Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 11



cerita ini murni fiktif belaka yaaa :) jadi buat fans-nya shin min ah juga jgn marah yaa kalo nanti dia jadi orang ketiga hehe. tapi insyaallah di cerita ini ga ada yg jahat bgt kayak di sinetron2 kok :D

selamat membaca :) sangat ditunggu komen-komen dari readers :)
__________________________________________________________________

“Benar, Nek. Minji sudah mengobati kakiku, jadi aku hanya perlu beristirahat. Nenek kan tahu kalau Minji punya berbagai obat tradisional Cina dari keluarganya,” ujar Bom pada neneknya di telepon. Ia sedang tidur-tiduran di sofa sambil menonton televisi. Ini hari keduanya tinggal di rumah. Sebenarnya kakinya sudah jauh lebih baik, tapi para membernya masih melarang keras ia ikut latihan. Apalagi Seunghyun, semalam pria itu sampai memarahinya karena ingin ikut latihan.

“Tenang saja, Nek. Kan sudah kubilang, banyak orang-orang baik di sekelilingku,” sahut Bom mendengar neneknya yang khawatir di seberang telepon.

“Iya, aku hanya sedikit bosan. Tadi pagi masih ada Bibi Taeri, jadi aku ngobrol-ngobrol dan membantunya memasak. Sekarang Bibi Taeri sedang belanja, dan ia tidak membolehkanku ikut—“ Bom menjauhkan telinganya dari ponsel. Neneknya mengomel di seberang sana karena mendengarnya ingin ikut belanja.

“Tidak, tidak. Aku masih di rumah sekarang, aku tidak kemana-mana dengan kaki seperti ini,” Bom menghela nafas. “Sungguh, Nek! Apa nenek tidak mendengar kalau di sekitarku sangat sepi?”

Tiba-tiba Bom melihat Seunghyun menuruni tangga dari ruang tamu menuju ruang tengah. Bom lalu menjauhkan ponselnya. “Oh, kau sudah datang?”

Seunghyun mengangguk. Ia berjalan ke dapur dan mengambil jus. Seunghyun memang mengetahui kode rumah Bom setelah perjanjian mereka.

“Seunghyun datang, Nek,” ujar Bom pada neneknya yang menanyakan apakah ada orang disana.

Seunghyun duduk di sofa sebelah Bom dan meneguk jusnya. “Nenekmu?” tanyanya kemudian.

Bom mengangguk. Ia lalu bangun dan duduk, kemudian menyerahkan ponselnya pada Seunghyun. “Nenek bilang mau bicara denganmu.”

Seunghyun menerima ponsel Bom. “Anyeong haseyo, Nenek,” Seunghyun tampak menahan tawa mendengar ucapan Nenek Bom. “Tidak, Nek. Aku dan Bom masih berteman, belum lebih dari itu.”

Bom mengangkat alisnya. “Nenekku bertanya macam-macam lagi?”

“Ah, benarkah Nenek sudah memberikan restu padaku?” Seunghyun tertawa kecil. Bom melotot. “Nenek! Kami tidak dalam hubungan seperti itu!” teriaknya.

“Kurasa yang lebih penting sekarang adalah mendapatkan hati cucumu,” sahut Seunghyun sambil tertawa lagi. Bom menghela nafas. “YA, mengapa kau ladeni nenekku?”

“Bommie mulai marah, Nek,” Seunghyun masih tersenyum. “Iya, kami disini akan menjaganya. Cucumu sedikit keras kepala, tapi masih bisa diatasi.”

Bom mendelik mendengarnya. “Sekarang kau membicarakanku di depanku sendiri?”

“Tentu saja, Nek, aku akan menjaga kesehatan. Nenek juga harus selalu sehat. Lain kali aku akan mengunjungi Nenek lagi,” Seunghyun mengakhiri pembicaraannya dan menyerahkan ponsel pada Bom.

“Nek? Tidak, sudah kubilang kami tidak dalam hubungan seperti itu!” Bom berdecak. Ia lalu terdiam mendengarkan neneknya berbicara panjang lebar disana. “Iya, aku akan lebih berhati-hati. Nenek jangan lupa makan! Aku akan marah kalau Nenek sampai tidak makan. Aku punya mata-mata disana, jadi jangan meremehkanku,” Bom tertawa.

“Aku akan mengunjungimu segera, Nek! Saranghae[1]!” ujar Bom kemudian menutup teleponnya. Ia lalu menatap Seunghyun. “YA, jangan anggap serius ucapan nenekku.”

Seunghyun mengangguk-angguk. “Tampaknya aku adalah menantu idaman. Nenekmu sangat menyukaiku, kau tahu itu?”

Bom mencibir. “Apa katamu saja. Nenek kan tidak tahu bagaimana kau yang sebenarnya, kau selalu bertingkah manis di hadapannya.”

“Mwo?! Memangnya aku seperti apa?” Seunghyun misuh-misuh.

Bom tertawa. “Nenek itu khawatir aku tidak akan punya pacar lagi setelah putus dengan Ki Joon. Jadi mungkin ia sangat antusias ketika aku datang bersamamu waktu itu ke rumah Nenek.”

Seunghyun berdecak. “Melihat bagaimana nenekmu sangat khawatir, nampaknya kau benar-benar terpukul ketika putus dengan Lee Ki Joon.”

Bom tertawa kecil. “Memangnya siapa yang tidak terpukul ketika putus cinta? Apalagi kami berhubungan dalam waktu yang cukup lama. Tapi Nenek selalu bilang, aku tahu akan begini. Sejak awal Nenek tidak terlalu menyetujui hubunganku dengan Lee Ki Joon. Katanya, ia mirip ayahku,” ucapan terakhir Bom terdengar menggantung.

Seunghyun mengangkat alis. “Ayahmu?”

Bom lalu memasang wajah ceria dan tersenyum lebar. “Iya, ayahku. Kau belum pernah mendengar tentangnya, ya? Ayah dan ibuku tidak sampai menikah. Ketika ibuku hamil, orang yang kata Nenek ayahku itu pergi entah kemana. Lalu ibuku juga ikut pergi setelah melahirkanku. Apa kau pernah mendengar cerita ini sebelumnya?” tanya Bom sambil tersenyum.

Seunghyun terpengarah beberapa saat, antara terkejut dengan kisah keluarga Bom yang selama ini baru diceritakan gadis itu dan raut wajah Bom yang menceritakannya dengan riang seolah itu bukan hal yang besar.

“YA, jangan bertingkah tidak ada apa-apa. Kau tidak harus selalu kuat,” ujar Seunghyun kemudian.

Bom tersenyum getir. “Aku ketahuan, ya?”

“Kau lebih baik. Aku tidak pernah mengenal orang yang disebut orangtuaku. Aku tumbuh besar dengan seseorang yang kupanggil Bibi. Ini rahasia, tapi sebenarnya ia adalah suster di panti asuhan tempatku dulu,” Seunghyun mengedipkan sebelah matanya pada Bom yang terlihat sangat kaget mendengarnya. “Kau tidak pernah mendengar cerita ini?”

“Aku… aku dengar kau memang tidak bersama orangtuamu, tapi yang lainnya aku tidak tahu,” sahut Bom, wajahnya masih terlihat kaget.

Seunghyun tersenyum simpul, lalu mengusap kepala Bom pelan. “Bukan hanya kau yang punya kisah kurang baik. Jadi berhenti untuk selalu bertingkah kuat dan mulailah bercerita pada orang lain.”

Bom ikut tersenyum. “Jadi, kau benar-benar tidak pernah tahu bagaimana orangtuamu?”

Seunghyun mengangguk. “Aku hanya tahu nama ibuku, tapi Bibiku tidak pernah menceritakan lebih lanjut. Dulu aku sering bertanya pada Bibiku, tapi kemudian aku perlahan mulai berhenti bertanya. Lagipula kalau kau tidak mengenal mereka, kau tidak punya alasan untuk membenci mereka, kan? Mungkin memang lebih baik begini.”

Bom terdiam beberapa saat. Kemudian ia berdehem. “Sudahlah. Karena kita tahu ini kisah yang kurang baik, batasi saja membicarakan hal itu sampai sini.”

Seunghyun mengangguk, setuju.

Bom lalu tersadar sesuatu. “Ini masih sore, kau sudah selesai latihan?”

Seunghyun mengangguk. “Daesung dan Seungri ada shooting iklan, jadi latihan lebih cepat. Membermu belum datang?”

“Mereka mungkin akan tidur di asrama malam ini. Chaerin tadi menelpon kalau latihan hari ini akan lebih lama.”

“Kakimu?” Seunghyun mengamati kaki Bom.

“Sudah jauh lebih baik, hanya tinggal sisa ngilu sedikit. Aku sering memakai obat tradisional Minji, jadi lusa aku sudah bisa latihan lagi,”

Seunghyun mengusap kepala Bom pelan. “Anak baik.”

Bom segera menepis tangan Seunghyun dan berseru kesal. “YA! Sudah kubilang jangan menyebutku ‘anak’! Aku lebih tua darimu!”
****************

Dua hari kemudian.

“Anyeong haseyo,” sapa Bom begitu memasuki studio.

“Oh, Noona? Kau sudah sembuh?” sapa Daesung yang sedang berada di studio 2NE1.

Bom mengangguk. “Sekarang aku bahkan bisa berlari sejauh apapun!”

“Kakimu yang normal saja kau tidak pernah berlari jauh, apalagi setelah jatuh,” sahut Seunghyun yang ternyata datang bersama Bom.

“Oh, kau datang bersama Bom Noona, Hyung?” tanya Daesung.

“Seunghyun tadi menumpang sarapan dulu,” ujar Bom.

“YA, apa maksudmu dengan menumpang?! Setelah perjanjian, itu juga rumahku! Aku bahkan ikut membayar keperluan rumah itu!” Seunghyun misuh-misuh.

Bom mendelik. “Rumah siapa kau bilang? Perjanjian ya perjanjian, tidak berarti itu jadi rumahmu!”

“YA, tapi menyebutku menumpang sarapan itu terlalu—“ ucapan Seunghyun terputus karena ponselnya berbunyi. Seunghyun melihat siapa yang menelpon, dan mengerutkan keningnya. Bom yang ada di sebelahnya juga tidak sengaja melihat siapa yang menelpon.

Seunghyun akhirnya mengangkat teleponnya sambil menjauh dari Bom dan Daesung. “Oh, Min Ah-ya.”

Bom mengerutkan kening. “Shin Min Ah? Itu sungguhan Shin Min Ah?” gumamnya
************

Bom melihat kepada Seunghyun yang berjalan di sebelahnya sebentar, lalu melihat ke depan lagi. Mereka sudah selesai latihan dan akan makan siang. Member yang lain sudah selesai duluan dan melanjutkan aktivitas solo mereka. Bom baru keluar karena ia mengejar beberapa gerakan yang tidak ia ikuti beberapa hari kemarin dan bertemu Seunghyun di depan studio.

Itu kan urusan pribadinya, jangan ikut campur, Bom-ah,” ucap Bom dalam hati. Ia melihat pada Seunghyun sekali lagi. “Aahh, tapi aku sangat penasaran! Ah, lagipula pria ini juga pernah bertanya tentang kehidupan pribadiku. Mungkin kalau aku tanya sedikit tidak apa-apa.

“Seunghyun-ah,” ucap Bom pelan.

Seunghyun menoleh. “Wae[2]? Akhirnya kau memutuskan untuk menanyakan soal telepon tadi?”

Bom terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Seunghyun tertawa. “Wajahmu mengatakan semuanya, Park Bom. Lagipula kau tadi ada disitu, dan dari tadi kau diam saja sambil sesekali melihatku. Kau pasti sibuk berpikir untuk menanyakan atau tidak.”

Bom melongo mendengarnya. “Jadi kau tahu semuanya? Apakah memang benar-benar sejelas itu?”

“Tentu saja! Sudah terlihat jelas dari gerak-gerikmu. Bommie-ah, kau memang pandai dengan cepat mengubah moodmu tapi kau tidak pandai menyembunyikan sesuatu. Ah, kurasa kau memang tidak pandai berakting.”

“Baiklah, tuan aktor kita yang hebat,” Bom mendengus kecil. “Karena kau sudah tahu apa yang ingin kutanyakan, sekarang jawab saja pertanyaanku.”

“Kau bilang tidak sopan mencampuri urusan pribadi orang,” Seunghyun menyindir Bom.

“Kau bilang masa lalu hanya masa lalu, mengapa itu menjadi penting sekarang?” Bom membalikkan kata-kata Seunghyun sambil menjulurkan lidahnya.

Seunghyun tertawa lagi. “Baik, baik. Memang masa lalu hanya masa lalu. Tadi Min Ah bilang padaku kalau sebenarnya ia ditawari iklan dengan lawan main aku. Sebelum menerima tawaran itu, ia menanyakan dulu padaku apakah aku tidak masalah dengan itu.”

“Lalu?” Bom tampak antusias.

“Wah, kau tampak sangat tertarik dengan Shin Min Ah. Atau, kau tertarik dengan urusanku?” Seunghyun mengedipkan sebelah matanya.

Bom memukul bahu Seunghyun pelan. “YA!”

Seunghyun tertawa. “Tentu saja aku bilang aku tidak masalah, memangnya apa masalahnya? Bukankah bagus membintangi iklan? Aku kan juga bukan bekerja percuma, tapi dapat uang.”

Bom mengangkat kedua alisnya. “Dasar pria tidak peka. Ia pasti menanyakan itu karena khawatir akan tidak nyaman diantara kalian nantinya. Bagaimanapun juga, bekerja dengan mantan pacar bukan sesuatu yang bisa dianggap tidak apa-apa.”

“Nah, itulah masalah wanita. Sudah kubilang, masa lalu ya hanya masa lalu. Kami berdua memutuskan itu dengan baik-baik, jadi ya inilah yang harus kami jalani. Lagipula, memangnya mantan pacar tidak bisa jadi teman? Itu adalah pandangan yang salah, kau tahu? Kalau sebelum menjadi pacar aku adalah teman, maka ketika putus pun kami harusnya tetap jadi teman,” ujar Seunghyun.

“Hal itu mudah diucapkan. Tapi memang mudah dilakukan?” Bom mencibir.

“Karena itu yang aku lakukan. YA, kau mungkin berpikir aku tidak punya perasaan karena terlihat melupakan masa lalu begitu saja. Aku hanya bertindak realistis, kau tahu? Sudah kubilang kan, kita tidak hidup di masa lalu,” sanggah Seunghyun.

Bom memandangi Seunghyun seksama. “YA, aku jadi penasaran akan sesuatu. Apa ketika pacaran dengan Shin Min Ah, kau memang benar-benar menyukainya?”

“YA, pertanyaan macam apa itu?”

Bom mengangkat bahunya. “Entahlah. Aku hanya aneh denganmu. Setahuku, orang yang melupakan masa lalu dengan mudahnya itu antara ia tidak terlalu menyukai wanita itu atau ia sudah menemukan penggantinya. Kau sudah berapa lama putus dengannya?”

“Setahun.”

“Setahun kan bukan waktu yang panjang, lalu mengapa—“

“Park Bom?”

Bom dan Seunghyun menoleh mendengar ada yang memanggil nama Bom. Bom membesarkan matanya melihat siapa yang memanggilnya.

“Ki Joon-ah …”
***********

Bom tampak sedikit kikuk. Kini ia, Lee Ki Joon, dan Seunghyun sedang makan siang bersama di sebuah restoran yang tidak jauh dari agensi.

Bom berdehem pelan. “Apa kabar, Ki Joon-ah?”

Lee Ki Joon tersenyum. “Baik. Bagaimana denganmu? Kau terlihat baik.”

Bom ikut tersenyum dan mengangguk. “Apa yang kau lakukan di agensi kami?”

“Aku ada sedikit urusan dengan Direktur Lee soal sponsor. Perusahaanku kemungkinan akan menjadi sponsor dalam konser kalian jadi ada beberapa hal yang dibicarakan,” urai Lee Ki Joon.

“Oh begitu,” Bom mengangguk-angguk.

Seunghyun berdehem. Bom kemudian baru sadar kalau kedua pria itu belum berkenalan. “Ki Joon-ah, mungkin kau sudah mengenalnya. Ini Choi Seunghyun, dia rapper Big Bang dan sekaligus temanku. Seunghyun-ah, ini temanku dari Amerika, Lee Ki Joon.”

Lee Ki Joon dan Seunghyun bersalaman.

“Tentu saja aku mengenalnya. Ia adalah salah satu rapper terhebat di negeri ini,” ujar Lee Ki Joon sambil tersenyum.

Seunghyun menarik senyum tipis. “Anda terlalu memuji, Lee Ki Joon-ssi.”

Pelayan datang dan memberi buku menu pada mereka. “Apa yang ingin anda pesan?”

Bom mengatakan pesanannya pada pelayan, begitu juga Lee Ki Joon. Seunghyun hanya diam sambil terus memandangi Lee Ki Joon dan Bom bergantian.

“Seunghyun-ah, kau ingin pesan apa?” tanya Bom.

“Aku? Samakan saja dengan pesanannya,” ucap Seunghyun pada pelayan sambil menunjuk Bom.

“Andwae[3]! Aku memesan seafood,” Bom kemudian berkata pada pelayan. “Ganti pesanannya.”

“YA, biarkan saja!” Seunghyun menahan Bom. Entah kenapa ia merasa gengsi di hadapan Lee Ki Joon soal alerginya pada seafood.

“YA, apanya yang biarkan saja?”

“Kan sudah kubilang aku pesan sama denganmu!” ujar Seunghyun keras kepala.

“Aigoo, pria ini!” Bom kemudian berkata pada pelayan. “Tolong hapus pesananku tadi dan ganti dengan dua steak.”

Pelayan dengan sigap mencatat pesanan mereka. “Silakan tunggu sebentar.”

Bom menoleh pada Seunghyun. “Apa kau senang sekarang?”

Seunghyun tertawa kecil.

Lee Ki Joon memandang mereka bergantian. “Tampaknya kalian teman yang dekat,” ujarnya sambil tersenyum.

Seunghyun mengangguk. “Tentu saja! Kami satu agensi dan memiliki banyak kesamaan. Iya kan, Bommie-ah?”

Bom mendelik padanya. “Apa yang dibicarakanya sekarang?

Lee Ki Joon mengangguk-angguk. “Oh begitu. Aku mengerti.”

“Oh iya, bagaimana keluargamu? Kubaca di berita kau baru punya anak laki-laki?” tanya Seunghyun.

Lee Ki Joon tersenyum.
************

“Bagaimana perasaanmu setelah bertemu dengan mantan pacarmu lagi?” tanya Seunghyun membicarakan makan siang tadi. Ia dan Bom sedang di mobil menuju rumah Bom.

Bom mengangkat bahu. “Entahlah. Kupikir, ketika aku bertemu lagi dengannya setelah sekian lama, aku akan pingsan saking terkejutnya. Tapi tadi jauh lebih baik. Bahkan rasa gugupku jauh berkurang.”

Seunghyun tersenyum mendengarnya. “Sudah kubilang, kan? Pada akhirnya kalian dapat berteman lagi seperti sebelumnya. Masa lalu hanyalah masa lalu.”

“YA, kau sudah mengatakan kalimat itu berkali-kali hari ini! Mendengarnya seperti mantra saja.”

“Mantra?” Seunghyun tertawa. “Mulai sekarang kau boleh menggunakannya sebagai mantra.”

Bom menghela nafas. “Mari kita lihat apakah kau masih dapat berkata-kata seperti ini setelah bertemu lagi dengan Shin Min Ah nanti.”

“Tentu saja masih! Memang menurutmu aku akan berubah dan mengingkari kata-kataku sendiri?”

Bom mengangkat bahu. “Tidak ada yang tahu hal itu, kan?”

“YA, aku mengenal diriku sangat baik. Jadi tenang saja, hal itu tidak akan terjadi. Lagipula, tidak sepertimu, kami masih berteman seperti sebelumnya.”

“Benarkah? Lalu mengapa kau tampak kaget ketika menerima telepon darinya tadi?”

Seunghyun mengusap tengkuknya. “Karena mungkin, aku yang menganggap kami sudah berteman seperti sebelumnya. Min Ah jarang menghubungiku, malah cenderung menghindar. Makanya aku kaget ketika ia menghubungiku duluan tadi.”

Bom mengangguk-angguk. “Ia masih sulit melupakanmu, kurasa.”

“Seiring berjalannya waktu, nantinya semua akan normal kembali. Min Ah juga akan menemukan pria yang memang pantas untuknya,” ujar Seunghyun.

Bom menggangguk. “Semoga saja. Kurasa Shin Min Ah gadis yang baik,” Bom terdiam beberapa saat. “Seunghyun-ah, mendengarmu berkata seperti itu aku jadi terpikir sesuatu. Mungkin Ki Joon juga berpikir sepertimu, ya?”

“Bisa saja. Atau mungkin tidak juga. Aku tidak mengenalnya, dan kau juga tidak bisa menyamaratakan sikap pria itu sama,” Seunghyun menoleh pada Bom sebentar. “Tapi kalau memang Lee Ki Joon juga berpikir sepertiku, berarti kau juga harus mulai membiasakan untuk berteman seperti sebelumnya. Ingat, masa lalu—“

“Hanya masa lalu! Aku tahu! Sudah kubilang kau sudah mengucapkan itu ribuan kali!”

Seunghyun tertawa.




[1] Aku cinta padamu
[2] Kenapa
[3] Tidak bisa
_________________________________________________________
silakan dikomen pesan kesan kritik yaa readers :) sangat ditunggu komennya, aku newbie di dunia fanfic hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar