Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home part 10



maaf banget yaa baru bisa posting lagi T.T (kayak banyak yg nungguin aja hihihi). 

anyway cerita ini pure fiktif belaka, tokoh2nya saya minjem hehehe. 

selamat membaca dan feel free to comment, guys :)
__________________________________________________________________________

Sehari setelah shooting di Jinan.

Bom duduk di tepi kolam renang yang berada tepat di samping rumahnya. Ia melihat langit dalam-dalam dan memejamkan mata, merasakan angin menyapa wajahnya.

“Bom-ah, kau sedang apa?”

Bom membuka matanya. Dilihatnya Dara sudah duduk di sampingnya. Bom tersenyum. “Jarang sekali aku dapat menikmai udara malam di rumahku sendiri, Dara.”

Dara mengangguk-angguk. “Benar, kita terlalu sering berlatih lalu tidur di asrama. Bahkan sekarang kalaupun di rumah, kau sibuk mengurusi Seunghyun.”

Bom mendelik. “Mengurusi?! YA, Park Sandara! Apa maksudmu dengan mengurusi?”

Dara terkekeh sambil mengangkat bahu. “Lalu apa itu? Ketika Seunghyun alergi, kau yang sabar mengurusnya. Ketika Seunghyun ketiduran di sofa, kau menyelimutinya. Kau bahkan sudah mengajaknya menemui nenekmu di Jinan. Lalu kau—“

“Itu kau bilang mengurusi? Aku hanya melakukan yang sewajarnya, pada teman. Lagipula memang kau di posisiku tidak akan melakukan hal yang sama?” Bom misuh-misuh.

Dara mengangguk. “Aku melakukan hal yang sama, pada Jiyong,” Dara menjulurkan lidahnya.

“YA!!”

“Tapi, Bom-ah, memang benar. Tadi pagi sepulang dari Jinan bahkan kulihat kau menyiapkan sarapan untuknya. Minji malah berkata kalau pemandangan kalian itu seperti sepasang suami istri!”

“Dara-ya! Aku melakukan itu karena Bibi Taeri sedang berbelanja tadi! Lagipula aku melakukannya sebagai bentuk terima kasih karena sudah menyetir semalaman.”

Dara mengangguk-angguk lagi, berlagak mengerti padahal wajahnya masih jelas meledek. “Ya, ya.”

Bom merajuk. “Dara-ya…”

“Memang aku bilang sesuatu lagi?” Dara tertawa.

“Wajahmu mengatakan semuanya!” Bom bersungut-sungut.

Dara berkata dalam sisa-sisa tawanya. “Tapi, Bom-ah, apa kau sadar kalau Seunghyun setiap kesini pasti mencarimu? Waktu itu ia pernah datang tapi pas tahu kau tidak ada dia langsung pergi lagi. Padahal biasanya dia kan sangat betah disini sampai sering ketiduran.”

“YA, sekarang apa yang kau katakan?” Bom melotot.

“YA, apa yang kalian lakukan malam-malam begini di luar?”

Bom dan Dara menoleh. Seunghyun datang menghampiri mereka dari dalam rumah.

Dara tersenyum penuh kemenangan pada Bom. “Benar kan kataku.”

Seunghyun duduk di kiri Bom, karena sebelah kanan Bom ada Dara. “Benar apanya?”

Tepat saat itu, ponsel Dara berbunyi. Dara melihat ponselnya sekilas lalu tersenyum girang. “Yeoboseyo, jagiya[1]!”

Bom berdecak. “Apa belum puas bertemu di perusahaan tadi? Masih saja telepon-an.”

Dara menjulurkan lidahnya sambil bangkit. Ia melambaikan tangannya, mengisyaratkan kalau dia mau masuk rumah dan melanjutkan perbincangannya dengan Jiyong.

Seunghyun tertawa kecil. “YA, memang begitu orang pacaran! Apa kau tidak pernah mengalaminya?”

Bom mendengus. Ia memain-mainkan kakinya yang ada dalam air.

Seunghyun mendekatkan wajahnya hingga berhadapan dengan Bom. Seunghyun lalu bertanya dengan setengah berbisik. “Dengan pengusaha Ki Joon atau siapa itu, memang kau tidak pernah mengalaminya?”

“YA!” Bom mendorong wajah Seunghyun pelan. “Jangan ikut campur urusan pribadiku!”

Seunghyun yang kini sudah menjauhkan lagi wajahnya dan menatap kolam renang, tertawa melihat Bom yang kesal. “Oooh, kau tidak pernah mengalaminya.”

Bom menoleh kesal. “Sudah kubilang jangan ikut campur urusan pribadiku!”

“Bagaimana bisa itu urusan pribadimu? YA, sebenarnya aku tidak mau mengungkit hal ini tapi kau harus ingat kalau aku adalah penyelamatmu dari skandal foto itu!”

“Mwoya?! Penyelamat apanya?”

Seunghyun memukul kepala Bom pelan. “Anak ini!”

“YA! Bagaimana bisa orang yang lebih tua darimu kau panggil anak ini?!” Bom misuh-misuh lagi.

Seunghyun acuh, ia kembali menatap kolam. “Aku tidak suka menganggapmu lebih tua.”

“Mwo?! Kau—“

“YA, apa kau masih berteleponan dengan Lee Ki Joon itu?” Seunghyun segera memotong ucapan Bom. “Begini ya, Bommie-ah. Karena aku sudah menjadi penyelamatmu, setidaknya aku berhak mengetahui siapa Lee Ki Joon itu.”

Bom terdiam sebentar, lalu menatap langit. “Dia mantanku. Kami pernah berhubungan cukup lama sampai kemudian memutuskan untuk berpisah.”

“Kenapa?”

Bom berdecak kesal. “YA, apa kau tidak berpikir kalau kau bertanya terlalu jauh?”

“Aku kan hanya ingin tahu kenapa. Masa begitu saja tidak boleh?”

“Kalau aku ceritakan kenapa, berarti aku akan menceritakan semua kisahku dengannya. Apa kau sendiri mau menceritakan masa lalumu pada orang lain?” gerutu Bom.

Seunghyun angkat bahu. “Tentu saja. Memangnya kenapa? Aku tidak keberatan menceritakan masa laluku padamu. Toh masa lalu hanyalah masa lalu.”

“Begitu menurutmu? Kalau begitu coba ceritakan!”

“Aku berpacaran beberapa kali dan ketika sudah putus, aku tidak pernah mengurusinya lagi. Tidak seperti seseorang,” ujar Seunghyun menyindir Bom.

Bom mendelik kesal. “Iya, memang begitulah pria. Dengan mudah melupakan semuanya.”

“YA, apa maksudmu? Aku bukan orang yang benar-benar tidak berperasaan seperti itu!” seru Seunghyun kesal.

“Kalau begitu apa namanya? Bahkan tidak ada satu orang pun yang cukup membekas di hatimu,” Bom kembali memainkan air dengan kakinya. “Seunghyun-ah, apa menurutmu semua pria seperti itu? Melupakan apa yang sudah berlalu?”

Seunghyun menghela nafas. “Sebenarnya, ada satu orang yang cukup membekas untukku. Tapi karena kami saling tidak cocok, kami memutuskan untuk berpisah baik-baik. Sampai sekarang, kami masih berteman baik.”

Bom menoleh. “Siapa? Siapa orang itu? Apa selebriti juga?”

Seunghyun mengangguk.

Bom membesarkan matanya. “Jinjja[2]? Siapa?”

Seunghyun tertawa melihat ekspresi Bom. “YA, apa kau begitu ingin tahu?”

Bom mengangguk cepat.

“Shin Min Ah.”

Mata Bom semakin membesar. “Shin Min Ah? Benarkah? Ini sungguhan? Kau tidak mengaku-ngaku, kan?”

Seunghyun memukul kepala Bom pelan. “YA, aku sedang serius sekarang! Apa kau tidak bisa membedakannya?”

“Waaaah, daebak! Kau pernah berkencan dengan Shin Min Ah? Ah, ini sulit dipercaya,” Bom kemudian menepuk bahu Seunghyun. “Kuakui kau hebat, Choi Seunghyun.”

Seunghyun hanya tertawa. Bom kemudian menjentikkan jarinya. “Ah, pantas pernah ada pemberitaan kalau kau ke apartemen Shin Min Ah. Ternyata kau benar-benar berkencan dengannya, ya? Pantas saja sulit dilupakan. Mungkin semua pria akan sulit melupakannya kalau pernah berkencan dengan seorang Shin Min Ah,” suara Bom semakin pelan, teringat lagi masa lalunya.

“YA, memang menurutmu pria akan mudah melupakan kalau pernah berkencan dengan seorang Park Bom?  Ada hal-hal yang memang sulit dilupakan dari masa lalu,” ujar Seunghyun. “Aku tidak lupa dengan masa laluku, tapi bukan berarti aku terus hidup di dalamnya. YA, Bom-ah, kita hidup dengan melangkah maju. Bukan terus melihat ke belakang.”

Bom terdiam. Ia kembali memainkan kakinya di kolam.

“Mungkin ia tidak lupa padamu, tapi apa yang bisa ia lakukan? Apa yang bisa kau lakukan? Kalian sudah memutuskan semua itu, dan semua sudah terjadi. Kita hidup untuk masa depan, bukan untuk masa lalu,” Seunghyun mengelus pelan pundak Bom.

“YA, Seunghyun-ah,” Bom mengangkat kepalanya yang dari tadi tertunduk.

“Hm?”

Bom meletakkan tangannya di kening Seunghyun. “Apa kau sakit? Tiba-tiba kau mengatakan kata-kata ajaib padaku, aku jadi takut kau sakit.”

“YA!” sergah Seunghyun kesal.

Bom tertawa. “Aku baru melihatmu pertama kali seperti ini. Tapi bagaimanapun, terima kasih. Aku merasa baikan mendengar kata-kata ajaibmu itu.”

Seunghyun membusungkan dada dan menepuk-nepuknya. “Tentu saja! Kau baru tahu kalau Choi Seunghyun ini orang terkeren di dunia?”

“Ah, dia kembali lagi,” Bom menghela nafas.

Seunghyun tertawa.

Bom kemudian bangkit. Ia menghentak-hentakkan kakinya yang basah.“AAhh, sudah mulai dingin. Ayo masuk!”

Seunghyun menoleh dengan raut enggan. “Ah kau ini. Jarang-jarang aku menikmati malam seperti ini.”

“Baiklah, silakan nikmati malam ini. Aku masuk dulu,” sahut Bom enteng sambil berbalik dan berjalan ke pintu.

“YA—“

BRUK.

“AAAAAAA!!!”

************

“Oppa, ada apa?!” tanya Minji panik melihat Seunghyun membopong Bom yang masih mengaduh kesakitan.

“Bom tadi jatuh,” Seunghyun membaringkan Bom di sofa.

“Unnie!! Bom Unnie terluka!!” Minji berteriak-teriak panik.

“Apanya yang terluka?!” tanya Chaerin yang langsung berlari dari dapur. Tak lama, Dara datang dari kamar. “Bagaimana bisa terluka?!”

Bom meringis kesakitan dan memegangi kaki kanannya. “Kakiku…,”

“Tadi dia jatuh dekat kolam renang. Sepertinya terkilir cukup parah,” jelas Seunghyun.

Minji segera memegang kaki kanan Bom dan menekannya.

“AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!” Bom berteriak kesakitan. Dara segera berdiri di sampingnya dan memegang tangan Bom. “Tahan sedikit, Bom-ah. Minji akan mengobatimu.”

Minji  terus memijat-mijat kaki Bom, sementara Bom berteriak semakin kencang dan memeluk Dara erat. Chaerin memberikan obat tradisional Cina yang diambilnya dari kamar.

Seunghyun melihatnya khawatir. “YA, apa tidak apa-apa begitu?”

Dara mengangguk. “Tenang saja, Seunghyun-ah. Minji sudah biasa mengobati yang seperti ini. Ia mempunyai keahlian turun-temurun dari keluarganya. Kami semua pernah terkilir parah seperti Bom dan diobati oleh Minji. Hanya Bom yang baru terkilir parah seperti sekarang, kami semua sudah pernah.”

Pelukan Bom makin erat. Dara mengusap-usap kepalanya.

“Lemaskan kakimu, Unnie. Itu akan mempermudah peredaran darah,” ucap Minji sambil mengusap-usap kaki Bom dengan obat tradisional yang diberikan Chaerin.

Lima menit kemudian, Bom tampak lebih tenang. Kakinya tidak begitu sakit seperti sebelumnya.

“Minum dulu, Unnie,” Chaerin memberikan segelas air putih.

“Terima kasih, Chaerin-ah,” sahut Bom lemah dan meneguk minumannya.

“Apa sudah sembuh?” tanya Seunghyun.

“Belum total, tapi peredaran darahnya sudah mulai lancar. Untuk malam ini, Unnie belum bisa menggunakan kakinya. Biarkan istirahat dulu, aku akan mengolesi kakinya dengan obat yang satu lagi dan harus dibiarkan semalaman supaya obatnya meresap. Besok baru bisa dipakai berjalan,” jelas Minji panjang lebar.

“Berarti aku tidak dapat ikut latihan selama tiga hari,” keluh Bom. Ia tahu kalau kaki terkilir seperti ini, Minji akan menyuruh istirahat total tiga hari di rumah, seperti yang dilakukan pada Dara dan Chaerin saat terkilir juga.

Dara mendorong kepala Bom pelan. “Anak bodoh, istirahat saja dulu. Jangan pikirkan latihan, itu bisa kau kejar nanti.”

Chaerin mengangguk. “Betul, Unnie. Sekarang kau tidur saja, supaya efek obat itu juga langsung bekerja.”

Bom menghela nafas. “Baiklah, aku akan tidur sekarang. Terima kasih semuanya. Kalian beristirahatlah.”

“Kau akan tidur disini, Unnie?” tanya Minji. Bom mengangguk. “Nanti ambil saja selimutnya di lemari. Bibi Taeri baru mencucinya sebelum ke rumah anaknya.”

“Aku mau tidur disini saja menemanimu, Bom-ah,” ujar Dara. Ia lalu menggelar kasur lipat yang ada di dekat situ.

“Aku juga kalau begitu,” sahut Minji. Chaerin pun berpikir sama.

Seunghyun menggaruk kepalanya. “YA, Bom sedang sakit, mengapa kalian malah tidur disini?”

“Aku bukan sakit flu atau semacamnya, Seunghyun. Apa masalahnya kalau tidur disini? Lagipula kakiku akan sakit—“

Ucapan Bom terputus karena Seunghyun mengangkat dan membopongnya. “Tidurlah di kamarmu.”

Bom terdiam. Begitu juga dengan ketiga temannya. Mereka terpana melihat perbuatan Seunghyun.

“AAhh, kau berat sekali! Bukankah sudah kubilang kau harus diet?” seru Seunghyun.

“YA! Mengapa aku harus diet? Aku kan tidak gemuk!” Bom misuh-misuh.

“Tidak gemuk apanya? Lihatlah SNSD, mereka baru proporsional!”

“YA—“

Chaerin dan Minji tersenyum melihat perdebatan Bom dan Seunghyun. Dara malah terlihat sangat sumingah. Ia menempelkan kedua tangannya di pipi. “Manisnya…”

“Unnie, apa kau rasa tidak ada apa-apa di antara mereka, kalau sudah begitu?” tanya Minji retoris. Chaerin masih tersenyum. “Mereka hanya belum melihat sisi terdalam hati mereka.”

***********

“Apakah memang seberat itu?” tanya Dara ketika Seunghyun keluar dari kamar Bom sambil tersenyum-senyum.

“Apa?” Seunghyun bingung. Lalu ia tertawa kecil. “Ya, memang. Apa kalian tidak mempunyai program diet?”

Dara tersenyum. “Tapi tampaknya kau senang.”

“Hm?” Seunghyun mengernyitkan keningnya. Ia kemudian tertawa kecil. “Apa terlihat begitu?”

Dara mengangkat bahunya. “Kau yang bisa menjawabnya sendiri. Ngomong-ngomong, terima kasih ya, Seunghyun-ah. Kalau tidak ada kau, mungkin kami memang akan benar-benar tidur di ruang tengah dengan keadaan Bom yang seperti itu.”

“Sekarang kalian menyadari kan kalau keberadaanku sangat berguna? Aku ini pahlawan kalian!”

“Seorang pahlawan juga punya jam malam, Oppa,” ujar Chaerin yang tiba-tiba muncul.

Seunghyun menghela nafas. “Baiklah, baiklah. Aku pulang sekarang.”

“Jangan khawatir soal Bom, kami bertiga –eh malah berempat dengan Bibi Taeri sudah cukup untuk menjaganya,” ujar Dara.

Seunghyun mengangguk-angguk sebelum berbalik pergi. “Baiklah, aku percaya pada kalian.”

“Bahkan ia tidak mengelak kalau ia memang khawatir,” ucap Chaerin ketika Seunghyun sudah pergi. Dara hanya tersenyum mendengarnya.

**************
“Apa kakimu sudah tidak apa-apa?” tanya Seunghyun begitu Bom membuka pintu kamarnya.

Bom refleks mundur selangkah. “Oh Tuhan! Kau mengagetkanku!” Kepalanya pun terantuk pintu. “Aduh…”

“Kau tidak apa-apa?” raut wajah Seunghyun tampak khawatir. Bom mengusap-usap kepalanya dan menuruni tangga, menuju berjalan ke ruang makan. “Tidak apa-apa. AAhh, aku lapar sekali. Apa Bibi Taeri memasak sesuatu untukku?”

“Kakimu?” Seunghyun mengekor langkah Bom.

“Sudah tidak apa-apa. Aku bahkan bisa berlari sekarang,” Bom melihat meja makan sudah penuh makanan, pasti masakan Minji dan Chaerin ikut membantu Bibi Taeri memasak sebelum berangkat tadi. “Wah, sepertinya enak! Ayo makan, Seunghyun-ah!”

“YA, jangan berpikir untuk menggunakan kakimu berlari sebelum beristirahat tiga hari dengan baik,” ujar Seunghyun.

“AAhh, kau ini,” Bom menatap Seunghyun dan tertawa kecil. “Kau tahu, kau jadi seperti nenekku.”

“Park Bom, aku serius. Beristirahatlah dengan benar di rumah, jangan kemana-mana, dan jangan melakukan apa-apa yang membahayakan,” ucap Seunghyun serius.

Bom sempat terdiam beberapa saat melihat wajah serius Seunghyun, lalu tersenyum lebar. “Baiklaah, Seunghyun Appa. Terima kasih atas saranmu itu.” Bom menarik kursi di sebelahnya. “Sudah duduk sini, ayo kita makan.”

Seunghyun mendengus kecil. “YA, apa tadi kau memanggilku Appa lagi?”

Bom menyuap makanan dan mengangguk. “Hm! Itu bentuk hormatku karena kau telah menolongku semalam dan berkelakuan baik padaku.”

“Jadi selama ini kau tidak menghormatiku?”

“YA, seharusnya aku yang bertanya begitu! Aku yang lebih tua darimu, bukan kau!” seru Bom kesal.

“Ah, lagi-lagi kau membicarakan umur,” keluh Seunghyun. Seunghyun lalu mengambil sepotong daging dengan sumpitnya dan menaruhnya di mangkuk Bom. “Makanlah yang banyak.”

“YA, kau pria yang tidak tetap pendirian, Choi Seunghyun! Kemarin kau bilang aku gemuk dan harus diet, sekarang kau bilang aku harus banyak makan. AAhh, bagaimana kau ini?!”

Seunghyun tertawa kecil. “Sekarang kau harus banyak istirahat dan juga makan supaya cepat sembuh. Setelah itu baru kau diet.”

Bom menggerutu. “Untuk apa aku diet? Aku bahkan tidak gemuk!” Kemudian dia teringat sesuatu. “YA, Choi Seunghyun. Bukankah kau juga harus latihan bersama yang lainnya? Mengapa masih disini?”

Seunghyun terdiam. Pria itu lalu berdehem. “Aku lapar. Berikan roti padaku.”

Bom menatapnya heran.
*************

Rumah sakit Seoul.

Jang Bong Go mengetuk pelan pintu kamar rawat nomor 302 kemudian membuka pintunya. Dilihatnya Yoon Min Ah sudah bangun dan tersenyum kecil padanya.

“Kau sudah makan, Min Ah-ssi?”

Yoon Min Ah mengangguk. “Go… ma… wo… yo, Bong… Go… ssi,” ucap Yoon Min Ah terbata-bata. Ia memang belum bisa banyak bicara.

Jang Bong Go tersenyum lebar. “Sama-sama, Min Ah-ssi. Tidak perlu dipaksakan berbicara. Dokter Jung bilang pemulihanmu akan berkala, jadi tidak perlu dipaksakan.”

Yoon Min Ah tersenyum kemudian mengangguk.

“Oh iya, Dokter Jung sudah mendapat alamat-alamat panti asuhan Cahaya Hati di seluruh Seoul ini. Nanti ketika kau sudah sembuh, kita bisa mulai mendatanginya,” ujar Jang Bong Go.

Yoon Min Ah tiba-tiba menggenggam tangan Jang Bong Go erat. Jang Bong Go kaget melihatnya.

“Tolong … ban..tu … temukan … anak… ku. Ku…mo…hon…pa…da…mu…,” setelah mengucapkan kata-kata itu, Yoon Min Ah pingsan.

Jang Bong Go berteriak panik. “Dokter! Dokter!”




[1] Sayang
[2] Benarkah 

______________________________________________________________________
silakan dikomen yaa readers :) ditunggu banget kritik dan sarannya :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar