Selasa, 18 Maret 2014

Last Mission : Nightmare

Nightmare

Beberapa hari yang lalu.
“Nia, makan dimana, nih?” tanya Pras, rekan kerjaku. Aku mengangkat kepalaku dari tumpukan berkas. Lalu melirik jam tangan di pergelangan tanganku.
“Udah siang, ya?”
“Deuh si ibu serius banget sih, sampai nggak tahu udah jam makan siang,” seloroh Dewi, rekan kerjaku yang cukup bawel. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Yaudah yuk, makan. Mau makan dimana emang?” tanyaku menatap mereka berdua bergantian. Kami bertiga memang sering makan bersama karena sedivisi.
“Yee, ditanya malah nanya balik,” ujar Pras.
Dewi bangkit dari tempat duduknya. “Yaudah jalan aja dulu, yuk? Gue laper banget, nih! Sambil mikir di jalan aja mau makan apa.”
Aku dan Pras menurut. Kami berjalan keluar ruangan keuangan sambil mendiskusikan menu makan yang tepat untuk siang ini.
Bruk.
Tiba-tiba seseorang menubrukku. Tidak terlalu keras, tapi aku cukup terkejut. Orang yang menubrukku tampak terburu-buru.
“Nia! Lo nggak apa-apa?” seru Dewi dan Pras, sama-sama kaget dengan hal yang terjadi sangat cepat itu.
Sorry. I’m sorry,” ujar orang yang menubrukku cepat. Tampaknya ia bukan orang Indonesia.
Aku hanya mengangguk pelan, lalu orang itu beranjak pergi dengan langkah tergesa. Aku mengerutkan kening. Entah perasaanku atau apa, sepertinya aku pernah melihat orang itu.
“Tuh orang gimana sih jalan seradak-seruduk kayak jalanan punya neneknya!” gerutu Dewi kesal. Lalu menoleh padaku yang masih diam. “Lo tapi beneran nggak apa-apa, kan?”
“Kalian pernah lihat orang itu, nggak?” tanyaku.
Dewi dan Pras berpandangan, bingung. Lalu keduanya kompak menggeleng.
“Emang lo kenal?” tanya Pras.
Aku terdiam beberapa saat, terlintas sesuatu. Namun buru-buru menghalaunya. Hal-hal seperti itu sudah terlalu masa lalu.
Aku lalu menggeleng. “Enggak juga, sih. Perasaan gue aja kali. Yaudah yuk, makan.”
***
Sekarang aku baru tahu, kalau orang yang menabrakku tempo hari itu merupakan salah satu anggota kelompok Zeus. Aku melihatnya di koridor sebelum masuk laboratorium tadi. Dan baru menyadari kalau orang itu menempelkan alat pelacak di tubuhku sehingga mereka mengetahui tempat tinggalku lalu membawaku kesini. Dan nampaknya orang itu memang sudah mengikutiku selama beberapa hari.
Masa lalu datang lagi. Padahal kemarin semuanya sangat normal.
Kemarin aku masih mengejar busway untuk berangkat kerja. Dewi masih mengomel karena tidak habis pikir mengapa aku memilih menggunakan angkutan umum dibanding menggunakan mobil, padahal gajiku sangat lebih dari cukup untuk membeli mobil. Lalu atasanku masih memintaku untuk segera menyelesaikan laporan keuangan yang dimintanya dari tiga hari yang lalu. Semuanya masih sangat normal.
Atau mungkin, inilah kehidupan normal-ku sebenarnya?
Aku menghela nafas. Memandangi berbagai cairan kimia di depanku. Setelah berusaha keras sepuluh tahun, sekarang aku harus menghadapi semua ini lagi. Setelah berusaha keras pergi.
Aku menatap cairan berwarna bening di hadapanku.
“Ini namanya benzana, Alo,” suara Tom yang tiba-tiba muncul di belakangku. Tabung kecil di tanganku sempat oleng karena aku kaget, namun segera ditahan Tom. “Hati-hati, Alo. Ini mudah terbakar.”
Aku menoleh. Aku yang berusia sepuluh tahun harus mendongak untuk melihat wajah kharismatik Tom, yang sedang tersenyum padaku. Aku ikut tersenyum, merasa lega karena ia tidak memarahiku karena masuk ke laboratorium dengan sembunyi-sembunyi.
“Aku suka wanginya. Seperti rasa manis,” ujarku. Tom tertawa kecil. “Tapi kau tidak boleh memakannya, Alo. Kau akan mendapat masalah dengan Eli nanti.”
Aku mengangguk patuh. Elizabeth memang cukup mengerikan kalau sudah marah.
“Kau suka dengan tempat ini?” tanya pria yang masih gagah di usianya yang kepala empat itu. Suara Tom sangat meneduhkan. Aku mengangguk lagi. Kali ini dengan mata berbinar. “Tempat ini sepertinya menyenangkan. Aku ingin melakukan hal seperti Cortez.”
Tom baru mau bicara lagi, ketika ada satu suara melengking yang memutusnya.
“Astaga, apa yang kau lakukan disini, Alo?!”
Aku dan Tom menoleh. Tampak Elizabeth memasuki laboratorium dengan wajah cemas bercampur panik. “Disini banyak barang berbahaya, Alo sayang! Banyak yang mudah terbakar!”
“Eli, ini tidak—“
“Dan Tom! Astaga, aku tidak percaya ini! Bagaimana bisa kau membiarkan Alo masuk ke tempat ini? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan Alo kita tersayang ini?” Elizabeth memotong ucapan Tom dan langsung memelukku erat. Lalu wanita seusia Tom itu memeriksa setiap detil tubuhku.
“Apa ada yang terluka? Apa kau mengenai sesuatu?”
Aku tersenyum manis pada Elizabeth. Berusaha meluluhkan hatinya. “Aku tidak apa-apa, Eli. Sungguh. Aku hanya ingin melihat-lihat tadi.”
“Tidak, Alo, tidak. Kau tidak boleh masuk kesini lagi. Tempat ini terlalu berbahaya! Bagaimana kalau kau tidak sengaja menyenggol salah satu cairan lalu membakar—ah! Bahkan membayangkannya pun terlalu menyeramkan untukku!”
Tom menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan kekasihnya itu. Elizabeth adalah wanita yang dingin ketika memegang senjata, namun langsung berubah seperti ibu yang protektif ketika berurusan denganku.
“Mengapa kalian semua disini?”
Tampak Ben yang memasuki laboratorium dengan wajah heran. Elizabeth segera berseru padanya. “Ben! Mulai sekarang, kau kuberi tugas untuk mengawasi Alo agar jauh-jauh dari tempat ini! Disini sungguh berbahaya baginya!”
Laki-laki yang terpaut tiga tahun lebih tua dariku itu memutar bola matanya. “Lagi-lagi protektif pada anak kesayangan.”
“Ben! Apa yang kau katakan? Kita ini keluarga, harus menjaga satu sama lain,” ujar Elizabeth.
“Baik, baik,” sahut Ben, tidak mau mendengar omelan Elizabeth lebih lama lagi. Ben lalu menggamit tanganku untuk keluar dari laboratorium.
Elizabeth lalu berbalik dan memandang Tom tajam. “Urusanku belum selesai denganmu, Tuan Tom.”
Aku menoleh pada Tom, mengatupkan kedua tanganku di depan hidungku sebagai tanda permintaan maaf. Tom akan dimarahi habis-habisan oleh Elizabeth setelah ini.
Tom hanya tersenyum lebar.
Aku menggenggam tabung kecil berisi benzana erat. Berusaha menahan airmataku yang hampir tumpah. Lalu memandang Ben dalam tabung besarnya.
“Apakah Eli masih marah padaku, Ben?”
Kini airmataku benar-benar tumpah. Eli tidak mau menemuiku sampai saat-saat terakhir aku pergi. Dan aku mengerti hal itu. Eli menyayangiku lebih dari siapapun.
Aku memandang Ben lagi. “Kau harus segera bangun, Ben. Aku akan membuatmu bangun.”
Aku bergerak mendekat, mengamati Ben lekat. Sedari tadi, aku memang belum memulai meracik NM7. Aku perlu mengecek semua hal yang kubutuhkan supaya tidak terjadi kesalahan yang sama seperti dua belas tahun yang lalu. Dan Zeus memang memberiku kuasa penuh atas laboratorium ini, termasuk tidak boleh ada alat perekam atau penyadap dan penjaga. Dan kemampuanku masih tinggi untuk menyadari ada tidaknya hal-hal itu. Terlebih lagi, kemampuan kelompok kami memang diatas Red Skull, kelompok Zeus ini.
“Tentu saja kelompok kita paling hebat, Alo,” ujar Ben ketika aku bertanya siapa kelompok terhebat dalam dunia kami. Aku dan Ben sedang berada di laboratorium, mencoba membuat sesuatu yang baru. Setelah membujuk Elizabeth dengan gigih, akhirnya aku dibolehkan menggunakan laboratorium ketika usiaku tiga belas tahun. Dua tahun berjalan, dan aku tidak mengecewakannya dengan selalu membuat hal-hal baru dan tentunya berguna untuk kelompok kami. Bahkan Cortez, ahli kimia kelompok kami, kagum dengan kemampuanku.
Mataku membesar. “Benarkah? Tom dan Eli sehebat dan sekuat itu?”
“Tentu saja! Aku sering diceritakan oleh Martius betapa hebatnya Tom dan Eli ketika sudah berurusan dengan musuh. Apalagi ketika mereka sedang menembak atau berkelahi. DUAR, DUAR!” seru Ben semangat dengan memperagakan tembakan jarinya. Ia duduk tidak jauh dari tempatku. Meskipun sudah diizinkan menggunakan laboratorium, Eli masih tetap menyuruh Ben untuk mengawasi dan menjagaku. Pandangan soal laboratorium itu berbahaya masih tidak berubah di mata Eli.
“Lalu siapa yang kedua?” tanyaku lagi.
“Red Skull,” ujar Ben. “Pemimpin mereka bernama Zeus. Ia dibilang menyeramkan karena selalu dapat membuat orang takut disaat ia tersenyum lebar. Tapi tentu saja ia tidak bisa mengalahkan Tom!”
“Apa mereka musuh kita?”
“Tidak ada musuh atau teman abadi di dunia kita, Alo,” ujar Ben. Aku mengerutkan kening. Tidak mengerti apa yang diucapkannya.
“Yang ada hanya kepentingan abadi,” lanjut Ben. “Musuh hari ini bisa menjadi teman esok hari, karena memiliki kepentingan yang sama. Begitu sebaliknya.”
Aku terdiam mendengarnya. Berusaha mencerna apa yang dikatakan Ben.
“Tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya di dunia ini, Alo,” Ben menatapku lekat. “Kecuali kelompok kita sendiri. Karena kita keluarga.”
“Kau tahu, mengapa kita menjadi kelompok yang paling hebat?” tanya Ben, melihatku masih diam. “Selain karena Tom dan Eli yang hebat, juga karena kita keluarga. Kita saling peduli dan menjaga seperti keluarga. Itulah yang membuat kita kuat dan hebat.”
Ben bangkit dari duduknya, lalu menepuk bahuku pelan. Aku tersenyum memandangnya.
“Aku akan selalu menjagamu, Alo. Sampai kapanpun. Karena kita keluarga.”
Airmataku semakin deras. Aku menatap Ben semakin lekat. Pandanganku mengabur.
Sampai aku tersadar sesuatu.
Aku sedikit merunduk, memperhatikan pinggang Ben bagian kanan. Kuusap airmataku supaya bisa melihat lebih jelas.
Aku menekan tombol untuk membuka tabung. Selang oksigen terpasang pada hidung dan mulut Ben, sehingga aman untuk membuka tabung ini. Aku semakin merunduk, memperhatikan dengan lebih jelas lagi.
Mataku mengerjap, tidak percaya.
Seharusnya ada bekas luka di pinggang kanan Ben. Aku tahu benar itu. Ben mendapatkannya setelah berlatih pedang dengan Tom, yang membuat Tom dimarahi sepanjang hari oleh Eli karena kurang berhati-hati. Tom berulang kali meminta maaf pada Ben, sementara Ben hanya cengengesan. Ia justru bangga memiliki bekas luka—tentunya tidak dikatakan di hadapan Eli.
Aku mengerutkan kening. Bagaimana mungkin bekas luka itu tidak ada? Ben sangat bangga dengan bekas luka itu, bahkan sering memamerkannya padaku. Tidak mungkin itu menghilang.
Ada yang aneh disini.
***
“Apa yang sebenarnya kau rencanakan?” tanyaku pada Zeus begitu aku memasuki ruangannya.
Zeus yang sedang menikmati segelas anggur, mengerutkan keningnya. “Ada apa, Alora? Bukankah kita sudah membahas hal itu?”
Aku duduk di hadapannya. “Aku merasa ada hal lain yang kau rencanakan. Dan jangan bilang lagi kalau tujuanmu sama dengan tujuanku dua belas tahun yang lalu. Kita berbeda.”
Zeus mendesah. “Kau meragukanku, Alora?”
“Lalu kau berharap aku mempercayaimu?” aku bertanya balik.
“Memangnya kau pikir apalagi hal yang ingin dicapai kelompok seperti kita? Kehidupan yang lebih lama untuk menikmati kekuasaan dan kekayaan yang didapat akan membuat hidup kita lebih sempurna, bukan?”
Aku hanya terdiam. Zeus mendesah lagi. “Kau benar-benar tidak percaya?”
“Aku rasa ada hal yang aneh. Ada yang kau sembunyikan.”
Zeus mengambil pistol dari ikat pinggangnya, lalu meletakkannya diatas meja. “Ambil itu, Alora. Kalau kau khawatir, kau bisa menggunakannya. Itu pistol pribadiku.”
Aku terdiam. Mataku menatap pistol itu nanar.
“Kau masih meragukanku, Alora? Memangnya apa yang kau rasa aneh?” Zeus menghela nafas. “Itu pistol yang sudah dua puluh tahun bersamaku. Kesayanganku, Alora. Ambillah.”
***
Aku menatap langit-langit kamar dengan pandangan nanar. Ini tempat kedua selain laboratorium yang tidak dipasangi alat perekam atau CCTV. Seharusnya nyaman, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur malam ini.
Salah satunya, karena ini malam pertamaku tidak berada di apartemenku. Sejak pertama menginjakkan kaki di Jakarta, aku tidak pernah bermalam di tempat lain selain apartemenku.
Hal lain, karena pistol yang tergeletak di meja dekat tempat tidur. Tadi ada seorang penjaga yang memberikan pistol itu dan meletakkannya disana, karena aku tidak mengambilnya ketika di ruangan Zeus.
Tidak. Aku tidak akan menyentuh pistol lagi sampai kapanpun. Kurasa aku tidak akan bisa.
“Bagaimana bisa ia menjadi seperti itu?!” pekikku kaget.
“Ia meminum NM7, Alo!” seru Ben yang bersiaga di depanku. Mataku membesar. Tidak percaya kalau orang yang sudah seperti monster di hadapanku menjadi seperti ini karena obatku.
“Itu… itu belum sempurna. Kenapa Diaz meminumnya?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Itu salahnya, Alo! Dia mencurinya karena mendengar kegunaan obat itu!” ujar Ben.
Sementara, Diaz mengamuk semakin parah. Ia membanting apapun di sekitarnya. Benar-benar seperti monster.
Aku dan Ben mundur perlahan. Menjauh dari Diaz. Anggota yang lain berjaga dengan pistol di tangan mereka, mengarah pada Diaz.
Diaz mengambil besi panjang yang tergeletak di lantai, bagian dari kaki kursi yang dibantingnya tadi. Ia memukul-mukul sekitarnya dengan besi itu. Dan mendekati Cortez, mengarahkan besi itu padanya.
“Cortez!” pekikku panik.
Tangan Cortez terpukul. Pistol yang berada di tangannya terlempar sampai ke dekat kakiku.
Aku melihat Cortez semakin tersudut. Ia tidak bisa bangkit karena terhimpit meja dan kursi yang sudah berantakan karena dibanting Diaz. Diaz memukul Cortez lagi, mengenai tubuhnya. Dan bersiap memberikan pukulan lagi yang mengarah pada kepala Cortez.
Aku segera mengambil pistol yang ada di dekat kakiku. Mengarahkannya pada Diaz.
DOR. DOR.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Pistol di tanganku terjatuh bersamaan dengan tubuh Diaz yang tergeletak di lantai. Bersimbah darah. Tanganku gemetar.
Ben dan yang lainnya segera mendekat untuk memeriksa keadaan Diaz. Ia sudah tidak bergerak. Ben segera kembali ke tempatku, yang masih tidak bergeser seinci pun. Sementara yang lain segera memeriksa keadaan Cortez.
Ben memelukku erat. “Sudah berakhir. Tidak apa-apa.”
Tubuhku gemetaran. “D-dia… dia mati!”
“Sudah berakhir, Alo. Tidak apa-apa,” Ben berusaha menenangkanku.
Aku menggeleng kuat. Airmataku mulai turun. “Dia mati! Aku membunuhnya!”
“Tidak, Alo. Kau menyelamatkan Cortez.”
Airmataku semakin deras. “Aku membunuhnya!”
Ben melepas pelukannya dan berjalan mendekati Diaz. Ia menembak dengan pistolnya dua kali. Diaz benar-benar sudah tidak bergerak sekarang.
“Kau lihat itu? Aku yang membunuhnya. Bukan kau, Alo.”
Aku merasa dingin. Aku menggigil. Itu hal terburuk dalam hidupku. Itu pertama kali aku memegang pistol, dan terakhir kalinya.
Sejak hari itu, mimpi-mimpi buruk selalu datang. Berisi kejadian itu, namun dengan orang yang berbeda. Dan yang paling menakutkan adalah, orang dalam mimpi itu Ben. Esok harinya, Eli yang ada di mimpi itu. Esoknya, Tom muncul di mimpi itu.
Dan aku menarik pelatuk pada mereka. Mereka menjadi monster karenaku, dan aku membunuh mereka.
Itu sungguh rangkaian mimpi terburuk dalam hidupku. Semakin hari, aku jadi semakin takut. Takut kalau aku terus bersama mereka, mimpi itu akan terjadi. Bencana akan datang menimpa mereka. Aku takut aku akan menjadi bencana bagi mereka.
Semuanya karena NM7. Itu bencana. Itu bukan obat, tapi bencana.
Dan sekarang, aku harus membuatnya lagi? Bagaimana kalau muncul monster lainnya? Tapi, aku harus menyelamatkan Ben. Kali ini, aku harus membuatnya dengan sempurna. Tidak boleh lagi ada kesalahan. Demi Ben.
Walaupun ada keanehan soal Ben yang di tabung. Juga soal Zeus. Tapi kurasa tidak ada waktu. Bagaimana kalau Ben tidak tertolong karena aku memikirkan hal lain? Bagaimana kalau…
 “Kau menyelamatkan Cortez, Alo! Sudah berapa kali kukatakan itu padamu. Ini bukan salahmu! Dan tidak ada yang menyalahkanmu!” seru Ben.
Aku tidak menatapnya. Pandanganku nanar. “Tapi Diaz anggota kelompok. Dia keluarga. Dan aku membunuhnya.”
“Kau tidak membunuhnya, Alo! Berapa kali kukatakan padamu kalau aku yang membunuhnya, bukan kau!” seru Ben frustasi. “Dan ia sudah bukan lagi kelompok kita ketika ia mencuri obat itu. Ia sudah berkhianat dengan tidak menuruti perintah Tom untuk tidak menyentuh temuanmu tanpa perintah darinya! Ia sudah berkhianat karena serakah ingin memiliki obat itu dengan cepat!”
“Ini tidak akan terjadi kalau aku tidak pernah membuat NM7.”
“Ini bukan salahmu, Alo.”
Aku menggeleng. “Itu bukan obat, tapi bencana! Ini semua sangat berbahaya! Ini semua terlalu tidak normal!”
“Kehidupan kita memang tidak normal, Alo! Kita, kau, tidak cocok dengan segala sesuatu yang terlalu normal. Kehidupan kita memang penuh dengan hal yang berbahaya, Alo! Kau tahu itu!” seru Ben keras.
“Aku tahu! Aku mengatakan itu karena aku sangat tahu!” seruku tak kalah keras. “Mungkin di masa yang akan datang, aku akan membunuh orang lagi. Dan mungkin, akan ada monster lain nanti! Aku, aku tidak bisa lagi melaluinya!”
Ben menggenggam tanganku erat. “Kau bisa, Alo. Kau pasti bisa. Ada aku disini. Ada Tom. Ada Eli. Ada semuanya.”
Aku mulai menangis. “Aku sudah berusaha keras, Ben. Tapi semua yang terjadi tidak bisa hilang begitu saja. Aku tidak pernah tidur nyenyak selama dua tahun ini. Mimpi-mimpi itu selalu mendatangiku.”
“Aku sudah tidak sanggup lagi, Ben. Tidak setelah kejadian itu,” aku menangis tergugu. Ben menghela nafas, memandangku serba salah.
Tangisku semakin deras. “Aku benar-benar tidak sanggup lagi, Ben. Tolong aku. Selamatkan aku.”
“Kalau kau pergi, kita tidak akan bisa bertemu sampai kapanpun, Alo. Tidak akan bisa lagi.”
Aku menghela nafas. Aku sudah tak lagi memimpikan kejadian buruk itu, tapi berganti dengan mimpi kepergianku dari kelompok. Selama tiga tahun pertama pergi dari kelompokku. Pergi dari Italia.
Karena itu aku selalu ke tempat yang ramai. Berbaur dengan banyak orang. Aku pergi ke pasar, ke mall, kemanapun yang banyak orang. Aku selalu menggunakan angkutan umum seperti bus atau kereta. Berusaha menghalau mimpi-mimpi itu dan mengisinya dengan hal lain.
Dan berusaha mengusir rasa kesepianku. Dari kecil sampai aku berusia dua puluh dua tahun, usia ketika aku meninggalkan kelompokku, aku tidak pernah sendiri. Selalu ada Ben, Eli, atau Tom yang menemaniku. Atau Cortez. Jadi aku pergi ke tempat-tempat yang tidak membuatku sendiri.
Namun ternyata, kesepian itu lebih terasa ketika aku bersama banyak orang tapi tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa kuajak bicara.
Aku menghela nafas lagi.
Tuk. Tuk. Tuk.
Aku mengerutkan kening. Sepertinya ada suara. Aku duduk dan menajamkan pendengaranku. Mencari tahu darimana suara itu berasal.
Tuk. Tuk. Tuk.
Itu dari jendela.
Aku bangkit. Melirik pistol yang masih tergeletak di atas meja, lalu menggeleng. Aku mengambil sebuah pajangan guci yang tak jauh dari pistol itu. Dan bergerak perlahan mendekati jendela. Membuka gorden perlahan.
Gelap.
Tidak ada siapa-siapa disana. Aku mengerutkan kening. Aku yakin sekali suara itu berasa dari sini. Aku pun memutuskan untuk membuka jendela yang besarnya setinggi tubuhku itu. Melihat keluar.
Mataku membesar.
“Ben?”

...to be continue

(part 1) (part 3(epilog)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar