Minggu, 18 September 2011

Perempuan


Ibuku memberiku nama Perempuan.
P-E-R-E-M-P-U-A-N.
Hanya sembilan huruf itu. Tidak ada tambahan lagi. Perempuan.
Kata orang, nama itu doa. Aku sedikit banyak membetulkan pernyataan itu. Mungkin sejak mengandungku, ibuku sudah punya firasat kalau anaknya yang berjenis kelamin perempuan akan tumbuh tidak terlalu seperti anak perempuan, alias agak tomboy. Makanya mungkin ibuku menamaiku Perempuan, agar anaknya dapat kembali ke ‘asalnya’.
Ibuku hanya tertawa ketika aku mengungkapkan hal itu.
“Puan, Ibu ngasih kamu nama Perempuan, karena Ibu yakin kamu akan jadi perempuan sejati. Yang tak bisa diremehkan begitu saja. Yang tahu kapan harus tegar, dan kapan harus mengeluarkan airmata. Yang bagaimanapun kamu nanti, kamu adalah perempuan, apapun yang terjadi. Seperti nama kamu.”
Ya. Bagaimanapun, aku tetap perempuan.
Walaupun kata teman-temanku, aku lebih pantas dipanggil ‘laki’. Mereka menganggap kalau nama itu sangat jauh dari cerminan diriku. Aku sampai saat ini tidak mengerti mengapa orang-orang melihatku sebagai gadis yang tomboy, padahal aku sudah sengaja memanjangkan rambutku sampai punggung, apa itu kurang untuk terlihat tidak tomboy? Aku hanya suka olahraga, tidak suka pakai rok, tidak suka dandan, dan agak lebih berani dibanding anak perempuan lain. Tapi tetap saja mereka menganggapku seperti itu.
“Perem… puan?”
Guru baru Bahasa Indonesia itu mengerutkan kening saat mengabsen namaku.
“Dia pantesnya dinamain Laki, Bu!” seru Doni yang duduk di pojok belakang. Seisi kelas tertawa.
Aku hanya tersenyum masam.
“Perempuan? Mengapa nama kamu Perempuan?” guru baru itu masih penasaran rupanya.
“Karena saya perempuan, Bu,” jawabku enteng.
Teman-teman sekelasku tertawa lagi.
Itulah yang terjadi setiap pengabsenan dan pertemuan pertama. Selalu ada pertanyaan: mengapa? Kok bisa? Dan itu yang sering membuatku kurang menyukai acara perkenalan. Tapi setidakknya, nama itu yang membuatku cepat dikenal.
Perempuan.
.
“Eh, Laki! Mau ngikut maen nggak lu?” Reza menepuk pundakku.
Aku masih menekuni buku catatan matematikka yang sedang kusalin dari Anggi, teman sebangkuku. “Maen apaan?”
“Basket lah. Masa bekel?”
Aku mendongak heran. “Lah, bukannya kemaren tuh bola gembos? Emang kita punya bola lagi?” Seingatku, bola basket itu kemarin ditusuk paku dengan ganasnya sama Rommy. Dia kesal sama anak SMK yang main curang saat tanding dengan SMA kami.
Reza mendekat, membisiku telingaku. “Ada anak baru yang minta gabung, anak IPA dia. Gue suruh aja dia bawa bola. Eh mau dianya. Anaknya culun gitu.”
Aku melirik sedikit. Benar. Ada seorang cowok yang berdiri di depan kelasku sambil memeluk (bukan memegang!) bola basket. Aku tertawa. “Asik nih, mangsa baru.”
Reza nyengir lebar. “Makanya gue ngajak lu. Kan biasanya lu paling demen dah masalah beginian.”
Aku bangkit dan menjitak kepala Reza. “Sialan lu!”
“Puan, matematikanya?” Tanya Anggi melihat aku berjalan keluar kelas.
Aku menoleh pada Anggi dan memberikan senyum termanisku. “Anggi yang baik hati dan cantik jelita, aku percayain catetan matematika itu ke kamu!”
Anggi manyun. Aku terbahak.
“Kenapa?” Tanya Reza.
“Itu, si Anggi. Biasanya kalo gue nggak kelarin catetan gue, nanti dia yang lanjutin sampe selesai.”
Reza manggut-manggut. “Emang tadi lu udah nulis berapa halaman.”
“Baru nulis DIFERENSIAL.”
“Baru judulnya?? Kebangetan lu, Laki!”
.
Aku menenggak minumanku. Lumayan juga tuh anak baru.
“Siapa sih, namanya?” aku menoleh ke Reza.
“Ardan. Kenapa lu, naksir?”
Aku tertawa. “Kece juga dia ternyata. Apalagi kalo kacamatanya dilepas.”
Reza menoyor kepalaku. “Dasar, laki juga lu! Jeruk makan jeruk!”
Reza tertawa. Aku terdiam. Sebegitunya, kah?
“Eh, kenapa lu?” Reza menatapku heran.
“Emang gue kayak laki-laki banget ya, Za?”
“Hah?”
“Emang gue kayak laki-laki banget ya, Za?”
Reza tampak hendak tertawa, tapi urung melihat wajah seriusku.
“Za?”
“Mmm… gimana, ya? Bingung nih gue,” Reza menggaruk kepalanya.
“Ah elu! Emang dari segi mananya sih gue keliatan begitu?”
Reza memandangiku lekat-lekat.
Aku memegang rambutku. “Nih Za, rambut gue aja panjang. Panjangan rambut gue dari si Anggi juga. Gue juga nggak jelek-jelek amat, manis kan? Terus tangan gue nih, nggak berotot! Lu liat!” aku menunjukkan lenganku.
“Apanya sih Za, yang bikin keliatan kayak cowok?”
Reza tertawa keras. Sangat keras.
.
“Puan, kamu kemaren jadi maen basket?” Anggi bertanya lembut.
“He eh, Nggi. Ternyata si anak baru itu jago juga! Lagaknya doang sok culun, eh taunya jago banget three pointnya! Salut deh gue!”
Anggi hanya tersenyum.
“Kenapa gitu, Nggi? Tumben-tumbenan nanya-nanya basket.”
“Aku pengen cerita sama kamu, Puan.”
“Lah, cerita aja! Kan biasanya juga lu suka cerita aja, kan?”
Anggi tersenyum (lagi). Ia mengeluarkan sebuah buku bersampul biru muda dari dalam tasnya. Lalu menyodorkan padaku.
“Apaan nih?”
“Baca aja.”
Aku membuka buku itu. Buku puisi rupanya. Anggi memang suka menulis puisi. Aku sebenarnya tidak terlalu mengerti puisi, tapi setelah berteman dengan Anggi, aku jadi mengerti sedikit-sedikit.
“Puisi-puisi cinta ya, Nggi?”
Anggi mengangguk pendek. Aku terus membaca. Sampai pada sebuah halaman, aku terhenti agak lama. Puisi ini seperti inti dari puisi-puisi laainnya.
kepada muara
yang telah kutemukan
berkisahlah ia tentang segala
tentang hati yang membiru
lalu ia mulai membisikkan senandung
melodi lembut
yang mengalun tenang
bersama hangatnya mentari
segala elok, segala indah
Aku menoleh ke arah Anggi. “Lu lagi suka sama orang, Nggi?”
Anggi mengangguk. Lalu mengalirlah semua yang selama ini ia pendam sendiri. Tentang puisi-puisinya yang mewakilkan seluruh perasaanya. Tentang harapan-harapan yang terajut dalam hatinya. Tentang mata orang yang disukainya, yang selalu dapat membuatnya tersenyum. Tentang semuanya. Tentang cinta. Tentang orang itu.
“Siapa, nggi?”
Anggi tersenyum. “Reza, Puan.”
.
Reza.
Aku mengulang kata itu dalam hati.
Kenapa harus Reza? Kenapa harus Anggi?
Aku mendribble bolaku lebih keras. Aku bingung sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?
Aku menembak. Tidak masuk. Menembak lagi. Tidak masuk lagi.
Aku memang tidak bisa menulis puisi seperti Anggi. Tapi aku juga perempuan seperti Anggi. Yang sama punya perasaan. Yang sama punya tingkat sensitivitas lebih tinggi sebagai perempuan.
Yang sama menyukai Reza.
Reza.
Kenapa harus Reza? Kenapa harus Anggi?
Lalu aku harus apa sekarang?
Aku menyukai Reza sejak awal masuk sekolah ini. Dan sejak saat itu juga, kami sering main basket bersama. Dia orang yang selalu membuatku tersenyum, bahkan tertawa. Dia yang pertama mengulurkan tangan ketika aku jatuh ketika main basket. Orang yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun untukku, setiap tahunnya. Orang yang pertama menjengukku setiap aku sakit. Orang yang pertama mengusap airmataku saat kakakku meninggal tahun lalu. Orang yang pertama kali tertawa saat aku bercerita ditembak anak kuliah.
Orang pertama yang kusukai.
Reza.
Kenapa begini jadinya?
Aku jadi teringat perbincanganku dengan Reza waktu itu, tentang tipe cewek idamannya.
“Yang anggun, lembut, sama keibuan. Kalo bisa sih, rambutnya panjang. Kalo bisa lagi, dia jago balet, piano, sama nyanyi.”
“Gila lu, itu sih kriteria Miss Indonesia kali!”
“Yee… boleh dong, namanya idaman! Lagian kenapa lu, tau-tau nanya beginian? Pengen ditaksir, ya?” Reza nyengir.
Aku tertawa. “Gue kecakepan buat lu!”
“Ngaco lu!” Reza terbahak.
“Hayoo, ngaku aja! Kece kan, gue? Cakep, kan? Manis, kan?”
Reza masih tertawa. “Gue nganggep lu kayak cowok, Laki!”
Aku mendribble lagi. Keras. Lebih keras. Makin keras.
Apa aku sebegitu miripnya dengan laki-laki?
Apa yang harus aku lakukan? Mengapa begini?
Bagaimanapun, aku perempuan. Yang tetap tertawa saat senang. Yang tetap menangis saat sedih. Yang punya perasaan. Yang dapat merasakan sakit.
Aku merasa sakit disini. Di hatiku. Sesak.
Bisakah, anggap aku seperti perempuan?
“Kamu enak ya, Puan,” ucap Anggi suatu hari.
“Hah? Kenapa?” tanyaku heran.
“Kamu nggak terlalu peduli sama masalah hati. Nggak perlu ngerasain nggak enaknya mendem perasaan, atau ngerasain sakitnya kalo orang yang kita sukain sama sekali nggak nganggep kita ada.”
“Gitu, ya?”
“Iya. Kamu nggak terlalu sensitif kayak perempuan laen. Jadi nggak usah ngerasain hal-hal yang nggak enak tentang hati.”
Siapa bilang, Nggi? Siapa bilang?
Bagaimanapun, aku perempuan. Perempuan mana yang tidak sensitif? Adakah, Nggi?
Bagaimanapun aku perempuan. Punya perasaan. Dapat merasakan.
Tiba-tiba ada yang merebut bola basketku. Menembak. Dan masuk.
Ardan.
Aku menatapnya tajam.
Ardan mendekat, menepuk pundakku.
“Perempuan sejati itu, tahu kapan harus tegar, dan kapan harus mengeluarkan airmata.”
Aku menarik nafas. Mataku mulai berkaca-kaca. Ardan membimbingku ke pinggir lapangan. Lalu duduk.
Bisakah, anggap aku sebagai perempuan?
Ardan tersenyum, mengusap bahuku. “Kamu perempuan. Selamanya perempuan.”
Aku menangis.
Langit mendung. Perlahan, gerimis turun.

Kuningan, 4 Januari 2010
:at that wound



2 komentar:

  1. kayaknya, aku pernah baca cerpen ini,
    versi asli tulisan tangan kamu, hehe

    BalasHapus
  2. hehe ini emang aku salin tih, nulisnya pas tiga aliyah dan based on true story tapi sangat dilebay2in hahaha

    BalasHapus