Senin, 17 Maret 2014

Last Mission : The Past is Begin

The Past is Begin.

CEKLEK.
Aku menghela nafas, kesal. Jemariku yang tadi sedang asyik mengetik langsung berhenti. Aku bangkit dari duduk dan berjalan perlahan ke arah jendela dengan bantuan cahaya ponsel. Melihat keadaan sekitar apartemenku, dan ternyata semuanya gelap. Berarti mati lampu.
 Kenapa mati lampu lagi? Padahal sekarang sama sekali tidak ada hujan atau petir. Aku buru-buru kembali ke laptopku, lalu menggerakkan mouse untuk menekan save. Jangan sampai kejadian seperti seminggu yang lalu file-ku hilang karena lupa di-save. Aku tidak mau pekerjaanku yang susah payah kukerjakan sampai menjelang pagi ini sia-sia.
Aku membetulkan letak kacamataku dan menekan ponsel, bermaksud menelpon PLN. Bagaimanapun juga pekerjaanku harus selesai.
Terdengar bunyi sambung di seberang sana. Aku menunggu. Tidak lama kemudian, terdengar suara sibuk. Mungkin banyak orang yang menghubungi PLN dini hari ini.
Aku mencoba menelpon lagi. Masih menunggu, sambil melilit-lilitkan jari telunjuk pada rambut panjangku.
“Ada yang bisa saya bantu?” terdengar suara operator.
Aku menghela nafas lega sebelum menyahut. “Mas, di tempat saya—“
Tiba-tiba semuanya semakin gelap. Bahkan cahaya dari ponsel pun tidak terlihat lagi.
***
Aku membuka mataku perlahan dan mendapati diriku sedang berbaring di sebuah kamar mewah. Tepatnya, setelah melihat sekeliling, di atas tempat tidur mewah dalam kamar mewah dengan perabot mewah juga.
Aku bangkit dan duduk, menyandar bantal kutumpuk tinggi sebelumnya. Mataku masih berkeliling mengamati seisi kamar ini. Dengan setumpuk pertanyaan di kepalaku. Dimana ini? Siapa yang membawaku kesini? Apa aku diculik? Mengapa aku diculik dan ditempatkan di ruangan serba mewah dan tidak kurang satu apapun di tubuhku? Dan ada makanan dan minuman di meja dekat tempat tidur, apa itu aman dimakan? Atau ada racun di dalamnya?
Mataku berhenti pada satu titik. Tengkorak merah yang tergantung tidak jauh dari jam dinding.
Pertanyaan-pertanyaanku terjawab sudah. Aku tahu semua ini.
Pintu terbuka. Aku tersenyum sinis, menyadari kalau semuanya sudah dimulai. Kembali.
“Tidur nyenyak, Alora?” sapa seorang pria paruh baya berwajah khas Italia yang tadi membuka pintu. Ia kemudian duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur.
Aku bergerak, mengambil minum yang ada di meja dekat tempat tidur dan meneguk isinya. Seperti yang kubilang tadi, pertanyaan-pertanyaanku sudah terjawab. Termasuk di bagian apakah makanan dan minuman ini diracuni atau tidak.
“Oh, jangan bilang kau lupa dengan nama itu setelah sekian lama?” pria paruh baya itu mengangkat alis. “Jadi, apa aku harus memanggilmu Nia Rahmawati?” pria itu lalu tertawa terbahak-bahak, seolah melihat lawakan terlucu dalam hidupnya. “Hei, kau tidak cocok dengan segala sesuatu yang terlalu normal. Apa ada yang pernah mengatakan itu sebelumnya?”
Aku meletakkan gelas. Mempertahankan ekspresi datar pada wajahku, dan itu bukan hal mudah. Tidak mudah ketika ada seseorang yang mengatakan hal yang paling kau benci di dunia ini.
Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Sudah pukul 08.00.
“Aku harus menyerahkan laporan hari ini,” dengusku kesal. “Jadi, ada apa dengan semua ini? Sebaiknya ini merupakan hal yang penting, karena aku telah melewatkan hal yang sangat penting.”
Pria paruh baya itu terkekeh. “Apa itu? Laporan keuangan bulan kemarin dan perencanaan anggaran untuk semester depan? Mereka tidak akan memecat seorang ahli keuangan sepertimu hanya karena telat beberapa waktu, Alora.”
Aku mengumpat dalam hati. Aku memang tahu siapa yang kuhadapi, tapi aku tidak menyangka mereka mendapatkan informasi cukup lengkap mengenaiku. Tidak ada yang berhasil melakukanya setelah sepuluh tahun yang lalu.
Berarti mereka tidak bisa diremehkan.
Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa menghampiri pria paruh baya itu. Aku lalu duduk di seberangnya.
“Cukup dengan basa-basinya. Langsung ke poin utama dan jangan bertele-tele. Aku tidak punya waktu,” ujarku. Aku memang benar, aku sudah tidak punya waktu untuk hal-hal seperti ini. Lagi.
“Aku setidaknya harus memberitahukan namaku dulu. Itu juga termasuk poin utama, kan?” pria paruh baya itu tersenyum lebar. Aku hanya menatapnya datar.
“Oke, oke. Aku Zeus. Senang akhirnya dapat bertemu denganmu,” pria itu mengulurkan tangan. “Aku pernah mendengar tentangmu. Juga tentang Benjamin. Ben-mu.”
Aku merasa wajahku memias mendengar nama-nama itu. Ben. Dan Zeus.
“Oh, jangan katakan kau tidak pernah bertemu lagi dengan Benjamin? Setelah sepuluh tahun, kau sama sekali tidak pernah melihat Ben-mu itu?” ujarnya lagi, menarik tangannya yang tidak disambut olehku. Ia tahu benar bagaimana membaca raut wajah seseorang. “Atau, kau kaget dengan bahasa Indonesia-ku yang lancar? Bukan hanya kau yang bisa belajar, Alora.”
“Cukup perkenalannya. Jadi ada apa dengan semua ini?” sahutku cepat.
Zeus terkekeh. “Kau tahu, Alora? Hanya kau yang berani memerintahkanku dua kali berturut-turut. Tapi tidak apa-apa, karena kau adalah Alora. Our great Alora.”
Aku menyipitkan mata, tidak suka mendengarnya.
“Kalau tidak ada hal penting yang ingin kau sampaikan, sebaiknya segera kembalikan aku ke apartemenku. Aku sungguh-sungguh tidak punya waktu untuk semua ini,” ujarku lugas.
Zeus terkekeh lagi. “Kau juga satu-satunya yang enggan untuk mendengarkanku, Alora. Dan siapa bilang ini tidak penting? Kau pasti tahu betul kalau segala urusan dalam dunia kita itu sangat penting,” Zeus menekan suaranya pada kata kita.
Aku tahu maksudnya. Karena itu, aku hanya memandangnya lurus-lurus.
“Ah, Alora. Kau benar-benar tidak punya sense humor, ya?” Zeus berlagak mengeluh. “Tinggal di negara yang terkenal dengan ramah-tamah dan basa-basi selama bertahun-tahun tidak membuatmu memiliki sifat seperti itu?”
Aku terdiam. Berarti setidaknya, aku masih di Indonesia. Atau bahkan mungkin masih di Jakarta.
“Soal dunia kita yang kau bicarakan, kau seharusnya tahu aku sudah lama bukan bagian dari kita itu,” ujarku, juga menekankan pada kata kita. “Ah, kau pasti tahu. Dengan kenyataan kalian mengetahui informasi tentangku.”
“Apakah dunia kita merupakan sesuatu yang bisa dengan mudah dimasuki dan ditinggali seperti hal lainnya? Seperti ketika kau berganti-ganti pekerjaan?” tanya Zeus, retoris.
Tidak. Itu sama sekali tidak mudah.
“Jadi, sebenarnya kau membawaku kesini untuk mendengar cerita hidupku?” sahutku sinis.
Zeus mengangkat kedua tangannya. “Oke, oke. Nona ini sungguh tidak sabar, rupanya,” Zeus lalu menyilangkan kedua kakinya. “Ini persoalan hidup mati. Cukup penting, bukan?”
Aku terdiam. Mulai menerka-nerka kemana arah pembicaraan ini.
“Kau tahu apa yang membuatku mengatakan kalau kau adalah Alora yang hebat? Karena setiap aku mengatakan kata NM7, tidak ada keterangan selanjutnya. Butuh waktu lima tahun untuk mendapatkan bahwa nama Alora berhubungan dengan hal itu. Dan empat tahun untuk mencari keberadaan Alora yang hebat itu.”
Deg. NM7.
“Itu bukan obat, tapi bencana! Ini semua sangat berbahaya, Ben!”
“Kehidupan kita memang penuh dengan hal yang berbahaya, Alo! Kau tahu itu!”
“Akan ada monster lain nanti!”
“Kehidupan kita memang tidak normal, Alo! Kita, kau, tidak cocok dengan segala sesuatu yang terlalu normal.”
“D-dia… dia mati!”
Aku membuang muka. Sekaligus berusaha mengusir bayang-bayang yang tiba-tiba muncul, setelah sepuluh tahun aku berusaha membuangnya jauh-jauh.
“Jadi, sekarang kau mengerti kalau ini urusan hidup mati? Ada seseorang dari kelompokku yang sedang sekarat dan sangat membutuhkan obat itu,” Zeus mengambil tablet PC dan menunjukkannya padaku.
Aku melirik sekilas. Tampak seseorang berada dalam sebuah tabung besar, dengan berbagai kabel melilit pada tubuhnya.
“Apa kau yakin dia sekarat? Kurasa kau yang membuatnya sekarat, untuk menjadi percobaan barang itu,”aku menekan suaraku pada kata barang.
Zeus tertawa kecil. “Alora, apa kau selalu sesinis ini? Bahkan dengan obat ciptaanmu sendiri,” Zeus menggeleng-gelengkan kepala sambil menarik kembali tablet PC-nya.
Aku menepuk celana jins-ku pelan. Membersihkan debu yang baru kusadari ada disana. Mungkin kudapat dalam perjalanan kesini.
“Kurasa, kau sudah tahu jawabanku. Ini semua sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Aku harus pergi sekarang. Kalian punya manner untuk mengembalikanku lagi, kan? Atau hanya akan menunjukkan pintu keluar? Aku tidak masalah dengan itu,” ujarku panjang lebar, bersiap bangkit.
“Bukankah sebelum itu, kau harus mendengarkan sampai selesai, Alora?”
Aku menoleh pada Zeus, yang menyodorkan lagi tablet PC. Mataku memendar, tidak percaya dengan yang kulihat disana. Dengan ruangan, tabung, dan kabel yang serupa. Namun orang yang berbeda.
“Oh, jangan bilang padaku kau lupa orang ini?” Zeus berlagak mengeluh. “Baik, aku akan berbaik hati memberitahukan padamu. Dia Benjamin. Ben-mu, Alora.”
Mataku perlahan beralih menatap Zeus, yang kini sudah menyeringai lebar.
“Aku tidak seburuk yang kau pikirkan, Alora. Mana mungkin aku mengundangmu kesini tanpa ada sesuatu yang tidak ada hubungannya denganmu? Itu hanya akan membuang waktumu yang berharga, aku tahu,” ujar Zeus santai.
“Apa yang kau lakukan padanya?” tanyaku geram.
“Memangnya apa yang kulakukan? Ia sekarat, seperti anggota kelompokku yang kutunjukkan sebelumnya. Alora, apa kau tidak merasa kau terlalu pilih kasih? Terhadap dua orang dalam kondisi yang persis sama, kau memiliki respon yang jauh berbeda.”
Aku tercengang mendengarnya. Persis sama? Berarti, dia juga…
“Kau tahu, Alora? Aku tidak pernah mendesak siapapun untuk melakukan sesuatu dengan cepat. Sudah kubilang, aku tidak seburuk yang kau pikirkan, kan?” ujar Zeus sambil tersenyum lebar. Senyum yang aku sadari persis seperti yang kudengar. Mematahkan lawan bicaranya.
“Jadi, sekarang gunakanlah waktumu dengan santai. Kau mungkin perlu istirahat beberapa waktu berhubung akhir-akhir ini kau kelelahan mengejar deadline pekerjaan kantormu, bukan?” Zeus bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Aku hanya terdiam, menatapnya lurus-lurus.
Beberapa langkah mendekati pintu, Zeus menoleh padaku. “Ah, aku baru ingat sesuatu. Kau tahu, aku bisa menunggu sampai kapanpun. Tapi ada orang yang tidak bisa menunggu lama, bukan?”
Ben yang di dalam tabung langsung terlintas di pikiranku.
“Selamat beristirahat, Alora,” Zeus melanjutkan langkahnya.
“Tunggu,” tahanku.
Zeus menoleh lagi. Menunggu aku berbicara.
“Dimana dia?”
***
Aku berjalan perlahan di belakang Zeus, memasuki sebuah ruangan seperti laboratorium. Banyak tabung, kabel, dan berbagai cairan kimia disana. Aku menghela nafas.
Ini benar-benar seperti masa lalu.
Kami lalu berada pada ujung ruangan. Zeus menunjuk dengan dagunya pada sebuah tabung besar di sudut ruangan. “Kau bisa melihatnya disana.”
Aku menghampiri tabung besar itu perlahan. Semakin dekat, semakin jelas terlihat wajahnya yang pucat. Dan tubuhnya yang terbaring.
Pikiranku berkecamuk. Semua terasa campur aduk.
“Kurasa aku harus pergi sekarang. Santai saja, Alora. Gunakan waktumu,” ujar Zeus. Aku tidak menyahut atau merespon apapun. Zeus mengangkat bahu, dan berjalan keluar ruangan.
Aku meraba tabung itu perlahan. Meyakinkan lagi kalau itu memang Ben. Garis wajah Ben yang khas ketimuran masih kukenal dengan baik. Hidung mancungnya yang selalu membuatku iri, dan berakhir dengan Ben meledek hidungku. Ini benar Ben. Ben yang hebat. Ben yang kuat. Ben yang baik.
Ben yang sedang terkapar tak berdaya.
Aku mencengkram ujung tabung yang terbuat dari besi. Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak bertemu lagi sampai kapanpun, Ben? Terlebih dalam situasi seperti ini.
“Aku sudah tidak sanggup lagi, Ben. Tidak setelah kejadian itu,” aku menangis tergugu. Ben menghela nafas, memandangku serba salah.
Tangisku semakin deras. “Aku benar-benar tidak sanggup lagi, Ben. Tolong aku. Selamatkan aku.”
“Kalau kau pergi, kita tidak akan bisa bertemu sampai kapanpun, Alo. Tidak akan bisa lagi.”
Aku menghela nafas. Bayangan masa lalu bermunculan semakin sering dalam waktu dua jam ini. Aku lalu memandang Ben, yang sungguh terlihat tidak berdaya dalam tabung, lekat.
Lalu teringat NM7. Yang sangat diinginkan Zeus dan kelompoknya. Dan menatap Ben lagi.
“Mungkin, ini saatnya mengakhiri semuanya. Benar-benar mengakhiri,” ujarku, masih menatap Ben. “Mungkin waktu itu yang kulakukan sejak dulu. Mungkin yang kulakukan sepuluh tahun ini tidak benar-benar bisa mengakhiri semuanya. Mungkin pergi tidak benar-benar mengakhiri semuanya.”
Tiba-tiba aku merasa mataku memanas. “Ternyata, semua orang benar-benar tidak bisa hidup tanpa masa lalu, ya? Entah sekuat apapun yang kulakukan. Maaf, Ben. Kurasa aku tidak bisa melakukan pesan terakhirmu itu.”
Aku buru-buru menyeka airmata yang menetes perlahan. Dan membalikkan badan menuju pintu keluar.
Terngiang ucapan Ben padaku sepuluh tahun yang lalu.
“Kau harus hidup dengan baik, Alo. Dan tetaplah hidup.”
***
“Wah, aku tidak menyangka kau akan memutuskannya dengan cepat,” ujar Zeus dengan sorot mata kagum. Aku mengatakan sebelumnya pada penjaga untuk bertemu dengannya di ruanganku. Di kamar mewah ini maksudnya.
Aku tidak menyahut. Aku masih menyandar pada sofa, menatapnya yang berjalan mendekat sebelum akhirnya duduk di seberangku.
“NM7 itu…,” aku menghela nafas sebelum melanjutkan perkataanku. “…bencana.”
Zeus mengerutkan kening. “Ayolah, Alora. Bagaimana mungkin obat untuk memperpanjang kehidupan seseorang menjadi bencana? Bukankah menyenangkan hidup lama?”
Aku menggeleng. “Tidak ada yang abadi di dunia ini. Itu sudah aturan alam. Karena itu akan jadi bencana kalau kita melanggarnya.”
Zeus tertawa keras. “Kau tahu, Alora? Sedetik setelah mendengarmu berkata seperti itu, aku bertanya-tanya apa yang di hadapanku sekarang Alora yang hebat itu? Alora yang tidak takut dengan apapun.”
Dia salah. Ada satu hal yang sangat kutakuti. Diriku sendiri.
“Jadi, kau tidak akan melakukan apapun? Bahkan jika itu adalah Ben-mu?” tanya Zeus melihatku tidak merespon ucapannya.
Aku menatap Zeus lekat. “Apa yang ingin kau lakukan dengan barang itu?”
“NM7?” Zeus mengangkat alis. “Ayolah, Alora. Kau pasti sangat tahu untuk apa. Tujuannya tidak jauh berbeda dengan tujuanmu membuatnya dua belas tahun yang lalu.”
Aku menghela nafas. “Itu sudah sangat lama. Aku tidak yakin apa aku masih mengingatnya.”
Zeus menggeleng-gelengkan kepala. “Alora, kau pikir kau bicara dengan siapa? Memangnya aku seperti kebanyakan orang di kota ini yang memandangmu hanya sebagai Nia Rahmawati seorang ahli keuangan? Aku mengenalmu, Alora.”
Aku terdiam.
“Tenang saja, Alora. Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan ketika NM7 selesai dibuat. Apapun itu,” ujar Zeus. “Kau tidak perlu lagi berkutat dalam kebisingan dan kemacetan kota yang membuat stress ini. Kau bisa pergi kemanapun yang kau mau.”
Aku tidak langsung menyahut. Apapun ucapannya saat ini, aku tahu benar bagaimana semua ini akan berakhir. Ternyata setelah sepuluh tahun pun, aku masih sangat mengenal bagaimana cara kerja dunia ini. Dunia yang disebut Zeus beberapa jam lalu sebagai dunia kita.
 “Jangan sentuh Ben sampai kapanpun,” ujarku akhirnya. “Juga anggota kelompok-ku yang lain,” aku merasa gemetar ketika mengucapkan kata kelompokku.
“Wah, hanya itu yang kau inginkan?” Zeus tampak tercengang. “Kau masih setia dengan mereka setelah semua yang terjadi?”
Aku tidak mempedulikannya. Aku berjalan menuju jendela, melihat pemandangan di luar kamar ini. Benar, aku masih di Jakarta.
“Kurasa aku harus menelpon atasanku. Ia cukup berisik kalau mendapati bawahannya menghilang tanpa kabar,” ujarku, tanpa mengalihkan pandangan.
Zeus tertawa kecil. “Itu semua sudah diurus, Alora. Atasanmu sudah mendapatkan surat dari rumah sakit kalau kau operasi usus buntu.”

...to be continue
---------------------------------------------------------------------
nb: monggo dikasih pendapat setelah baca cerita ini, sempetin yaaaa :D
ini pertama kalinya saya bikin cerita model gini, pengennya sih bikin yang lebih action tapi belom bisa T.T semoga nanti belajar lagi dan bisa bikin yg lebih keren hehe. silakan beri pendapat yaaaaa, makasih :)

2 komentar:

  1. ceritanya bagus, apalagi klo jadi novel. aku nunggu lanjutannya ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih yaa lintang, dipantengin terus yah hihihi :D

      Hapus