Kamis, 30 Agustus 2012

Firasat


Kata orang, hati nurani tahu segalanya. Ia dapat merasakan apa yang dilakukan oleh kita benar atau salah. Ia juga bisa menunjukkan kita jalan keluar saat kita merasa tersesat. Tersesat dalam suatu keadaan yang gelap dan mencekam. Katanya juga, hati nurani dapat membisikkan pada kita bila akan terjadi sesuatu yang buruk. Semacam firasat.
Hei, hebat sekali hati nurani itu. Apakah ia Tuhan? Atau kiriman spesial dari Tuhan? Malaikat, begitukah aku dapat menyebutnya?
Atau, peramal? Karena bisa memberitahu bila ada sesuatu yang buruk.
Selama ini aku merasa sepertinya hati nuraniku lupa kembali pada diriku. Sudah tiga tahun aku tidak merasa ditunjukkan apakah yang kulakukan benar atau salah. Dan juga tidak merasa ditunjukkan jalan keluar. Sepertinya ia pergi dan lupa kembali pada diriku. Atau, ia kebingungan antara aku dan orang lain? Mungkin ada seseorang yang benar-benar mirip denganku.
Tapi akhir-akhir ini, nampaknya hati nurani-ku mulai kembali. Beberapa hari ini, aku mendapatkan firasat buruk. Aku sama sekali tidak sedang sedih, tapi rasanya ingin selalu menangis. Seperti ada sesuatu entah dimana, yang terjadi dan itu buruk. Sangat buruk, mungkin. Karena rasanya sangat sesak.
Hari pertama aku merasakannya, hari selasa, kukira akan kudapat jawabannya esok. Tapi ternyata keesokannya semua berjalan seperti biasa. Aku bangun tidur dan kembali bekerja memberikan tiket pintu tol. Dan tidak ada yang terjadi. Bahkan kecelakaan lalu lintas yang beberapa kali terjadi di jalur tol pun tidak terjadi hari itu.
Hari itu aku kembali berpikir akan mendapat jawabannya esok, karena aku merasakan lagi firasat buruk itu. Kamis pagi masih seperti biasa. Sebelum berangkat kerja, aku mampir di toko dekat kontrakan untuk membeli roti dan kumakan di jalan. Tidak ada hal aneh yang terjadi. Tetanggaku masih bising mengenai air yang sulit dan listrik yang sering mati. Ibu-ibu seberang warung meneriaki anaknya yang ketahuan mencuri di swalayan seberang pemukiman kami, seperti seminggu yang lalu.
Hari ketiga, keempat, dan kelima masih sama. Aku masih merasakan firasat buruk itu dan masih berpikir akan mendapat jawabannya esok harinya. Namun hal-hal tetap terjadi sebagaimana biasanya. Pulang kerja aku membeli mie instan dan memakannya begitu sampai kontrakan petak-ku. Mengangkat pakaian yang kujemur tadi pagi, yang beberapa terkena sedikit percikan air selokan yang suka disiram tetangga belakang kontrakan ke jalanan. Supaya jalan tidak berdebu, katanya. Aku hanya tersenyum waktu itu. Mau disiram dua gentong besar air juga tetap saja lingkungan ini berdebu dan panas.
Tunggu, apa ini bukan firasat buruk? Apa ada gangguan dengan pernafasanku, jadinya aku sering merasa sesak? Meskipun aku tidak tahu bagaimana bentuk dan cara kerja firasat buruk, namun kurasa ini sudah terlalu lama sebagai firasat buruk. Dan rasanya sangat tidak enak. Aku selalu ingin menangis tanpa tahu ada apa, dan kenyataannya airmata tidak pernah keluar. Itu lebih menyakitkan daripada harus menangis semalaman dan membuat bengkak besar di mata pagi harinya.
Lagipula, sudah lama aku tidak menangis. Hal-hal dalam hidupku sekarang tidak menarik lagi untuk ditangisi. Lagipula aku tidak dapat merasakan apapun sekarang. Tidak sedih. Tidak bahagia. Dan tidak ada yang diinginkan.
Jadi, karena tidak ada hal-hal yang dapat memancing emosi, kurasa ini memang bukan firasat buruk. Akan kuperiksakan ke dokter besok. Kurasa uang di bawah kasurku sudah banyak sekarang. Karena tak pernah kugunakan.
.
.
“Sudah berapa lama mengalami ini, Mbak?” tanya dokter cantik di hadapanku dengan ramah. Tumben, biasanya dokter rumah sakit ini sudah tua. Dan juga tidak ramah. Apalagi pada pasien yang berpenampilan sepertiku –rambut acak-acakan, kaos oblong dan celana training pudar—, yang tidak meyakinkan mempunyai uang untuk menebus obat.
“Lima hari,” sahutku pendek. Aku memandangi isi ruangan ini. Semuanya serba putih dan sangat bau obat. Tapi tidak apa-apa, toh aku tidak terganggu dengan apapun sekarang.
“Dari hasil pemeriksaan sementara, tidak ada tanda-tanda ada penyakit yang berhubungan dengan pernafasan Mbak. Dilihat dari…,” Dokter cantik itu berbicara panjang lebar mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pernafasan. Aku tidak mengerti.
“Jadi Mbak sehat, kok. Mungkin perlu sering-sering olahraga dan menghirup udara yang segar. Ini saya berikan vitamin aja ya, Mbak,” Dokter itu kemudian menuliskan resep.
Aku hanya mengangguk. Bahkan orang sehat pun diberi obat. Betapa mudahnya dokter mendapat uang. Tapi aku tidak berniat menyanggahnya. Lagipula uangku memang tidak kugunakan untuk apapun.
“Semoga sehat terus ya, Mbak,” ujar Dokter cantik itu dengan senyum lebar. Aku lagi-lagi mengangguk.
.
.
Setelah ke dokter dan ternyata aku sehat-sehat saja, ternyata aku masih merasakan hal tidak enak itu. Bahkan lebih parah. Dua hari ini aku terbangun tengah malam hanya karena rasa sangat ingin menangis dan sesak itu. Akhirnya kuputuskan itu memang firasat buruk.
Esoknya ketika di tempat kerja, aku menceritakan tentang apa yang kualami pada Mbak Dewi. Aku memang tidak dekat dengannya, namun ia paling tua dan kelihatan paling bijak di tempat kerjaku. Sebenarnya aku memang tidak dekat dengan siapapun. Dan jarang bicara dengan siapapun.
Mbak Dewi terpana beberapa saat begitu aku menceritakan firasat burukku ini. “Wah, Nita. Mbak baru pertama kali denger kamu ngomong sepanjang ini.”
Aku hanya tersenyum kecil. Alasanku bekerja sebagai penjaga gerbang pintu tol adalah pekerjaan ini tidak membutuhkan banyak bicara. Hanya menerima uang dan memberikan bon. Paling sepatah-dua patah kata pada pengemudi yang minta uangnya ditukar receh atau menanyakan sesuatu.
“Ada sesuatu sama keluarga kamu, kali? Kamu udah ngehubungin mereka?”
“Nggak ada, Mbak,” aku menggeleng. Bukan karena aku sudah menghubungi mereka, tapi karena mereka memang sudah tidak bisa dihubungi. Tiga tahun lalu mereka semua meninggal dalam kecelakaan pesawat. Sebenarnya beberapa kali sempat terpikir untuk menyusul mereka. Namun kurasa tidak ada gunanya. Kalaupun aku mati, belum tentu aku berkumpul dengan mereka. Kata guru agama, kita di kuburan itu sendiri. Jadi meskipun aku mati, tidak akan bersama dengan keluargaku, kan?
“Atau, saudara yang lain? Tante atau Om, mungkin?”
Aku kembali menggeleng. Saudaraku semuanya ada di Australia, karena orangtuaku memang asli sana. Dan mereka pasti mengira aku juga meninggal dalam kecelakaan pesawat itu. Akupun tidak menghubungi mereka atau keberatan dengan hal itu. Toh itu tidak merubah apapun.
Mbak Dewi bersidekap, tampak berfikir. “Hmmm, apa ya? Kata kamu nggak ada hal-hal yang aneh seminggu ini. Apa temen deket kamu, mungkin?”
Aku mengangkat kepala.
.
.
“Halo?”
Kudengar suara perempuan di seberang sana. Aku terdiam beberapa saat, menjauhkan ponsel keluaran tahun 2000-an itu dari telingaku. Berpikir apa yang harus kukatakan.
“Ini… Bella?”
“Iya betul. Ini siapa, ya?”
Aku terdiam lagi.
“Halo?”
“… Nita.”
Hening beberapa saat.
“Nita? Nita Kamelia? Ini beneran Nita??” suara Bella menjadi sangat antusias.
“Iya,” sahutku pendek. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan. Kami terakhir bertemu tiga tahun lalu di pemakaman keluargaku, dan sekarang aku menghubunginya karena saran Mbak Dewi.
“Ya ampun, ini beneran Nita?? Nita apa kabar? Kamu tinggal dimana sekarang? Sehat, kan?” Bella memberondongku dengan berbagai pertanyaan.
“Sehat. Masih di Jakarta,” aku menerawang ke langit-langit kamar kontrakan-ku.
“Mamaaa!!”
Kudengar suara anak kecil menangis. Sepertinya di belakang Bella.
“Nita, Nita kita ketemu ya? Nanti aku telepon kamu lagi, ini nomer kamu, kan? Kamu nggak ganti nomer lagi, kan? Kita ketemu, ya?” suara Bella tertahan, antara memohon dan menahan tangis.
Aku termangu. Apakah Bella?
“Kita ketemu ya, Nita? Ya? Aku telepon kamu lagi nanti.”
“Iya.”
.
.
“Jadi kamu mau ketemu temen kamu itu, siapa namanya?” tanya Mbak Dewi ketika kami sedang makan siang bersama. Ini pertama kalinya aku makan siang dengan seseorang di tempat kerjaku. Biasanya aku hanya membeli sepotong roti dan memakannya cepat. Sendiri.
Aku mengangguk.
Mbak Dewi menghela nafas lega. “Syukur deh kalo begitu. Mungkin aja ini jawaban dari firasat kamu akhir-akhir ini. Ya walaupun Mbak nggak berharap ada sesuatu yang buruk terjadi sama temen kamu.”
Aku membenarkan dalam hati. Meskipun ada harapan firasat buruk ini berakhir dan aku terbebas dari rasa tidak enak itu, tapi aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Bella. Aku jadi teringat nada suara memohon setengah menahan tangis-nya kemarin.
“Temenan sama Bella dari kapan, Nit?”
“Dari SMA, Mbak,” sahutku sambil menyendok bakso yang masih tersisa banyak di mangkuk.
Mbak Dewi mengangguk-angguk. “Pasti kalian deket banget. Biasanya temen SMA begitu. Mbak aja udah punya anak tiga masih suka kumpul-kumpul sama temen SMA. Terus anak-anak suka protes kalo Mbak pulangnya malem,” ujar Mbak Dewi seraya tertawa.
Aku ikut tertawa kecil. Tidak ada hal yang lucu, namun di saat seperti ini kau biasa ikut tertawa tanpa tahu alasannya.
Mbak Dewi lalu bercerita tentang anak-anaknya. Anaknya ada tiga, satu laki-laki dan dua perempuan. Yang laki-laki sudah kuliah sekarang.
“Bedanya cuma dua tahun sama kamu, Nita. Kamu 22 kan sekarang?”
Aku mengangguk. Mbak Dewi masih terlihat sangat muda sebagai seorang ibu yang mempunyai anak usia 20 tahun.
Anak kedua duduk di kelas dua SMA, dan yang terakhir kelas satu SMP. Mbak Dewi bilang kalau dia suka sama langit. Jadi nama anaknya Gerhana, Bintang, sama Bulan.
“Kapan-kapan kamu maen ke rumah, ya. Nanti biar Mbak kenalin sama anak-anak Mbak. Mereka anak-anak baik, lho! Pasti ketagihan ketemu sama mereka.”
Aku tersenyum.
Mbak Dewi mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya. “Mbak nitip ini di kamu ya, Nita?”
Aku mengerutkan kening. “Apa ini, Mbak?”
“Itu barang penting. Rumah Mbak akhir-akhir ini nggak aman, jadi mendingan Mbak titip aja ke kamu.”
“Tapi, daerah rumah aku juga nggak begitu aman, Mbak,” sahutku. Teringat lingkungan kontrakan petak-ku yang berdempetan satu sama lain.
“Beberapa hari aja, Nita. Mbak titip, ya?”
.
.
Aku memandangi Bella lekat. Kami bertemu di restoran ayam bakar dekat rumah Bella. Bella juga memandangiku lekat.
“Kamu apa kabar, Nita?”
Aku tersenyum kecil. Mengeluarkan jawaban standar dari pertanyaan itu. “Baik.”
Bella tersenyum. “Kita bukan orang lain, Ta. Buat apa basa-basi?”
Senyumku melebar. “Ketemu sama kamu, sedikit membaik, Bel. Kamu gimana?”
Bella mengangguk. “Sama. Ketemu sama kamu sedikit membaik juga.”
Kami tertawa.
“Kapan nikah, Bel?”
Bella memberenggut. “Aku tahu pasti kamu bakal nanya ini dan asal kamu tahu aku kesel dengernya. Aku nyari-nyari kamu setengah mati, tau! Tapi nggak ada yang tau kamu dimana. Tadinya aku mau lapor polisi, mau bilang kalo ada saudara yang ilang!”
Aku tertawa kecil. Bella juga.
“Dua tahun yang lalu, Ta,” ujar Bella. Ia mengambil jus mangga kesukaannya dan menyeruputnya pelan.
“Anak kamu?”
“Biasanya orang nanya suami, kok kamu malah nanya anak?” tanya Bella geli.
“Soalnya yang kemarin aku denger itu suara anak kamu,” aku nyengir. Ya ampun, kapan terakhir kali aku nyengir?
Bella mengangguk-angguk. “Dia udah setahun sekarang. Namanya Nita. Aku namain nama yang sama ama Tantenya, kali-kali aja Tantenya terus inget sama Mamanya Nita kecil dan mau maen ke rumah.”
Aku terdiam. Memandangi Bella lagi. “Tua banget ya Bel rasanya, dipanggil Tante.”
“Apalagi dipanggil Mama, Ta.”
“Suami kamu?”
“Namanya Anton, Ta. Kamu nggak kenal. Umurnya 35. Orang kaya, lho,” Bella tertawa getir.
Aku masih terdiam. Masih memandanginya dengan tatapan sejuta tanya.
“Kenapa nggak nanya?”
Aku menghela nafas. “Kamu aja yang cerita. Kamu tahu aku mau nanya apa.”
Bella mengangguk-angguk. “Orangtua aku minjem uang banyak banget sama bank Ta, udah lama banget. Tahu kan, Mami gimana? Dia masih ga mau ketinggalan kalo ada berlian baru yang ditawarin temennya.”
Aku teringat sosok Mami Bella yang memang berdandan borju. Seperti toko perhiasan berjalan, kata Bella kalau sedang kesal. Papi Bella meninggalkan warisan yang banyak memang. Namun bagaimanapun juga harta bukan seperti air zamzam yang tak habis-habis.
“Terus kenalan Mami punya anak. Anton itu. Aku nggak boleh manggil dia Mas, Ta. Katanya berasa tua. Yaa pada kenyataannya kita kan beda 13 tahun.”
Aku menggenggam tangan Bella erat. “Maaf, Bel. Aku malah nggak tahu semua itu.”
Bella tertawa. “Nggak apa-apa, Ta. Lagian emang kamu bisa bayarin utang bank Mami? Uang kamu aja diambilin sama saudara-saudara bule kamu itu.”
Aku ikut tertawa.
“Terus suami kamu, gimana?”
“Yaa, nggak gimana-gimana. Dia kerjaannya bagus, kantornya di Kuningan situ, Ta. Sekretarisnya cantik lagi. Akrab banget mereka, kalo malem minggu suka maen ke rumah sekretarisnya. Udah kayak anak muda ya, Ta?” Bella tertawa getir.
Aku hanya terdiam.
“Untungnya orang kaya, Ta. Sekarang aku bisa sering ke salon, perawatan seluruh tubuh. Kayak yang sering kita pengenin pas SMA dulu. Belanja juga tinggal milih. Dandanan aku juga udah kayak orang kaya kan, Ta?”
Aku ikut tertawa getir. “Iya, aku jadi makin keliatan kayak gembel.”
Bella menggeleng-gelengkan kepala melihatku. Rambutku yang diikat seenaknya, dan kusut pastinya. Ditambah celana training dan kaos kebesaran dengan warna luntur. Juga sandal jepit yang kubeli di pasar sebulan yang lalu.
“Kamu kurus banget sekarang, Ta.”
Aku nyengir. “Seenggaknya aku bisa kurus, Bel.”
Bella mengangguk-angguk. “Seenggaknya juga aku nikah sama orang kaya.”
Kami berdua tertawa. Menertawakan hidup dua orang teman yang berteman sejak SMA, yang sama-sama berkeinginan kuat untuk kuliah di Jerman. Lalu jadi wanita karir yang sering kami lihat di perkantoran di Sudirman dan Kuningan. Wanita karir terlihat sangat keren di mata kami. Berpakaian bagus dan modis. Juga punya uang banyak untuk ke salon, beli pakaian dan tas yang bagus, makan makanan berkelas, dan beli gadget terbaru. Karena itu aku sangat ingin kurus supaya dapat memakai pakaian bagus dan modis itu. Dan Bella ingin menikah dengan orang kaya supaya uangnya semakin banyak dan bisa beli hp keluaran terbaru terus.
“Ternyata kurus nggak berarti bagus juga, Ta,” ujar Bella, menyeringai padaku.
“Ternyata nikah sama orang kaya nggak berarti bagus juga, Bel,” aku balas menyeringai.
“Kamu beneran kayak orang kurang gizi. Kayak gembel, Ta.”
“Kamu keliatan sepuluh tahun lebih tua, Bel.”
Kami tertawa. Keras. Sampai orang-orang di restoran memandangi kami aneh.
“Kenapa hidup kita jadi begini ya, Ta?”
Kami tertawa lagi. Kali ini getir.
.
.
Aku menghela nafas. Setelah pertemuanku dengan Bella, memang aku menjadi sedikit merasakan senang. Setelah sekian lama. Tapi anehnya, firasat buruk itu tidak hilang juga. Apa bukan Bella?
Terus apa?
Aku celingukan mencari Mbak Dewi. Kurasa aku harus konsultasi lagi padanya. Siapa tahu ia dapat memberiku saran lain.
“Mas Bambang, Mbak Dewi mana, ya?” tanyaku pada pria paruh baya yang lumayan dekat dengan Mbak Dewi.
Mas Bambang menatapku kaget. “Loh, kamu nggak tahu, Nita?”
Aku mengerutkan kening.
“Kemarin gue telepon sama sms-in lu, Nit. Tapi nggak nyambung. Sms juga nggak terkirim,” ujar Arya tiba-tiba. Ia baru masuk ke ruangan kantor.
“Kapan?”
“Kemarin siang.”
“Hp aku mati kemarin. Ada apa emang?” aku semakin penasaran. Kemarin aku libur. Hp-ku memang mati kemarin, dan itu ketika aku sedang bertemu dengan Bella. Jadi aku biarkan saja. Toh selama ini sangat jarang ada yang menghubungiku.
“Mbak Dewi meninggal kemarin siang, Nit. Ternyata Mbak Dewi selama ini sakit kanker otak. Sore langsung dikuburin.”
Aku tercengang mendengarnya. Mbak Dewi? Kemarin?
“Kok… bisa?”
Arya menepuk bahuku pelan. “Nggak ada yang nyangka, Nit. Kemarinnya Mbak Dewi masih masuk kan? Mbak Dewi bawain brownies kukus, inget banget gue. Kita udah ngelayat kemarin sore.”
Aku terdiam. Kami masih makan bakso bersama kemarin lusa. Bagaimana bisa?
“Lu mau ngelayat, Nit? Bareng gue aja. Gue mau ngasih sumbangan dari temen-temen ke keluarganya,” ujar Arya lagi.
“Sama sekalian baju-baju buat anak-anaknya, Ya. Ada di pojokan tuh,” tambah Mas Bambang, menunjuk ke pojok ruangan.
“Anak? Emang Mbak Dewi udah nikah, Mas?” tanya Arya bingung.
“Lho, kamu nggak tahu? Itu anak asuhnya Mbak Dewi. Anak saudara jauhnya, dari kecil udah diurus sama Mbak Dewi,” jelas Mas Bambang. “Kamu ini gimana, udah berapa tahun kerja disini? Ckckk.”
Kini aku yang bingung. “Jadi Mbak Dewi belum nikah, Mas?”
“Lho? Kamu juga nggak tahu? Aduh, gimana sih kalian ini!”
.
.
Aku menatap pusara Mbak Dewi lekat. Kekagumanku tumbuh pada orang yang baru kukenal beberapa hari itu. Sebenarnya sudah kukenal sejak pertama kerja, namun baru mengenal lebih dalam akhir-akhir ini.
Tadi sepanjang perjalanan Arya cerita, ternyata Mbak Dewi itu sudah kanker otak stadium empat. Dan Mbak Dewi nggak mau dirawat atau melakukan kemoterapi. Ia merasa lebih baik uangnya yang ia kumpulkan diberikan untuk anak-anaknya yang masih muda dan mempunyai harapan hidup yang panjang. Termasuk amplop yang dititipkan padaku yang ternyata berisi rekening Mbak Dewi. Jumlahnya cukup besar, sebenarnya cukup untuk melakukan pengobatan.
“Siapa yang sangka coba, Nit? Mbak Dewi ramah banget, sering banget bawain brownies kukus. Itu brownies bikinan Mbak Dewi sendiri, lho. Dia sama sekali nggak keliatan kayak orang sakit. Setiap pagi mau mulai kerja juga semangat banget,” ujar Arya panjang lebar.
Aku mengangguk, membenarkan.
Anehnya, perasaan tidak enak yang beberapa hari ini aku rasakan menghilang. Menghilang begitu aku melihat pusara Mbak Dewi. Berarti, firasat buruk itu tentang Mbak Dewi? Bukan tentang Bella, teman dekatku sejak SMA?
Aku mengernyitkan kening. Aneh, padahal aku tidak begitu mengenal Mbak Dewi sebelumnya. Dan ketika aku merasakan firasat buruk itu pertama kalinya, aku sama sekali tidak mengenal Mbak Dewi dengan baik. Apa ini salah? Apa selama ini sebenarnya bukan firasat buruk? Lalu apa?
Aku menghela nafas. Entahlah, apapun itu yang terpenting semuanya sudah berlalu. Lagipula dengan hal itu, secara tidak langsung aku jadi bertemu lagi dengan Bella. Entah apa hubungannya Mbak Dewi dengan firasat buruk –atau apalah ini namanya—, setidaknya dengan itu aku jadi sempat mengenalnya lebih dekat.
Lain kali akan kuajak Bella dan Nita kecil mengunjungi Mbak Dewi.


;somehow it feels empty. But it’s okay.
03:04

2 komentar:

  1. Sempet mau ketawa gara2 ada nama Arya, tp ga jd, soalnya tema cerpennya serius.
    Jadi inget, aku g pnh nulis cerpen lagi *eh kok malah curcol*
    keep writing zi, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha gapapa tih ketawa juga, emang sengaja dimasukin namanya :p

      iya makasih tih, ayo ayo kamu juga nulis lagi doong :D

      Hapus