Rabu, 29 Januari 2014

Dreams Come True Part 3

Berpisah, dan…

"Lo ga jalan ama si Junsu, Na?" tanya Dinda melihat teman seapartemennya itu asyik memasang poster terbaru Big Bang. "Biasanya libur gini lo keluar."
"Dia lagi banyak kerjaan, jadi nggak bisa maen-maen dulu," jawab Nina, yang sudah selesai memasang poster dan menatapnya berbinar-binar.
"Duh elah dipandangin terus, kan lo udah pernah ketemu langsung, Na. Masih aja seneng dipajang posternya," ujar Dinda. Nina memang menceritakan semuanya pada Dinda—setelah memohon-mohon pada Junsu dan menyakinkan kalau tidak ada satu wanita pun di dunia ini yang sanggup menyimpan rahasia sendiri.
"Seengganya satu orang aja, Oppa! Satuuu aja temen cewek aku. Dia nggak akan kasih tahu siapa-siapa, kok!" bujuk Nina waktu itu yang akhirnya Junsu mengalah. Dan meskipun Dinda bukan fans Big Bang—dia fans berat Beast, tetep aja temannya itu kaget berat pas diceritain Nina.
"Yaa, nggak apa-apa. Kan gue fans mereka nomor satu! Jadi nggak akan bosen lihat poster besar ini meski udah pernah ketemu juga," ujar Nina. Lalu melirik Dinda yang sedang memilih-milih baju. "Lo mau jalan?"
Dinda mengangguk. "Emang lo doang yang boleh pacaran?"
Nina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gue bukan pacaran lagi, temenan aja."
"Yaa, semua orang juga ngelesnya gitu. Temenan, temenan. Pasti lo ada rasa suka deh walaupun sedikit. Apalagi lima bulan disini lo maen ama dia mulu."
"Guenya sih iya suka ama dia. Dia kan temen Korea pertama gue. Tapi dianya nggak mungkin lah suka ama gue," ujar Nina miris, ingat image-nya yang sudah hancur lebur di depan Junsu. "Lo jalan ama siapa? Orang mana? Udah kenal lama? Mau jalan kemana?"
Dinda, yang sudah mendapat baju yang dianggap cocok, menoleh kesal. "Lo kalo nanya satu-satu kenapa? Lo ngomong ama si Junsu juga begini?"
Nina mengangguk lemah. "Iya. Kacau, ya?"
Dinda mengangkat bahu. "Yaa, lo bersyukur aja dia masih mau maen ama lo. Dan ya lo tuh beruntung banget ketemu sama—“
"Iya, iya. Jadi lo mau jalan ama siapa?" tanya Nina, memotong ucapan Dinda. Pasti temannya itu akan bilang betapa beruntungnya Nina ketemu sama Junsu bla-bla-bla, dan pembahasan itu udah sering banget tayang. Nyaingin jadwal tayang Tukang Bubur Naik Haji yang nggak tamat-tamat itu.
"Temen kampus gue. Namanya Ardi."
Nina mengerutkan kening. "Orang Indonesia?!"
Dinda mengangguk.
"Ya ampun Dinda, lo jauh-jauh ke Korea tapi pacaran ama orang Indonesia juga?!" seru Nina histeris. Seolah melihat Spongebob pindahan dari Bikini Buttom terus jadi tetangganya.
"Nggak pacaran, temenan aja," kilah Dinda.
"Yaa, semua orang juga bilangnya begitu. Temenan, temenan," Nina membalikkan ucapan Dinda. Dinda cuma nyengir.
"Seenggaknya, nanti kita nggak akan LDR pas udah selesai pertukaran mahasiswa ini, Na. Nah, lo ama Junsu gimana? Kalo kalian jadian, terus LDR, gitu? Kan kita tinggal sebulan lagi disini. Apa lo yang bakal tinggal disini? Apa Junsu yang bakal nyusul ke Jakarta?"
Nah, kok Dinda kepikiran sampai sana? Tapi kalau dipikir-pikir, iya juga sih. Nanti gimana, ya? Eh tapi kan, Junsu nggak suka ama gue! Ah emang dasar si Dinda racun, nih!
"Aaahh udah sana-sana cepetan kalo mau jalan buruan pergi ya, jangan ngerecokin pikiran gue sama macem-macem ya!" seru Nina galak.
Dinda mengangkat bahu. "Kan gue cuma bilang."
"Nggak akan lah, Din. Kan Junsu Oppa nggak suka gue," ujar Nina miris. Sebenernya biar Dinda mengatakan lagi hal-hal yang memungkinkan kalau yang dibilang Nina barusan itu salah. Kalau kali aja ada harapan...
"Oh iya, ya. Gue lupa," sahut Dinda enteng.
GUBRAK.
Nina berasa kejatohan ujung monas, sama patung-patung di Borobudur.
***
"Kamu tumben mau makan sushi," ujar Junsu heran. Setahunya, Nina nggak suka sushi karena menurutnya sushi itu berasa ikan mentahnya. Nina kan nggak suka makanan mentah.
"Sekali-kali. Kan Oppa suka sushi," sahut Nina. "Nanti aku pesen sushi goreng aja."
Junsu mengerutkan kening. "Ada sesuatu,ya?" tanya Junsu menyelidik.
"Duh, susah deh kalo ngomong sama orang pinter. Mikirnya cepet!" ujar Nina sambil cengengesan. "Ini sebagai bentuk terima kasih aku buat Oppa. Selama ini kalau makan sama aku kan Oppa nggak pernah makan sushi kesukaan Oppa."
Junsu mengangguk-angguk. Lalu memesan sushi-nya, sekaligus untuk Nina. Karena Nina masih belum bisa juga baca hangul dengan lancar.
"Tunggu. Ini bentuk perpisahan juga, ya?" tanya Junsu curiga.
Nina menepuk kepalanya. "Aduh, kenapa pinter banget, sih? Aku kan udah nyusun-nyusun kalimat yang bagus. Percuma deh jadinya."
"Nggak usah melakukan hal yang bukan diri kamu, deh. Nina dengan susunan kalimat bagus itu bukan pasangan yang tepat," ujar Junsu.
Nina nyengir. Menyadari kalau bahasa Indonesia Junsu tidak sekaku dulu. Menyadari juga kalau dia sudah benar-benar nggak bisa jaim depan Junsu.
"Yaudah deh kalo gitu, udah ketahuan juga. Iya, ini emang sekaligus perpisahan. Aku kan dua minggu lagi selesai pertukarannya, terus balik ke Jakarta, deh," ujar Nina. Nina sebenernya nunggu Junsu ngomong sesuatu, tapi Junsu diam saja.
"Ah, aku juga punya hadiah buat Junsu Oppa!" seru Nina, sambil mengambil bungkusan dari tasnya. Lalu memberikannya pada Junsu.
Junsu melihat isi bungkusan itu dan melotot kaget. "Kamu... Kok bisa?" tanya Junsu tidak percaya melihat kamera Nikon yang diidamkannya itu. Lalu menatap Nina penuh selidik. "Kamu punya uang dari mana?"
"Aku nabung, Oppa! Kan aku kerja part time juga," seru Nina agak kesal.
Junsu masih menatap kamera di tangannya dan Nina bergantian, takjub. "Kamu bisa nabung juga, Nina-ya? Tapi, kamu nggak perlu sampai beli ini. Aku masih belum butuh, kok."
"Abis kapan lagi aku bisa ngasih ini? Kan sebentar lagi aku pulang," ujar Nina, agak sedih sebenarnya.
Junsu terdiam. Seperti menyadari kebenaran perkataan Nina.
"Lagian, sebenernya ini nggak sebanding sama yang udah Oppa lakuin buat aku. Oppa temen Korea pertama aku, yang nolongin aku bahkan dari pas pertama kita ketemu di kantor polisi itu. Terus, Oppa juga yang membantu mewujudkan mimpi-mimpi aku setelah mimpi pertama tinggal di Seoul," tutur Nina.
"Mimpi apa? Bertemu Big Bang?"
Nina mengangguk cepat. "Mimpi pertama tinggal di Seoul. Mimpi kedua ketemu Big Bang. Mimpi ketiga manggil seseorang dengan sebutan Oppa. Dan semuanya sekarang terwujud!"
Junsu meringis mendengarnya. "Mimpi kamu… unik, ya. Apalagi yang terakhir."
Nina nyengir. "Yaa, pokoknya ini sebagai ungkapan terima kasih aku buat Oppa! Abis Oppa juga nggak pernah ngasih permintaan sebagai ganti udah ngajak aku ketemu Oppadeul Big Bang waktu itu, jadi aku cuma bisa kasih ini."
Junsu terdiam, tampak berpikir. Dan pelayan pun datang memberikan pesanan mereka.
"Terima kasih untuk hadiahnya," ujar Junsu, lalu menunjuk sushi yang sudah ada di meja. "Sekarang makan yang banyak."
Nina mengangguk, dan mulai memakan sushi gorengnya. Ternyata meski sudah digoreng, tetap saja terasa amis. Nina langsung minum banyak-banyak. Junsu nyengir melihatnya.
"Kamu masih kuat makannya? Nggak usah dipaksakan, Nina-ya," ujar Junsu. Nina menggeleng cepat. "Nggak apa-apa, kok! Kan sekali-kali ini."
Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai makan. Nina masih minum banyak-banyak, sementara sushi-nya tadi dihabiskan oleh Junsu akhirnya.
"Nina-ya," ucap Junsu ketika melihat Nina sudah selesai minum. "Sebenarnya, kamu nggak perlu sampai beli hadiah ini. Aku senang melakukan hal-hal yang kamu sebut tadi. Aku senang bertemu dengan kamu dan menghabiskan waktu bersama. Tapi, kamu pasti sudah berusaha keras untuk beli kamera itu. Jeongmal gomawo, Nina-ya."
Nina terdiam, menyimak ucapan Junsu. Lagian dia juga nggak tahu harus merespon gimana. Lagian dia juga sekarang ngerasa perutnya kembung gara-gara kebanyakan minum dan jadi susah mikir.
"Sebenarnya, akhir-akhir ini aku terpikir mengenai bagaimana nanti. Bagaimana kalau kamu sudah pulang ke Indonesia? Apa kita akan tetap bisa berkomunikasi dengan baik? Segala sesuatunya nggak akan sama dibanding kita bertemu langsung seperti sekarang. Mungkin kita akan semakin jarang berkomunikasi. Mungkin kamu akan sibuk dengan kuliah dan teman-teman kamu disana, dan mungkin aku juga akan sibuk disini."
Nina tercenung. Berusaha mikir kemana arah pembicaraan ini. Tapi otaknya benar-benar mentok. Parah juga ya efek kembung, pantes pengawas ujian suka ngelarang mahasiswa bawa minum pas ujian. Jadi nggak bisa mikir.
“Lalu aku juga terpikir, bagaimana kalau kamu lupa aku nanti?”
Nina sekarang mengerti pembicaraan ini. Jadi soal khawatir-melupakan-teman-dari-negeri-seberang.
“Ah, nggak mungkin, Oppa! Aku nggak akan lupa Oppa, lah! Paling Oppa yang lupa sama aku,” ujar Nina sambil cengengesan.
Junsu tersenyum. “Nggak akan. Orang seperti kamu nggak banyak dijumpai, kok.”
Nina mengangguk-angguk, meringis. Iya sih, gue kan spesies langka. Junsu Oppa pasti baru sekali ketemu sama orang jenis gue gini.
“Kamu unik,” ujar Junsu. “Dan menarik. Sepertinya aku nggak akan bertemu sama orang seperti kamu lagi.”
Nina diam. Melongo. Apa yang dibilang Junsu tadi?
“Soal permintaan waktu itu, boleh nggak aku gunakan sekarang?” tanya Junsu. Kok tahu-tahu ke permintaan? Batin Nina heran. Kok gue jadi nggak paham lagi pembicaraan ini, ya? Apa, ini masih bagian dari khayalan-khayalan gue?
Bangun, Nina, bangun! Nina menepuk-nepuk pipinya sendiri.
“Kenapa? Kamu sakit?” tanya Junsu, menempelkan tangannya pada kening Nina. Raut wajahnya khawatir.
Dengan telapak tangan Junsu yang masih berasa di kening Nina, Nina sadar kalau ini bukan mimpi. Nina mundur sedikit, sambil tersenyum. “Nggak, kok. Dan iya, permintaan itu masih berlaku. Emang Oppa mau minta apa? Aku pasti berusaha memenuhi, kok!”
Junsu menurunkan tangannya, lalu berdehem. Tampak agak gugup. “Nanti… kamu bisa tunggu aku? Nanti… ketika kamu sudah di Indonesia.”
Nina melongo mendengarnya. Jadi disuruh nunggu? Nunggu Junsu? Emang mau ngapain? Apa Junsu mau diajak ke PRJ pas bulan Juli? Makan kerak telor? Sebagai ganti Nina udah diajak ke Namsan Tower bulan kemarin.
Nina memandang Junsu heran, tapi sepertinya pria itu menunggu respon darinya. Karena masih bingung, Nina memutuskan untuk bertanya. “Iya, bisa kok. Emang Oppa mau ke Indonesia? Mau ngapain?”
Junsu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Katanya Nina suka nonton drama, kok nggak ngerti? Apa kata-kata yang tadi kurang tepat, ya?
“Iya, aku akan ke Indonesia. Tapi, masih belum pasti kapan. Makanya, sampai ada kepastian aku kesana, kamu bisa tunggu aku? Jangan… jangan nerima pria lain.”
Nina melongo. Dan langsung cegukan!
Ohmaigat, ohmaigat, ohmaigat. Apa ini? Jadi maksudnya nunggu itu, kayak di drama-drama? Nunggu Junsu Oppa datang ke Indonesia? Apa dia… apa dia…
“Kamu nggak apa-apa?” Junsu buru-buru menyerahkan gelas air putih pada Nina. “Aneh, padahal tadi kamu sudah minum banyak.”
Nina, yang masih cegukan, langsung nerima gelas itu. Dan langsung minum sampai habis. Persis ketika minum di kantor polisi waktu itu.
“Jadi, permintaan kamu itu, aku nunggu?” tanya Nina memastikan, setelah cegukannya hilang. Junsu mengangguk. “Bisa kah?”
Nina mengangguk cepat. “Bisa! Asal jangan lama-lama,” tambahnya cepat. “Eh, lama juga nggak apa-apa sih, tapi jangan terlalu lama. Oppa tahu kan, aku orangnnya nggak sabaran. Terus aku juga—“
Junsu tertawa kecil. Mengangguk, dan mengusap kepala Nina pelan.
Nina merasa mau meledak sekarang juga. Mukanya pasti semerah tomat bertumpuk-tumpuk, merah banget!
Ohmaigat. Ohmaigat.
***
Satu tahun kemudian.
Tepatnya, satu tahun tiga bulan tiga minggu lebih sehari kemudian.
Nina melihat HP nya untuk yang kesekian kali. Memastikan kalau ia tidak salah tempat. Tidak salah waktu.
Aku tiba hari Senin ini. Penerbangan pagi. Sampai jumpa di Jakarta.
Nina senyum-senyum lagi melihat pesan itu. Ibu-ibu di sampingnya udah melihat dia curiga, takutnya pasien rumah sakit jiwa yang kabur. Abis dari pertama datang udah senyum-senyum terus! Si ibu malah udah nyari-nyari nomor telepon rumah sakit terdekat, buat jaga-jaga.
Nina nggak peduli. Sebenernya dia nggak nyadar dengan kehadiran si ibu antah-berantah itu. Sejak kepulangannya dari Seoul, setiap hari kerjaan Nina memang ngitungin hari. Sambil video chat. Atau sambil balas-balasan tweet. Atau sambil mantengin email masuk.
Sama Junsu-lah. Siapa lagi selain sama Junsu Oppa-nya itu.
Nina mengangkat kepala ketika menyadari mulai banyak orang yang berdatangan. Penumpang pesawat sudah mulai turun. Mata Nina mulai mencari-cari sosok yang setiap hari fotonya Nina lihat sebelum tidur, saingan sama foto Big Bang.
Nina menyisir setiap orang yang muncul dari pintu kedatangan. Orang bule mancung. Ibu-ibu dengan anak-anaknya. Bule mancung lagi. Ibu-ibu lagi. Terus Bondan Prakoso. Terus Fedi Nuril. Terus Herjunot Ali. Terus Vino Bastian. Terus Fachry Albar.
Tunggu, tunggu. Ini rombongan artis abis syuting atau apa, sih?
Nah, itu dia! Nina berasa mau loncat-loncat kegirangan begitu melihat sesosok tinggi ganteng sipit yang membawa koper. Nina langsung melambai-lambaikan tanganya pada orang itu.
“OPPA!! JUNSU OPPA!! NAN YEOGIYO[1]!!” teriaknya keras, menyadari orang yang dilambaikan tangan itu tidak menyadari keberadaannya.
Ibu-ibu di sampingnya melongo. Jadi bukan orang gila toh, tapi lagi nunggu artis, batin si ibu. Segerombol ABG yang ternyata ada di sebelah Nina ikut-ikut melihat ke arah yang Nina maksud. Mengira kalau Nina memang berbicara dengan artis Korea.
“Siapa, Kak? Exo? Infinite? Winner? Got7?” berondong mereka.
Nina tidak mempedulikan anak ABG terlalu gaul itu. Dia terus teriak-teriak memanggil Junsu. “OPPA! JUNSU OPPA!”
Junsu mengangkat alis melihat Nina yang melambaikan tangan histeris. Junsu menepuk kepalanya. Ternyata gadis itu masih sama. Padahal setiap hari bilangnya sudah lebih anggun, lebih feminim, lebih rapi…
Junsu mengangkat bahu. Itulah Nina-nya. Masih sama. Dan sekarang, ia harus memutar jalan. Setidaknya untuk mengurangi rasa malu di tempat sangat amat ramai seperti ini.
“OPPA? Kok malah kesana? Aku disini!” seru Nina heran. Junsu terus berjalan ke arah yang berlawanan, sambil tersenyum lebar.
“OPPA, EODDIGA[2]?!”




[1] Aku disini
[2] Mau kemana

(part 1) (part 2)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar