Rabu, 10 Agustus 2011

Bitter


Kita nggak bisa pura-pura nggak kenal sama orang yang pernah kita kenal, kan? Sama kayak kita nggak bisa pura-pura nggak ada yang terjadi, padahal ada.
.
”Gue mau abis lulus dari sini pergi jauh banget, dimana nggak ada orang yang kenal gue sebelumnya, dimana gue jadi orang baru,” ucapku sambil mengaduk bakso yang baru kutuangi saus.
Lila mengangguk tanpa menoleh dari mangkuknya. “Dimana nggak ada orang yang nge-judge gue dan mandang gue jelek karena masa lalu gue.”
Aku tersenyum pahit. Mengamini dalam hati.

Kini aku pun tersenyum pahit mengingat pembicaraan dengan Lila di kantin sekolah waktu itu. Saat masa abu-abu kami mulai terwarnai dengan warna hitam.
Aku memandangi  lalu lalang orang di bandara. Ramai. Berisik. Sesak.
Sesak.
.
.
“Eh, Rana bukan?” seseorang menegurku. Aku menoleh sedikit tanpa membuka kacamata hitamku. Wanita di hadapanku terlihat sangat sumringah.
“Iya kan, ini Rana Puspita? Inget nggak, ini Misye. Kita dulu sekelas pas kelas dua SMP.”
Aku mengerutkan kening.
Wanita itu tertawa, agak berlebihan. “Ya ampun Rana, selama ini kemana aja? Kita semua nyariin kamu, tapi kamu nggak ada kabar. Inget nggak, dulu kita kan akrab banget, malah pernah sekelompok belajar bareng.”
Aku menghela nafas, membuka kacamataku dan menyalaminya. Kesopanan yang dibuat-buat.
Ibu-ibu yang duduk di samping wanita itu tampak terkejut. “Wah, mbak beneran temen nya Rana Puspita? Dan ini bener mbak Rana Puspita?”
Wanita itu tertawa senang. “Ya iya dong mbak, deket malah kita. Iya ini Rana asli, mbak.”
“Ya ampun, saya ngefans banget lho mbak, sama mbak Rana ini. Saya masang foto mbak Rana di meja kerja saya. Nggak nyangka bisa ketemu di pesawat kayak gini,” lalu berpaling pada wanita itu. “Gimana mbak Rana pas masih sekolah dulu, mbak?”
Wanita itu tersenyum lebar. “Baik banget mbak, udah keliatan bertalenta dari dulu—“
Aku tersenyum getir. Tak lagi mendengar apa yang orang itu katakan.
Orang begitu mudah menjilat ludahnya sendiri.

“Lo pikir bisa masuk cheers modal semangat doang?”
Aku terhenyak. Eh?
“Kenapa, masih bingung kenapa gue bilang begini? Ngaca dong, Rana! Tim cheers itu mesti punya talent sama bakat. Dari luar aja keliatan lo nggak punya bakat.” Ia memegang kuncir kudaku. “Apa lo pikir lo bisa masuk cheers dengan semua ini? Bahkan gue nggak yakin apa lo bisa ikutin senam tiap sabtu dengan bener.”
Teman-teman ‘cantik’ di belakangnya tertawa sinis. Aku meremas rok biruku, menahan tangis.
Ia berbisik di telingaku. “Coba lebih sering pasang kuping lo baik-baik. Apa lo nggak denger, apa yang mereka bilang tentang lo?” Ia berhenti sejenak. “Lo nggak punya bakat, Rana Puspita. Mendingan balik lagi ke perpustakaan sana, belajar aja yang rajin, biar jadi professor.”
Misye tersenyum sinis.
.
.
Undangan reuni.
Aku menatap nanar kartu yang ada di tanganku. Ternyata sudah banyak kartu seperti ini yang dikirim ke rumahku, rumah orang tuaku tepatnya.  Sudah delapan tahun tidak kembali kesini.
Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Aku menghempaskan diri ke sofa. Perjalanan llima jam pesawat lumayan membuatku jetlag.
Ponselku bordering.

”Ranaaaa!! Mana PR gue?! Kenapa jam segini baru dateng?!”
Aku melangkah gugup ke arah bangku Maya, yang sudah berkacak pinggang. “Ma-maaf, Maya. Tadi pagi aku bangun kesiangan—“
“Gila apa lo, masih bisa bilang bangun kesiangan? Mana tas lo?”
Aku meringsut ke belakang, melindungi tasku. “Ja-jangan Maya, biar aku buatin PR nya buat kamu.”
“Halaah, kelamaan! Sini tas lo!” Maya mengambil paksa tasku. Lalu mengambil buku PR dari dalamnya. Ia mengacungkan buku itu di depan wajahku. “Ini, ini apa?! Kalo lo bisa bikin PR buat lo, kenapa nggak bisa bikin PR buat gue?!”
Aku tertunduk.
Tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang. Dan sesuatu membasahi rok merahku.
“Aduh, lo ngapain berdiri di situ sih?!!  Tempat minum gue jadi tumpah kan nih!!! Mata lo taro dimana?!” maki Guntur keras.
Aku semakin menunduk.
.
.
Aku menyeruput kopiku perlahan. Di luar restoran, tampak segerombolan anak SMA sedang ngobrol riuh rendah. Seragam dan rok abu-abu.
Aku tersenyum.

“Ranaaaa!”
Aku menoleh. Lila memelukku dari belakang, lalu tertawa-tawa.
Aku mendengus pelan. “Kebiasaan, nggak ilang-ilang. Lama-lama gue bisa jantungan, tau!”
Lila masih tertawa. Lalu tiba-tiba tawanya terhenti. Aku memandangnya heran. “Kenapa?”
“Arah jam 8.”
Aku mengikuti arahnya. Lalu menahan tawa.
“Kenapa? Dia masih ganteng kayak taun kemaren kaan,” ucap Lila padaku.
“Ganteng apanya? Masih cakepan Ardi kemana-mana lah!”
“Enak aja! Kak Joni keren tau! Liburan kemaren aja dia ngewakilin sekolah ikut lomba basket se-provinsi. Ardi apa kerennya coba?” Lila tak terima.
Aku tak mau kalah. “Eh, Ardi tuh—“
“Lila, Rana!! Ngapain berisik disitu? Ayo ke kelas!” tiba-tiba Okky mengagetkan kami dari belakang. “Katanya Pak Burhan jadi wali kelas kita taun ini.”
“Hah? Pak Burhan? Guru fisika itu?!”
“Ya ampun, dia kan galak gila!”
.
.
Kopiku sudah tinggal ampas. Pahit juga.
Tidak. Pahit sekali.
Dan mungkin tak dapat hilang.

Aku menatap kertas di atas mejaku berulang kali. Dan tetap saja tulisannya tidak berubah.
Anak koruptor, nggak tau malu. Sama aja kayak orangtuanya yang nggak mau ngaku kalo udah korupsi. Masih punya muka juga tetep di sekolah ini.
Tanganku bergetar. Kuambil kertas itu, lalu meremasnya.
“Siapa, siapa yang naro disini?” tanyaku. Suaraku bergetar.
Teman-teman sekelasku diam saja.
“Siapa??!” teriakku.
“Ng-nggak tau, Na. Kita nggak liat ada yang naro kertas di atas meja kamu,” entah siapa yang membuka suara.
Aku berjalan cepat keluar kelas, lalu membanting pintu.
“Wah gila, serem juga dia.”
“Katanya kalo anak penjahat emang begitu, suka kasar.”
“Eh tapi lo berani juga naro kertas itu di meja dia.”
“Ya kenapa enggak, mau sampe kapan kita temenan sama anak koruptor? Biar dia nyadar. Kali aja bisa ngajak keluarganya intropeksi bareng.”
“Tapi, apa nggak terlalu kasar? Mungkin ada cara laen. Dia juga selama ini baik banget sama kita.”
“Ya apa itu ngerubah keadaan? Dia tetep anak koruptor, yang bikin rugi negara kita!”
“Iya juga sih.”
“Tapi kasian, nanti dia nggak punya temen.”
“Biarin aja, paling dia temenan sama anak maling itu.”
“Iya ya, anak maling temenannya sama anak maling.”
Aku menelan ludahku. Pahit.
Nanar kutatapi tanaman di depan kelas.
.
.
“Hey, udah lama?!” Lila akhirnya muncul.
“Lumayan, buat inget semua yang nggak enak,” sahutku sambil minum kopi ketigaku. Tadi Lila memang menelponku dan kita janjian di sini.
Lila menatapku tak berkedip.
“Kenapa?”
Ia lalu menghambur memelukku. “Ya ampuun, gue bahkan nggak nyangka bakal bisa ketemu lagi sama lo! Gila gue kangeeeen banget sama lo, Na!”
Aku balas memeluknya. Airmataku keluar sedikit.
Lila melepaskan pelukannya, lalu menatapku. “Airmata asli apa buaya, nih?”
Aku tertawa. “Masih gila aja lo, La!”
Lila tertawa sambil menatapku tak percaya. “Delapan tahun, Na, delapan tahun! Lo bahkan ga bilang ke gue pas pertama kali orbit jadi penyanyi di Abadisinema Entertaiment.”
“Sorry.”
Lila tertawa lagi. “Lo tuh yang gila! Udah begini enak banget bilang sorry. Pergi gitu aja ke Amerika nggak ada kabar, tau-tau gue denger lo udah bikin lagu bareng sama Sheryl Madisson! Gila lu, kesampean juga ya lu, nyanyi bareng dia. Gue aja baru liat dia dari poster yang lo pasang di kamar lo waktu itu,” Lila berdecak.
“Kan gue udah bilang, dia kakak gue,” aku tertawa. “Emang gue nggak kaget denger berita tentang lo? Tau-tau gue baca di internet Indonesia bikin mobil terbang, dan gue hampir kena serangan jantung pas tau lo yang bikin! Gila, gue kira bakal seumur hidup lo naek kopaja!”
“Sialan lo!”
“Tapi gue beneran salut sama lo, La. Padahal terakhir gue denger lo lulus S3 di Jerman, umur 22 pula! Gue aja Cuma lulus sarjana.”
“Sarjana tapi mendunia.”
Kami tertawa. Lalu terdiam beberapa saat.
“Ngomong-ngomong, keinginan kita terkabul juga ya, La?”
“Keinginan apa?”
“Buat pergi ke tempat dimana nggak ada orang yang nggak kenal kita sebelumnya.”
Lila mengangguk. Aku meminum kopiku yang hampir habis.
“Tapi tetep aja kita balik lagi,” ujar Lila.
Aku mengernyitkan kening.
“Ya, balik lagi kesini. Kembali. Ke tempat dan keadaan dimana ada orang yang kenal kita sebelumnya,” lanjut Lila. Aku jadi teringat pertemuan dengan Misye dan undangan reuni itu.
“Mungkin, karena gimanapun juga nggak akan bisa terus ke tempat yang nggak ada orang yang kenal kita. Dan kita nggak bisa juga pura-pura nggak kenal padahal kenal,” gumamku.
“Nggak akan lupa malah,” sahut Lila. “Dan nggak akan bisa juga bersikap seolah nggak ada apa-apa, karena sebenernya emang ada.”
Aku menghela nafas. “Gue berusaha keras buat begitu.”
“Sama gue juga,” Lila menerawang ke luar restoran. Kini anak SMP bergerombol di depan sana.
“Tapi nggak bisa.”
“Iya, tapi nggak bisa. Sekeras apapun berusaha.”
Aku memesan kopi keempat. Lila tersenyum memandangiku.
“Lo masih suka kopi?”
Aku mengangkat bahu. “Ngapain minum yang manis-manis kalo nggak kerasa. Gimanapun juga tetep pahit, kan?”
Lila tersenyum simpul.
“Nggak berubah juga lo.”

“Kayak babeh-babeh lo, sukanya kopi,” Lila duduk di sampingku. Aku tersenyum hambar padanya, lalu mengaduk kopi kentalku.
“Ngapain minum yang manis-manis kalo nggak kerasa. Gimanapun juga tetep pahit, kan?”
“Jadi sinis gitu lo.”
Aku tersenyum hambar lagi. “Ya, apapun yang kita lakuin, sebaik apapun kita jadi orang, se-nyenengin apapun kita jadi temen, itu nggak ngerubah apapun, kan?”
Lila menghela nafas. “Bokap gue nggak pernah nyuri mobil, Na. Dia nggak pernah nyuri apapun. Dia dimanfaatin gara-gara terlalu polos,” Lila mulai menangis. “Dia malah ngelapor ke polisi, ngebalikin mobil yang nggak tau punya siapa itu.”
Aku tersenyum padanya, kali ini tulus. Lalu menepuk bahunya. “Mungkin polos nggak bagus juga, La. Bokap gue dituduh korupsi gara-gara polos juga. Padahal sepeserpun dia nggak pernah nerima uang itu.”
Lila terus menangis. Aku menerawang menatap langit-langit.

3 agustus 2011
Menjelang buka puasa.
:mungkin memang akan tetap pahit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar