Selasa, 22 Desember 2015

Home Sweet Home Part 1



Cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. Kalo ada hal-hal yang saya pinjem itu nama-nama tokoh dan lain sebagainya itu buat kepentingan cerita aja. Selamat membaca, jangan lupa dikomen yaa, readers :) Ditunggu kritik dan sarannya yaa :)
_______________________________________________________________


CIIIIIIIT.

Bom menginjak remnya mendadak. Ada seseorang yang tiba-tiba berjalan ke tengah jalan dan menghalangi mobilnya. Bom langsung melepas seat-belt nya dan keluar mobil.

“YA[1]!! Apa kau mau mati?!”

Orang itu tersungkur di jalan. Ia lalu mendongak dan tertawa melihat Bom. “Pa-Park-Bom…,” ia menunjuk-nunjuk wajah Bom dengan jari telunjuknya.

Bom kaget. “Seung Hyun?”

Seung Hyun, orang itu, bangkit dan menghampiri Bom dengan langkah sempoyongan. “YA, Park Bom… apa yang kau lakukan di jalanan?! Kau mau mati?!”

“Kau mabuk,” keluh Bom. Seung Hyun malah tertawa dan berjalan ke mobil Bom. Ia membuka pintu mobil dan masuk.

Bom melongo melihatnya.

“YA! Ayo cepat naik! Apa kau mau berdiri di situ sampai besok pagi?!” seru Seung Hyun dari dalam mobil.

“AAhh, benar-benar!!” Bom menggerutu seraya berlari ke mobilnya.

“YA! Memangnya mana teman-temanmu?!” Bom siap mengomel panjang pendek ketika dilihatnya Seung Hyun sudah tertidur.

Bom tertawa melihat Seung Hyun yang mabuk berat. Tadi saat di cafe, ia melihat para member Big Bang memang minum agak banyak. Tapi ia tak menyangka kalau pria ini tidak begitu kuat minum.

“Seharusnya tadi aku merekamnya. Dari luar saja tampak begitu kuat, tapi ternyata tidak kuat minum,” Bom meraih ponselnya. Namun ternyata ponselnya mati. “Aahh, mengapa harus mati saat ini? Aku harus menelpon seseorang untuk membawa orang ini!”

Bom menoleh pada Seung Hyun, menelisik dimana kira-kira pria itu menaruh ponselnya. Gadis itu merogoh saku kemeja Seung Hyun. “Sekarang aku pasti tampak seperti seorang pencuri,” keluhnya. Bom lalu mengerutkan kening melihat apa yang ada di tangannya.

“Bukan ponsel, tapi Ipod? YA, tahun berapa ini, kau masih membawa barang ini dan tidak membawa ponsel? Kau paaaaaasti sangat menyukai musik!” gerutu Bom kesal. Ia membuka kaca mobilnya dan melihat sekeliling. Ia masih tak jauh dari café tempat agensi mereka membuat perayaan, tapi tadi ia keluar terakhir karena ada masalah dengan perutnya. Sepertinya ia salah makan. Dan pasti sudah tidak ada orang di café. Terakhir ia bertemu dengan Chae Rin yang membawakannya obat dan ia pulang ke asrama dengan member yang lain.

“Ini benar-benar menyusahkan!” Bom menggerutu lagi, sebelum akhirnya menyalakan mobilnya.

***

Seung Hyun menggeliat. Cahaya matahari yang menerpa wajahnya membuatnya terbangun. Ia melihat ke sekelilingnya dan terbelalak kaget.

“Dimana ini?!”

Bom langsung terbangun mendengar teriakan Bom. Seung Hyun makin kaget melihat ada Bom di sampingnya, dan menyadari kalau mereka ada dalam mobil.

“Mengapa kau berteriak pagi-pagi?” keluh Bom. Gadis itu menggeliat.

“Bagaimana mungkin aku tidak berteriak dalam keadaan seperti ini! Aku tidur tidak layak dalam mobil! Dan ada kau!”

“Siapa yang kau panggil ‘kau’? Aku lebih tua darimu, tunjukkan sopan santunmu!” gerutu Bom seraya merapikan rambutnya. Ia meraih kunciran dan mengikat rambutnya.

“Mengapa kau masih sempat membahas soal umur saat ini?! Sebenarnya apa yang terjadi?!” seru Seung Hyun. Jelas-jelas ia masih kaget.

“Sekarang kau bertanya padaku apa yang terjadi setelah membuatku susah tadi malam?” Bom berdecak. “Kau mabuk dan menghalangi mobilku! Ponselku mati jadi aku tidak dapat menghubungi siapapun. Dan kau, jaman apa ini? Bagaimana mungkin kau tidak membawa ponsel dan hanya membawa Ipod dalam sakumu?”

Seung Hyun melotot. “Kau mengambil barang dari sakuku?!”

“Apakah itu penting? Kau yang membuat masalah lebih dulu. Siapa suruh mabuk tidak tahu tempat,” Bom mencibir. “YA, Choi Seung Hyun! Sudah kubilang berkali-kali, kau hanya terlihat keren depan kamera. Selain itu, lihat ini. Kau bahkan tidak kuat minum dan mabuk berat!”

“YA! Siapa yang kau bilang mabuk berat?!”

“Siapa lagi? Kau masih mau menyangkal?!” sahut Bom kesal. “Kau bahkan menyusahkanku. Aku tidak tahu harus membawamu kemana, sampai aku harus tidur di mobil.”

Seung Hyun mengusap kepalanya. “Iya, aku tahu! Maafkan aku, Bom-ah,” ucapnya kemudian. “Lagipula siapa suruh malah tidur di mobil, kalau kau bisa masuk ke rumahmu dan tidur nyaman di dalam? Kau hanya memarkir mobilmu di halaman rumah dan tidur di mobil.”

“Memangnya semua ini karena siapa? Kau kira aku kuat mengangkat tubuhmu yang berat ke dalam rumahku? Kubangunkan berkali-kali pun kau tidak bergerak sama sekali. Aku sempat berpikir jangan-jangan kau mati!”

“YA, jangan bicara sembarangan!” seru Seung Hyun. Wajahnya memerah, malu.

Bom tertawa. Ia lalu membuka pintu mobil dan keluar.

“Kau mau kemana?” tanya Seung Hyun cepat.

“Tentu saja ke rumah. Semalaman aku menghabiskan waktu di mobil ini, apa kau pikir menyenangkan berlama-lama di dalamnya?”

Seung Hyun ikut keluar. Ia melihat ke sekelilingnya, waspada. “Bom-ah, wartawan tidak pernah kesini, kan?”

“Tenang saja, lokasi rumah ini cukup terpencil untuk seorang artis,” sahut Bom seraya membuka pintu rumahnya.

***

“Wuaaaah!”

Itu kata pertama yang keluar dari mulut Seung Hyun begitu memasuki rumah Bom. Bom tertawa melihatnya. “Mengapa? Kau tidak pernah melihat rumah sebagus ini sebelumnya?”

Seung Hyun tidak mempedulikan ucapan Bom yang sengaja meledeknya. Rumah Bom sebenarnya tidak sebagus itu, dan juga bukan model baru. Dindingnya dicat warna hijau muda dengan lantai hijau tua, membuat kesan rumah yang asri. Di sudut ruangan terdapat tanaman hias sehingga terasa segar.

Seung Hyun berjalan terus dan menelusuri isi rumah Bom. Setelah ruang tamu, ada tangga sekitar lima undak yang menghubungkan ke ruangan selanjutnya. Dalam ruangan itu, terdapat televisi dan sofa, serta beberapa kasur lipat yang tertumpuk rapi di sudut ruangan. Seung Hyun mengusap dagunya. Rasanya ia sangat familiar dengan rumah ini.

“YA, Seung Hyun-ah! Kau benar-benar baru melihat rumah seperti ini?” Bom heran melihat Seung Hyun tampak begitu tertarik dengan rumahnya. “Kau bahkan masuk ke ruang televisi tanpa bilang apa-apa, seolah aku tidak ada disini,” gerutunya.

Seung Hyun tertawa kecil mendengar Bom menggerutu. “Mian[2], Bom-ah. Aku hanya merasa…,” Seung Hyun melihat sekeliling rumah Bom. “… kalau aku familiar dengan rumah ini.”

Bom mengangkat alis. “Apa?”

Seung Hyun kini beranjak ke jendela besar yang menghadap langsung ke taman. Di sebelah taman, ada sebuah kolam renang kecil. Ia menoleh pada Bom. “Entahlah. Ini pertama kalinya aku ke rumahmu, kan? Apa kau pernah membiusku dan membawaku diam-diam kesini?” Seung Hyun mengedipkan sebelah matanya pada Bom.

Bom melotot. “Mwoya[3]?!”

Seung Hyun tertawa. “Ya, siapa tahu? Mengingat semalam pun kau sanggup membawaku ke dalam mobilmu.”

“Kau yang masuk ke mobilku, bukan aku yang membawamu!” seru Bom kesal. “Ini pertama kalinya kau ke rumahku! Bahkan kau pria pertama yang datang ke rumahku!”

Seung Hyun terus tersenyum melihat Bom mengomel. Bom melemparkan bantal sofa dan tepat mengenai wajah Seung Hyun. “YA!” kini Seung Hyun yang berteriak.

“Siapa suruh begitu senang mengusiliku!” Bom beranjak ke dapur, yang letaknya di samping ruang televisi. “Di perusahaan, di tempat rekaman, bahkan di rumahku sendiri kau begitu senang usil padaku!” Bom masih menggerutu.

Seung Hyun tertawa lagi. Ia kemudian duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya. “Kau tinggal sendiri disini?” Seung Hyun akhirnya mengalihkan pembicaraan.

Bom datang dengan dua gelas air putih di tangannya. “Biasanya ada Bibi Tae Ri yang membantuku mengurus rumah. Tapi Bibi sedang pulang ke rumah anaknya di Jinan, anaknya melahirkan. Jadi hanya ada air putih karena aku belum belanja.”

Seung Hyun menerima gelas dari Bom. “Tidak apa-apa. Ini sudah bagus, terima kasih.”

Bom duduk di sofa sebelah Seung Hyun.

“Ini sebenarnya rumah nenekku. Nenek membelinya ketika aku berusia tujuh belas tahun, dan kami tinggal berdua disini. Tapi kemudian Nenek ingin tinggal di Jinan dan meninggalkan rumah ini untukku.”

Seung Hyun mengangguk-angguk. Bom, meskipun sering menggerutu, tapi juga cepat mengubah mood-nya. Seperti sekarang, gadis itu sudah bercerita panjang lebar tentang rumahnya.

“Member lain sering main kesini jika kami sedang tidak ada jadwal. Kami biasa nonton film, main kartu, atau hanya mengobrol sampai malam. Kasur itu,” Bom menunjuk tumpukan kasur lipat di sudut ruangan. “… kami sering tidur disini bersama-sama daripada di kamar, jadi sering menggunakan kasur itu.”

“Selain member-mu, siapa lagi yang pernah kesini?”

“Tidak ada. Hanya mereka bertiga yang sering main kesini, bahkan ini seperti asrama kedua. Bisa dibilang, mereka tinggal disini juga. Sebenarnya aku pernah ingin mengadakan pesta di sini dengan orang agensi lainnya, tapi selalu tidak sempat.”

“Lalu kau tidak tinggal di asrama?”

“Tidak juga. Kadang aku tinggal di asrama, kadang disini. Tergantung jadwal juga. Tapi minimal tiga hari sekali aku datang melihat kondisi rumah. Juga menengok Bibi Tae Ri,” Bom melihat gelas Seung Hyun yang kosong. “Seung Hyun-ya, kalau kau mau minum ambil saja di dapur. Aku ingin tiduran sebentar.”

Bom kemudian merebahkan tubuhnya. Ia memejamkan matanya. “Ah, lelahnya.”

“Bom-ah,” panggil Seung Hyun.

“Apa?”

“Aku juga ingin tinggal disini.”

Bom langsung terbangun dan membelalakkan matanya. “Apa?!” 

-TBC-

[1] Hei
[2] Maaf
[3] Apa-apaan

____________________________________________________________

silakan dikomen yaa chingu hehehehe, aku newbie nih dalam dunia per-fanfic-an XD ditunggu komen2, kritik dan saran dari chingu-deul :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar