Rabu, 02 Oktober 2013

Bahagia


“Aku melihatmu.”
Ratu menghentikan langkahnya. Perlahan, ia menoleh kembali pada pria yang ia belakangi.
“Aku selalu melihatmu, Lana,” ujar pria itu lagi, tersenyum kecil. Ratu mengerutkan kening.
“Ba… bagaimana bisa? Kau bahkan… bahkan tidak pernah tahu apa yang terjadi,” sahut Ratu, tergagap. Ia lalu memberanikan diri menatap pria di hadapannya itu. “Hanya aku yang melihatmu, tapi kau tidak.”
Pria itu menggeleng. “Aku tahu, Lana. Aku selalu tahu, hanya saja kau tidak tahu kalau aku tahu,” ujar pria itu.
Ratu terdiam nanar menatapnya.
Pria itu menghela nafas pelan. “Maafkan aku karena tidak pernah membiarkanmu tahu kalau aku selalu melihatmu. Aku tidak tahu kalau ternyata hal itu membuatmu begitu tersiksa, Lana.”
Ratu masih terdiam. Kini matanya mulai berkaca-kaca.
Pria itu kembali tersenyum, lebih lebar. Ia mengulurkan tangannya pada Ratu. “Sekarang, kau sudah bisa menerima tanganku, kan?”
Ratu menatap wajah pria itu, seolah memastikan. Pria itu mengangguk. Ratu kemudian menggerakkan tangannya, menyambut uluran tangan pria itu.

Cut!”
Mas Jo berteriak girang. Sutradara itu lalu bertepuk tangan. “Kerja bagus, Lana, Indra!” serunya menyebut nama tokoh kedua artisnya. Senyum lebar menghiasi wajahnya dengan selesainya shooting adegan terakhir dari filmnya ini.
Ratu dan Bima, aktor yang berperan menjadi Indra, melepaskan genggaman tangan mereka. Mereka lalu tertawa kecil, senang karena akhirnya shooting dibawah arahan Mas Jo yang keras itu selesai juga. Mereka lalu duduk di kursi sudut ruangan, beristirahat sambil menunggu penata rias membersihkan make up mereka.
“Ikut ngumpul nanti malem, Tu?” tanya Bima. Malam ini produser mereka merencanakan untuk makan-makan merayakan selesainya shooting mereka.
Ratu mengangguk cepat. “Iya dong! Pasti rame kan, nanti malem?”
Bima mengangguk. “Semuanya ikut kok. Staf juga semua diajak, Mas Jo aja yang biasanya nggak suka kumpul-kumpul bilang mau ikut.”
Ratu membulatkan matanya. “Mas Jo ikut? Tumben.”
Bima mengangkat bahunya. “Katanya film Kau ini yang paling berat dan ‘dalem’, jadi dia butuh refreshing.”
Ratu tertawa kecil. Film yang ia mainkan saat ini memang termasuk film berat, dari segi cerita maupun pengambilan gambarnya. Berulang kali mereka melakukan take ulang karena ekspresi wajah selalu tidak memuaskan Mas Jo. Jadi wajar ketika shooting akhirnya berakhir, para artis dan staf benar-benar menghela nafas lega.
“Bagus deh, makin rame kan makin seru!” seru Ratu.
Bima menggeleng-gelengkan kepala. “Gue pikir lo bukan orang yang seneng keramaian gitu, Tu. Ternyata lo malah seneng banget sama ngumpul rame-rame begitu.”
Ratu hanya tersenyum lebar.
“Tu!” seru Diana, manajer Ratu, dengan nafas yang terengah-engah. Nampaknya ia habis berlari-lari kecil.
“Kenapa, Di?” tanya Ratu.
“Mas Boy dari majalah Wanita dari tadi nelponin gue mulu nih, mohon-mohon buat wawancara lo. Dan dia minta besok, coba! Gila nggak tuh? Shooting aja baru kelar sekarang!” ujar Diana dengan agak berapi-api, kesal menghadapi wartawan yang satu itu.
Ratu mengangguk-angguk. “Yaudah, wawancara besok juga nggak apa-apa kok.”
“Haaah?!” seru Diana, dan juga Bima, yang belum beranjak dari samping Ratu.
“Gila Tu, lo nggak capek?” tanya Bima heran.
“Capek sih, tapi nggak apa-apa juga. Cuma jawab pertanyaan aja kan ga ngabisin tenaga juga,” sahut Ratu enteng. Sedangkan Diana menatapnya tajam. “Tu?”
Ratu tersenyum kecil.
Karena akhir-akhir ini, dia semakin sering datang.
***

“Sibuk ya, Tu?” sapa Mas Boy begitu Ratu menghampirinya di kafe tempat mereka janjian bertemu. Ratu menarik kursi dan langsung duduk. Ia tersenyum kecil.
“Yaa… emang begini kan kerjaan aku, Mas,” sahutnya pelan. Ia lalu memesan secangkir kopi kepada pelayan.
“Maaf ya, Tu. Aku sebenernya juga nggak enak lho minta Ratu wawancara begini, apalagi Mbak Di juga bilang terus kalo Ratu baru banget selesai shooting,” ujar Mas Boy, merasa bersalah. “Tapi aku dikejar deadline nih, sedangkan kemarin-kemarinnya Ratu masih shooting. Pemrednya keukeuh banget pengen wawancara ekslusif Ratu buat edisi depan.”
Ratu tersenyum menanggapi ucapan pria flamboyan tersebut. “Nggak apa-apa kok, Mas. Kalo keberatan juga aku nggak akan nerima wawancara sekarang.”
Pesanan Ratu datang. Ratu menyeruput kopinya perlahan, menikmati aroma kopi yang cukup kuat.
“Ratu nggak pernah main film action, ya?” tanya Mas Boy, setelah bertanya seputar keluarga dan sekolah Ratu dulu.
Ratu menggeleng. “Film setan atau thriller juga nggak pernah.”
Mas Boy mengangguk-angguk. “Aku pernah baca kalo Ratu dijuluki Ratu Romantis karena main film romantis melulu. Emang kenapa sih, kok Ratu mainnya film romantis terus?”
“Sebenernya nggak berarti harus film romantis sih, Mas Boy,” jawab Ratu. “Aku pernah main film semi action gitu, jadi ada action nya dan tetep ada cerita romantisnya. Mengejar Malam, Mas Boy pernah nonton, nggak?”
“Oh, yang Ratu main sama Reza Gunawan itu, kan?”
Ratu mengangguk. “Cerita romantisnya juga bukan pure romantis sih, Mas. Aku lebih suka nyebutnya kisah manis, karena disitu kan diceritain gimana susah bersatunya seorang gadis keraton dengan preman yang ternyata agen intelejen. Mereka nggak pernah bilang cinta, tapi saling tahu perasaan masing-masing. Nggak banyak adegan romantisnya, tapi kisahnya manis,” Ratu terdiam sesaat, matanya berputar. “Aduh, aku ngebingungin ya ngomongnya?”
Mas Boy tertawa kecil. “Agak sih, tapi aku ngerti kok maksud Ratu. Jadi tetep ada cerita romantisnya ya meskipun action. Terus Ratu kenapa nggak pernah main film thriller atau setan?”
Ratu nyengir. “Serem, Mas. Apalagi thriller kan biasanya tentang pembunuhan gitu kan, aku pribadi nggak begitu suka sama cerita-cerita kayak gitu.”
“Ratu nggak takut dibilang orang nggak berani nyoba genre film lain karena mainnya film romantis terus?”
Ratu tertawa kecil. “Yaa… ngapain takut sama omongan orang sih, Mas? Toh ketika kita nggak enjoy ngejalaninnya juga orang nggak ngebantuin kan.”
Mas Boy ikut tertawa. “Bener tuh, Ratu. Harus dipertahanin pemikiran kayak begitu, apalagi di dunia entertainment kayak kita gini.”
Ratu mengangguk. “Pada dasarnya aku suka cerita-cerita romantis sih, Mas Boy. Dan aku senengnya kalo memerankan peran dari cerita yang emang aku suka.”
“Kita sama tau, Ratu. Aku juga nggak suka tuh film-film action, atau thriller gitu. Setan apalagi, udah banyak nggak benernya juga,” Mas Boy lalu mengedipkan sebelah matanya. “Makanya aku selalu nontonin filmnya Ratu.”
Ratu tertawa mendengarnya.
Tidak sengaja, ekor mata Ratu menangkap sesosok yang sangat dikenalnya memasuki kafe. Ratu mengerutkan kening, memandangi lekat orang tersebut.
“Siapa, Ratu?” tanya Mas Boy sambil menoleh, mengikuti arah pandangan Ratu.
Ratu tersenyum kecil. “Nggak jelas juga sih dari sini, Mas. Kayaknya sih temen.”
***

Diana menatap Ratu yang masih asyik berkutat dengan tabletnya, memainkan games. Menatap Ratu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Di, kalo ada orang yang liat gimana lo liatin gue sekarang, orang bakal ngira lo suka ama gue,” ujar Ratu enteng, tanpa mengalihkan mata dari tabletnya.
Diana mendengus kecil. “Nggak lucu, Tu.”
Ratu mengangkat bahu. “Siapa juga yang ngelucu. Gue kan aktris, bukan pelawak.”
Diana bangkit dan menarik tablet Ratu kesal.
“Diana! Gue udah susah ngumpulin poinnya, nanti gue mati!” teriak Ratu. Ia segera menarik tabletnya kembali.
Diana menghela nafas. “Lo kenapa, Tu?”
“Gue? Emang gue kenapa?” Ratu bertanya balik, kembali berkutat dengan tabletnya.
Diana menghela nafas lagi. “Lo kemaren balik ngumpul-ngumpul malem, dan tadi pagi nerima wawancaranya Mas Boy. Sekarang, lo malah main game dan nggak tidur sama sekali. Lo kenapa, Tu?”
“Loh, itu kan hal-hal yang emang biasa gue lakuin, Di. Shooting, Ngumpul ama temen-temen, wawancara,” sahut Ratu sekenanya.
Diana menggeleng. “Enggak, Tu. Lo nggak biasa begitu. Biasanya, abis shooting lo bakal hibernasi seharian tanpa mau kemana-mana, bahkan ngangkat telepon aja lo nggak bakal mau. Dan ini lo masih melek segar bugar padahal shooting Kau itu panjang banget? Nggak, Tu. Pasti ada apa-apa.”
Ratu hanya terdiam. Diana menghela nafas.
“Mas Jo nawarin proyek baru tuh. Film action,” ujar Diana mengalihkan arah pembicaraan, memutuskan untuk tidak bertanya-tanya lagi.
Pure action? Ceritanya gimana?” tanya Ratu.
“Kayaknya sih pure. Tentang kakak beradik yang jadi musuhan karena ada di organisasi mafia yang beda,” jawab Diana.
Ratu berdecak. “Serem amat, ah. Enggak deh, lo kan tau gue nggak maen film begitu.”
Diana mengangguk-angguk. “Iya, iya. Lo kan selalu main film romantis.” Diana bangkit dari duduknya. “Gue belanja dulu bentar ya, makanan pada abis semua. Lo berenti maennya, tidur sekarang.”
Ratu mendongak.
 “Gue bakal lebih capek kalo tidur, Di. Dia dateng mulu ke mimpi gue.”
***

Jakarta, 2004.

 Ada yang lain di senyummu
Yang membuat lidahku gugup tak bergerak
Ada pelangi di bola matamu
Yang membuatku bilang bahwa aku sayang padamu

Gemuruh tepuk tangan memenuhi aula begitu lagu Pelangi di Matamu-nya Jamrud selesai dibawakan oleh band sekolah mereka. Ratu bertepuk tangan keras, tersenyum lebar. Gilang, vokalis band tersebut, melambaikan tangan dan tersenyum lebar juga pada Ratu.
Senyuman Ratu semakin lebar. Ratu jadi sering menonton pertunjukan band sekolahnya semenjak bertemu tidak sengaja dengan Gilang yang sedang bermain gitar di taman belakang sekolah. Tadinya, Ratu sangat malas menonton pertunjukan band sekolah. Bukan karena pertunjukan mereka yang tidak bagus, tapi karena pertunjukan mereka yang selalu dipenuhi oleh penonton. Ratu tidak terlalu suka berada di keramaian, apalagi berdesakan segala. Melihat kumpulan orang dengan pakaian putih abu-abu yang sama membuatnya pusing.
Siang itu, Ratu sedang dihukum oleh gurunya untuk hormat pada tiang bendera karena lupa membawa PR nya. Tapi karena siang itu sangat panas, Ratu diam-diam pergi dari lapangan ketika gurunya tidak memperhatikan dan berjalan ke taman. Niatnya hanya ingin ngadem, tapi Ratu kemudian melihat Gilang sedang membolos dengan gitarnya.
“Gue nggak tau sih apa musik itu keren atau enggak, yang jelas gue suka musik dan gue cuma ngelakuin hal yang gue suka.”
Sejak saat itu, Ratu jadi penasaran bagaimana musik itu sampai ada orang yang begitu menyukainya. Dan Ratu pun jadi penonton setia pertunjukan band sekolahnya itu. Ketidaksukaan Ratu akan keramaian pun perlahan memudar, dan ia jadi selalu menikmati pertunjukan musik di sekolahnya.
Tapi semua kesenangan itu mulai pupus ketika Lily, sahabatnya sejak SMP, berbisik dua kalimat padanya. “Tu, Gilang keren banget. Gue suka sama dia.”
***

Jakarta, 2013.
“Jadi, dia ngapain aja di mimpi lo?” tanya Diana. Ia dan Ratu sedang berada dalam mobil yang terparkir di depan sebuah kafe. Kafe tempat Ratu tadi wawancara dengan Mas Boy. Diana akhirnya mengurungkan niatnya belanja, dan mengikuti Ratu ke tempat ini.
Ratu mengangkat bahu. “Nggak ngapa-ngapain. Dia dateng aja gitu, gue juga nggak terlalu jelas itu lagi ngapain. Yang jelas gue ngeliat muka dia, ngeliat sosok dia. Dan itu sering banget.”
“Makanya lo rela-rela aja abis seharian shooting dan ngumpul-ngumpul, terus tadi pagi wawancara,” gumam Diana.
“Gue lagi ngelakuin sesuatu aja, gue keinget dia, Di. Apalagi kalo gue diem. Makanya mendingan gue ngelakuin sesuatu, kan.”
Diana terdiam mendengar ucapan Ratu.  Karena itu juga lah Ratu selalu menyukai keramaian, alasan yang perlahan berubah karena keadaan. Jika dulu Ratu menyukai keramaian karena menikmati pertunjukan musik, sekarang ia menyukai keramaian supaya tidak tenggelam sendiri dalam pikirannya.
“Terus, sekarang lo mau masuk?” tanya Diana.
Ratu mengangguk. “Gue begini jarang-jarang kok, Di.”
Diana menghela nafas. Ratu memang jarang melakukan hal ini, hanya di saat benar-benar kacau saja perasaannya.
Ratu tersenyum kecil. “Gue nggak bakal ngapa-ngapain, Di. Tenang aja, selama ini juga nggak kenapa-napa, kan?”
Cuma pengen ketemu, Di.
Kalimat itu terngiang di telinga Diana. Saat pertama kali Ratu bersikeras melakukan hal ini.
Ratu membuka pintu mobilnya. “Ini yang terakhir, kok.”
Diana menghela nafas. Kalimat itu selalu diucapkan Ratu, juga di saat-saat sebelumnya.
***

Ratu berjalan perlahan dan membuka pintu kafe. Ia lalu berjalan dengan langkah pasti menuju meja kasir, sampai ada seseorang yang memanggilnya.
“Ratu?”
Ratu menoleh. Keningnya berkerut sedikit, dengan memasang wajah agak kaget. “Gilang?”
Gilang, orang yang memanggilnya itu, tersenyum. Ia bangkit dan menghampiri Ratu. “Sehat, Tu?”
Ratu mengangguk. “Lo gimana?”
“Sehat gue juga.”
Hening sejenak.
“Lagi nunggu orang, Lang?” tanya Ratu kemudian.
Gilang mengangguk. “Gue ada janji ama klien disini, tapi dianya kejebak macet. Jadi ya gue nunggu agak lama, deh.”
Ratu tersenyum. “Kafe ini enak buat nunggu kok, tenang aja.”
Gilang tertawa kecil. “Iya juga, sih. Lo juga janjian sama orang?”
Ratu menggeleng. “Tadi gue abis ketemu sama orang disini, terus dompet gue ketinggalan. Ini gue mau nanyain sama pegawainya.”
Gilang mengangguk-angguk.
“Mas Gilang? Sudah nunggu lama, ya?” ujar seorang pria sepantar Gilang, yang tiba-tiba muncul dengan nafas terengah-engah.
Gilang dan Ratu menoleh. Gilang tersenyum. “Nggak apa-apa kok, Mas Rio. Ini kebetulan saya ketemu temen lama. Duduk aja dulu, Mas, minum dulu,” ujar Gilang seraya menunjuk tempatnya duduk tadi. Ratu menangkap kilauan dari cincin yang dipakai di jari manis Gilang.
Klien Gilang itu pun segera beranjak setelah tersenyum sopan pada Ratu. Ratu balas tersenyum, dan berkata pada Gilang. “Tuh sana, temenin klien lo.”
Gilang mengangguk, lalu mengulurkan tangannya. “Gue denger lo lagi main film baru. Sukses ya, Tu.”
Ratu menyambut uluran tangan Gilang. “Makasih, Lang. Lo juga sukses, ya.”
Mereka pun melepas jabatan tangannya, dan Ratu berjalan menuju meja kasir. Baru beberapa langkah, Ratu membalikkan tubuhnya. Menghadap pada Gilang yang masih di posisi tadi. “Oh iya, salam buat Lily sama si kecil Brian, ya,” ujar Ratu. Ia lalu tersenyum.
Gilang ikut tersenyum.
***

Di mobil, Diana berulang kali melongok-longok. Berusaha melihat apa yang dilakukan Ratu. Namun menyadari usahanya tidak berhasil, dan Ratu yang berulang kali mengancamnya untuk tidak keluar mobil, Diana pun menyerah. Ia menghempaskan tubuhnya pada jok mobil. Menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.
Ratu beberapa kali melakukan hal ini. Menemui Gilang dengan berlagak tidak sengaja bertemu. Alasannya tetap sama, karena ingin melihat wajahnya. Dan biasanya, Ratu melakukan hal itu ketika ia sedang teringat pada pria dari masa lalunya itu. Pria yang menjadi pacar pertama Ratu, tapi hubungan mereka tidak berjalan baik.
Diana mengusap keningnya.

“Gue cuma mau main film yang gue suka ceritanya, Di,” ujar Ratu, setelah mendengar Diana berulang kali membujuknya bermain film action. Karir Ratu sangat menanjak saat ini, dan bermain di berbagai genre film akan semakin menaikkan pamornya sebagai aktris kawakan.
“Emang kenapa sih, Tu? Kenapa harus yang ceritanya romantis? Nanti orang mikir lo cuma bisa akting cengeng,” sergah Diana.
“Romantis nggak selalu cengeng, Di,” bantah Ratu. “Lagian peduli amat kata orang. Yang akting kan gue, bukan orang lain.”
Diana mengusap kepalanya yang tidak gatal. “Terus kenapa harus cerita yang romantis? Kenapa lo sukanya cerita yang begitu doang?”
Ratu tersenyum menatap Diana. “Karena cerita romantis nggak ada di dunia nyata, Di.”
“Hah?” Diana melongo mendengar jawaban Ratu.
“Karena cerita romantis nggak ada di dunia nyata,” Ratu mengulang jawabannya. “Cerita romantis cuma ada di cerita. Di film, di novel. Di kehidupan nyata, mana ada orang yang selalu saling cinta tanpa pernah putus? Orang yang udah nikah aja bisa suka sama orang lain yang bukan suami atau istrinya. Cuma di cerita, yang cinta itu kayak endless. Happily ever after.”
Diana terdiam. Mencoba memahami ucapan Ratu.
“Pas gue main film Senja di Malioboro itu, orang-orang kepengen gue jadian beneran sama Haris. Kenapa? Karena ketika nonton ending film, orang berpikir kalau itu akhir yang bahagia. Kalau Tiara sama Angga di film itu saling mencintai dan bakal terus begitu sampai kapanpun. Dan ilusi itu bikin orang pengen gue sama Haris jadian beneran, biar kayak Tiara sama Angga.”
Diana masih diam. Menyimak tiap kata yang keluar dari mulut Ratu.
“Mungkin, orang-orang yang bikin cerita-cerita itu juga lagi menyenangkan dirinya. Siapa yang nggak suka sama hal romantis? Itu kan hal yang menyenangkan, membahagiakan. Dan gue juga termasuk orang yang terbahagiakan dengan cerita-cerita manis itu. Berarti orang-orang yang bikin cerita itu membahagiakan dirinya sendiri dan juga banyak orang di dunia, kan?” Ratu menyeruput es jeruknya, membasahi kerongkongannya yang kering karena bicara panjang lebar.
“Karena gue suka cerita-cerita itu, gue suka juga memainkan peran di cerita itu. Ini cara gue membahagiakan diri gue, Di. Dan juga, kali aja membahagiakan orang-orang yang nonton film gue. Mungkin ini terdengar kayak melarikan diri dari dunia nyata, atau bukan mungkin. Emang iya, kita semua lagi melarikan diri dari dunia nyata. Tapi kalau itu bikin kita seneng, kenapa enggak?”
Diana menghela nafas. “Tu, baru sekarang gue ngalamin ngerti sekaligus nggak ngerti sama omongan orang.”
Ratu tertawa. “Dunia ini begitu, kan? Kita ngerti sekaligus nggak ngerti akan dunia ini. Kan lucu.”
Diana mengacak-acak rambutnya. “Ratuuuu!! Cukup! Gue pusing denger omongan lo, lebih musingin daripada Matematika SMA gue, tau!”
Tawa Ratu makin kencang.

Diana menegakkan tubuhnya begitu melihat Ratu keluar dari kafe. Gadis itu terlihat biasa saja, tersenyum lebar seperti biasanya. Diana menghela nafas. Ia saja yang sudah lima tahun bersama Ratu masih sering tidak bisa menebak apa yang sebenarnya dirasakan dan dipikirkan Ratu. Gadis itu memang benar-benar aktris, sangat pandai berakting.
“Semoga kali ini bener-bener terakhir ya, Tu,” lirih Diana.


2 Oktober 2013; berakhir!

2 komentar: