Senin, 17 September 2018

Hot Chocolate

Pertama kali Mara bertemu dengan Ken, adalah pada hari yang sangat melelahkan. Mara punya banyak setumpuk kerjaan kantor yang harus diselesaikan, sementara ia juga masih harus menyelesaikan kewajibannya sebagai anggota dari klub film ini. Saat itu Mara bahkan mempertimbangkan kalau sebaiknya ia berhenti dari klub.
Atau tidak.
Karena Mara tahu, kalaupun ia berhenti sekarang, suatu saat nanti ia pasti akan memulainya kembali. Karena dari dulu Mara sangat tertarik mengenai dunia film dan ingin bisa membuatnya suatu hari nanti. Jadi kalaupun ia menyerah saat itu, pasti ia akan mencari cara lagi untuk kembali menggeluti dunia film. Itulah sifat Mara, yang sebenarnya Mara sendiri membenci sifatnya itu. Membuat dirinya susah sendiri, tapi ia juga tidak pernah bisa melepaskan apa yang ia inginkan.
Tapi saat itu, Mara memang lelah sekali. Kita tentu pernah merasakan situasi dimana semuanya terasa salah, semuanya terasa sebagai masalah. Semuanya seperti tidak ada yang berjalan lancar untuk Mara saat itu. Rasanya Mara ingin beristirahat sejenak, dan meminum segelas cokelat hangat untuk dapat menenangkan dirinya.
Dan pada saat itulah, Mara bertemu dengan Ken.
“Oh, ini Mara yang anak baru itu, ya?” sapa Ken dengan nada ceria, menepuk bahu Mara santai. Seolah mereka sudah kenal lama. Mara hanya melihatnya tanpa menyahut apa-apa, menggerakkan bahunya agar tangan Ken terlepas.
“Ken, lo biasa banget, deh!” tegur Kania, menepuk tangan Ken pelan lalu tersenyum meminta pengertian pada Mara. Ia tahu betul kalau Mara yang menjaga jarak dengan orang yang baru dikenalnya, tidak akan suka kalau orang terlalu friendly saat pertama bertemu. Seperti Ken ini.
“Ken emang begini anaknya, terlalu easygoing sampai kadang nggak mikirin gimana orang lain,” ujar Kania. Ia lalu memperkenalkan mereka berdua secara resmi, meski Ken sudah tahu tentang Mara dari anggota yang lainnya. “Mara, ini Ken. Dia ini anggota lama sebenarnya, cuma pas lo gabung dia lagi ada tugas kantor ke Aussie. Selama dia disana emang sering kontak sama anak-anak, jadi pasti pada cerita juga tentang lo.”
Mara mengangguk tanpa suara. Memandang Ken yang tersenyum lebar ke arahnya dan mengulurkan tangannya. “Halo, Mara. Gue Ken. Gue sebenarnya bagian pegang kamera, tapi bisa jadi bagian serabutan yang ngerjain apa aja pas klub lagi kekurangan orang. Katanya lo yang nulis skrip akhir-akhir ini, ya? Gue udah baca, bagus banget!”
Mara menyalami uluran tangan Ken itu, sambil mengangguk pelan. Lagi-lagi tanpa suara. Ia tak tahu apa yang harus diucapkannya mendengar Ken yang berbicara panjang lebar seperti itu.
“Lo sehari-hari kerja juga? Dimana?” tanya Ken. Mara melepaskan tangannnya, lalu mengusap bagian belakang rambutnya. Kebiasaannya kalau sedang merasa tidak nyaman.
“Sudirman,” sahut Mara kemudian.
“Oh iya? Kantor apa? Gue juga kerja disana!” ujar Ken bersemangat. Sementara Kania yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala, merasa percuma menghentikan Ken. Meski ia agak merasa tidak enak pada Mara, karena sebenarnya dengan anggota yang lain pun Mara belum begitu akrab meskipun sudah bergabung selama tiga bulan. Sepertinya Mara memang tipe orang yang membutuhkan waktu agak lama untuk bisa dekat dengan orang-orang baru.
Kania lalu mendengar Mara menyebutkan sebuah gedung perkantoran yang terkenal di daerah Sudirman, yang kemudian disambut dengan seruan girang Ken. Ternyata kantor Ken berada di gedung sebelahnya, dan cowok itu langsung mengajak Mara untuk makan siang bersama saat hari kerja nanti.
Mara mengusap bagian belakang rambutnya lagi, tidak tahu harus merespon apa atas ajakan Ken barusan. Tapi Ken terus memberondongnya dengan berbagai pertanyaan, seolah tidak akan berhenti sebelum memastikan Mara mengiyakan ajakannya.
“Gimana, Ra? Mau, kan? Ada foodcourt enak dan murah di belakang kantor, lo pernah nyoba, nggak? Kita kesitu Senin, ya?”
Mara akhirnya mengulas senyum hambar. Baru kali ini ada yang memanggil penggalan akhir namanya pada pertemuan pertama. “Iya.”
“Bener, ya? Nomor lo berapa, biar gue bisa whatsapp nanti,” ujar Ken seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Mara meringis. Sepertinya niatannya untuk beristirahat dengan tenang dari semua hal akan tertunda lagi. Kehadiran Ken seolah membuatnya merasa lebih lelah, itu yang dirasakan Mara saat itu.
Atau... mungkin tidak?
***
Pada hari Senin-nya, Ken benar-benar menagih ucapan Mara yang mengiyakan untuk makan siang bersama. Sebenarnya makan siang dimanapun tidak menjadi masalah bagi Mara, karena ia pun tidak punya teman yang terlalu dekat di kantor untuk selalu makan bersama. Dan tidak ada yang mempertanyakan juga kalau ia keluar kantor sendiri dan makan siang terpisah.
Tapi tetap saja makan bersama orang yang baru dikenalnya sehari terasa aneh bagi Mara. Waktu pertama-tama masuk kantor saja, Mara lebih memilih untuk makan siang sendiri. Mara baru makan bersama rekan-rekan kantornya seminggu kemudian, itu juga setelah mereka mengajaknya.
“Mara!” tampak Ken melambaikan tangannya begitu melihat Mara keluar dari lobi kantor. Ken sudah berdiri di depan lobi sambil memegangi ponselnya.
“Lo mau makan apa?” tanya Ken begitu mereka mulai berjalan ke arah foodcourt yang dimaksud Ken. Mara baru dua kali makan disana, dan ia tidak ingat ada apa saja disana.
“Apa aja,” sahut Mara pendek.
“Lo mau nyoba pecel lelenya, nggak? Itu enak banget sambelnya, lelenya juga enak. Ayam gorengnya juga enak, tapi lebih mantap bumbu lelenya,” Ken memberikan rekomendasi menu favoritnya. Mara menoleh sejenak pada Ken, mulai bertanya-tanya sebenarnya ia berapa lama bekerja disini sampai hafal menu disitu.
“Gue udah dua tahun kerja disini, jadi hafal ada makanan apa aja disitu,” sahut Ken seolah bisa membaca pikiran Mara. Mara jadi kaget sendiri, lantas langsung memalingkan wajahnya memandang ke arah depan.
“Kalau lo udah berapa lama kerja disitu?” tanya Ken kemudian, seperti tidak menyadari perubahan raut wajah Mara barusan.
“Setahun,” sahut Mara pendek. Ia mempercepat langkahnya, ingin buru-buru sampai foodcourt itu dan segera makan. Supaya bisa segera berpisah dari Ken dan kembali ke kantornya lagi.
“Wah, udah lumayan juga, dong? Kok selama ini kita nggak pernah ketemu, ya?” tanya Ken, lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri. Mara sama sekali tidak menyahuti ucapan Ken itu, merasa kalau pertanyaannya cukup tidak masuk akal. Tentu saja sebuah hal yang sangat wajar kalau mereka tidak bertemu, karena mereka bahkan tidak satu kantor. Yang satu gedung saja belum tentu bertemu apalagi yang beda gedung, batin Mara tak habis pikir.
Tapi Ken sepertinya tidak mempedulikan respon Mara, lebih tepatnya tak ada respon dari Mara itu. Ia terus saja bertanya berbagai hal pada Mara, sepanjang jalan menuju foodcourt sampai ketika mereka makan. Bahkan ketika makanan di depan mereka sudah habis pun, Ken masih bertanya ini dan itu pada Mara.
“Jadi lo pulang pergi naik busway? Kenapa nggak ngekos aja?”
“Mahal,” jawab Mara. Jawabannya memang masih pendek-pendek, tapi perlahan Mara sudah mulai terbiasa dengan berbagai pertanyaan yang diajukan Ken itu. Mulai tidak terlalu melihat itu sebagai hal yang aneh.
Ken mengangguk-angguk. “Iya, sih. Gue juga dulu susah banget dapat kosan bagus dengan harga yang nggak begitu mahal,” ujar Ken. “Tapi kan lumayan dari Cijantung kesini. Lo nggak naik motor aja?”
“Nggak berani bawa jauh-jauh, apalagi ke daerah sini,” sahut Mara. Sedari tadi yang mereka bicarakan, tepatnya yang Ken tanyakan, tak jauh-jauh dari kehidupan sehari-harinya. Bukan hal yang penting menurut Mara, tapi entah mengapa Ken terlihat antusias dalam pembicaraan ini. Bukan sekadar basa-basi untuk mencari bahan pembicaraan saja.
“Teman lo pasti banyak,” ujar Mara tiba-tiba. Itu pertama kalinya Mara berbicara tanpa ditanya, dan terucap begitu saja dari bibirnya. Entah mengapa ada dorongan dari dalam dirinya untuk mengucapkan hal itu. “Terutama cewek.”
Ken sedikit terkesiap mendengar ucapan Mara, tidak menyangka gadis itu akan berbicara seperti itu. Tapi kemudian senyumnya tersungging, bertanya pada Mara. “Emang kenapa kok ngomong begitu? Dan kenapa terutama cewek?”
Mara mengangkat bahu. “Karena lo sangat friendly? Cewek-cewek pasti suka cowok model begitu.”
“Termasuk lo?” tanya Ken lagi, memandang ke lurus pada mata Mara seolah menelisik jawaban apa yang akan diucapkan gadis itu.
Mara menggeleng datar. “Gue malah ngeliat cowok model begitu kayak playboy,” sahut Mara lugas. Sedetik kemudian, ia kaget sendiri dengan apa yang diucapkannya dan khawatir kalau-kalau Ken akan tersinggung. Inilah kenapa Mara menjaga jarak dari orang yang belum begitu dikenalnya. Mara cenderung berkata dengan lugas apa yang ada di pikirannya, mendekati satir dan sinis. Hal yang mungkin tidak dipahami oleh orang-orang yang baru mengenalnya. Jadi Mara menahan diri dan hanya melakukan itu pada orang-orang yang sudah dikenalnya lama, yang sudah tahu bagaimana dirinya.
Dan entah mengapa sekarang ia malah kelepasan dan mengatakan apa yang ada di pikirannya pada Ken, orang yang baru ditemuinya dua kali. Seharusnya ia bisa lebih menahan diri tadi, sesal Mara.
Tapi tak disangka, Ken malah tertawa lepas. Sama sekali tidak ada raut tersinggung atau marah pada wajahnya, murni benar-benar ekspresi orang yang senang. Mara menatap Ken dengan wajah bingung. Mulai bertanya-tanya apakah Ken salah makan tadi.
“Akhirnya lo keluar juga,”ucap Ken begitu tawanya reda.
Mara mengerutkan kening mendengarnya, tidak mengerti apa yang diucapkan cowok itu. Ken tersenyum geli, menatap Mara dengan pandangan puas. “Akhirnya lo yang asli keluar juga. Gue kira gue akan butuh waktu beberapa hari lagi buat bisa lihat lo yang asli.”
Mara terdiam. Gue yang asli? Cowok ini tahu apa...
“Gue bilang kan, gue baca naskah-naskah yang lo tulis. Dan gue suka banget. Penuh satir, tapi juga gambarin realita dengan sangat tepat. Pas bacanya, gue jadi penasaran gimana orang yang nulisnya, gimana pikiran-pikiran yang ada di kepalanya. Dan dugaan gue benar, lo sama dengan apa yang lo tulis,” ujar Ken panjang lebar, lagi-lagi seolah bisa mengetahui isi kepala Mara. Dan masih dengan senyum senang bertengger di bibirnya.
Mara masih terdiam, mengusap bagian belakang rambutnya perlahan. Ia tidak tahu harus apa di situasi seperti ini. Kenyataan bahwa Ken tidak tersinggung dengan apa yang diucapkannya saja sudah membuatnya kaget. Terlebih lagi kenyataan bahwa cowok itu justru senang dengan pikiran-pikiran satirnya, dan puas bisa melihatnya langsung. Mara jadi bertanya-tanya apa mungkin ia sudah hidup selama itu sehingga bisa bertemu dengan orang aneh seperti Ken, yang senang dengan pikiran orang aneh seperti dirinya.
Mara lalu berdehem, dan memandang lurus pada Ken. “Jadi tadi lo sengaja nanya-nanya cuma buat mancing gue keluar?” tanya Mara, meski merasa aneh sendiri karena menggunakan kata ‘keluar’ seperti bahasa Ken.
“Nggak juga,” sahut Ken. “Gue emang pengen tahu lebih banyak tentang lo. Dan kata Kania, lo jaga jarak sama orang yang baru dikenal. Jadi gue mencoba bikin lo nyaman seolah kita emang udah kenal lama.”
Mara menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bener-bener playboy material,” ujar Mara dengan nada enteng. Setelah apa yang diucapkan Ken tadi, Mara merasa tidak perlu lagi menahan diri untuk mengatakan apa yang dipikirkannya. Ia yakin Ken tidak akan tersinggung.
Dan benar saja, Ken malah tertawa kecil mendengarnya. “Istilah yang benar itu friendly, Ra. Teman gue emang banyak, dan bukan cuma cewek aja. Dan gue masih tahu batas-batas antara friendly dan PHP ke cewek,” bela Ken.
Mara menatapnya tidak percaya.
“Beneran! Tanya aja Kania sama anak-anak lain,” Ken membela dirinya lagi. Tapi kemudian menambahkan dengan nada enteng. “Tapi ya tentu aja kalau ternyata orangnya baper, bukan salah gue juga. Maksud gue, kalau emang dasarnya itu orang baper dan salah paham sama gue; gue bisa apa, coba? Mungkin aja emang dasarnya dia suka ama gue, kan? Kalau udah begitu gue bisa apa coba?”
Mara memutar matanya, lalu menyeruput es kelapa yang sedari tadi dianggurkannya. “Meskipun gue tahu lo bercanda, tetap aja ngeselin dengernya,” ujar Mara kemudian.
Ken terkekeh geli.
***
Sejak saat itu, hubungan Mara dengan Ken menjadi semakin dekat. Hampir setiap hari mereka makan siang bersama, kecuali saat Ken atau Mara ada tugas keluar kantor. Atau ada janji dengan orang lain sebelumnya. Dan hampir setiap weekend mereka bertemu lagi saat pertemuan klub film. Di klub pun, Ken-lah orang yang paling sering mengajak dan diajak bicara oleh Mara.
Seperti sekarang, saat Ken sedang berkutat di depan laptopnya untuk mengedit video yang mereka ambil kemarin. Tidak banyak anggota yang sedang berkumpul sekarang, karena kebanyakan masih beristirahat setelah shooting semalaman.
“Ken, ngeditnya jangan dibikin sesuai take yang kemarin. Ikutin urutan skrip yang gue kasih,” ujar Mara, mengulurkan fotocopy naskah pada Ken. Ken mengambilnya, melihatnya sejenak lalu mengembalikannya pada Mara.
“Gue udah baca ini, kok. Nanti gue sesuain, tenang aja,” sahut Ken.
“Waktu itu juga lo bilang gitu, tapi akhirnya ada yang dirubah juga jadi nggak sesuai,” protes Mara.
“Itu kan mepet, Mara. Nggak ada lagi gambarnya, jadi mau nggak mau dipakai yang ada aja,” sahut Ken, mengulang lagi apa yang sudah diucapkannya beberapa kali selama seminggu terakhir. Di project sebelum ini, memang Ken mengedit hasil akhirnya menjadi agak berbeda dengan yang ada dalam naskah. Dan tentu saja Mara marah besar atas hal itu. Cewek itu ternyata cukup perfeksionis terhadap hasil kerjanya, tidak mau kalau hasil akhirnya tidak sesuai dengan ekspektasinya. Meski memang apa yang ditulis Mara dalam naskahnya memang bagus, dan anggota klubnya juga mengakui hal itu.
Mara ingin berkata lagi, tapi ia juga tahu kalau keadaannya waktu itu memang tidak memungkinkan. Ia juga bukannya tidak tahu kalau Ken melakukannya karena tidak ada pilihan lain, tapi tetap saja ia kesal. Meski akhirnya Mara kesal dengan dirinya sendiri, dengan sifat perfeksionisnya yang sebenarnya sering membuat susah. Mara juga sebenarnya sudah merelakan kejadian waktu itu, hanya saja ia ingin berusaha agar hal itu tidak terjadi lagi.
Melihat hal itu, Ken tahu kalau Mara sedang berada dalam dilema antara menyalahkan dirinya sendiri dengan keinginan untuk mendapatkan hasil yang bagus. Ken pun menepuk bahu Mara pelan. “Tenang aja, Ra. Kali ini masih bisa diusahain sesuai dengan rencana awal, kok. Kan persiapannya lebih bagus daripada yang kemarin,” ujar Ken, berusaha menenangkan Mara.
“Gue ngeselin banget, ya? Pasti udah bikin orang-orang susah dengan mau gue,” keluh Mara, sedikit menundukkan kepalanya.
“Ngeselin emang iya,” sahut Ken enteng. “Tapi bikin orang susah dengan mau lo, itu salah. Ini kan mau kita, kesepakatan kita. Kita setuju pakai skrip lo karena suka sama isinya, dan berusaha mewujudkan biar sesuai dengan ekspektasi kita semua. Bukan cuma ekspektasi lo. Jadi jangan geer kita ngelakuin ini semua karena lo.”
Mara tertegun, menoleh pada Ken yang menatapnya sambil tersenyum. Semakin mengenal Ken, entah mengapa Mara semakin merasa kalau cowok ini sangat mengenalnya dengan baik. Sangat bisa membuat Mara nyaman, bahkan untuk berkeluh kesah seperti sekarang ini. Hal yang sebenarnya Mara pikir tidak mengherankan dari seorang Ken, yang memang sangat friendly dengan siapa saja.
Dengan siapa saja.
Kata-kata itu seperti menyadarkan Mara, menohok dalam hatinya. Iya, Ken memang orang yang seperti itu. Mara harus sering-sering mengingat hal itu, mematri kuat dalam dirinya. Tidak lucu kan kalau Mara kemudian merasa kalau Ken ada apa-apa padanya, padahal sebenarnya tidak. Itu berarti ia yang baper sendiri, Mara meminjam kalimat Ken waktu itu. Mara pun mengangguk-angguk membenarkan pikirannya barusan.
“Nah, sekarang udah ngerti, kan? Jangan pusing sendiri dan nganggep semuanya ini tanggung jawab lo,” sahut Ken, menyangka Mara mengangguk-angguk atas ucapannya. Ken lalu mengusap kepala Mara pelan. “Dan jangan kebanyakan mikir.”
Mara kaget dengan apa yang dilakukan Ken, tapi juga tidak bisa bergerak karena merasa tiba-tiba saja tubuhnya membeku. Mara membuka mulutnya ingin mengatakan apa saja, tapi tidak ada yang bisa diucapkannya sekarang. Ken pun tersenyum seraya menurunkan tangannya, lalu kembali menghadap laptopnya.
“Wah, wah. Ini nggak adil,” tiba-tiba saja Rendy, salah satu anggota klub, muncul dari balik pintu. “Mara kan lebih dulu ketemu sama kita daripada sama lo, Ken. Kok malah lebih deket sama lo?”
Ken membalikkan tubuhnya lagi, lalu merangkul Mara dengan gerakan enteng. “Iya, dong. Kan gue bisa ngerti Mara lebih cepat daripada kalian. Jadi wajar kalau kita deket. Iya kan, Ra?”
Mara tercekat untuk beberapa detik, tapi kemudian menggerakkan bahunya supaya rangkulan Ken terlepas. Mara lalu menyahut dengan nada yang dibuat se-ringan mungkin. “Dasar playboy material,” ujar Mara, mengeluarkan istilah yang biasa diucapkannya untuk meledek Ken.
Ken langsung protes mendengarnya, seperti biasa. “Itu kan kalau gue begini ke semua orang. Tapi gue ke lo doang begini, Mara!”
Mara mengangkat bahu dengan acuh, lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Rasanya sekarang ia harus segera pergi dari situ, kalau tidak mungkin ia tidak akan kuat untuk tidak bereaksi apa-apa atas apa yang dilakukan Ken.
Sementara itu, Rendy mengacungkan ibu jarinya pada Ken. Tertawa geli atas kenekatan usaha cowok itu yang gencar mendekati Mara, yang sudah disadari oleh semua anggota klub.
Yah, mungkin kecuali oleh Mara.
***
Mara memijat-mijat pundaknya yang terasa pegal. Sebenarnya bukan hanya pundak, tapi seluruh tubuh rasanya sangat pegal dan lelah. Ini adalah salah satu hari diantara hari-hari dimana semua beban rasanya bertumpuk, semua pekerjaan seperti tidak ada habisnya, dan semua hal terlihat seperti masalah. Mara duduk di bangku panjang pinggiran taman depan gedung kantornya, berusaha mengumpulkan tenaga untuk perjalanan ke rumah. Yang jaraknya terasa lebih panjang hari ini.
“Mara!”
Mara menoleh mendengar sebuah suara yang familiar di telinganya. Dan benar saja, tampak Ken sedang berjalan, setengah berlari, ke arahnya sambil melambaikan tangandan senyum lebar di bibirnya. Melihat hal itu, Mara pun ikut tersenyum kecil.
“Lagi ngapain disini? Nggak pulang?” tanya Ken begitu ia duduk di samping Mara, dengan nafas yang masih sedikit terengah.
Mara menyodorkan botol air minum pada Ken, yang langsung diambil cowok itu dan diteguknya cepat. Mara menatap Ken dengan pandangan geli. “Kenapa pakai lari lagian?”
“Kan biar bisa cepat ketemu lo,” sahut Ken lugas, seolah itu adalah hal yang sudah jelas dan tidak perlu ditanyakan lagi.
Mara tertegun, seperti biasa setiap kali Ken melakukan hal seperti ini padanya. Beberapa detik kemudian, Mara pun menyahut dengan suara yang diusahakannya terdengar enteng. “Ngapain juga cepet-cepet? Kan gue lagi duduk disini nggak kemana-mana.”
Mendengar hal itu, Ken tersenyum. Tangannya bergerak mengusap kepala Mara lembut. “Iya, jangan kemana-mana, ya.”
Mara tertegun lagi. Memandang Ken lurus-lurus, yang masih tersenyum padanya. Seolah apa yang sedang dilakukannya bukan sesuatu yang besar atau aneh. Cowok ini benar-benar...
Sesaat Mara teringat pembicaraannya dengan Kania tempo hari. Kania menanyakan kapan Mara dan Ken jadian, kok tidak cerita-cerita. Saat itu Mara hanya bengong, dan bilang kalau mereka tidak pacaran. Kania malah bingung sendiri, karena mereka sudah seperti orang yang pacaran.
“Ken kan begitu ke semua orang, Ni,” ujar Mara waktu itu.
Kania menggeleng. “Beda, Ra. Emang Ken itu friendly abis, tapi dia masih bisa ngebedain mana yang teman mana yang lebih dari teman.”
Benar, kah?
Mara lalu tersadar dari lamunannya, mendapati tangan Ken masih mengusap kepalanya.  Mara pun menepis tangan Ken pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang masih tampak padat. Ken hanya terdiam melihat hal itu, memandangi Mara lurus-lurus. Berbagai hal berkecamuk di kepalanya sekarang. Cewek ini emang bener-bener nggak tahu? Atau tahu, tapi nggak suka?
“Lo nggak pulang?” tanya Mara kemudian, berusaha memecah keheningan diantara mereka. Selain itu, ia juga mulai merasa tidak nyaman dipandangi sepeti itu oleh Ken.
“Kan gue duluan yang nanya,” sahut Ken, protes karena pertanyaannya tadi tidak dijawab.
Mara menghela nafas, menyandarkan tubuhnya ke bangku lalu mendongakkan kepalanya melihat langit. “Jalan pulang hari ini kayaknya lebih panjang,” sahut Mara pelan. Matanya bergerak-gerak memandangi langit. “Disini bintang nggak kelihatan, ya?”
Ken ikut mendongak, melihat langit gelap yang terbentang diatas mereka. “Di Jakarta kan bintang emang nggak kelihatan,” sahut Ken. “Mau ke Puncak? Disana pasti bintang kelihatan jelas.”
Mara menoleh pada Ken, tersenyum geli. “Sekarang?”
Ken mengangguk. “Sekarang.”
“Kapan-kapan aja,” sahut Mara pelan, lalu kembali memandangi langit. “Gue kan tetap harus pulang, nanti orang rumah gue nyariin. Lagian besok juga harus masuk kerja lagi. Capek banget kayaknya kalau ke Puncak sekarang.”
Ken memandangi wajah Mara yang memang tampak terlihat lelah. Tiba-tiba, terlintas sebuah ide di kepalanya.
“Kalau istirahat sebentar sebelum pulang, nggak apa-apa, kan?” tanya Ken. Mara menoleh lagi. “Sekarang juga gue lagi istirahat.”
“Berusaha istirahat,” ralat Ken. “Emang lo bener-bener bisa istirahat di tempat kayak gini? Bukannya malah makin capek ngelihat banyak kendaraan di depan?”
Mara tersenyum kecil. Ken memang benar-benar mengerti dirinya. Satu hal yang disyukuri Mara, sekaligus ditakutinya. Kalau-kalau apa yang ada dalam hatinya akan semakin besar kalau cowok itu terus begitu.
“Kalau gitu, ayo bangun sekarang. Kita istirahat beneran,” ujar Ken, menyimpulkan kalau Mara setuju dengan ucapannya karena gadis itu tidak menolak. Dan memang, Mara pun akhirnya bangkit mengikuti langkah Ken.
“Kemana, Ken?”
***
“Wah, ternyata di Jakarta masih ada tempat kayak gini?”
Mara menatap kagum sekelilingnya. Sebuah rumah pohon yang dibangun dengan apik, di pohon besar yang langka ditemui di kota ini. Sebenarnya tidak menyerupai rumah karena hanya ada tiga sisi yang melapisinya, dengan satu sisi yang dibiarkan terbuka dan atap seadanya. Mara pun duduk di sofa tua yang menghadap ke sisi luar yang terbuka, membuatnya bisa langsung melihat langit.
Ken tersenyum senang melihatnya, puas dengan keputusannya sendiri untuk mengajak Mara kesini. “Jakarta kan luas, Ra. Pasti selalu ada tempat-tempat yang nggak pernah kita tahu sebelumnya.”
Mara mengangguk-angguk membenarkan. Ia kini sudah memandangi langit yang terbentang diatas mereka. “Padahal langitnya masih sama, di kota yang sama. Tapi kenapa disini kelihatan berbeda, ya?” Mara bertanya setengah bergumam pada dirinya sendiri. “Kayak lebih tenang.”
“Mungkin karena disini emang suasananya lebih tenang daripada tadi disana,” ujar Ken seraya duduk di sebelah Mara. Ia lalu menyerahkan sebuah gelas pada Mara. Di rumah pohon itu memang ada beberapa benda seperti piring, gelas, dan kebutuhan lainnya. Mara meraih gelas itu dan melihat isinya. Cokelat hangat.
Mara tersenyum.
“Pas banget,” ujar Mara sebelum meneguk cokelat hangat itu. Mara lalu menoleh pada Ken yang juga sedang menyesap gelasnya.“Sekarang baru gue bisa bener-bener istirahat.Thanks banget, Ken.”
Ken mengangguk tanpa menoleh pada Mara, tapi Mara tahu kalau cowok itu sedang tersenyum.
“Pantes lo bilang susah banget nyari kosan kayak gini. Ah, gue jadi pengen ngekos disini juga,” ujar Mara. Memang rumah pohon itu terletak di hadapan kos-kosan yang ditempati Ken.
“Ini kosan khusus cowok,” sahut Ken, kini senyumnya berubah menjadi senyum geli.
“Ah,” sahut Mara pendek, tidak berkata apa-apa lagi. Pantas saja barang-barang yang ada disini tampak simpel, hanya yang memang dibutuhkan saja. Pasti beda cerita kalau cewek yang sering kesini.
“Tapi nggak apa-apa bawa orang lain kesini?” tiba-tiba Mara terpikir hal itu. Biasanya di kosan tertentu ada peraturan yang melarang untuk membawa orang diluar penghuni ke tempat mereka.
“Lo kan bukan orang lain,” sahut Ken enteng, lalu meneguk isi gelasnya lagi.
Mara tertegun mendengarnya. Selalu seperti itu. Setiap kali Ken berkata seperti itu, setiap kali Ken melakukan sesuatu yang membuat Mara merasa diistimewakan. Dan kalau dibiarkan, akan selalu seperti itu. Dan tentu nggak baik buat gue, batin Mara.
Mara pun menghela nafas. “Katanya lo bisa membedakan batas antara friendly dengan PHP,” ujar Mara, mencoba membuat suaranya terdengar ringan seolah ia setengah bercanda.
“Emang iya,” sahut Ken lugas, seolah menegaskan kebenaran akan hal itu. Ia menoleh pada Mara, menghadapkan wajahnya pada gadis itu.
“Tapi kalau begini terus sih lo bener-bener playboy material,”ucap Mara enteng. “Mana ada teman yang ngelakuin hal-hal kayak gitu, kan?”
“Emang nggak ada,” sahut Ken. Kali ini dengan suara yang tegas, dan matanya yang memandang lurus-lurus pada Mara. Ken tidak tahu apakah ini saat yang tepat, tapi tetap ia tidak mau menunda lagi dan mengambil resiko itu. Mengatakan semuanya dengan jelas pada Mara, supaya gadis itu benar-benar tahu. “Dan emang gue melakukannya bukan sebagai teman. Sama lo.”
Mara terdiam. Lidahnya seolah tercekat, tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang diucapkan Ken barusan, dengan tatapan lurus cowok itu padanya, seperti serangan mendadak baginya.
Ken lalu mendesah pelan, mengalihkan pandangannya dari Mara dan mengusap kepalanya gusar. “Selama ini, lo nggak sadar? Apa menurut lo semua yang gue lakukan itu sebagai teman?”
Mara masih tidak menyahut. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada saat seperti ini.
Ken menoleh pada Mara lagi, kembali menatap lurus pada manik mata Mara. “Apa selama ini gue kurang menunjukkan kalau gue suka sama lo?”
Hening. Tidak ada yang bersuara diantara mereka selama beberapa detik, hanya saling pandang lurus-lurus. Mara sampai merasa kalau waktu berhenti saking heningnya suasana di sekitar mereka.
Dan Ken tidak ada niatan untuk bicara apapun lagi. Ia menunggu jawaban Mara.
“Ah,” Mara seperti tersadar, lalu berdehem. Ia mengalihkan pandangan dari tatapan Ken yang masih lurus padanya. Lalu mengusap bagian belakang rambutnya gugup. “Ya, mana gue tahu kalau lo nggak pernah bilang, kan?”
Mara melirik Ken sekilas, salah tingkah. Ia lalu melanjutkan ucapannya sebelum cowok itu menyahut lagi. “Maksud gue, lo kan emang baik ama semua orang. Orang yang baik sama semua orang itu sebenernya lebih jahat dibanding bad boy, tahu? Jadi kayak ngasih harapan ke semua orang.”
Ken melongo mendengarnya.
Mara mengusap pelipisnya gusar, menyadari kalau ia salah bicara. “Bukan gitu juga maksud gue, sih. Bukannya gue nyalahin lo yang baik sama semua orang. Cuma... gitu lah,” Mara lalu merutuki dirinya sendiri. “Ah, gue ngomong apa, sih?”
Perlahan, Ken tersenyum geli. Menyadari kalau Mara yang sedang meracau ini kemungkinan besar karena gugup dan salah tingkah di depannya.
“Sekarang kan gue udah bilang dengan jelas, gue suka sama lo. Jadi apa jawaban lo?” tanya Ken kemudian, mencoba menahan senyum yang tersungging di bibirnya.
Kini Mara mengusap tengkuknya sambil menggigiti ujung bibirnya. “Apa gue harus jawab?”
Ken baru akan melancarkan protes ketika Mara melanjutkan ucapannya. “Ah, ternyata guesama aja kayak cewek kebanyakan. Pengennya dikasih pernyataan jelas, tapi nggak mau ngasih jawaban jelas,” ujar Mara, jelas-jelas merutuki dirinya sendiri. Kali ini sekaligus men-diss gender-nya sendiri.
Ken sudah tidak bisa lagi menahan senyumnya. Ia menatap Mara lurus-lurus, yang masih tampak gugup dan salah tingkah. Tiba-tiba saja Ken merasa ingin menjahili gadis di hadapannya itu.
“Jadi kapan gue bisa dapat jawaban jel—”
“Gue juga suka sama lo!” seru Mara memotong ucapan Ken. “Gue juga suka sama lo, oke? Jadi gue udah kasih jawaban jelas, ya!”
Ken melongo. Tidak menyangka Mara akan berkata seperti itu. Tampaknya memang apa yang dilakukan gadis itu seringkali tidak pernah disangka.
Meski selalu menyenangkan untuk dilihat.
Ken lalu tertawa geli, tidak bisa ditahan lagi. Sedangkan wajah Mara sudah merah padam, antara salah tingkah dan kesal melihat Ken tertawa seperti itu. “Sampai kapan lo mau ketawa?”
“Jadi kita pacaran sekarang?” tanya Ken di sela-sela tawanya yang mulai reda.
“Nggak tahu!” sahut Mara, jelas-jelas masih kesal.
Senyum Ken melebar melihatnya. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi kamera. “Gimana kalau kita rayain dengan foto bareng?” ujar Ken seraya bergerak mendekat pada Mara.
“Ngapain ngerayain pakai foto segala?” tanya Mara tak habis pikir. Menurutnya apa yang dilakukan Ken sekarang ini sangat random.
“Kita kan nggak ada foto bareng,” Ken sudah mengangkat ponselnya dan merangkul bahu Mara. “Gue kan juga mau pamer ke orang-orang kalau sekarang gue punya pacar cantik.”
“Wah, ternyata lo sama aja kayak orang-orang yang pamer di sosmed seolah-olah hidup mereka selalu bahagia,” ujar Mara sinis.
“Enggak, dong,” sahut Ken enteng, menarik Mara supaya lebih mendekat padanya. “Kalau gue kan benar-benar bahagia. Karena ada lo.”
Kali ini Mara terdiam, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bagaimana bisa Ken mengatakan hal-hal seperti itu dengan entengnya, seolah itu adalah hal yang memang wajar dan sudah seharusnya baginya? Sementara jantungnya sudah berdegup tak karuan setiap Ken melakukannya. Mara tidak yakin apakah ia akan bisa terbiasa dengan semua ini.
“Mara, lihat ke kamera, dong!”
Klik.

Bekasi, 17 September 2018
01.51 am

Sabtu, 15 September 2018

Api Unggun


Jangankan orang lain, aku pun tak memahami diriku sendiri
penuh paradoks, penuh tanya
siang hari aku berdiri tegak, berjalan lantang atas inginku
sedang tiap malam aku menangis memempertanyakan jalanku itu

Mungkin semua akan lebih mudah jika tak kudengar suara dari sudut hati
melupakan mimpi-mimpi
juga semua yang kudapat sepanjang jalan ini, jalan menemukan diriku sendiri

Mungkin akan lebih mudah kalau kuabaikan semua manis pahit yang terasa
dan melihat apa yang nyata saja
sehingga tak perlu lagi ku tersaruk di arah berlawanan
berjalan normal, berjalan seperti kebanyakan orang

Tapi tetap ku tak bisa berhenti
tetap ku tak dapat membuang semua itu
yang menyalakan unggunan api di dalam sini
karena buatku hati yang bergerak lebih baik dibanding kaki

Sehingga pada akhirnya, lagi, tetap kutapaki jalan ini

-15 September 2018-

Mama

Mama, jangan lepas tanganku
di lautan manusia ini aku berjalan tersaruk
berjinjit mencari celah kemana arahku, yang terhalang seliweran orang banyak
menutup jalanku, menutup cahayaku

Mama, jangan kau lepas aku
aku terinjak-injak waktu dan zaman
tergilas kekuasaan
juga gemerlap lampu malam yang bingar di setiap tepian

Mama, dengar; dengarlah tangisku
isak tertahan dalam diam
tapi nyaring dalam hatiku, yang tenggelam oleh kilas hitam dunia dan realita
pilu sendu yang kutelan dalam-dalam dari permukaan
takut-takut mereka melihat lemahku dan semakin mendorongku

Mama, jangan berpaling dariku
dalam kencangnya angin dan deras hujan menerpa, tetaplah jadi rumahku
tempatku berteduh, beristirahat di malam hari
sebelum besok berjalan kembali

Jangan kau lepas tanganku
Jangan kau lepas aku

-14 Agustus 2018-

Berteduh Disampingmu

Di penghujung hari yang panjang, aku ingin duduk berteduh di sampingmu
tanpa berkata apa-apa, tanpa berpikir apa-apa
hanya sebentar-sebentar memejamkan mata menikmati angin semilir
memandang nyiur yang berayun lembut di depan kita
Lalu aku akan baik-baik saja
tak perlu melakukan apa-apa, tak perlu memberikan apa-apa

Hanya tetap kau duduk disitu, tetap di sisiku

-12 Juli 2018-

Lampu Jalan di Sudut Malam

Enam tahun lalu, aku pertama kali menjejak kaki di kota keras ini
berusaha berdiri diantara lalu lalang orang yang berjalan cepat
dan suara bising kendaraan
lampu-lampu jalan yang menyinari setiap sudut malam

Di tepian, aku menangis
merasakan tubuhku seperti diinjak-injak tapak kaki yang dingin
juga waktu

Enam tahun selanjutnya, akulah tapak kaki itu
berkejaran dengan waktu
berkejaran dengan bising dan riuh kota yang tak pernah tidur
Menginjak diriku sendiri. Menginjak hatiku sendiri.

Enam tahun yang lalu, airmataku turun merasakan kerasnya kota ini
Enam tahun selanjutnya, airmataku mengering
ikut mengeras bersama kota yang keras

-20 Mei 2018-

Polisi Tidur

Aku sekarang ini berbahaya
melesat cepat 180 km/jam
tanpa penahan, tanpa polisi tidur
menghajar apapun yang ada di depan
tak lagi dapat melihat jalan yang terbentang

Aku saat ini sungguh bahaya
bisa-bisa nanti aku menabrak, menyebabkan kecelakaan beruntun
meski begitu tak kupelankan lajuku

Aku tahu, tapi tak ingin; lalu tak bisa

Tapi, sejak kapan aku begini?
Sejak kapan aku merasa takut tak dilihat dan diakui dunia?

-6 Mei 2018-

Terbang

Aku juga ingin terbang
menembus cakrawala, hingga titik tanpa batas
Langitku luas
aku ingin mengepakkan sayap selebar-lebarnya
melalui awan, gunung-gunung, hutan belantara
juga menerjang hujan badai

Biar lelah, tapi ku tetap ingin terbang
tinggi, terus meningi
mengepak lebar, terus dan terus terbentang lebar

menjangkau cahaya
menjangkau purnama
menjangkau semesta

-3 Mei 2018-