Rabu, 29 Januari 2014

Dreams Come True Part 1

(note penulis: cerita ini cuma fiktif belaka yaaa. dan iya, mungkin agak menyalurkan kegilaan hehehe. niatnya sih cuma buat komedi aja, lucu-lucuan aja; sukur-sukur kalau bisa menghibur. dan semua tokoh di cerita ini nggak menggambarkan siapapun yaa, fiktif belaka lho ini :D)

selamat membaca :)
_____________________________________________________________________

Ternyata, ini benar-benar Seoul!

Nina menggigil. Ini adalah minggu keduanya di Seoul, dan Seoul sedang musim dingin sekarang. Sekarang dimana-mana ada salju, yang sebenarnya Nina sudah tidak tahan buat lari-larian dan guling-guling di salju itu. Terus teriak “Salju, coy, salju!” sambil ngelemparin salju itu ke muka orang-orang yang lewat.
Tapi, nanti ketara banget bukan orang sininya dong.
Meskipun sangat amat sulit, Nina memang mati-matian menyesuaikan diri, baca: bergaya, dengan Seoul ini. Seenggaknya berusaha lah walaupun patah-patah. Kenapa? Karena INI SEOUL COYYY!
Seoul yang setiap hari Nina bayang-bayangin, yang dipajang-pajang di tembok kamar sebelahan sama poster Big Bang. Makanya ketika dapat kesempatan sekali seumur hidup ini (yang ketika pertama kali dapat kabarnya, Nina sampe nangis), Nina memanfaatkan benar-benar untuk melakukan hal-hal yang udah dia bayangin jauh-jauh hari tentang tinggal di Seoul. Seperti, berusaha keras berbahasa Korea.
Dan itu sama sekali nggak gampang, saudara-saudara. Masalah pertama, dimana-mana cuma ada tulisan meringkel hangul yang sama sekali nggak Nina ngerti. Kecuali ada bahasa Inggrisnya, itu juga paling di tempat umum aja. Ketika mau beli makanan, Nina bahkan nggak tahu itu toko apa.
“Salah-salah, ternyata makan makanan mentah lagi,” seloroh Dinda, teman satu apartemennya sekaligus satu-satunya teman Indonesia yang ia kenal. Mereka sama-sama dapat beasiswa pertukaran pelajar kesini. Nina setuju dengan pemikiran temannya itu. Setahu Nina, dari drama, banyak orang Korea yang makan makanan belum matang. Semiripan Jepang gitu. Sedangkan mereka berdua yang orang Indonesia tulen dan terbiasa memakan makanan dimasak sempurna—kecuali lalapan, nggak akan bisa makan makanan mentah seperti ikan atau gurita yang masih bergerak-gerak. Akhirnya mereka kalau belanja ke supermarket, yang lebih aman, jelas, dan bisa menggunakan waktu dengan leluasa buat baca keterangan makanan apa itu.
Hari ini giliran Nina yang belanja. Dan demi apapun, supermarket mau di Indonesia mau di Korea sama-sama berisik! Bedanya, disini mereka berisik pakai bahasa yang antah berantah itu. Oke, Nina memang drama Korea freak. Tapi di drama itu bisa di-pause, bisa dilambatin buat denger orang ngomong apa. Tapi di kehidupan nyata kan engga.
Yah, hidup nggak seindah drama korea, saudara-saudara.
Nina sekarang berjalan kaki ke apartemennya. Kronologisnya gini, sebenernya mau naik bis tapi kelupaan berapa nomor bis nya. Nggak ada tulisan trayeknya kayak di Jakarta, 66 Manggarai-Blok M gitu. Nggak ada juga kenek yang ngasih tahu bisnya lewat mana aja. Dan baca papan petunjuknya juga tulisan meringkel itu semua. Terus mau naik taksi ga ada yang berhenti. Heran, perasaan kalo di drama tinggal teriak “Taekshi!” terus ada aja yang berhenti. Kalau taksi nggak berhenti, ada cowok ganteng semiripan Kim Soo Hyun yang nyamperin.
Oke, oke. Hidup nggak seindah drama korea.
Akhirnya Nina jalan menyusuri jalanan pinggir Seoul, yang kalau dia inget-inget sih nggak begitu jauh sama apartemennya. Lagian, Seoul malam indah juga kok. Lampu-lampu gemerlap di jalan, gedung-gedung tinggi, langit yang nggak mendung. So sweet men. Nina memejamkan mata, menghirup udara Seoul sebanyak-banyaknya. Mumpung disini, coy. Terus Nina senyum lebar. Masih nggak percaya dia lagi di bumi Seoul. Satu kota ama Big Bang, men!
“Tapi, kok lama-lama hawanya jadi nggak enak, ya?” gumam Nina, sambil lirik kanan kiri depan belakang. “Apakah mungkin, Kim Soo Hyun dari tadi diem-diem ngikutin gue?” gumam Nina lagi. Ah, Kim Soo Hyun udah tadi di adegan taksi, ganti talent lain!
“Oke, oke. Song Joong Ki?”
Wamil neng dia wamil! Nina nepuk kepalanya sendiri. Terus itu apa, dong? Kok rasa-rasanya makin deket? Nina mulai panik, nggak bisa mikirin talent lain. Dia inget-inget drama di laptopnya. Tapi kayak makin deket hawa nggak enaknya. Nina nengok ke belakang.
“HUWAAAAAAA!!!!” Nina langsung teriak begitu liat di belakangnya ada orang lagi mabuk. Orang –ajussi—itu jalan sempoyongan sambil mendekat terus ke Nina. Ngomong-ngomong nggak jelas. Karena Nina emang nggak ngerti bahasa Korea sepenuhnya. Dan karena ajussi itu mabuk parah. Dan sekarang, ajussi itu makin deket sama Nina.
“Coy, kenapa dari semua adegan di drama yang kejadian harus adegan orang mabok di jalanan dan NGEJAR GUE?!” Nina nyumpah-nyumpah, pakai bahasa Indonesia tentunya. Sambil mulai lari. Dan percayalah saudara-saudara, lari sambil nenteng belanjaan dua kantong besar-besar itu bukan hal yang direkomendasikan untuk dilakukan malam hari. Di udara super duper dingin dan banyak salju yang beku jadi es pula, licin. Sambil dikejar ajussi mabok pula.
Nina sekali-sekali masih nengok ke belakang, sambil berharap tahu-tahu ada tendangan super si Madun yang kena kepala ajussi itu. Tapi Madun kan lagi sibuk syuting, kejar tayang lagi setiap hari.
Nina muter otak lagi. “Apa gue lemparin aja ini sepatu ya?” ujar Nina, sambil masih lari, sambil masih dikejar, sambil ngeliat sepatu yang dipakenya. Ohmaigat, sepatunya sama sekali nggak ada hak-nya. Nggak akan bikin sakit. Nanti kalau dia malah beku kedinginan gara-gara nggak pakai sepatu kan sama sekali nggak lucu.
Gilanya, ajussi itu nggak tahu kenapa masih aja ngejar Nina. Tangannya ngelambai-lambai, kayak orang Jakarta mau berangkat kerja ngejar busway. Nina makin panik.
“CHOGIYO!! HELP ME!! ADA ORANG GILA DISINI!!” Nina teriak-teriak tiga bahasa sekaligus. Sambil nengok ke kanan kiri. Tapi nggak tahu kenapa sepi banget jalanan di sini.
“CHOGIYO!! NAPPEUN SARAM ISSEOYO! HELP ME!!” Nina terus teriak-teriak, sambil masih lari. Ajussi itu masih ngikutin di belakangnya. Malah nyahutin omongan Nina. “Nappeun saram aniya… niga skanewanajsfnauirnajkfnauidnasdad.”
Nina terus lari, nggak ngerti apa yang dibilang ajussi itu selain bilang kalau dia bukan orang jahat. “PAK, DIMANA-MANA MANA ADA MALING NGAKU?!” semprot Nina kesal. “Nggak di Jakarta, nggak di Seoul, pada kagak kreatif ya bikin alesan! Lagian ini orang Seoul pada kemana sih? Tukang Bubur Naek Haji belom mulai coy streaming-nya juga!!”
Nina berhenti tiba-tiba. Sadar kalau di seberangnya ada bangunan yang ber-plang POLICE. Sambil berharap-harap cemas semoga aja itu bukan warung bubur ayam yang iseng dipakain plang polisi, Nina langsung lari dan nyebrang. Sekarang bener-bener ala drama. Pas dia nyebrang, mobil pada klaksonin dan marah-marah. Pas banget kayak pemeran utama cewek lagi ngejar pemeran utama cowok di seberang.
Oke, lupakan dulu drama. Sekarang Nina udah megap-megap kayak ikan mujaer di depan para polisi itu. Polisi itu pada bengong, nggak pernah tahu apa ikan mujaer dan nggak pernah lihat.
“PAK, ADA ORANG MABOK NGEJAR SAYA!! KAYAKNYA ORANG GILA, PAK!!” teriak Nina histeris, sambil nunjuk-nunjuk ke seberang jalan.
Pak Polisi itu berdiri, mencoba nenangin Nina yang histeris kayak lagi ikut Dunia Lain. Tapi karena perbedaan bahasa, omongan mereka nggak nyambung.
“Over there, there is some drunk man, CHASE ME!” teriak Nina.
Pak Polisi itu manggut-manggut. “Aah, chase me? Dong Bang Shin Ki?”
Ohmaigat. Pak Polisi salah gaul. Nina menepuk kepalanya. “Not Dong Bang Shin Ki! Some drunk man,” Nina memperagakan orang lagi minum bir. Lalu berlagak berlari, seperti mengejar. “Chase me! HE SEEM CRAZY!” ujar Nina, sambil terengah-engah.
“Crazy?” Pak Polisi itu mengerutkan kening. “Ooh, micheoseo[1]? Apa aggassi ini orang gila?” ujarnya kemudian, lebih ke dirinya sendiri. (semua omongan Pak Polisi pakai bahasa korea yah :D).
“Aniyo! Jigeum nappeun sarami isseoyo[2], OVER THERE!” Nina berteriak panik. Takut ajussi mabuk itu tahu-tahu ada di belakang dia karena berani-berani ngaduin ke polisi. Kayak Kim Soo Hyun yang bisa tahu-tahu muncul dimana aja, di drama barunya itu. Oke, rasanya talent yang satu itu terlalu banyak disebut.
Tapi sayangnya Pak Polisi itu nggak menangkap sinyal SOS Nina yang campur aduk bilingual itu. “Chogiyo—“
“HELP ME, MISTER!! SOME CRAZY MAN CHASE ME!! I WANNA GO HOME!!”
“Home? Ah, jibe[3]? Rumah anda dimana, Agassi?”
“PAK KENAPA NGERTINYA RUMAH AJA?! SAYA DIKEJAR ORANG MABOK PAK!! KALO SAYA DIBUNUH GIMANA?!” Nina berteriak-teriak histeris.
Pak Polisi bengong melihat Nina ngomel-ngomel pakai Bahasa Indonesia. Nina melihat tanda-tanda hopeless, jadi duduk di kursi depan meja Pak Polisi itu. “Chogiyo, can you give me water?”
“Water? Aahh, jigeum arraso[4]!” seru Pak Polisi itu sambil menjentikkan jari, persis iklan detergen. Ia lalu ke belakang sebentar dan datang dengan segelas air putih. Nina langsung meminumnya sampai habis.
“Jadi, apa keperluanmu, Agassi?” tanya Pak Polisi melihat Nina sudah tidak sebuas tadi.
“Saya mau pulang aja deh, Pak,” jawab Nina, pasrah dengan pengaduannya yang failed tadi. “Jibe, uri jibe,” sambung Nina cepat begitu melihat Pak Polisi mengerutkan kening mendengar bahasa Indonesia.
“Ah, rumah Agassi dimana?” tanya Pak Polisi.
Sekarang giliran Nina yang mengerutkan kening. Dari semua hal di dunia ini, Nina paling nggak bisa hafal alamat dengan cepat. Apalagi itu tempat tinggal baru. Apalagi di Seoul, yang tulisan alamatnya meringkel juga.
“Ah, kau tidak ingat?”
Nina mengangguk cepat. “I’m a transfer student, mister. Saya denger sih kalau mahasiswa pertukaran ada di apartemen yang sama. Bapak tahu?” tanya Nina dalam bahasa Inggris.
Pak Polisi itu melongo. Nina menggigit bibir. Alamat nggak bisa berkomunikasi nih.
"Chogi, I am a transfer student. I came from faaaaar country," ucap Nina pelan-pelan, mempegarakan sesuatu yang jauh.
"Aah, jauh? Busan? Daegu?" Tebak Pak Polisi itu.
"Aniyo! Negara lain, Pak, bukan Korea! Indonesia. Faaaar from here," ceracau Nina dengan intonasi semakin lambat. Dan memperjelas bahasa inggrisnya sebisa mungkin.
"Indo? India? Sharukh Khan? Aamir Khan?"
"Aniyo!" Seru Nina kesal. Kelewatan nih polisi salah gaulnya, diem-diem suka Bollywood juga. Apa jangan-jangan film favoritnya Kutch Kutch Hotahai? Atau, Dil To Pagalhai?
"Transfer, move move. From far country. Transfer student!"
"You're a transfer student?" Tiba-tiba ada seseorang yang sudah di samping mereka.
Nina langsung sumringah begitu sadar ada yang mengerti bahasa yang digunakannya. Ternyata, orang itu adalah seorang pria. Tepatnya, seorang pria yang tinggi dan lumayan ganteng.
Apa jangan-jangan, Song Joong Ki beneran lagi keluar wamil bentar? Pikir Nina. Eh tapi enggak deh, mukanya lebih manly dibanding Joongki yang imut itu.
“Junsu-ya! Wasseo[5]?” tanya Pak Polisi yang ternyata kenal pria itu.
“Samcheon[6]!”
"Baguslah kau datang. Agassi ini sepertinya membutuhkan sesuatu, tapi aku tidak mengerti yang diucapkannya. Aigoo, ia menggunakan bahasa inggris dan bahasa lain yang tidak kumengerti. Coba kau bicara dengannya!" Seru Pak Polisi.
Junsu mengangguk-angguk. Ia lalu bertanya pada Nina dengan bahasa inggris. "Jadi kau mahasiswa pindahan? Apa yang terjadi?"
"Tadi ada seorang ajussi mabuk yang mengejar-ngejarku. Menyeramkan sekali! Ajussi itu melambai-lambaikan tangannnya sambil terus mengejarku! Padahal aku sudah berlari sekuat tenaga, sungguh! Entah apa dia sebenarnya hantu atau apa! Aku lalu minta tolong kesini, tapi aku dan Pak Polisi tidak bisa berkomunikasi jadi aku putuskan minta diantar pulang saja tapi—“
"Oke, sebentar. Namamu siapa? Aku Choi Junsu," Junsu memotong ucapan Nina yang kalang kabut itu.
"Nina," ujar Nina.
"Just Nina?"
Nina mengangguk. Lalu melanjutkan omongannya tanpa mempedulikan Junsu yang heran. "Jadi kalian bisa membantuku tidak? Aku tidak hafal alamatku, tapi aku tinggal di apartemen yang khusus untuk mahasiswa pertukaran."
"So it's exchange? Not transfer?" Tanya Junsu lagi.
"Aduh, kenapa banyak protesnya, sih? Bilang transfer aja orang nggak ngerti, apalagi exchange!" Nina jadi marah-marah. Sebenernya kalau keadaannya normal, sayang banget cowok ganteng gini diomelin. Tapi Nina udah kepalang kesel dan capek dan pengen cepet pulang, makin kesel ditanya-tanya terus.
Junsu mengangguk-angguk. Terus laporan sama pamannya soal berita aktual tajam terpercaya yang dia dapat. Nggak lama, Junsu balik ngomong lagi ke Nina.
"Nina-ssi, pamanku sedang mencari informasi soal apartemen itu. Tunggu saja sebentar."
Nina mengangguk, mau nggak mau. Tapi nggak sengaja dia lihat beberapa polisi di pojok lagi makan mie warna hitam.
"Jajangmyun?" Seru Nina, agak heboh. Jajangmyun yang ada di drama itu?
"You want some? Kayaknya masih ada lagi," ujar Junsu melihat Nina yang tiba-tiba dari bete jadi girang.
Nina mengangguk-angguk senang. Makan jajangmyun. Di kantor polisi. Persis di drama!
Woah, ini beneran SEOUL!
“Chogiyo,” Pak Polisi memotong imajinasi indah Nina pas banget sebelum Nina menyuap jajangmyun di depannya. “APA?!” semprot Nina galak.
Pak Polisi nggak jadi ngomong, takut sama Nina dan nggak ngerti sama bahasa yang diucapkan Nina. Akhirnya Pak Polisi itu minta tolong sama Junsu buat ngomong sama Nina.
“Nina-ssi, apa kau punya nomor telepon apartemenmu? Atau temanmu disana, mungkin?” tanya Junsu pada Nina yang sudah asyik melahap jajangmyun-nya.
Telepon? Gerakan tangan Nina terhenti. Ia lalu melotot. “OTAK GUE KEMANA AJA SIH DARI TADI? Kan gue bawa HP!”
Nina langsung mengambil HP di kantungnya, tidak lagi mempedulikan jajangmyun di depannya. Beberapa saat kemudian, dia sudah tersambung dengan Dinda.
“DINDA, LO DIMANA?! GUE DI KANTOR POLISI INI!”
Junsu dan Pak Polisi melongo melihat Nina sudah berteriak-teriak di teleponnya.
“Ini kantor polisi daerah mana?” tanya Nina pada Junsu dan Pak Polisi. Mereka berdua melongo lagi. Tapi Junsu kemudian menyebutkan nama daerah itu.
Nina segera mengabarkan teman seapartemennya itu, tak lupa menyampaikan sederet pesan. “Din pokoknya lo harus dateng kesini secepatnya, lo nggak tahu gue tadi ngalamin apa dan—“
Klik. Telepon diputus oleh Dinda, yang kayaknya kesel juga denger cerocosan Nina yang panjang lebar. Nina menatap HP nya heran, lalu mengangkat bahu.
Dan Nina baru sadar sesuatu.
“Junsu-ssi, bisa bahasa Indonesia?” tanya Nina, kaget sendiri sama hal yang baru disadarinya.
Junsu mengangguk.
“WAH INI KEREN BANGET!! Ada juga orang yang ngerti bahasa Indonesia di tempat ini!!” Nina langsung mengulurkan tangan, minta salaman dengan Junsu. Seolah menemukan orang yang sama-sama bisa bahasa manusia di planet asing.
Junsu nyengir, menyalami tangan Nina.
“Kenapa nggak bilang dari tadi kalau bisa bahasa Indonesia? Kan gue, eh aku, nggak usah susah-susah pakai bahasa inggris,” tanya Nina.
“Kamu tidak bilang,” jawab Junsu. “Dan tadi kamu terlihat agak menyeramkan.”
Nina nyengir miris. Hancur sudah kredibilitas, integritas, dan citranya di hadapan cowok ganteng ala-ala Yoo Ah In ini. Lho, bukan Song Joong Ki? Nggak apa-apalah, Yoo Ah In dan Song Joong Ki kan bersahabat dekat bagai kepompong.
“Aslinya, aku nggak begitu, lho,” ujar Nina, berusaha terlihat manis. Tapi bisa ditebak, itu nggak cocok. Junsu nyengir. Penyamaran terbongkar.
Nina menghela nafas pasrah. Akhirnya dia memutuskan buat melupakan perbaikan image dan melanjutkan makan jajangmyun yang tertunda. “Junsu-ssi, silakan makan juga. Aku mau ngabisin ini sebelum temen aku datang. Nanti pas dia mau udah nggak ada lagi, terus nangis-nangis kan repot.”
Junsu manggut-manggut, dan ikut makan jajangmyun yang tinggal satu. “Disini banyak orang yang mabuk dan jalan-jalan di jalanan. Orang disini menghilangkan stress dengan mabuk. Kamu pasti kaget lihatnya.”
Nina mengangguk. Sebenarnya dia udah sering lihat yang begitu di drama, tapi mengalami langsung berasa super duper lebih horor.
"Ngomong-ngomong, kamu ngapain disini? Laporan orang jahat juga?" Tanya Nina.
Junsu menggeleng sambil tertawa kecil. Nina melongo melihat tawanya. Duh Gusti, tawanya itu...
"Aku mampir untuk menengok pamanku, polisi yang dari tadi bicara denganmu. Ibuku khawatir dengan keadaannya, jadi aku kesini untuk melihatnya."
O-ow. Jadi Junsu ganteng ini keponakan asli Pak Polisi salah gaul tadi? Apa Junsu juga suka Bollywood?
“Kamu sudah lama jadi disini?” tanya Junsu kemudian.
“Ini minggu kedua. Kamu sendiri, kuliah? Atau kerja?” Nina balik bertanya. Pak Polisi sudah sibuk dengan urusannya yang lain, jadi tinggal mereka berdua yang mengobrol disini.
“Bisa disebut bekerja, asisten sutradara,” jawab Junsu.
“Wah, keren! Aku di jurusan perfilman, berarti bisa dong nanya-nanya sama kamu nanti,” ujar Nina. “Kamu kok bisa bahasa Indonesia? Pernah tinggal di Indonesia? Dimana? Berapa lama?” berondong Nina.
Junsu tertawa kecil lagi. Ohmaigat, kenapa ketawanya ganteng banget? Batin Nina. Dia menyumpah-nyumpahi dirinya yang udah terlanjur hancur image-nya di depan cowok ini.
“Kalau bertanya satu satu,” ujar Junsu. “Ayahku orang Indonesia asli, dan kami membiasakan berbicara bahasa Indonesia di rumah. Dulu aku pernah tinggal di Jakarta ketika masih umur lima tahun, dua tahun disana.”
“Dimana? Menteng? Kayak Obama?” tanya Nina penasaran. Apakah setelah film Obama Anak Menteng, akan ada sekuel Junsu Anak Menteng?
Junsu menggeleng. “Pondok Indah. Tetapi sekarang sudah dijual rumah itu.”
Nina mengangguk-angguk. Anak tajir coy rupanya. “Bahasa Indonesia kamu bagus, ya!” ujar Nina, masih takjub ada orang mata sipit asli Korea yang lancar berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Junsu tersenyum. “Tetapi bahasa aku tidak selancar kamu, aku tidak tahu bahasa perkembangan saat ini.”
“Ooh, bahasa  gaul?” seru Nina. “Nggak apa-apa, Junsu-ssi. Lebih bagus kayak kamu, menggunakan bahasa yang benar. Bahasa gaul malah bikin bahasa Indonesia yang baik dan benar ternodai,” ujar Nina, sok bener. “Eh tapi gue juga pakai bahasa gaul ya. Yaudahlah.”
“Bagaimana rasanya tinggal di Korea? Kamu suka?” tanya Junsu.
Nina mengangguk cepat. “Sangat suka! Aku udah menanti-nanti hal ini sejak lama. Tinggal di Seoul, ngomong sama orang Korea—yah meski aku masih banyak nggak ngerti bahasanya sih, nonton Big Bang langsung—ah! Minggu ini perasaan ada Big Bang di Inkigayo, bisa nonton langsung nggak, ya?” Nina baru ingat hal itu dan langsung mengambil HP nya. Mencari informasi di internet.
“Kamu suka Big Bang?” tanya Junsu.
“Banget! Banget banget banget banget banget!” seru Nina cepat, membuat Junsu melongo lagi. Nina menyumpahi dirinya lagi. Mestinya gue nggak banyak bolos pas pelajaran etiket dulu. Eh apa kursus aja, ya? Di TV pernah diberitain ada kursus singkat menggaet pria. Itu dimana, ya? Nina jadi mikirin nama kursus itu.
Di saat itu, ketika Nina masih sibuk nyari informasi soal Big Bang di Inkigayo dan mikirin nama kursus itu, Dinda datang. Nina melihat kedatangan Dinda langsung berkaca-kaca.
“Dinda…,” ujar Nina, melankolis. Persis di drama-drama ketika pemeran utama ketemu sama ibunya yang udah bertahun-tahun nggak ketemu.
PLETAK.
“Jangan lebay lo!” Dinda menjitak kepala Nina. Lalu kaget melihat pria ganteng di samping Nina. “Oh, Yoon Doo Joon,” lirihnya. Kini giliran Dinda yang melankolis.
Nina melotot. Kan gue udah mendeklarasikan dia mirip Yoo Ah In, kenapa jadi Yoon Doo Joon? Oke, mata orang beda-beda.
Dinda melirik lagi. Kali ini ke meja yang penuh dengan sisa-sisa jajangmyun.
“NINA LO MAKAN JAJANGMYUN?!”
Nina memukul keningnya pelan. Oh, sia-sia akting melankolis gue buat ngalihin perhatian Dinda dari makanan satu itu.
Nina buru-buru narik temennya itu, sambil berkali-kali membungkukkan badan. “Gamsa hamnida, gamsa hamnida. Maaf telah merepotkan,” ujar Nina berkali-kali.
Sementara itu Junsu dan para polisi lainnya melongo melihat adegan Nina yang masih menarik-narik Dinda yang masih histeris. Emang benar kata pepatah, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya (?).




[1] Gila
[2] Sekarang ada orang jahat
[3] Rumah
[4] Sekarang aku tahu
[5] Kau datang
[6] Paman


(part 2) (part 3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar