Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 15 - END



cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan cerita, alur, lokasi; cuma kebetulan yang tidak disengaja :D

happy reading dan jangan lupa kasih komennya yaa, readers :D
___________________________________________________________________________________

“Nenek…”

Nenek Bom dan Direktur Lee menoleh bersamaan. Nenek Bom kaget bukan main ketika dilihatnya Bom sudah ada di depan pintu rumahnya.

“Bom-ah…”

Bom berjalan mendekati mereka berdua, sementara Seunghyun hanya menatapnya dari belakang. Ia juga bingung apa yang terjadi.

“Ada apa sebenarnya? Apa hubungan kalian berdua? Dan apa…,” Bom menatap Direktur Lee sebentar, lalu menatap neneknya lagi. “Apa… yang dimaksud dengan ucapan Direktur tadi?”

Nenek Bom tampak tergagap, tapi kemudian ia menggenggam tangan Bom. “Tidak, Bom-ah. Tidak ada apa-apa. Kau lelah, kan? Ayo istirahat saja dulu.”

Bom menggeleng. “Tidak, nenek, tidak. Aku tahu pasti ada sesuatu. Sebenarnya ada apa? Mengapa nenek tidak mau memberitahunya padaku?”

“Bom-ah…”

“Nenek, kumohon beritahu apa yang sebenarnya,” potong Bom. Entah mengapa matanya berkaca-kaca. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya sebuah hal yang tidak terduga.

Nenek menghela nafas. Memandang Direktur Lee dan Bom bergantian.
*****************

“Waktu itu, ibumu berpacaran dengan orang ini…,” Nenek menoleh pada Direktur Lee, yang nampak tegang menunggu ucapan Nenek selanjutnya. Sedangkan Bom hanya terdiam, mulai menebak-nebak apa ucapan Nenek selanjutnya. Mereka kini sedang duduk di ruang tamu, sedangkan Seunghyun memilih untuk menunggu di mobil karena tidak ingin mengganggu.

“Ibumu, ia masih sangat muda ketika hamil dirimu, Bom-ah—“

“Yoo Mi, hamil?” pekik Direktur Lee tidak percaya. “Mengapa dia tidak—“

“Ia tidak mau bilang padamu, karena menurutnya kalian berdua masih sama-sama muda. Ia tidak mau membebankan kehamilannya padamu. Anak bodoh itu,” Nenek mendesah. Direktur Lee langsung menunduk dalam, tampak kesedihan yang jelas di wajahnya.

“Lalu…,” sela Bom. “Karena ia masih sangat muda, ia pergi meninggalkanku? Ia pergi untuk masa depannya yang lebih baik tanpaku? Iya, kan?” tanya Bom. Suaranya bergetar.

Nenek Bom menghela nafas. “Maafkan aku, Bom-ah. Kau mungkin akan membenciku setelah tahu hal ini. Ibumu…,” Nenek menghela nafas lagi. “Ia pergi… untuk selama-lamanya, Bom-ah. Ia meninggal setelah melahirkanmu.”

Bom tercekat mendengarnya. Begitu juga Direktur Lee, yang langsung mengangkat wajahnya kaget.

Bom menggeleng. Matanya berkaca-kaca. “Tapi… Nenek bilang… ia ke Amerika… ia mengejar karir disana…”

“Maafkan aku, Bom-ah,” airmata Nenek menetes. “Yoo Mi memintaku mengatakan hal itu. Kata anak bodoh itu, kau akan mendapat kekuatan untuk terus hidup dengan membencinya. Maafkan aku, Bom-ah.”

Bom mengusap cepat airmatanya yang mulai menetes. “Seharusnya Nenek tidak mengatakannya sampai kapanpun.” Ia lalu bangkit dan berjalan menuju tangga. Setelah beberapa langkah, ia menoleh lagi. “Nenek tahu? Rasanya lebih baik mengetahui ia membuangku untuk mengejar karir dibanding menukar nyawanya dengan nyawaku.”
****************

“Bom masih belum mau keluar kamar?” tanya Seunghyun pada Nenek Bom yang sedang menyiapkan makan untuk Bom. Nenek menggeleng pelan.

“Dia pasti sangat marah. Akan sangat aneh kalau ia baik-baik saja di saat seperti ini,” ujar Nenek Bom. “Kau tidak apa-apa terus disini? Bukankah kegiatanmu banyak?”

Seunghyun menggeleng. “Kegitanku bisa ditunda, Nek. Lagipula…,” ucapan Seunghyun menggantung. “Direktur Lee menyuruhku untuk tetap disini bersama Bom.”

Nenek terdiam sesaat. Lalu memandang Seunghyun. “Apa pria itu mengatakan hal lain padamu?”

Seunghyun menggeleng. “Direktur bilang, biar Bom yang menceritakan padaku apa yang terjadi kalau memang ia ingin.”

Nenek tersenyum tipis.  “Bom pasti akan mengatakannya padamu,” Nenek lalu menyerahkan nampan berisi makanan pada Seunghyun. “Seunghyun-ah, berikan ini pada Bom. Dari semalam ia belum makan, perutnya pasti kosong sekarang.”

Seunghyun mengangguk. Ia lalu berjalan menaiki tangga dan menuju kamar Bom.

“Bommie-ah,” Seunghyun mengetuk pintu kamar Bom. “Aku membawakan sup jagung kesukaanmu. Apa kau mau melewatkan sup jagung hangat di pagi ini?”

Tidak ada sahutan. Seunghyun mengetuk pintu lagi. “Bommie-ah, Min Ah… bukan, bukan ibuku, tapi Shin Min Ah, ia menanyakan kabarmu. Apa ia menghubungimu?”

Masih tidak ada sahutan.

Seunghyun mengetuk lagi. “Woah! Daebak, Bomie-ah! Lee Dong Wok menelpon! Kau tidak mau bicara dengannya?! Aku memang tidak pernah bilang padamu, tapi sebenarnya aku dan dia berteman. Cepat, ia akan segera menutup teleponnya!”

Hening. Seunghyun mengusap kepalanya.

“Bomie-ah,” ujar Seunghyun lagi, kali ini dengan agak pelan. “Sebenarnya ini rahasia. Kemarin, sebenarnya Jiyong bilang padaku kalau ia dan Dara Noona akan menikah musim dingin ini. Baru aku yang diberitahu, tapi kau jangan bilang siapa-siapa. Ini masih rahasia.”

Ceklek.

Pintu kamar Bom terbuka. Seunghyun tersenyum lebar, dan perlahan memudar melihat penampilan Bom. Gadis itu tampak sangat kuyu dan matanya sangat bengkak, seperti habis menangis semalaman.

“Bommie-ah…”

“Pabo. Kebohongan apalagi yang akan kau ucapkan?” ucap Bom, lemah.
**************************

Bom menyuap sup jagung, perlahan. Seunghyun hanya menatapnya. Dari tadi, gadis itu hanya makan tanpa suara, dan Seunghyun pun hanya diam menatapnya.

“Seunghyun-ah,” Bom meletakkan sendoknya dan menatap Seunghyun. “Sampai kapan kau akan menatapku seperti itu?”

Seunghyun tersenyum. “Sampai kapan kau hanya makan dan diam? Biasanya kau sangat berisik.”

Bom mendengus pelan. “Aku bertanya duluan.”

Senyum Seunghyun melebar, senang mendengar Bom sudah mulai mengomel walau sedikit. Berarti gadis itu sudah mulai baik-baik saja.

Bom menyeka ujung bibirnya dengan serbet dan minum. Ia lalu menatap Seunghyun. “Kau sudah tahu?”

Seunghyun menggeleng. “Aku ingin dengar darimu.”

“Direktur Lee itu…,” Bom menghela nafas. “Kau mendengarnya juga, kan? Ia ayahku. Ayahku yang selama ini kubenci karena meninggalkan kami ternyata tidak pernah tahu apapun tentang semua ini. Dan ibuku…,” ucapan Bom menggantung. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Ibuku, Park Yoo Mi, yang selama ini kubenci karena meninggalkanku untuk mengejar karir di Amerika, ternyata meninggal setelah melahirkanku,” lanjut Bom. “Kau tahu, Seunghyun-ah, semua hal seperti terbalik. Aku… tidak tahu harus apa. Kurasa lebih baik ibuku itu membuangku daripada meninggal untuk melahirkanku.”

Seunghyun menggenggam tangan Bom, erat.

“Wanita itu bilang, aku akan mampu hidup dengan membencinya. Iya, dia benar. Aku mempunyai kekuatan untuk hidup dengan membencinya. Yang karena aku membencinya, karena aku membenci mereka berdua yang tidak pernah kutemui sebelumnya, aku punya kekuatan untuk mencari dan menemui mereka untuk memaki mereka,” airmata Bom menetes. “Aku punya kekuatan untuk menunjukkan bahwa aku hidup dengan baik bahkan tanpa mereka. Kalau begini, aku harus bagaimana, Seunghyun-ah?”

Seunghyun memeluk Bom. Tangisan Bom makin deras. Seunghyun mengusap punggung Bom.

Sementara itu, Nenek Bom mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu dan menangis. “Yoo Mi-ah, apa yang harus aku lakukan?”
***********************

“Kau yakin, Bom-ah?” tanya Nenek khawatir. Kini Nenek, Bom, dan Seunghyun sedang berada di depan kawasan pemakaman tempat Ibu Bom dimakamkan.

Bom mengangguk mantap, lalu tersenyum. “Tidak apa-apa, Nek. Aku sudah memikirkan ini semalaman, sampai mataku bengkak begini. Apa Nenek mau mataku lebih bengkak lagi untuk memikirkannya?”

Nenek Bom menggenggam erat tangan Bom. “Maafkan aku, Bom-ah.”

“Eiiyyy, Nenek sudah mengatakan itu seribu kali!” ujar Bom sambil tersenyum. Ia lalu memeluk Nenek erat. “Terima kasih, Nek. Seharusnaya aku menyadari lebih awal kalau apa yang Nenek lakukan selama ini untukku sejuta kali lebih tidak terbalas dibandingkan hal ini.”

Bom lalu melepas pelukannya. “Aku turun dulu, Nek.”

“Benar tak perlu kutemani?” tanya Nenek khawatir.

Bom menggeleng. “Aku akan baik-baik saja, Nek.”

Seunghyun yang berada di kemudi tersenyum lebar pada Bom. Bom balas tersenyum, lalu kemudian turun dari mobil.

Nenek menghela nafas melihat kepergian Bom. Seunghyun tersenyum. “Bom akan melakukannya dengan baik, Nek.”

Nenek mengangguk-angguk, meski wajahnya masih tampak khawatir.
***********************

Bom menatap gundukan tanah dengan sebuah foto wanita muda yang cantik di depannya.

“Hai…,” Bom terdiam sesaat.

“… Ibu.”

Bom terdiam lagi. Ia terus memandangi foto ibunya itu.

“Sebelum kesini, aku sudah menyusun kalimat yang akan kuucapkan padamu. Kebanyakan berupa makian yang selama ini kusimpan,” Bom tersenyum kecil. “Tapi sekarang, di depanmu, aku tiba-tiba lupa semua kalimat itu.”

Bom memandangi foto ibunya lagi. “Kau cantik… Ibu. Kau sangat cantik.”

Airmata Bom mulai menggenang. “Selama ini aku membencimu, seperti yang kau inginkan. Aku menanam kebencianku untuk dapat memarahimu ketika bertemu denganmu suatu saat nanti. Kalau ternyata kau melakukan hal ini, apa yang harus kulakukan?”

“Dan kau sangat cantik. Kurasa meskipun kau masih hidup dan aku bisa bertemu denganmu, aku tidak akan sanggup menampar wajah cantikmu,” airmata Bom menetes. Ia langsung mengusapnya cepat. “AAhh, aku sudah berjanji untuk tidak menangis lagi.”

Bom lalu tersenyum. “Hari ini, sampai sini dulu. Kurasa aku akan menangis deras dan ditertawakan oleh si bodoh Seunghyun itu karena mengingkari janjiku. Aku akan segera menemuimu lagi.”

Bom menundukkan kepalanya sedikit, memberi hormat. Ia lalu berbalik dan meninggalkan areal pemakaman. Bom mengusap airmatanya lagi.

“Unnieeeeeeee!!!”

Bom mengerutkan kening. Dilihatnya ketiga orang wanita sedang melambaikan tangan padanya.

“Bommie-aaaaah!! Kami datang jauh-jauh dari Seoul dan kau hanya berjalan santai begitu?!” teriak salah seorang dari mereka sambil berkacak pinggang. Bom tersenyum. Itu suara Dara.

Bom lalu berlari kecil menghampiri mereka, membernya. Ketiganya langsung memeluknya erat begitu mereka bertemu.

“Kalian sedang apa disini?” tanya Bom begitu mereka melepaskan pelukannya.

“Kau pikir sedang apa? Tentu saja untuk menemui Bom kami tersayang!” seru Dara sambil tersenyum lebar.

“Unnie, aku juga rindu masakan nenekmu,” bisik Minji.

“YA, GONG MINJI!” teriak Dara dan Chaerin. Minji mengerucutkan bibirnya, sementara Bom hanya tertawa kecil melihatnya.

Chaerin memeluk Bom lagi. “Unnie, kau melakukannya dengan baik.”

Dara dan Minji ikut memeluknya. Bom tersenyum. Dilihatnya Seunghyun dan Neneknya tersenyum tidak jauh dari mereka.

Aku hidup dengan baik disini, Ibu. Kau lihat, kan? Banyak orang baik di sekelilingku.
*************************

“Seunghyun-ah, apa benar tidak ada masalah dengan aktivitas yang kau tinggalkan? Jiyong tidak marah?” tanya Bom khawatir. Sudah seminggu Bom di Jinan, dan ia memutuskan untuk kembali ke Seoul melanjutkan aktivitasnya. Mengetahui hal itu, Seunghyun yang sempat menemaninya selama tiga hari langsung ke Jinan untuk menjemputnya.

“Ya, aku sudah bilang berapa kali? Aku hanya ijin sebentar, Jiyong juga tidak mempermasalahkannya. Apalagi yang lain,” sahut Seunghyun. Matanya tetap lurus menatap jalan dan konsentrasi pada kemudi.

“Tapi kau sudah menemaniku beberapa hari disini. Aku bisa ke Seoul sendiri,” sergah Bom.

“Naik apa? Kau kan ke Jinan dengan mobilku," ujar Seunghyun.

Bom menggerutu, karena ucapan Seunghyun memang benar. “Seharusnya aku ikut ke Seoul bersama member yang lain dua hari yang lalu.”

“Ya, sudah terjadi. Lagipula waktu itu kan kau belum siap kembali ke Seoul. Dan aku juga tidak masalah melakukan hal ini, kan? Lalu apa masalahnya?”

Bom menghela nafas. “Karena pada akhirnya, aku hanya merepotkan banyak orang. Kau, para memberku, dan bahkan member Big Bang lain karena aktivitasmu terganggu.”

Seunghyun menoleh, menatap Bom tajam. “Park Bom. Sudah berapa kali aku bilang jangan ucapkan lagi kalimat itu.”

Bom hanya terdiam. Akhir-akhir ini, ia memang sering mengucapkan kalimat itu dan selalu dimarahi oleh Seunghyun dan yang lainnya. Seunghyun yang paling marah kalau ia mengatakan hal itu.

“Aku melakukan ini karena aku menyukainya, orang-orang melakukan hal yang sama karena mereka menyukainya. Jadi jangan salahkan dirimu sendiri,” ujar Seunghyun lagi. Ia kembali menatap jalan.

“Araso,” sahut Bom. Tiba-tiba, ia teringat pengakuan Seunghyun seminggu yang lalu karena mendengar kata ‘suka’.

Omo! Waktu itu juga ia mengatakan suka, kan? Di mobil ini juga, kan? Dan aku belum mengatakan apa-apa tentang itu, pabo!

Seunghyun menoleh, menatap raut wajah Bom dan tersenyum. “Tidak usah terburu-buru, gunakan saja waktumu.”

Bom mengerutkan kening.

“Pengakuanku waktu itu,” ujar Seunghyun. Ia menatap Bom sekilas. “Mungkin timing-nya kurang tepat. Kurasa sekarang, aku akan menggunakan waktuku dengan baik untuk menunjukkan perasaanku padamu. Mengingat kau bahkan tidak menyadarinya sama sekali selama ini.”

Bom terdiam. Ia jadi serba salah dan bingung harus berkata apa. “Mian,” ucap Bom akhirnya.

Seunghyun tertawa kecil. “Ya, apa kau melakukan dosa? Kurasa aku yang kurang menunjukkannya, Min Ah juga bilang kalau aku kurang menunjukkannya.”

“Shin Min Ah?”

Seunghyun mengangguk.

“Kalian, sering berbincang soal ini?” Bom mengerutkan kening.

Seunghyun mengangguk lagi. “Kami lumayan sering mengobrol.”

Bom terdiam. Pantas mereka terlihat sangat akrab, padahal mantan kekasih biasanya saling canggung.

Seunghyun menoleh sekilas. “Wae? Kau… cemburu?”

“YA!”

Seunghyun tertawa. “Tenang saja, aku dan dia hanya berteman. Mungkin ini aneh menurutmu, tapi aku dan Min Ah benar-benar menjadi teman baik meskipun telah berpisah. Dan sudah kubilang berkali-kali, kan? Masa lalu hanyalah masa lalu.”

Bom menggerutu. “Siapa yang memintamu menjelaskannya? Aku tidak mengatakan apapun.”

“Aku hanya tidak ingin kau salah paham. Aku tidak mau kau memandangku sebagai pria yang mudah berpindah-pindah hanya karena akrab dengan mantan kekasih,” ujar Seunghyun. “Dan juga, aku ingin kau selalu tahu bahwa aku menyukaimu, Park Bom, bukan orang lain.”

Bom terdiam mendengar ucapan terakhir Seunghyun. Wajahnya memerah perlahan.

“Seunghyun-ah,” ucap Bom akhirnya. “Aneh mendengarmu mengucapkan hal seperti ini. Rasanya lebih baik mendengar kau berlagak senior.”

Seunghyun tertawa kecil. “Kalau begitu, sebagai senior, aku memerintahkanmu untuk membiasakan diri mendengar hal ini. Karena aku akan sering mengatakan hal yang serupa.”

“Mwoya?! Kau melakukan hal menyebalkan dan aneh secara sekaligus!” Bom bersungut-sungut.

Seunghyun tertawa lagi.
************************

“Bagaimana perkembangan album baru kalian?” tanya Direktur Lee pada Seunghyun. Mereka berdua sedang duduk di taman samping agensi sambil meminum kopi.

“Sejauh ini berjalan lancar, Direktur. Kau tahu sendiri bagaimana Jiyong kalau sudah berurusan dengan musik?” jawab Seunghyun sambil tertawa kecil. “Ia sangat merinci segala sesuatunya, jadi bisa dibilang persiapannya sudah mulai matang.”

Direktur Lee mengangguk-angguk. “Baguslah kalau begitu. Persiapanmu… tidak jadi terganggu karena urusan Bom akhir-akhir ini, kan?”

“Eiyyy, Direktur!” Seunghyun tersenyum. “Mengganggu apanya? Tidak usah khawatir, aku dapat membagi waktu dan mengerjakan segala sesuatunya dengan baik,” sahutnya lagi setengah bercanda.

Direktur Lee tersenyum mendengarnya. “Terima kasih, Seunghyun-ah.”

“Direktur ini, seperti aku telah menyelamatkan dunia saja,” gurau Seunghyun.

Direktur Lee tertawa kecil. Ia meminum kopinya perlahan.

“Bom… bagaimana keadaannya?” tanya Direktur Lee kemudian.

“Ia sudah menjalani aktivitas seperti biasa. Kemarin, ia berlatih dengan member 2NE1 yang lain. Hari ini mereka ada pemotretan di Cheongdamdong, jadi tidak terlihat di agensi,” tutur Seunghyun.

Direktur Lee mengangguk-angguk.

“Mulanya ia sangat shock dengan apa yang terjadi, tapi perlahan ia sudah dapat mulai menerimanya. Ah, Bom bahkan sudah mengunjungi makam ibunya di Jinan.”

“Benarkah?” mata Direktur Lee membesar. Seunghyun mengangguk.

Direktur Lee menghela nafas lega. “Syukurlah. Aku juga baru tahu soal kematian Yoo Mi dan mengunjungi makamnya setelah mengetahuinya. Kupikir Bom akan butuh waktu lama untuk mengunjungi makam Yoo Mi.”

Seunghyun tersenyum. “Bom gadis yang kuat, dan juga sebenarnya merindukan orangtuanya dibalik sikap bencinya itu. Ia hanya membutuhkan waktu sedikit lagi, Direktur.”

Direktur Lee terdiam mendengar ucapan Seunghyun. Ia mengerti apa yang dimaksud Seunghyun, bahwa Bom juga butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa ia adalah ayahnya.

“Terima kasih, Seunghyun-ah, telah berada di sisinya di masa-masa sulit seperti ini. Kalau tidak ada kau dan member 2NE1 lain, aku tidak tahu bagaimana jadinya,” ujar Direktur Lee kemudian.

“Eiyyy, Direktur! Aku melakukannya dengan senang hati, jadi tidak usah dipikirkan! Member 2NE1 juga pasti senang melakukannya, mereka kan sudah seperti keluarga.”

Direktur Lee tersenyum. “Tetap saja aku berterima kasih pada kalian. Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu? Sebagai tanda terima kasihku.”

Seunghyun tampak berpikir, kemudian berbisik pada Direktur Lee. “Direktur, bisakah kau tidak menjadikan Lee Ki Joon sebagai investor perusahaan?” gurau Seunghyun.

Direktur Lee menahan tawanya. “Lee Ki Joon? Kupikir ia dan Bom sudah putus. Kau cemburu padanya?”

“Memang iya mereka sudah putus, tapi kau tahu wanita itu agak sulit melupakan mantannya. Jadi yah, usahaku agak terhambat.”

“Tunggu, kau dan Bom belum berpacaran?”

Seunghyun tersenyum lebar. “Apa kami terlihat seperti sudah berpacaran? Kami terlihat cocok bersama kan, Direktur?”
***************************

“Aku makan malam bersama member yang lain di luar. Bibi Taeri tidak ada di rumah?” tanya Bom pada Seunghyun. Bom sedang berada di sebuah restoran dan mereka sedang berbicara di telepon.

“Sepertinya ada, tapi aku makan bersama Daesung saja,” sahut Seunghyun di seberang sana.

“Wae? Bibi Taeri juga tidak akan keberatan memasak untukmu.”

“Masakan Bibi Taeri memang enak, tapi tetap saja tidak ada kau. Aku kan bertanya kau pulang atau tidak karena ingin makan denganmu,” ujar Seunghyun.

“Mwoya?!”

Seunghyun tertawa kecil. “Apa aneh? Aku kan ingin makan dengan gadis yang aku sukai.”

“YA! Pria macam apa yang terus-terusan mengaku?” keluh Bom. Sejak perbincangannya di mobil itu, Seunghyun memang selalu terang-terangan bilang kalau ia menyukai Bom.

“Pria sepertiku,” sahut Seunghyun. “Kan sudah kubilang, aku akan terus menunjukkan perasaanku. Dan aku juga sudah bilang padamu untuk membiasakan diri, kan?”

Bom menggerutu. “Molla!”

Seunghyun tertawa lagi. “Nikmati makan malammu. Jangan pulang malam-malam! Kalau jam sepuluh aku tahu kau masih di luar dan tidak bersama membermu, aku akan datang menyeretmu pulang.”

“Araso!” sahut Bom. “Aku tutup dulu.”

“Bom-ssi?”

Bom menoleh. Dilihatnya Shin Min Ah berdiri tidak jauh darinya. “Oh, Min Ah-ssi. Apa kabar?”

Shin Min Ah tersenyum. “Aku baik. Bagaimana denganmu? Kemarin-kemarin aku menanyakan kabarmu melalui Seunghyun karena tidak punya kontakmu, apakah ia menyampaikannya?”

Oh, rupanya pria itu tidak bohong, batin Bom.

Bom mengangguk. “Kau sendiri? Bagaimana kalau bergabung denganku?”

Shin Min Ah tersenyum lebar dan menarik kursi di hadapan Bom. “Terima kasih, Bom-ssi. Aku sebenarnya janjian dengan seseorang dekat sini, tapi ia ada urusan jadi aku kesini dulu. Kau juga sendiri?”

“Aku sebenarnya bersama memberku yang lain, tapi mereka masih mau belanja dulu di butik sebelah. Kami tadi habis ada pemotretan tidak jauh dari sini. Karena aku capek dan lapar, aku kesini dulu. Oh iya, kau mau memesan apa?” tanya Bom sambil memanggil pelayan.

Shin Min Ah membolak-balikkan menu. “Bom-ssi, kau memesan apa?”

“Aku memesan seafood tadi. Kudengar seafood di restoran ini sangat enak.”

“Hmm… tapi aku tidak suka seafood. Aku pesan yang ini saja kalau begitu,” ujar Shin Min Ah pada pelayan sambil menunjuk salah satu menu ayam bakar. Pelayan segera mencatat pesanannya dan pergi.

Bom terdiam. Apa, Shin Min Ah juga alergi seafood?

“Ada apa, Bom-ssi?” tanya Shin Min Ah melihat dahi Bom berkerut.

“Aniyo,” sahut Bom. Tapi kemudian ia memutuskan untuk bertanya. “Mmm… Min Ah-ssi, apa kau juga alergi seafood?”

“Juga?” Shin Min Ah mengernyitkan kening. Tak lama kemudian, ia tersenyum penuh arti. “Ah, maksudmu seperti Seunghyun? Tidak. Aku memang pada dasarnya tidak suka seafood sedari kecil, beda dengan Seunghyun yang alergi.”

Bom mengangguk-angguk. “Berarti klop ya, kalau makan,” gumamnya tanpa sengaja.

Shin Min Ah tersenyum lagi. “Kami tidak sering makan bersama. Lagipula, kami bersama tidak begitu lama, sekitar empat atau lima bulan.”

“Ah,” Bom menyadari kalau ia sudah mengusik area pribadi Shin Min Ah. “Aku tidak bermaksud mengusik kisah pribadimu, Min Ah-ssi. Tadi aku hanya keceplosan saja.”

“Tidak apa-apa. Kurasa aku memang harus menceritakannya padamu, Bom-ssi,” sahut Shin Min Ah. “Kami memang jarang bertemu apalagi makan bersama, karena kesibukan masing-masing. Lalu suatu hari Seunghyun jujur padaku mengenai nama ibunya dan dirimu, dan kami pisah baik-baik.”

Bom terdiam. “Maafkan aku,” ujarnya akhirnya.

“Untuk apa?” tanya Shin Min Ah bingung.

“Secara tidak langsung, aku yang membuat kalian berpisah,” sesal Bom.

Shin Min Ah tersenyum. “Aniyo. Dari awal juga ia tertarik karena namaku. Ia cerita itu padamu, kan?”

Bom mengangguk. “Tapi, pasti sulit untukmu, Min Ah-ssi, melepaskan orang yang dicintai.”

“Awalnya memang sulit, tapi lama-lama aku terbiasa juga. Mungkin kami memang tidak cocok bersama,” ujar Shin Min Ah. “Lagipula, siapapun yang berada di posisiku pasti bisa melepasnya dengan ikhlas. Melihat bagaimana ia sungguh-sungguh menyukaimu. Seunghyun menceritakan semuanya, bagaimana ia menyukai tawamu bahkan gerutuanmu.”

Bom terdiam mendengarnya.

“Terakhir aku bertemu dengannya, katanya hubungan kalian sudah semakin baik meski ia masih harus berusaha lagi. Kau sendiri, bagaimana, Bom-ssi?”

“Aku?”

Shin Min Ah mengangguk. “Bagaimana perasaanmu pada Seunghyun? Kalau dari yang kulihat ketika kita beberapa kali bertemu di agensimu, kalian memang sangat dekat dan melebihi teman.”

Bom menghela nafas. “Entahlah, aku juga bingung, Min Ah-ssi. Aku juga sadar kalau kami semakin dekat, tapi rasanya aneh ketika membicarakan perasaan. Maksudku, dia sering menggangguku dan kami sering berdebat kecil. Jadi, ketika sudah membicarakan perasaan aku jadi bingung.”

Shin Min Ah tersenyum. “Mungkin sebenarnya kau sudah mulai menyadari perasaanmu, tapi masih banyak bingung. Kalau perasaan dipikirkan dengan logika, mungkin sulit masuk akal. Tapi bukankah yang namanya perasaan itu untuk dirasakan dengan hati?”

Bom terdiam lagi. Mencerna ucapan Shin Min Ah.

“Unnie, makananmu belum datang?” tanya Chaerin yang tiba-tiba sudah datang di restoran. Di belakangnya ada Minji dan Dara.

“Oh, kau ada disini, Min Ah Unnie?” pekik Minji kaget. Membernya yang lain tertawa melihat Minji yang terkejut melihat idolanya.

“Anyeong, Minji-ah,” sapa Shin Min Ah sambil tersenyum.
****************************

Rumah Sakit Seoul.

“Ini Seunghyun kecil?” tanya Bom. Ia kini sedang berada di kamar rawat Ibu Seunghyun. Mereka sedang melihat-lihat foto kecil Seunghyun.

Ibu Seunghyun tersenyum lebar. “Ia sangat manis, bukan?”

Bom mengangguk. “Kyeopta…”

“Ya, Park Bom! Aku tahu dibalik wajahmu itu, kau berkata ‘mengapa ia yang manis bisa tumbuh menjadi orang seperti ini sekarang?’! Iya, kan?”

Bom tertawa kecil. “Memang.”

Seunghyun mendengus kesal. “Ah, benar-benar!”

Bom tertawa lagi, diikuti dengan tawa Ibu Seunghyun. Ketika membalikkan ke halaman berikutnya, Bom mengerutkan kening.

“Ini, bukannya rumahku?” tanyanya heran. Disitu terlihat Seunghyun sedang berfoto di taman depan rumahnya. Catnya pun sama.

Seunghyun menghampiri Bom, ikut melihat. “Benar, itu rumahmu. Bagaimana bisa aku berfoto disana?”

Ibu Seunghyun melihat foto itu sejenak. “Oh, itu rumah kami yang dulu. Setelah menikah, aku tinggal disana sampai Seunghyun berumur lima tahun. Rumah itu kemudian kami jual. Apa sekarang itu rumah Bom?”

Bom mengangguk, terpana juga dengan cerita Ibu Seunghyun. “Nenekku yang membelinya, lalu menyuruhku mengurusnya karena ia tinggal di Jinan.”

Seunghyun menjentikkan jarinya. “Pantas saja dari awal aku merasa familiar dengan rumah itu. Benar kan, Bom-ah? Memang ada hubungannya dengan rumah itu, aku tidak mengada-ngada.”

“Kau sudah pernah ke rumahnya?” tanya Ibu Seunghyun pada anaknya.

Seunghyun mengangguk. “Aku sering ke rumahnya. Makan, tidur. Seperti rumah sendiri.”

Ibu Seunghyun mengerutkan kening. “Bukankah kalian tidak berpacaran?”

Seunghyun tersenyum. “Memang belum, tapi dalam proses, Bu. Aku sedang berusaha,” bisiknya jenaka. Tapi didengar oleh Bom, yang hanya diam saja.

Ibu Seunghyun tersenyum mendengarnya.

“Ah, Bommie-ah. Kurasa, ini takdir. Kita bahkan terikat karena rumah itu, apa kau tidak merasa hal yang sama?” tanya Seunghyun sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Mwo? Takdir apanya?!”

“Tentu saja takdir! Aku tertarik dengan rumah itu dan ternyata rumah itu ada kaitannya denganku juga. Rumahku dulu ternyata dibeli oleh nenekmu dan dipakai olehmu. Bukankah itu takdir?”

Bom ingin mengomel, tapi diam saja mengingat ia ada di rumah sakit sekarang.

“Bahkan nanti kalau kalian menikah, kalian tidak perlu membeli rumah lagi,” ujar Ibu Seunghyun, ikut mendukung anaknya.

“Ajumma…,” rengek Bom. “Mengapa sudah membicarakan pernikahan? Itu masih sangat jauh.”

Seunghyun merangkul Bom. “Benar, Ibu. Pernikahan masih jauh, tapi aku sedang berusaha keras menjadikannya kekasihku. Kau harus terus mendukungku!”

“YA! Kau bahkan mengatakan hal seperti ini di hadapan ibumu?” gerutu Bom, merasa malu karena Seunghyun sangat terang-terangan bahkan di depan ibunya.

“Memangnya kenapa? Ibu sangat mendukungku,” ujar Seunghyun. “Begitu juga nenekmu.”

Ibu Seunghyun hanya tersenyum melihat perdebatan keduanya
***********************

Jinan. Beberapa hari kemudian.

Direktur Lee menatap gundukan tanah di hadapannya. “Kuharap kau masih menyukai mawar merah. Aku membawakan yang paling segar.”

Direktur Lee lalu meletakkan sebuket mawar merah di depan gundukan tanah itu. “Anak kita, ah, mungkin aku tidak berhak menyebutnya anak,” Direktur Lee menghela nafas. “Bom, tumbuh sangat cantik. Ia juga kuat dan hebat. Bahkan sebelum aku tahu kenyataannya, aku sudah senang padanya. Dan juga bangga.”

“Sekarang, setiap teringat padanya aku justru ingin mencekik diriku sendiri. Beribu penyesalan selalu menghampiri. Andai saja waktu itu aku tidak terbawa emosi dan memutuskan berpisah denganmu. Andai saja waktu itu aku menemuimu lagi. Dan berjuta andai lainnya.”

Direktur Lee menarik nafas, menahan airmatanya. “Ah, airmataku sudah akan turun lagi. Kurasa kau tidak akan senang setiap melihatku disini selalu menangis.”

Direktur Lee tersenyum. “Aku pergi dulu. Lain kali aku akan mengunjunginmu lagi.”

Direktur Lee berbalik, dan terbelalak kaget melihat siapa yang ada di belakangnya.

Bom, yang juga nampak kaget, menundukkan kepalanya sedikit. Memberi hormat.
*******************

Beberapa lama, keduanya hanya diam. Suasana hening, hanya terdengar suara daun berjatuhan di taman tempat mereka duduk sekarang. Musim gugur sudah tiba.

“Sejak kecil, aku sering ke taman ini. Ketika senang ataupun sedih, aku pasti kesini,” ujar Bom akhirnya. Memecah keheningan diantara mereka.

“Maafkan aku,” ucap Direktur Lee.

Bom menoleh, menatap Direktur Lee. “Aku tadi mendengar apa yang kau ucapkan pada Ibu. Mengapa kalian… berpisah?”

“Kami bertengkar hebat waktu itu,” Diektur Lee menerawang. “Karirku sedang mulai menanjak dan semakin jarang bertemu dengan Yoo Mi. Kemudian aku mengetahui ada pria lain yang mendekati Yoo Mi. Kami bertengkar karena itu. Aku marah karena Yoo Mi dekat dengan pria lain, dan Yoo Mi membantah serta kesal dengan aku yang kurang perhatian padanya.”

Bom hanya terdiam. Menyimak ucapan Direktur Lee.

“Masalah tidak selesai, dan kami berpisah dengan meninggalkan kemarahan masing-masing. Aku terlalu egois untuk menemuinya dan meminta maaf kembali. Ketika aku merasa benar-benar bersalah dan membutuhkan Yoo Mi, nenekmu bilang kalau Yoo Mi sudah ke Amerika. Setelah itu, aku sering ke Jinan sesekali. Berharap kalau saja bertemu dengannya di suatu tempat.”

“Karena itu kau tidak juga menikah? Karena kau menunggunya?” tanya Bom.

Direktur Lee menghela nafas. “Mungkin saja. Aku hanya merasa ingin bertemu sekali saja dengannya, meski itu untuk mendapat tamparan darinya. Aku ingin melihat bagaimana ia sekarang, dan apakah ia bahagia. Tapi aku malah melakukan kesalahan besar yang menyebabkan kau harus tumbuh tanpa orang tua,” Direktur Lee menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Jangan salahkan ibumu atas semua yang terjadi. Ini semua salahku. Ah, mungkin aku bahkan tidak berhak meminta maaf padamu,” ujar Direktur Lee lagi.

“Tidak apa-apa,” sahut Bom.

Direktur Lee mengangkat kepalanya. Menatap Bom tidak percaya.

“Tidak apa-apa. Mengetahui kalau selama ini kau menunggunya, itu lebih dari cukup. Setidaknya, aku mengetahui kalau orangtuaku saling mencintai meski telah melakukan hal yang salah. Tapi toh, aku tumbuh besar dengan baik. Kau juga melihatnya, kan? Banyak orang baik di sekelilingku,” Bom tersenyum.

“Bom-ah…,” ujar Direktur Lee tidak percaya.

“Meski semua ini sangat mengejutkan untukku, tapi kurasa ini lebih baik daripada tidak bertemu sama sekali dengan orangtuaku. Kurasa,” Bom memandang Direktur Lee. “Kurasa, menyenangkan juga memiliki orangtua.”

“Kau bertemu dengan orangtua yang tidak berguna sepertiku,” mata Direktur Lee berkaca-kaca. “Maafkan aku, Bom-ah.”

“Kau harus membayarnya dengan menjadi ayah yang baik untukku mulai sekarang,” Bom tersenyum. “Aku memaafkanmu…,”

“…ayah.”

Direktur Lee terbelalak kaget mendengar Bom memanggilnya ayah. Airmatanya turun.

Bom tersenyum. “Aigoo… apakah ayahku orang yang cengeng seperti ini?” ujarnya sambil mengusap airmata Direktur Lee dengan kedua ibujarinya.

Direktur Lee ikut tersenyum. Ia kini menyeka airmatanya.

“Terima kasih, Bom-ah.”
***************************

“Aku akan makan malam dengan ayahku nanti, Seunghyun-ah. Kau mau makan disini atau bagaimana? Bibi Taeri tidak ada, kalau kau mau nanti aku memasak dulu,” ujar Bom sambil mengganti-ganti channel tv.

Seunghyun yang duduk di sebelahnya berlagak mengeluh. “Sekarang setelah kau senang ada ayah, kau selalu meninggalkanku makan malam sendirian. Apa begitu menyenangkan punya ayah?” godanya.

“YA!” Bom melemparkan bantal sofa padanya. Seunghyun tertawa-tawa.

“Kau tidak usah memasak, Bom-ah. Lagipula nanti aku akan bertemu dengan Min Ah,” sahut Seunghyun, menunggu reaksi Bom. Tapi Bom hanya mengangguk-angguk, tidak seperti biasanya.

“Bukan ibuku, tapi maksudku Shin Min Ah,” lanjut Seunghyun, masih menunggu reaksi Bom. “Ia ternyata sudah pacaran dengan Lee Seunggi dua bulan ini. Malam ini aku akan makan malam dengan mereka dan beberapa teman lainnya.”

“Ya, kau kira aku bodoh? Tentu saja aku tahu, mana mungkin kau menyebut ibumu dengan namanya,” sahut Bom enteng.

“Hmm, apa ini? Kau hanya diam saja? Biasanya kau bertanya, atau setidaknya raut wajahmu berubah,” Seunghyun mengerutkan kening. “Kau tidak penasaran lagi dengan Min Ah?”

“YA! Memangnya siapa yang penasaran!” sahut Bom kesal. Seunghyun tertawa. “Kan sudah kubilang, raut wajahmu mudah dibaca. Memangnya kau kira aku tidak tahu kalau kau sering penasaran dengan Min Ah? Kau sering bertanya soal dia kalau aku membicarakannya. Sekarang tidak penasaran lagi?”

Bom mengangkat bahu.

“Mwo? Jawaban macam apa itu?” protes Seunghyun.

“Untuk apa aku penasaran lagi? Shin Min Ah sudah menceritakan semuanya padaku tentangmu,” sahut Bom enteng, matanya masih asyik menatap tv. “Shin Min Ah bilang kau menyukaiku. Kau juga berkali-kali bilang menyukaiku. Jadi apa yang harus kukhawatirkan?”

Seunghyun memandang Bom bingung. Baru kali ini ia merasa sulit menerka maksud Bom.

“Tunggu. Khawatir? Jadi, kau?” tanya Seunghyun bingung. “Bommie-ah, apa maksudnya?”

Bom menoleh, menatap Seunghyun. “Dulu, aku memang masih suka khawatir kau akan kembali dengan Shin Min Ah. Aku saja yang wanita merasa kalau ia sangat cantik, apalagi pria? Jadi aku sering berpikir kalau besar kemungkinan kau dan Shin Min Ah akan kembali lagi. Tapi karena sudah tahu yang sesungguhnya, aku jadi tidak khawatir lagi. Apa maksudku sudah jelas sekarang?”

Seunghyun terpana mendengarnya. “Tunggu… maksudmu… kau juga menyukaiku?”

“Apa selama ini kau tidak menyadarinya?” Bom membalikkan kata-kata Seunghyun waktu itu. “Aku sering memasak untukmu, memelukmu kalau kau sedih dan butuh kekuatan, bercerita padamu tentang semua masalahku, bahkan bertemu langsung dengan ibu kandungmu. Apa menurutmu, teman biasa ada yang seperti itu?”

Seunghyun tercekat mendengarnya. “Bommie-ah…”

“Sama sepertimu, aku juga memutuskan untuk menunjukkan perasaanku,” Bom tersenyum lebar. “Aku menyukaimu, Seunghyun-ah.”

Seunghyun langsung memeluk Bom erat. Ia tersenyum lebar. “Terima kasih, Bommie-ah. Ah, akhirnya. Aku sangat lega sekarang.”

Bom ikut tersenyum. Beberapa saat kemudian, Seunghyun melepaskan pelukannya. “Bommie-ah, kurasa rasa sukaku padamu sudah meningkat.”

Bom mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Karena kurasa, aku mencintaimu,” ujar Seunghyun sambil tersenyum. Wajah Bom langsung memerah mendengarnya.

“Ah, menyenangkan sekali melihat wajahmu merah seperti ini. Kau terlihat lebih cantik,” ujar Seunghyun seraya mengusap pipi Bom lembut. Bom hanya diam, tak tahu harus berkata apa.

Perlahan, Seunghyun mendekatkan wajahnya pada Bom. Bom masih diam, tapi tidak juga menghindar. Jarak mereka semakin dekat.

“Unnie! Kau punya makanan tidak? Aku sangat lapar!” terdengar teriakan Minji dari ruang tamu.

Seunghyun dan Bom langsung menjauh. Mereka tidak menyadari kalau Minji masuk rumah. Para member 2NE1 memang mengetahui password rumah Bom karena sering main disitu.

“Ups!” ujar Minji begitu melihat keadaan. “Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat.”

“Baguslah kalau kau sadar!” gerutu Seunghyun. Bom hanya tertawa kecil melihat Seunghyun yang kesal.

“Tapi tunggu,” Minji juga baru menyadari sesuatu. “Kalian… sudah berkencan sekarang?”

Seunghyun dan Bom saling pandang geli, lalu menatap Minji dan mengangkat bahu.

“Omo!” Minji menutup mulutnya, kaget. “Aku harus segera memberitahukannya pada yang lain!”

Minji segera sibuk dengan ponselnya, lupa dengan keinginannya minta makan pada Bom. “Unnie, daebak!”

Seunghyun dan Bom tersenyum geli memandangnya.

“Bom-ah,” ujar Seunghyun. Bom menoleh.

“Kurasa, kau harus mengganti password rumahmu,” bisik Seunghyun. Bom tertawa kecil mendengarnya. “Akan kupikirkan.”

“Unnie, kata Chaerin Unnie kau tidak boleh mengganti password rumahmu!” teriak Minji dari ruang tamu.

Bom memandang Seunghyun, yang langsung kesal. “Ah, baru berkencan saja sudah terhalangi begini! Kini aku merasakan bagaimana penderitaan Jiyong!”

Bom tertawa. Sementara Minji masih sibuk dengan ponselnya, menghubungi para membernya.

“Sebentar lagi, rumah ini akan penuh dengan teriakan Dara dan ceramah Chaerin. Bersiaplah,” ujar Bom.

Seunghyun menggenggam tangan Bom. “Tenang saja. Hal itu bukan masalah besar buatku,” sahutnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

-END-
_____________________________________________________________________

akhirnya selesai juga FF ini :) makasih makasih banyak yaaa yang udah bacain dari awal, makasih juga yang udah komen :D 
dan silakan dikomen part terakhir ini.

terima kasih, readers :)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar