Rabu, 29 Januari 2014

Dreams Come True Part 2

Fans Nomor Satu

“Jadi, kamu benar-benar menyukai Big Bang?” tanya Junsu.
Setelah kejadian di kantor polisi itu, Nina dan Junsu memang berteman. Mereka beberapa kali bertemu, seperti sekarang ini. Nina jelas seneng banget. Selain Junsu emang ganteng, plus teman Korea pertamanya, plus bisa bahasa Indonesia lagi. Informasi tambahan, Junsu nggak suka Bollywood. Nggak kayak paman polisi salah gaul itu.
Nina menghela nafas. “Udah berapa kali aku bilang—“ Nina tidak melanjutkan ucapannya, ingat pernah menyumpahi diri sendiri karena menghancurkan image dirinya depan Junsu. Nina mengangguk. “Iya, Junsu-ssi. Aku sukaaaaaaaaaa banget sama Big Bang. Impian kedua aku setelah tinggal di Seoul adalah ketemu Big Bang. Kalau bisa sih, ngobrol. Kalau bisa sih, foto bareng sama tanda tangan. Kalau bisa sih, peluk mereka satu-satu. Kalau bisa sih—“
Ups, kelepasan lagi. Nina merutuki dirinya. Kayaknya emang gue nggak bakat anggun kayak Han Ga In di The Moon That Embraces The Sun. Atau Han Hyo Joo di Iljimae. Ah tapi kan itu semua di drama kolosal, di drama modern semuanya mirip-mirip gue gini, kok. Yah, harapan terdalam gue sih begitu.
“Memangnya mengapa suka Big Bang?” suara Junsu memutus percakapan berisik batin Nina.
“Kenapa, ya?” Nina mengerutkan kening. “Suka aja. Pas pertama dengar lagu mereka, langsung ngerasa ‘Wah ini lagu keren banget!’, dan pas lihat MV nya juga. Makin didenger lagunya, makin dilihat MV nya, makin suka aja. Pokoknya…,” Nina diam. Mikir apa kata yang tepat.
“Yaa… pokoknya suka aja! Aku fans mereka nomor satu!" sambungnya kemudian.
Junsu mengangguk-angguk.
“Emang kenapa? Kamu juga mau nonton Inkigayo mereka?” tanya Nina. “Dinda juga mau ikut. Jadi tambah ramai, kan!”
Junsu nyengir. “Tidak, deh. Aku sudah terbayang akan ada banyak fans Big Bang yang teriak-teriak sambil mengangkat lightstick-nya.”
“Crown stick namanya,” ujar Nina. “Aku juga udah belajar fan chant-nya, lho! Huwaaaaa nggak sabar pengen cepet-cepet nonton! Kamu bener nggak mau ikut?”
“Nina-ssi, aku akan menjadi orang aneh sendiri kalau disana,” ujar Junsu, sambil meringis.
“Iya juga sih. Ngomong-ngomong, kamu nggak kerja? Emang nggak apa-apa sering main sama aku begini?” tanya Nina penasaran. Jangan-jangan sebenernya ini cowok malas kerja terus ngajak dia main? Atau, tempat kerjanya ngasih jatah absen 3 kali? Kayak kuliah gitu.
Junsu mengusap-usap tengkuknya. “Mmm… pekerjaan aku tidak begitu mengikat waktu, Nina-ssi. Jadi lebih fleksibel.”
Nina mengangguk-angguk. “Begitu toh. Oh iya, kita mau makan dimana, sih? Jangan makanan mentah ya, aku nggak bisa makan begituan.”
“Bagaimana kalau jamppong? Dingin seperti ini pasti enak makan makanan berkuah,” usul Junsu.
Nina mengangguk. Sebenernya dia lupa jamppong itu kayak apa, padahal dia udah nempel gambar makanan Korea di kamarnya. Persis anak SD lagi ngafal perkalian, nempel poster perkalian di tembok.
“Kita jalan kaki saja, tempatnya tidak jauh dari sini,” kata Junsu sambil bangkit.
Nina ikut bangkit, tapi tidak sengaja dompetnya jatuh. Junsu yang mengambilnya, dan melihat sekilas dompet Nina yang terbuka itu.
“Nina Puspita… dewi?” Junsu terbata, mengerutkan kening membaca kartu mahasiswa Nina. “Waktu itu kamu bilang kalau kamu just Nina?”
“Ooh, itu,” Nina teringat perkenalan di kantor polisi itu. “Maaf ya, Junsu-ssi. Waktu itu aku lagi panik, dan lagi semangat ceritain kronologis kejadian pengejaran ajussi mabuk itu. Dan pasti, orang Korea akan nanya dua kali kalau aku kasih tahu nama panjangku. Nina… nugu? Pasti bilang begitu. Pas perkenalan di kelas juga begitu soalnya. Ditambah lagi situasinya lagi kacau kan waktu itu—“ Nina bingung mau bilang apa lagi.
Junsu tertawa kecil. Lalu mengusap kepala Nina pelan.
Nina melongo, kaget. Ohmaigat, ohmaigat, dia ngapain? OHMAIGAAAAAAT! Nina berusaha keras nahan diri biar nggak loncat-loncat kegirangan.
“Nina-ssi, disini kami menghargai perbedaan umur,” ujar Junsu tiba-tiba, menghalau kekagetan Nina. Dan bayangannya soal loncat-loncat. Kok tahu-tahu umur?
“Kalau orang yang berbeda umurnya, mereka tidak menyebut nama langsung. Yang lebih muda memanggil Unnie atau Oppa,” kata Junsu lagi. Mereka sedang berjalan ke restoran yang dimaksud Junsu.
Nina mengangguk-angguk. “Aku tahu, pernah lihat di drama.”
“Kamu juga suka drama?” tanya Junsu.
“Iya, sukaaaa banget! Makanya aku tergila-gila sama Korea ini, sedikit-sedikit tahu lah soal negara ini,” Nina nyengir.
Junsu tersenyum. “Baguslah kalau kamu tahu. Jadi, bagaimana kalau kita mengikuti peraturan-tidak-baku negara ini? Aku memanggil kamu Nina-ya, kamu memanggil aku Oppa.”
Nina mengangguk cepat. “Arrasoyo, Junsu Oppa!”
Junsu tertawa senang mendengarnya. Sementara, Nina juga senang menyebut Oppa. Impian ketiganya setelah tinggal di Korea dan bertemu Big Bang adalah, manggil seseorang dengan sebutan Oppa! Kenapa? Simply, di drama banyak yang begitu dan kayaknya keren aja gitu.
Ternyata mimpi nggak susah-susah banget dicapai, saudara-saudara.
***

“Kita mau kemana sih, Oppa?” tanya Nina heran. Dari tadi, Junsu sok-sok misterius nggak mau ngasih tahu tujuan mereka. Dan berhubung Nina nggak tahu jalan, apalagi ini di Seoul, jadi dia Cuma bisa bengong-bengong lihat gedung-gedung tinggi di kanan kiri jalan.
“Kalau kejutan tidak mengejutkan, lalu apa artinya kata kejutan?” Junsu balik bertanya, sambil tersenyum manis.
Nina melongo mendengarnya. Ini Junsu lagi ngetes kemampuan berbahasa Indonesia menurut ejaan yang disempurnakan atau apa? Duh, nilai bahasa Indonesia gue pas semester satu nggak bagus lagi! Nina jadi menyesal sendiri, waktu itu memang untuknya yang penting lulus. Bahasa Indonesia ini. (Oke, don’t do this at home, apalagi tanpa bimbingan orang dewasa).
Tapi berhubung omongan Junsu sepertinya benar—dan senyumnya itu bener-bener manis, Nina akhirnya mencoba diam. Sambil nebak-nebak dalam hati. Nggak dosa ini kan nebak aja.
Apa mau diajak ke tempat kerjanya? Kan mereka berdua sama-sama di bagian perfilman. Mungkin Junsu mau ngajarin beberapa hal. Terus, mungkin disana akan ketemu Kim Soo Hyun. Tunggu, tunggu, jangan protes soal talent yang satu itu disebut terus. Apa jangan-jangan, akan ke lokasi syuting drama barunya itu? Terus, apa ada Jeon Ji Hyun? Terus, apa bisa minta foto bareng? Atau, tanda tangan gitu?
Oke. Nebak emang nggak dosa, tapi kalo keterusan bikin gila. Nggak berarti karena ini Seoul terus bisa ketemu para artis yang setiap hari ditonton Nina di drama. Iya sih, di Jakarta aja dia jarang ketemu artis. Bumi luas, men.
Untungnya sebelum tebakan Nina makin ngaco, mobil Junsu berhenti. Dan Junsu ngajak Nina keluar mobil. Nina melihat gedung di hadapan mereka dari atas sampai bawah, nggak kayak lokasi syuting. Hmph okelah, itu cuma tebakan belaka.
Nina mengekor Junsu yang sudah berjalan di depannya memasuki gedung, sambil terus senyum-senyum. Nina sebenernya agak heran ngeliat Junsu yang kayak orang salah makan obat gitu. Perasaan pas awal-awal kenal nggak gitu-gitu banget.
OH NO! Apa gue menularkan virus keanehan ke cowok ganteng itu?! pikir Nina, berpikir histeris.
“Jadi ini kejutannya,” ujar Junsu, sambil menekan bel. Seperti sebuah apartemen, dan kayaknya jauh lebih besar daripada apartemen Nina.
Nina semakin bertanya-tanya tempat apa sebenernya itu, tapi nggak akan dibeberin disini. Karena semakin akut kegilaan tebakannya.
Untungnya sebelum semakin akut lagi, pintu terbuka. Dan Nina melongo se-melongonya lihat apa yang ada di hadapannya.
Soal apartemen yang jauh lebih besar dari apartemen Nina, itu 100% bener. Bahkan, jauuuuuuuuuuh lebih besar.
Tapi bukan itu.
Di depannya sekarang, saat ini, detik ini, Daesung berdiri tepat di depan Nina. IYA DAESUNG YANG ITU!! KANG DAESUNG BIG BANG!!
“Oh, Junsu-ya! Jadi ini yang kau bilang akan dikenalkan pada kami?”
Demi apapun, demi nyokap bokapnya di Jakarta, demi mbah uyutnya di Jogja, demi Pak Hutagalung dosen Statistiknya yang killer itu; INI BENERAN KANG DAESUNG!! Itu suara renyahnya yang selama ini Nina denger dari variety shows. Meskipun pakai bahasa Korea yang Nina nggak ngerti sepenuhnya, tapi itu suara Daesung. DAN ITU EYE SMILE NYA!!
“Ne, Hyung!” Junsu menoleh pada Nina yang sudah beku kayak lagi di Kutub Selatan. “Nina-ya, bagaimana kejutanku?”
Nina tergagap, nggak tahu harus bilang apa. Apa ini mimpi? Tapi Nina udah mimpiin T.O.P tadi pagi, gara-gara semalem nonton Commitment. Dan nggak ada Daesung di mimpi itu. Apa Daesung tahu-tahu masuk jadi cameo? Tapi, masa Junsu ikut masuk ke mimpinya juga? Dan kok mimpinya lama banget? Sempet sarapan dulu, sempet dandan dulu—karena mau jalan sama Junsu, sempet jajan roti dulu di jalan—karena Junsu ternyata belum sarapan dan akhirnya Nina sarapan lagi nemenin Junsu.
Junsu menyadari Nina yang amat sangat shock, tersenyum lebar pada Daesung. “Hyung, sepertinya ia sangat shock. Bisa kami masuk dulu?” tanya Junsu, sambil menggiring Nina masuk. Sedikit menyeret tepatnya, karena Nina benar-benar membeku.
“Kalian duduklah dulu, aku akan mengambil minum di belakang,” ujar Daesung. Nina yang meski nggak tahu Daesung ngomong apa, tetep ngeliatin Daesung yang berjalan ke dapur.
“Junsu-ya! Wasseo?”
Nina dan Junsu menoleh. Nina membeku lagi.
ITU SEUNGRI! DAN SEBELAHNYA JIYONG! DI BELAKANGNYA TAEYANG!! TUHAN, APA INI SURGA?
“Apa ini surga?” tanya Nina, yang ternyata apa yang di pikirannya terucap juga.
Junsu tertawa mendengarnya. Dan dia langsung menyapa para cowok-cowok itu. “Hyung, ini gadis yang aku ceritakan. Dia fans kalian nomor satu! Tadi bahkan dia bilang, apa ini surga?” ujar Junsu dengan bahasa Korea.
Ketiga orang itu tertawa juga mendengarnya.
“Aigoo… jadi siapa nona manis ini? Junsu-ya, apa dia bisa bahasa korea?” tanya Seungri. Junsu menggeleng. “Bahasa Inggris saja.”
“Mengapa berdiri saja disitu? Duduklah sini,” ujar Taeyang. Nina tersentak, kagum mendengar Taeyang bicara padanya. Ternyata bahasa Inggris Taeyang bagus banget. Dan ternyata aura Taeyang hangat banget.
Ohmaigat. Ohmaigat. Ohmaigat.
Nina cuma bisa mengangguk-angguk, sambil bergerak ke sofa dan duduk. Junsu duduk di sebelahnya. Dan para oppa itu duduk di depannya.
“Jadi, siapa nama nona manis ini?” tanya Seungri. Nina langsung ngerasa mukanya kerebus merah banget banget denger dipanggil manis sama Seungri.
“Yya, jangan menggoda orang yang polos!” seru Jiyong.
Ohmaigat. Sekarang Jiyong yang ngomong. Ini beneran apa mimpi, sih? Kok mimpinya enak banget?
“N-Nina,” ujar Nina akhirnya. Bodo amat deh mau mimpi apa bukan, lanjut aja!
“Kau bukan orang Korea, ya? Asalmu dari mana?” tanya Taeyang. Yaampun, beneran ya nama tuh doa. Hangat banget denger suaranya Oppa satu ini.
Nina mau menjawab, tapi tiba-tiba dia malah cegukan. Saking shocknya kali. Atau saking senengnya. Atau saking campur aduk dari semuanya.
“Oh, mian aku terlalu lama, ya? Seunghyun Hyung baru datang jadi aku mengobrol dulu dengannya tadi,” seru Daesung yang sudah membawa minuman di tangannya.
“Ada tamu?”
Nina mengangkat kepalanya. Dan melihat ada Choi Seunghyun di sebelah Daesung. IYA, CHOI SEUNGHYUN YANG KEREN MANDRAGUNA ITU!!
***

Setelah menenangkan diri beberapa saat, dan yakin kalau ini sungguh-sungguh bukan mimpi—Junsu yang meyakinkan berkali-kali sebenarnya, Nina memutuskan untuk berusaha terlihat bagus di depan para Oppa ini. Yah meskipun terlambat, karena Nina udah membeku beberapa kali tadi. Seenggaknya, Nina mau terlihat sebagai orang yang nggak gila-gila amat di depan para Oppa ini.
“Aku cukup dekat dengan mereka, karena sejak kuliah aku sudah jadi asisten sutradara dari sutradara MV Big Bang. Kami sering main bersama, keluar atau aku yang datang kesini. Sesekali, mereka yang datang ke tempatku,” ujar Junsu.
Mata Nina membesar mendengarnya. “Kenapa nggak pernah bilang?” serunya, refleks dalam bahasa Indonesia.
“Kan kejutan,” sahut Junsu sambil nyengir. “Lagipula, aku tidak bisa selalu bilang ke orang-orang kalau aku mengenal mereka. Resiko jadi teman selebriti.”
“Woah, kalian punya bahasa sendiri? Semacam bahasa rahasia couple?” tanya Seungri, takjub sekaligus iseng menggoda Junsu dan Nina.
“Tapi, aku seperti pernah mendengar bahasa seperti itu sebelumnya,” ujar Taeyang.
“Itu bahasa Indonesia. Hyung tahu kan, kalau ayahku orang Indonesia?” ujar Junsu.
“Ah, Indonesia! Kami konser disana tahun kemarin,” ujar Daesung. Nina mengangguk cepat. “Aku menonton kalian, Oppadeul! Aku berdiri paling depan waktu itu! Aku juga ikut bernyanyi bersama kalian.”
“Benarkah? Kau hafal lagu-lagu kami?” tanya Jiyong.
“Tentu saja! Maksudku, setidaknya aku tahu nadanya. Dan sekarang aku sedang mempelajari bahasa korea dengan giat, supaya bisa cepat menghafal lagu Oppadeul,” ujar Nina senang.
“Aigoo… kau benar-benar fans kami nomor satu, ya?” ujar Seunghyun, sambil tersenyum. DUH SENYUMNYA MAUT, DEMI APAPUN! Nina nahan-nahan diri buat nggak pingsan. Sayang banget coy pingsan di kesempatan sekali seumur hidup begini!
Karena dalam mimpi terindahnya atau khayalan terngaco-nya pun, ia tidak pernah mengalami hal ini. Sekarang, seorang Nina Puspitadewi, sedang ngobrol sama Big Bang!!
Nina mengangguk cepat.
“Kau dan Junsu sudah mengenal lama, Nina-ya?” kini Daesung yang bertanya.
Nina rasanya mau guling-guling saking senangnya. KANG DAESUNG MANGGIL DIA NINA-YA! NINA-YA!!
“Hampir tiga bulan ini, Hyung,” Junsu yang menjawab, menyadari Nina lagi menahan kegirangannya itu.
“Eiiiiy~ kalian berteman dekat?” goda Seungri. “Kalian bertemu dimana?”
“Kan—“
Nina langsung menahan tangan Junsu, memohon untuk tidak mengatakannya. Apa yang akan dikatakan oleh para Oppadeul ini kalau tahu mereka bertemu di kantor polisi? Dalam situasi yang sangat amat nggak bagus itu?
“Oppadeul, kapan kalian akan konser lagi? Pasti Seoul tempat konser pertama, kan?” tanya Nina semangat. Sekaligus mengalihkan pembicaraan. Lagian kesempatan langka begini sayang banget kalau tidak menanyakan segala sesuatunya.
“Aku akan memberitahukan, tapi kau jangan beritahu ini pada siapapun. Ini karena kau teman Junsu kami, mengerti?” ujar Jiyong. Nina mengangguk-angguk cepat. “Ne, Oppa! Aku akan menyimpannya sendiri. Aku janji!”
“Gadis baik,” ucap Jiyong. Nina—lagi-lagi—nahan diri buat nggak guling-guling kesenengan disebut begitu. “Dua bulan lagi, kami konser. Kalian berdua datanglah,” kata Jiyong lagi.
“Kau tahu aku tidak terlalu suka tempat ramai begitu, Hyung. Lagipula nanti disana akan sangat banyak fansmu—“
“Kami pasti akan datang! Aku memastikan Junsu Oppa juga!” Nina memotong ucapan Junsu, tidak peduli Junsu yang sudah melotot padanya. “Oppa, kita harus membuat mereka senang. Aku kan fans mereka nomor satu!” ujar Nina pada Junsu, dengan bahasa Indonesia.
“Yya, tapi bagiku mereka teman. Jadi tidak mungkin—“
“Junsu Oppa bilang dia akan mengusahakannya,” potong Nina, berkata para Oppa itu dengan bahasa inggris. Mereka semua tersenyum senang. Taeyang bahkan menepuk-nepuk bahu Junsu. “Kau harusnya begitu dari dulu! Bagaimana mungkin kau yang teman kami tidak pernah datang ke konser teman sendiri?”
“Aigoo… itulah bedanya kalau sudah punya teman wanita,” goda Seungri. Nina takjub melihatnya. “Wae? Mengapa kau melihatku seperti itu, Nina-ya?” tanya Seungri.
“Karena ternyata kabar yang kudengar benar. Soal Seungri Oppa yang suka usil menggoda orang lain,” ujar Nina polos.
Yang lain langsung tertawa mendengarnya, sementara Seungri sibuk protes. “Aniya, Nina-ya! Aku hanya peka melihat suasana, kau tahu? Peka!” ujar Seungri. “Kau juga mendengar kabar yang lain, kan? Seperti Youngbae Hyung yang tidak pernah pacaran tapi sebenarnya memiliki daya tarik kuat terhadap wanita, Daesung Hyung yang sering melakukan hal gila tapi sebenarnya sering kesepian di asrama ini, TOP Hyung yang tampak keren tapi sebenarnya sering berkelakuan aneh, Jiyong Hyung yang sering terlibat skandal dengan selebriti wanita—“
“YYA!!!”
Keempat member Big Bang lainnya langsung berteriak pada Maknae[1] Oppa itu, dan memukulinya dengan bantal sofa. Sedangkan Seungri berteriak-teriak minta ampun.
Nina melongo melihat pemandangan di depannya. Ini mimpi apa bukan, sih? Jadi kabar-kabar yang sering didengernya itu benar? Soal Seungri Oppa yang emang suka usil, dan sering minta ‘dibantai’.
“Apalagi kabar yang kau dengar tentang kami?” tanya Seunghyun ketika ‘pembantaian’ Seungri selesai.
“Mmm…,” Nina tampak berpikir. “Ah, aku dengar soal film Seunghyun Oppa yang sukses itu! Aku baru menontonnya semalam, dan—“ Nina tidak melanjutkan ucapannya, hampir bilang kalau ia memimpikan Oppa keren satu ini. “Dan soal Oppadeul yang mendapat penghargaan! Kalian memang keren, selalu tidak pernah mengecewakan!”
Para Oppa itu tersenyum senang. Dan Nina merasa lebih senang dari siapapun melihat senyum mereka saat ini.
“Kau tidak dengar hal lain? Hal yang agak controversial—“
“Yya maknae, jangan mulai!” seru Jiyong memotong ucapan Seungri.
“Ah, aku mendengar beberapa! Tapi kurasa itu hanya shipper—sekelompok orang yang senang menjodohkan idolanya dengan idola lain,” ujar Nina.
“Aku pernah dengar soal itu! Kalian memasang-masangkan kami dengan idola lain,” seru Daesung. “Jadi, siapa saja yang kau dengar?”
Nina memandang mereka satu persatu. Meskipun sudah berjalan beberapa lama, Nina masih tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Dan jadi grogi sendiri. Nina meminum jus di depannya, buat menghilangkan grogi.
“Seunghyun Oppa dengan Bom Unnie, Jiyong Oppa dengan Dara Unnie, Daesung Oppa dengan Minji Unnie—aku juga pernah dengar dengan Jiyoung Unnie member Kara, Seungri Oppa dengan Chaerin Unnie—kadang aku juga mendengar ada shipper yang memasangkan Chaerin Unnie dengan Taeyang Oppa.”
Mereka semua—termasuk Junsu—tertawa-tawa mendengarnya. Nina ikut tertawa kecil. “Apakah itu aneh? Sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan?”
“Menurutmu bagaimana? Apa kau ingin itu semua jadi kenyataan?” Jiyong balik bertanya.
“Beberapa, iya. Seperti Seunghyun Oppa dan Jiyong Oppa yang kurasa cocok dengan Bom Unnie dan Dara Unnie. Tapi setelah kupikir, kurasa Oppadeul dengan siapapun tidak masalah selama kalian bahagia. Ah! Aku juga berdoa di awal tahun kemarin supaya Oppadeul menemukan jodoh yang tepat dan dapat membuat kalian bahagia. Tidak harus orang-orang yang kusebut tadi, tapi yang penting kalian bahagia,” ujar Nina panjang lebar. Dan jujur. Nina memang menuliskan hal itu dalam doa awal tahunnya.
“Aigoo… kau memang fans kami nomor satu ya,” ujar Taeyang hangat, sambil menepuk-nepuk kepala Nina. Nina membeku lagi. Mendengar ucapan Taeyang yang hangat. Merasakan kepalanya ditepuk-tepuk seperti itu.
“Diantara kami, siapa yang paling kau suka?” tanya Seungri.
“Aku suka kalian semua,” jawab Nina.
“Eiiiy~” ujar para Oppa itu kompak. “Nina-ya, kami tahu kalau fans itu pasti punya satu orang yang paling disukai di Big Bang ini. Tidak apa-apa, katakan saja dengan jujur,” ujar Daesung.
“Jinjjayo! Aku menyukai kalian semua!” seru Nina. “Aku menyukai kalian semua satu demi satu. Pertama kali aku menyukai TOP Oppa, Oppa sangat keren! Lalu aku mulai menyukai Daesung Oppa, karena mendengar suaranya di lagu membuat hatiku tenang. Lalu aku mulai menyukai Jiyong Oppa, Seungri Oppa, Taeyang Oppa… mollayo, aku tidak tahu bagaimana prosesnya yang jelas aku menyukai kalian semua!”
Mereka semua tertawa melihat Nina yang menjelaskan dengan penuh semangat.
“Nina-ya, kita tidak bisa berlama-lama lagi disini. Apa masih ada hal yang ingin kau lakukan?” tanya Junsu. Nina menatap para Oppa itu satu persatu, lalu menatap Junsu.
***

“Terima kasih banyak, Junsu Oppa! Thank you soooooo much! Jeongmal jeongmal jeongmal gomawoyo, Choi Junsu!”
Junsu berlagak menutup kupingnya. “Kamu sudah bilang itu beratus-ratus kali dari tadi, Nina-ya.”
“Karena ini terlalu indah dibanding mimpi terindah manapun! Jadi beribu terima kasih-pun rasanya nggak akan cukup. Ini sungguh-sungguh mimpi yang jadi kenyataan terindah dalam hidup aku!” ujar Nina serius. "Junsu Oppa, sampai sekarang aku masih nggak percaya dari semua orang yang aku kenal di dunia; aku ketemu sama Oppa yang ternyata kenal Big Bang! Oppa, kayaknya kamu malaikat penyelamat. Atau, sebenernya kamu jin lampu ajaib, bisa ngabulin permintaan?"
Junsu mendelik kesal. "Kamu juga sudah bilang begitu ratusan kali!"
Nina tertawa. "Habis, ini semua masih kayak mimpi, sih!" Nina melihat foto di HP nya. Fotonya bersama Oppadeul Big Bang. Foto bersama mereka berlima, foto bersama mereka dan Junsu (minta difotokan sama manajernya Jiyong Oppa yang kebetulan datang), foto bersama mereka satu persatu. Nina senyum-senyum sendiri lihatnya, inget tadi bahkan dia meluk Oppadeul itu satu-satu. MELUK COY MELUK KESAMPEAN JUGA!
“Kalau nggak ada foto-foto ini, mungkin selamanya aku akan mikir kalau yang tadi itu mimpi.”
Junsu hanya geleng-geleng kepala melihatnya. “Kamu memang fans mereka nomor satu, ya.”
Nina mengangguk cepat. “Oppa, apa yang bisa aku lakuin buat ngebales semua ini? Bilang aja, kali aku bisa melakukan sesuatu!”
“Benarkah? Apa saja?”
Nina jadi mikir. Iya ya, dia kan nggak sehebat itu. Apa dia perlu minjem kekuatan sakti Angling Dhama? Kan udah diputer dalam waktu yang lama tuh, pasti kekuatannya makin hebat. Atau, minjem suling sakti Caesar?
“Yaaa… mungkin nggak bisa semua hal. Tapi kalau bisa, aku pasti usahain, deh!”
Junsu tertawa kecil mendengarnya. Nina terpana sesaat. Ohmaigat, kenapa masih manis aja sih ketawanya?
“Aku akan pikir baik-baik, deh. Waktu berlakunya panjang, kan?” tanya Junsu.
Nina mengangguk. Lalu dia melihat foto di HP nya lagi.
“Oh iya, aku baru ingat sesuatu,” ujar Junsu. Nina mengangkat kepalanya. “Apa?”
“Kamu jangan marah ya,” ucap Junsu. Melirik Nina yang diam saja. “Jangan marah, ya? Janji dulu.”
Nina mengerutkan keningnya. “Iya, janji. Emangnya kenapa sih?”
“Karena kamu menyeramkan kalau marah,” ujar Junsu polos.
Nina berasa ketimpa ujung Monas yang dibikin dari emas itu. Oh, oh. Image gue beneran sudah ancur lebur depan ini cowok.
Nina nyengir miris. Maksa. “Jadi apa yang mau Oppa bilang tadi?”
“Foto-foto itu, kalau bisa jangan ditaruh di internet. Kamu tahu kan, banyak fans yang sejuta kali lebih fanatik dari kamu. Takutnya, nanti mereka nyari tahu itu dimana dan ketahuan tempat itu di dorm Big Bang. Nanti kamu juga yang susah, dikejar-kejar mereka karena dikira ada sesuatu,” ujar Junsu panjang lebar.
Nina manggut-manggut. “Iya juga ya, kok nggak kepikiran, ya? Nanti tempat tinggal Oppadeul jadi ketahuan deh.”
“Sebenarnya kalau dorm Big Bang, fans nya pasti sudah banyak yang tahu. Cuma kalau ketahuan kamu ada di dorm itu, nanti mereka yang akan mengejar kamu. Aku beberapa kali diceritakan Daesung Hyung soal fans-fans itu, dan mereka sangat sangat sangat menyeramkan. Nanti kamu dalam bahaya,” tutur Junsu lagi.
Nina terdiam. Nggak tahu kenapa dia ngerasa terharu dengar Junsu bilang begitu. Tapi sebelum pikirannya berlanjut ke hal-hal di drama, Nina langsung menyahuti omongan Junsu. “Oppa, kamu bener-bener baik! Aku nggak tahu apa jadinya hidup aku disini kalo nggak ketemu kamu,” ujar Nina sambil tersenyum lebar.
Junsu ikut tersenyum.




[1] Yang paling muda


(part 1) (part 3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar