Senin, 02 Desember 2013

Kondangan

Alunan musik khas sunda terdengar merdu. Aku sebenarnya tidak terlalu menyukai lagu atau musik daerah. Meskipun aku memiliki darah sunda, aku tidak sepenuhnya mengerti Bahasa Sunda karena terlalu lama tinggal di Jakarta. Bahkan terkadang musiknya malah membuatku ingin tidur. Tapi mendengarnya saat peristiwa sakral seperti ini terasa khidmat, dan menenangkan.
“Nanti pas nikah begini juga bagus, nih,” ujar Lisa yang berdiri di sampingku. Ia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Dengan rambut yang sedikit tidak rapi itu pun Lisa masih terlihat cantik.
Aku mengangguk-angguk setuju. Melakukan pernikahan secara adat tidak seburuk perkiraanku dulu ternyata. Malah karena mengikuti prosesinya sejak awal, aku merasa tertarik dan ingin melakukan proses serupa untuk pernikahanku kelak.
Aku melambaikan tangan pada Devi, yang sedang berdiri anggun di pelaminan, bersama Danang yang kini resmi menjadi suaminya. Devi tersenyum lebar padaku, sambil bersiap-siap melakukan sungkem pada kedua orangtuanya. Sungkem ini juga termasuk ritual, dimana kedua mempelai meminta doa restu pada orangtuanya. Danang memulai sungkem terlebih dahulu pada ibunya, diikuti Devi.
Ketika tiba giliran sungkem pada ibu Devi, Devi menangis deras. Aku termangu melihatnya, teringat saat lamaran seminggu yang lalu.
“Devi sebenernya juga belum siap nikah, Teh,” ujar Devi sambil menundukkan kepalanya. Aku yang sedang menemani Devi di kamarnya, mengerutkan kening. “Loh, terus kenapa nikah sekarang?”
Devi masih tertunduk. “Kasihan Ambu[1], Teh. Devi teh sebenernya mau kuliah dulu kayak Teteh, tapi Ambu bilang mumpung sudah ada yang melamar nikah saja dulu. Ambu pengen cepat tenang melihat Devi nikah, menjalankan pesan Abah. Devi mau liat Ambu bahagia, Teh.”
Aku terdiam mendengarnya. Abah Devi, yang merupakan pamanku, memang sudah meninggal sejak Devi duduk di bangku SMP. Pamanku itu memang ingin Devi segera menikah begitu ada pria baik yang melamarnya.
“Ya sudah nggak apa-apa, kan kamu bisa kuliah pas udah nikah nanti,” ujarku kemudian, agak tidak yakin.
Devi mengangkat kepalanya, menggeleng. “Akang Danang mah nggak akan kasih ijin, Teh. Akang Danang maunya Devi ngurus rumah aja.”
Aku membuka mulut, hendak protes dengan pemikiran calon suami adik sepupuku itu. Namun Lisa yang duduk di sebelahku langsung menahanku, menggelengkan kepala. Bukan saat yang tepat untuk protes.
Aku menurutinya. Akhirnya aku menggenggam tangan Devi erat, tersenyum padanya. “Devi anak baik. Bi Endah pasti bahagia punya anak kayak Devi.”
Lamunanku buyar begitu menyadari ada seseorang yang memanggilku. Aku menoleh, dan mendapati seorang wanita paruh baya sudah ada di belakangku. Aku tersenyum dan segera salim padanya, menyalami dan mencium tangannya.
“Duh neng geulis[2], sehat? Uwak[3] teh asa lama sekali tidak melihat si neng,” ujarnya, dengan Bahasa Indonesia yang cenderung baku diiringi logat Sunda yang masih kental. Sebagian besar saudaraku memang tahu kalau aku tidak begitu mahir berbahasa Sunda, jadi mereka berusaha berbicara menggunakan Bahasa Indonesia padaku.
“Sehat, Wak. Iya Wak baru pulang seminggu, pas lamaran Devi. Uwak sehat?” aku bertanya balik. Lebih pada basa-basi, karena sesungguhnya aku lupa siapa orang yang di hadapanku ini.
“Sehat atuh Uwak mah, rajin olahraga sudah tua juga!” serunya sambil tertawa. Aku ikut tertawa, sekali lagi demi basa-basi.
“Kamu kapan atuh nikah? Tuh si Devi aja yang baru lulus sekolah sudah nikah,” wanita ini menunjuk Devi yang masih melakukan sungkem. Kali ini pada mertua wanitanya.
Aku dan Lisa langsung saling pandang, tersenyum. Sudah terbiasa dengan perkataan seperti itu.
“Jangan lama-lama nikah mah, susah kalau sudah semakin tambah umur nanti,” ujar Uwak-ku itu lagi. “Sayang atuh cantik-cantik belum nikah juga.”
Aku hanya mengangguk-angguk. Tak lama, ia dipanggil oleh saudaraku yang lain— yang entah juga siapa namanya.
“Ngomong-ngomong, orang-orang pada ngeliatin lo dari tadi,” ujar Lisa. Mata indahnya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang luas ini. “Eh ralat, cowok-cowok, deh. Seperti biasa. Itu saudara-saudara lo?”
Aku mengikuti arah pandang Lisa, dan memang benar. Beberapa ada yang langsung mengalihkan pandangannya karena tertangkap basah sedang mengamatiku. Beberapa malah balik menatapku dan tersenyum lebar.
Gue nggak tahu. Lo kan tahu, gue nggak kenal saudara. Udah lama banget gue nggak pulang kampung,” sahutku kemudian.
“Mungkin sebentar lagi akan ada yang nyamperin lo terus nanya udah nikah apa belum,” ujar Lisa sambil terkekeh geli. Ketika resepsi Wulan sebulan yang lalu, memang ada orang yang melakukan hal itu. Sampai sekarang aku masih ingat wajah pria itu, yang tampak sangat percaya diri namun membuatku melongo dengan pertanyaannya. Bagaimana bisa kau menanyakan hal seperti itu pada orang yang baru kau temui?
Gue cuma nggak mau buang-buang waktu aja. Ngapain basa-basi ngajak kenalan terus pedekate, kelamaan.” Begitu yang dikatakan oleh pria itu.
“Ya nggak disini juga kali, Sa. Ini kan Garut, bukan Jakarta. Nggak akan ada yang senekat itu!” sahutku geli. Setiap mengingat hal itu kami pasti tertawa geli. Kejadian langka yang selalu jadi hiburan tersendiri.
Aku lalu melihat ke arah kedua mempelai yang sudah menyelesaikan sungkem dan berdiri. Diikuti orangtua dan kerabat yang lain, kedua mempelai berjalan ke arah pintu keluar.
“Mau pada ngapain?” tanya Lisa heran. Aku mengangkat bahu, sama-sama merasa heran.
“Bu, ini mau ngapain?” tanyaku segera begitu mendapati ibuku ada di belakang kedua mempelai. Ibu langsung menarikku ke dalam barisan. “Ini mau melepas burung merpati. Kamu kemana aja dari tadi, Kak?”
Aku menunjuk tempatku berdiri tadi. “Disitu, ngeliatin Devi dan ngobrol sama saudara.”
Ibu mengangkat alisnya. “Saudara? Siapa?”
Aku mengangkat bahu. “Nggak tahu. Ngobrol aja, orang diajak ngobrol masa aku diemin.”
Ibu menggeleng-gelengkan kepala. “Jarang pulang kampung sih, jadi nggak kenal saudara. Oh iya, Nisa mana, Kak?” Ibu celingukan mencari adikku itu.
“Nah itu juga yang mau aku tanyain ke Ibu. Nisa mana? Aku nggak liat dari tadi,” ujarku.
“Kalian kalau lagi acara begini suka menghilang begitu, sih,” Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kami sudah di luar ruangan. Kulihat mertua wanita dari kedua belah pihak sudah memegang merpati. Aku mengerutkan kening. “Bu, kok yang megang merpati malah ibunya, sih? Bukan pengantinnya?”
“Melepas merpati itu simbol bagi orangtua melepas anaknya untuk kehidupan rumah tangga, Kak. Ibunya Devi megang merpati betina, Ibunya Danang megang merpati jantan,” Ibu menunjuk ke arah kedua mertua tersebut. Aku mengangguk-angguk dan siap memotret momen itu dengan ponselku.
“Makanya kalau ada saudara nikah tuh datang, biar tahu pernikahan adat. Kalau kamu sama Devi nggak dekat dari kecil, Ibu yakin kamu nggak akan datang juga,” ujar Ibu kemudian. Ibu mulai mengomel. Aku hanya terus mengangguk-angguk, karena kalau dibantah akan panjang urusannya.
“Tadi saudara-saudara sampai nanyain terus ke Ibu, itu anak yang pertama siapa namanya? Mereka lupa nama kamu saking lamanya nggak ketemu. Sibuk kerja boleh, tapi jangan putus silaturahmi dong, Kak. Silaturahmi kan memperpanjang umur juga,” Ibu melanjutkan ceramahnya. Ibu lalu memandangi kedua mertua yang tersenyum bahagia itu. “Kapan ya, Ibu yang ngelepas merpati buat kamu?”
Aku terdiam. Kalau Ibu sudah begitu, aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Bu!”
Aku dan Ibu menoleh, mendapati Nisa sudah ada di belakang kami. Aku tersenyum lebar. Di mataku, Nisa yang baru datang dengan terengah-engah itu adalah pahlawan yang menyelamatkanku dari pertanyaan Ibu yang tidak enak tadi.
“Kamu darimana aja? Ibu cari-cari dari tadi!” seru Ibu gemas.
“Ini nyari si Iyan! Tahu nggak Bu, dia dari tadi udah makanin kue cucur aja sendirian. Aku cari-cari kemana ternyata lagi mojok aja makan,” ujar Nisa sambil membersihkan sisa-sisa kue dari mulut anaknya. Iyan yang berada di gendongannya itu memang sangat suka makan.
“Duh si gendut Iyan, udah kelaparan, ya? Kasian amat sih orang gedenya pada sibuk, Iyan jadi nyari makan sendiri deh,” aku mencubit pelan pipi anak usia tiga tahun yang tembam itu.
“Tante…,” Iyan mengulurkan tangannya, meminta untuk digendong olehku. Aku memasukkan ponselku ke dalam tas, lalu menarik Iyan ke pelukanku. “Aduh aduh Iyanku yang ganteng, mau makan lagi, nggak?”
Iyan langsung mengangguk. Aku, Nisa, dan Ibu tertawa melihatnya.
***
“Senin kerja, Kak?” tanya Nisa.
Aku mengangguk sambil menyuapkan nasi ke mulut Iyan. Iyan yang duduk di pangkuan Nisa mengunyah makanannya dengan lahap. Kini Devi dan suaminya sedang menyalami para tamu di pelaminan. Kami duduk di kursi yang disediakan untuk tamu.
“Dia mah kapan nggak kerja? Mau Jakarta badai topan juga selama masih bisa ke kantor pasti dia kerja juga,” sahut Ibu yang duduk di samping Nisa.
“Kalau badai Jakarta banjir dong, Bu. Aku nggak akan bisa berangkat ke kantor juga,” sahutku sambil menyengir lebar.
Ibu geleng-geleng kepala melihatku. “Masih aja bisa nyengir ini anak. Kak, serius dong. Kamu mau sampai kapan begini? Kamu nggak kasihan sama Ibu yang udah tua ini?”
Aku tersenyum, mengusap-usap kepala Iyan pelan. “Kasihan banget ya Iyan, kecil-kecil udah dengar yang beginian.”
Ibu menghela nafas mendengarku. Aku memang selalu mengalihkan pembicaraan kalau Ibu sudah membahas hal ini. Kalau orang lain yang membicarakan tidak masalah buatku, namun kalau Ibu yang membahas aku selalu bingung dan merasa bersalah.
Ibu lalu mengulurkan tangannya pada Iyan. “Iyan, makan di luar aja yuk sama Nenek.”
Iyan menurut. Anak itu langsung berpindah ke gendongan Ibu. Aku dan Nisa hanya memandangi Ibu yang berjalan ke luar ruangan.
Lisa, yang duduk di sampingku, menyenggolku pelan. “Ibu pasti sedih. Tadi agak keterlaluan sih.” Aku terdiam mendengarnya. Kembali menatap sosok Ibu yang sudah semakin ringkih karena usia.
“Nisa? Ini kakaknya?”
Sebuah suara memecah keheningan. Aku dan Nisa refleks menoleh. Tampak seorang wanita paruh baya menghampiri kami.
Nisa mengangguk sopan. “Iya, Wak Wati.”
“Duh Gusti, geulis pisan[4]. Kenapa atuh jarang datang ke kampung?” tanya Uwak Wati.
Aku tersenyum. “Susah ijin dari kantornya, Wak.”
“Susah? Aduh kasihan si neng. Atuh pindah saja kantornya, atau berhenti saja. Sudah punya suami ini, kan?”
Aku dan Nisa berpandangan sebentar. Aku lalu menggeleng. “Belum, Wak.”
Uwak Wati terbelalak kaget. “Belum?”
Aku mengangguk.
“Kenapa atuh belum nikah? Nisa sudah, kan? Nisa sudah punya anak juga, kan?” berondong Uwak Wati, tidak sabar.
Aku mengangguk lagi.
“Kapan atuh nikah? Jangan lama-lama, sudah berapa umurnya?”
“Tahun ini tiga puluh, Wak.”
“Tuh kan, jangan lama-lama lagi atuh. Harusnya waktu itu teh kamu dulu yang nikah biar tidak dilangkahi Nisa, pamali. Nanti jadi perawan tua,” cerocos Uwak Wati.
Aku dan Nisa terdiam mendengarnya. Nisa memandangku penuh rasa bersalah.
Ponsel Uwak Wati tiba-tiba berbunyi. Uwak Wati segera mengangkat ponselnya dan menjauh dari kami setelah memberi isyarat akan menerima telepon.
“Kak, maaf ya,” ujar Nisa, masih dengan pandangan bersalah.
“Ih nih anak, maaf kenapa lagi? Udah jangan didengarin omongan orang,” ujarku enteng. Aku mengambil segelas sirup yang ada di meja dekat kami.
“Tapi kan tetap aja, gara-gara Nisa…,” Nisa menunduk. Nisa selalu menyalahkan dirinya soal aku yang belum menikah. Memang ada mitos kalau adik melangkahi kakak perempuannya untuk menikah duluan, maka si kakak perempuan akan menjadi perawan tua.
“Itu kan cuma mitos, Sa. Kan waktu itu Kakak juga yang nyuruh Nisa nikah duluan. Makanya jangan didengarin deh, omongan orang,” aku mengelus bahu Nisa pelan. Aku memandang Lisa yang tersenyum manis padaku, mengangguk.
“Harusnya kan Nisa yang bilang gitu ya, Kak? Pasti omongan orang-orang itu lebih menyakitkan buat Kakak daripada buat Nisa,” ujar Nisa lagi.
Aku menggeleng. “Enggak, kok. Kakak biasa lagi sama semua itu, jadi Kakak sama sekali nggak sakit hati. Makanya Nisa juga jangan dengarin omongan orang-orang.”
Nisa mengangkat kepalanya. “Jangan gitu, Kak. Pasti Kakak sakit hati, kan?”
Aku menggeleng lagi. Kali ini lebih kuat. “Kapan sih Kakak bohong sama kamu? Kan Kakak udah janji nggak akan bohong sama kamu,” ujarku.
Dulu ketika kami masih kecil, aku pernah berbohong pada Nisa dan Nisa mengetahuinya. Nisa menangis keras ketika itu, dan sejak saat itu aku berjanji tidak akan berbohong lagi pada Nisa.
Nisa terdiam mendengarnya. Ia memandangiku lekat. “Kak, Nisa cariin ya calon suami buat Kakak? Teman-temannya Mas Bima banyak kok yang seusia Kakak, lebih tua malah. Nanti kenalan aja dulu, seterusnya terserah Kakak. Ya, Kak?”
Aku tertawa kecil melihatnya. “Teman-teman suami kamu itu ya pasti semodel teman-teman Kakak di kantor, lah. Ngapain minta tolong kamu kalau gitu?”
“Apa mau Nisa kenalin sama teman-teman Nisa di agensi? Orang agensi beda lho Kak, sama orang kantor,” Nisa masih tidak menyerah.
Tawaku mengeras. “Teman-teman kamu brondong, Sa!”
“Ih si Kakak! Sekarang tuh lagi jaman kali sama brondong. Lagian Kakak kan cantik kayak model dan pintar, karirnya bagus juga. Itu perpaduan yang disukain teman-teman Nisa, Kak!”
Tawaku terhenti. Aku menggelengkan kepala melihat kegigihan adik semata wayangku ini. Aku mengelus kepala Nisa pelan. “Nggak usah, Nisa sayang. Kakak sebenarnya sudah suka sama orang, kok.”
Mata indah Nisa membesar. “Beneran, Kak? Siapa? Kapan dikenalin ke keluarga kita?” berondong Nisa.
Aku terdiam. Lalu menghela nafas.
“Kak? Kenapa?” tanya Nisa khawatir. “Orangnya agak ‘sulit’, ya?” Nisa menekan suaranya pada kata sulit.
“Yaa, bisa dibilang begitu,” sahutku.
“Kenapa, Kak? Orang Jawa juga?” Nisa meringis.
Aku tertawa kecil mendengarnya. Suaminya, Bima, adalah orang Jawa tulen dan pernikahan mereka sempat mengalami halangan karena kedua belah pihak tidak mau memberikan restu. Ibu yang orang Sunda tulen tidak mau Nisa menikah dengan orang beda suku, begitu juga dari pihak Bima. Selain itu, Ibu juga tidak mau aku dilangkahi Nisa. Namun setelah diyakinkan berkali-kali olehku, akhirnya Ibu merestui Nisa dan Bima. Begitu juga orangtua Bima.
“Enggak kok, Sa,” aku menghentikan tawaku. “Tapi, mungkin bakal lebih sulit dari itu,” aku menatap Lisa. Lisa tersenyum manis padaku. Aku balas tersenyum, selalu merasa tenang melihat senyumannya. Lisa amat cantik kalau sedang tersenyum.
“Kenapa Kak emang orangnya? Orang bule, ya?” tanya Nisa. “Tapi kayaknya Ibu sekarang nggak akan terlalu mempermasalahin beda suku atau bahkan negara, Kak. Kakak udah punya calon aja Ibu pasti senang banget. Selama ini kan Kakak nggak pernah ngasih tahu kalau punya pacar atau calon.”
Aku menggelengkan kepala. “Enggak, Sa. Yang ini beneran bakal susah banget. Bahkan kamu akan susah menerimanya,” ujarku. Kini Lisa menatapku, sendu. Aku menggenggam tangannya erat, melempar senyum lagi padanya.
“Emang kenapa sih, Kak? Orangnya nggak baik? Jahat? Masa lalunya nggak bagus? Atau kenapa?” tanya Nisa penasaran.
“Orangnya baik, Sa. Cakep, pintar, dan menyenangkan. Kakak selalu senang kalau lihat dia, meskipun dia nggak melakukan apa-apa,” aku masih tersenyum. “Kakak benar-benar, cinta sama dia.”
Lisa menatapku lekat saat aku mengucapkan kalimat terakhirku. Aku juga menatapnya, menyampaikan semua perasaanku melalui tatapan mataku.
“Siapa, Kak? Kasih tahu dong, biar Nisa bisa bantuin bilang ke Ibu,” Nisa menggoyangkan tanganku pelan.
Aku tidak bergeming. Masih berpandangan dengan Lisa, yang kini tersenyum hangat padaku. Senyumnya yang selalu kusuka. Matanya yang selalu kusuka. Hidungnya yang selalu kusuka. Bibirnya yang selalu kusuka. Semua darinya yang selalu kusuka.
“Kak? Siapa, Kak?”
Aku masih terdiam. Senyumku makin melebar.
“Kak? Kak Lisa? Kak Lisa kakaknya Nisa yang paling cantik dan baik, siapa orangnya?” Nisa masih menggoyang-goyangkan tanganku. Ia sudah mulai kesal. “Kak Lisa, Nisa benar-benar penasaran, nih. Siapa, Kak?”
Goyangan tangan Nisa pada tanganku semakin kencang. “Kak Lisa! Kakak kenapa lihat kesitu terus, sih? Orangnya ada disitu?” Nisa yang duduk di sebelah kananku celingukan melihat ke sebelah kiriku. Lalu mengernyitkan kening. “Nggak ada siapa-siapa. Kak Lisa, jadi siapa orangnya?”
Aku tidak menghiraukan ucapan Nisa yang terus mendesakku. Aku masih menatap Lisa lekat. Menatap setiap inci dari dirinya, yang persis sama denganku. Aku sangat mencintai Lisa. Aku tidak punya orang yang lebih kucintai dibanding Lisa. Tidak ada yang lebih baik, lebih cantik, dan lebih pintar darinya. Dari Lisa. Dariku.
Aku sangat mencintai Lisa. Aku sangat mencintai diriku.
Namun tidak akan ada yang bisa menerima hal itu, termasuk Ibu dan Nisa.
Samar-samar masih kudengar alunan musik khas Sunda, yang terasa khidmat dan menenangkan.

Bekasi, 15 November 2013



[1] Ibu
[2] Cantik
[3] Kakak dari orangtua
[4] Cantik sekali

4 komentar:

  1. Aaarrrggh.... ziyah nyebelin!! padahal aku udah simpati banget sama si tokoh utama. ternyata oh ternyataaaa.....

    BalasHapus