Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 13



Cerita ini hanya fiktif belaka :) semua tokoh dan situasi minjem doang hehe.

happy reading, dan jangan lupa komennya yaa readers :D
________________________________________________________________

Seunghyun memegang kemudinya, dengan tangan kirinya masih sibuk menekan ponselnya. Dari tadi ia mencoba menghubungi Bom, tapi tetap tidak menyambung.

“Oh, Minji-ah,” Seunghyun menoleh begitu melihat Minji yang memasuki studio. “Kau bawa apa?”

Minji menyerahkan tempat makan itu pada Seunghyun. “Bom Unnie menyuruh memberikan ini padamu, Oppa. Katanya, Bibi Taeri yang membuatnya.”

Seunghyun tersenyum dan menerima tempat makan itu. “Terima kasih, Minji-ah.”

“Oppa, Unnie, shooting kalian sudah selesai?”

“Untuk hari ini, selesai. Adegan lainnya diambil di taman depan, mungkin akan dilakukan besok,” jawab Shin Min Ah.

“Ah ya, mana Bom sekarang?” tanya Seunghyun.

Minji terdiam. Ia tampak berpikir, lalu menatap Seunghyun. “Oppa, kurasa Bom Unnie agak aneh.”

Seunghyun mengerutkan kening, begitu juga dengan Shin Min Ah.

“Tadi, Bom Unnie berjalan dengan sangat cepat dan mengomel sendiri. Ia bilang,” Minji menghentikan ucapannya, lalu menatap Seunghyun dan Shin Min Ah bergantian. “Unnie bilang, ia mau ke Jinan?”

“Jinan?!” seru Seunghyun kaget.

“Jinan?” Shin Min Ah heran. Seunghyun menoleh padanya. “Nenek Bom tinggal disana. Minji-ah, apa terjadi sesuatu dengan Nenek Bom?”

Minji menggeleng. “Kurasa tidak. Kurasa, terjadi sesuatu dengan Unnie. Kau tahu kan Oppa, mmm, yang kemarin itu,” ucap Minji ragu-ragu. Disitu ada Shin Min Ah, tentu saja tidak mungkin ia bilang.

Seunghyun langsung mengerti. Ia berkata pada Shin Min Ah. “Min Ah-yah, kurasa aku harus pergi sekarang.”

Shin Min Ah mengangguk dan tersenyum.

Seunghyun mengusap kepalanya gusar. “AAhh, Park Bom! Kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh, kan?”

Seunghyun menekan ponselnya lagi. “Dara Noona? Apa kau punya nomor telepon Nenek Bom?”
****************

Bom duduk di bangku taman, dengan kepala mendongak ke atas. Ia memejamkan matanya, merasakan hembusan angin. Ia kemudian mengangkat tangannya.

“Ah, sudah lama sekali aku tidak kesini,” gumamnya. Ia lalu melihat bunga-bunga sakura yang sedang mekar-mekarnya. “Cantiknya …,”

Bom lalu terdiam. “Ah, ingat cantik aku jadi ingat Shin Min Ah. Benar, ia memang sangat cantik. Aku saja yang wanita mengakui hal itu. Jadi sangat wajar kalau mereka kembali lagi.”

Bom mengerutkan kening. “Tapi, ia kan sudah ratusan kali bilang kalau masa lalu hanya masa lalu! Pria kan harus memegang ucapannya! Tapi apa ini, sudah kubilang kan pasti ia akan menyukai gadis itu lagi,” Bom menghela nafas. “Tentu saja, gadis itu sangat cantik. Apapun yang ia lakukan, sangat cantik.”

“YA, kau jauh-jauh datang ke Jinan untuk bicara dengan pohon?!”

Bom tersentak kaget. Ia menoleh, dan lebih kaget lagi mendapati Seunghyun sudah ada di belakangnya.

“Ya, apa yang kau lakukan disini?” tanya Bom, masih kaget.

Seunghyun duduk di sebelah Bom. “Lalu apa yang kau lakukan disini?”

“YA! Aku yang bertanya duluan!” Bom bersungut-sungut.

“Melihatmu marah-marah, seharusnya kau baik-baik saja,” Seunghyun meletakkan tangannya di kening Bom. “Memang baik-baik saja.”

“Memang kau pikir aku kenapa?” tanya Bom heran.

“Bommie-ah, kalau memang kau masih tertekan dengan kejadian kemarin, kenapa tidak bilang?” Seunghyun malah balik bertanya. Wajahnya sangat khawatir.

“Kejadian kemarin?” Bom mengerutkan kening.

“Aku tahu kau sangat shock dengan situasi kemarin, tapi kenapa kau tidak cerita? Setidaknya mungkin aku bisa melakukan sesuatu,” ujar Seunghyun.

“Ah,” Bom baru memahami apa yang dibicarakan Seunguhyun. Ia lalu menggeleng cepat. “Aku tidak tertekan atau apapun. Kemarin itu aku memang kaget, tapi sudah tidak apa-apa lagi tadi pagi.”

Seunghyun mengerutkan kening. “Benarkah? Lalu kenapa kau tiba-tiba ke Jinan? Bahkan nenekmu juga baik-baik saja.”

“Aku…,” Bom agak gelagapan. Ia juga jadi tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba ke Jinan. Ia tadi merasa sangat marah, tapi tidak mungkin ia bilang seperti itu pada Seunghyun.

“Ehm,” Bom berdehem pelan. “Aku hanya sedang ingin kesini, refreshing saja. Sudah lama juga aku tidak kesini.”

Seunghyun menatapnya, menyelidik.

“Kau tahu darimana aku disini?” Bom segera mengalihkan pembicaraan, tidak nyaman dengan tatapan Seunghyun.

“Dari nenekmu. Nenekmu bilang, kau paling suka ke taman ini sejak kecil,” ujar Seunghyun. Bom mengangguk-angguk.

“Ini,” Seunghyun menyerahkan tempat makan yang berisi kimbap. “Akan lebih sempurna kalau makan kimbap di tempat seperti ini.”

Bom membesarkan matanya. “Kau tidak memakannya?”

Seunghyun tertawa. “YA! Kau pikir aku ini monster, makan semua kimbap ini sendirian?”

“Kau tidak memakannya dengan Shin Min Ah? Kupikir kau akan piknik—“ ucapan Bom menggantung. Ia jadi bingung sendiri.

“Shin Min Ah? Kenapa Min Ah?” Seunghyun mengerutkan kening. “Ya, kau tidak ingat semalam di mobil bilang kalau kau ingin pergi piknik? Kau bilang, ‘akan menyenangkan jika di musim semi seperti ini pergi piknik’, kau ingat?”

“Ah!” Bom baru teringat ucapannya sendiri. “Kurasa aku lupa.”

“Mwoya? Aku bahkan sudah merencanakan pergi ke taman di sudut Seoul yang tidak banyak orang untuk piknik, karena shooting hari ini berakhir cepat. Kau malah lupa?” Seunghyun menggerutu.

Bom tersenyum lebar. “Mianhe, Seunghyun-ah. Aku benar-benar lupa. Kupikir malah kau akan pergi dengan Shin Min Ah, makanya minta buatkan Bibi Taeri kimbap.”

“Shin Min Ah? Mengapa Shin Min Ah lagi?” Seunghyun membesarkan matanya. “Ya, Park Bom. Apa jangan-jangan—“

“Aniya!” sergah Bom cepat. Seunghyun mengerutkan kening. “Aku bahkan belum selesai bicara.”

Bom menggeleng-geleng lagi. “Pokoknya apapun itu, tidak!”

Seunghyun mengulum senyum. “Bom-ah, apa—“

“Sudah kubilang tidak!” potong Bom, sambil langsung menyuapkan kimbap pada Seunghyun.

Seunghyun mengunyah kimbap itu, sambil tersenyum.
*******************

“Kau besok shooting pagi?” tanya Bom pada Seunghyun yang sedang mengemudi. Mereka baru pulang dari taman, akan ke rumah nenek Bom untuk berpamitan.

Seunghyun mengangguk.

“Baiklah, aku yang akan mengemudi ke Seoul nanti. Aku tidak mau disalahkan Direktur Lee kalau kau kelelahan lalu tidak bisa shooting. Oh?” Bom mengerutkan kening begitu mereka memasuki pelataran rumah nenek Bom. “Nenek sedang ada tamu?”

Seunghyun ikut melihat. “Plat mobilnya dari Seoul. Apa kau punya saudara di Seoul?”

“Seingatku tidak,” ucap Bom, lalu keluar mobil dan segera masuk rumah. “Nenek …,”

Bom terdiam melihat siapa tamu neneknya. Nenek dan tamunya, Direktur Lee, sedang berdiri dan melihat kepadanya. Keduanya tampak sangat kaget.

“Oh, Direktur? Sedang apa kau disini?” tanya Bom heran.

Direktur Lee dan Nenek saling pandang. Saat itu, Seunghyun juga masuk rumah. Ia juga kaget melihat Direktur Lee ada di rumah Nenek.

“Direktur Lee? Sedang apa kau disini?” pertanyaan yang sama dengan Bom.

“Oh, Bom-ah, kau sudah datang?” ucap Nenek akhirnya. Ia lalu memandang Direktur Lee. “Dia, kenalan Nenek.”

Direktur Lee tersenyum pada Bom dan Seunghyun. Ia lalu menatap Bom lama, dan berdehem. “Aku pulang dulu kalau begitu. Sampai jumpa besok di perusahan.”

Bom dan Seunghyun membungkukkan tubuh mereka pada Direktur Lee. Direktur Lee pun segera keluar dan memasuki mobilnya.

“Nenek, dimana kau kenal Direktur Lee?” tanya Bom.

“Kau mengenalnya?” Nenek balik bertanya.

Bom mengangguk. “Tentu saja! Dia bos kami, Nek.”

Nenek terdiam beberapa saat. “Aku hanya pernah mengenalnya,” Nenek lalu berbalik menuju dapur. “Kalian jadi pulang malam ini, kan? Bawalah beberapa makanan, aku sudah memasaknya tadi.”

Bom dan Seunghyun saling pandang. “Aku tidak mengerti apa yang terjadi,” ujar Bom.

“Nenekmu dan Direktur Lee saling mengenal?” tanya Seunghyun.

“Aku baru mengetahuinya sekarang. Seunghyun-ah, bukankah dunia sangat sempit?” Bom menatap Seunghyun.

“Bom-ah!” panggil Nenek dari dapur.

“Iya, Nek!”
***************

“Iya, Bi? Aku sedang bekerja. Hm?” Seunghyun mengerutkan kening. Ia sedang bicara dengan Bibinya di telepon. “Siapa yang mencariku?”

“Baiklah. Setelah shooting iklan ini selesai, aku akan menemui Bibi. Jaga kesehatan, Bi,” Seunghyun menutup teleponnya. Ia lalu kembali ke taman tempat shooting.

“Mianhe, tadi itu Bibiku,” ucap Seunghyun pada Shin Min Ah. Shin Min Ah tersenyum. “Tidak apa-apa. Bibimu sehat?”

Seunghyun mengangguk.

Bom melihat mereka berdua dari dalam perusahaan. Kebetulan, taman itu terletak di sebelah kanan lobi. Jadi begitu masuk perusahaan, taman itu terlihat karena kaca yang transparan.

“Bahkan di bawah terik matahari yang panas itu saja, ia masih cantik,” Bom menghela nafas.

“Bom-ah?”

Bom menoleh mendengar ada yang memanggilnya. Ternyata Direktur Lee berdiri di belakangnya, sambil memegang dua gelas kopi.

“Kopi?”

Bom tersenyum.
************

“Jadi, kau dengan Lee Ki Joon itu teman kuliah?” tanya Direktur Lee begitu mereka berdua duduk.

Bom mengangguk.

“Lalu, foto yang waktu itu, Lee Ki Joon?” tanya Direktur Lee lagi.

Bom mengangkat kepalanya, terpengarah. Ia tidak bisa bicara apa-apa.

Direktur Lee tersenyum, lalu menepuk bahu Bom pelan. “Tidak apa-apa. Kurasa aku mengerti hubungan kalian.”

Bom masih terdiam. Ia bingung harus bilang apa.

“Kalian minta bantuan Seunghyun?”

Bom mengangguk pelan. “Waktu itu, hanya kebetulan, Direktur. Maafkan aku.”

Direktur Lee tersenyum lagi. “Tidak apa-apa. Semua itu sudah berlalu. Kalau aku di posisimu, aku juga akan melakukan hal yang sama.”

Bom ikut tersenyum. “Terima kasih, Direktur.”

“Tapi, kau sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi kan dengannya?” tanya Direktur Lee, setengah berbisik.

Mata Bom langsung membesar. “Tentu saja tidak, Direktur!”

Direktur Lee terkekeh. “Baguslah. Kasihan Seunghyun kalau begitu. Hubungan kalian akan bagaimana nanti?”

“Aku? Seunghyun? Eeiiyy, Direktur!” Bom tertawa. “Kami tidak ada hubungan seperti itu, jadi tenang saja.”

“Benarkah? Padahal kurasa kalian cocok,” ujar Direktur.

“Aniya, kami tidak ada apa-apa,” sergah Bom. Direktur Lee mengangguk-angguk, lalu meminum kopinya.

“Mmm, Direktur, apa kau mengenal nenekku?” tanya Bom kemudian.

Direktur Lee terdiam sebentar, lalu mengangguk-angguk. “Bisa dibilang begitu.”

Bom ingin bertanya lagi, tapi keburu member 2NE1 yang lain datang menghampiri mereka.

“Direktur, Bom-ah, mengapa kalian masih disini? Sekarang semua orang sedang berpesta di taman!” seru Dara.

“Pesta? Pesta apa?” tanya Direktur Lee.

“Merayakan selesainya iklan Seunghyun!” sahut Minji. Ia lalu menoleh pada Bom. “Unnie, fans beratmu juga datang! Ia sudah mencarimu dari tadi.”

“Siapa?”

“Kim Seo Young.”

Bom menghela nafas. Direktur Lee, Minji, Chaerin, dan Dara tertawa melihatnya.
****************

“Bom-ssi, lain kali mari bertemu lagi. Aku sangat ingin mengobrol banyak denganmu,” ujar Shin Min Ah.

Bom mengangguk cepat. “Tentu saja! Aku juga senang mengobrol denganmu.”

Shin Min Ah tersenyum. “Kau sangat cantik, Bom-ssi.”

“Mwo? Ah, aku jadi malu,” Bom menutup wajahnya. “Dipuji oleh artis cantik sepertimu sungguh membuatku sangat malu.”

Shin Min Ah tertawa kecil. “Kau asli Seoul?” tanyanya kemudian.

“Tidak, aku lahir di Jinan dan tinggal bersama nenekku disana. Min Ah-ssi, kau harus berkunjung ke tempat nenekku suatu saat,” ucap Bom. Ia mengatakannya dengan sungguh-sungguh, hitung-hitung minta maaf karena sudah berpikir yang tidak-tidak kemarin.

“Benarkah? Aku boleh kesana?” mata Shin Min Ah berbinar.

“Tentu saja! Masakan nenekku sangat enak, kau harus mencobanya!” seru Bom.

“Ckckck, selalu saja memamerkan masakan neneknya pada siapapun,” ujar Seunghyun yang tiba-tiba ada di belakang mereka.

“Mwoya? Sejak kapan kau disini?!” seru Bom kaget. Seunghyun mengangkat bahu. “Sejak kau memamerkan masakan nenekmu itu.”

“Memangnya kenapa? Masakan nenekku memang enak, kau juga sudah mencobanya sendiri!” sergah Bom.

“Aku tidak bilang kalau itu tidak enak,” ujar Seunghyun. “Tapi, aku heran kenapa keahlian nenekmu itu tidak menurun padamu. Kau tidak pernah masak sama sekali, kan?”

“Kau hanya belum mencobanya! Lihat saja, kalau kau sudah mencobanya, kau pasti akan merengek-rengek minta lagi!”

Shin Min Ah hanya tersenyum melihat perdebatan kedua orang itu.

“Omo, Park Bom-ssi! Aku mencarimu kemana-mana dari tadi!” seru Kim Seo Young yang juga muncul tiba-tiba.

Bom menoleh. “Oh? Anyeong haseyo.”

“Bom-ssi, bolehkah aku berfoto denganmu? Aku sudah lama sangat ingin berfoto denganmu,” pinta Kim Seo Young. Bom langsung mengiyakan, dan memberi isyarat pada Seunghyun dan Shin Min Ah kalau ia akan pergi.

Shin Min Ah menatap Seunghyun, yang masih menatap Bom lekat. “Sebenarnya, kau ingin dimasakkan oleh dia, kan?

Seunghyun menoleh, dan tersenyum. “Kau tahu?”

“Tentu saja! Kau tidak pernah melakukan hal seperti itu padaku dulu.”

“Min Ah-yah…”

Shin Min Ah tersenyum lebar. “Aku tahu! Memangnya kau pikir setahun ini aku masih belum bisa melupakanmu? Aku ini mudah move on, tahu!”

Seunghyun tertawa kecil, dan mengangguk-angguk.

Sementara itu, selagi berfoto dengan Kim Seo Young, Bom menoleh lagi ke arah Seunghyun dan Shin Min Ah. Dilihatnya kedua orang itu sedang asyik membicarakan sesuatu sambil tertawa-tawa. Bom menghela nafas.

“Bom-ssi, ada apa?” tanya Kim Seo Young. Bom menggeleng sambil tersenyum. “Tidak apa-apa, Seo Young-ssi.”

“Aigoo, kau sangat cantik ketika tersenyum! Ayo berfoto lagi”
******************

“Bagaimana rasanya punya fans berat tak terduga?” tanya Seunghyun begitu ia dan Bom berada di mobil. Para personel 2NE1 lainnya pulang ke rumah masing-masing, jadi mereka tidak bersama.

“Tak terduga?”

“Fans-mu ternyata istri dari mantan pacarmu. Bagaimana rasanya?”

“Menakjubkan,” Bom tertawa kecil. “Kupikir, selamanya aku tidak akan bertemu dengan istri Lee Ki Joon. Tapi siapa sangka kalau ia fans kami? Ternyata juga orangnya menyenangkan.”

“Jadi,” Seunghyun berdehem. “Kau sudah tidak ada perasaan lagi pada Lee Ki Joon?”

“Mwoya? Memangnya siapa bilang aku masih ada perasaan dengannya?” Bom berdecak. “Lagipula setelah bertemu dengannya pertama kali sejak lima tahun lalu, yang kemudian kita makan bersama itu, aku merasa jauh lebih baik. Maksudku, kupikir aku masih bergetar atau apa, tapi ternyata tidak.”

“Baguslah,” ujar Seunghyun refleks.

“Kenapa?” tanya Bom heran.

“Eng…,” Seunghyun tergagap sesaat. “Karena kau berhasil menerapkan ajaranku, masa lalu hanyalah masa lalu!”

Bom tertawa. “Mwoya? Ajaran apa itu?”

Seunghyun ikut tertawa.

“Ah, aku jadi ingat soal ajaran itu,” ujar Bom. “Kau sendiri, bagaimana? Apa ajaranmu itu masih berlaku untukmu? Setelah kalian bersama-sama lagi beberapa hari ini?”

“Tentu saja! Memangnya bersama beberapa hari akan menyebabkan hubungan kembali?” sahut Seunghyun sambil tetap menatap jalan di depannya.

“Benarkah? Padahal, Shin Min Ah cantik sekali,” ujar Bom. “Aku saja yang wanita mengakui hal itu. Apa kau tidak merasa hal yang sama?”

“Memang siapa yang bilang dia jelek?” Seunghyun menoleh pada Bom sebentar. “Kau juga cantik.”

Bom langsung terdiam, begitu juga Seunghyun. Entah mengapa, suasana jadi canggung. Bom juga aneh dengan dirinya sendiri, karena biasanya ia akan meladeni ucapan Seunghyun itu dengan bercanda. Tapi kali ini entah mengapa ia hanya diam.

“Ah, aku lupa!” seru Seunghyun tiba-tiba, memecahkan keheningan di antara mereka. “Aku sudah berjanji pada Bibiku untuk menemuinya setelah shooting selesai. Kurasa aku harus cepat-cepat ke rumahmu dan langsung pergi ke tempat bibiku.”

“Memang kenapa tidak sekalian ke tempat bibimu saja sekarang, baru ke rumahku?”

Seunghyun menoleh kaget pada Bom, sebentar. “Kau mau ikut?”

“Aku tidak boleh ikut?” Bom balik bertanya.

Seunghyun menggeleng cepat, lalu tersenyum lebar. “Aniya! Tentu saja kau sangat boleh ikut!”
***************************

“Ini tempatnya. Ayo turunu!” ujar Seunghyun lalu menuruni mobil. Bom ikut turun. Ia melihat plang panti asuhan itu sekilas.

Panti Asuhan Cahaya Hati.

“Anyeong, Bibi!” seru Seunghyun begitu memasuki di panti asuhan bibinya. Bibi Seunghyun yang sedang membaca buku, langsung menoleh kaget. “Seunghyun-ah!”

“Anyeong haseyo,” Bom yang masuk di belakang Seunghyun membungkukkan badannya sedikit, memberi salam pada Bibi Seunghyun.

“Aigoo… siapa nona cantik ini?” Bibi Seunghyun menghampiri Bom dan mengusap tangannya.

“Aku Park Bom, Bibi.”

“Aigoo… cantiknya. Seunghyun-ah, mengapa kau baru membawa pacarmu sekarang kesini?” tanya Bibi Seunghyun.

Bom langsung menggeleng. “Aniyo, Bibi. Aku temannya Seunghyun.”

Bibi Seunghyun mengerutkan kening. “Benarkah? Tapi ini baru pertama kali Seunghyun membawa teman wanita nya kesini, biasanya hanya Jiyong dan yang lainnya.”

Seunghyun tersenyum lebar. “Doakan saja semuanya lancar, Bi.”

Bom melotot mendengarnya. “Apanya yang—“

“Hyung!” ucapan Bom terputus dengan teriakan tiga anak laki-laki yang langsung berlarian begitu mendengar Seunghyun datang. Mereka langsung memeluk Seunghyun erat. “Oh, dongsaeng-deul!”

“Hyung, mengapa lama sekali kau baru datang lagi?”

“Mian, mian,” sahut Seunghyun sambil tertawa-tawa.

“Hyung, aku sudah tumbuh gigi baru. Lihat ini!” seru satu anak yang lain.

“Oh, benarkah? Coba kulihat gigi baru Junsu.”

“Hyung, aku juga!” seru yang lain, tidak mau kalah.

“Hmm, Tae Soo dan Min Guk juga? Coba kulihat.”

Bom tersenyum melihat Seunghyun yang begitu akrab dengan anak-anak itu, sudah seperti kakak beradik kandung.

“Oh, siapa Noona cantik ini?” tanya Tae Soo.

“Anyeong, aku Park Bom. Bommie Noona,” Bom melambaikan tangannya.

“Hyung, apa dia pacarmu?” tanya Junsu. Seunghyun hanya tertawa kecil. “Bukan? Dia bukan pacarmu?” Junsu lalu menggandeng tangan Bom. “Kalau begitu, Noona, jadilah pacarku.”

Tawa Seunghyun dan Bom meledak, sementara Bibi Seunghyun hanya menggeleng-geleng kecil melihat mereka.

“YA, Lee Junsu! Mengapa Bommie Noona menjadi pacarmu?!” seru Min Guk, yang langsung menarik tangan Bom juga. Begitu juga Tae Soo. Mereka bertiga menarik Bom keluar ruangan. Bom hanya tertawa-tawa melihat kelakuan mereka.

“Biarkan Bom bermain dengan mereka. Ada yang perlu kubicarakan denganmu, Seunghyun-ah,” ucap Bibi Seunghyun.

“Ada apa, Bi?”
*****************

“Seunghyun-ah, kau baik-baik saja? Sejak dari panti tadi, wajahmu sangat pucat,” tanya Bom begitu mereka memasuki rumah. Seunghyun langsung menghempaskan diri di sofa ruang tengah.

Bom mengambilkan air putih dan memberikannya pada Seunghyun. Seunghyun tersenyum kecil lalu menerimanya.

“Seunghyun-ah, ada apa?” tanya Bom dengan raut khawatir.

Seunghyun meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja. “Bom-ah.”

“Iya?” Bom mendengarkan dengan seksama.

“Bibiku bilang, ada orang yang mencariku. Makanya aku berjanji untuk menemui bibi setelah shooting iklan.”

Bom mengangguk.

Seunghyun menatap Bom lekat, seolah mencari kekuatan. Ia menghela nafas, sampai akhirnya memutuskan untuk mengatakannya.


“Ibuku. Dia mencariku.”

_________________________________________
silakan dikasih komen kritik saran yaa readers :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar