Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 14



cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan cerita, alur, lokasi, cuma kebetulan yang tidak disengaja :D

happy reading dan jangan lupa kasih komennya yaaa :D
________________________________________________________________________

Seunghyun menatap Bom lekat, seolah mencari kekuatan. Ia menghela nafas, sampai akhirnya memutuskan untuk mengatakannya.

“Ibuku. Dia mencariku.”

Bom terdiam mendengarnya. Butuh waktu beberapa saat untuk mencerna ucapan Seunghyun. Ibunya? Bukankah ia bilang orangtuanya sudah tidak ada?

“Benar. Selama ini kupikir orangtuaku memang sudah tidak ada,” Seunghyun menghela nafas. “Tapi ternyata hari seperti ini datang, yang tidak pernah terbayangkan olehku”

Bom kaget mendengar ucapan Seunghyun. Mengapa pria ini sering bisa membaca pikirannya?

Seunghyun tersenyum melihat Bom. “Ekspresi wajahmu sangat transparan, tahu? Tentu saja aku mengetahui apa yang ada di pikiranmu.”

“YA!” seru Bom. Ia lalu berdehem, menyadari kalau ini waktu yang tidak tepat untuk marah-marah. “Lalu, bagaimana denganmu?”

Seunghyun menerawang. “Entahlah.”

“Kau…,” ucap Bom hati-hati. “… senang?”

Seunghyun menatap Bom. “Apa… aku seharusnya senang sekarang?”

Bom terdiam. Lalu mengangkat bahu. “Aku belum pernah merasakan di posisimu, Seunghyun-ah.”

Seunghyun mengangguk-angguk.

“Tapi mungkin… kalau aku mengalami itu, aku akan merasa senang. Meski itu hanya sedikit,” sambung Bom.

Seunghyun menatap Bom lagi. Lama, dan kali ini tidak ada yang berkata-kata di antara mereka.

“Mmm…,” Bom memutuskan untuk bicara lagi, memutus keheningan di antara mereka. “Sebenarnya aku juga tidak tahu, Seunghyun-ah. AAhh, aku benar-benar teman yang tidak berguna, ya? Ketika kau berada dalam situasi seperti ini, aku malah tidak bisa memberikan pendapatku sendiri,” ucap Bom, merasa bersalah. Namun yang diucapkannya memang benar, ia juga tidak mengerti karena ia sendiri belum pernah bertemu dengan kedua orangtuanya.

Seunghyun mengusap kepala Bom pelan. “Pabo[1]. Kau berada disini sekarang sudah lebih dari cukup. Tidak perlu melakukan apa-apa lagi.”

Bom mengangguk-angguk.

Seunghyun tersenyum geli melihatnya. “Ya, memang kau mengerti apa yang aku ucapkan?”

“Tentu saja! Di saat seperti ini, ada orang yang menemani jauh lebih baik daripada sendiri, kan?” ujar Bom sambil tersenyum lebar.

Seunghyun tertawa kecil. “Benar juga, meski kurang tepat.”

“Mwo? Di saat seperti ini kau masih berlagak seperti senior?” Bom berlagak memberenggut. Seunghyun tertawa lagi.

“Mmm…, kalau begitu, sekarang kau istirahatlah. Mungkin dengan tidur, pikiranmu bisa sedikit lebih tenang,” ucap Bom kemudian. Seunghyun mengerutkan kening.

Bom menepuk bahu Seunghyun. “Tenang saja. Hari ini pengecualian, aku tidak akan bilang Chaerin. Kau aman,” bisik Bom sambil mengedipkan sebelah matanya.

Seunghyun tersenyum. “Gomawo.”
*********************

Seunghyun berjalan menuruni tangga ketika didengarnya ada suara-suara berisik di dapur. Ia sudah rapi, seperti hendak pergi.

“Oh, kau sudah bangun?” seru Bom dari dapur. Seunghyun mengerutkan kening. “Sedang apa kau pagi-pagi begini sudah berisik di dapur?”

Bom mengangkat bahu, lalu membawa piring berisi lauk ke meja makan.

“Tunggu, kau…,” Seunghyun menahan senyumnya. “Memasak?”

“Memangnya aku terlihat sedang memancing?” sahut Bom. Ia lalu menarik kursi meja makan. “Cepat sini. Aku membuat makanan enak untukmu!”

Seunghyun segera duduk sambil tersenyum lebar. “Kau sungguh-sungguh memasak?”

“Tentu saja! Kau akan ketagihan setelah merasakan ini,” Bom mengambil masakan di meja dengan sumpit, lalu menyuapkannya pada Seunghyun. “Bagaimana?”

Seunghyun mengunyah sebentar, tapi kemudian menundukkan wajahnya.

“Kenapa? Apa sangat buruk?” tanya Bom khawatir.

Perlahan, Seunghyun mengacungkan ibu jarinya. Ia lalu tersenyum lebar. “Park Bom, jjang!”

“YA! Itu tidak lucu!” seru Bom, kesal menyadari Seunghyun mengusilinya.

“Memang siapa yang bilang lucu?” Seunghyun segera mengambil masakan buatan Bom dan ditaruh di mangkuknya. “Ini benar-benar menakjubkan! Ya, lain kali kau juga harus membanggakan masakanmu, bukan cuma masakan nenekmu!”

Bom tersenyum mendengarnya. “Benar enak?”

“Tentu saja! Memangnya untuk apa aku bohong?” sahut Seunghyun sambil terus makan.

Senyum Bom makin lebar. “Ah, aku lega. Kalau begitu, makanlah yang banyak. Orang harus makan banyak supaya punya energi yang kuat.”

Seunghyun mengangguk-angguk. “Tapi, mengapa tiba-tiba kau memasak? Kupikir tadi Bibi Taeri yang sedang masak.”

“Untuk memberimu semangat,” ujar Bom.

Seunghyun menghentikan gerakan sendoknya. Ia lalu menatap Bom lekat. Bom jadi agak salah tingkah ditatap seperti itu.

“Mmm…, kau tahu kan aku tidak bisa memberikan solusi atau bahkan pendapat untuk masalahmu. Jadi kupikir, mmm, aku hanya bisa memasak. Maksudku, aku ingin mendukungmu dengan ini, karena… aku tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan.”

Seunghyun tersenyum lebar. “Terima kasih, Bommie-ah. Ini dukungan yang sangat berarti dan besar untukku.”

Bom tersenyum kikuk, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Aahh, entah mengapa aku jadi malu setelah mengatakannya.”

Seunghyun tertawa kecil melihatnya. “Ya, mengapa harus malu? Aku merasakan ketulusanmu melalui makanan ini.”

“Oh iya, aku memutuskan untuk menemuinya,” ucap Seunghyun lagi. Bom menurunkan kedua telapak tangannya. “Benarkah? Ibumu?”

Seunghyun mengangguk. “Aku sudah memikirkannya semalaman, dan semakin banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalaku. Dan itu membuatku sangat tersiksa. Jadi daripada aku terus disiksa oleh pertanyaan-pertanyaan itu, lebih baik aku menemuinya langsung dan menanyakan semua itu padanya,” ujar Seunghyun panjang lebar.

Bom terdiam melihatnya. Ia tahu, dibalik kelancaran ucapan Seunghyun pasti pria itu sangat gugup. Siapa yang tidak gugup, akan melihat sosok ibu yang selama ini tidak pernah ditemuinya?

Bom lalu menggenggam tangan Seunghyun hangat. “Kau akan melakukannya dengan baik,” ujarnya seraya tersenyum.

Seunghyun ikut tersenyum. “Aku pasti akan melakukan dengan baik, kan?” ulangnya. Bom mengangguk.

“Kapan kau akan menemuinya?” tanya Bom.

“Setelah ini,” Seunghyun meletakkan kedua sumpitnya di sebelah mangkuknya yang sudah kosong. “Terima kasih makanannya, itu sangat memberiku energi!” seru Seunghyun sambil bangkit.

Bom ikut bangkit dan tersenyum lebar mendengarnya. “Sekarang kau akan pergi menemuinya?”

Seunghyun mengangguk. Bom terdiam. Apa aku perlu menemaninya?

Seunghyun tersenyum. “Aku sendiri saja, kau tidak perlu menemaniku.”

Bom terbelalak mendengarnya.

“Sudah kubilang kan, ekspresi wajahmu itu transparan!” seru Seunghyun seraya tertawa kecil.

Bom mendengus. “Araso!”

Seunghyun berjalan mendekati Bom. “Aku tidak mau kau melihat hal memalukan nanti, seperti misalnya tangisan,” jarak Seunghyun dan Bom semakin dekat. Bom menunggu apa kelanjutan ucapan Seunghyun.

“Tapi, kurasa aku membutuhkan lebih banyak kekuatan,” sambung Seunghyun, lalu memeluk Bom erat. Bom kaget dengan pelukan tiba-tiba Seunghyun itu. “Se-Seunghyun-ah, apa yang kau lakukan?”

Pelukan Seunghyun semakin erat. “Sebentar saja, biarkan begini. Aku sedang mengumpulkan kekuatan.”

Bom hanya terdiam mendengarnya. Dadanya berdegup kencang. Namun ia mengerti kalau Seunghyun sungguh-sungguh butuh kekuatan sekarang. Ia lalu menggerakkan tangannya dan mengusap lembut punggung Seunghyun.

Beberapa saat kemudian, Seunghyun melepaskan pelukannya. Ia tersenyum lebar. “Aku pasti akan melakukannya dengan baik.”

Bom mengangguk. Seunghyun lalu melambaikan tangannya. “Aku pergi dulu.”

Bom juga melambaikan tangannya dan menatap kepergian Seunghyun sampai pria itu keluar pintu rumah.

Sepeninggal Seunghyun, Bom menatap kedua tangannya. “Apa yang telah kulakukan?”
***************

Rumah Sakit Seoul.

Seunghyun terdiam sejenak di depan sebuah ruangan rumah sakit. Ia menghela nafas beberapa kali. Sampai akhirnya kemudian ia memutuskan untuk membuka pintu itu.

“Oh, Seunghyun-ah. Kau sudah datang?” sapa Bibi Seunghyun yang sudah ada di ruangan itu terlebih dahulu. Seunghyun mengangguk pendek, masih belum berani melihat orang yang ada di ranjang pasien.

Bibi Seunghyun segera bangkit dan berkata pada orang yang ada di ranjang pasien. “Aku pergi dulu, Yoon Min Ah-ssi.”

“Terima… kasih,” sahut orang itu, lemah. Tubuh Seunghyun bergetar.

Itu, suara ibuku.

Bibi Seunghyun pun melewati Seunghyun dan tersenyum padanya. Wanita itu menepun bahu Seunghyun pelan, lalu keluar dari ruangan itu.

“Se-Seung… hyun-ah…,” panggil orang itu.

Seunghyun termangu. Itu, suara ibuku.

“Se-Seunghyun-ah…,” panggil orang itu lagi.

Perlahan, Seunghyun menoleh. Dilihatnya seorang wanita paruh baya sedang terbaring di ranjang pasien tersenyum tipis padanya.

Itu, ibuku.

Seunghyun perlahan berjalan dan duduk di bangku samping ranjang pasien. Perlahan pula, tangan Ibu Seunghyun bergerak dan menggenggam tangan Seunghyun.

“Seung…hyun-ah… mianhe… mianhe…”
*************************

“Jangan lupa untuk makan. Aku sering dengar para selebriti diet ketat untuk menguruskan badan. Kau hanya perlu olahraga yang lebih sering,” ujar Nenek Bom di seberang sana, ketika percakapan mereka akan berakhir.

Bom mengeluh. “Kan Nenek tahu aku tidak suka olahraga.”

“Karena itu aku menyuruhmu! Olahraga itu bukan hanya untuk mendapat tubuh yang bagus, tapi juga tubuh yang sehat. Kau lihat kan sampai sekarang aku masih sehat? Aku sangat rajin olahraga sejak muda, tidak seperti kau,” Nenek Bom mengomel panjang pendek.

“Iya, Nek, iya,” sahut Bom malas, tidak ingin mendengar neneknya mengomel lebih panjang lagi.

“Oh iya, Bom-ah,” ujar Nenek. “Kau, apa ada pikiran untuk meninggalkan agensimu?”

Bom langsung mengerutkan kening mendengar pertanyaan pelan neneknya itu. “Apa?”

Nenek Bom berdehem. “Aku tahu kau sangat suka menyanyi, tapi agensi yang bisa mendukung jalanmu menyanyi bukan hanya agensimu sekarang, kan?”

Bom terdiam beberapa saat, mencoba mencerna perkataan neneknya. “Maksud Nenek, aku pindah dari agensiku? Mengapa?”

Kini Nenek Bom yang terdiam. “Tidak apa-apa, Bom-ah. Aku hanya terlintas saja hal itu,” sahut Nenek Bom kemudian.

Bom menggeleng. “Tidak, tidak. Pasti ada sesuatu. Sebenarnya ada apa, Nek? Apa ada agensi lain yang menawarkan pada Nenek?”

“Bukan begitu, Bom-ah. Sudah kubilang aku hanya terlintas saja,” elak Nenek Bom. Lalu terdengar suara orang masuk di rumah Nenek Bom. “Ada Nyonya Kim datang, kami mau belanja bersama. Aku tutup dulu, ya.”

Bom menganguk, meski sebenarnya masih terpikir soal ucapan neneknya. “Hati-hati, Nek!”

Setelah menutup telepon, Bom masih memikirkan apa yang diucapkan neneknya tadi.

Kenapa? Apa memang ada agensi lain yang meminta Nenek membujukku untuk pindah? Tapi selama ini Nenek tidak pernah ikut campur soal agensi atau kontrak, kenapa sekarang tiba-tiba? Ada apa?

“Ya, mau berapa lama lagi kau mengerutkan kening dan memasang wajah seperti itu?” tegur Seunghyun yang baru datang menuruni tangga dari ruang tamu.

Bom menoleh, kaget. “Oh?? Kau sudah datang? Sejak kapan?”

Seunghyun berjalan ke arah sofa dan duduk di sebelah Bom. “Baru saja. Apa kau ada masalah?”

Bom menggeleng lalu tersenyum. “Bukan suatu hal yang besar. Kau bagaimana? Ibumu?” tanya Bom antusias.

“Berjalan baik,” sahut Seunghyun pendek.

“Mwoya? Jawaban macam apa itu? Ceritakan padaku apa saja yang kalian lakukan!”

Seunghyun tersenyum kecil. “Tidak ada.”

Bom mengerutkan kening. “Tidak ada? Tapi kau bertemu dengannya?”

Seunghyun mengangguk.

Bom terdiam, menunggu Seunghyun berbicara.

“Dia… ibuku…, memegang tanganku erat sambil menyebut namaku berulang kali. Ia juga mengucapkan maaf berkali-kali. Aku… tidak melakukan apa-apa,” mata Seunghyun berkaca-kaca.

Bom menggenggam erat tangan Seunghyun. “Kau sudah melakukannya dengan baik. Menemuinya saja untuk saat ini sudah sangat baik.”

“Aku, hanya menangis tanpa suara melihatnya. Sampai kemudian aku pulang, tidak ada sepatah kata pun yang kukatakan,” ujar Seunghyun dengan suara bergetar.

Tangan kanan Bom mengusap-usap bahu Seunghyun. “Semua ada waktunya, biarkan saja mengalir.”

