Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 4


PROLOG

Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan sarannya yaa :)
_______________________________________________________________



Mereka berempat duduk di ruang televisi rumah Bom. Minji duduk di kasur lipat yang ia gelar bersama Dara, dan Dara duduk di sampingnya. Bom duduk di sofa, bersebelahan dengan Chaerin.

“Semua ponsel sudah mati, kan?” tanya Chaerin. Minji dan Dara mengangguk. Bom hanya terdiam. Dara mengambil ponsel Bom di atas meja, memeriksanya. “Sudah mati.”

Bom menghela nafas. “Bagaimana bisa ada disana?”

Chaerin, Minji, dan Dara berpandangan. Bingung harus berkata apa.

Chaerin kemudian berdehem. “Unnie, katakanlah apa yang kau ingin katakan. Kami akan mendengarkan semuanya.”

Bom mengambil gelas di meja dan meneguknya. “Itu memang aku.”

Mereka bertiga mengangguk.

“Tapi aku tidak tahu bagaimana foto-foto itu bisa ada di internet.”

Mereka mengangguk lagi.

Bom menutup wajahnya. Bingung. “Apa yang harus kulakukan?”

Chaerin mengusap bahu Bom pelan. “Hal-hal seperti ini bisa saja terjadi pada siapapun, Unnie. Tidak apa-apa. Kami di pihakmu.”

Bom menurunkan tangannya, lalu menatap mereka bertiga. “Bagaimana menyelesaikan semua ini?”

“Sebenarnya, sederhana, Bom-ah. Kau hanya perlu mengatakan siapa orang di foto itu dan apa hubungan kalian. Sekarang kembali padamu, apa kau mau mengatakannya?” tanya Dara.

“Bukan soal mau atau tidak. Aku tidak bisa mengatakannya, bukan tidak mau,” ujar Bom pelan. Mata Dara membesar. “YA, jangan bilang kalau orang itu…”

Bom mengangguk lemah.

Chaerin dan Minji berpandangan bingung. Tidak mengerti siapa yang dimaksud. Minji menyenggol Dara, minta konfirmasi siapa orangnya.

“Lee Ki Joon,” ucap Dara.

“Apa?!” seru Chaerin dan Minji kaget.

“Eksekutif muda itu? Mantan pacar Bom Unnie?!”

“Pewaris Dong Joon Grup?!”

“Yang menikah setahun yang lalu?!”

Dara mengangguk, sementara Bom menghela nafas. “Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin bilang kalau itu Lee Ki Joon. Wartawan pasti akan menelisik lagi mengenai aku dan dia, lalu bagaimana kalau ketahuan kami mantan kekasih? Bagaimana dengan karirnya? Bagaimana dengan perusahaannya? Apalagi dia sudah punya keluarga, bagaimana dengan istrinya? Aku tidak mungkin mengatakannya. Tidak mungkin.”

Mereka bertiga berpandangan. Bom dan Lee Ki Joon memang pernah menjalin hubungan selama lima tahun di Amerika. Lee Ki Joon yang lebih dahulu pulang ke Korea memutuskan hubungan dan setahun yang lalu menikah dengan wanita yang dipilihkan oleh keluarganya. Sampai sekarang, Bom dan Lee Ki Joon masih berteman baik, meski tidak ada yang tahu kalau mereka mantan kekasih kecuali member 2NE1.

“Di saat seperti ini, kau bahkan masih lebih banyak memikirkan bagaimana dampaknya untuk orang itu, bukan untukmu. Bukan hanya dia yang orang terkenal, kau juga sekarang terkenal, Bom-ya!” sindir Dara. Bom selalu bilang kalau ia sudah melupakan pria itu, tapi pada kenyataannya sejak putus dari Lee Ki Joon, Bom belum pernah menjalin hubungan lagi dengan pria lain.

“Bukan begitu, Dara-ah. Aku juga memikirkan diriku, memikirkan kalian. Tapi aku tidak bisa begitu saja mengatakan kalau itu Lee Ki Joon,” sahut Bom.

“Benar juga. Masalahnya akan semakin rumit dan panjang. Kalau foto saja bisa terungkap di internet entah bagaimana caranya, mungkin hubungan kalian dulu juga bisa terungkap,” Chaerin mengangguk-angguk membenarkan. “Kalau begitu, kita harus cari cara lain. Karena kau juga tidak mungkin menghindar terus, Unnie. Orang-orang akan terus mencari tahu dan akan lebih buruk kalau mereka menemukan sendiri kalau itu adalah Lee Ki Joon.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?” Bom mulai merasa frustasi.

“Mmm… bagaimana kalau sedikit melakukan trik?” ujar Minji.

“Trik? Trik apa? Kau mau melakukan rekayasa?” berondong Chaerin.

“Bukan rekayasa seperti itu, Unnie,” elak Minji. “Hanya sedikit trik. Seperti, menyebarkan foto lain yang dapat membuat heboh. Misalnya, foto Dara Unnie dengan Jiyong Oppa.”

“Mwoya?!” ketiga Unnie itu langsung berteriak kaget.

“Misalnya, kubilang misalnya! Tentu saja kita tidak akan melakukannya!” Minji buru-buru membela diri.

Dara memukul kepala Minji pelan. “Anak ini! Itu akan menambah masalah baru, bukan menyelesaikan!”

“Aku hanya menyampaikan ideku, dan itu hanya misalnya, Unnie! Kita bisa menggantinya dengan foto lain.”

Tiba-tiba Chaerin menjentikkan jarinya. “Benar! Benar sekali, Minji!”

Bom mengerutkan keningnya. “Mwoya?! Kau setuju dengan ide gilanya soal Dara dan Jiyong? Apa yang akan kau katakan pada Presiden nanti?!”

Chaerin menggelengkan kepalanya cepat. “Bukan, bukan yang itu, Unnie. Tapi soal foto lain! Bagaimana kalau kita mencari orang untuk melengkapi foto itu?”

Bom, Minji, dan Dara menatap Chaerin bingung.

“Maksudku, kita tidak mungkin bilang kalau itu Lee Ki Joon. Tapi kita tetap harus mengatakan pada publik siapa orang itu. Jadi yang harus kita lakukan adalah mencari orang untuk kita katakan pada publik, tapi bukan Lee Ki Joon. Aduh, bagaimana aku harus mengatakannya?” Chaerin jadi bingung sendiri melihat ketiga member-nya masih menatap bingung padanya.

“Sebentar, sepertinya aku sudah mulai menangkap maksudmu, Unnie,” ujar Minji. “Maksudmu, kita mencari orang untuk berpura-pura menjadi Lee Ki Joon? Lalu memasangnya di foto itu?”

“Mencari orangnya, benar. Tapi bukan memasangnya. Kita akan menyebarkan lagi foto dengan wajah yang lebih jelas,” ralat Chaerin.

“Tapi bukan Lee Ki Joon? Jadi kita harus mencari orang yang mirip dengannya?” tanya Bom.

“Tidak harus mirip, karena di foto itu kan tidak begitu jelas bagaimana wajahnya. Kita mencari orang yang mendekati saja, lalu mempertegas kalau itu adalah orangnya,” jawab Chaerin.

“Aku setuju!” ujar Minji. “Ini pasti akan mengasyikkan!”

“Ckckck, yang kau pikirkan hanya menyenangkan-nya saja,” Dara geleng-geleng kepala. “Tapi ini memang ide bagus. Dan satu-satunya jalan untuk saat ini, kurasa.”

Kini mereka bertiga memandang Bom, meminta keputusan.

Bom mengangkat kedua tangannya. “Baik, baik. Kurasa memang tidak ada jalan lain. Sekarang masalahnya, siapa yang akan kita minta untuk jadi orang di foto itu?”

“Itulah, Unnie. Kita harus mencari orang yang cukup dekat dengan kita supaya mau dimintai tolong. Bagaimanapun juga hal ini harus sangat dijaga kerahasiannya,” sahut Chaerin. “Unnie, apa kau punya teman pria dekat? Atau sahabat?”

“Kalau aku punya, kalian pasti mengenalnya,” ujar Bom. Yang lain mengangguk-angguk. “Benar juga.”

“Bagaimana kalau orang dari perusahaan kita? Kita cukup dekat dengan mereka,” Minji memberi saran.

“Siapa?”

Tiba-tiba bel berbunyi. Semua mata memandang pada Minji, menyuruhnya untuk membukakan pintu. Bibi Taeri sudah tidur.

Minji kemudian bangkit sambil menggerutu. “Baik, baik. Karena aku memang maknae[1] yang baik.”

Ketiga unnie itu tidak mempedulikan gerutuan Minji. Minji memang selalu disuruh karena yang paling muda, dan selalu menuruti meski menggerutu.

“Kurasa ide Minji tidak buruk. Setidaknya dengan orang yang satu perusahaan dengan kita akan ada rasa bertanggungjawab untuk menyelesaikan masalah ini,” sahut Dara.

“Tetap saja kita harus mencari orang yang posturnya mirip dengan Lee Ki Joon, Dara-ya. Kurasa di perusahaan kita tidak ada orang yang mirip dengannya.”

“Unnie, Seunghyun Oppa yang datang! Apa harus kubukakan pintunya?” teriak Minji melihat siapa yang datang melalui monitor penerima tamu.

Dara dan Chae Rin langsung berpandangan dengan mata berbinar. Bom menatap mereka curiga.

“YA, kalian tidak memikirkan sesuatu yang aneh, kan?”

***

“Jadi, kalian ingin aku menjadi orang dalam foto rekayasa untuk menghilangkan rumor yang sedang ramai di internet?” Seunghyun menatap keempat gadis di hadapannya. Bom langsung protes.

“Bukan rekayasa! Ini hanya pengalihan, Seunghyun-ah!”

Seunghyun mengangguk-angguk. “Baiklah, sebut saja seperti apa yang kau suka. Lalu bagaimana dengan Presiden Yang? Apa aku juga harus bertanggungjawab untuk menjelaskan kepadanya?”

“Kami yang akan menjelaskan padanya, Oppa. Kau hanya tinggal mengiyakan saja apa yang kami katakan pada Presiden,” ujar Chaerin. “Rencananya, kami akan bilang kalau kami berempat memang sedang bersama Oppa. Jadi nanti ada foto yang kita berlima, dengan posisi Oppa dan Bom Unnie bersebelahan. Jadi orang akan berpikir kalau foto itu dipotong dari foto aslinya.”

“Rencana yang bagus,” sahut Seunghyun.

“Kalau begitu, aku akan menelpon Jiyong sekarang untuk memotret kita. Bom-ya, kau masih memiliki baju yang sama dengan yang di foto itu, kan? Lee Ki Joon di foto itu memakai kemeja biru, kita beli saja di toko terdekat,” urai Dara sambil mengotak-atik ponselnya.

“Aku tidak mau melakukan ini,” ujar Seunghyun.

“Mwoya?!” seru mereka berempat.

Seunghyun mengulangi kata-katanya sambil menggeleng. “Aku tidak mau melakukan ini.”

“Mengapa? Bukannya tadi kau sudah bilang kalau ini rencana yang bagus? Kau juga sudah bertanya-tanya apa yang harus kau lakukan di hadapan Presiden! Lalu apa maksudmu dengan tidak mau melakukannya?” cecar Bom.

“Iya, aku memang bilang begitu tadi, dan dari tadi aku tidak bilang kalau aku setuju melakukannya, kan?” sahut Seunghyun enteng. Ia meminum air putih di hadapannya.

“Mengapa? Memangnya mengapa?” tanya Bom.

“Itu bukan hal yang baik—YA, aku sungguh-sungguh tidak suka melakukan hal yang tidak baik!” seru Seunghyun begitu melihat Bom mencibir. Bom berdecak. “Seperti kau selalu melakukan hal baik saja! Itu alasan yang tidak masuk akal!”

“YA, ini sungguhan! Tidak baik merekayasa fakta pada publik, nanti kalau ketahuan akan lebih rumit jadinya. YA Park Bom, aku mengatakan ini sebagai nasihat dari senior,” sahut Seunghyun.
“Lalu untuk apa kau kesini?! Bukan karena mengkhawatirkan pemberitaan tentangku?!” seru Bom kesal. Seunghyun mengangkat bahu. “Aku memang mendengar kabar itu, tapi aku kesini karena hal lain.”

“Apa?! Jangan bilang kau masih berpikiran untuk tinggal di rumah ini?!”

Seunghyun menjentikkan jarinya. “Bingo! Bagaimana kau bisa menebaknya? Apa kau juga sudah berpikiran sama denganku?”

“Mwoya?!” Bom bertambah kesal melihatnya, wajahnya sudah sangat memerah. Dara segera menenangkannya. “Tunggu, tunggu. Seunghyun-ya, kau benar-benar tidak mau melakukannya? Anggaplah ini membantu Bom, membantu kami.”

Minji membenarkan. “Kita juga bukan orang asing, Oppa. Kita seperti keluarga, kan? Seharusnya keluarga itu saling membantu.”

Seunghyun berdecak. “Sepertinya kau sudah semakin dewasa, Minji-ah. Iya, kita memang bukan orang asing. Tapi apa kalian pikir hal itu tidak beresiko untukku? Apa tidak akan ada reaksi dari para fans-ku mengenai hal ini?”

“Kau tidak hanya foto berdua dengan Bom, Seunghyun-ah. Kita akan foto berlima, seperti yang tadi dijelaskan Chaerin. Para fans akan mengerti kalau kita sedang keluar bersama. Kalau perlu, member big bang yang lain kita ajak supaya orang tidak berpikir macam-macam,” ucap Dara.

“Ah, kalian membuat hal ini sulit saja. Memangnya mengapa tidak bilang saja ke publik siapa orang itu? Dengan begitu, masalah selesai,” ujar Seunghyun.

“YA, dasar bodoh! Kalau memang bisa dikatakan semudah itu, untuk apa kami memintamu sampai seperti ini?!” sembur Bom. Ia mulai kesal lagi.

“Memangnya kenapa? Dia pacarmu? Ah, tentu saja kau tidak bisa mengatakannya pada publik, kau kan masih dalam masa tidak boleh pacaran oleh Presiden. Meskipun kau pacaran, seharusnya tidak ketahuan publik, kan?”

“YA, memangnya kau tahu apa?! Jangan bilang hal yang—“

“Oppa, apa kau punya syarat mengenai hal ini? Kau tidak akan melakukan hal ini dengan suka rela, kan, makanya kau mengulur hal ini jadi lebih lama? Kita tidak punya waktu banyak,” Chaerin memotong ucapan Bom. Dari tadi ia terdiam menerka apa yang sebenarnya diinginkan oleh Seunghyun.

Seunghyun tersenyum lebar. “Memang kau, Chaerin! Kau memang pandai dan selalu dapat membaca keadaan!”

“Mwoya?! Kau jadi punya syarat makanya begini?” seru Bom tak habis pikir. Minji bergumam.

“Kau seperti orang antagonis dalam film, Oppa.”

“Apa syaratnya, Oppa?” tanya Chaerin.

Seunghyun menepuk-nepuk sofa yang didudukinya. “Sederhana. Tidak rumit. Hanya satu syaratku.”

Mereka berempat menatap Seunghyun, menanti apa yang akan diucapkannya.

“Keinginanku masih sama. Aku ingin tinggal di rumah ini.”

-TBC-

[1] Yang termuda

____________________________________________________________

silakan dikomen yaa chingu hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari chingu-deul :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar