Selasa, 28 Maret 2017

Tomorrow With You : After Story


Ini pertama kalinya saya 'niat' banget bikin review drama dua kali, pas baru nonton dua episode pertama sama setelah dramanya tamat. Saya sendiri juga nggak nyangka kalau bisa segini attached nya sama drama ini. Curiga saya sih mostly karena abang yang satu ini hahaha.
Source : Saram Entertainment Official Instagram
Tapi tentunya tulisan ini nggak hanya ngebahas abang itu dan kecintaan saya sama doi *haha*. Saya nggak akan ngebahas sinopsis drama ini karena udah saya tulis di review sebelumnya, dan akan ngebahas review drama ini dari beberapa aspek. Dan tentunya, review ini cuma dari kacamata saya yang bukan ahli apapun; sekedar penggemar drama korea veteran (?). Review ini akan mengandung beberapa spoiler, tapi saya akan usahakan sebisa mungkin nggak mengurangi esensi keseruan dan misteri dari drama ini.

The Hero

My Favorite!
Awalnya, saya bener-bener nggak tertarik sama tokoh Yoo So Joon dan mikir kalau cowok macam So Joon sama sekali bukan tipe saya. Saya bahkan nggak begitu tahu aktor Lee Je Hoon, cuma nonton di Architecture 101 dan saya nggak begitu film itu. Di episode awal-awal, So Joon ini cukup ngeselin dan rancu; nggak jelas apa sebenernya maunya, nggak jelas apakah dia beneran tertarik sama Ma Rin atau enggak. Pokoknya saya nggak ngelihat pesona dari So Joon, di awal-awal.

Tapi semakin kesini, terutama setelah mereka nikah, So Joon makin kelihatan aslinya yang ternyata sweet dan polos meski terkesan cuek dan seenaknya. Saya pikir So Joon nikahin Ma Rin cuma karena Ma Rin kunci yang bisa menyelamatkan dia, tapi ternyata So Joon jadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Sampai-sampai saya baper sendiri, mau satu yang begitu dong :D

So Joon berusaha keras buat mengimbangi dan menyesuaikan diri sama Ma Rin, ngikutin apa yang diinginkan istirnya itu. Dan itu bukan hal yang mudah karena Ma Rin termasuk cewek unik yang suka macem-macem maunya. Tapi So Joon bener-bener menyesuaikan hidupnya dengan hidup Ma Rin, yang mana itu out of character banget dari seorang So Joon yang seenaknya. Dan justru itulah yang bikin abang ini terlihat semakin sweet dan bikin melting abis.

Yang agak saya nggak suka dari tokoh So Joon adalah dia terlalu fokus sama masa depan dan mengabaikan masa sekarang. Mungkin karena dia bisa ngelihat masa depan dan niatnya buat memperbaiki masa depan itu ya, tapi yaa kan gimanapun juga masa sekarang yang terpenting. Terus kadang si abang ini suka baper sendiri kalo abis lihat masa depan yang nggak bagus dan bikin orang-orang yang nggak tahu apa-apa jadi bingung. Tapi yaa apapun yang dia lakukan tetep aja saya suka wkwkwk, Yoo So Joon mah bebas lah!

The Heroine

Song Ma Rin Slay
Sebenernya salah satu alasan kenapa saya nonton drama ini awalnya adalah karena pemerannya Shin Min Ah. Saya nggak ngefans sama aktris ini, tapi saya percaya sama dia karena drama-dramanya nggak mengecewakan. Karakter Song Ma Rin disini sebenernya juga bukan hal baru dari Shin Min Ah, yang emang biasa main rom-com dengan peran cewek 'ancur' dan jauh dari feminim. But no complain, Shin Min Ah tahu apa yang dia kuasai dan dia memainkannya dengan sangat baik.

Awalnya saya juga nggak begitu seneng sama tokoh Ma Rin karena terlalu mendramatisir 'kehancuran' hidupnya dan terlalu over thinking. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin kita semua juga begitu. Bedanya, Song Ma Rin bilang apa yang dia rasain dan pikirin sedangkan kita enggak. Yah, Song Ma Rin is all of us, menurut saya.

Hal yang saya suka dari tokoh Ma Rin adalah dia nggak pasif sebagai tokoh utama wanita, yang biasanya cuma nerima dan ngikutin aja apa yang dilakuin sama tokoh utama pria. Kadang saya suka kesel sama drama yang terlalu memfokuskan tokoh pria-nya dalam hubungan, seolah si wanita cuma pelengkap dan pemanis drama aja. Song Ma Rin ini berperan aktif dalam hubungan mereka, nggak berat sebelah So Joon terus yang berusaha dan mengekspresikan cintanya; sekaligus di drama secara keseluruhan. Yang saya suka juga, Ma Rin berperan jadi istri yang selalu ada pas So Joon lagi sedih dan kesusahan karena kegiatan time traveling-nya itu. 

The Best Friends

This what truly friendship is LOL
Best friend step up when you got into trouble :D
Di drama ini, hampir semua pemerannya adalah aktor dan aktris yang baru saya lihat. Biasanya pemeran pembantu yang berada di sekitar peran utama itu muka-muka yang udah familiar, tapi di drama ini banyak banget yang baru buat saya. Jadi saya nggak punya prediksi giman akting mereka dan nggak berekspektasi lebih. Pas awal-awal drama ini, saya kira para pemeran pembantu itu cuma akan jadi pelengkap cerita aja.

Tapi ternyata enggak, lagi-lagi drama ini di luar ekspektasi saya. Dua pemeran utama kita ini punya sahabat masing-masing, dan mereka adalah truly best friend. Nggak ada kejahatan dramatis yang dilakuin sama para sahabat itu, yang biasanya suka ada dalam drama. Mereka ya emang bener-bener sahabat, yang selalu bantuin dan ada dalam suka dan duka. Mereka juga rela tempatnya didatengin malem-malem pas pasangan kita ini berantem hahaha. Dan baguslah, drama ini nggak nambah-nambahin masalah dengan membuat karakter sahabat yang berkhianat atau nikung.

Dan terutama karakter So Ri, sahabatnya Ma Rin. Saya bener-bener baru lihat dia di drama ini, dan salut sama sahabat macam gini. Dia dengan tulus dukung Ma Rin dalam berbagai hal, dari karir sampai percintaan. Dan ketika sahabatnya udah sukses dan bahagia duluan, dia sama sekali nggak memiliki complex akan hal itu. Bahkan dia selalu setia jadi pendengar dan tempat curhat Ma Rin kapanpun. Sampai-sampai saya berdoa semoga kisah So Ri juga bahagia, meski nggak diperlihatkan di drama, karena dia bener-bener sahabat yang baik.

The Villain

The Psycho
Awalnya saya kira yang akan jadi tokoh antagonis itu istri dari Kim Yong Jin, Geun Sook, yang emang dari dulu nggak akur sama Ma Rin. Tapi ternyata justru orang ini yang jadi peran jahatnya. Dia jahat sedikit banyak karena keadaan sekaligus ketamakan dia akan uang sih, yang jadinya kacau sendiri.

Ini orang psycho abis ya, saya suka kesel dan kadang ngeri sendiri kalau dia lagi beraksi. Tapi satu hal yang saya suka dari aktor ini adalah akting-nya yang natural. Saya suka gaya bicaranya yang seolah emang gaya ngomongnya begitu, nggak di-script. Terus ekspresi nya juga natural, meski natural psycho ya haha. Tapi tokoh antagonis ini nggak kayak tokoh antagonis biasanya yang jahatnya kebangetan, devil abis, yang pokoknya bener-bener serem deh. Tokoh ini menurut saya masih ada sisi-sisi manusiawinya, kayak saat dia freak out setelah melakukan kejahatan.

The Storyline and Ending


Sebenernya alur dari drama ini agak ngebingungin, apalagi buat saya yang suka nonton drama dicepet-cepetin dulu baru saya tonton ulang semuanya (biar spoiler). Tapi saya sarankan kalau nonton drama ini jangan dicepetin, karena justru nggak akan ngerti ceritanya. Dan juga nggak berasa esensi deg-degan dari misterinya kalau nontonnya nggak urut dan dicepetin.

Hal yang saya rasa agak ngebingungin itu fokus dari drama ini. Pas nonton episode awal-awal, saya pikir permasalahan utama drama ini adalah kematian So Joon dan Ma Rin di masa depan dan bagaimana So Joon berusaha menggagalkan hal itu. Tapi kesini-sini, fokus permasalahannya jadi agak bergeser dari masalah awal. Saya nggak akan bilang apa fokus masalah yang baru itu, yang jelas di drama itu jadi sangat fokus ama masalah yang baru muncul itu. Permasalahan pertama yang saya kira fokusnya ternyata memudar; eh entah memudar atau emang bukan itu fokus utamanya sih hehe.
Tapi pas ditonton, ngerti juga sih. Saya sempet nething kalau permasalahan baru itu dibuat baru aja (hahaha jelek banget pikiran saya ya), tapi kayaknya enggak. Semua yang terjadi emang berkaitan satu sama lain sejak dari episode pertama sampai terakhir. Mianhae, scriptwriter-nim!

Mendekati ending, saya sempet ikut keder antara mana masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Habis semuanya kayak bertumpu di satu tempat dan beririsan satu sama lain. Terus sempet bingung mana So Joon yang sebenernya, mana Ma Rin yang sebenernya; karena adanya masa-masa itu. Sampai sekarang juga masih suka bingung dan nyaru sih kalau inget bagian itu.

