Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 2




Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan sarannya yaa :)
_______________________________________________________________


 “Wah, apa ini? Kalian datang bersama?” Daesung sangat terkejut melihat Bom dan Seunghyun keluar dari mobil Bom. Mereka bertemu di tempat parkir agensi mereka.

“Tentu saja, seperti yang kau lihat!” Seunghyun mengangguk riang, sedangkan Bom hanya menggerutu.

“Mwoya?! Kalian berkencan sekarang?” tanya Daesung lagi, masih terkejut dengan apa yang dilihatnya.

“Apa orang datang bersama adalah berkencan di matamu? Berapa umurmu sekarang?” Bom mendelik pada Daesung.

Wajah Daesung masih bingung. “Bukan begitu, Noona[1]. Kalian kan tidak pernah begini sebelumnya, jadi aku hanya—“

“Daripada kau membingungkan soal itu, lebih baik bawa aku ke asrama sekarang,” Seunghyun merangkul Daesung, memotong ucapannya.

“Hyung[2], ada—“ Daesung langsung menutup hidungnya. “Hyung, mengapa kau bau sekali?!” Daesung segera melepas rangkulan Seunghyun.

“Memangnya kau kira ini karena siapa? Siapa suruh kalian meninggalkanku di café kemarin?!” Seunghyun jadi mengomel.

Bom tertawa melihat mereka, kemudian melambaikan tangannya. “Uruslah urusan kalian berdua, aku naik dulu.”

Daesung membungkukkan kepalanya sedikit, sedangkan Seunghyun balas melambaikan tangannya. “Terima kasih untuk kemarin malam, Bom-ah!”

Bom mendengus. Lalu berjalan masuk.

Daesung kini menatap Seunghyun, antara tidak percaya dan curiga. “Hyung, apa yang kau lakukan…?”

Seunghyun mengangkat bahunya. “Memangnya apa lagi? Apa yang dilakukan seorang pria mabuk yang ditinggal teman-temannya sendiri di café?”

Daesung melongo. Ia semakin menatap Seunghyun lekat, tidak percaya. “Hyung, jangan bilang…”

Seunghyun membuka pintu mobil Daesung dan berteriak padanya. “Kalau kau cepat membawaku ke asrama dan membiarkanku membersihkan diri dengan baik, akan kuceritakan selengkapnya padamu.”

Daesung segera memasuki mobilnya dan menyalakan mesin. “Jadi, apa yang terjadi tadi malam, Hyung?”

***

“Unnie[3], kudengar Seunghyun Oppa[4] semalam bersamamu!” Minji yang baru datang dari makan siang langsung memburu Bom yang sedang mendengarkan musik.

“Kau pasti habis bergosip dengan anak-anak itu. Apa yang mereka katakan?” sahut Bom enteng. Ia masih asyik dengan ponselnya sembari mendengarkan musik.

“Seunghyun Oppa bersama Unnie tadi malam, benarkah itu?”

Bom mengangkat bahunya.  “Kau bisa menganggapnya begitu.”

Minji membelalakkan matanya kaget. “Mwoya, Unnie? Benar begitu? Sebenarnya apa yang terjadi?”

Bom melepas headset. “Tadi kau bergosip dengan siapa?”

“Seungri Oppa dan Daesung Oppa. Mereka bilang, Seunghyun Oppa sendiri yang bilang begitu. Apa memang begitu, Unnie? Sejak kapan kalian berkencan?” Minji memberondong Bom dengan pertanyaan, sangat penasaran dan sedikit tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Bom berdecak. “Kan, sudah kuduga memang dua anak itu. Tepatnya apa yang mereka katakan padamu?”

“Bom-ah! Park Bom!!” Dara memasuki ruangan setengah berlari dengan wajah tak percaya. Di belakangnya Chaerin menyusul. “Unnie, benarkah itu?”

Bom menghela nafas. “Apa lagi sekarang?”

Mereka bertiga kini berkumpul mengelilingi Bom, meminta penjelasan.

“Bom-ya, kau berkencan dengan Seunghyun?” tanya Dara.

Bom menggeleng.

“Tapi Unnie, semalam kau bersama Seunghyun Oppa?” tanya Chaerin.

Bom mengangguk.

“Mwoya?!” mereka bertiga mendengus kesal.

Bom tertawa melihat ekspresi mereka bertiga. “Kalian lucu sekali. Apa berita ini se-begitu menghebohkannya?”

“Tentu saja, Unnie! Aku langsung berlari kesini begitu oppa-deul[5] bilang kalian bersama tadi malam!” seru Minji.

“Lebih baik kami mengetahuinya lebih dulu, sebelum didengar Presiden Yang, Unnie,” sahut Chaerin.

“Jadi, sekarang katakan yang sebenarnya pada kami!” seru Dara.

“Ahh, pria-pria itu senang sekali bergosip. Awas nanti kalau bertemu denganku!” Bom mengepalkan tangannya. “Apa yang kalian dengar?”

“Unnie bersama Seunghyun Oppa tadi malam,” ujar Minji.

“Itu benar.”

Mereka bertiga langsung melotot.

Bom tertawa. “Mwoya? Memangnya apa yang kalian pikirkan?”

Wajah mereka masih serius. Bom berdehem sambil membenarkan duduknya. “Baiklah, aku serius sekarang. Kalian pulang duluan tadi malam ketika perutku tiba-tiba sakit, karena ibu Chaerin datang ke asrama sehingga kalian tidak bisa menemaniku pulang ke rumah, benar kan? Lalu aku bertemu Seunghyun di jalan. Ia mabuk—mabuk berat dan masuk ke mobilku… YA, jangan berpikir macam-macam! Aku bukan tipe orang seperti itu, kalian tahu itu!” seru Bom begitu melihat ketiga membernya melotot lagi.

Ia lalu melanjutkan. “Lagipula semalam aku tidak mabuk, jadi tidak mungkin terjadi hal-hal seperti itu. Aku sepenuhnya sadar, kalian harus ingat itu. Dan buruknya, Seunghyun tidak membawa ponsel. Bodoh sekali bukan orang itu?”

“Lalu?” Dara antusias.

Bom berdecak. “Mengapa kau sangat bersemangat mendengar cerita tidak penting ini? Lalu karena aku tidak tahu harus kemana, aku ke rumahku. Lalu tidur di mobil sampai pagi—tidak, Chaerin-ya! Aku bersumpah tidak melakukan apapun!” seru Bom melihat Chaerin mengangkat alisnya. Ia lalu mengacak rambutnya kesal. “AAhh, apa ini? Kalian tidak percaya padaku sekarang? Sudah, aku tidak mau cerita lagi!”

“Jadi kau tidak berkencan dengan Seunghyun?” Dara mengerutkan keningnya.

“Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin aku tiba-tiba berkencan dengan seseorang tanpa bercerita apapun pada kalian sebelumnya? Kalian tahu aku bagaimana!” sahut Bom, masih kesal.

“Lalu mengapa Seunghyun Oppa bilang akan tinggal di rumah Unnie kalau tidak terjadi apa-apa?” tanya Minji.

“Mana kutahu? Dia dengan gilanya bilang kalau ingin tinggal di rumahku. Dan tentu saja aku tolak! Apa kalian kira aku menyetujui permintaannya?!”

“Daesung dan Seungri bilang kalau Seunghyun Oppa akan tinggal di rumah Unnie, bukan sekedar ingin,” lanjut Chaerin.

“Apa?!”

Minji mengangguk. “Itu juga yang aku dengar.”

Dara menopang dagu dan menatap Bom penuh selidik.

“YA, mengapa kalian begini padaku? Mana kutahu mengapa ia bilang begitu! Lagipula bisa saja Daesung dan Seungri yang melebih-lebihkan! Perbedaan kata akan dan ingin kan bisa merubah makna, tapi mereka tidak peduli itu. Kalian kan tahu bagaimana mereka!”

Mereka bertiga masih menatap Bom penuh selidik.

“YA, kalian benar-benar tidak percaya padaku?! Aku marah sekarang!”

-TBC-

[1] Sebutan kakak perempuan oleh laki-laki
[2] Sebutan kakak laki-laki oleh laki-laki
[3] Sebutan kakak perempuan oleh perempuan
[4] Sebutan kakak laki-laki oleh perempuan
[5] Jamak dari oppa

____________________________________________________________

silakan dikomen yaa chingu hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari chingu-deul :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar