Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 3



Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan sarannya yaa :)
_______________________________________________________________


“Anyeong[1], Bommie!” sapa Seunghyun riang ketika mereka bertemu di lorong dekat studio latihan.

Bom bersungut-sungut. Seunghyun mengerutkan kening. “Kenapa? Ada apa?”

“Pertama,” Bom menghadapkan wajahnya pada Seunghyun dengan ekspresi serius. Seunghyun berlagak kaget. “Apa ini? Ada yang kedua?”

“Dengarkan aku!” seru Bom. Seunghyun mengangguk cepat melihat Bom melotot.

“Pertama, kau harus kembali memanggilku Noona dan berbicara formal padaku! Bagaimanapun juga, kau lebih muda tiga tahun dariku. Jagalah sopan santunmu! Bahkan kau memanggilku Noona hanya di depan publik!”

Seunghyun mengelus dagunya. “Ya, memang tidak salah. Tapi bagaimanapun juga, aku seniormu. Dan hubungan kita dimulai dari dunia entertainment ini. Di dunia ini, aku seniormu dan kau yang harus hormat padaku. Seharusnya kau memanggilku Sunbae-nim[2].”

“Mwoya?!”

Seunghyun tersenyum lebar. “Karena aku berbaik hati, kau tidak perlu memanggilku Sunbae dan berbicara formal padaku. YA, bukankah aku sudah sangat rendah hati sebagai seniormu, Park Bom?”

Bom mendengus kesal. “Tapi kau memanggil Dara dengan sebutan Noona!”

Seunghyun tertawa. “Apa yang kedua?” ia mengalihkan pembicaraan.

Bom mendengus lagi. “Kau bahkan mengalihkan pembicaraan sekarang. Baik, aku juga tidak punya banyak waktu! Kedua, apa yang kau katakan pada orang-orang? Sesumbar mengenai hal yang aneh!”

Seunghyun mengerutkan kening. “Hal aneh? Aku tidak merasa membicarakan hal aneh akhir-akhir ini.”

“Jangan mengelak! Kau sesumbar ingin tinggal di rumahku pada orang-orang. Kau tahu, aku langsung di-introgasi para member-ku tadi! Aku paling tua tapi aku disudutkan seperti itu, kau tahu betapa tidak enaknya hal itu!” Bom mengomel.

Seunghyun tertawa kecil. “Aku tahu, aku tahu. Tapi aku juga mengatakan hal yang sebenarnya. Aku tidak mengatakan hal yang aneh karena menurutku itu adalah hal yang normal dan aku akan melakukannya. Mengapa semua orang jadi heboh sekali?”

“YA!!!” teriak Bom kesal. Seunghyun segera menutup kedua telinganya. “YA, apa yang kau lakukan? Orang akan mengira kalau kantor ini kecurian,” sahutnya dengan senyum lebar.

“Apa kau pikir hal ini lucu?! Lelucon apa itu, tinggal di rumah wanita yang bahkan bukan saudaramu, adalah hal yang normal? Dan aku juga bukan pacarmu! Apa itu masuk akal?”

Mata Seunghyun berputar. “Kalau begitu, apa lebih baik kita pacaran saja?”

Bom mengayunkan tangannya, hendak memukul Seunghyun. “Aigoo anak ini!”

Seunghyun segera melindungi dirinya dengan kedua tangan. “Bom-ah! Jangan kelihangan kendali!”

Bom mendengus kesal. Seunghyun menurunkan kedua tangannya dan tersenyum lebar melihat Bom. “Kau seperti seorang Ajumma[3] kalau memaki seperti itu.”

“Sudahlah, aku tidak mau bicara lagi! Pokoknya kau jangan sesumbar lagi mengenai hal aneh itu! Aku tidak mau orang-orang percaya pada ucapanmu itu.”

Seunghyun mengusap wajahnya. “Aku tidak sesumbar, Bom-ah. Aku memang ingin tinggal di rumahmu. Sebagai rekan kerja yang sudah seperti keluarga di perusahaan ini, kurasa bukan ide buruk untuk—“

“YA! Sudah kubilang jangan sesumbar hal aneh itu lagi!” potong Bom kesal.

“Baik, baik. Aku serius sekarang. Aku merasa ada sesuatu dengan rumah itu. Ada aura yang seolah menarikku dan berhubungan erat denganku. Kurasa—“ Seunghyun menghentikan ucapannya begitu melihat Bom menatapnya dengan tatapan kesal. “Aku serius, Bom-ah. Itu alasanku sesungguhnya.”

Bom mengangguk-angguk. “Kemampuan aktingmu semakin meningkat, Seunghyun-ah. Kurasa sebentar lagi Son Ye Jin pun akan meminta bermain drama denganmu secara khusus.”

Seunghyun memang sangat mengidolakan Son Ye Jin dan ingin suatu saat nanti bermain drama bersama. Ia tersenyum lebar. “YA, bukan begitu. Aku sungguh-sungguh, karena itu sekarang aku meminta izinmu secara resmi untuk tinggal di rumahmu. Siapa tahu—“

“Tidak bisa, Oppa!”

Seunghyun dan Bom menoleh kaget. Tiba-tiba Chaerin sudah ada di belakang mereka.

“Kau tidak bisa melakukan hal itu. Sampai kapanpun! Kalaupun Unnie jadi lemah dan mengizinkanmu, Oppa tetap harus melewatiku dulu!” seru Chaerin.

“Aku juga tidak akan mengizinkannya dan tidak akan lemah, Chaerin-ah!” protes Bom. Chaerin tersenyum lebar pada Bom. “Unnie sering terlalu baik pada orang, makanya sekarang aku yang berjaga-jaga.”

Seunghyun menatap Bom dan Chaerin bergantian, lalu tertawa. “YA, apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian sedang menghadapi perang atau apa? Berjaga-jaga, benar-benar! Apa kalian ikut wajib militer sekarang?”

“Berhadapan dengan orang sepertimu memang harus berjaga-jaga, Oppa,” sahut Chaerin enteng.

“Mwoya?!”

“Jadi buang jauh-jauh soal ide tinggal di rumahku atau apapun itu, kau tidak akan dapat melakukannya sampai kapanpun!” sambung Bom. Kemudian mereka berdua beranjak pergi dengan melambaikan tangan gaya antagonis.

Seunghyun melongo.

***

 “Oh, Noona! Kau sudah datang?” sapa Yongbae begitu melihat Bom memasuki ruang rekaman. Bom tersenyum lebar dan mengangguk. Ia meletakkan tas dan mantelnya di sofa.

“Baru kau yang datang? Mana yang lain?”

“Seungri dan Daesung sedang dalam perjalanan. Jiyong ada di ruangan Presiden Yang sekarang,” jawab Youngbae sambil mengotak-atik komputer. “Jiyong sudah memasukkan materi lagu kesini, tapi aku lupa dimana ia menyimpannya tadi.”

Yongbae, Bom, Daesung, dan Seungri memang akan bekerja sama dalam sebuah lagu yang diciptakan oleh Jiyong. Seharusnya bersama Dara juga, tapi Dara sedang shooting CF dan tidak bisa ikut latihan hari ini.

“Benarkah? Kalau begitu carilah lagi, aku tidak mengerti soal komputer dan semacamnya,” sahut Bom. Ia memang agak tidak familiar dengan hal-hal yang berbau teknologi, kecuali ponsel.

“Ngomong-ngomong, ada apa Jiyong ke ruangan Presiden Yang? Apa ia membuat masalah?”

“Itulah yang aku juga tidak tahu, Noona. Setahuku, di antara kami tidak ada yang membuat masalah akhir-akhir ini. Bahkan Seungri pun tidak. Tapi Presiden Yang memanggil Jiyong mendadak sekali. Aku juga agak khawatir sebenarnya.”

Bom mengangguk-angguk. Lalu menepuk bahu Yongbae pelan. “Jangan khawatir. Kalau tidak ada masalah, pasti tidak apa-apa. Mungkin Presiden Yang ingin membicarakan soal lagu baru ini.”

“Aku juga berpikir begitu, Noona. Tapi agak aneh karena Jiyong hanya dipanggil sendiri dan mendadak seperti itu,” Yongbae mengusap kepalanya.

“Sudahlah! Tidak usah dipikirkan, yakin saja kalau memang tidak ada hal buruk yang terjadi! Nanti kita tanyakan langsung pada Jiyong ada apa. Ayo kita bicarakan hal lain saja!”

Yongbae mengangguk-angguk. Ia lalu teringat sesuatu. “Oh iya, Noona. Bagaimana dengan Seunghyun Hyung? Semua berjalan lancar?”

Bom mengerutkan kening. “Ada apa dengan Seunghyun? Mengapa kau tahu-tahu bicara tentang dia?”

“Tentu saja aku bertanya, Noona. Sudah seminggu Seunghyun Hyung tidak bicara apa-apa mengenai kepindahannya ke rumahmu. Aku selalu ingin bertanya tapi lupa, sekarang ketika bertemu denganmu baru ingat lagi.”

“Ooh, itu. Tenang saja, Yongbae-ah. Semuanya lancar dan kau tidak akan lagi mendengar soal dia ingin tinggal di rumahku. Aku sudah mengomelinya, juga dibantu Chaerin. Jadi ia tidak akan lagi sesumbar hal aneh itu.”

Yongbae mengerutkan kening. “Benarkah? Tapi seingatku, Seunghyun Hyung bilang akan tinggal di rumah Noona, bukan ingin. Dan ia bilang hal itu pasti terjadi. Seunghyun Hyung yang kukenal, selalu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dan pasti berusaha keras mendapatkan apa yang ia mau.”

Bom melambaikan tangannya enteng. “Tenang saja, Yongbae-ah. Untuk kali ini, ia tidak akan mendapatkan apa yang ia mau.”

“Begitu? Ah, aku bahkan tidak tahu harus bilang bagus atau tidak. Seunghyun Hyung adalah Hyung-ku dan kau adalah Noona-ku, aku harus berpihak pada siapa sekarang?” gurau Yongbae.

Bom tertawa. “Tentu saja berpihak padaku! Sekarang kan kau sedang bersamaku. Nanti kalau kau sedang bersama Seunghyun, baru kau berpihak padanya.”

Yongbae ikut tertawa.

Pintu ruang rekaman terbuka. Jiyong masuk dengan membawa setumpuk kertas.

“Oh, kau sudah datang?” ujar Yongbae.

 “Apa yang kau bicarakan dengan Presiden Yang tadi? Apa ada masalah?” Bom segera memberondongnya dengan pertanyaan.

“Hyun Suk Hyung mulai curiga soal aku dan Dara,” ujar Jiyon pelan.

“Apa?!” Bom dan Yongbae berseru kaget.

“Ia tidak berkata secara langsung, tapi intinya begitu. Hyung bilang kalau 2NE1 masih dalam masa larangan berpacaran, jadi kita semua harus berhati-hati. 2NE1 baru debut dua tahun dan jangan sampai mereka harus jatuh begitu awal, Hyung mengulang kata-kata itu berkali-kali.”

Jiyong dan Dara memang sudah berpacaran sebelum 2NE1 debut. Semua member 2NE1 dan Big Bang mengetahui hal ini dan menjaga rahasia ini rapat-rapat.

“Noona, kau juga hati-hati,” ujar Jiyong pada Bom. Bom mengerutkan kening. “Aku? Memangnya aku kenapa? Aku sedang tidak berpacaran dengan siapapun sekarang.”

“Tetap saja kau harus hati-hati. Terkadang ada hal-hal yang muncul di luar dugaan,” ucap Jiyong lagi.

Ponsel Bom berbunyi. Chaerin menelponnya.

“Yeobo—“

“Unnie! Kau sudah melihat internet?!” Chaerin memutus ucapan Bom. Bom menjauhkan ponselnya mendengar teriakan Chaerin.

“YA, mengapa berteriak? Ada masalah apa?”

“Cepat lihat internet, Unnie! Setelah itu, aku akan menelponmu lagi!” Chaerin menutup telepon. Bom mengerutkan kening, kemudian menuruti ucapan Chaerin.

“Ada masalah apa, Noona?” tany Yongbae. Jiyong sudah berkutat dengan komputer.

“Chaerin bilang padaku untuk melihat inter—“ Bom membelalakkan matanya. “Bagaimana bisa ini ada disini?!”

Yongbae dan Jiyong segera bangkit menghampiri Bom. “Ada apa?!”

Yongbae dan Jiyong tercengang. Di internet, sudah ramai orang membicarakan Bom yang sedang bersama pria di sebuah foto. Wajah pria itu tidak begitu kelihatan, namun beberapa foto itu menunjukkan kalau Bom dan pria itu cukup dekat.

“Noona, kau bilang kau sedang tidak punya pacar?” tanya Jiyong heran. Bom masih menatap ponselnya tak percaya.

“Memang benar, aku sedang tidak punya pacar. Tapi apa ini? Bagaimana bisa? Omo[4], apa yang harus kulakukan?!”

-TBC-

[1] Halo
[2] Senior
[3] Wanita paruh baya, Bibi
[4] Ya Tuhan

____________________________________________________________

silakan dikomen yaa chingu hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari chingu-deul :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar