Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 12



cerita ini murni fiktif belaka yaa :)
jadi cerita Minji ngefans ama siapa, Bom ngefans ama siapa, itu murni fiktif buat keperluan cerita aja hehe.

selamat membaca dan sangat ditunggu komen2 dari readers :)
___________________________________________________________

“Aku baik-baik saja, Bibi. Jangan khawatir, aku tidak pernah melewatkan waktu makan. Kau tahu kan bagaimana Daesung yang bawel seperti Ajumma kalau sudah menyuruhku makan?” ucap Seunghyun sambil tersenyum. Ia kini sedang duduk di sofa rumah Bom dan berbicara di telepon.

“Lagipula, sekarang aku sering bermain ke rumah temanku, Bi. Disini ada seorang Ajumma yang masakannya enak sekali, Bibi harus coba!” seru Seunghyun lagi. Bibi Taeri yang mendengar hal itu dari dapur –dapur dan ruang tengah bersebelahan— hanya tersenyum.

“Aku tahu, aku tahu. Aku tidak merepotkan disini. Tuan rumahnya justru senang kalau aku datang,” ucapan Seunghyun terhenti begitu Bibinya mengomel di seberang sana. “Iya, iya. Yang terakhir aku bohong. Bibi, apa kau sebenarnya malaikat? Kau selalu tahu kalau aku sedang berbohong.”

“Iya, bohong itu dosa dan Tuhan tidak suka. Aku tidak akan mengulanginya lagi,” Seunghyun kemudian mengerutkan kening mendengar ada suara orang mengetuk pintu disana. “Bibi, kau sedang di panti?”

Seunghyun mengangguk-angguk. “Tidak apa-apa, terima saja dulu tamumu. Nanti aku menelpon lagi. Jangan lupa pakai krim yang aku kirimkan, itu membantu mempertahankan wajah cantikmu,” Seunghyun tertawa-tawa mendengar Bibinya mengomel lagi.

“Saranghae!” Seunghyun lalu menutup ponselnya dan menyandarkan tubuh ke sofa. Ketika menoleh, didapatinya Bom sudah duduk di sampingnya. “Ya ampun!”

Bom mengangkat alis.

“YA! Kau mengagetkanku! Sejak kapan kau ada disitu?” seru Seunghyun sambil mengelus dadanya.

“Baru saja, ketika kau menggombal di telepon tadi. Ya, apakah itu Shin Min Ah?” tanya Bom antusias.

“Kenapa? Kau selalu tampak tertarik dengan Shin Min Ah. Bom-ah, apa mungkin sebenarnya kau mengidolakan dia, bukan Lee Dong Wook?” Seunghyun tersenyum usil.

Bom melemparkan bantal sofa padanya. “YA! Bukan begitu! Aku kan hanya penasaran, mungkin saja hubungan kalian kembali seperti dulu lagi karena akan sering bertemu di shooting iklan nanti.”

“Kurasa hal seperti itu tidak akan terjadi,” sahut Seunghyun.

Bom mengerutkan kening. “Ya, orang yang mendengarmu berkata seperti itu bisa saja salah paham. Kau terdengar seolah Shin Min Ah sangat mengejarmu tapi kau sama sekali tidak melihat padanya. Ckck, terdengar seperti pria jahat.”

“YA! Bukan begitu maksudku! Aku hanya percaya kalau kami tidak akan kembali seperti dulu lagi, karena aku memahami keadaan dan diriku sendiri dengan sangat baik.”

“Maksudnya?”

“Aku mengenal diriku dan hatiku sendiri dengan baik, jadi kurasa hal seperti itu tidak akan terjadi.”

Bom terdiam mendengarnya. Ia lalu mendekatkan wajahnya untuk melihat Seunghyun dengan seksama. “Ya, Seunghyun-ah. Kau tahu, aneh bagiku mendengar kau berbicara soal hati. Apa kau sungguhan?”

“YA!” Seunghyun mendorong wajah Bom menjauh darinya. Bom tertawa-tawa.

“Lalu tadi bukan Shin Min Ah? Apa pacar barumu?” tanya Bom.

Seunghyun tersenyum geli. “Bommie-ah, sebenarnya kau tertarik dengan urusanku, ya? Bukan dengan Shin Min Ah?”

“YA!”

“Tadi itu Bibinya,” Bibi Taeri menyahut dari dapur. Ia lalu berjalan ke ruang tengah.

Bom berdecak. “Mengapa kau tidak langsung bilang dari tadi?” serunya pada Seunghyun.

“Kalian berdua, makanlah sana. Aku sudah membuat sup jagung kesukaanmu, Bom-ah,” ucap Bibi Taeri.

Mata Bom membesar. “Benarkah? Waaah Bibi, kau memang jjang[1]!” Bom mengacungkan kedua ibu jarinya. Bibi Taeri hanya tertawa melihatnya.

Bom dan Seunghyun pun bangkit menuju meja makan. Bom menggandeng tangan Bibi Taeri. “Bibi, ayo makan bersama!”

“Aku sudah makan tadi siang, dan juga aku mau ke rumah anakku sebentar. Ia sedang rindu sup jagung buatanku,” Bibi Taeri tersenyum.

“Begitu? Ayo kuantar, Bi!” Bom hendak beranjak mengambil kunci mobilnya. Bibi Taeri segera menahannya. “Tidak perlu, Bom-ah. Kau pasti lelah baru sampai rumah. Aku naik taksi saja.”

“Benar tidak apa-apa? Tapi pulangnya jangan kemalaman ya, Bi. Kalau sudah terlalu malam, Bibi harus menelpon supaya bisa dijemput. Sekarang naik taksi malam-malam pun tidak aman,” ucap Bom.

“Tidak perlu, Bom-ah. Kau pasti lelah,” sahut Bibi Taeri.

Bom menggeleng. “Tenang saja, Bi. Kan ada Seunghyun. Dia siap menjemput Bibi dimanapun,” Bom tersenyum lebar sambil melirik Seunghyun.

“Kau bicara seolah aku ini supir,” keluh Seunghyun. Bom tertawa, begitu juga dengan Bibi Taeri.
*********

“Woaaah, pasti enak!” mata Bom berbinar begitu melihat sup jagung di meja makan. Seunghyun tertawa kecil melihatnya. “Ya, apa kau jarang memakannya? Matamu sampai hampir keluar begitu.”

Bom menggeleng. “Bibi Taeri sering memasak sup jagung untukku. Tapi setiap makan sup buatannya rasanya semakin enak. Apa— aku tidak berlebihan, sungguh!” Bom segera memotong begitu melihat Seunghyun akan protes.

Seunghyun mengangguk-angguk, malas berdebat lagi. Bom susah didebat kalau sudah begini.

Bom menyendokkan sup jagung dan segera menyodorkannya tepat di depan mulut Seunghyun. “Ini, kau harus mencobanya!”

Seunghyun kaget, tapi refleks menerima suapan dari Bom.

“Bagaimana? Enak, kan?”

Seunghyun berdehem. Ia kemudian mengangguk, tanpa berkata apa-apa.

“Nah, apa kubilang!” ujar Bom riang sambil menyendokkan nasi ke mangkuknya. Ia juga menyendokkan nasi untuk Seunghyun, semangkuk penuh.

“YA! Ini banyak sekali!” protes Seunghyun.

“Apanya yang banyak? Seorang pria memang harus makan yang banyak,” sahut Bom.

“AAhh, rasanya ada Daesung kedua disini! Bahkan kebawelanmu menyaingi dia,” gerutu Seunghyun, tapi tetap ia makan juga.

Bom tertawa. “Daesung seperti itu?”

Seunghyun mengangguk. “Dia itu ibu kami, Daesung Omma[2]. Selalu memperhatikan makan kami dan menyuruh makan banyak. Katanya, tidak apa-apa makan banyak karena setelah itu kami kan berolahraga juga.”

Bom tertawa, lalu tidak sengaja ia melihat televisi yang memang dari tadi mereka biarkan menyala. “Oh? Bukankah itu Shin Min Ah?”

Seunghyun ikut menoleh. Memang televisi sedang menyiarkan pemberitaan mengenai drama terbaru Shin Min Ah.

“Ah, melihat berita Shin Min Ah, aku jadi terpikir sesuatu. Apa aku boleh tahu mengapa kau dan Shin Min Ah putus?”

Bom buru-buru menambahkan ucapannya, takut Seunghyun keburu bilang yang aneh-aneh. “Karena nampaknya ia masih sulit melupakanmu, berarti ia sangat menyukaimu, kan? Lalu kenapa kalian putus? Aku penasaran. Tidak mungkin kan kalau kau tidak menyukainya?”

Seunghyun tertawa lagi. “YA, memang siapa yang tidak menyukai Shin Min Ah?”

Bom berdecak kesal. “Bukan suka seperti itu!”

Ia terdiam beberapa saat. “Aku menyukainya karena suatu hal, dan hal itu juga yang menjadi salah satu alasan kami berpisah.”

Bom mengerutkan kening. “Ya, ucapanmu terlalu mengawang. Tidak bisakah kau berbicara bahasa manusia?”

“Jadi—“

Suara Seunghyun terputus karena ponsel Bom berbunyi. Bom melihat layar ponselnya sebentar, dan mengerutkan kening. Seunghyun melihatnya heran. “Siapa?”

Bom tidak menjawab pertanyaan Seunghyun. Ia kemudian mengangkat ponselnya. “Oh, Ki Joon-ah.”

Seunghyun tersentak mendengar siapa yang disebut Bom. “Lee Ki Joon?!”

Bom tidak menghiraukan Seunghyun. “Aku? Aku sedang di rumah sekarang. Ada apa, Ki Joon-ah?”

“Untuk apa lagi dia menelponmu? Apa dia tidak ingat dengan anaknya di rumah?” Seunghyun mendesis kesal.

Bom melotot mendengarnya. Ia lalu bangkit dan menjauh dari Seunghyun untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Lee Ki Joon.

Lima menit kemudian, Bom ke meja makan lagi. Seunghyun melihatnya sebentar, ingin bertanya tapi masih kesal dengan Bom yang tadi tidak menghiraukannya.

“Tadi itu Lee Ki Joon,” ucap Bom sembari menyendokkan lagi makannya.

“Aku tidak bertanya,” sahut Seunghyun kesal.

“Kurasa kau ingin tahu,” Bom menjulurkan lidahnya lalu tertawa.

Seunghyun memukul kepala Bom pelan. “YA! Bagaimana bisa kau tertawa setelah apa yang kau lakukan tadi?!”

Bom mengerutkan kening, heran. “Memangnya aku melakukan apa?”

Seunghyun berdecak. “Lupakan! Lalu dia bilang apa?”

Bom terkekeh. “Kan, kau penasaran juga.”

“Siapa yang penasaran? Aku hanya berperan sebagai pendengar yang baik dengan merespon ceritamu!” elak Seunghyun.

Bom mencibir. “Apa katamu saja. Ki Joon bilang, ia akan memproduseri iklanmu, yang dengan Shin Min Ah itu.”

“Iklanku yang diproduseri, kenapa bilang padamu?!” sahut Seunghyun, masih kesal.

“YA! Dengarkan dulu ucapanku, jangan memotong terus!” sergah Bom. “Iklan kalian akan dilakukan di perusahaan kita. Ki Joon mungkin sesekali akan datang, makanya ia bilang padaku untuk menghindari rasa tidak nyaman nantinya.”

Seunghyun manggut-manggut. “Lalu, kau bilang apa?”

“Memangnya harus bilang apa lagi? Bukan aku yang akan iklan, jadi apa masalahnya? Tentu saja aku bilang ‘tidak apa-apa, jangan khawatir’. Bagaimana, aku melakukannya dengan baik, kan?” tanya Bom sambil tersenyum lebar.

Seunghyun manggut-manggut lagi. “Iya, kau melakukannya dengan baik,” Ia lalu menatap Bom ragu. “Tapi, apakah kau akan baik-baik saja? Kemarin-kemarin ketika bertemu dengannya saja kau gugup.”

“YA, itu kan karena mendadak! Nanti tidak akan lagi, aku akan mulai membiasakannya.”
***************

“Unnie! Ada Shin Min Ah!” pekik Minji girang begitu Bom sampai studio.

Bom tersenyum, sudah dimulai shooting rupanya. “Benarkah? Dimana dia?”

“Tadi ke ruangan Direktur Lee dengan Seunghyun Oppa. Unnie, aku mau minta tanda tangannya, apa kau mau memintakannya untukku?” pinta Minji. Minji memang sangat mengidolakan Shin Min Ah.

Bom menjitak kepala Minji. “YA! Minta sendiri! Waktu ada Lee Dong Wok kesini, kau tidak mau memintakan tanda tangan untukku!”

“Unnie,” rengek Minji.

Pintu studio terbuka sedikit. “Anyeong haseyo.”

Bom dan Minji menoleh. Dilihatnya Shin Min Ah dan Direktur Lee memasuki studio.

“Oh!” Minji terbelalak kaget. Bom menahan tawa melihatnya, lalu membungkukkan sedikit kepalanya. “Anyeong haseyo.”

Shin Min Ah tersenyum lebar. Ia mengulurkan tangan pada Bom. “Park Bom-ssi, senang bertemu denganmu. Aku Shin Min Ah, mohon bantuannya.”

Bom menyambut uluran tangan Shin Min Ah hangat. Ia wanita yang sangat ramah, batinnya. “Omo, kau mengenalku? Aku merasa tersanjung, hallyu star mengenalku.”

Shin Min Ah tertawa kecil. “Tentu saja! Siapa yang tidak mengenal 2NE1? Sudah lama sekali aku ingin bertemu langsung denganmu, Bom-ssi. Boleh kan aku memanggilmu Bom-ssi?”

Bom mengangguk. “Tentu saja, Min Ah-ssi. Kau dengar itu, Minji-ah? Shin Min Ah memanggilku Bom-ssi,” Bom meledek Minji yang sedari tadi diam.

Direktur Lee tertawa mendengarnya. “Minji-ah, kau bertanggungjawab mengajarkan dasar gerakan dance pada Shin Min Ah. Konsep iklannya mengharuskan ia seperti bintang hip hop,” ujar Direktur Lee.

Mata Minji membesar. “Benarkah? Aku?”

Direktur Lee mengangguk. “Shin Min Ah-ssi, Minji sudah lama nge-fans denganmu. Ia pasti senang sekali bisa bekerja sama denganmu.”

“Benarkah? Wah, kehormatan sekali bagiku,” Shin Min Ah mengulurkan tangannya pada Minji. “Minji-ssi, mohon bantuannya.”

Minji menyambut uluran tangannya dengan senang. “Panggil saja aku Minji-ah, Unnie. Boleh kan aku memanggilmu Unnie?”

Tawa Bom dan Direktur Lee langsung meledak. Shin Min Ah tertawa kecil. “Tentu saja, Minji-ah!”
*********

Bom mengusap-usap kepalanya yang tidak gatal. “AAHh, Park Bom! Bagaimana bisa ponsel tertinggal di studio tadi? Sekarang kan sedang ada shooting di studio itu, apa tidak apa-apa kalau aku masuk kesana?”

Bom membuka pintu studio perlahan, tapi ternyata studio sepi. Hanya ada Seunghyun dan Shin Min Ah yang sedang melatih dialog mereka. Bom menghela nafas, tanpa sadar.

Seunghyun menoleh dan melihat Bom di depat pintu. “Oh, Bom-ah?”

“Mianheyo, maaf mengganggu sebentar. Ponselku tertinggal,” ucap Bom, melihat Shin Min Ah juga menatap ke arahnya. Bom mengambil ponselnya yang ada di sudut ruangan.

“Eheei, kau menggunakan bahasa formal sekarang pada sunbae-mu?” ujar Seunghyun usil.

“Aku mengucapkannya pada Min Ah-ssi, bukan padamu!” sahut Bom sambil menjulurkan lidahnya. Shin Min Ah menatap Bom dan Seunghyun bergantian. Lalu tersenyum simpul.

“Mwo? Kalian sudah saling mengenal?” tanya Seunghyun heran.

“Tentu saja! Kami bahkan akan segera berteman baik. Benar kan, Bom-ssi?” ujar Shin Min Ah pada Bom, hangat. Bom refleks mengangguk.

“Mwoya? Sekarang kalian ingin menyerang dan mengucilkanku?”

“Kau pantas menerimanya, Seunghyun-ah!” sahut Bom.

“AAhh! Mengapa aku harus berada diantara wanita-wanita ini?” seru Seunghyun, berlagak frustasi.

Bom dan Shin Min Ah tertawa.

“Ngomong-ngomong, mana yang lain? Aku kira disini sedang ramai, sampai kupikir aku akan mengganggu shooting,” ucap Bom.

“Yang lain sedang break satu jam. Tapi kami memutuskan untuk berlatih sebentar lagi,” sahut Shin Min Ah. Bom mengangguk-angguk.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Kalian lanjutkanlah berlatih,” Bom bangkit.

“Sampai bertemu lagi, Bom-ssi,” Shin Min Ah melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Bom membalas lambaian tangannya. Bahkan caranya melambaikan tangan saja sangat cantik, batin Bom.

“Jadi, bagaimana?” tanya Shin Min Ah pada Seunghyun, begitu Bom sudah pergi.

“Apanya?” Seunghyun mengerutkan kening.

Shin Min Ah menggerakkan dagunya ke arah pintu, maksudnya pada Bom yang baru saja pergi.

Seunghyun tertawa kecil. “Tidak begitu buruk, tapi juga tidak begitu baik.”

Shin Min Ah mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ia sangat cantik.”

Seunghyun tersenyum. “Aku tahu.”
**************

Bom menyandarkan diri ke tembok, duduk di sebelah Dara. Mereka berempat, lengkap dengan Minji dan Chaerin, habis melakukan latihan di studio yang lain.

Tiba-tiba pintu terbuka. “Anyeong haseyo.”

Mereka berempat langsung berdiri. Mengira Direktur Lee yang masuk. “Anyeong haseyo.”

Namun begitu melihat siapa yang datang, Bom membelalakkan matanya. Begitu juga Dara.

“Oh, ini bukan tempat shooting?” tanya Lee Ki Joon, yang juga kaget melihat mereka.

Minji dan Chaerin berpandangan tidak mengerti, karena mereka sama sekali tidak tahu bagaimana wajahnya Lee Ki Joon.

“Lee Ki Joon,” bisik Dara pada Chaerin. Chaerin yang langsung tanggap akan situasi, langsung menyahut. “Bukan, studio tempat shooting ada di sebelah kanan.”

Seorang wanita masuk, dan setengah berteriak begitu melihat mereka. “Omo, 2NE1?!”

Mereka berempat saling berpandangan, bingung. Lee Ki Joon buru-buru menjelaskan. “Oh, ini Kim Seo Young, istriku. Ia sangat mengidolakan 2NE1.”

Kim Seo Young langsung mendekati mereka berempat dengan mata berbinar. “Halo, aku Kim Seo Young. Aku fans berat kalian!”

Mereka berempat, yang masih bingung dan shock, hanya tersenyum hambar. “Anyeong haseyo.”

Kim Seo Young lalu mendekati Bom. “Omo, ini Park Bom! Kau benar-benar cantik! Bolehkah aku bersalaman denganmu?” ujar Kim Seo Young dengan mata berbinar.

Bom yang masih bingung, memaksakan seulas senyum. Ia lalu mengulurkan tangannya, yang disambut senang oleh Kim Seo Young. “Aku sangat mengidolakanmu! Bolehkah aku meminta tanda tanganmu?”

“Oh, Direktur? Kau disini?” ujar seorang wanita dari depan pintu. Mereka semua menoleh, ternyata Shin Min Ah masuk dan diikuti Seunghyun.

Seunghyun, yang melihat kedatangan Lee Ki Joon, langsung terbelalak kaget.

“Oh, kau juga disini, Nyonya Lee?” tanya Shin Min Ah lagi. Seunghyun menoleh pada gadis itu, bingung.

Dara menepuk keningnya dan berdesis. “Situasi macam apa ini.”
**************

“Sejak pertama kali kalian debut, aku sudah langsung mengidolakan kalian. Aku ini fans kalian nomer satu!” seru Kim Seo Young senang. Mereka—2NE1, Seunghyun, Shin Min Ah, Lee Ki Joon, Kim Seo Young, dan Direktur Lee—sedang berada di ruangan VIP perusahaan.

Member 2NE1, kecuali Bom yang masih bingung dan banyak menerka, tersenyum lebar mendengarnya. Dara bahkan langsung menyahut dengan riang. “Aigoo, terima kasih, Nyonya Lee. Ternyata kami mempunyai fans loyal seperti anda.”

“Omo! Jangan panggil aku seperti itu! Panggil saja aku Seo Young-ssi, aku—“

Bom tidak lagi mendengar ucapan Kim Seo Young. Ia melihat ponselnya dan terdapat dua buah pesan masuk.

Dari Seunghyun.
Bommie-ah, apa yang sedang terjadi?

Dari Lee Ki Joon
Mianhe, Bom-ah. Aku lupa bilang kalau istriku fans fanatik kalian, bahkan ia sangat menyukaimu. Tapi ia tidak tahu hubungan masa lalu kita, ia hanya tahu kalau kita berteman.

Bom menghela nafas lega. Ia sudah mengira macam-macam tadi.

“… apalagi aku tahu kalau Park Bom-ssi dan suamiku teman kuliah,” Kim Seo Young berucap lagi.

Direktur Lee mengerutkan kening, menatap Bom. Para member 2NE1 yang lain saling pandang. Sedangkan Shin Min Ah langsung menoleh pada Seunghyun, yang tak bergeming.

“Aku selalu membujuk supaya bisa bertemu langsung denganmu, tapi suamiku ini selalu sibuk dan bilang tidak ada waktu. Makanya ketika tahu perusahaan kami mensponsori iklan TOP Big Bang, aku langsung memaksa ikut. Aku sudah punya feeling kalau akan bertemu denganmu, Park Bom-ssi. Ini adalah suatu kehormatan, bisa bertemu dengan kalian semua.”

Bom tersenyum lebar, berusaha mengusir rasa jengah pada situasi yang sungguh membingungkan itu. “Justru kami yang berterima kasih, Nyonya—maksudku Seo Young-ssi.”

“Lain kali, kalian harus datang ke tempatku. Ah! Bagaimana kalau nanti sekalian merayakan selesainya iklan ini! Aku akan membuat pesta yang meriah nanti. Kalian harus datang, aku tidak menerima penolakan!” ujar Kim Seo Young setengah bercanda.

Mereka semua tertawa kecil.
**************

“Kau baik-baik saja?” tanya Seunghyun, begitu Lee Ki Joon dan istrinya pulang. Yang lain juga sudah pergi duluan.

Bom mengulas senyum. “Tentu saja! Memangnya kenapa aku harus tidak baik?”

Seunghyun menempelkan tangannya di kening Bom. Lalu mengangguk-angguk. “Benar. Kurasa kau baik-baik saja.”

Bom melepaskan tangan Seunghyun dari keningnya. “Tapi, aku tadi sangat bingung dan kaget dengan apa yang terjadi. Kau tahu, aku bahkan sampai membayangkan kalau aku akan ditampar oleh Kim Seo Young itu, kalau dia hanya berpura-pura sebagai fans kami,” wajah Bom mulai tampak pucat. “Aku sebenarnya mulai takut tadi, kalau ia tahu bagaimana hubunganku dengan Lee Ki Joon dulu. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku sudah menyusun kalimat untuk menjelakan semuanya kalau—“

Ucapan Bom berhenti begitu Seunghyun memeluknya. Seunghyun memeluknya erat, sambil menepuk-nepuk bahunya pelan.

“Tidak apa-apa. Semuanya sudah berlalu. Kau menjalaninya dengan baik,” Seunghyun menepuk-nepuk bahu Bom pelan. “Kau menjalaninya dengan baik.”

“Tadi aku sangat kaget dan bingung. Entah kenapa, aku takut. Tapi, aku tidak melakukan apa-apa lagi, Seunghyun-ah. Aku sungguh-sungguh tidak mencoba melakukan hal yang buruk untuk pernikahan mereka,” ucap Bom, parau.

Seunghyun mengangguk. “Aku tahu. Kau melakukannya dengan baik. Kau gadis yang kuat dan baik, Bommie-ah.”

Perlahan, Bom mulai merasa tenang. Wajahnya juga tidak terlalu pucat lagi.

Seunghyun melepaskan pelukannya. “Kau sudah lebih baik?”

Bom mengangguk pelan.

“Kalau begitu, ayo pulang. Kau pasti lelah.”

Bom mengangguk lagi.
*********************

“Jadi, Kim Seo Young itu tidak tahu bagaimana hubunganmu dengan Lee Ki Joon dulu?” tanya Dara sambil membaca pesan dari Lee Ki Joon. Ia dan Bom sedang duduk-duduk bersantai di sofa rumah Bom. Hari ini mereka ada latihan sore karena Chaerin dan Minji sedang berlatih rap dulu.

Bom mengangguk. “Aku juga sudah sangat kaget dan berpikir macam-macam, untung saja semua itu cuma pikiran negatifku saja.”

“Tapi, sekarang kau sudah tenang, kan? Apalagi setelah dipeluk Seunghyun kemarin,” goda Dara.

Wajah Bom langsung memerah. “YA! Itu hanya pelukan comfort seorang teman! Kau ini, jangan sampai orang jadi salah arti mendengarmu bicara seperti itu!”

“Ooooh? Wajahmu merah, Bommie-aaah,” Dara menunjuk wajah Bom. Bom segera menutupi wajahnya. “Siapa yang merah?”

Dara berdecak. “Kau sungguh tidak bisa berakting, Bom-ah, jadi hentikanlah. Sekarang jujur saja padaku, sebenarnya kau dan Seunghyun ada apa?”

Bom menggeleng cepat. “Tidak ada apa-apa, Dara-ya.”

“Park Bom ...,” Dara menatap Bom menyelidik.

“Memang benar, Dara-ya. Diantara kami tidak ada apa-apa. Kami memang lebih dekat dari sebelumnya, tapi—aku sungguh-sungguh, Dara-ya!”

“Lalu, apa kau menyukainya?”

“Mwo? YA, mana mungkin?! Apa masuk akal aku menyukai seorang yang usil seperti itu?” sergah Bom cepat.

“Usil?” Dara menaikkan alisnya.

Bom mengangguk cepat. “Iya! Usil, sok tahu, sok keren, selera makannya aneh, alergi seafood pula. Dan, tidak pernah memanggilku Noona juga selalu membanggakan dirinya sebagai senior! Masa aku suka dengan orang seperti itu?”

Dara mengangguk-angguk. “Tapi kau mendeskripsikannya dengan lengkap.”

“Dara-yaaah …,” rajuk Bom.

“Mwo? Aku hanya bilang begitu,” Dara menahan senyumnya.

Bom merenggut.

“Bom-ah, kau belum berangkat?” tanya Bibi Taeri yang sedang menuruni tangga. Bom menoleh. “Iya, Bi. Ada apa?”

“Kau akan ke perusahaan, kan? Seunghyun minta dibawakan kimbap, dan minta dititipkan padamu.”

“Kimbap?” Bom mengerutkan kening. “Memangnya mau piknik?”

“Aku juga tidak tahu. Sudah, bawakan saja. Aku akan membuatkannya sekarang,” ujar Bibi Taeri lalu segera menuju dapur.
**************

Bom menenteng tempat makan berisi kimbap di tangan kanannya, sambil terus bergumam. “Kenapa minta kimbap? Apa dia akan piknik ke suatu tempat?”

Bom lalu sampai di depan studio dan hendak membuka pintu studio, tapi didengarnya suara dua orang sedang tertawa. Bom mendekatkan matanya ke pintu yang sedikit terbuka.

Ternyata di dalam ada Seunghyun dan Shin Min Ah sedang ngobrol dan bercanda-canda. Bom mengerutkan kening.

Apa sedang istirahat lagi? Lalu mengapa mereka tidak istirahat? Apa mereka latihan lagi?

Bom lalu melihat tempat makan berisi kimbap di tangannya, lalu terbelalak.

Jangan-jangan, ini untuk piknik bersama Shin Min Ah?!

Bom segera beranjak dari depan pintu dan menjauh dari studio. Wajahnya terlihat kesal.

“Kalau untuk piknik, untuk apa minta buatkan oleh Bibi Taeri? Dia kan bisa membelinya di jalan! Memang dia pikir Bibi Taeri itu bibinya? Itu bibiku!” Bom mengomel panjang pendek.

Minji, yang hendak ke studio, heran melihat Bom berjalan tergesa-gesa sambil mengomel. “Unnie, kau mau kemana?”

Bom menoleh. Ia lalu menyerahkan tempat makan itu pada Minji. “Kau mau ke studio itu, kan? Ini, berikan pada Seunghyun. Bibi Taeri yang membuatkannya!”

Minji menerima tempat makan itu, lalu bertanya lagi. “Unnie, kau sudah tahu kalau latihan hari ini dibatalkan? Makanya Unnie mau pergi?”

“Oh? Latihan batal?” Bom mengernyitkan kening. “Baguslah, kalau begitu aku pergi dulu,” lanjutnya sambil kemudian berbalik menuju pintu luar.

“Kau mau kemana, Unnie?”

“Jinan!”

“Jinan?” Minji mengerutkan keningnya.




[1] Yang terbaik
[2] Ibu 

_____________________________________
silakan kasih komen kritik dan sarannya yaa readers :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar