Senin, 01 Mei 2017

A First Look at "Man to Man"

Poster Drama Man to Man
Setelah beberapa minggu 'hiatus' dari dunia drakor karena menolak move on dari Tomorrow With You dan abang So Joon (hahaha), saya mulai berniat ngikutin drama lagi dengan menjatuhkan pilihan pada drama JTBC Man to Man. Drama ini sebenernya salah satu drama yang saya tunggu di tahun 2017, murni karena masih greget sama pesona Yoo Jung Sunbae (tokoh Park Hae Jin di Cheese in The Trap) ini.

Cuma karena baca sinopsisnya dan mengestimasikan kalau drama ini termasuk kategori drama 'berat', saya mikir ulang. Akhir-akhir ini saya lagi nggak mood nonton drama yang berat dan serius, karena butuh tenaga ekstra dan lagi pengen nonton yang menghibur. Cuma setelah baca review nya di soompi, kok jadi penasaran pengen nonton juga and here I am, writing the review for its four first episodes.

Dan kenapa empat episode pertama? Karena saya nggak ngikutin drama ini dari awal tayang hahaha. Saya baru download dua episode pertama pas hari kamis atau jumat gitu, dan langsung lanjut download episode tiga dan empat karena ketagihan nontonnya.

Sinopsis singkat dari drama ini adalah seorang ghost agent dengan code name Agen K (Park Hae Jin) yang udah malang melintang di berbagai misi internasional. Agen K memiliki misi yang mengharuskan dia menyamar jadi bodyguard seorang hallyu star, Yeo Woon Gwang (Park Sun Woong). Dan otomatis, Agen K yang bernama samaran Kim Seol Woo ini harus berurusan juga sama Cha Do Ha (Kim Min Jung) yang merupakan manajer sekaligus fans nomor satu dari Yeo Woon Gwang.

Review ini akan berisi hal-hal yang menurut saya menarik dari drama Man to Man, karena itu bisa dibilang ini adalah penilaian yang cenderung subjektif. Saya juga bukan seorang ahli atau expert bidang tertentu, jadi ini cuma pendapat, preferensi, dan selera seorang yang suka banget sama drakor :D

*and this review maybe will contain some spoilers*


Park Hae Jin

The first, biggest reason is always this person
Sebenernya saya ketawa-ketawa sendiri saat nulis Park Hae Jin sebagai salah satu aspek besar dari review ini hahahaha. Tapi gimana dong, saya suka banget Park Hae Jin di drama ini, dia bersinar sempurna haha. Dan tanpa mengecilkan peranan cast lain di drama ini tentunya, saya cuma mau berbagi kekaguman saya dan kekerenan aktor yang satu ini.

Saya emang berniat nonton drama ini karena sangat melting dengan sweet dan cute yang berbalut misterius-nya Yoo Jung Sunbae di Cheese in The Trap, tapi Park Hae Jin di drama ini bikin saya lupa sama sosok Yoo Jung. Biasanya kalau nonton drama dengan aktor yang sama, kita masih akan menangkap glimpse sosok peran di dramanya yang lama; apalagi kalau tokohnya berkarakter kuat kayak Yoo Jung. Tapi ini enggak sama sekali, dan itu udah jadi point keren buat saya.

Saya suka peran Park Hae Jin disini, terasa lebih lively dan manusiawi hahaha. Karena dia seorang agen, dia harus menyamar menjadi berbagai peran dan awalnya agak sulit menerka gimana sifat dari tokoh Kim Seol Woo. Tapi sifat aslinya mulai kelihatan saat dia berinteraksi sama sesama agen, dan disitu dia lebih 'hidup'. Dan cute hahaha. Saya suka karena dia nggak lagi-lagi mengambil peran sebagai orang yang cool-keren-pendiam gitu, agak bosen aja lihat peran begitu di drakor. Kalau pas Yoo Jung dulu saya baru melting ketika dia mulai keliatan sweet dan cute, sama tokoh Park Hae Jin di drama ini udah melting sejak episode awal :D

Yang saya perhatiin lagi dari akting Park Hae Jin adalah sorot matanya, dia bisa banget mengatur sorot mata sedemikian rupa yang bikin aktingnya terasa makin nyata. Mungkin ini juga yang bikin saya lupa sama Yoo Jung, karena sorot mata dan aura Kim Seol Woo disini beda sama Yoo Jung. Bahkan ketika dia lagi bertindak sebagai cowok cool dan pendiam yang sekilas kayak sifatnya Yoo Jung, misalnya saat dia nyamar; auranya pun beda sama aura Yoo Jung.

Selain itu, akting Park Hae Jin detail banget. Raut wajah udah pasti ya, tapi hal-hal kecil kayak kerutan kening, gerakan alis, dan hal-hal detail lainnya itu jelas terlihat banget dan itu sungguh apik. Baru kali ini saya merhatiin akting aktor segininya, karena saya bukan orang akting juga kan tahu apa gitu haha. Tapi mau nggak mau saya merhatiin karena terlihat, dengan bagus tentunya, dan bikin saya makin seneng lihat oppa yang satu ini. Yaa selain karena di drama ini dia sangat amat ganteng tentunya hahaha.

Eye movement when he's like; hah? or ha ha ha

The Casts


Hal yang suka saya perhatikan juga saat nonton drama adalah siapa aja cast-nya, dan itu berlaku buat pemeran utama maupun pemeran lainnya. Untuk pemeran utama sendiri, saya belum pernah nonton drama atau film-nya Park Sung Woong, tapi dari yang saya lihat di internet dia termasuk aktor senior jadi saya nggak khawatir. Dan aktingnya pun emang nggak diragukan lagi. 

Sedangkan Kim Min Jung, saya nonton drama dia pas jaman Fashion 70's. Dan nggak tahu kenapa seneng aja lihat unnie ini meski nggak ngikutin drama-dramanya, cuma Fashion 70's dan Gapdong kalau nggak salah yang saya tonton. Cantik enak dilihat gitu, matanya belo banget hahaha. Dan tentunya aktingnya juga bagus.

Fangirl's thought LOL

Saya justru agak kaget pas lihat cast lain diluar mereka bertiga (Park Hae Jin, Park Sung Woong, dan Kim Min Jung), karena banyak banget wajah-wajah familiar yang sering muncul di drakor. Mereka mungkin bukan peran utama, tapi saya sering lihat mereka di drama-drama lain berperan jadi orang penting. Jadi saya kaget mereka disatuin dalam satu drama. Ini mungkin bisa dibilang prejudice ya, tapi dengan banyak aktor dan aktris kawakan tersebut bikin saya menilai kalau ini bukan sembarang drama, kalau kemungkinan drama ini emang drama bagus.

The Sparks


Pas saya baca sinopsis drama dan review di soompi, saya memperkirakan kalau hubungan yang bakal terjadi adalah bromance antara Kim Seol Woo dengan Yeo Woon Gwang dan romance antara Kim Seol Woo dengan Cha Do Ha atau Yeo Woon Gwang dengan Cha Do Ha. Perkiraan awal saya nggak sepenuhnya benar, meski nggak sepenuhnya salah juga.

Soal bromance, saya rasa antara nggak begitu terbangun antara Kim Seol Woo dengan Yeo Woon Gwang, atau belum mungkin ya. Justru bromance terlihat banget saat Kim Seol Woo lagi bareng salah satu sesama agen yang sekarang jadi jaksa. Sejauh ini yang saya lihat, Yeo Woon Gwang mungkin emang nganggep Kim Seol Woo salah satu orang terdekat karena udah menyelamatkan nyawanya, tapi buat bromance belum begitu terlihat.

Untuk romance antara Kim Seol Woo dan Cha Do Ha, saya rasa udah terlihat dari awal dan saya sangat-sangat menunggu kelanjutan dari hubungan mereka. Kenapa? Simply because I'm always into and go for romance! Hahaha. Terlebih lagi dua orang ini punya chemistry yang cukup bagus, secara visual juga enak dilihatnya :D

Memang ada beberapa scene yang membuat tokoh Cha Do Ha terlihat agak annoying, mungkin karena dia fangirl garis keras ya. Tapi saya berusaha memahami Cha Do Ha karena saya juga fangirl garis keras dan menempatkan diri di posisis dia hahaha. Hal lain yang justru suka bikin saya bertanya-tanya adalah kenapa Cha Do Ha seneng banget ngajak orang ngomong berdua dengan serius atas hal yang menurut saya sepele? Ini agak mengingatkan saya sama tokoh Kang Mo Yeon di DOTS sih, mungkin karena penulis naskahnya co-writer DOTS ya. Itu bukan hal buruk sih, cuma gimana yaa agak mengganjal aja hehe.

Tapi untuk scenes yang mengarah ke romance, saya nggak ada masalah sama sekali bahkan nunggu-nunggu haha. Kemungkinan alur kisah romance nya agak ketebak sih dan mungkin akan ada beberapa bad boy doing di dalamnya, karena Kim Seol Woo adalah agen yang terbiasa manfaatin situasi untuk misinya. But I have no complain, karena selama ngelihat Park Hae Jin sweet kenapa enggak hahaha.

Untuk romance antara Yeo Woon Gwang dan Cha Do Ha, saya malah belum menemukan tanda-tandanya. Cha Do Ha emang fangirl garis keras yang mengutamakan oppa-nya itu diatas segalanya (hahaha ngakak sendiri nulisnya), tapi entah kenapa nggak terasa romance-nya. Terlebih lagi ngelihat perlakuan Yeo Woon Gwang ke Cha Do Ha, yang menurut saya lebih kayak kakak ke adik.

Ya, semoga akan terus begitu tanpa perlu ada kisah love triangle yang dramatis, karena saya benar-benar capek nontonin drama model begitu. Mungkin para penulis dan produser drama korea harus lebih sering bikin drama tanpa ada kisah love triangle yang cuma bikin second lead tersiksa padahal semua orang kan berhak bahagia hahaha. Lagian juga, saya udah menemukan banyak drama kok yang tanpa ada love triangle yang klise pun bisa jadi drama bagus; kayak The K2 dan tentunya Tomorrow With You *tetep dong wkwk*

The Tone and Storyline


Hal yang paling bikin saya kaget dari drama ini adalah tone drama yang ternyata nggak se-'berat' yang saya kira. Dengan sinopsis dan tema agen rahasia, saya awalnya nebak kalau drama ini adalah drama yang berat dan serius, mungkin semodel The K2 gitu. Tapi ternyata enggak, bener-bener enggak. Drama ini jauh lebih 'ringan' dibanding perkiraan awal saya, salah satunya terlihat dari 'warna' setting drama yang terang dan cerah; nggak melulu berunsur dark. Dan yang bikin saya kaget adalah ternyata banyak adegan-adegan komedi yang bikin ngakak.

Cuma bukan romantic comedy juga. Saya jadi bingung sendiri buat mendeskripsikan drama ini, karena berbagai aspek ada disini dan semuanya dapet banget. Action-nya bagus, romance-nya bagus, comedy-nya bagus, unsur politiknya juga ada. Bisa dibilang kalau drama ini cukup 'berani' karena mencakup berbagai hal. Itu bukan hal yang buruk tentunya, meski saya agak khawatir juga gimana kalau ke depannya drama ini kurang bisa mengatur semuanya dengan apik dan malah jadi berantakan karena terlalu banyak cakupan. Tapi semoga aja enggak, karena sejauh ini pun saya nggak terganggu nontonnya.

Soal banyak cakupan, hal itu juga berlaku di storyline drama ini. Pas nonton dua episode pertama, saya ngerasa kalau drama ini punya banyak layer cerita yang mungkin aja berhubungan satu sama lain; tapi buat saat ini belum terlihat karena masih awal juga. Hal itu terasa banget pas satu demi satu pemeran mulai dimunculkan terus saya agak kaget dan bikin saya berkomentar kayak; loh kok ada si ini, loh kok ada si itu, kayaknya dia bawa ceritanya sendiri deh; dan semacamnya.

And again, I have no complain about it. Sejauh ini saya cukup enjoy menikmati alur cerita yang disuguhkan dan nggak harus bikin mikir yang ngejelimet. Nggak ada misteri yang dibesar-besarkan biar penonton penasaran, atau belum ada? Semoga aja nggak ada, karena saya agak males sama misteri yang seolah besar banget tapi pas kebongkar cuma kayak; hah gitu doang?

Dari segi alur, saya agak berharap kalau akan muncul banyak twist yang menyenangkan nantinya. Maksud saya menyenangkan, ya twist yang bikin saya terkagum-kagum sama drama ini; terutama pada tokoh Yeo Woon Gwang sama Cha Do Ha. Abis kayaknya sayang aja kalau dua orang ini cuma jadi 'jembatan' Kim Seol Woo dalam mencapai misinya, padahal saya rasa tokoh mereka cukup kuat buat memiliki hal besar dan penting dalam drama.

Apalagi entah kenapa kok saya ngelihat kayaknya Yeo Woon Gwang ini menyimpan sesuatu yang besar ya, atau entah harapan saya aja karena kayaknya wasting aja kalau tokoh dia nggak ada twist atau sesuatu yang wah gitu. Saya sampe mikir kalau kayaknya Yeo Woon Gwang tahu deh si Kim Seol Woo ini agen rahasia, meski tentunya itu masih bagian dari harapan saya.

Kalau tokoh Cha Do Ha, saya udah agak nebak sih gimana peranan dia nantinya atas Kim Seol Woo; meski saya berharap dia bisa lebih dari itu. Saya agak berharap dia bisa lebih dari seorang wanita polos yang bisa bikin agen rahasia berhati dingin jatuh cinta dan melakukan hal lebih besar buat drama secara keseluruhan. Apalagi tokoh Cha Do Ha termasuk punya kepribadian kuat dan cukup ekstrim, yang bisa banget buat memegang peranan penting dalam cerita.

Hal lain yang saya suka dari drama ini adalah sound yang dipasang pas dengan setiap adegan, nggak ada adegan yang zonk tanpa backsound dan bikin garing. Saya beberapa kali bilang sih, kalau emang setelah nonton Another Oh Hae Young dan mengenal Park Do Kyung, suara-suara di drama dan film nggak sama lagi haha. Saya jadi lebih peka sama sound yang ada di drama, dan baru sadar kalau ternyata besar ya efeknya terhadap drama itu sendiri.

And?


Akankah saya terus mengikuti drama ini?

Of course, yes!

Saya bener-bener drawn into Park Hae Jin's charm & aura di drama ini, dan nggak menutup diri untuk tenggelam dalam aspek lainnya. Saya sih berharap drama ini bisa mematahkan semua perkiraan dan asumsi saya terhadap berbagai aspeknya, dalam arti positif dan menyenangkan tentunya. Karena kalau drama itu diluar ekspektasi, pastinya itu drama bagus dan akan jadi pengalaman yang sangat-sangat menyenangkan seperti kasus Tomorrow With You itu.

Anyway for now, let's just watch and enjoy! Saya nggak mau berharap banyak sih, karena biasanya kalau ekspektasinya terlalu tinggi nanti sakit pas kenyataan nggak sesuai harapan hahaha. Toh sejauh ini pun saya sangat menikmati nonton drama ini, dan nggak akan bosen mantengin Park Hae Jin untuk kurang lebih tiga bulan ke depan :D

This scene just LOLOL

Selasa, 28 Maret 2017

Tomorrow With You : After Story

Ini pertama kalinya saya 'niat' banget bikin review drama dua kali, pas baru nonton dua episode pertama sama setelah dramanya tamat. Saya sendiri juga nggak nyangka kalau bisa segini attached nya sama drama ini. Curiga saya sih mostly karena abang yang satu ini hahaha.
Source : Saram Entertainment Official Instagram
Tapi tentunya tulisan ini nggak hanya ngebahas abang itu dan kecintaan saya sama doi *haha*. Saya nggak akan ngebahas sinopsis drama ini karena udah saya tulis di review sebelumnya, dan akan ngebahas review drama ini dari beberapa hal. Dan yang pasti, review ini cuma dari kacamata saya yang bukan ahli apapun; sekedar penggemar drama korea veteran (?). Review ini akan mengandung beberapa spoiler, tapi saya akan usahakan sebisa mungkin nggak mengurangi esensi keseruan dan misteri dari drama ini.

The Hero

My Favorite!
Awalnya, saya bener-bener nggak tertarik sama tokoh Yoo So Joon dan mikir kalau cowok macam So Joon sama sekali bukan tipe saya. Saya bahkan nggak begitu tahu aktor Lee Je Hoon, cuma nonton di Architecture 101 dan saya nggak begitu suka film itu. Di episode awal-awal, So Joon ini cukup ngeselin dan rancu; nggak jelas apa sebenernya maunya, nggak jelas apakah dia beneran tertarik sama Ma Rin atau enggak. Pokoknya saya nggak ngelihat pesona dari So Joon, di awal-awal.

Tapi semakin kesini, terutama setelah mereka nikah, So Joon makin kelihatan aslinya yang ternyata sweet dan polos meski terkesan cuek dan seenaknya. Saya pikir So Joon nikahin Ma Rin cuma karena Ma Rin kunci yang bisa menyelamatkan dia, tapi ternyata So Joon jadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Sampai-sampai saya baper sendiri, mau satu yang begitu dong :D

Awalnya emang So Joon masih cuek, nganggep kalau nantinya mereka juga ngerti satu sama lain seiring berjalannya waktu. Tapi kemudian dia sadar pas Ma Rin marah sama dia, dan berusaha keras untuk memahami sama mengimbangi Ma Rin. Dan itu bukan hal yang mudah karena Ma Rin termasuk cewek unik yang suka macem-macem maunya. Tapi So Joon bener-bener menyesuaikan hidupnya dengan hidup Ma Rin, yang mana itu out of character banget dari seorang So Joon yang seenaknya. Dan justru itulah yang bikin abang ini terlihat semakin sweet dan bikin melting abis.

So Joon emang nggak lantas jadi serba romantis. Dia masih tetep kalau ngomong apa adanya dan blak-blakan, tapi keliatan dia berusaha menyenangkan Ma Rin. Dan justru itu yang bikin dia terlihat tulusnya, karena apa yang dia lakukan mikirin gimana Ma Rin, pokoknya berhubungan sama Ma Rin. Salah satunya adalah ketika So Joon masih sibuk bolak-balik ke masa depan buat ngurusin kelangsungan masa depan mereka, dia masih sempet kepikiran buat beliin Ma Rin oleh-oleh haha. Bikin baper abis lah abang So Joon ini pokoknya.

Yang agak saya nggak suka dari tokoh So Joon adalah dia terlalu fokus sama masa depan dan mengabaikan masa sekarang. Mungkin karena dia bisa ngelihat masa depan dan niatnya buat memperbaiki masa depan itu ya, tapi yaa kan gimanapun juga masa sekarang yang terpenting. Terus kadang si abang ini suka baper sendiri kalo abis lihat masa depan yang nggak bagus dan bikin orang-orang yang nggak tahu apa-apa jadi bingung. Tapi yaa apapun yang dia lakukan tetep aja saya suka wkwkwk, Yoo So Joon mah bebas lah!

The Heroine

Song Ma Rin slay
Sebenernya salah satu alasan kenapa saya nonton drama ini awalnya adalah karena pemerannya Shin Min Ah. Saya nggak ngefans sama aktris ini, tapi saya percaya sama dia karena drama-dramanya nggak mengecewakan. Karakter Song Ma Rin disini sebenernya juga bukan hal baru dari Shin Min Ah, yang emang biasa main rom-com dengan peran cewek 'ancur' dan jauh dari feminim. But no complain, Shin Min Ah tahu apa yang dia kuasai dan dia memainkannya dengan sangat baik.

Awalnya saya juga nggak begitu seneng sama tokoh Ma Rin karena terlalu mendramatisir 'kehancuran' hidupnya dan terlalu over thinking. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin kita semua juga begitu. Bedanya, Song Ma Rin bilang dan mengekspresikan apa yang dia rasain dan pikirin sedangkan kita enggak. Yah, Song Ma Rin is all of us, menurut saya.

Hal yang saya suka dari tokoh Ma Rin adalah dia nggak pasif sebagai tokoh utama wanita, yang biasanya cuma nerima dan ngikutin aja apa yang dilakuin sama tokoh utama pria. Kadang saya suka kesel sama drama yang terlalu memfokuskan tokoh pria-nya dalam hubungan, seolah si wanita cuma pelengkap dan pemanis drama aja. Song Ma Rin ini berperan aktif dalam hubungan mereka, nggak berat sebelah So Joon terus yang berusaha demi mereka berdua. Kayak misalnya sebelum nikah dia ternyata ikut kelas persiapan rumah tangga buat memahami pasangan dan jadi istri yang baik. Di drama secara keseluruhan, tokoh Song Ma Rin juga punya peranan aktif bukan sekedar pendamping tokoh pria.

Dan mungkin karena terbiasa menggantungkan hidup pada diri sendiri, Ma Rin nggak lantas begantung secara finansial sama So Joon. Meski notabene-nya So Joon itu presiden perusahaan besar, Ma Rin nggak langsung bergantung sama kekayaan So Joon. Dia tetep berusaha meningkatkan kualitas dirinya di bidang fotografi, tetep mengejar mimpinya meski udah nikah. Dan itu cukup buat saya salut, dia nggak kehilangan jati dirinya setelah jadi istri orang.

Yang saya suka juga, Ma Rin berperan jadi istri yang mendukung dan selalu ada pas So Joon lagi sedih dan kesusahan karena kegiatan time traveling-nya itu. Saya suka scene saat So Joon stres dan mabuk, terus pas pulang Ma Rin yang bukain kaus kakinya, buka jaketnya, terus diselimutin. Bener-bener istri banget gitu liatnya hehe. Saya juga suka gimana cara Ma Rin 'menyadarkan' So Joon yang terlalu fokus sama masa depan dan hampir menghancurkan masa sekarang, walaupun cukup ekstrim caranya hahaha.

Yang agak saya nggak suka dari tokoh Ma Rin adalah perbuatannya yang sempet plin plan, maunya apa tapi bilangnya apa. Sekarang bilang A terus bilang B. Atau mungkin cewek emang begitu? Hahahaha. Saya juga sempet kesel karena hal yang dilakuin Ma Rin masa depan yang bikin susah So Joon di masa sekarang; yang setelah saya pikir lagi yaa itu emang bentuk dari ke plin-plan-an nya.

The Best Friends

This what truly friendship is LOL
Best friend step up when you got into trouble :D
Di drama ini, hampir semua pemerannya adalah aktor dan aktris yang baru saya lihat. Biasanya pemeran pembantu yang berada di sekitar peran utama itu muka-muka yang udah familiar, tapi di drama ini banyak banget yang baru buat saya. Jadi saya nggak punya prediksi atas akting mereka dan nggak berekspektasi lebih. Pas awal-awal drama ini, saya kira para pemeran pembantu itu cuma akan jadi pelengkap cerita aja.

Tapi ternyata enggak, lagi-lagi drama ini di luar ekspektasi saya. Dua pemeran utama kita ini punya sahabat masing-masing, So Ri dan Ki Doong, dan mereka adalah truly best friend. Nggak ada kejahatan dramatis yang dilakuin sama para sahabat itu, yang biasanya suka ada dalam drama. Mereka ya emang bener-bener sahabat, yang selalu bantuin dan ada dalam suka dan duka. Mereka juga rela tempatnya didatengin malem-malem pas pasangan kita ini berantem hahaha. Dan baguslah, drama ini nggak nambah-nambahin masalah dengan membuat karakter sahabat yang berkhianat atau nikung.

Dan terutama karakter So Ri, sahabatnya Ma Rin. Saya bener-bener baru lihat dia di drama ini, dan salut sama sahabat macam gini. Dia dengan tulus dukung Ma Rin dalam berbagai hal, dari karir sampai percintaan. Dan ketika sahabatnya udah sukses dan bahagia duluan, dia sama sekali nggak memiliki complex akan hal itu. Bahkan dia selalu setia jadi pendengar dan tempat curhat Ma Rin kapanpun. Sampai-sampai saya berdoa semoga kisah So Ri juga bahagia, meski nggak diperlihatkan di drama, karena dia bener-bener sahabat yang baik.

The Villain

The Psycho
Awalnya saya kira yang akan jadi tokoh antagonis itu istri dari Kim Yong Jin, Geun Sook, yang emang dari dulu nggak akur sama Ma Rin. Tapi ternyata justru Kim Yong Jin ini yang jadi peran jahatnya. Dia jahat sedikit banyak karena keadaan sekaligus ketamakan dia akan uang sih, yang jadinya kacau sendiri.

Ini orang psycho abis ya, saya suka kesel dan kadang ngeri sendiri kalau dia lagi beraksi. Tapi satu hal yang saya suka dari aktor ini adalah akting-nya yang natural. Saya suka gaya bicaranya yang seolah emang gaya ngomongnya begitu, nggak di-script. Terus ekspresi nya juga natural, meski natural psycho ya haha. Tapi tokoh antagonis ini nggak kayak tokoh antagonis biasanya yang jahatnya kebangetan, devil abis, yang pokoknya bener-bener serem deh. Tokoh ini menurut saya masih ada sisi-sisi manusiawinya, kayak saat dia freak out setelah melakukan kejahatan.

The Mystery

Another time-traveler Ajussi
Saya mencantumkan ajussi sesama time-traveler ini sebagai misteri, karena emang ajussi ini memegang misteri yang sangat besar di drama ini. Saya nggak tahu apakah ini orang sebenernya baik apa jahat, apa niat dia sebenernya. Apalagi awal-awal nggak tahu dia ini siapa. Pun pas tahu dia sebenernya siapa, masih aja perbuatan-perbuatan dia itu mencurigakan dan bikin bertanya-tanya sebenernya dia ini niatnya dan tujuannya apa.

Selain ajussi ini, orang-orang dalam masa depan juga memegang misteri yang besar. Ma Rin di masa depan dan Ki Doong di masa depan ngasih tahu hal-hal yang akan terjadi tapi setengah-setengah. Dan membingungkan. Saya jadi kesel sendiri, kalo mau ngasih tahu ya kasih tahu semuanya. Orang-orang di masa depan itu, termasuk ajussi ini yang bolak-balik ke masa depan, justru malah bikin semuanya makin rumit. Soalnya apa yang mereka kasih tahu itu mempengaruhi So Joon di masa sekarang, dan apa yang akan dilakukan dia.

Tapi nggak akan seru dong ya kalau dikasih tahu semuanya sama orang-orang masa depan itu. Sejalan sih misterinya sama tema drama ini yang bahas tentang time traveler, masa sekarang dan masa depan. Dari drama ini saya jadi mikir kalau mungkin tahu masa depan nggak selamanya bagus juga. Kalau tahu spoiler ternyata nggak selamanya bagus hahaha.

The Storyline and Ending


Sebenernya alur dari drama ini agak ngebingungin, apalagi buat saya yang suka nonton drama dicepet-cepetin dulu baru saya tonton ulang semuanya (biar spoiler). Tapi saya sarankan kalau nonton drama ini jangan dicepetin, karena justru nggak akan ngerti ceritanya. Dan juga nggak berasa esensi deg-degan dari misterinya kalau nontonnya nggak urut dan dicepetin.

Hal yang saya rasa agak ngebingungin itu fokus dari drama ini. Pas nonton episode awal-awal, saya pikir permasalahan utama drama ini adalah kematian So Joon dan Ma Rin di masa depan dan bagaimana So Joon berusaha menggagalkan hal itu. Tapi kesini-sini, fokus permasalahannya jadi agak bergeser dari masalah itu. Saya nggak akan bilang apa fokus masalah yang baru itu, yang jelas di drama itu jadi sangat fokus ama masalah yang baru muncul itu. Permasalahan pertama yang saya kira fokusnya ternyata memudar; eh entah memudar atau emang bukan itu fokus utamanya sih hehe.

Tapi pas ditonton, ngerti juga sih. Saya sempet nething kalau permasalahan baru itu dibuat baru aja (hahaha jelek banget pikiran saya ya), tapi kayaknya enggak. Semua yang terjadi emang berkaitan satu sama lain sejak dari episode pertama sampai terakhir. Mianhae, scriptwriter-nim!

Hal yang agak membingungkan lagi adalah kejadian-kejadian di masa depan. Ada kejadian-kejadian di masa depan yang berubah karena So Joon di masa sekarang melakukan hal lain. Pas So Joon ke masa depan otomatis kita lihat kan scene di masa depan itu bakal gimana. Tapi kemudian pas masa depannya itu akhirnya terjadi, ternyata malah beda. Saya sempet bingung tuh, perasaan ada adegan ini di masa depan tapi kok jadi nggak ada ya? Setelah dipikir lagi, emang berubah masa depannya.

Mendekati ending, saya sempet ikut keder antara mana masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Habis semuanya kayak bertumpuk di satu tempat dan beririsan satu sama lain. Terus sempet bingung mana So Joon yang sebenernya, mana Ma Rin yang sebenernya, ada berapa So Joon dan Ma Rin; karena adanya masa-masa itu. Sampai sekarang juga masih suka bingung dan nyaru sih kalau inget bagian itu.

Dan untuk ending, sangat di luar ekspektasi karena saya nggak zonk sama ending dari drama ini. Sebenernya karena nggak banyak ending drakor yang bikin saya puas, dan selama ini banyak ending yang zonk; saya bener-bener nggak berharap banyak sama ending dari drama ini. Saya bahkan udah siapin mental kalau-kalau ending-nya mengecewakan, zonk, "kok gitu?", dan semacamnya.

But, again, drama ini di luar ekspektasi. Ending drama ini saya bilang cukup baik, dan saya puas dengan ending-nya. Mungkin ada hal minor (atau menurut saya aja itu minor hehe) yang dibiarkan menggantung, tapi justru sedikit open ending yang tersirat semacam itu adalah selera saya. Ending-nya nggak muluk, nggak zonk, nggak se-open ending drama Cheese in Trap; nggak mengecewakan menurut saya. Itu memang hal yang terbaik buat semua orang, terutama buat para penonton yang ngikutin dari episode awal hahaha.

Agak OOT, tapi ngomongin ending bikin saya tahu-tahu keingetan Reply 1988. Coba aja ending drama itu nggak mengecewakan, pasti Reply 1988 bakal jadi drama favorit saya sepanjang masa haha. Tapi yah, yaudahlah. Junghwan aja udah move on, ayo kita juga move on :D

Others

Chemistry jjang!
Drama ini berkali-kali mematahkan prediksi dan selalu melebihi ekspektasi awal saya. Saya sempet nggak yakin chemistry antara Shin Min Ah dan Lee Je Hoon bakal bagus, dan sempet khawatir juga gimana mereka berperan jadi suami istri. Apalagi kita semua tahu kalau Shin Min Ah itu ceweknya Kim Woo Bin dan saya nggak pernah pengalaman nonton Lee Je Hoon di drama romantis. Tapi pas nonton, saya berkali-kali kagum sama mereka berdua dan drama ini. Mereka bener-bener kayak suami istri, sampai saya lupa sama sosok Kim Woo Bin di dunia ini hahaha.

Bahkan saya suka nonton saat mereka berantem hahaha. Seneng aja ama interaksi kedua orang ini, sama dialog-dialog mereka. Abis ya berantem-berantem sweet gitu. Biasanya habis berantem mereka emang makin keliatan saling peduli satu sama lainnya. Jadi kelihatan gimana perasaan mereka yang sebenernya, kalau sebenernya ya maksud masing-masing memang untuk kebaikan mereka.

Karena chemistry-nya bagus, saya jadi sepenuh hati nontoninnya. Saya suka kedua aktor dan aktris ini totalitas dalam peran mereka, terus jadi kebawa-bawa bapernya hubungan mereka. Kadang meskipun aktingnya bagus, tapi ada aja drama yang saya nggak dapet chemistry-nya dan akhirnya bikin saya males nontonin. Dan saking senengnya sama chemistry So Joon dan Ma Rin, saya sampai sempet selintas berharap mereka jadi beneran. Tapi enggak deh, takut diteror Woo Bin wkwk.

Dan produser drama ini don't give a damn, kehidupan rumah tangga ya digambarin sebagaimana kehidupan rumah tangga normalnya gimana. Banyak scene di drama ini yang bikin saya kagum karena relatable banget, ya emang kehidupan nyata begitu. Terutama soal perbedaan perspektif pria dan wanita; juga gimana mereka berusaha buat menyesuaikan satu sama lain. Saya sangat suka bagian-bagian itu.

Hal lain yang saya suka juga, drama ini nggak macem-macem. So Joon emang orang kaya dan presiden perusahaan, tapi nggak digambarkan sebagai orang yang glamour dengan persaingan bisnis dramatis banget. Memang tokoh antagonis Kim Yong Jin itu jahat karena bisnis juga, tapi nggak se-dramatis dan kotor kayak yang biasa ada di drama tentang perebutan kekuasaan.

Juga tentang tema fantasi dan msiteri yang ada di drama ini. Memang ada misteri yang besar dan membingungkan meliputi drama ini, tapi nggak dibesar-besarkan. Nggak terlalu diheboh-hebohkan gitu. Yang emang udah waktunya terbongkar, ya terbongkar. Nggak terus diulur dan di-entar entar. Ada juga bagian-bagian yang diperlihatkan ke penonton tapi para tokoh belum tahu, jadi kita penasaran sama gimana tokoh itu nantinya tahu. Bukan kita juga ikutan nggak tahu dalam jangka waktu lama. Selama nontonnya teratur dan nggak dicepetin, saya rasa drama ini cukup bisa dipahami dengan baik.

Calm colors mostly used in this drama
Saya nggak begitu paham soal setting, lighting, atau semacamnya yang ada dalam produksi film; tapi yang jelas saya suka warna-warna yang ada dalam drama ini. Drama ini hampir selalu menggunakan warna-warna kalem yang enak di pandang mata, nggak terlalu terang atau gelap. Dari kostum pemain, latar luar ruangan, sampai properti yang digunakan pun pakai warna kalem. Saya nggak tahu sih apa ada tujuan tertentu kenapa produser drama ini pakai warna-warna kalem, tapi yang saya rasain sih itu bikin enak aja nontonnya. Juga bikin gambar drama ini terlihat lebih berkelas, menurut saya.

Saya juga kepikiran, kalau warna-warna kalem itu bikin meredam kebingungan saya dalam nontonin alur drama ini. Abis ya, saya emang bingung; tapi karena enak aja ditontonnya dan nggak tahu kenapa ngerasa efek dari warnanya yang kalem itu bikin saya terus nontonin. Hahaha ini murni asumsi dari apa yang saya rasain, sih.

Warna latar juga berbeda pas di masa sekarang dan masa depan. Awalnya saya masih suka nyaru buat ngebedain mana masa sekarang dan masa depan, apalagi kalau nggak ada tanggalnya. Atau kalau ada tanggalnya tapi sub-nya nggak muncul jadi saya juga nggak tahu itu tanggal berapa haha. Tapi keliatan perbedaan warna latar kalau lagi di masa depan, kayak lebih gelap tapi tingkat contrast-nya (yang kalau kita pakai buat edit foto tuh) tinggi. Jadi gelap terang gitu, gimana ya saya susah ngejelasinnya. Pokoknya gitu deh, bisa perhatiin sendiri kalau nonton yaa :)

Drama Another Oh Hae Young
Dan dari awal entah kenapa saya agak ngerasa kalau tema drama ini dengan drama Another Oh Hae Young itu mirip. Dua-duanya sama-sama bertema orang yang bisa melihat masa depan, walau dalam konteks yang berbeda. Terus saya inget kalau di AOHY digambarin teori kalau sebenernya masa lalu, masa sekarang, dan masa depan itu rekaan otak, kalau sebenernya semuanya udah ada dalam otak (yang sampai sekarang sebenernya saya nggak ngerti apa maksudnya haha). Nah, pas nonton di deket ending yang saya bilang sebelumnya kalau nyaru mana masa lalu, masa sekarang, dan masa depan; saya langsung inget drama AOHY. Mungkin konsepnya mirip-mirip begitu? Nggak ngerti juga sih.

Dua drama itu juga memberi pesan kalau apapun yang terjadi di masa depan, yang terpenting adalah hidup dengan maksimal pada masa sekarang. Di AOHY, menjalani masa sekarang dengan sebaik mungkin bisa menciptakan masa depan yang lebih baik. Sedangkan di drama ini, terlalu berfokus sama masa depan malah menghancurkan masa sekarang. Bahkan kadang apa yang So Joon lakukan demi mencegah hal buruk yang udah dia lihat di masa depan malah membuat hal buruk itu terjadi.

Final Thought


Drama ini mungkin bukan drama yang paling saya suka, tapi kemungkinan saya masih akan terus nontonin ulang. Pertama tentu aja karena So Joon hahaha. Dan secara keseluruhan, saya emang suka drama ini meski masih ada hal-hal yang sedikit membingungkan. Mungkin nanti saya jadi lebih ngerti :D

Dan saya seneng banget nontonin our couple So Joon dan Ma Rin. Biasanya saya kalau udah suka sama drama yang chemistry-nya bagus, bakal tetep saya tonton ulang meski nggak full. Kayak Pinnochio yang saya seneng banget sama chemistry Lee Jong Sok dan Park Shin Hye disitu, yang meski dari segi cerita saya nggak begitu attached; tapi seneng aja nontonin ulang mereka berdua. Kemungkinan drama ini akan begitu juga kasusnya :)

Drama ini termasuk drama yang bikin saya salut karena berkali-kali melebihi ekspektasi saya, bikin berbagai prediksi awal saya salah. Drama ini mungkin nggak terlalu well-written dari segi alur (jeongmal mianhae, scriptwriter-nim!), tapi anehnya tetep bagus gitu jadinya. Perpaduan berbagai hal yang ada di drama ini bikin enak dan seru aja ditontonnya. Mungkin ini yang dibilang don't judge book by its cover, don't judge drama by its rating hahaha.

Dan soal rating, akhir-akhir ini saya sebisa mungkin nggak nyari tahu informasi atau baca artikel soal persaingan rating drama. Karena meski rating emang nggak menjamin segalanya, tapi informasi soal rating itu bakal mempengaruhi perspektif saya pas nonton; yang jadinya bikin males nonton. Jadi sekarang saya lagi berusaha nggak baca artikel-artikel dari dunia entertainment Korea, dan nonton apa yang saya suka aja. Itu jauh lebih baik dan objektif menurut saya.

Well, sekian review final dari drama ini. Terima kasih banyak buat Yoo So Joon, Song Ma Rin, dan semua tokoh Tomorrow With You yang nemenin saya selama kurang lebih tiga bulan ini. Terima kasih juga buat para produser, sutradara, kru, and of course tvN yang berjasa mempertemukan aku dengan abang So Joong *LOL*; berjasa membuat drama bagus ini maksudnya. Sekarang saya mulai ngerasa hampa dan sedih karena nggak ada So Joon yang menemani tiap weekend huhu. Apalagi pas ngikutin drama ini kebetulan saya emang nggak ngikutin drama lain. Jadi berasa banget kosongnya :(

Anyway, anyway; saya cukup merekomendasikan drama ini untuk ditonton. Terbukti kan dari niatnya saya bikin sampai dua kali review hahaha. Meskipun kembali lagi ke selera masing-masing sih ya, but this drama is worth trying :)

Selamat menonton!
Bonus : warning from Yoo So Joon :p

Kamis, 16 Maret 2017

Separuh Hati

Dunia,
Apa yang telah kau perbuat pada teman-temanku?

Lihatlah, kini keangkuhan meraja
Menggema dalam jiwa
Benteng-benteng mencipta jarak luar biasa
Tak ada lagi yang peduli dengan kumpulan kami
Semua berlari, semua berteriak
Semua menjauh

Tak ada lagi yang peduli
Hanya tahta dan nama yang kini bersemayam
Dalam hati

Lalu kami makin merasa sepi, makin merasa senyap
Hampa, kosong
Dan merasa tak berguna

Lalu kami hanya dapat tergugu dalam sunyi
Tak ada lagi yang peduli
Dan separuh hati kami terbang meninggi
Tinggi, dan terus meninggi

-REWRITE, 21 Oktober 2008-

Warna Warni

Kanvas warna-warni, warna tabrak lari
Mungkin memang tak indah, tapi membuat rindu
Ingin bertemu

Memang kebodohan yang nyata
Sekaligus menggores senyum, tak putus-putus
Malu-malu mengakui
Andai senyumnya untuk aku

Dan andai dulu tak bertemu!

Biar tak begini
Gumpalan dalam dada ini membuat sesak
Bila saja dapat kukatakan
Biar bulan melihat, biar matahari menonton
Tapi tak begini
Sungguh, opera sabun yang melelahkan

-REWRITE, 2009-

Sabtu, 04 Maret 2017

Lima Menit

Suara jam dinding berdetak di penghujung sepi
Membeli kesedihanku

Biru menyelimuti sekujur tubuhku

Tidak hangat, tidak dingin
Tapi meresap ke sukma

Lima menit, lima menit lagi

Ada sisa-sisa luka kemarin sore
Menunggu kering
Atau layu?

Ini lelah sekali
Ku jual saja sisa-sisa semuanya
Ku beri sia-sia

-3 Maret 2017-

Jumat, 24 Februari 2017

Mind, ANT(s), and Trolls

Sebelumnya saya mau bilang kalau tulisan ini bukan review film Trolls :D

Tapi saya memang akan mulainya dari Trolls. And sorry before, this writing (maybe) will contain minor spoilers~

Trolls, terutama Poppy sang tokoh utama, khas dengan ke-positif-an mereka dalam memandang segala sesuatu. Mungkin memang dicirikan dengan kebiasaan mereka bernyanyi dan menari, ciri khas sebagai film animasi untuk anak, namun dasarnya adalah pandangan positif yang selalu mereka pegang.

Trolls memiliki tubuh berwarna-warni yang indah, yang awalnya saya pikir tidak ada arti dari warna itu. Hanya karena, yah namanya juga kartun. Saya pikir begitu.

Namun ternyata warna-warni tubuh mereka dapat memudar menjadi semacam warna kelabu, dan layar menjadi seperti televisi hitam putih. Hal ini terjadi ketika mereka mulai berpikir negatif dan menghilangkan semua pikiran positif dari diri mereka.

Mungkin Trolls bukan film pertama yang memiliki nilai akan pentingnya pikiran positif. Namun sebelumnya jika saya menonton film semodel begitu yang membawa nilai semacam itu, saya hanya mengangguk-angguk dan membatin, ah namanya juga kartun.

Tapi karena kebetulan saya menonton film ini setelah memahami hubungan antara mind dan ANTs, saya mengangguk benar-benar dengan sepenuh hati. Ya, memang begitu adanya. Ya, itu bukan basa-basi kisah anak kecil semata.

Saya membaca mengenai ANTs ketika saya berada di posisi yang sangat buruk. Entah apakah orang lain pernah mengalaminya atau tidak, tapi saya tidak tahu harus mencari jalan keluar dari mana lagi atas situasi yang saya alami saat itu. Sampai akhirnya saya, mendekati putus asa, mengetik di mesin pencari: how to tame monster inside yourself.

Saat itu saya belum mengenal istilah ANT. Yang saya rasakan hanyalah ada sesuatu yang besar dalam diri saya, sesuatu yang buruk, sesuatu yang salah; yang mempengaruhi hampir keseluruhan hidup saya. Yang saya tidak tahu apa itu namanya, jadi saya juga tidak bisa bertanya pada orang lain mengenai hal itu.

Ketika mengetik kalimat tersebut, saya menemukan berbagai tulisan mengenai ANT. Kabar baiknya, ternyata itu bukanlah monster yang merupakan bagian dari diri saya, atau bahkan diri saya sendiri (yang mana ini adalah hal yang sangat saya takutkan). Kabar buruknya, ANT ternyata berpengaruh jauh lebih besar dari yang saya bayangkan.

ANT adalah Automatic Negative Thought(s), atau dalam bahasa sederhananya adalah pikiran negatif. Pikiran negatif sebenarnya bukan hal yang baru lagi, sudah sering kita dengar. Setiap saya membaca berbagai tips tentang kehidupan, hampir selalu berisi: hindari pikiran negatif. Tapi hampir setiap membaca juga, saya hanya ber-ya ya ya. Tidak menanggapi dengan serius hal itu. Ayolah, siapa yang tidak tahu kalau kita harus menghindari pikiran negatif?

Namun dengan konsep ANTs tersebut, saya jadi lebih menyadari betapa besar peranan pikiran negatif itu. Seperti yang ditulis di salah satu situs yang saya baca, kita harus belajar menghentikan ANTs atau mereka akan menghancurkan hidup kita.

Dan itu benar. Saya mengalaminya.

ANTs dianalogikan seperti semut (ant) yang muncul saat kita piknik, saya mengutip dari salah satu situs yang saya baca. Kalau jumlahnya hanya satu atau dua, mungkin tidak akan menjadi masalah. Tapi kalau yang datang segerombol semut, mereka akan membuat kita harus pindah dari tempat piknik itu. Menghancurkan piknik kita.

Begitu juga dengan peranan ANTs dalam pikiran kita. Ketika muncul satu dua pikiran negatif, kita membiarkan pikiran itu menyatakan diri dengan kuat sehingga kita pikir itu adalah hal yang benar. Pikiran kita menyetujui apa yang ANTs katakan, dan pikiran itu menggerakkan tubuh kita, mengontrol apa yang akan kita lakukan. Dan akhirnya, ANTs itu menjadi kenyataan.

Analogi sederhananya begini: saya berniat ingin mempelajari sesuatu yang baru, tapi muncul di kepala saya pikiran negatif bahwa, ah sudah susah mempelajari hal yang baru lagi umur segini. Pikiran saya pun membenarkan pikiran negatif itu, dan beranggapan ya sudahlah buat apa belajar kalau nggak akan bisa. Akhirnya saya tidak melakukan apa-apa untuk mempelajari hal baru itu karena berpikir akan percuma saja. Akhirnya, pikiran negatif tadi menjadi kenyataan; bahwa saya tidak bisa mempelajari hal baru.

Bagaimana menghadapinya?

ANT-eater.

Kita bisa menuliskan ANTs yang muncul di kepala kita, lalu hadapi satu persatu mereka. Konfrontasi, talk back. Apakah memang pikiran-pikiran itu benar?

Misalnya soal yang tidak bisa mempelajari hal baru tadi. Saya tulis ANT itu, lalu saya pikirkan baik-baik, apakah itu benar? Saya tulis lagi balasan  dari saya, siapa bilang tidak bisa? Toh saya belum mencobanya. Toh itu masa depan yang belum saya alami, dan saya bukan peramal yang bisa menebak apa yang terjadi di masa depan.

Dan cara ini sangat, sangat efektif. ANTs seperti kabut yang menutupi pikiran, begitu dilawan habis; semua jadi tampak lebih terang. Hati pun lebih ringan. Dan yang terpenting, hal-hal yang tadinya tampak salah dan tidak ada harapan; jadi terlihat jauh lebih baik.

Dan saya dapat melangkah lagi. Setelah dihambat oleh ANTs itu.

Haruskah ditulis? Saya sarankan iya. Karena ketika menulis, apa yang kita pikirkan lebih terstuktur dan jelas. Selama masih dalam kepala, ANT berputar kesana-kemari, menggaet ANT-ANT lainnya; menurut saya. Jadi lebih baik segera tuliskan ANTs supaya kita bisa berpikir logis untuk membalas dan menghadapi mereka.

Pertama, yang paling mendasar, kita semua perlu mengakui keberadaan ANT itu. Dan saya rasa hal itu memang tidak mudah, mengingat ANTs adalah hal buruk, dan tidak ada yang suka mengingat hal buruk. Selama ini saya selalu mengalihkan pikiran saya jika ANTs muncul, menunda untuk membahasnya dengan diri saya.

Tapi yang namanya menunda, suatu saat ia akan datang lagi. Beserta rombongan. Karena ANTs yang terlalu lama berdiam dalam kepala akan berkembang menjadi ANTs lainnya dan lebih banyak. Kalau sudah terlalu banyak, mereka akan semakin mengontrol pikiran kita. Dan kelanjutannya adalah, pikiran mengontrol tindakan kita. Dan tindakan membentuk keseluruhan hidup kita.

Karena itulah saya jadi lebih bisa relate ketika menonton film Trolls.Ya, memang sedemikian besarnya peranan pikiran negatif atau ANTs. Yang di dalam film itu dapat merubah warna seseorang, membuat hidupnya kusam dan suram. Bukan bullshit atau overdrama, tapi memang begitulah kenyataannya.

Saya pernah membaca sebuah manga berjudul QQ Sweeper, yang menceritakan tentang pembersih (ini bahasa saya saja, saya lupa apa istilahnya di manga itu) yang tugasnya membersihkan ruangan kotor; yang ternyata hati manusia. Di ruangan itu banyak berbagai serangga yang membisikkan pikiran-pikiran negatif pada pemilik hatinya. Untuk membersihkan ruangan itu, seorang pembersih harus berani mengusir dulu serangga-serangga itu. Kalau si pembersih takut, serangga akan semakin besar. Tapi kalau si pembersih berani, serangga-serangga itu yang akan takut dan dapat diusir dengan mudah.

Jadi daripada membiarkan ANTs terus memakan pikiran kita, memakan akal sehat kita, kita perlu mulai memberanikan diri untuk mengakui keberadaan mereka. Dengan begitu, kita baru bisa menghadapi mereka perlahan-lahan. Sampai habis.

Ketika mereka muncul, hadapi lagi. Terus begitu. Seperti halnya tubuh yang kotor dan perlu dibersihkan setiap hari, begitu juga pikiran kita. ANTs harus terus disapu bersih, kalau tidak mereka akan terus menggerogoti pikiran kita.

Saya menulis tulisan ini tidak dalam rangka apapun. Tidak dalam rangka mengikuti lomba, give away, tugas kampus (sok masih jadi mahasiswa :D), atau semacamnya. Hanya saja saya rasa, sayang sekali kalau saya sudah memahami soal apa itu ANTs, soal hubungan tiga hal dari judul tulisan ini; tapi tidak saya share kepada orang-orang. Benar-benar sayang sekali.

Bukannya saya jadi orang yang tiba-tiba memperhatikan dunia sosial, kemanusiaan, dan semacamnya. Saya hanya pernah mengalami bagaimana ANTs benar-benar mempengaruhi hidup saya, membuat saya benar-benar kehilangan arah hidup; dan  bahasa ekstrimnya mungkin itu semua membuat saya 'lumpuh' karena tidak bergerak dengan berarti dalam hidup saya. Saya pernah mengalami semua itu, mengalami bagaimana tidak berdayanya dan kacaunya keadaan itu. Jadi saya berharap dengan tulisan ini dapat sedikit membantu orang-orang yang mungkin mengalami keadaan seperti saya.

Tapi kalau ditanya, apakah saya ditolong oleh situs-situs ANTs dan para ahli yang menjelaskan dengan detail?

Saya akan menjawab dengan tegas: tidak. Bukan mereka yang menolong saya.

Allah yang menolong saya. Dia yang menuntun saya memiliki sisa-sisa kesadaran untuk menyelamatkan diri saya, yang berujung dengan menemukan berbagai penjelasan logis mengenai ANTs. Sebelumnya, saat saya masih tidak tahu harus apa, saya hanya bisa berdoa: Ya Allah, tolong selamatkan aku. Selamatkan aku.

Dan Allah menyelamatkan saya. Dengan berbagai cara yang tidak pernah saya sangka.

Jadi yang terpenting adalah, jangan lupa berdoa dan terus berdoa. Karena bagaimanapun juga, pada hakikatnya kita adalah makhluk yang lemah dan tidak punya daya sama sekali, kalau Allah tidak memberikannya.

Kembali lagi soal ANTs, mungkin tulisan saya ini masih terlalu mengawang untuk memahami lebih mendalam soal konsep itu. Selengkapnya bisa dibaca melalui situs ini atau ini.

Selamat berjuang melawan ANTs. Semoga kita semua selalu dapat kembali menemukan jalan pulang :)

Sabtu, 18 Februari 2017

Majas

Mungkin kita potongan kayu yang layu tersiram hujan semalaman

Mungkin kita tetap teronggok di sudut, tertutup awan
Mereka bilang akan ada pelangi;
tapi jaman sekarang rumor lebih banyak didengar dibanding sepotong kata hati

Mungkin kita jiwa-jiwa indah yang terbentur sunyi
Tak lagi percaya pada matahari

Mungkin kita berani mencintai, tapi tak cukup berani untuk dicintai

-18 Februari 2017-