Kamis, 20 Maret 2014

Last Mission : Protect You

Protect You


Kelompok kami dikenal dengan nama Black Medal.
Orang menyebut kami mafia, tapi menurutku kami hanya melakukan pekerjaan yang kami kuasai. Seperti yang orang lain lakukan. Kami mengumpulkan uang dan memperluas wilayah, seperti yang orang lain lakukan. Dengan cara kami.
Black Medal berada dibawah pimpinan Tom dan Elizabeth, kekasihnya. Tom bilang, ia menemukanku ketika aku berusia sekitar lima tahun. Tom tidak mengatakan hal lain mengenai asal-usul diriku atau siapa keluarga asliku, dan aku pun tidak mau tahu. Aku merasa hidupku dimulai ketika aku menjadi bagian dari kelompokku. Merekalah keluargaku. Ada Tom dan Eli sudah seperti orangtua sesungguhnya bagiku. Ada Ben yang selalu kuikuti kemanapun ia pergi, membuatku lebih dekat dengannya dibanding dengan yang lain. Juga ada anggota kelompok yang lain, yang sudah seperti keluarga sesungguhnya.
Aku menjadi anggota kelompok yang dimanja oleh semua orang, terutama Eli. Buat Eli, aku adalah putri kecilnya. Ia selalu menemaniku hingga tertidur setiap malam, baru kembali ke kamarnya. Dan selalu memberikanku segelas susu segar ketika aku bangun tidur.
Aku diberi kesempatan oleh Tom untuk melakukan apa yang kuinginkan, dan mendapat kepercayaan di laboratorium dan teknologi karena otakku yang jenius. Tom seperti sosok ayah yang membiarkanku berlari, dengan tetap menjagaku dari belakang. Meski sebagai anggota, aku tetap mendapatkan pelajaran bela diri dan keahlian lain untuk meningkatkan kewaspadaan serta kemampuanku. Kata Tom, itu hal dasar bagi kami. Tom dan Eli berdebat dua hari mengenai hal itu. Eli akhirnya mengalah dengan syarat tidak mengajarkanku hal-hal yang berhubungan dengan benda berbahaya, seperti pistol dan pedang. Aku tidak pernah memegang pistol seumur hidupku.
Sampai pada kejadian itu.
Mulanya, NM7 merupakan hal jenius yang kugagas. Obat abadi. Untuk menyembuhkan semua penyakit, dan akan dikembangkan untuk bisa memperpanjang usia. Hidup selamanya. Kami semua sangat senang saat itu, membayangkan akan hidup selamanya bersama dengan kelompok ini. Dengan keluarga ini.
NM7 kepanjangan dari Next Mission 7, karena itu adalah penemuan besarku yang ketujuh. Namun itu berubah menjadi Nightmare setelah kejadian dua belas tahun yang lalu. Aku tidak pernah hidup dengan sama lagi. Tom, yang sudah diberi penjelasan oleh Ben, mengabulkan permintaanku untuk pergi. Ia tersenyum lembut padaku ketika mengantarku pergi.
Namun Eli tidak. Eli tidak mau menemuiku setelah keputusan itu dibuat.
Ben bilang, ini sangat berat untuk Eli. Aku mengerti, aku sangat mengerti. Ben yang terakhir menggenggam tanganku erat waktu itu. Dan berkata, “Kau harus hidup dengan baik, Alo. Dan tetaplah hidup.”
Aku tidak pernah menceritakan soal mimpi-mimpi yang berisi mereka pada siapapun. Mereka hanya tahu aku sudah tidak sanggup lagi berada dalam bayang-bayang kejadian itu, dan takut melakukan hal serupa. Seorang anggota kelompok yang takut dan pengecut yang ingin hidup normal. Biar mereka memandang ini sebagai keputusan yang egois. Supaya mereka lebih mudah membenciku, dan tidak lagi mengingatku dalam hidup mereka. Supaya lebih mudah bagi kami untuk tidak bertemu lagi.
Bahkan pada Ben, yang selalu kuceritakan apapun padanya, tidak kukatakan.
***
Ben kini ada di hadapanku.
Mataku membesar. Aku merasa pijakan kakiku goyah. Tubuhku yang limbung hampir saja jatuh kalau Ben tidak cepat menangkapku. Tangan Ben juga sigap mengambil guci yang ada di tanganku dan meletakkannya di bawah.
Aku merasakan tangan Ben yang melingkari tubuhku. Merasakan kalau ini benar-benar Ben.
“Ben?” aku menatap matanya. Bertanya apakah ini benar-benar dia.
“Iya, Alo. Ini aku,” ujar Ben. Ia lalu melepaskan tangannya dan membantuku berdiri dengan benar.
“Ba-bagaimana bisa? Kau di tabung! Kau keluar dari sana? Bagaimana bisa? Kau…,” aku kehabisan kata-kata. Tidak mempercayai apa yang terjadi.
“Itu bukan aku. Itu kloning,” ucap Ben. “Ini jebakan. Kau hanya akan dimanfaatkan.”
Mataku membesar. Aku teringat sesuatu. Aku segera menunduk dan menyingkap jaket Ben sedikit. Melihat pinggang kanannya.
Ada bekas lukanya. Ia memang Ben.
Aku langsung memeluknya erat. “Kau selamat, Ben! Kau hidup!”
Ben balas memelukku. “Aku baik-baik saja, Alo. Kau yang berada dalam bahaya disini.”
Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya. “Aku bisa pergi sekarang. Ayo pergi dari sini.”
“Tidak mudah, Alo. Zeus sudah menyiapkan semuanya. Kita perlu rencana.”
Aku mengangguk-angguk. “Bagaimana kalau membicarakannya di dalam? Di dalam aman, tenang saja.”
Ben menggeleng. “Ada kamera kecil di dekat jam, Alo. Satu-satunya yang tidak ada penyadap hanya di laboratorium.”
Aku mengerutkan kening. Tempat itu luput dari pengamatanku. “Dia berbohong padaku?”
“Sudah kubilang, jangan mempercayai siapapun,” ujar Ben. “Sekarang masuklah. Kalau terlalu lama nanti mereka curiga.”
Aku tidak bergerak. Enggan berpisah dengan Ben. Tidak setelah aku mengetahui ia ternyata selamat, tidak terkapar tak berdaya dalam tabung besar.
Ben mengeluarkan seekor kucing dari tasnya. “Dan bawa masuk ini, supaya mereka tidak curiga melihatmu keluar tadi. Sekarang kau harus tidur, dan temui aku dua jam lagi di laboratorium.”
Ben bergerak, bersiap pergi. Aku memandangnya lekat. Ben menoleh. “Kau harus benar-benar tidur, Alo. Kita akan melalui waktu yang panjang. Sekarang istirahatlah.”
***
Ajaibnya, aku benar-benar tertidur dua jam. Mungkin efek perkataan Ben. Dulu aku tidak pernah tidak melakukan apa yang dikatakannya. Dan ternyata sampai sekarang pun masih begitu.
Aku sudah hampir sampai laboratorium. Para penjaga tidak bertanya mengapa aku keluar kamar dini hari seperti ini. Salah satu permintaanku pada Zeus, untuk tidak diintrogasi oleh siapapun. Apalagi hanya oleh penjaga pintu.
Aku memasuki laboratorium dan mengunci pintunya cepat. Mataku langsung menyisir seisi laboratorium, mencari-cari sosok Ben.
“Alo.”
Aku langsung menoleh. Kudapati Ben sudah berada di belakangku. Sepertinya tadi ia bersembunyi di balik rak dekat pintu.
“Apa kau sudah menunggu lama?” tanyaku.
Ben terdiam beberapa saat. Menatapku lekat. “Iya,” Ben menghela nafas. “Sepuluh tahun.”
Aku menunduk. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. “Maaf.”
Kami terdiam beberapa saat.
“Yang penting sekarang adalah segera keluar dari tempat ini,” Ben lalu menarik tanganku. Dan berjalan ke arah tabung besar berisi kloning Ben. “Zeus membuat kloningku agar kau mau melakukan apa yang diinginkannya, Alo. Tapi orang ini, dia manusia sungguhan. Ia yang nanti akan menjadi percobaan NM7,” Ben menunjuk tabung yang berisi anggota kelompok Red Skull.
Aku hanya diam, mendengarkan penjelasan Ben dengan seksama.
“Zeus memang memiliki ahli teknologi yang bisa membuat kloningku, tapi tidak memiliki ahli kimia hebat sepertimu yang bisa membuat obat NM7. Ia juga memiliki pasukan yang kuat. Akan sulit melawan mereka saat ini, tapi tidak berarti tidak dapat ditembus,” ujar Ben sambil mengeluarkan secari kertas dari sakunya. “Ini adalah peta tempat ini. Aku sudah memeriksa semua tempat mana saja yang memiliki kamera pengawas atau penjaga. Kau melihat tanda panah ini? Kau bisa mengikuti arah panah ini.”
Aku mengamati kertas yang ada di hadapanku sambil mengangguk-angguk.
“Setiap pukul lima pagi, mereka mengadakan pergantian jadwal jaga. Pukul lima kurang lima, kau mintalah sarapan pada mereka untuk diantarkan ke ruanganmu. Di saat terjadi sedikit kerumitan antara pertukaran jadwal jaga dan mengikuti permintaanmu, segera menyelinap keluar. Belokan pertama, kau naik ke atap. Jalur ini terlalu banyak kamera pengawas,” Ben menunjuk lokasi yang tidak jauh dari kamarku.
“Lewat jalur ventilasi?” tanyaku agak khawatir. Ben mengangguk. “Kau pasti bisa. Kau sering melakukannya dulu.”
“Itu sudah lama sekali. Aku tidak yakin masih bisa melalui tempat kecil seperti itu,” sahutku.
“Aku akan menjagamu, Alo. Aku akan memastikan kau selalu aman,” ujar Ben, menatap lekat-lekat pada bola mataku. Aku terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk.
“Bagus. Kau pasti bisa melakukannya,” Ben kembali lagi pada kertas di tangannya. “Ujung jalur ini ada dekat tempat parkir. Dari situ, kita keluar menggunakan mobil katering yang akan keluar dari gedung ini pukul lima lewat tiga puluh menit. Kita harus keluar tepat waktu.”
***
Semenjak pergi dari kelompokku, aku benar-benar berusaha menjalani hidup dengan normal. Aku menjauhi Italia sebisa mungkin. Selama dua tahun aku berpindah-pindah di Afrika dan Asia. Soal uang? Aku menggunakan sedikit kemampuanku mengotak-atik teknologi untuk “meminjam” uang dari rekening orang-orang. Tidak banyak, hanya sekitar 0,01% dari jumlah tabungan mereka, yang sebenarnya tidak mereka sadari. Hitung-hitung itu sedekah mereka. Dan aku tidak serakah. Aku hanya mengambil sejumlah yang kubutuhkan.
Lalu sampailah aku ke Indonesia, dan memutuskan untuk menetap disini. Alasan pertama karena negeri ini paling sedikit memiliki jaringan dengan duniaku dulu. Alasan kedua karena Jakarta memiliki banyak penduduk, dan aku butuh berada dalam kumpulan banyak orang. Alasan ketiga karena lobi yang menyenangkan dan mudah disini. Aku tidak terdaftar sebagai warga negara Indonesia, tapi aku memiliki kartu tanda penduduk sampai akte kelahiran yang bisa kuberikan ketika aku melamar pekerjaan. Tentunya ijazah lengkap sampai perguruan tinggi juga. Hal yang sulit kulakukan di negara lain, sedangkan aku harus menyembunyikan identitasku. Negara ini sempurna untukku.
Aku tidak melakukan hal-hal yang menarik perhatian orang, dibantu wajah asiaku yang tidak menimbulkan banyak pertanyaan orang mengenai darimana asalku. Aku berangkat pagi dan pulang sore hari, bekerja dengan tidak terlalu keras dan tidak terlalu malas. Biasa saja. Aku berusaha keras menjalani kehidupan yang normal.
Dan sekarang, setelah delapan tahun hidup dengan normal, aku kembali seperti masa lalu. Kurang dari dua puluh jam yang lalu aku kembali meracik cairan kimia di laboratorium. Dan kini, aku berusaha menyelinap keluar dari gedung ini.
Perkiraan Ben tepat. Kekacauan sedikit terjadi dan aku segera memanfaatkannya dengan keluar cepat dari laboratorium tanpa mereka ketahui. Aku sedang menyusuri lorong yang ditunjukkan Ben tadi, perlahan. Lalu sampai pada lorong yang banyak memiliki kamera pengawas. Aku mendongak, melihat lubang ventilasi.
Aku harus melakukannya.
Aku melompat-lompat kecil, bersiap untuk loncat keatas sana. Rambut panjangku sudah kuikat. Aku sedikit tegang. Ini sudah lama sekali tidak kulakukan. Aku bahkan tidak pernah menggunakan tangga darurat di apartemenku, selalu menunggu lift meski lama.
HUP.
Loncatan pertamaku gagal. Aku tidak sampai menggapai lubang ventilasi itu. Aku menggosok-gosokkan tanganku yang terasa dingin, meniupnya pelan. Ben tidak bersamaku. Ia entah dimana, di suatu tempat.
Namun ia pasti mengawasiku. Berarti Ben tidak jauh dariku. Tidak apa-apa. Aku pasti akan selalu aman.
Aku melompat-lompat kecil lagi, bersiap melakukan loncatan kedua.
HUP.
Kali ini aku berhasil. Aku segera memasuki jalur ventilasi yang sempit itu. Merayap perlahan tapi pasti. Berusaha mengejar waktu.
Aku sudah merayap cukup jauh ketika samar-samar kulihat dari lubang ventilasi beberapa penjaga berkeliaran. Mereka mungkin sudah menyadari aku menghilang. Aku mempercepat lajuku.
KRAK.
Aku membeku. Karena gerakanku yang terlalu cepat, aku tidak sengaja menabrak lubang ventilasi. Sekarang para penjaga itu tampak bersiaga, mencari tahu darimana arah suara itu.
Aku tidak bergerak, khawatir akan menimbulkan suara yang lain lagi. Tapi ada seorang penjaga yang berjalan mendekat ke arah ventilasi. Aku menahan nafas melihat penjaga itu yang semakin dekat, tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Namun tiba-tiba, penjaga itu menjauh. Juga penjaga yang lain. Mereka berlari menuju ruangan sebelah. Entah kenapa.
Aku menghela nafas lega. Tanpa pikir panjang, aku segera melanjutkan merayap. Sepertinya sebentar lagi aku akan keluar dari jalur ventilasi ini. Sebentar lagi, aku keluar dari gedung ini dan pergi bersama Ben.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya aku sampai pada ujung jalur ventilasi. Aku melihat keadaan sekitar sebelum membuka lubang ventilasi perlahan. Aku melongokkan kepalaku, memeriksa sekali lagi keadaan sekitar.
“Alo!”
Aku tersenyum. Ben tidak jauh dari tempatku. Aku segera bergerak untuk mengeluarkan tubuhku secara sempurna dari jalur ventilasi.
“Ben!”
Aku bersiap untuk berlari menuju Ben. Ben tersenyum lebar. Aku ikut tersenyum, membayangkan akan segera pergi dari tempat ini. Dan bersama Ben. Dan akan berbincang banyak hal dengan Ben.
Namun tiba-tiba, senyum Ben memudar. Aku mengernyitkan kening, baru akan bertanya ada apa sampai kurasa popor senapan di kepalaku.
“Usaha yang bagus, Alora.”
Zeus berdiri tak jauh dariku. Ia tersenyum. “Maaf, aku menggagalkan usahamu.”
Aku segera menatap Ben, menyuruhnya pergi. Tapi Ben tidak bergerak.
Zeus menyadarinya. “Wah, ada reuni keluarga kurasa? Kau sudah bertemu dengannya, Alora. Jadi kurasa aku tidak perlu repot-repot menjelaskan apa yang terjadi.”
“Ben, pergi!” seruku cepat menatap Ben yang masih diam di tempat. Namun Ben lagi-lagi tidak bergerak, sampai para penjaga menerima paksa.
***
“Seharusnya kau tadi pergi, Ben. Bukan kau yang mereka inginkan,” ujarku pada Ben, yang duduk tidak jauh dariku. Sekarang keadaan kami benar-benar seperti orang yang diculik, dengan kedua tangan dan kaki diikat di kursi. Yah, setidaknya mereka tidak menutup mulut kami juga.
“Tapi mereka menginginkanmu. Aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri, Alo.”
Aku menghela nafas, lalu menatapnya sedih. “Mengapa? Aku sudah pergi selama sepuluh tahun. Aku mengkhianati kalian!”
“Kita keluarga, Alo,” ujar Ben, lemah. “Apapun yang terjadi, kenyataan itu tidak berubah. Bahwa kita keluarga.”
Aku tercengang mendengarnya. Tidak menyangka kata-kata itu masih keluar dari mulut Ben setelah sepuluh tahun. Setelah semua yang terjadi.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.
“Bagaimana kau tahu aku disini?” tanyaku memecah keheningan. Sebenarnya aku ingin mengatakan ini sejak pertama melihat Ben, namun kutahan karena kupikir aku akan segera keluar dari sini dan memiliki waktu lebih banyak dengan Ben. Waktu untuk mengatakan dan menanyakan banyak hal.
“Aku punya cara,” jawab Ben pendek.
“Apa itu?” desakku.
“Eli tahu penyebab kepergianmu,” ujar Ben.
Aku mengerutkan kening. Bukankah semua orang tahu? Tentu saja Eli tahu.
“Maksudku, soal mimpi-mimpi itu,” ucap Ben mengerti kebingunganku. “Eli selalu menemanimu sampai tidur, kau ingat? Ia selalu menyaksikan bagaimana kau tersiksa dengan mimpi-mimpi buruk itu. Juga siapa yang ada dalam mimpimu.”
Aku menatap Ben tidak percaya. Jadi selama ini, Eli tahu? Benar-benar tahu?
Ben menghela nafas. “Eli tahu kau memimpikan kami. Eli tahu kau takut hal itu terjadi pada kami. Karena itu Eli tidak bisa melihatmu ketika kau pergi. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa untukmu. Ia tahu penderitaanmu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.”
Mataku berkaca-kaca. Tiba-tiba aku sangat ingin berlari dan memeluk Eli sekarang juga.
“Eli merindukanmu. Ia sering menangis malam hari,” Ben menerawang. “Dan… Tom juga. Aku sering melihatnya minum anggur sendiri sambil menangis. Hidup tak lagi sama tanpamu, Alo.”
Airmataku tumpah. Wajah Eli dan Tom bergantian muncul. Mereka terlalu baik padaku.
“Aku menjadi lebih sering mendatangi rumah pohon kita,” ujar Ben. Lalu memandangku. “Aku merindukanmu. Kami merindukanmu.”
Airmataku semakin deras. “Ma-maafkan aku.”
Ben menggeleng. Matanya juga tampak berkaca-kaca. “Tidak, Alo. Kau tidak salah. Ini hanya jalan hidup kita. Aku justru sangat berterima kasih karena kau masih hidup. Kau hidup dengan baik. Terima kasih, Alo.”
Aku tergugu beberapa saat.
“Aku mencarimu sejak lima tahun yang lalu. Cukup sulit mencarimu, karena kau tidak terdaftar di negara manapun. Aku baru menemukanmu tiga hari yang lalu, dan keesokan harinya kau dibawa kesini,” lanjut Ben.
“Bagaimana keadaan Eli dan Tom? Dan yang lain?” tanyaku ketika tangisku sudah mulai reda.
“Eli memberitahukan yang sebenarnya pada kami enam tahun yang lalu. Ia menanggungnya sendiri selama empat tahun, dan memutuskan untuk memberitahukan pada semuanya karena situasi kelompok yang semakin gelap. Kau tahu apa yang dikatakan Tom setelah mendengar semua itu?” Ben bertanya padaku, seperti tidak mendengar kalau aku bertanya padanya tadi.
Aku hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Tidak bisa memikirkan apapun.
“Aku akan menghentikan semua ini. Mulai sekarang, tidak ada lagi Black Medal,” ujar Ben. “Itu yang diucapkan Tom.”
Aku ternganga. Tidak percaya. Black Medal adalah kelompok yang dibangun Tom dengan susah payah, dengan keringat dan darah.
“Me-mengapa?”
“Tidak ada yang menentang perkataan Tom. Kami masih bersama, namun tidak melakukan hal-hal seperti dulu lagi. Kami pindah ke pinggir Italia dan memulai bisnis baru. Garmen dan sepatu. Itu berjalan cukup lancar sampai sekarang. Ternyata hidup normal tidak buruk juga,” ujar Ben. “Itu semua karena kami ingin kau kembali, Alo. Kami ingin tetap bersamamu. Karena itu aku mencarimu, untuk kembali pada keluarga kita. Kalau kau takut hal-hal seperti dua belas tahun yang lalu terjadi lagi, kami bisa meninggalkannya. Tapi kami tidak bisa meninggalkanmu, Alo.”
Airmataku tumpah lagi. Perasaanku campur aduk. Sedih, merasa bersalah, terharu. Juga, bahagia. Karena memiliki keluarga seperti mereka.
“Ma-maafkan aku,” aku tergugu. “Maafkan aku. Aku menghancurkan kalian.”
Ben menggeleng. “Tidak, Alo. Bukan itu yang seharusnya kau katakan.”
Aku menatap Ben yang terlihat kabur karena airmataku. Ben tersenyum.
Aku menghela nafas. “Maafkan aku. Seharusnya aku tidak pernah pergi.”
Senyum Ben semakin lebar.
“Kau tahu, Alo? Eli pernah berkata padaku, kalau saja ia diberi kesempatan untuk bertemu lagi denganmu suatu saat nanti, kapanpun itu,” Ben menatapku lembut. “Ia ingin menjadi keluargamu lagi. Ia ingin kau menjadi putri kecilnya lagi.”
Aku tidak bisa berkata-kata. Airmata terus mengalir dari kedua mataku.
“Eli dan Tom sangat mencintaimu, Alo. Kau hadiah dalam hidup mereka,” ujar Ben. Ia lalu menatap langit-langit. “Aku tidak mau memberitahukan ini, Alo. Tapi kau harus tahu.”
Aku terdiam. Entah kenapa, jantungku berdegup lebih kencang. Aku punya firasat buruk.
Ben menatapku. Aku melihat airmatanya untuk pertama kali seumur hidupku.
“Eli sudah pergi setahun yang lalu, Alo. Ia sakit paru-paru. Tom menyusulnya dua bulan kemudian.”
***
Aku tahu akhirnya akan begini. Dari awal aku tahu.
Zeus menunjukkan ponselnya padaku. Terlihat Ben yang masih tidak sadarkan diri berada di sebuah kamar hotel. Aku tahu persis dimana hotel itu, karena aku yang mengirimkan alamatnya.
Aku menghela nafas. Membisikkan kata maaf untuk Ben dalam hatiku. Aku harus melakukan ini untuk menyelesaikan semuanya. Membuat NM7 untuk Zeus. Dan membawa Ben pergi dari tempat ini, meskipun harus membiusnya.
“Alo! Ini tidak benar! Kau tidak bisa melakukan ini!” Ben berteriak-teriak sambil meronta dari cengkraman kuat para penjaga.
Aku hanya terdiam, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Beberapa menit yang lalu, aku memang meminta penjaga untuk mempertemukanku dengan Zeus. Untuk membuat kesepakatan. Ben harus pergi dari sini. Aku tidak bisa membuat siapapun mati karenaku. Lagi.
“Apa kau kira dia akan menepati janjinya, Alo?! Ia akan membunuhmu begitu obatnya selesai dibuat!”
Aku memejamkan mata. Aku tahu itu. Dari awal, aku tahu itu. Aku tahu bagaimana cara kerja dunia seperti ini. Kau harus melenyapkan penghalangmu. Siapapun itu.
Dan aku termasuk penghalang, karena bisa membuat NM7 lain. Tentu Zeus tidak ingin itu terjadi.
“Jangan sentuh Ben,” ujarku pada Zeus. Menatapnya tajam. “Juga siapapun dari kelompokku.”
Zeus mengangguk. “Tenang saja, Alora. Bukan dia yang kuinginkan. Kau harusnya lebih mempercayaiku sedikit.”
Aku terdiam. Bukan karena mempercayainya, tapi karena tahu yang ia katakan itu benar. Zeus tidak menginginkan Ben atau kelompokku. Apalagi setelah mereka tidak lagi berada dalam dunia seperti ini.
***
Dua puluh dua jam kemudian.
NM7 sudah jadi. Anggota kelompok Red Skull yang sekarat itu sudah diberikan NM7, dan sudah sadar. Sekarang aku sedang berada dalam ruangan Zeus.
Sekarang akan benar-benar berakhir.
Zeus tersenyum lebar. “Kau memang benar-benar hebat, Alora. Our great Alora. Apa kau yakin tidak sayang menghabiskan hidupmu di perusahaan seperti itu? Aku bisa memberimu jauh lebih banyak dari itu.”
Aku tersenyum sinis. “Aku tidak akan lagi melakukan hal seperti ini. Terutama untukmu.”
Zeus mengangkat bahu. “Sayang sekali, Alora. Aku tahu begitu kau sudah membuat keputusan, tidak ada yang bisa mengubahnya,” ujar Zeus. Ia mengambil pistol yang terselip di ikat pinggangnya.
“Aku tidak punya pilihan lain kalau begitu,” ujar Zeus sambil menodongkan pistol tepat ke arah kepalaku. Aku hanya menatapnya.
Ini benar-benar sudah berakhir.
DUAR.
Aku memejamkan mata.
Namun tak lama, aku membuka mataku kembali. Aku baik-baik saja. Suara itu bukan berasal dari pistol Zeus.
Dua orang penjaga masuk ruangan dengan tergesa. “Ketua, laboratorium meledak!”
Zeus mengerutkan kening.
“Dan yang diberikan pada Robert bukan NM7, itu hanya obat pengembali detak jantung!”
Zeus kini mengalihkan pandangannya padaku. Aku tersenyum kecil.
DUAR.
Terdengar ledakan lagi. Selama dua puluh dua jam terakhir, aku memang membuat beberapa cairan peledak yang kutempatkan di beberapa sudut gedung ini.
Zeus memandangku marah. “Kau bermain-main dengan orang yang salah, Alora!”
Zeus mengarahkan lagi pistolnya padaku, siap menekan pelatuk. Namun tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan dan menendang tangan Zeus. Pistol Zeus terlempar.
Itu Ben.
Aku memandangnya tidak percaya. Ben segera menembak kedua penjaga itu, lalu mengarahkan pistolnya pada Zeus.
Zeus tersenyum. “Kau memang kuat seperti yang kudengar, Benjamin.”
“Dan kau akan membayar karena telah melakukan semua ini!” seru Ben, siap menarik pelatuknya.
“AAAHH!” aku berteriak kaget ketika menyadari tiba-tiba ada dua penjaga menarikku kasar. Ben menoleh kaget. “Alo!”
Ben langsung menembak kedua penjaga itu sampai rubuh. Zeus memanfaatkan keadaan itu untuk mengambil pistolnya dan mengarahkannya padaku.
DUAR.
Zeus menekan pelatuknya. Mengenai punggung Ben. Dan Ben roboh di hadapanku.
“Ben!” pekikku.
Aku segera menahan tubuh Ben. Darah mengalir deras. Aku langsung mengambil pistol dari tangan Ben, lalu menatap Zeus marah. Aku bersiap menekan pelatuk pistol, mengarahkannya pada jantung Zeus. Menembaknya tanpa ampun.
DUAR. DUAR.
Zeus roboh. Tepat mengenai jantungnya. Itu tembakan keduaku seumur hidup.
Aku menatap Ben yang semakin kehabisan darah. Airmataku mulai turun. “Apa yang kau lakukan? Mengapa kau disini? Mengapa kau yang menghalangi pelurunya? Aku melakukan semua ini untuk melindungimu, Ben!”
Ben tersenyum lemah. Tangannya bergerak, mengusap airmataku perlahan. “Sudah kubilang… aku akan selalu melindungimu… Alo.”
Tangan Ben lalu terkulai. Matanya tertutup perlahan.
“Ben?” aku mengguncangkan tubuh Ben perlahan. Ben tidak bergerak.
“Ben!!”


...end?
--------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar