Jumat, 15 Juli 2011

Dilarang Jatuh Cinta Disini


Seharusnya semuanya lancar. Sebelum dia datang dan menghancurkan semuanya.
Jonathan Pratama.
Aku terus mengulang nama itu. Seperti merapal sebuah nama.
.
Aku memandangi sebuah bangunan yang terletak sekitar lima meter dari tempatku berdiri. Sebuah kampus. Tepatnya, kampusku. Satu semester kuhabiskan disana, di tempat yang tak pernah kusuka, jurusan yang tak pernah kusuka; dan yang terpenting di kota yang tak pernah kusuka.
Dan aku Riska Ananda. Mahasiswi semester dua jurusan ekonomi. Tinggal di Jakarta. Jakarta. Bahkan aku tak nyaman mendengarnya saja. Dan tak perlulah aku jelaskan semua mengapa aku tak menyukai kota ini. Televisi pun sudah banyak memberitakan ke-‘tidakbagus’-an kota ini. Benar-benar tak ada yang kusuka disini. Benar-benar tak ada yang dapat membuatku bertahan kecuali pelototan Mama saat aku ungkapkan ingin berhenti kuliah dan mencoba tes ke Amerika.
“Kamu mau luntang-luntung nggak jelas? Ngapain berhenti kuliah?!” omel Mama saat itu.
“Aku mau kuliah ke Australia, Ma,” belaku.
“Buktikan, buktikan dulu. Kuliah ke luar negri itu nggak gampang! Banyak orang yang jauh lebih pinter dari kamu buat diterima di luar negri.
Lalu semua usaha kerasku tak sia-sia. Aku diterima di Australia –dan mirisnya saat aku menyadari ada sesuatu yang membuatku bertahan disini and really want to stay here.
Salah. Seseorang.
Namanya Jonathan Pratama. Sudah kusebut tadi.
Jangan bayangkan dia tiggi, ganteng, pintar, atau semacamnya. Ia biasa saja. Dan aku juga sangat biasa. Kami hanya teman sekelas biasa yag kebetulan –sialnya- sekelas di semester dua ini.
And it’s forbidden for falling in love now.
.
Entah bagaimana awalnya dan apa sebabnya, dan sejak kapan tepatnya; mataku selalu melihatnya. Tepatnya, mataku selalu menemukannya, walau sungguh aku tak bermaksud begitu.
Diam-diam aku mulai mengkhawatirkannya kalau dia tak masuk. Diam-diam juga, menatapnya begitu terasa menyenangkan.
Dan itu semua menghancurkan semua rencanaku. Untuk segera meninggalkan tempat ini. Untuk segera meninggalkan semua ini.
Jonathan Pratama membuatku berpikiran untuk tetap disini.
.
“Ka, itu Rio!” Nana berbisik sambil menunjuk kea rah koridor sekolah kami. Aku merasakan wajahku memanas. Aku langsung membalik badan, mengambil langkah yang berlawanan dengannya.
“Lho, mau kemana? Katanya kangen?” Nana menarik tanganku.
“Siapa yang bilang gitu, sih? Aku cuma bilang pengen liat, bukan kangen!!” seruku seraya menarik kembali tanganku. Karena terlalu keras, aku menabrak seorang cewek yang lagi minum es dan mengenai rok abu-abuku.
“Maaf, maaf. Nggak sengaja,” ucapku dengan wajah menyesal. Cewek itu tersenyum lalu pergi.
“Tuh, kan! Kamu sih!”
Nana nyengir. “Lagian kamu aneh. Dari kemaren-kemaren rebut pengen liat, pengen ketemu. Tapi pas udah di depan mata malah kabur. Aneh dasar. Nggak ada kemajuan.”
“Dan menolak pembaruan,” lanjutku.
“Hah?” Nana ternganga. “Nyadar juga kamu? Kalo udah tau begitu, kenapa nggak dirubah dong, Ka!”
“Susah, Na.”
“Kenapa enggak? Rio juga bukan cowok yang ‘wah’ banget. Bukan yang ketinggian buat digapai. Kalian cocok –cocok banget malah. Kamu Cuma perlu jalan satu langkah aja, dari tempat kamu, dari titik stagnan-mu itu.”
Aku mengangkat bahu. “Coba aja kalo bisa. Aku nggak keberatan kalo kamu dorong aku biar aku bisa bergerak, seenggaknya selangkah aja, dari yang kamu sebut titik stagnan itu,” Aku meringis. “Tapi ini kayak sesuatu yang dari sananya.”
“Masa??” Nana menatapku tak yakin.
“Nggak tau juga sih. Sotoy aja.”
“Dan juga nggak bisa sebu nama Rio, apa emang udah dari sananya kamu nggak bisa nyebut nama orang yang kamu suka?”
Aku terdiam.
Sejak suka sama dia, aku emang nggak bisa sebut namanya. Hati aku nggak bisa sebut namanya. Di depan Nana –karena Cuma Nana yang tau aku suka dia- juga nggak bisa sebut namanya.
Hanya bisa menyebut ‘dia’.
.
Jonathan Pratama membuatku berpikiran untuk tetap disini.
Dan pikiran itu tidak boleh terjadi. Tidak boleh aku lakukan.
Karena ada yang lebih parah dari sekedar ‘itu membuatku tertahan disini’’. Karena bagaimanapun aku akan tetap ke Australia mengejar mimpiku, bagaimanapun juga aku akan meninggalkan tempat ini, bagaimanapun juga aku akan meninggalkan dia.
Itu akan menyakitkan.
Jonathan Pratama. Jonathan Pratama. Jonathan Pratama.
Aku kembali menyebut namanya. Merapalnya seperti sebuah mantra.
Agar Jonathan Pratama tidak menjadi orang yang kusuka.

9 maret 2011
23:07

1 komentar:

  1. emang kenapa dilarang jatuh cinta disini? kalau misalnya ada seseorang yg bener-bener jatuh cinta kpd seseorang gmn?

    BalasHapus