Dan untuk ending, sangat di luar ekspektasi karena saya nggak zonk sama ending dari drama ini. Sebenernya karena nggak banyak ending drakor yang bikin saya puas, dan selama ini banyak ending yang zonk; saya bener-bener nggak berharap banyak sama ending dari drama ini. Saya bahkan udah siapin mental kalau-kalau endingnya mengecewakan, zonk, "kok gitu?", dan semacamnya.

But, again, drama ini di luar ekspektasi. Ending drama ini saya bilang cukup baik, dan saya puas dengan endingnya. Mungkin ada hal minor (atau menurut saya aja itu minor hehe) yang dibiarkan menggantung, tapi jsedikit open ending ustru hal semacam itu adalah selera saya. Endingnya nggak muluk, nggak zonk, nggak se-open ending drama Cheese in Trap; nggak mengecewakan menurut saya. Itu memang hal yang terbaik buat semua orang, terutama buat para penonton yang ngikutin dari episode awal hahaha.

Agak OOT, tapi ngomongin ending bikin saya tahu-tahu keingetan Reply 1988. Coba aja ending drama itu nggak mengecewakan, pasti Reply 1988 bakal jadi drama favorit saya sepanjang masa haha. Tapi yah, yaudahlah. Junghwan aja udah move on, ayo kita juga move on :D

Others

Chemistry jjang!
Drama ini berkali-kali mematahkan prediksi dan selalu melebihi ekspektasi awal saya. Saya sempet nggak yakin chemistry antara Shin Min Ah dan Lee Je Hoon bakal bagus, dan sempet khawatir juga gimana mereka berperan jadi suami istri. Apalagi kita semua tahu kalau Shin Min Ah itu ceweknya Kim Woo Bin dan saya nggak pernah pengalaman nonton Lee Je Hoon di drama romantis. Tapi pas nonton, saya berkali-kali kagum sama mereka berdua dan drama ini. Mereka bener-bener kayak suami istri, sampai saya lupa sama sosok Kim Woo Bin di dunia ini hahaha.

Karena chemistry-nya bagus, saya jadi sepenuh hati nontoninnya. Saya suka kedua aktor dan aktris ini totalitas dalam peran mereka, terus jadi kebawa-bawa bapernya hubungan mereka. Kadang meskipun aktingnya bagus, tapi ada aja drama yang saya nggak dapet chemistry-nya dan akhirnya bikin saya males nontonin.

Dan produser drama ini don't give a damn, kehidupan rumah tangga ya digambarin sebagaimana kehidupan rumah tangga normalnya gimana. Banyak scene di drama ini yang bikin saya kagum karena relatable banget, terutama soal perbedaan perspektif pria dan wanita; juga gimana mereka berusaha buat menyesuaikan satu sama lain. Saya sangat suka bagian-bagian itu.

Calm colors mostly used in this drama
Saya nggak begitu paham soal setting, lighting, atau semacamnya yang ada dalam produksi film; tapi yang jelas saya suka warna-warna yang ada dalam drama ini. Drama ini hampir selalu menggunakan warna-warna kalem yang enak di pandang mata, nggak terlalu terang atau gelap. Dari kostum pemain, latar luar ruangan, sampai perabot rumahnya pun pakai warna kalem. Saya nggak tahu sih apa ada tujuan tertentu kenapa produser drama ini pakai warna-warna kalem, tapi yang saya rasain sih itu bikin enak aja nontonnya. Juga bikin gambar drama ini terlihat lebih berkelas, menurut saya.

Saya juga kepikiran, kalau warna-warna kalem itu bikin meredam kebingungan saya dalam nontonin alur drama ini. Abis ya, saya emang bingung; tapi karena enak aja ditontonnya dan nggak tahu kenapa ngerasa efek dari warnanya yang kalem itu bikin saya terus nontonin. Hahaha ini murni asumsi dari apa yang saya rasain, sih.

Warna latar juga berbeda pas di masa sekarang dan masa depan. Awalnya saya masih suka nyaru buat ngebedain mana masa sekarang dan masa depan, apalagi kalau nggak ada tanggalnya. Atau kalau ada tanggalnya tapi sub-nya nggak muncul jadi saya juga nggak tahu itu tanggal berapa haha. Tapi keliatan perbedaan warna latar kalau lagi di masa depan, kayak lebih gelap tapi tingkat contrast-nya (yang kalau kita pakai buat edit foto tuh) tinggi. Jadi gelap terang gitu, gimana ya saya susah ngejelasinnya. Pokoknya gitu deh, bisa perhatiin sendiri kalau nonton ya :)

Drama Another Oh Hae Young
Dan dari awal entah kenapa saya agak ngerasa kalau tema drama ini dengan drama Another Oh Hae Young itu mirip. Dua-duanya sama-sama bertema orang yang bisa melihat masa depan, walau dalam konteks yang berbeda. Terus saya inget kalau di AOHY digambarin teori kalau sebenernya masa lalu, masa sekarang, dan masa depan itu rekaan otak, kalau sebenernya semuanya udah ada dalam otak (yang sampai sekarang sebenernya saya nggak ngerti apa maksudnya haha). Nah, pas nonton di deket ending yang saya bilang sebelumnya kalau nyaru mana masa lalu, masa sekarang, dan masa depan; saya langsung inget drama AOHY. Mungkin konsepnya mirip-mirip begitu? Nggak ngerti juga sih.

Dua drama itu juga memberi pesan kalau apapun yang terjadi di masa depan, yang terpenting adalah hidup dengan maksimal pada masa sekarang. Di AOHY, menjalani masa sekarang dengan sebaik mungkin bisa menciptakan masa depan yang lebih baik. Sedangkan di drama ini, terlalu berfokus sama masa depan malah menghancurkan masa sekarang. Bahkan kadang apa yang So Joon lakukan demi mencegah hal buruk yang udah dia lihat di masa depan malah membuat hal buruk itu terjadi.

Final Thought


Drama ini mungkin bukan drama yang paling saya suka, tapi kemungkinan saya masih akan terus nontonin ulang. Pertama tentu aja karena So Joon hahaha. Dan secara keseluruhan, saya emang suka drama ini meski masih ada hal-hal yang sedikit membingungkan. Mungkin nanti saya jadi lebih ngerti haha.

Dan saya seneng banget nontonin our couple So Joon dan Ma Rin. Biasanya saya kalau udah suka sama drama yang chemistry-nya bagus, bakal tetep saya tonton ulang meski nggak full. Kayak Pinnochio yang saya seneng banget sama chemistry Lee Jong Sok dan Park Shin Hye disitu, yang meski dari segi cerita saya nggak begitu attached; tapi seneng aja nontonin ulang mereka berdua. Kemungkinan drama ini akan begitu juga kasusnya hehe.

Drama ini termasuk drama yang bikin saya salut karena berkali-kali melebihi ekspektasi saya, bikin berbagai prediksi awal saya salah. Drama ini mungkin nggak terlalu well-written (jeongmal mianhae, scriptwriter-nim!), tapi anehnya hasilnya tetep bagus gitu. Mungkin ini yang dibilang don't judge book by its cover, don't judge drama by its rating hahaha.

Dan soal rating, akhir-akhir ini saya sebisa mungkin nggak nyari tahu informasi atau baca artikel soal persaingan rating drama. Karena meski rating emang nggak menjamin segalanya, tapi informasi soal rating itu bakal mempengaruhi perspektif saya pas nonton; yang jadinya bikin males nonton. Jadi sekarang saya lagi berusaha nggak baca artikel-artikel dari dunia entertainment Korea, dan nonton apa yang saya suka aja. Itu jauh lebih baik dan objektif menurut saya.

Well, sekian review final dari drama ini. Terima kasih banyak buat Yoo So Joon, Song Ma Rin, dan semua tokoh Tomorrow With You yang nemenin saya selama kurang lebih tiga bulan ini. Terima kasih juga buat para produser, sutradara, kru, and of course tvN yang berjasa mempertemukan aku dengan abang So Joong *LOL*; berjasa membuat drama bagus ini maksudnya. Sekarang saya mulai ngerasa hampa dan sedih karena nggak ada So Joon yang menemani tiap weekend huhu. Apalagi pas ngikutin drama ini kebetulan saya emang nggak ngikutin drama lain. Jadi berasa banget kosongnya :(

Anyway, anyway; saya cukup merekomendasikan drama ini untuk ditonton. Terbukti kan dari niatnya saya bikin sampai dua kali review hahaha. Meskipun kembali lagi ke selera masing-masing sih ya, but this drama is worth trying :)

Selamat menonton!
Bonus : warning from Yoo So Joon :p

Kamis, 16 Maret 2017

Separuh Hati

Dunia,
Apa yang telah kau perbuat pada teman-temanku?

Lihatlah, kini keangkuhan meraja
Menggema dalam jiwa
Benteng-benteng mencipta jarak luar biasa
Tak ada lagi yang peduli dengan kumpulan kami
Semua berlari, semua berteriak
Semua menjauh

Tak ada lagi yang peduli
Hanya tahta dan nama yang kini bersemayam
Dalam hati

Lalu kami makin merasa sepi, makin merasa senyap
Hampa, kosong
Dan merasa tak berguna

Lalu kami hanya dapat tergugu dalam sunyi
Tak ada lagi yang peduli
Dan separuh hati kami terbang meninggi
Tinggi, dan terus meninggi

-REWRITE, 21 Oktober 2008-

Warna Warni

Kanvas warna-warni, warna tabrak lari
Mungkin memang tak indah, tapi membuat rindu
Ingin bertemu

Memang kebodohan yang nyata
Sekaligus menggores senyum, tak putus-putus
Malu-malu mengakui
Andai senyumnya untuk aku

Dan andai dulu tak bertemu!

Biar tak begini
Gumpalan dalam dada ini membuat sesak
Bila saja dapat kukatakan
Biar bulan melihat, biar matahari menonton
Tapi tak begini
Sungguh, opera sabun yang melelahkan

-REWRITE, 2009-

Sabtu, 04 Maret 2017

Lima Menit

Suara jam dinding berdetak di penghujung sepi
Membeli kesedihanku

Biru menyelimuti sekujur tubuhku

Tidak hangat, tidak dingin
Tapi meresap ke sukma

Lima menit, lima menit lagi

Ada sisa-sisa luka kemarin sore
Menunggu kering
Atau layu?

Ini lelah sekali
Ku jual saja sisa-sisa semuanya
Ku beri sia-sia

-3 Maret 2017-

Jumat, 24 Februari 2017

Mind, ANT(s), and Trolls

Sebelumnya saya mau bilang kalau tulisan ini bukan review film Trolls :D

Tapi saya memang akan mulainya dari Trolls. And sorry before, this writing (maybe) will contain minor spoilers~

Trolls, terutama Poppy sang tokoh utama, khas dengan ke-positif-an mereka dalam memandang segala sesuatu. Mungkin memang dicirikan dengan kebiasaan mereka bernyanyi dan menari, ciri khas sebagai film animasi untuk anak, namun dasarnya adalah pandangan positif yang selalu mereka pegang.

Trolls memiliki tubuh berwarna-warni yang indah, yang awalnya saya pikir tidak ada arti dari warna itu. Hanya karena, yah namanya juga kartun. Saya pikir begitu.

Namun ternyata warna-warni tubuh mereka dapat memudar menjadi semacam warna kelabu, dan layar menjadi seperti televisi hitam putih. Hal ini terjadi ketika mereka mulai berpikir negatif dan menghilangkan semua pikiran positif dari diri mereka.

Mungkin Trolls bukan film pertama yang memiliki nilai akan pentingnya pikiran positif. Namun sebelumnya jika saya menonton film semodel begitu yang membawa nilai semacam itu, saya hanya mengangguk-angguk dan membatin, ah namanya juga kartun.

Tapi karena kebetulan saya menonton film ini setelah memahami hubungan antara mind dan ANTs, saya mengangguk benar-benar dengan sepenuh hati. Ya, memang begitu adanya. Ya, itu bukan basa-basi kisah anak kecil semata.

Saya membaca mengenai ANTs ketika saya berada di posisi yang sangat buruk. Entah apakah orang lain pernah mengalaminya atau tidak, tapi saya tidak tahu harus mencari jalan keluar dari mana lagi atas situasi yang saya alami saat itu. Sampai akhirnya saya, mendekati putus asa, mengetik di mesin pencari: how to tame monster inside yourself.

Saat itu saya belum mengenal istilah ANT. Yang saya rasakan hanyalah ada sesuatu yang besar dalam diri saya, sesuatu yang buruk, sesuatu yang salah; yang mempengaruhi hampir keseluruhan hidup saya. Yang saya tidak tahu apa itu namanya, jadi saya juga tidak bisa bertanya pada orang lain mengenai hal itu.

Ketika mengetik kalimat tersebut, saya menemukan berbagai tulisan mengenai ANT. Kabar baiknya, ternyata itu bukanlah monster yang merupakan bagian dari diri saya, atau bahkan diri saya sendiri (yang mana ini adalah hal yang sangat saya takutkan). Kabar buruknya, ANT ternyata berpengaruh jauh lebih besar dari yang saya bayangkan.

ANT adalah Automatic Negative Thought(s), atau dalam bahasa sederhananya adalah pikiran negatif. Pikiran negatif sebenarnya bukan hal yang baru lagi, sudah sering kita dengar. Setiap saya membaca berbagai tips tentang kehidupan, hampir selalu berisi: hindari pikiran negatif. Tapi hampir setiap membaca juga, saya hanya ber-ya ya ya. Tidak menanggapi dengan serius hal itu. Ayolah, siapa yang tidak tahu kalau kita harus menghindari pikiran negatif?

Namun dengan konsep ANTs tersebut, saya jadi lebih menyadari betapa besar peranan pikiran negatif itu. Seperti yang ditulis di salah satu situs yang saya baca, kita harus belajar menghentikan ANTs atau mereka akan menghancurkan hidup kita.

Dan itu benar. Saya mengalaminya.

ANTs dianalogikan seperti semut (ant) yang muncul saat kita piknik, saya mengutip dari salah satu situs yang saya baca. Kalau jumlahnya hanya satu atau dua, mungkin tidak akan menjadi masalah. Tapi kalau yang datang segerombol semut, mereka akan membuat kita harus pindah dari tempat piknik itu. Menghancurkan piknik kita.

Begitu juga dengan peranan ANTs dalam pikiran kita. Ketika muncul satu dua pikiran negatif, kita membiarkan pikiran itu menyatakan diri dengan kuat sehingga kita pikir itu adalah hal yang benar. Pikiran kita menyetujui apa yang ANTs katakan, dan pikiran itu menggerakkan tubuh kita, mengontrol apa yang akan kita lakukan. Dan akhirnya, ANTs itu menjadi kenyataan.

Analogi sederhananya begini: saya berniat ingin mempelajari sesuatu yang baru, tapi muncul di kepala saya pikiran negatif bahwa, ah sudah susah mempelajari hal yang baru lagi umur segini. Pikiran saya pun membenarkan pikiran negatif itu, dan beranggapan ya sudahlah buat apa belajar kalau nggak akan bisa. Akhirnya saya tidak melakukan apa-apa untuk mempelajari hal baru itu karena berpikir akan percuma saja. Akhirnya, pikiran negatif tadi menjadi kenyataan; bahwa saya tidak bisa mempelajari hal baru.

Bagaimana menghadapinya?

ANT-eater.

Kita bisa menuliskan ANTs yang muncul di kepala kita, lalu hadapi satu persatu mereka. Konfrontasi, talk back. Apakah memang pikiran-pikiran itu benar?

Misalnya soal yang tidak bisa mempelajari hal baru tadi. Saya tulis ANT itu, lalu saya pikirkan baik-baik, apakah itu benar? Saya tulis lagi balasan  dari saya, siapa bilang tidak bisa? Toh saya belum mencobanya. Toh itu masa depan yang belum saya alami, dan saya bukan peramal yang bisa menebak apa yang terjadi di masa depan.

Dan cara ini sangat, sangat efektif. ANTs seperti kabut yang menutupi pikiran, begitu dilawan habis; semua jadi tampak lebih terang. Hati pun lebih ringan. Dan yang terpenting, hal-hal yang tadinya tampak salah dan tidak ada harapan; jadi terlihat jauh lebih baik.

Dan saya dapat melangkah lagi. Setelah dihambat oleh ANTs itu.

Haruskah ditulis? Saya sarankan iya. Karena ketika menulis, apa yang kita pikirkan lebih terstuktur dan jelas. Selama masih dalam kepala, ANT berputar kesana-kemari, menggaet ANT-ANT lainnya; menurut saya. Jadi lebih baik segera tuliskan ANTs supaya kita bisa berpikir logis untuk membalas dan menghadapi mereka.

Pertama, yang paling mendasar, kita semua perlu mengakui keberadaan ANT itu. Dan saya rasa hal itu memang tidak mudah, mengingat ANTs adalah hal buruk, dan tidak ada yang suka mengingat hal buruk. Selama ini saya selalu mengalihkan pikiran saya jika ANTs muncul, menunda untuk membahasnya dengan diri saya.

Tapi yang namanya menunda, suatu saat ia akan datang lagi. Beserta rombongan. Karena ANTs yang terlalu lama berdiam dalam kepala akan berkembang menjadi ANTs lainnya dan lebih banyak. Kalau sudah terlalu banyak, mereka akan semakin mengontrol pikiran kita. Dan kelanjutannya adalah, pikiran mengontrol tindakan kita. Dan tindakan membentuk keseluruhan hidup kita.

Karena itulah saya jadi lebih bisa relate ketika menonton film Trolls.Ya, memang sedemikian besarnya peranan pikiran negatif atau ANTs. Yang di dalam film itu dapat merubah warna seseorang, membuat hidupnya kusam dan suram. Bukan bullshit atau overdrama, tapi memang begitulah kenyataannya.

Saya pernah membaca sebuah manga berjudul QQ Sweeper, yang menceritakan tentang pembersih (ini bahasa saya saja, saya lupa apa istilahnya di manga itu) yang tugasnya membersihkan ruangan kotor; yang ternyata hati manusia. Di ruangan itu banyak berbagai serangga yang membisikkan pikiran-pikiran negatif pada pemilik hatinya. Untuk membersihkan ruangan itu, seorang pembersih harus berani mengusir dulu serangga-serangga itu. Kalau si pembersih takut, serangga akan semakin besar. Tapi kalau si pembersih berani, serangga-serangga itu yang akan takut dan dapat diusir dengan mudah.

Jadi daripada membiarkan ANTs terus memakan pikiran kita, memakan akal sehat kita, kita perlu mulai memberanikan diri untuk mengakui keberadaan mereka. Dengan begitu, kita baru bisa menghadapi mereka perlahan-lahan. Sampai habis.

Ketika mereka muncul, hadapi lagi. Terus begitu. Seperti halnya tubuh yang kotor dan perlu dibersihkan setiap hari, begitu juga pikiran kita. ANTs harus terus disapu bersih, kalau tidak mereka akan terus menggerogoti pikiran kita.

Saya menulis tulisan ini tidak dalam rangka apapun. Tidak dalam rangka mengikuti lomba, give away, tugas kampus (sok masih jadi mahasiswa :D), atau semacamnya. Hanya saja saya rasa, sayang sekali kalau saya sudah memahami soal apa itu ANTs, soal hubungan tiga hal dari judul tulisan ini; tapi tidak saya share kepada orang-orang. Benar-benar sayang sekali.

Bukannya saya jadi orang yang tiba-tiba memperhatikan dunia sosial, kemanusiaan, dan semacamnya. Saya hanya pernah mengalami bagaimana ANTs benar-benar mempengaruhi hidup saya, membuat saya benar-benar kehilangan arah hidup; dan  bahasa ekstrimnya mungkin itu semua membuat saya 'lumpuh' karena tidak bergerak dengan berarti dalam hidup saya. Saya pernah mengalami semua itu, mengalami bagaimana tidak berdayanya dan kacaunya keadaan itu. Jadi saya berharap dengan tulisan ini dapat sedikit membantu orang-orang yang mungkin mengalami keadaan seperti saya.

Tapi kalau ditanya, apakah saya ditolong oleh situs-situs ANTs dan para ahli yang menjelaskan dengan detail?

Saya akan menjawab dengan tegas: tidak. Bukan mereka yang menolong saya.

Allah yang menolong saya. Dia yang menuntun saya memiliki sisa-sisa kesadaran untuk menyelamatkan diri saya, yang berujung dengan menemukan berbagai penjelasan logis mengenai ANTs. Sebelumnya, saat saya masih tidak tahu harus apa, saya hanya bisa berdoa: Ya Allah, tolong selamatkan aku. Selamatkan aku.

Dan Allah menyelamatkan saya. Dengan berbagai cara yang tidak pernah saya sangka.

Jadi yang terpenting adalah, jangan lupa berdoa dan terus berdoa. Karena bagaimanapun juga, pada hakikatnya kita adalah makhluk yang lemah dan tidak punya daya sama sekali, kalau Allah tidak memberikannya.

Kembali lagi soal ANTs, mungkin tulisan saya ini masih terlalu mengawang untuk memahami lebih mendalam soal konsep itu. Selengkapnya bisa dibaca melalui situs ini atau ini.

Selamat berjuang melawan ANTs. Semoga kita semua selalu dapat kembali menemukan jalan pulang :)

Sabtu, 18 Februari 2017

Majas

Mungkin kita potongan kayu yang layu tersiram hujan semalaman

Mungkin kita tetap teronggok di sudut, tertutup awan
Mereka bilang akan ada pelangi;
tapi jaman sekarang rumor lebih banyak didengar dibanding sepotong kata hati

Mungkin kita jiwa-jiwa indah yang terbentur sunyi
Tak lagi percaya pada matahari

Mungkin kita berani mencintai, tapi tak cukup berani untuk dicintai

-18 Februari 2017-

Selasa, 07 Februari 2017

A First Look at "Tomorrow With You"

New tvN drama!

Sama seperti review sebelumnya, sebelumnya saya mau menyampaikan kalau review ini hanya sekedar pendapat, prefensi, dan selera saya yang bukan ahli apapun; cuma seorang yang seneng banget nontonin drama. And this review will contain some spoilers :)
It's not official poster, but I really like this cut
Alasan saya mau nonton drama ini adalah karena para pemerannya. Saya nggak ngefans sama Shin Min Ah, tapi cukup sering nonton drama-dramanya karena bagus-bagus. Kalau Lee Je Hoon, saya belum nonton Signal tapi berhubung banyak review yang bilang kalau drama itu bagus; saya jadi tersugesti kalau aktingnya pasti bagus juga.

Untuk sinopsis sendiri, awalnya saya nggak begitu tertarik. Yang saya baca di internet kayak cuma: kisah time traveler dan wanita yang akan jadi istrinya. Cuma pas lihat trailernya, sedikit-sedikit mulai tergambar. Saya akan buat sinopsis sesuai dengan yang saya tonton dua episode pertama :)

Jadi drama ini bercerita tentang time traveler, Yoo So Joon (Lee Je Hoon) yang harus berurusan sama Song Ma Rin (Shin Min Ah) karena mereka meninggal di waktu yang sama pada masa depan. Yoo So Joon melihat dirinya dan Song Ma Rin di masa depan meninggal bersama di waktu yang sama, dan memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut siapa sebenernya Song Ma Rin itu di masa sekarang. Yoo So Joon berpikir, sebenernya karena 'hasutan' ajussi sesama time traveler, kalau Song Ma Rin mungkin aja kunci yang bisa menyelamatkan nyawanya.
Drama ini tayang di tvN setiap Jumat dan Sabtu, 20:00 KST.

Sebenernya ketika saya berpikir untuk buat review first two episodes untuk drama ini, nggak banyak yang bisa saya ulas. Karena menurut saya emang nggak banyak yang diperlihatkan di dua episode awal ini, cukup sederhana dan nggak rumit. Tapi tetep aja saya rasanya kepengen buat review nya haha.

Awal-awalnya saya agak kesel lihat tokoh Song Ma Rin, karena terlalu sensitif dengan pemberitaan tentang dirinya yang sebenernya bukan public figure. Juga dia yang kepedean dan kegeeran karena mikir Yoo So Joon suka sama dia.
What the... (1)
What the... (2)

Tapi kesini-sininya, saya mulai merasa simpati dan bisa relate dengan tokoh Song Ma Rin ini. Song Ma Rin adalah mantan aktris cilik, Bap Soon, yang sampai sekarang masih ada aja artikel tentang dirinya. Masalahnya, artikel-artikel itu menuliskan tentang 'kehancuran' hidup mantan aktris cilik Bap Soon; yang membuat orang masih aja inget dia tapi buat dicaci maki doang. Cukup ironis memang.

Hal yang bikin saya agak kaget adalah Yoo So Joon yang emang time traveler, penjelajah waktu dalam arti sebenarnya. Pas saya baca sinopsisnya (sebelum drama ini tayang), saya pikir time traveler yang dimaksud adalah orang dari masa lalu datang ke masa sekarang, atau orang dari masa depan datang ke masa sekarang; dan harus menetap di tempat yang ia datangi. Karena biasanya begitu kan yang ada di time travel drama.

Tapi Yoo So Joon ini emang penjelajah waktu secara harfiah, dia bolak-balik dari masa sekarang ke masa depan. Kalau mau pergi ke masa depan, dia tinggal naik kereta. Balik dari masa depan juga pulangnya naik kereta. Semacam komuter PP Jakarta-Bekasi wkwkwk.

Itu hal yang unik menurut saya, karena agak beda dari kisah time travel lainnya. Dan sempet bikin saya ngebatin, ih enak banget dia bisa ngelihat apa-apa di masa depan. Kita kan pasti sering punya pertanyaan-pertanyaan seputar gimana nanti, Yoo So Joon tinggal naik kereta dan lihat. Meski kalau dipikir lebih jauh, nggak seru juga sih kalau apa-apa udah tahu ya ~

Karena ini pertama kali saya nonton Lee Je Hoon sebagai lead, saya nggak punya banyak ekspektasi terhadap aktingnya. Dulu emang pernah nonton Architecture 101, tapi udah lama banget dan lupa. Sedangkan Signal juga belum nonton. Jadi saya nggak bisa membandingkan gimana aktingnya di drama ini. Tapi so far, saya seneng dengan tokoh Yoo So Joon yang tampak easy going tapi seolah menyimpan sesuatu yang besar (yang saya duga luka) dalam dirinya. Dan sempet terlintas kekhawatiran juga kalau sikap easy going yang seenaknya itu bakal bikin Yoo So Joon mendapat masalah nantinya. Tapi  semoga aja enggak. 

Seperti yang saya bilang sebelumnya, dua episode pertama ini nggak terlalu banyak memunculkan banyak hal. Pertemuan Yoo So Joon dan Song Ma Rin nggak diulur lama, dan nggak dibuat terlalu dramatis. Dari awal juga udah dibilang permasalahan utamanya, yaitu Yoo So Joon yang mau tahu siapa Song Ma Rin itu; padahal sebelumnya dia nggak pernah mau ikut campur sama hidup dan masa depan orang lain. Yang meski habis kenal dia jadi nyesel wkwkwk. 

Di luar itu, drama ini lebih banyak membahas bagaimana latar keadaan hidup Song Ma Rin dan Yoo So Joon. Dan saya menangkap kesan kalau drama ini nggak dengan sengaja menyimpan hal-hal 'besar' atau 'bagus', nggak maksain melakukan 'save the best for the last', nggak dengan lebay ngumpet-ngumpetin misteri yang niatnya biar orang penasaran tapi malah bikin bingung; dan itu justru membuat saya cukup nyaman dan menikmati nontonnya. Kayak lebih dilepas aja, jadi lebih mengalir ceritanya. Seperti fakta bahwa Yoo So Joon dan Song Ma Rin yang ternyata pernah bertemu beberapa tahun sebelumnya yang kemungkinan bakal jadi alasan pertalian takdir mereka; udah ditampilkan di episode dua.

Dua episode awal ini nggak wah, tapi steady. Memang drama ini punya tema misteri dan pertalian takdir yang besar, tapi nggak terkesan dibesar-besarkan. Sebenernya saya sempet inget drama Another Oh Hae Young pas nonton drama ini, karena agak mirip dari segi porsi episode pembuka menurut saya. Pelan-pelan menanjak, semacam itu lah. Karena itu saya jadi punya ekspektasi lumayan besar akan perkembangan plot drama ini. Meski takut juga tahu-tahu nanti zonk, tapi mudah-mudahan aja enggak.

Jadi tentu saja, saya akan terus melanjutkan nonton drama ini. Semoga ke depannya drama ini nggak mengecewakan :)
For some reason, I like this scene LOL