Air mata Seunghyun langsung menetes. Pria itu segera menghapusnya. “AAhh, memalukan! Aku benar-benar tidak ingin menangis di hadapanmu.”

“Pabo. Justru aneh kalau kau tidak menangis di saat seperti ini,” ujar Bom sambil tersenyum.

Tiba-tiba, Seunghyun memeluk Bom erat. “Aku benar-benar tidak mau kau melihat airmataku. Jadi lebih baik begini.”

Bom, yang kaget dengan kelakuan Seunghyun yang tiba-tiba lagi, hanya diam. Tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia hanya diam, membiarkan pria itu menangis tanpa dilihat olehnya.
*****************

Rumah Sakit Seoul.

Yoon Min Ah tersenyum begitu melihat Seunghyun membuka pintu dan memasuki ruangannya. Pria itu membawa sebuket bunga mawar dan meletakkannya di meja samping ranjang pasien.

“Mmm,” Seunghyun mengusap kepalannya yang tidak gatal. “Aku tidak tahu apakah kau menyukai mawar, tapi tadi kupikir bunga ini cantik jadi kubawa.”

Senyum Yoon Min Ah semakin lebar. “Terima… kasih.”

Seunghyun lalu duduk di kursi samping ranjang pasien. “Apa keadaanmu sudah membaik?”

Yoon Min Ah mengangguk. “Jauh lebih baik… setelah melihatmu.”

Seunghyun terdiam mendengarnya. Ia menunduk perlahan.

“Mianhe… Seunghyun-ah,” Yoon Min Ah menatap dalam putra satu-satunya itu. “Seharusnya… aku segera kembali… begitu semuanya selesai.”

Seunghyun mengangkat kepalanya. Meminta penjelasan atas apa yang diucapkan wanita di hadapannya itu.

“Dulu… aku menitipkanmu pada Suster Choi Ji Soo… karena keadaan sangat sulit,” Yoon Min Ah menghela nafas. “Ayahmu ditipu dan mengharuskan kita sekeluarga berurusan dengan renternir. Ayahmu, pria itu… bahkan tidak sanggup menanggung semuanya dan meninggal karena stress.”

Seunghyun tercekat. Satu cerita tentang ayahnya, yang membuatnya kaget bukan kepalang dan tidak tahu harus berkata apa.

“Waktu itu… aku memutuskan untuk menyelesaikan urusan dengan mereka. Tapi kau masih terlalu kecil… aku sangat ingat kau masih tujuh tahun… dan aku tidak mungkin membawamu bersamaku karena terlalu bahaya… jadi aku… menitipkanmu pada Suster Choi Ji Soo…Uhuk…Uhuk…,” Yoon Min Ah terbatuk-batuk. Mungkin karena terlalu banyak berbicara.

Seunghyun segera memberikan air putih dan membantu Yoon Min Ah meminumnya perlahan. Setelah menaruh kembali gelasnya, Seunghyun menggenggam tangan ibunya erat.

“Hari ini, sampai sini saja dulu. Besok aku akan datang lagi, dan lanjutkan lagi,” ujar Seunghyun. Yoon Min Ah menatapnya berkaca-kaca.

“Sekarang istirahatlah… ibu.”
***********************

“Aku sekarang mau ke rumah sakit, Nek. Mau menjenguk ibunya Seunghyun,” ujar Bom seraya menoleh pada Seunghyun yang konsentrasi pada jalan. Seunghyun menoleh sebentar. “Nenekmu?”

Bom mengangguk.

“Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan pada Nenek,” ujar Bom lagi pada neneknya di seberang sana.

“Begitu? Baiklah, aku menunggu ceritamu,” sahut Nenek Bom.

“Oke, Nek!”

“Bom-ah,” ujar Nenek pelan. Ia menghela nafas.

“Oh? Kenapa, Nek?” tanya Bom.

“Kau… benar-benar akan di agensi itu terus?”

Bom mengerutkan kening. Masalah agensi lagi?

“Nenek, sebenarnya ada apa? Ada yang kau sembunyikan dariku, kan?” Bom balik bertanya. Seunghyun menoleh begitu mendengar Bom bertanya seperti itu.

“Tidak, Bom-ah. Hanya saja, kau tidak mungkin selamanya di agensi itu, kan?” ujar Nenek Bom di seberang telepon.

“Tentu saja, Nek. Bahkan aku tidak akan selamanya jadi idol. Ada saat dimana aku akan terlalu tua untuk itu,” sahut Bom.

“Aniya, aniya. Bukan itu maksudku.”

“Lalu? Maksud Nenek apa? Nek, apa benar-benar ada agensi lain yang berbicara pada nenek?” selidik Bom. Seunghyun mengerutkan kening mendengarnya.

“Bukan begitu, Bom-ah,” sahut Nenek Bom.

“Lalu ada apa sebenarnya?”

“Hanya saja…,” ucapan Nenek Bom terpotong karena beliau batuk-batuk.

“Nek? Apa Nenek sakit?” tanya Bom khawatir.

“Tidak,” jawab Nenek Bom begitu batuknya mereda. “Oh iya, kau mau menjenguk ibunya Seunghyun, kan? Sampaikan salam Nenek untuk dia, ya.”

“Iya, Nek. Tapi, apa Nenek benar baik-baik saja?” Bom masih khawatir.

“Tidak apa-apa. Aku hanya kena flu karena kemarin kehujanan. Aku tutup dulu.”

Ponsel Bom terputus. Bom terdiam, masih memikirkan neneknya.

“Ada apa dengan nenekmu?” tanya Seunghyun sambil terus berkonsentrasi pada jalan.

Bom menggeleng. “Entahlah, kurasa Nenek aneh, Seunghyun-ah. Dari kemarin, ia terus membicarakan soal agensi lain, atau pindah agensi.”

“Pindah agensi?”

“Iya. Aku jadi khawatir terjadi sesuatu pada Nenek. Ia tidak pernah ikut campur soal agensi sebelumnya, katanya terserah saja padaku. Dan tadi, Nenek sepertinya sedang tidak sehat. Apa dia sakit?”

Seunghyun melepas tangan kanannya dari kemudi dan menggenggam tangan Bom erat. “Jangan khawatir, nenekmu pasti baik-baik saja. Setelah ini, ayo kita kunjungi Nenek!”

Mata Bom membesar. “Ke Jinan? Benarkah?”

“Tentu saja! Besok juga kita tidak ada jadwal, kan?”
*********************

Rumah Sakit Seoul.

Seunghyun memasuki kamar rawat ibunya, diikuti Bom. Bom kemudian meletakkan keranjang berisi buah di meja. “Anyeong haseyo, saya Park Bom.”

Yoon Min Ah tersenyum melihat Bom. “Kau… sangat cantik. Sudah berapa lama… pacaran dengan Seunghyun?”

Bom langsung menggeleng. “Bukan seperti itu, Ajumma. Aku temannya Seunghyun.”

Yoon Min Ah kemudian menoleh pada Seunghyun. Seunghyun hanya tersenyum.

“Aku… Yoon Min Ah,” Yoon Min Ah mengulurkan tangannya, yang segera disambut Bom “Aku senang… Seunghyun memiliki teman sepertimu.”
****************************

“Lalu, selama ini ibumu bekerja untuk melunasi hutang-hutang itu?” tanya Bom. Ia dan Seunghyun sedang dalam perjalanan ke rumah Nenek Bom, dan sudah memasuki Jinan.

Seunghyun mengangguk. “Ketika mencariku lagi ke panti asuhan, panti asuhannya sudah tidak ada. Panti asuhan kami memang pernah terbakar ketika aku berusia lima belas tahun, dan kami pindah dari situ.”

“Lalu, apa yang membuat ibumu ada di rumah sakit?”

“Uangnya dicuri, dan ia melawan. Pencuri itu ternyata membawa pisau dan menusuk ibuku. Tusukan itu mengenai organ penting jadi pemulihannya cukup lama. Jang Bong Go Ajussi yang tidak sengaja menemukannya dan membawa ke rumah sakit.”

“Oh, Ajussi yang bertemu dengan kita ketika kita mau pulang?”

Seunghyun mengangguk.

“Ajussi itu tampak sangat baik,” ujar Bom. Seunghyun mengangguk lagi. “Kurasa aku sangat berhutang pada Ajussi itu.”

“Ah, aku terpikir sesuatu. Nama ibumu Yoon Min Ah, kan?”

Seunghyun mengangguk.

Bom mengerutkan kening. Nama belakangnya sama dengan Shin Min Ah, apa …

“Iya, aku memang tertarik dengan Shin Min Ah karena punya nama yang sama dengan ibuku. Aku pernah diberi tahu oleh Bibi siapa nama ibuku, dan tanpa kusadari nama itu terus melekat di kepalaku.”

Bom menatap Seunghyun lekat. “Seunghyun-ah, apa kau bisa ilmu sihir? Mengapa selalu bisa membaca pikiranku?”

Seunghyun tertawa. “YA! Mana ada hal yang seperti itu? Aku memang bisa menebak jalan pikiranmu, dari raut wajahmu itu.”

“Mwoya?” Bom memberenggut, tapi kemudian bertanya lagi. “Lalu, itu alasan mengapa kau memutuskan berpisah dengannya?”

Seunghyun mengangguk. “Kurasa tidak baik menyukai seseorang karena orang lain, dan tidak adil juga untuknya. Maksudku, apa kau mau disukai karena namamu sama dengan nama orang lain?”

Bom menggeleng. “Tentu saja tidak ada yang mau.”

“Karena itu, hal itulah menjadi salah satu alasan kami berpisah. Untungnya Min Ah mengerti.”

“Salah satu? Ada alasan lain?”

Seunghyun menoleh pada Bom dan menatapnya beberapa saat. “Kau benar-benar tidak menyadarinya?”

Bom mengerutkan kening. “Apa?”

“Aku menyukaimu. Itulah alasan pertama mengapa aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Min Ah. Karena aku menyadari kalau aku menyukaimu. Apa selama ini, kau tidak menyadarinya?”

Bom terpana mendengarnya. Ia tidak menyangka Seunghyun akan mengatakan itu, dan setelah mendengarnya ia jadi bingung apa yang harus ia lakukan. Kini di antara mereka tidak ada yang bersuara. Seunghyun juga jadi serba salah dan hanya menatap ke jalan.

Sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah Nenek Bom. Seunghyun mengerutkan kening. “Oh? Nenekmu sedang ada tamu lagi?”

Bom ikut melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman depan rumah Neneknya. “Bukankah itu mobil Direktur Lee?”

Seunghyun menoleh pada Bom dan mengerutkan kening. Bom segera turun dari mobil, diikuti Seunghyun. Mereka berdua berjalan menuju pintu rumah Nenek Bom yang terbuka.

“Mengapa kau ingin Bom keluar dari agensiku?” tanya Direktur Lee. Wajahnnya sangat tegang. Bom dan Seunghyun yang baru sampai hanya terpaku mendengarnya, sementara kedua orang itu tidak menyadari ada orang lain.

“Bom cucuku, jadi aku berhak menyuruhnya keluar dari agensimu,” jawab Nenek Bom. Wajahnya tak kalah tegang.

“Apa…,” Direktur Lee menyipitkan matanya. “Bom itu anakku?”

Mata Bom terbelalak mendengarnya. Seunghyun langsung menoleh kaget pada Bom, dan didapatinya wajah gadis itu pucat pasi.

“Nenek…”




[1] Bodoh

________________________________________________________________
ditunggu komen, kritik dan sarannya yaa readers :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar