Minggu, 17 Juni 2012

Potret

 Aku mengusap pelan lensa Nikon FM2-ku dengan sapu tangan yang selalu kubawa kemana-mana. Hari mulai sore. Aku membidik kumpulan anak kecil yang berpakaian muslim dan menggendong tas, sepertinya akan pergi mengaji TPA.
“Eh, eh, kita difoto sama kakak itu!” seru seorang anak laki-laki berpeci hijau dengan setelan baju muslim hijau juga.
“Mana? Mana?” teman-temannya celingukan, ingin tahu.
Aku tersenyum dan melambaikan tangan kepada mereka.
“Kakak, foto lagi! Foto lagi!” mereka kemudian berlari-lari menghampiriku dan menarik-narik tanganku. Bahkan rambut panjangku tertarik juga.
“Iya, iya. Kakak foto lagi. Sekarang berdiri disana, terus gaya yang bagus!” seruku seraya menunjuk lapangan kosong di hadapan kami. Mereka segera berlari ke arah yang aku tunjuk dan membuat berbagai pose. Aku memotret mereka cepat.
“Nah, udah Kakak foto semuanya. Sekarang sana berangkat ngaji, nanti kalian terlambat lho!” ujarku pada mereka yang masih asyik ingin difoto.
“Yaah, kan masih pengen difoto, Kak,” ucap anak laki-laki berpeci hijau tadi. Kemudian temannya yang berjilbab pink menyenggolnya. “Rip, nanti kita diomelin Pak Ustad Soleh lagi!”
Teman-temannya yang lain mengangguk-angguk, kemudian membicarakan galaknya Ustad Soleh itu.
“Yaudah sana ngaji. Nanti kapan-kapan foto lagi,” kataku sambil mengusap kamera kesayanganku itu.
Mata mereka berbinar. Ah, aku mendesah dalam hati. Jangan sampai mereka menganggap itu sebuah janji.
“Bener ya, Kak? Nama Kakak siapa?”
“Danti.”
“Aku Arip, Kak. Ini Lina, Rio, Asep, Nana…,” si anak berpeci hijau itu sibuk menyebutkan nama teman-temannya satu persatu. Aku hanya mengangguk-angguk. Toh nama-nama itu akan cepat terlupa, begitu juga dengan nama yang kusebut pada mereka tadi. Dan aku juga tidak berniat menambah kenalan saat ini.
“Dadah Kak Desi cantik. Kita foto lagi ya besok,” mereka melambaikan tangannya, berpamitan denganku.
Kan, apa kubilang.
.
.
Aku duduk di depan sebuah SD, seberang lapangan tempat anak-anak tadi berfoto. Di tanganku sudah ada permen gulali yang suka dijual di SD. Ternyata SD sekarang dengan dua puluh tahun yang lalu masih sama, masih ada tukang permen gulali yang berjualan di depan sekolah.
Di usiaku sekarang, amat jarang menemukan makanan seperti ini. Makanan lain seperti kue sarang laba-laba, telur gulung, kue rangi, dan semacamnya hanya kutemui di bangku sekolah. Dan aku lebih sering memakan makanan yang manis. Makan gorengan pun yang manis, seperti pisang goreng atau gandasturi. Tidak seperti teman-temanku yang lebih suka bakwan dan tahu isi.
“Makanan manis itu bagus buat ngisi tenaga. Kita kan harus belajar, jadi harus keisi juga tenaganya,” ujarku pada teman-temanku ketika mereka memaksaku makan bakwan yang mereka beli. Mereka bilang, mereka bosan melihatku tidak pernah makan makanan yang tidak manis.
“Iya, kena penyakit gula aja lu!” sahut Danti, temanku yang tomboy, kesal. Aku hanya tertawa waktu itu. Kebiasaanku dalam mengakhiri segala macam pembicaraan.
Aku tersenyum getir. Ya, waktu itu aku masih bisa tertawa.
Kuhabiskan permen gulali yang ada di tanganku. Yah, mungkin ini gulali terakhir yang bisa kumakan. Lagipula aku tidak tahu kapan dan dimana lagi bisa menemukan jajanan seperti itu. Jajanan itu tidak mudah ditemui dimanapun, tidak seperti restoran cepat saji yang menjadi langgananku ketika kuliah.
Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Setengah empat. Berarti sudah setengah jam aku di tempat ini. Aku membuang batang permen gulaliku yang sudah habis. Kusampirkan tas tali panjang di bahu kiriku, dan mengalungkan kamera di leher.
.
.
Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang tidak sengaja kulihat di ujung lapangan tadi. Ternyata jalan ini akses menuju perkebunan sawit. Aku tahu daerah ini banyak perkebunan sawit, tapi aku baru tahu ternyata bisa melalui jalan pintas dari lapangan tadi. Sudah tiga tahun aku disini, baru sekarang aku menyadari adanya jalan itu.
Aku asyik membidik pemandangan yang ada di sekitarku. Ada pekerja yang sedang beristirahat di bawah pohon sambil mengipas-ngipas dengan topi caping. Dan juga anak kecil yang berlarian mengejar burung yang berterbangan.
Aku menurunkan kameraku. Udara disini terlalu sejuk untuk dilewatkan. Aku memejamkan mata, menghirup udara segar yang terasa menyapa pipiku.
Ah, aku sudah lama ingin melakukan hal seperti ini. Seperti yang sering kulihat di film, seorang wanita berjalan sendiri dengan kamera di tangannya. Memotret apapun yang menarik perhatiannya. Menghirup udara segar di pedesaan –yah walaupun ini bukan benar-benar pedesaan, setidaknya perkebunan ini mempunyai udara yang segar juga. Lalu berjalan dari satu tempat ke tempat lain, tanpa menunggu dan ditunggu.
Dan persis seperti di film, ada sebuah saung. Aku tersenyum. Ini sempurna untuk perjalananku. Perkebunan. Udara segar. Angin semilir. Dan saung.
“Neng? Sendirian aja?” sapa seorang ibu separuh baya yang tanpa kusadari berjalan mendekat ke saung yang kududuki. Ia menenteng rantang makanan. Mungkin bekas bekal untuk suaminya bekerja di kebun tadi.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala sedikit. “Iya, Bu.”
“Lagi liburan ya, Neng?” tanya ibu itu lagi. Ibu itu sudah duduk di sampingku. Wajahnya tampak sangat lelah. Aku mengangguk sedikit, lagi.
“Abis nganter makan, Bu?” tanyaku basa-basi.
Ibu itu menyahutiku dengan panjang lebar. “Iya nih, Neng. Kalo nggak saya bawain makanan, anak saya suka kelupaan makan siangnya.”
Oh, untuk anaknya, bukan suami. Aku bergumam dalam hati.
“…Nanti pas malemnya suka masuk angin kalo nggak makan siang. Makanya saya bela-belain dateng ke kebun buat nganter makan. Saya baru abis kerja juga di pasar ini, Neng—“
Aku menyimak, tidak. Sebenarnya berlagak menyimak apa yang diucapkan ibu itu. Pikiranku melayang kemana-mana. Aku jadi ingat Mama, yang pasti selalu bawel menyuruhku makan dan minum obat. Tak lupa, menakar semua makananku sebelum kumakan.
Suara telepon berbunyi. Aku segera merogoh isi tasku untuk mengambil ponsel. Aku mengerutkan kening. Ponselku mati.
“Halo?”
Aku menoleh. Pekerja yang tadi kupotret, mengangkat ponsel miliknya dan berbicara dengan orang di seberang sana. Aku mengulum senyum. Jaman sekarang, semua orang punya ponsel. Bahkan ponsel mahal sekalipun.
Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas. Baru teringat kalau memang ponsel dan segala alat komunikasi kumatikan. Lagipula meskipun kunyalakan, ponselku tidak dapat kugunakan. Kemarin lusa aku baru mengisikan pulsa dan kudaftar paket internet khusus ponselku, namun entah mengapa tidak tetap tidak bisa digunakan layanannya. Dan aku malas untuk mengurusnya.
Yang mengomel justru Tara, temanku yang memang dasarnya cerewet itu. Tara bahkan ingin menelpon costumer service untukku, tapi aku mencegahnya. Sudahlah, untuk apa juga. Lagipula hanya beberapa rupiah saja yang hilang.
Aku kehilangan jauh lebih banyak dari itu.
“Sama ya Neng, hapenya,” ujar ibu itu, yang ternyata melihat kejadian itu. Aku mengangguk.
“Sekarang mah banyak Neng, hape kayak yang punya Neng. Tapi banyaknya orang sini beli yang murahnya, yang dari Cina. Tapi dari Cina juga bagus Neng, bisa foto juga, bisa internet juga. Malah bunyinya bisa sama juga, kayak punya Neng tadi.”
Aku manggut-manggut.
“Jam berapa sekarang, Neng?”
“Jam empat, Bu.”
Ibu itu bangkit dari duduknya. “Ibu pulang dulu ya, Neng. Anak ibu yang kecil suka rewel.”
Aku tersenyum dan sedikit menganggukkan kepala.
“Ayo mampir-mampir ke rumah saya, Neng…”
“Tara, Bu.”
“Iya, Neng Dara. Mampir ke rumah Ibu ya kapan-kapan.”
.
.
Di hadapanku terdapat lapangan, lagi.
Aku tidak mengerti siapa yang membuat tata ruang daerah ini, tapi ternyata jalan setapak tadi dibuat mejadi “jalan rahasia” disini. Jalan setapak yang kususuri tadi, yang bermula dari lapangan, ternyata berakhir dengan lapangan juga. Aku mengenal kedua lapangan yang terhubung oleh jalan setapak tadi, tapi tidak kusangka kalau keduanya terhubung.
Aku berjalan di pinggir lapangan. Lapangan yang ini lebih ramai daripada lapangan yang tadi. Pemandangan bagus untuk dipotret. Banyak anak bermain layangan dan kelereng disini.
Dan juga sepakbola.
BUK.
“Aah!” aku reflek memeluk erat kameraku. Jangan sampai, jangan sampai rusak.
“Kak? Kakak nggak apa-apa?” serombongan remaja mendekatiku. Aku menoleh. Ternyata tadi sebuah bola mengenai kepalaku. Aku baru merasakan sakitnya kepalaku sekarang.
“Nggak apa-apa,” sahutku.
“Bener, Kak?” tanya salah satu dari mereka. “Maaf ya, Kak. Kita nggak sengaja.”
“Iya nggak apa-apa. Laen kali hati-hati ya maenya,” sahutku. Aku segera beranjak mencari tempat yang aman untuk melihat keadaan kameraku lebih jelas.
“Maaf ya, Kak!”
Aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan.
Bukan, bukan karena aku orang yang baik. Tapi, aku orang yang enggan memperpanjang sesuatu dan mengurusi sesuatu, apapun itu.
“Gue kan cinta damai,” akuku suatu hari kepada Nina, sahabat dekatku. Nina meringis.
“Lagak lu selangit!”
Tadinya, aku bukan orang yang seperti ini. Aku adalah tipe orang yang sangat gigih dalam mengurusi apapun yang kurasa menggangguku. Aku akan mengurusnya sampai selesai, sampai aku mendapat apa yang seharusnya kudapat. Banyak orang yang bilang kalau aku kepala batu.
Tapi, setelah semua itu, setelah apa yang kualami, kurasa semua itu tak ada gunanya. Apapun yang kulakukan dan kuusahakan, tidak membuat apapun menjadi baik. Belajar giat memang membuatku pintar, tapi tidak cukup pintar untuk tetap bekerja di perusahaan besar yang bertahan mempekerjakanku selama lima bulan.
Kurasa seharusnya ketika Papa memaksaku mengisi formulir masuk Fakultas Ekonomi tujuh tahun yang lalu, kuhanyutkan saja formulirnya di selokan belakang rumah. Toh ketika aku wisuda, Papa sudah lebih dulu pergi dan tidak melihatku memakai toga. Ia juga tidak akan tahu kalau aku tidak menyelesaikan kuliah ekonomiku, kan?
Seharusnya aku memang belajar fotografi serius waktu itu, bukan buang-buang waktu dan uang mempelajari bagaimana cara menghitung pendapatan orang lain. Pendapatanku saja tidak terlihat dimana, aku justru menghitung pendapatan orang lain.
Aku mengusap pelan lensa kameraku. Untungnya tidak lecet sedikitpun. Ini adalah kamera pertama yang kubeli dengan uangku, jadi aku sangat amat menjaganya. Aku tersenyum sendiri ingat perjuanganku menabung sampai-sampai tidak jajan dengan alasan diet.
Aku memasukkan sapu tanganku ke dalam tas. Dan di kantong yang sama, ada sebuah kertas. Aku mengambil dan membacanya. Aku mengerutkan kening. Tulisan Nina.
“Lin, gue tau lu nggak bakal nyalain hape selama pergi ini, makanya gue nulis surat begini kayak jaman dulu. Lu hati-hati lah, Lin. Gue mau nguntit lu diem-diem sebenernya, tapi pasti nanti lu ngamuk banget ama gue. Baek-baek dah ya lu disana, Liana sayang.”
Aku tersenyum membacanya. Diantara ketiga teman dekatku, Nina memang yang paling dekat denganku. Kami berteman sejak bangku SD, jadi sangat dekat sampai-sampai tidak ada rahasia di antara kami berdua. Nina juga yang paling mendukung rencanaku jalan-jalan sendiri ini, mengeluarkan berbagai argumen di hadapan Mama dan Tara, yang bawelnya menyaingi Mama. Mama sendiri tadinya tidak ingin melepasku pergi sendiri, mengingat tanggal operasi sudah semakin dekat. Tapi dengan bantuan Nina dan sedikit bohong –Nina bilang kalau ia menemaniku, akhirnya Mama mengizinkanku pergi.
Oh iya, Danti benar. Aku terkena penyakit gula sekarang. Diabetes nama kerennya. Selama tiga tahun ini, sejak dokter memberi vonis menyusahkan itu, aku jarang makan segala sesuatu yang berbau gula. Yah, kecuali permen gulali tadi. Dari yang kubaca di internet, diabetes yang parah biasanya menyerang orang usia lanjut. Namun aku baru tahu kalau ternyata orang usia 26 tahun sepertiku dapat terkena diabetes. Kata dokter, penyakit jenis ini menyerang sejak aku kecil, dan aku memperparahnya dengan kesukaanku pada makanan yang manis-manis, dan junk food ketika kuliah. Entah apa nama kedokterannya, aku tidak mengerti. Yang kutahu hanya satu, aku sakit.
Karena penyakit itu juga, aku jadi rentan terkena penyakit lain. Lusa aku akan operasi, yang sebenarnya aku juga lupa operasi apa. Entah hati, entah jantung. Aku memutuskan untuk tidak ingin mengetahuinya. Karena bagaimanapun juga, ke-tahu-anku tidak mengubah apapun, kan? Kenyataan bahwa aku sakit tidak akan berubah. Dan juga mungkin tidak akan mengubah bahwa aku akan menyusul Papa, dengan penyakit yang sama.
Hal itu juga yang kusampaikan pada Mama, ketika aku mendapat pekerjaan sebagai fotografer majalah. Mama bersikeras melarangku untuk bekerja dan fokus pada perawatan. Namun aku terlalu lelah untuk semua itu setelah semua yang terjadi, setelah Papa pergi dan aku tidak diterima bekerja dimanapun. Lagipula tidak mudah mendapatkan pekerjaan yang kita sukai.
“Ana tetep sakit, Ma, dengan atau tanpa kerja jadi fotografer. Seenggaknya, kalo Ana kerja ada sesuatu yang Ana lakuin dan Ana tuju.”
Mama saat itu hanya menangis. Aku juga merasa bersalah pada Mama, tapi kurasa memang harus begini. Terbaring di bangsal rumah sakit hanya semakin membuatku merasa sakit. Di hadapan semua orang, aku berlagak baik-baik saja dan menerima semua yang menimpaku. Tapi, aku tidak sekuat itu. Di dalam, aku tetap stress dan frustasi menghadapinya.
Aku menghela nafas, mencoba menghalau ingatan itu. Bagaimanapun, itu ingatan buruk. Dan mirisnya, ingatan buruk jauh lebih melekat dalam memori dibanding ingatan baik.
Aku kembali membidik lalu lalang orang di hadapanku, mencoba mengalihkan pikiranku. Kali ini di tempat yang agak jauh dari anak-anak yang sedang bermain itu, supaya aman.
Aku mengerutkan kening. Ada sebuah benda menghalangi. Aku menurunkan kameraku.
Dan terdiam selama lima detik. Masih sama, masih lima detik.
Itu orang, bukan benda.
“Hai!”
Itu dia.
Lima detik sudah berlalu. Aku tersenyum padanya. “Hai.”
Ia duduk di sampingku. “Lagi nyari objek foto, ya?”
Aku menggeleng. “Nggak nyari juga. Lagi jalan aja dan ada yang menarik buat difoto.”
Ia tersenyum. Tolong jangan tersenyum seperti itu, aku meringis dalam hati.
“Kayak di film-film.”
“Emang terinspirasi dari film,” sahutku.
Ia menatapku dan tertawa. Selama tiga tahun ini, aku selalu suka tawa itu.
“Kalo di film-film, hal begitu dilakuin pas lagi patah hati atau stress sama hidup—“
Yap. Kau benar. Aku patah hati, denganmu. Dan juga stress .
“Gue juga lagi patah hati sekarang. Boleh nggak, gue ngikutin elu?”
Aku mengerutkan kening. Bukan karena pertanyaannya.
“Maksud gue, gue pinjem kamera lu. Mau nyobain gimana rasanya motret pas lagi patah hati,” Ia menunjuk kamera yang menggantung di leherku.
Aku melepaskan kameraku dan memberikan padanya. Keningku masih berkerut.
Ia melihat-lihat kameraku sebentar. “Wah, Nikon FM2. Keren juga selera lu.”
Ia mulai membidik. “Gue baru putus sama cewek gue tadi siang. Gue yang mutusin sih. Katanya orang yang mutusin itu, bakal dia yang paling sedih. Sialan, ternyata bener.”
Kenapa? Aku menggigit bibir.
“Kasian gue sama dia. Dia cewek baik, tapi gue-nya begini. Kerjaan juga luntang-luntung. Duit abis buat rokok, jadi cuma bisa beli nasi goreng Bang Pi’i langganan gue kalo jalan ama dia.”
Ia mulai memotret. Kali ini arahnya pada anak kecil yang sedang bermain kelereng.
“Jadi jangan ama gue, lah. Dia cakep, pinter lagi. Udah punya kerjaan juga di kantoran. Nggak tega gue kalo dia ama gue. Kasian nanti hidupnya.”
“Dia-nya?” aku tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
“Nangis,” ia tertawa getir. “Tapi ya gimana? Gue juga begini, ancur. Bisanya cuma motret sana-sini doang—“
Ia menatapku, merasa tidak enak. “Eh, eh, bukan gitu maksud gue. Bukan berarti gue bilang lu juga nggak ada kerjaan kayak gue.”
Aku tertawa kecil. “Iya santai. Gue ngerti, kok.”
“Tadinya gue nggak se-ancur ini. Gue pernah buka pameran, pameran gue sendiri. Isinya foto gue semua. Keren nggak, tuh?”
Aku tahu. Memang sangat keren.
“Tapi yah, namanya hidup ya. Ada aja musibahnya. Gue ketipu orang, dibawa kabur semua duit gue. Stress gue, begini deh jadinya.”
Aku juga tahu itu.
“Hidup kan, kumpulan dari hal baik sama buruk. Ada hal baik, pasti ada hal buruk,” ucapku. Sebenarnya tak tahu harus mengatakan apa.
Ia tertawa, agak getir. “Cewek gue juga bilang begitu.”
Aku tercekat. Kali ini aku tidak tahu.
“Kalo di film-film, gue suka sebel banget tuh kalo pemeran utamanya ninggalin pacarnya gara-gara ngerasa nggak mampu ngebahagiain pacarnya. Nggak struggle banget gitu, apalagi kalo cowok. Alesannya klise lagi, ninggalin karena sayang, karena cinta. Kalo cinta, kenapa ditinggalin, coba?” Ia mengatur lensa, siap membidik.
“Sialan, sekarang gue ngalamin hal kayak gitu, dengan alesan klise yang sama. Gila ya, gue?”
Aku menatapnya nanar. Aku memang pernah mengharapkan hal ini. Mengharapkan ia meninggalkan gadis itu. Tapi tidak begini. Tidak seperti ini.
Akan jauh lebih baik kalau ia tetap bersama gadis itu sampai mati. Melakukan hal ini membuatnya terlihat sangat mencintai gadis itu, jauh lebih dalam dibanding ketika mereka masih bersama.
“Wajar, kok. Film itu kan diambil juga pasti dari kisah nyata. Kalo enggak, darimana coba penulis skenarionya tau soal hal-hal kayak begitu?” sahutku dengan sedikit tawa. Ah, seharusnya aku jadi artis karena aktingku sangat bagus.
Ia tertawa. Aku tersenyum melihat tawanya. Aku selalu tersenyum melihat tawanya.
“Gue udah lima tahun ama dia. Lama banget, ya?” Ia menoleh ke arahku. “Eh iya, baru ketemu udah cerita macem-macem gue," lanjutnya seraya tertawa.
Ia mengamati wajahku. "Kok gue kayak familiar ya, sama elu?”
Tentu saja. Harusnya kau memang familiar. Kita bertemu tiga tahun yang lalu, di lapangan ini juga. Di hari tepat aku mendapat pekerjaan fotografer majalah dan mendengar vonis menyusahkan itu. Terdengar sangat lucu, bukan? Terkadang aku merasa hidup mempermainkanku. Tapi kemudian aku sadar kalau itu hanya kumpulan hal baik dan buruk yang ada dalam hidup.
Aku tertawa. “Iya? Banyak yang bilang gue mirip Laura Basuki, sih.”
Ia ikut tertawa. Dan masih memandangiku. Tolong, jangan pandangi aku seperti ini.
“Eh tapi serius, gue kayak kenal banget muka lu tau. Familiar banget. Dimana, ya?” Ia tampak mengingat-ingat.
Ya, seharusnya kau memang ingat. Tiga tahun aku tinggal di tempat ini sejak bertemu denganmu, memotret di lapangan ini setiap sore sehabis hunting foto. Aku juga datang ke pameranmu, dimana kau tampak begitu bahagia dan ada gadis itu di sampingmu.
“Lu kenal gue, nggak?”
Ya, aku mengenalmu. Sangat amat mengenalmu. Aku mengenalmu yang suka melucu dan tertawa lebar. Aku mengenalmu yang sering menghabiskan beberapa batang rokok sambil memotret disini. Bahkan aku ikut tersenyum ketika kau sedang tersenyum dengan gadis itu.
“Mmm… gue juga familiar, sih,” aku mengamati wajahnya. Wajah yang amat kukenal. Wajah yang banyak mengisi film kameraku.
Ia menjentikkan jarinya. “Nah, nah! Kenal gue, kan?”
“Elu… mirip sama tukang bakso di perumahan gue!” aku tertawa. Ia mendengus, namun kemudian ikut tertawa.
“Yah elu, serius nih! Gue familiar banget sumpah sama elu!” ia menyerahkan kameraku.
“Pasti lu liat gue di tivi,” sahutku sambil menerima kameraku dan mengusap lensanya pelan.
Ia tertawa lagi.
“Ah, elu! Yaudah deh. Kenalin, gue Rangga,” ia mengulukan tangannya.
Aku tahu.
“Liana.”
Setidaknya, sekarang ia mengetahui namaku.
Siluet senja tampak sangat cantik di ufuk barat sana. Aku segera memotretnya. 
Sayup-sayup, terdengar suara azan maghrib berkumandang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar