Kau benar-benar mengidolakannya?”

“Iya iya iya! Harus berapa kali aku bilang?! Dan mengapa kau jadi duduk di tempat tidurku?”

“Oh?” Seunghyun berlagak linglung. “Aku tidak sadar terduduk disini. YA, mengapa kamarmu lebih besar dari kamarku?”

Bom berdecak. “Hebat sekali, hebat sekali aktingmu! Dan tentu saja kamarku lebih besar, ini rumahku! Kau kan hanya penyewa! Dan cepat bangun dan keluar kamarku!”

“Ah, kau galak sekali sebagai pemilik rumah. YA, seharusnya kau berbaik-baik padaku, supaya aku betah di rumah ini,” sahut Seunghyun.

“Oh, begitu? Tapi keadaan disini, aku yang tidak ingin kau betah di rumah ini. Jadi sebaiknya kau yang berbaik-baik padaku. Cepat keluar! Aku sudah lelah dan ingin tidur!”

Seunghyun menaikkan alisnya dan tersenyum lebar. “Bagaimana kalau aku temani?”

“YA!!!”

-TBC-

[1] senior

____________________________________________________________

silakan dikomen yaa chingu hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari chingu-deul :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar